Latest Post

                  Yesus Sebagi Pola Hidup Orang Kristen (2)

                                          Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.

 

2 Korintus 8:10-15, Ibrani 13:15-16

Saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan, banyak orang yang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Mengapa demikian? Karena mereka melihat pada umumnya semua agama mengajarkan kebaikan yang sama. Tetapi bagi kita kebaikan yang tertinggi dan sejati harus memiliki nilai kekekalan dan kemurnian di dalam seluruh maksud dan tujuannya. Kebaikan yang kita kerjakan berpusat kepada Kristus membuat kita semakin mengenal Kristus dan karyaNya. Tujuan kita berbuat baik adalah untuk menyatakan kasih Kristus, bukan kehebatan kita atau pun kemuliaan diri kita. Perbuatan baik seharusnya karena dorongan iman yang mana akan menghasilkan gerakan iman. Berbeda sekali ketika kita berbuat baik tanpa dasar iman yang sejati di dalam Kristus, karena semua orang beragama melakukan hal yang sama. Jadi pertumbuhan iman menghasilkan buah kasih yang sejati di dalam Kristus. Yang menjadi pertanyaan: “Mungkinkah iman yang bertumbuh tidak akan diikuti oleh buah kasih?” Tidak mungkin, karena iman yang bertumbuh pasti akan diikuti oleh buah kasih yang bertumbuh dan memiliki pengenalan/pengetahuan yang juga bertumbuh di dalam iman kepada Kristus. Kristus adalah pola hidup kita yang mana menjadi penggerak utama untuk seluruh kehidupan dalam mengekspersikan kasih Tuhan. “Mungkinkah orang Kristen tidak memiliki satu buah kasih yang sejati?” Mungkin, maka ketika orang Kristen mengaku Kristen tetapi tidak punya buah kasih, yang salah adalah dirinya sendiri karena Firman Tuhan tidak dia biarkan untuk membaca dan mengkoreksi dirinya. Maka ketika seorang tidak lagi bertumbuh imannya dan Firman dengan kasih yang berkaitan dengan Tuhan tidak bertumbuh maka dia tidak akan memiliki buah kasih yang sejati.

Proaktif dan realistis. 2 Korintus 8:10 – “Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.” Hal yang dimaksud adalah mengenai hal yang sudah dibicarakan bersama-sama yaitu bagaimana seharusnya hidup memiliki iman yang bertumbuh dan diikuti oleh buah kasih sebagai tanggung jawab dan kewajiban. Maka pada waktu kita berbuat baik itu nilainya adalah kewajiban bukan keterpaksaan. Apakah “2 Korintus 8:10” ini sudah dikerjakan oleh jemaat Korintus? Belum dengan sempurna. Ayat 10 berhubungan dengan pelayanan dari jemaat Korintus untuk mendukung pelayanan dan penginjilan. Kalau kita lihat bagian yang terakhir “Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.” Ayat 7 dan 11 diawali dengan frase “Maka sekarang.” Ini menyatakan yang dikerjakan belum sempurna dan belum digenapi sehingga di dalam ayat 11 muncul kembali frase “maka sekarang” yang dilanjutkan dengan kalimat: “selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.” Artinya, jemaat Korintus memang sudah memiliki ide dan inisiatif tetapi belum bersifat proaktif dan realistis. Dalam ayat 11 ditekankan untuk menyelesaikan dan menuntaskan pelayanan yang sudah direncanakan.

Sepadan dengan kerelaan.” 2 Korintus 8:11 – “Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.” Kata “sepadan” ini artinya selaras dan searah dengan kerelaan. Tetapi bukanlah kerelaan yang bersifat antoprosentris atau berdasarkan perhitungan standar kita. Tapi sepadan yang berpusat pada Kristus: ada keharmonisan, dilaksanakan atas dasar kasih kepada Tuhan dan sebagai respon terhadap kasih Kristus. Dalam Markus 12:43 dikatakan ada yang memberi sedikit tetapi justru diterima oleh Tuhan dibandingkan dengan orang-orang kaya. Janda miskin itu memiliki kesepadanan dan kerelaan dalam kasihnya terhadap Tuhan yang diwujudkan dalam persembahannya. Biarlah hidup kita sepadan dengan panggilan kita di dalam Injil. Kata “sepadan” juga menunjukkan nilai keharmonisan hidup kita di dalam Kristus. Tuhan sudah memberikan yang terbaik dalam kerelaan-Nya maka maka kita pun harus memberikan dengan bentuk kerelaan. Sepadan artinya pelaksanaannya berdasarkan kasih kepada Tuhan. Maka dimana kita mengasihi Tuhan di situlah akan ada pengorbanan, perjuangan dan ketekunan. Ketika tidak ada lagi ada pengorbanan dalam tenaga, pikiran, waktu, dan uang untuk Tuhan itu karena kasih kita untuk Tuhan sudah mundur. Maka ketika kasih kita sudah mundur dan dingin terhadap Tuhan, di situlah kita tidak lagi memiliki kesedihan-kesedihan rohani dan spirit untuk terus melayani Tuhan. Tuhan dalam rancangan-Nya tidak pernah merancang kita menjadi orang Kristen yang mundur imannya bahkan menjadi tidak bertumbuh. Justru rancangan Tuhan agar iman kita selalu bertumbuh. Di dalam Roma 14:1 dikatakan “terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.” Bagaimana orang Kristen yang memiliki iman yang bertumbuh? (1) Mempunyai cara pandangan yang benar tentang pekerjaan Tuhan. Menarik sekali jikalau kita membahas akan seluruh bagian Roma maka orang yang lemah iman identik dengan orang yang memiliki pandangan yang lemah tentang pekerjaan Tuhan, nilai budaya dan hidup. Maka pada waktu melihat orang yang lemah imannya jangan percakapkan pendapatnya karena dia memang orang Kristen yang baru. Dalam cerita mengenai 12 pengintai (Bilangan 13) yang mana akhirnya ada 10 orang melihat berbeda dengan yang dilihat oleh Yosua dan Kaleb, mengapa? Karena 10 orang tidak punya iman yang kuat sehingga memiliki cara pandang yang berbeda dengan Yosua dan Kaleb. Di sini kita melihat iman yang kuat akan melahirkan cara pandang yang melihat Kristus Tuhan sebagai kekuatan. (2) Mempunyai perjuangan yang bahkan terus meningkat. Dalam 2 Korintus 10:15 mengatakan: “Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.” Di dalam bagian ini dijelaskan iman yang bertumbuh adalah iman yang memiliki spirit perjuangan yang tidak berhenti bahkan terus mengalami peningkatan. Karena itu Rasul Paulus mengatakan “tetapi kami berharap bahwa apabila imanmu makin bertumbuh kami akan mendapatkan kehormatan yang lebih besar lagi.” (3) Memiliki konsep Kristologi dan Eskatologi yang tuntas. 1 Tesalonika 3:9-13 mengatakan: “Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu.Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.” Jemaat Tesalonika sudah salah dalam konsep Kristologi dan Eskatologi sehingga mereka tidak mau lagi berpusat kepada Kristus, tidak mau berjuang, dan tidak mau berkorban karena memandang bahwa Kristus akan datang membuat mereka pasif dan malas. Maka Rasul Paulus mengatakan “siang malam kami berdoa sungguh-sungguh supaya kita tetap bertemu muka-dengan muka jangan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.” Iman yang lemah yaitu karena tidak sungguh-sungguh mengerti Kristologi dan Eskatologi yang tuntas sehingga kamu akhirnya menjadi orang Kristen yang tidak punya buah iman yang benar, tidak punya perjuangan dan tidak punya tanggung jawab iman.

Apa yang ada pada-mu.” 2 Korintus 8:12 – “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” Maka dalam ayat selanjutnya dikatakan “lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu” (ayat 11c) Maka di dalam kita melayani Tuhan kita harus mengenal diri. Roma 12:1-12 mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus mengenal diri untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Di sini kita melihat semua dikerjakan dengan aspek pengenalan diri yang tuntas dan membangun relasi dengan tuntas antara satu dengan yang lain di dalam tubuh Kristus. Kemudian dilanjutkan dengan manejemen berpikir yang tepat. Yaitu berpikir begitu rupa berdasarkan ukuran iman artinya jangan berspekulasi. Maka di dalam ketulusan dan kerelaan kita kerjakan yang terbaik sesuai dengan apa yang ada pada kita. Kita tidak akan bersungut-sungut. Karena itulah dikatakan dalam Ibrani 13:15-16, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” Korban syukur dan pengampunan dosa dalam Perjanjian Lama itu dalam bentuk Hewan yang disembelih dan dipersembahkan di atas mezbah. Kemudian diajarkan agar kita menyatakan perbuatan baik. Ketika kita di dalam Kristus, perbuatan baik, jerih payah dan pengorbanan itulah yang menjadi satu korban ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Prinsip Keseimbangan. 2 Korintus 8:13&14 – “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” Yang perlu kita perhatikan adalah kata “keseimbangan”. Artinya waktu kita diberikan beban atau dorongan (passion) itu supaya ada keseimbangan bukan untuk meringankan orang lain tersebut. Keseimbangan ini berbicara bagaimana Indahnya kesatuan tubuh Kristus. Jadi pada waktu kita melihat ada tubuh kita yang lemah biarlah yang kuat harus menopang. Global Team dalam pengertian Pdt. Dr. Stephen Tong yaitu kita mempunyai spirit pelayan bersifat global. Kita melihat ada tiga keseimbangan: (1) berbicara tentang indahnya tubuh Kristus, (2) berkaitan dengan iman, pengharapan dan kasih, (3) berbicara tentang bagaimana menggabungkan kekuatan kita. Maka ketika kita saling melengkapi, pelayanan kita akan menjadi indah dan ringan.

Prinsip Kecukupan. 2 Korintus 8:15 – Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” Ayat ini mengutip dari Keluaran 16:16-18, “Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” Jadi jangan iri karena kemahnya dan anak-anaknya banyak. Mereka mengambil dengan secukupnya dan hal ini berkaitan dengan Doa Bapa Kami: “berilah kepada kami makanan yang secukupnya” (Matius 6:11). Waktu kita yang hidup cukup jangan terlalu minder karena Tuhan mungkin ingin agar waktu dan tenaga kita lebih banyak lagi dipakai untuk pekerjaan Tuhan. Maka semua harus dilihat dalam aspek “kecukupan” sehingga kita akhirnya belajar bagaimana memberikan yang terbaik berdasarkan pengenalan diri kita di hadapan Tuhan. Maka orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.

Biarlah kita belajar mencukupkan diri kita berdasarkan apa yang ada sehingga kita mengerti ketika hidup kita berpola di dalam Kristus. Kristus menjadi pusat, pencerah, pemimpin dan pengarah maka seluruh kebaikan kita akhirnya bernilai untuk kemuliaan Kristus. Kebaikan kita menjadi jembatan untuk penginjilan sehingga orang lain bisa tahu akan kasih Kristus yang tinggal dalam kehidupan kita. Kebaikan kita semua kita kerjakan karena diikat dengan kerelaan. Inilah panggilan Tuhan yang menghasilkan buah kasih. Apakah Sdr/i rindu menghasilkan buah iman? Pasti rindu juga untuk menghasilkan buah kasih. Mari kita berdoa: “Tuhan pakailah aku di manapun aku berada, di tengah kekuranganku, kelebihanku, dan keberadaanku agar orang lain bisa melihat Kristus yang hidup melalui kesaksianku.”

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Yesus Sebagi Pola Hidup Orang Kristen (2)

Categories: Uncategorized

                                                                 Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami