Latest Post

            Prinsip-Prinsip Pelayanan dalam Kerajaan Allah

                                 Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.

2 Korintus 8:16-24

Kita sudah membahas seluruh kehidupan kita adalah milik Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh sadar hal demikian, maka seharusnya kita tidak egois menguasai harta benda kita. Tetapi kita harus melihat pekerjaan Tuhan yang perlu. Ada anak-anak Tuhan yang perlu kita berkati tetapi kita tidak menjadi saluran berkat maka pada saat itu juga kita tidak memiliki buah kasih. Kebaikan kita harus diikat dengan nilai kekalan yaitu kebaikan untuk Kerajaan Tuhan.

Kesungguhan, kerelaan dan penyertaan Tuhan dalam pelayanan. Dalam 2 Korintus 8:16-17 ditekankan pelayanan berdasarkan kerelaan, bukan keterpaksaan. Di dalam ayat 16 dikatakan: “Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu.” Di sini kita melihat bahwa kesungguhan dalam pelayanan itupun adalah anugerah Tuhan. Mungkin ada orang mengaku Kristen tetapi tidak memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan, tidak mempunyai beban pelayanan atau pun tidak sungguh-sungguh dalam melayani Tuhan. Kalau orang tersebut adalah orang Kristen yang sejati, maka hal itu diijinkan Tuhan seolah-olah pasif untuk sementara waktu. Tetapi Tuhan akan memberikan satu rasa bersalah. Di sini Rasul Paulus membangun rasa syukur karena Tuhan boleh menggerakkan jemaat Korintus untuk memiliki kesungguhan dalam melayani Tuhan. Artinya, Orang Kristen yang sejati pasti memiliki beban dan panggilan untuk melayani Tuhan. Hidup orang Kristen sejati tidak mungkin bisa membuang satu kasih karunia yang Tuhan sudah berikan karena Allah yang menyelamatkan kita. Roh Kudus akan menghakimi hati nurani kita dan memukul kita jikalau kita tidak menyatakan buah iman, kasih, karakter dan buah hidup. Titus dikatakan memiliki beban untuk untuk menunjukkan pelayanan kasih yang akan diberikan kepada Yerusalem. Dan dia melakukan itu karena kerelaan.

Waktu kita melayani dalam kesungguhan maka harus ada kerelaan dan di dalam kerelaan ada kesungguhan. Siapa yang memiliki kerelaan, dia pasti disertai Tuhan dan terbukti bahwa semua pelayanan yang dikunjungi oleh Titus dan tim Rasul Paulus dilengkapi oleh Tuhan sampai mereka akhirnya sungguh menjadi berkat bagi banyak orang. Hal ini akan membuat kita punya pengharapan yang akhirnya pelayanan itu menghasilkan sukacita. Ada sukacita walaupun melayani tidak dilihat orang lain. Siapapun yang melayani Tuhan, matikan dan buang niat-niat kita yang ingin menyombongkan diri, yang menunjukkan hebatnya kita supaya pelayanan kita diurapi oleh Tuhan, menjadi satu pelayanan dimana Allah bekerja dengan luar biasa. Ketika kita berada dalam satu keluarga Tuhan, kita saling menopang dan bergandengan tangan maka pelayanan itu akan diberkati Tuhan.

Pelayanan kasih dan Penginjilan yang seimbang. Dalam 2 Korintus 8:18, “ Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil.” Ada dua hal yang penting di sini: (1) Artinya Rasul Paulus membuat satu keseimbangan antara pelayanan kasih dan pemberitaan Injil. Pelayanan kasih menjadi jembatan untuk Injil boleh diberitakan. (2) Pelayanan kasih tidak lebih utama daripada Injil. Semuanya dikerjakan dalam keseimbangan sehingga membuat sesuatu menjadi indah. Dalam Galatia 2:9-10, Paulus mengatakan: “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat. hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.” Rasul Paulus sadar ada konsentrasi pelayanan untuk orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang miskin. Kita juga tidak boleh bergereja hanya menghormati orang-orang kaya dan kita lupa memperhatikan orang-orang yang belum kaya. Kita harus belajar bagaimana jemaat di Korintus ditegur oleh Rasul Paulus supaya belajar dari jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia disiksa dan hidup susah tetapi tetap berkomitmen untuk pelayanan dalam pemberitaan Injil. Di sinilah Rasul Paulus menekankan satu pelayanan kasih seimbang menjadi satu perantaraan untuk Injil bisa diberitakan.

Pelayanan kasih dan Penginjilan untuk kemuliaan Tuhan. 2 Korintus 8:19 dikatakan,“Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami.” Kita terpanggil untuk pelayanan kasih. Kita berikan tenaga, pengalaman dan dana kita. Dan kita juga terpanggil untuk pelayanan pemberitaan Injil, kita berikan seluruh semangat kita untuk penginjilan. GRII Cikarang sudah berumur 5 tahun. Di dalam lima tahun kita memiliki kedewasaan untuk terus mengutamakan penginjilan. Dan menjadi dewasa untuk menangkap kehendak Tuhan dan tidak mementingkan kehendak diri. Maka dana yang paling besar yang kita keluarkan setiap tahun adalah dana penginjilan. Inilah gereja yang baik karena dana yang kita keluarkan lebih banyak untuk penginjilan. Namun ingat bahwa semua pelayanan ini dikerjakan hanya untuk kemuliaan bagi Tuhan. Maka di dalam pelayanan tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan. Pelayanan adalah untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemuliaan diri, bukan untuk kemuliaan organisasi dan bukan untuk kemuliaan siapapun juga. Maka pada waktu kita hidup, dan waktu kita bersaksi biarlah semuanya ditujukan kepada Kristus yang ditinggikan. Soli Deo Gloria (segala kemuliaan hanya bagi Tuhan) inilah semangat yang diwarisi oleh Theology Reformed.

Motivasi yang Murni dalam Pelayanan. Selanjutkan dalam 2 Korintus 8:20-21, “Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” Rasul Paulus menekankan pelayanan kasih harus berdasarkan motivasi yang murni bagi Tuhan bukan untuk mencari keuntungan. Ada pelayanan yang memanfaatkan pekerjaan Tuhan untuk memperkaya diri, itu berdosa! Rasul Paulus juga pernah dicurigai tetapi dalam bagian ini dia mengatakan bahwa motivasinya murni di hadapan Tuhan dan manusia. Demikian juga dinyatakannya dalam 1 Tesalonika 2:5, “Karena kami tidak pernah bermulut manis – hal itu kamu ketahui – dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi – Allah adalah saksi – juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.” Artinya Rasul Paulus hidup takut akan Tuhan, jujur dan terbuka maka di hadapan manusia dia juga siap mempertanggungjawabkan seluruh persembahan yang terkumpul. Milikilah motivasi yang murni bagi pekerjaan Tuhan baik di hadapan Tuhan dan manusia.

Panggilan dan Pengujian dalam Pelayanan. Dalam 2 Korintus 8:22, “Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu.” Di sini kita melihat bahwa seorang pelayan harus ada pengujian. Maka pada waktu kita menjadi pelayan, biarlah itu suatu panggilan yang jelas dan harus teruji di dalamnya. Kalau kita melihat Roma 12:8, “Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Panggilan Tuhan untuk kita adalah panggilan yang harus lolos pengujian. Maka pada waktu kita mendapatkan kepercayaan itu lihatlah sebagai satu kepercayaan yang besar. Rasul Paulus mengutus bukan hanya Titus, tetapi juga orang-orang yang teruji. Hidup kita harus terus mengalami pematangan sehingga kita menjadi pelayan yang teruji. Dikatakan dalam 2 Timotius 1:16-17, “Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku.” Pelayanan dari keluarga ini yaitu mengunjungi Rasul Paulus di penjara. Tapi Rasul Paulus mengatakan bahwa itu pun menyegarkan hatinya. Ada satu pelayanan yang tidak kelihatan tidak harus tampil di gereja tetapi melakukan kunjungan terhadap orang-orang yang lemah untuk memberikan kekuatan iman dan menyegarkan orang lain. Mari kita memiliki pengenalan akan panggilan kita dalam melayani Tuhan supaya jelas dan teruji.

Kesatuan dan Kebersamaan dalam Pelayanan. Dalam 2 Korintus 8:23-24, “Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus. Karena itu tunjukkanlah kepada mereka di hadapan jemaat-jemaat bukti kasihmu dan bukti kemegahanku atas kamu.” Rasul Paulus menekankan betapa indahnya pelayanan dalam satu kesatuan yang sangat mendukung. Seperti dalam Roma 16:3, “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.” Rasul Paulus menyatakan betapa pentingnya Priskila dan Akwila menjadi satu tim pelayanan untuk pemberitaan Injil. Demikian juga Rasul Paulus meminta kepada jemaat Korintus untuk menerima Titus dengan seluruh tim sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Karena memang kita membutuhkan satu pelayanan yang saling melengkapi, mendukung dan menopang untuk menyatakan satu nilai yang besar untuk pekerjaan Tuhan yang besar.

Marilah kita memiliki kepentingan pelayanan berdasarkan kesungguhan yang menghasilkan kerelaan dimana akan nyata penyertaan Tuhan dan penuh dengan sukacita. Mari kita belajar mempunyai pelayanan pelayanan kasih dan penginjilan yang seimbang untuk kemuliaan Tuhan. Mari kita belajar bagaimana pelayanan harus dikerjakan dengan motivasi yang murni. Marilah kita menjadi pelayan yang teruji di hadapan Tuhan dan manusia. Mari kita belajar bagaimana menghormati pelayan-pelayan yang lain karena kita semua merupakan instrumen dalam pekerjaan Tuhan. Mari kita berdoa supaya kita sungguh-sungguh dipakai Tuhan untuk memiliki hidup yang menyatakan kemuliaan bagi Tuhan dengan panggilan yang sudah Tuhan nyatakan kepada kita masing-masing dalam Kerajaan Allah.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Prinsip-Prinsip Pelayanan dalam Kerajaan Allah

Categories: Uncategorized

                                                                    Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.
Author: Gracelia Cristanti