Latest Post

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (Lukas 17:10)

Saul pernah merasa tidak layak, namun perasaan itu tidak berlangsung selamanya. Pada saat Tuhan memberikan jabatan raja kepada Daud, Saul tidak bisa menerima keputusan tersebut. Perasaan tidak layak Saul berubah mungkin karena ia telah menikmati jabatannya sebagai raja dan tidak mau kehilangan itu. Sebelumnya ia tidak mengerti kenikmatan hidup seorang raja dan merasa tidak layak menjadi raja, namun kuasa yang diberikan kepadanya menyatakan isi hatinya yang sebenarnya. Abraham Lincoln berkata ‘semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan’.

Di Perjanjian Baru Tuhan Yesus mengajarkan para pengikutnya untuk memiliki perasaan tidak layak sampai akhir. Perasaan tidak layak itu harus tetap ada sampai kita ‘telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan’. Kita harus mengingat bahwa ketika kita bisa melayani atau telah menyelesaikan tugas-tugas dari Tuhan, itu tidak membuat kita menjadi layak. Kelayakan kita bukan datang dari kemampuan atau pencapaian kita. Kita tidak layak mengerjakan tugas mulia dari Tuhan dan tidak layak melayani Tuhan karena kita adalah orang-orang berdosa. Kita terlalu rendah untuk melayani Raja di atas segala raja. Ketika Tuhan memanggil kita untuk menjalankan panggilan kita, itu merupakan anugerah semata. Allah tidak wajib memakai kita, namun dalam belas kasihan-Nya Ia memilih untuk memakai kita.

Pertanyaan renungan: apakah kita sadar akan ketidaklayakan kita? Sadarkah kita akan anugerah Allah yang memberikan kita kesempatan untuk melayani?

Bitnami