Latest Post

Kutipan oleh John Piper dari buku ‘Melihat dan Menikmati Yesus Kristus’ (Surabaya: Momentum, 2013) halaman 4-5.

Kerinduan terdalam hati manusia adalah untuk mengenal dan menikmati kemuliaan Allah. Kita diciptakan untuk ini. “Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujungĀ  bumi… yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku,” sabda Tuhan (Yesaya 43:6-7). Untuk melihatnya, untuk menikmatinya, dan untuk menyatakannya – untuk itulah kita eksis. Rentang alam semesta yang tidak tertelusuri dan terpikirkan merupakan perumpamaan mengenai ‘kekayaan kemuliaan-Nya’ yang tidak pernah habis (Roma 9:23). Mata fisik dimaksudkan untuk berkata kepada mata rohani, “Bukan alam ini, melainkan Pencipta alam ini, yang adalah Kerinduan jiwamu.” Rasul Paulus berkata, “Kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:2). Atau bahkan lebih tepatnya, ia berkata bahwa kita sedang “dipersiapkan untuk kemuliaan” (Roma 9:23). Karena inilah kita diciptakan – sehingga Ia “menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya” (Roma 9:23).

Kerinduan di dalam hati setiap manusia adalah kerinduan untuk ini. Tetapi kita menekannya dan merasa menyertakan Allah di dalam pengetahuan kita adalah hal yang tidak tepat (Roma 1:28). Karena itu seluruh ciptaan sudah jatuh ke dalam kekacauan. Contoh yang paling menonjol mengenai hal ini di Alkitab adalah kekacauan di dalam kehidupan seksual kita. Paulus berkata bahwa menukar kemuliaan Allah untuk hal lain adalah akar penyebab kekacauan homoseksual (dan heteroseksual) dari hubungan kita. “Isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam birahi merkea seorang terhadap yang lain” (Roma 1:26-27). Jika kita menukar kemuliaan Allah untuk hal yang lebih rendah, Ia akan membiarkan kita menghidupi sendiri perumpamaan kebobrokan manusia itu – pertukaran-pertukaran lain yang mencerminkan, di dalam penderitaan kita, kebangkrutan ultimat.

Maksudnya adalah ini: Kita diciptakan untuk mengetahui kemuliaan Allah dan menjadikannya harta kita di atas segalanya; dan ketika kita menukar harta itu dengan berhala, segala sesuatu menjadi kacau. Matahari kemuliaan Allah diciptakan untuk bersinar di tengah tata surya jiwa kita. Dan ketika itu terjadi, semua planet di dalam kehidupan kita berada di orbit yang seharusnya. Tetapi ketika matahari itu diganti, segala sesuatu menjadi terpencar. Kesembuhan jiwa dimulai dengan mengembalikan kemuliaan Allah ke tempatnya yang berkobar-kobar dan maha memesona di pusat kehidupan kita.

Kita semua lapar akan kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri. Tidak seorang pun pergi ke Grand Canyon untuk meningkatkan harga diri. Mengapa kita pergi? Karena ada kesembuhan yang lebih besar bagi jiwa di dalam melihat keagungan daripada di dalam melihat diri. Dan kalau boleh dikatakan, apa yang lebih menggelikan di dalam alam semesta yang luas dan megah ini daripada seorang manusia, di atas debu bernama bumi ini, yang berdiri di depan cermin dan mencoba mencari signifikansi di dalam citra dirinya sendiri? Sungguh sangat menyedihkan bahwa inilah injil dunia modern.

Author: Tommy Suryadi

Bitnami