Latest Post

Kemerdekaan yang Sejati

Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

Efesus 2:1-10

Problema manusia bukan dikarenakan aspek kemiskinan, kebodohan, tidak memiliki kemampuan khusus, atau pun keterbatasan fisik tetapi problema manusia yang paling besar adalah manusia terpisah dengan Tuhan dan terikat dengan dunia. Dua hal ini harus kita sadari ketika manusia terpisah daripada Tuhan berarti manusia hidup sebebas-bebasnya. Tuhan menciptakan manusia adalah image of God karena itu kita mengalami satu keterikatan persekutuan dengan Tuhan. Maka pada waktu kita terus berelasi dengan Tuhan di situlah aspek individual kita akan menemukan jati diri di dalam panggilan-Nya untuk menjadi wakil Tuhan. Kita akan menjadi wakil Tuhan untuk menyatakan kuasa Tuhan ciptaan yang lain dan untuk merefleksikan karakter Kristus. Tetapi ketika manusia jatuh dalam dosa, hal itu mengakibatkan manusia mengalami keterpisahan dengan Tuhan Allah. Manusia itu akan hidup secara pribadi yang lepas dari Tuhan, dari kebenaran Tuhan, dan manusia dibiarkan sendiri di dalam kebebasan yang terikat dengan dosa itu. Manusia merasa bebas dalam keberdosaan mereka. Tetapi secara inner heart berteriak karena ikatan-ikatan dari kelemahannya dan selalu mendapatkan kekosongan hati sebagai akibat dosa. Karena itu manusia tidak pernah merasa puas selama di dalam keberdosaan, tidak ada kenyamanan, tidak menemukan kebenaran, dan tidak menemukan nilai hidup. Manusia mengejar hal tersebut yang kemudian menjadi semakin lelah dan lemah. Mengapa manusia mengalami satu aspek kebebasan tetapi di sisi lain dia ingin mengaktualisasikan kebebasan dalam keinginannya dan dalam seluruh apa yang dia ingin capai tetapi justru tidak menemukan kepuasan dan kedamaian yang sejati?

Ketika manusia secara individu sudah terlepas dari Tuhan, saat itulah dia sedang berjalan di dalam kesia-siaan. Alkitab mengatakan dalam 2 Korintus 3:15 “karena ada selubung yang menutupi hati orang berdosa.” Artinya manusia berdosa ada dalam kuasa setan yang sudah menjadi pemilik dari seluruh dirinya. Alkitab mengatakan “setiap orang yang di luar Tuhan jiwanya bisa dikuasai oleh setan” (Kisah Para Rasul 5:3). Tetapi bagi kita yang sungguh-sungguh kembali kepada Kristus setan tidak bisa menguasai jiwa kita. Ketika jiwa seseorang dikuasai oleh setan maka dia melakukan sesuatu tidak benar tetapi dia tidak sadar bahwa itu dosa. Bahkan dipandang sebagai bentuk kemanusiaan yang normal. Ini juga yang diangkat oleh pandangan post-modern yang mengatakan jikalau ada seseorang akhirnya melakukan sesuatu yang mungkin mengagetkan orang, jangan katakan itu jahat itu normal karena semua orang seperti itu adanya. Dosa dilihat relatif. Orang post-modern melihat kalau kita masih membaca Alkitab, hidup dalam kebenaran dan menolak dosa, itu abnormal. Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah ada konsep agama yang bersifat post-modern menganggap dosa itu relatif? Mungkin. Alkitab melihat dosa itu sebagai sesuatu yang serius dan bukan relatif. Kekristenan melihat dosa adalah dosa. Ada agama yang melihat dosa itu relatif. Dosa bisa ditutupi dengan kebaikan. Bahkan ada yang mengajarkan bahwa membunuh orang kafir itu boleh saja bahkan mendapatkan pahala. Apalagi konsep sanctification evil (penyucian kejahatan) yang berbeda dengan konsep penyucian kristen. Orang berdosa bukan perbuatannya yang disucikan menjadi benar.

Mengapa manusia berdosa tidak sadar? Pertama, dalam Roma 1:24 dikatakan “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Orang yang mengaku mengenal Tuhan tetapi hidupnya tidak membuktikan pengenalannya dan terus-menerus menyakiti Tuhan dan Tuhan menghukum dia menyerahkan hidupnya dalam pikiran dan keinginannya kepada kecemaran. Betapa mengerikannya hidup di tengah dunia ini dimana sudah ada banyak isme-isme yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Di sinilah Alkitab memanggil kita bagaimana mengingatkan kepada kita bahwa untuk menghadapi orang-orang seperti ini kekuatannya hanyalah Firman Tuhan. Ketika kita merenungkan Kebangkita Kristus yang mana menyatakan bahwa Dia memiliki kuasa di bumi dan di sorga. Inilah yang dikatakan oleh Matius 28:18, “Kepada-Ku (Yesus Kristus) telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Di situ berarti menunjukkan kepada kita bahwa kemenangan sejati kita peroleh di dalam Kristus.

Kedua, ketika manusia terpisah dengan Tuhan, manusia tidak lagi berfaedah dan berguna untuk Tuhan. Artinya ketika manusia mencoba mencari dan menemukan Tuhan berdasarkan upaya sendiri tetap di mata Tuhan kebaikannya, kesalehannya, dan kesuciannya tidak akan berkenan di hadapan Tuhan. Mengapa keristenan melihat seperti ini? Karena kekristenan melihat Tuhan, kebenaranNya, dan kehendakNya tidak terhilang sehingga bukan kita yang harusnya mencari Tuhan. Hanya di dalam Kristus saja kita kembali menemukan menemukan nilai keindahan hidup kita berguna dan berarti bagi Tuhan. Di sinilah kita mengerti mengapa Kristus harus datang ke dunia untuk membawa hidup kita bernilai. Ketika kita di dalam Kristus itu adalah anugerah.

Kita melihat bagaimana Efesus mengkaitkan bahwa semuanya itu adalah sesuatu yang serius ada. Inilah akibat jikalau relasi kita dengan Tuhan terputus. Artinya, pertama, orang berdosa mati secara rohani. Di dalam Efesus 2:1 dikatakan “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Jadi pada waktu kita mati secara rohani kita akan terikat dengan kematian. Di dalam bagian Alkitab, dosa menggunakan istilah hamartia. Istilah ini menjelaskan bahwa kita berdosa kalau kita melakukan perbuatan baik yang ternyata pusatnya bukan Allah tetapi kekuatan diri. Dalam ayat ini menjelaskan itu, dahulu kita adalah orang-orang yang tidak mencapai satu nilai kesempurnaan Tuhan. Dahulu kita memiliki sinful nature, (nature berdosa). Akibatnya walaupun kita hidup tetapi spiritual kita sudah mati. Penjara kematian mengakibatkan kita selalu membuat pelanggaran dan dosa-dosa. Maka ketika kita menginjili sangat perlu doa untuk merubah cara pandangannya terhadap dosa. Dan dengan menggunakan presuposisi approach. Dimana kita berbicara kebenaran tetapi kebenarannya kita jelaskan berdasarkan kebenaran kita. Ketika orang sudah mengalami pemenjaraan kematian, orang itu tidak sadar kalau dia sudah dipenjara dalam kematian rohani. Di sinilah kita perlu menyadarkan orang tersebut akan dosanya. Dengan menjelaskan bahwa dosa itu hamartia. Artinya sesuatu yang tidak mencapai standarnya Tuhan.

Dalam Efesus 2:5, Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan. Bagaimana seharusnya kita hidup di dalam kuasa Tuhan. Mungkinkah ada orang kristen yang hidup dalam ikatan moral saja? Mungkin. Tapi ini adalah satu kesalahan seperti kita menjadi orang Kristen yang terikat dengan rutinitas saja. Gerakan Reformed menghadirkan satu visi dan misi yang begitu lincah yang dinamis. Di dalam ayat 6 dikatakan “kita akan hidup dalam Kristus” yaitu hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya. Artinya kita akan dimampukan Tuhan untuk mengerjakan segala sesuatu yang besar buat Tuhan. Yang melampaui akal pikiran kita sehingga kita tidak lagi melihat diri tetapi yang melihat Tuhan. Seperti dinyatakan dalam ayat 10 yaitu dipersiapkan untuk pekerjaan baik. Efesus 2:5 mengingatkan kita karena ternyata dahulu kita hidup dalam penjara kematian rohani tetapi Kristus telah menghidupkan kita. Dan bersama-sama dengan Dia untuk melakukan satu perkara yang besar. Kita harus sadar bahwa hidup kita di dalam Kristus. Jikalau kita sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan maka kembalilah kepada satu nilai hidup yang berpusat kepada Kristus.

Kedua, orang berdosa masuk ke dalam penjara ketaklukan. Dalam Efesus 2:2, “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” Kalau kita bandingkan dengan Galatia 4:3 “Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia.” Dalam ayat yang kedua Rasul Paulus menjelaskan dahulu kita adalah orang-orang yang terikat dengan penjara yang membuat kita takluk dan terus kalah dengan keinginan dan tawaran-tawaran dunia yang memberikan kenikmatan palsu dan kepuasan yang palsu yang bersifat sia-sia. Artinya kita sedang mentaati yaitu hidup kita diatur oleh penguasa dunia. Mengapa demikian yaitu karena kita sudah dipenjara seluruh hidup kita yang dikuasai oleh setan. Istilah ini kalau kita melihat dalam bahasa Yunani berarti menunjukkan kita mentaati, artinya di suruh atau tidak di suruh pun kita mau melakukannya hal ini terjadi kerana dia tidak sadar bahwa dia sudah diikat dengan satu nilai penjara yang diikat oleh seluruh pikiran setan. Orang seperti ini mau bebas bagaimanapun tidak mungkin melalui hanya kesadaran hati nurani. Kesadaran hati nurani bisa membuat orang mengatakan penyesalannya tetapi karena kerugian yang diterima. Bukan menyesal karena dosa. Manusia membutuhkan pertobatan yang sejati sehingga sadar akan dosanya.

Dalam Efesus 2:6&10, “Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kalau kita memperhatikan dalam ayat 6 artinya kita mendapatkan kuasa kebangkitan yang menyatakan kemenangan total atas kuasa dosa dan kematian. Dan kita yang di dalam Kristus memiliki kuasa yang memampukan kita untuk mengatakan tidak untuk dosa dan kita memiliki kuasa akil balig hidup. Dan kita memiliki kemampuan untuk bagaimana akhirnya mengalahkan seluruh pikiran kita untuk kemuliaan Tuhan yaitu karena ada Roh Kudus dalam hati. Maka marilah kita menjadi orang Kristen yang hidup dalam kuasa Kristus secara total.

Ketiga, orang berdosa berada dalam penjara murka Allah. Efesus 2:3b, “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Penjara yang ketiga adalah penjara untuk orang yang sudah dimurkai. Amarah Allah selalu ada di dalam diri orang itu. Jadi apapun yang dilakukan tetap tidak memberi damai kepada orang itu karena dimurkai oleh Tuhan. Ada orang yang tidak sadar bahwa permasalahan dari keluarga dia bukanlah karena sistem keluarga, ekonomi atau apa pun tetapi karena ada dosa yang belum diakui sehingga Tuhan murka hanya karena dosa yang kecil. Tuhan murka akhirnya tidak ada ketenangan, dan kedamaian hidup.

Efesus 2:7, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Dalam ayat ini dikatakan Kristus akan mengaruniakan kasihnya kepada kita yang melimpah-limpah yang sesuai dengan kebaikan kita dalam Kristus Yesus. Artinya kita tidak hidup lagi dalam penjara murka Allah. Tetapi kita hidup dalam kebaikan Tuhan dan akan dimampukan untuk memuliakan Tuhan melalui hidup kita. Bukan karena kemampuan kita tetapi hanya karena Kristus, Solus Christus. Bagaimana kita tahu kalau kita benar-benar merdeka? Alkitab mengatakan kita dipenjarakan dalam kematian rohani, dalam ketaklukan, dan dalam penjara murka Allah sehingga dibayangan kita hanya ada kegagalan, kekosongan, kehancuran dan kesia-siaan. Maka kalau ini tidak dibereskan, buah dosa akan semakin banyak.

Yohanes 8:36, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Dalam hal ini mengatakan sesuatu yang benar-benar merdeka karena Kristus dan Firman-Nya tidak akan hancur. Maka kita tidak akan dimurkai Allah karena Kristus telah mati di kayu salib yang meredam seluruh amarah Allah yang harusnya diberikan kepada kita semua ditanggung oleh Dia di kayu salib. Kristus dalam kasih rela menangung seluruh dosa-dosa kita, Sehingga kita anak Tuhan tidak lagi hidup dalam murka Tuhan, tidak lagi hidup dalam bayang kesia-siaan karena Dia mau kita merefleksikan hidup kita di dalam Dia. Ketika hidup kita sudah dibereskan dengan Tuhan maka kita akan menjadi manusia yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan Tuhan mengasihi kita. Tuhan akan membuka jalan bagi kita menjadi saksi-Nya dimana pun kita berada. Kebangunan rohani bukan bersifat emosi tetapi kebangunan rohani bersifat kepekaan akan dosa dan mendorong kita mencintai firman Tuhan yang mendorong kita menyatakan nilai-nilai keteladanan Kristus dalam segala aspek hidup kita. Maka kalau itu semua terjadi ini akan terjadi sungguh-sungguh kebangunan rohani dalam hidup kita. Kita tidak akan lagi hidup dalam penjara kematian rohani, ketaklukan dan murka Allah. Sehingga kita terus memiliki mental sebagai pemenang bagi Allah.

Di sini kita belajar, bagaimana paskah mengingatkan kita kualitas kemerdekaan yang benar-benar merdeka. Sehingga kita boleh mengisi hidup kita dengan sungguh-sungguh terus hidup bagi Tuhan.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kemerdekaan yang Sejati

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

Author: Gracelia Cristanti