Latest Post

Hikmat Spiritualitas (2)

Pdt. Tumpal Hutahaean

Dalam Perjanjian Lama pun sangat mementingkan arti hikmat yang bersentral kepada Tuhan yang mana akan menghasilkan satu nilai perubahan diri kita dan menjadikan kita agen perubahan dimana pun kita berada. Hikmat dunia akan membawa kita seolah-olah kepada keberhasilan tetapi bisa mendatangkan kehancuran dalam hidup kita. Bisa mendatangkan satu nilai hidup menjadi batu sandungan. Ada pertanyaan: Bagaimana kita bisa membedakan hikmat yang diterima Salomo pada waktu dia benar dan pada waktu dia salah? Hikmat Salomo yang merupakan anugerah dari Tuhan akan mendatangkan kebaikan kepada dirinya dan mendatangkan nilai guna untuk pekerjaan Tuhan. Kemudian Salomo terjatuh dalam dosa karena hikmat yang bersentral kepada diri yang mana menginginkan begitu banyak kenikmatan-kenikmatan dunia dan menyembah berhala-berhala. Di situlah pada waktu dia mengalami kehancuran nilai arti hidup baru dia kembali kepada Tuhan, dia bertobat kemudian menulis kitab Amsal, Kidung Agung  dan Pengkotbah yang mengingatkan kepada kita hidup ini sia-sia kalau di luar Tuhan, mendorong kita untuk mencintai Tuhan dan bagaimana kita harus hidup bagi Tuhan. Hikmat Tuhan mendatangkan kebaikan bagi Tuhan, keberartian dalam hidup kita dan keluarga, dan akan memampukan kita untuk menjadi seorang pelayan, pekerja, dan saksi Tuhan berkaitan dengan nilai kerajaan-Nya. Maka kalau kita melihat seseorang seolah-olah pandai dan sukses, tetapi hidupnya kacau dan tidak berarti, itulah hikmat dunia. Mungkinkah setan memberikan kepintaran? Mungkin, setan sanggup memberikan kepintaran. Bagaimana kita bisa membedakan kepintaran setan dan kepintaran daripada Tuhan? Jika setan memberikan kepada kita kepintaran, kesuksesan dan kekayaan kepada orang-orang dunia itu semua tidak mendatangkan kebaikan bagi diri orang itu, tidak mempunyai keberartian, tidak mendatangkan satu nilai hidup berkaitan dengan waktu kekal Tuhan dan pelayanan Tuhan. Malahan orang berhikmat dunia akhirnya hidupnya kacau dan jatuh oleh karena apa yang dicapainya.

Efesus 1:15-17, “Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Paulus telah mendengar bagaimana iman dan kasih bertumbuh kepada Tuhan di tengah-tengah situasi begitu sulit. Ketika Paulus mendengar seperti ini Paulus tidak henti-hentinya terus mengucap syukur karena sebelumnya mereka memiliki iman dan kasih yang hilang. Mungkinkah akibat hidup kita yang begitu aman, nyaman, dan lancar justru iman dan kasih kita tidak bertumbuh? Bagaimana iman dan kasih kita tetap bisa bertumbuh di tengah-tengah situasi apa pun termasuk situasi yang sulit? Di situlah kita baru mengerti jawabannya. Iman dan kasih tidak boleh bertumbuhnya tergantung situasi, karena iman dan kasih bertumbuhnya merupakan program daripada hidup kita yang membuktikan kita punya nilai ketaatan. Artinya dalam situasi apapun juga biarlah setiap kita tetap merenungkan Firman bergaul akrab dengan Tuhan sehingga iman dan kasih kita diijinkan Tuhan bertumbuh sekalipun harus berhadapan dengan orang-orang yang mungkin menyakiti dan merugikan kita. Maka ketika engkau diperlihatkan Tuhan orang-orang berdosa di situlah kasih juga sedang dipertumbuhkan untuk mengasihi mereka dengan rindu supaya Injil diberitakan kepada mereka. Mungkin kita bertemu dengan orang yang tidak kita sukai sifatnya entah itu di rumah, masyarakat, keluarga besar dan kantor. Tetapi pada saat menghadapi perbedaan-perbedaan seperti itu Tuhan mengijinkan supaya kasih kita bertumbuh.

Di dalam konteks ini Rasul Paulus berdoa secara khusus supaya jemaat di Efesus terus dilimpahkan hikmat spiritualitas itu. Bagaimana kita tahu kalau orang itu hidupnya sungguh-sungguh ada di dalam hikmat spiritualitas?

  1. Orang itu memiliki hati yang takut akan Tuhan dan selalu menghindari kejahatan. Dikatakan di Amsal: “permulaan pengetahuan adalah takut akan Tuhan” (Amsal 1:7). Artinya pengetahuan akan Firman, orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang memiliki pengetahuan khusus dan juga pengetahuan secara umum. Tetapi orang bodoh akan selalu menghina hikmat dan didikan.

Apa itu hikmat spiritual? Hikmat spiritual adalah pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran orang percaya supaya mereka dapat mengenal mengerti tentang siapa Yesus dan kehendak-Nya. Tuhan Yesus mengenal setiap anak-anak-Nya yang selalu rindu mengenal pribadi-Nya dan kehendak-Nya. Orang percaya adalah orang yang selalu melihat Tuhan, memandang Tuhan dan bersandar kepada Tuhan. Ketika Paulus melihat bagaimana hidup orang percaya di Efesus bertumbuh iman dan kasihnya maka dia bukan saja bersyukur kepada Tuhan karena aspek pertumbuhan daripada orang percaya di Efesus tetapi dia memohon kepada Tuhan supaya Tuhan limpahkan lagi satu hikmat spiritualitas untuk berhadapan dengan dunia. Karena hidup orang Kristen harus menjadi agen moral, agen pembaharuan dan agen kecerdasan. Ketika Tuhan mengijinkan kita menjadi orang percaya, kita berhadapan dengan dunia dan Tuhan mengetahui akan siapa kita. Tuhan akan menyertai kita menjadi agen moral, agen pembaharuan dan agen kecerdasan. Di sini kita mengerti hikmat spiritualitas bersumber daripada Allah yang memberikan kepada setiap anak-anaknya dalam terang Firman-Nya. Artinya jikalau hidupmu mau menjadi agen moral, agen pembaharuan, dan agen kecerdasan jangan lupa untuk terus merenungkan firman Tuhan. Alkitab adalah sumber pembaharuan, sumber nilai moral, dan membuat kita semakin cerdas dalam Tuhan.

  1. Kebijaksanaan setiap hidup orang percaya tergantung sampai sejauh mana dia hidup dalam terang Firman-Nya. Di sini kita melihat satu pentingnya Firman Tuhan supaya kita menjadi orang bijaksana. Apakah bijaksana datang sendiri dalam kehidupan kita pada waktu kita studi? Apakah kebijaksanaan itu datang sendiri pada waktu kita membangun rumah tangga kita? Apakah kebijaksanaan itu datang sendiri pada waktu kita sedang bekerja dan berusaha? Mengapa Daniel, Misael, Azaria, dan Hanaya yang terpilih menjadi pelayan raja daripada Nebukadnezar dan mereka wajib tiga setengah tahun sekolah hikmat pada saat itu? Sekolah hikmat tujuannya untuk mereka menjadi pendamping dan pelayan raja. Misael, Daniel, Azarya dan Hananya membuat satu keputusan iman tidak mau makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Mereka memutuskan untuk hanya makan buah-buahan, kacang-kacangan dan tidak mau menyentuh minum-minuman yang juga sudah dipersembahkan berhala-berhala. Pada waktu mereka membuktikan hidup takut akan Tuhan, ternyata pemimpin atau kepala sekolah dari pada sekolah hikmat itu melihat Daniel, Misael, Azarya, dan Hananya menjadi orang berbeda karena mereka mendapatkan hikmat daripada Tuhan. Mereka memperlihatkan kecemerlangan yang sungguh luar biasa di hadapan banyak orang. Daniel sendiri sudah bisa mengartikan mimpi raja dimana waktu itu tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui dan mengartikannya. Itu artinya ilmu pengetahuan yang mereka dapat ternyata dikalahkan dengan satu pertolongan daripada Tuhan yang mencerahkan pikiran mereka. Di sini kita percaya bagaimana kita mau hidup bijaksana di kantor, di rumah dan dimana pun tergantung sampai sejauh mana hidup kita terbuka untuk diterangi oleh Firman Tuhan. Orang yang rajin membaca Alkitab dan membacanya dengan benar, dan sungguh terbuka hatinya untuk dibaca oleh Firman biasanya orang itu tidak berani banyak mengeluarkan kata-kata yang tidak benar. Kalau orang yang diterangi Firman lebih cenderung banyak berbicara tentang Firman. Dunia mau kita saksikan siapa Tuhan yang hidup dalam kehidupan kita maka kita harus menjadi agen moral. Kita harus mendemonstrasikan hidup takut akan Tuhan dan tidak berani berbuat dosa. Kalau kita menjadi agen pembaharuan, berarti di mana kita berada terang Tuhan itu nyata maka dosa itu tersingkir kemudian terciptalah kebenaran ditegakkan. Sebagai agen kecerdasan di mana kita berada, tidak ada lagi orang-orang yang bodoh yang terikat dengan hal-hal pekerjaan setan, terikat dengan “isme-isme” dunia yang akhirnya menghancurkan hidupnya.

Mengapa hikmat spiritualitas ini sangat penting? Untuk menerangi batin kita, mengarahkan sikap kehendak kita kepada kehendak Allah dan nilai daripada kemuliaanNya.

Pertama, hikmat spiritualitas menerangi sikap batin manusia, atau sikap hati manusia mengerti kehendak Allah di saat-saat yang sulit. Dalam Markus 4:35-41 diceritakan bahwa suatu kali perahu para murid mengalami satu goncangan karena angin badai, saat itulah situasi sangat sulit. Di situasi seperti itu mereka harus teruji kerjasama dan kerohaniannya, pada saat itu mereka terjebak dengan ketakutan dan kekuatiran. Alkitab tidak mencatat ketika murid-murid kena angin sakal mereka langsung berlutut berdoa tetapi mereka ketakutan.  Bagaimana kita tahu sikap mereka salah? Karena pada waktu Yesus datang bukannya membuat mereka sangat bersukacita tetapi mereka curiga itu hantu. Mereka kehilangan kepekaan karena takut dan kuatir. Ketika iman tidak berbicara dalam situasi yang sulit pada saat itulah kehilangan kepekaan akan kehadiran Tuhan. Di saat kita mengalami kesulitan tidak memiliki ketenangan maka di situ kita akan gagal menjadi berkat.

Petrus mendorong jemaat untuk memiliki ketenangan diri di hadapan Tuhan (1 Petrus 4:7). Petrus mengerti sekali bagaimana situasi dan kondisi jemaat di perantaun yang berada dalam penganiayaan dan kesulitan tetapi Petrus mengatakan ketenangan itulah kunci kemenangan. Bagaimana kita bisa mengerti kebaikan bisa mengalahkan kejahatan? Karena kita mengerjakan semuanya dalam nilai kasih kepada Tuhan.  Yohanes 1:9 “bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” Dan sudah datang Kristus menerangi hati kita dari kegelapan, dan kegelapan itu hilang. Ketika terang itu datang, kegelapan itu seperti ditelan oleh sinar itu. Waktu kita menerima Tuhan Yesus semua kegelapan yang menguasai kita hilang. Karena Kristus yang disebut terang dunia menerangi hati kita. Kita bersyukur bagaimana kita dimampukan oleh Tuhan menerangi dunia berdasarkan terang Kristus itu sendiri. Lukas 11:36 “Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” Pada waktu ada lampu/pelita maka kita akan melihat siapa diri kita dan kita akan melihat siapa orang lain. Kita bersyukur sekali ketika Kristus ada dalam hati kita , dia menerangi seluruh hati kita, akal budi kita, perasaan kita maka dikatakan terang itu akan terpancar melalui sikap dan seluruh pola hidup kita. 1 Korintus 4:5, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Jangan kita mau menebak dan menerka apa yang dikerjakan oleh orang di dunia ini secara negatif. Hal menghakimi selalu berpikir akan kelemahan orang lain. Di dalam konteks inilah Rasul Paulus mengingatkan jemaat-jemaat Korintus jangan di dalam dirimu tertanam pikiran jelek atau pun kelemahan orang lain. Berpikirlah sesuatu positif dengan orang lain karena Tuhan akan datang sebagai Hakim yang adil, terang, jujur, tidak mungkin salah, biarlah Dia yang akan menghakimi itu. Karena apapun yang tersembunyi dalam kegelapan akan diperlihatkan Allah bahkan nilai hatinya pun terbuka. Sehingga jikalau hidup kita benar maka hati tidak ada kebencian, kedengkian ataupun kemarahan kepada orang lain. Bagaimana kita bisa memiliki nilai hati yang begitu sangat putih bersih? Karena hikmat spiritualitas senantiasa menerangi daripada kehidupan kita di saat-saat sulit. Maka dalam hidup kita menjadi orang Kristen kita selalu mementingkan kehendak Allah bukan kehendak diri.

Kedua, hikmat spiritualitas menerangi sikap batin manusia, atau sikap hati manusia yang masih suka dalam kegelapan untuk mengerti supremasi Kristus. Efesus 1:18-20 “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.”  Setelah mata hati terang maka nanti kita akan mengerti yang disebut supremasi Kristus dalam nilai daripada hakekat-Nya, dalam nilai kemuliaan-Nya, dalam nilai kemulian-Nya, dalam nilai kekuatan-Nya. Di sini kita melihat bagaimana dikatakan pada waktu kita sungguh-sungguh hidup dalam hikmat spiritualitas maka Firman akan menerangi mata hati kita. Maka pada waktu mata hati kita terang, dunia gelap pun akan kita lihat dengan terang. Maka pada waktu dunia terang pun, mata hati kita gelap maka akan menjadi gelap. Kita bersyukur Tuhan akan memberikan kepada kita satu hikmat spiritualitas untuk bagaimana Firman mengarahkan membimbing sikap hati kita untuk kita mengerti tentang Kristus dan kehendaknya dan juga kemuliaan-Nya. Hikmat spiritualitas untuk menerangi sikap batin manusia karena pikiran dan hati manusia yang masih suka dalam kegelapan.  1 Korintus 2:14 “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Orang dunia tidak bisa menerima roh Allah karena menganggapnya sebagai kebodohan. Padahal Roh Allah adalah roh hikmat. Bagaimana seharusnya kita akan terang Tuhan dan hidup kita hanya dilihat secara Rohani? Efesus 4:17-18 “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia  dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Kita akan berhadapan dengan orang-orang seperti ini karena jalannya sama seperti orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia.

Ketiga, hikmat spiritualitas untuk menerangi sikap batin manusia karena sifat hati manusia yang kadang-kadang bebal. Tapi itu bukan gaya hidup kita karena terang yang Tuhan berikan kepada kita adalah terang yang abadi. Yeremia 6:9-10, Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Petiklah habis-habisan sisa-sisa orang Israel seperti pokok anggur dipetik habis-habisan. Kembalilah seperti pemetik buah anggur dengan tanganmu mencari-cari buah pada ranting-rantingnya.” Kepada siapakah aku harus berbicara dan bersaksi, supaya mereka mau memperhatikan? Sungguh, telinga mereka tidak bersunat, mereka tidak dapat mendengar! Sungguh, firman TUHAN menjadi cemoohan bagi mereka, mereka tidak menyukainya! Yeremia sudah meneriakkan ajakan pertobatan kepada umat Tuhan. Dikatakan telinga mereka tidak bersunat, mereka tidak dapat mendengar, sampai hatinya penuh dengan air mata menangis. Maka pada waktu dia bersedih karena tidak mau menghormati Tuhan dan tidak mau mendengar Firman Tuhan. Dia menulis kitab Ratapan, mengapa keluar kitab Ratapan? Bukan karena Yeremia patah hati dan putus asa. Dia menulis kitab Ratapan karena meratapi umat Tuhan di dalam kebodohan, kebebalan dan keberdosaan mereka.

Kisah Para Rasul 28:26-27, “Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Kalau orang bebal dikatakan menebal telinganya, matanya tertutup dan kita berbicara apapun tidak dipedulikan. Sampai sejauh mana anak Tuhan bisa bebal? Kadang Tuhan mengijinkan seperti itu, ketika ada masalah dan pergumulan, Tuhan mengijinkan kita mengeraskan hati dan seolah-olah kecewa dengan Tuhan bahkan tidak lagi peduli dengan hal-hal pekerjaan Tuhan. Tapi kemudian dia diijinkan Tuhan terpukul karena kebebalannya. Seperti Yunus mengatakan aku tidak butuh perintah Tuhan dan lari daripada perintah Tuhan untuk menginjili orang Niniweh. Kemudian Yunus menyadari bahwa Tuhan ada dan tidak bisa lari dari Tuhan. Kita percaya kebebalan kita terkadang itulah satu nilai hidup kita belajar.

Keempat, hikmat spiritualitas untuk menerangi sikap batin manusia untuk melawan pekerjaan setan. Luar biasa bagaimana dengan setan dikalahkan dengan hikmat spiritualitas. Dikatakan Daud bermain kecapi maka Roh jahat di dalam Saul pergi. Ketika Yesus ke Gerasa yang ketakutan adalah setan. 2 Korintus 4:3-4 “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” Ada orang percaya yang memberitakan Injil maka orang percaya itu ternyata sudah memberitakannya dengan sangat baik tetapi orang itu tidak mau percaya. Paulus katakan itu karena dibutakan karena illah jaman ini. Efesus 6:12-13 mengatakan bahwa peperangan kita tidak seperti pada waktu jaman Daud. Peperangan kita bukan peperangan fisik tetapi peperangan kita adalah pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa yang gelap ini melawan roh-roh jahat di dunia ini. Bagaimana kita mengalahkan kuasa setan yaitu memakai senjata Allah. Dikatakan berikat pingganglah kebenaran, berbaju jiarah ialah keadilan. Pakai perisai iman , bertopang keselamatan, berkasuk kerelaan memberitakan Injil. Itulah senjata kita, artinya hidup kita benar di hadapan Tuhan.

Kelima, hikmat spiritualitas untuk memenangi sikap batin manusia dalam mengalahkan pengaruh kuasa kedagingan. Jadi setiap kita masih mungkin terpengaruh dengan kedagingan. 1 Korintus 3:1-2 menyatakan bahwa terkadang jemaat-jemaat di Korintus masih suka dengan perselisihan. Hal itu bagi Paulus itulah sifat kedagingan. Kamu belum bisa menyatakan kasih dalam  pengampunan. Ibrani 5:12-14, dalam ayat ini menceritakan terkadang karena hal-hal kedagingan hidup kita masih diikat dengan nafsu-nafsu duniawi, emosi yang tidak suci, kemalasan-kemalasan maka kiranya kita tidak bertumbuh. Galatia 5:16-18, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging-karena keduanya bertentangan-sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.” Jadi hiduplah dalam kepenuhan Roh Allah, berjalanlah dalam terang Firman. Maka setiap kita di dunia ini selalu ditawarkan dicobai oleh hal-hal dunia. Bagaimana kita mengalahkan semua itu maka hiduplah dalam pimpinan Roh Allah. Seluruh keinginan-keinginan kita yang tidak suci bisa diredakan. Dan ingatlah Kristus telah mati bagi kita jangan lagi hidup untuk mencari kepuasan diri dan terjebak dengan seluruh kepuasan dunia.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Hikmat Spiritualitas (2)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami