Gisbertus Voetius

Gisbertus Voetius (1589-1676), lahir di keluarga Belanda yang berkomitmen sangat ketat di dalam pandangan teologi dan iman Reformed. Hidup di tengah masa kedatangan Spanyol, ayah dan kakeknya keduanya meninggal di tengah mempertahankan iman dan praktik iman Reformed-nya. Ia dikenal sebagai tokoh yang besar dan penting di kalangan “Second Reformation” (Nadere Reformatie), atau dikenal dengan Further Reformation.

Further Reformation memiliki gagasan yang menyerupai dengan gerakan Puritan di Inggris dan Pietis di Jerman. Gagasan utamanya adalah, kehidupan yang juga diubahkan oleh firman. Bukan hanya sekedar pengertian secara teologi dan doktrinal. Pengetahuan semacam itu, tidak otomatis membuat orang Kristen kebal dari godaan dan dosa. Maka, gerakan yang hadir di Belanda ini mengajak orang Kristen untuk memiliki kehidupan spiritual yang juga baik, sebagaimana dibangun di atas teologi yang baik juga.

Voetius menempuh pendidikan teologinya di Universitas Leiden di usia ke-15. Ia dikenal memiliki semangat sebagaimana dimiliki ayah dan kakeknya, ditambah dengan bakat yang tidak biasa. Ia pun membuat banyak sekali kesan yang mendalam dan sangat besar baik di gereja maupun negaranya. Di masa permulaan pendidikannya, kontroversi dari gerakan Arminian sedang sangat besar dan diterima dengan luas. Tahun 1612, ia menikah dengan Deliana van Diest dan memiliki 10 anak dari pernikahannya ini.

Melayani di sinode regional, Voetius melahirkan banyak sekali pekerjaan pastoral, kesarjanaan dan tulisan-tulisan lainnya. Tahun 1634, ia dipanggil untuk mengajar teologi dan bahasa oriental. Kemudian, ia membuka suatu sekolah di Utrecht dan kemudian menjadi universitas. Dalam dua tahun, ia menjadi kepala sekolah tersebut. Dan sekolah tersebut berhasil mendapat reputasi yang sangat baik di dunia internasional dan menarik banyak sekali murid-murid asing. Hal yang sangat berkesan di sekolah ini adalah pengajaran akan Calvinistic dan praktik kehidupan yang sangat saleh, yang mereka ditemukan baik di aula pengajaran, ruang makan hingga mimbar.

Pemikiran Voetius sangat dipengaruhi oleh Calvin dan Fransiscus Gomarus, profesornya di Leiden. Pengajaran dan penulisannya sangat dipengaruhi dengan pemikiran medieval akan tetapi tidak berhenti sampai di sana. Bukan sekedar pemikiran analogical yang diutamakan saja, namun juga praktek dan kehidupan yang sangat menunjung tinggi kemuliaan Tuhan.

Serangan dari tulisan-tulisan Voetius yang sangat tajam dan kritis adalah atas pengajaran teologi yang salah di zamannya. Seperti pengajaran dari Roma Katolik dan Arminian. Jacobus Arminius ini sendiri semula adalah guru Voetius di Leiden. Arminius sendiri sangat menentang pengajaran mengenai predestinasi yang diajarkan oleh gurunya, Theodore Beza. Arminius menekankan pemilihan orang-orang percaya berdasarkan respon manusia kepada Allah. Allah terlebih dahulu mengetahui respon apa yang akan diberikan oleh manusia. Manusia bisa percaya ataupun tidak menerima anugerah keselamatan itu. Voetius menyerang ajaran ini.

Dalam persidangan yang sangat penting, Synod of Dordrecht (1618-1619), Voetius mengambil peranan yang sangat penting dalam  menentang ajaran Arminian ini. Pertemuan ini yang kemudian kita kenal dalam merumuskan 5 poin TULIP. Tentu poin-poin ini dikeluarkan sebagai suatu bentuk pengakuan iman yang berbeda dengan pengajaran dari Arminian.

Voetius juga menyerang ajaran Rene Descartes yang meninggikan common sense dan human reason. Voetius menentang pemikiran ini yang akhirnya sangat meninggikan rasio manusia dibanding iman, keperluan akan Firman Tuhan dan iluminasi dari Roh Kudus. Pengajaran lain yang juga ia lawan adalah dari Johannes Cocceius. Ia menyatakan bahwa perjanjian keselamatan diinisasi oleh Allah namun membutuhkan tanggungjawab manusia.

Pengajaran yang juga popular namun tidak tepat di masa itu adalah Jean de Labadie, dikenal dengan Labadism. Setuju dengan pengakuan iman Reformed, namun memberi penekanan yang sangat ekstrim pada gagasan tentang kesalehan (piestistic). Labadiasm menolak gereja secara institusi, fungsi, sakramen dan liturgi yang formal. Ini adalah kepercayaan dan praktika yang berbahaya dan tidak bibikal.

“Rock of Gibraltar” sebuah panggilan yang disematkan kepada Voetius oleh teman-teman dan koleganya. Voetius mengambil peranan yang sangat penting di dalam setiap pemikiran dan karya-karyanya. Dan setiap hasil penulisan ini menjadi pengaruh yang besar, penting dan memengaruhi begitu banyak gereja dan juga negara.

Kemampuan seorang Voetius memberikan pengaruh besar kepada zamannya dan menjadi acuan bagi teolog-teolog besar lainnya setelah zamannya. Komitmennya terhadap keseluruhan hidup yang dipengaruhi oleh Firman, pengenalan akan Allah yang benar dan kehidupan spiritualitas yang juga sinkron terhadap keseluruhannya ini, menjadikan ia sanggup melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan komitmen awal iman yang benar berdasarkan Alkitab. Maka, hal ini juga mengingatkan kita, seberapa bertumbuhnya kita di dalam pengenalan akan firman Tuhan? Keutuhan di dalam Firman, pengenalan akan Tuhan secara pribadi dan kehidupan spiritual kita. Sehingga, jika Tuhan memang memberikan anugerah untuk kita berperan membawa namaNya di tengah panggilan masing-masing kita, kita dapat menjadi saksi Kristus yang sejati.

 

Sumber:

Voetius, Gisbertus dan Johannes Hoornbeeck. “Spiritual Desertion”, Introduction. Classics of Reformed Spirituality. Grand Rapid: Baker Academic, 1659

Voetius, Gisbertus. http://www.bu.edu/missiology/missionary-biography/t-u-v/voetius-gisbertus-gijsbert-voet-1589-1676/ School of Theology

(Diringkas oleh Sdri. Paulina)