Latest Post

Berharga dan Berbahagia di Dalam Tuhan

Pdt. Tumpal Hutahaean

Mazmur 116:15 , 6-8. Wahyu  14:13, Roma 6:5

Apakah setiap orang Kristen sudah pasti berharga di mata Tuhan? Apakah setiap orang Kristen pasti berbahagia di dalam Tuhan? Belum tentu! Kalau belum tentu, berarti pasti ada kualifikasi karakteristik yang Tuhan bisa nyatakan. Kalau kita menilai manusia kuat di dalam Tuhan maka pasti kita setuju bahwa orang yang kuat di mata Tuhan bukan dilihat dari kesuksesan dan kekayaannya secara dunia. Tetapi orang yang kuat di mata Tuhan adalah orang yang bisa setia sampai mati. Itulah yang ditekankan Yesus kepada jemaat smirna: “be faithful.” Biarlah kesetiaan kita menjadi bagian dalam hidup kita yang justru menyatakan bahwa kita adalah anak Tuhan yang sejati. Setia di kala baik itu sangat baik dan mudah. Setia di kala sukses dan berjalan lancar itu juga sangat mudah. Tetapi kita juga harus tetap setia ketika kita di dalam penderitaan, pengujian iman, di tengah kesulitan, dan penganiayaan. Kalau akhirnya kita bisa bertahan dalam keadaan yang sulit, itu menunjukkan kita orang yang kuat dalam iman. Mengapa iman kita kuat? Karena bersandar kepada Tuhan. Iman yang kuat itu seperti batu karang yang kuat dibangun atas dasar Firman. Bukan dibangun atas dasar perasaan, pengetahuan dan pengalaman beriman tetapi karena pengertian yang benar akan Firman Tuhan. Sehingga Firman itu menjadi fondasi yang akhirnya membuat kita dapat bertahan segala keadaan.

Yang kita inginkan adalah hidup yang berharga di mata Tuhan. Konsep nilai mempengaruhi sikap hidup kita. Karena Francis schaeffer mengatakan “apa yang kita pikir itulah apa yang kita lakukan dan apa yang kita tahu itulah yang biasanya kita hidupi.” Karena iman, Abraham dipanggil Tuhan pada saat berumur 175 tahun, Musa saat 120 tahun dan Yusuf 110 tahun. Tetapi apa artinya umur yang panjang jikalau kita tidak disebut berharga di mata Tuhan? Apa artinya jikalau kita berumur pendek tetapi tidak berharga di mata Tuhan? Dunia melihat uang begitu bernilai dan berharga, kenapa ? Karena jumlah dan fungsinya. Maka kita bertanya mengapa Tuhan menyebut kita berharga? Dan mengapa kita tidak pernah menghargai apa yang dihargai oleh Tuhan dalam kehidupan kita?

Pertama, kita harus mengerti bahwa Tuhanlah Allah yang mencipta kita menurut peta dan teladan Tuhan. Artinya kita diberikan satu  tselem yaitu “image of god” (imago Dei). Kita memiliki gambar Allah bukan dalam bentuk fisik tetapi dalam bentuk 2 perintah yaitu mandat kerja dan mandat spiritual. (1) Mandat kerja yaitu Tuhan memberi perintah kepada kita untuk menguasai dan mengelola bumi dan segala isinya. Jadi kita yang disebut peta dan teladan Allah karena diberikan kemampuan berpikir, keadilan, kebenaran, dan kesucian untuk mewakili Tuhan dan memuliakan Tuhan dalam mandat kerja. (2) Mandat spiritual yaitu sebagai refleksi Tuhan untuk ciptaan yang lain. Sehingga ciptaan yang lain melihat seluruh potensi kita untuk bisa merefleksikan Tuhan. Dalam kedua mandate ini maka kita berharga. Tetapi kita menjadi tidak berharga karena dosa. Dosa mengakibatkan kita tidak lagi bernilai di mata Tuhan. Dosa mengakibatkan kita tidak lagi memiliki peran, fungsi, dan esensi daripada keberadaan kita di hadapan Tuhan sebagaimana kita diciptakanNya. Jadi pada waktu kita tidak lagi ada dalam status memuliakan Tuhan maka kita menjadi orang yang tidak berharga.

Di dalam pengertian Paulus kepada Timotius dalam suatu kiasan seorang petani (2 Tim 2:6), prajurit (2 Tim 2:4), olahragawan (2 Tim 2:5) dan perabot rumah yang terus bisa dibersihkan untuk menampilkan kemuliannya (2 Tim 2:21). (1) Petani berharga karena dia bersentuhan langsung dengan tanah dan melihat seluruh perkembangan setiap hari. Dia memiliki ketekunan dan menghasilkan sesuatu seperti yang dia inginkan. Jadi petani berharga pada waktu hatinya, ketelitiannya, dan ketekunannya ada untuk apa yang dia tanam. (2) Prajurit berharga di mata pemerintah dan komandannya karena dia punya kesetiaan membela Negara. (3) Olahragawan berharga karena olahragawan punya perjuangan, semangat, kemauan dan berprestasi. (4) Perkakas rumah yang mulia.

Kedua, kita berharga di mata Tuhan kalau kita sungguh-sungguh dalam hidup ini dilihat Tuhan selalu suci. Jikalau kita punya gelas yang terbuat dari emas tetapi kotor sekali, perak sama juga kotor, beling berdebu, dan dari plastik bersih. Ketika kita mau minum mana yang akan kita pakai? Yang bersih. Jadi dia akan berfungsi bukan karena dari emas, perak, beling, atau daripada plastiknya, tetapi dilihat dari esensinya dia bersih. Apa artinya? Artinya adalah kita berharga di mata Tuhan kalau kita sungguh-sungguh dalam hidup ini dilihat Tuhan selalu suci. Tuhan mau memakai kita, hadir dalam kehidupan kita, dan menyatakan karyaNya melalui kehidupan kita jikalau kita suci di mata Tuhan. Pada waktu kita seperti gelas plastik yang bersih, kita akan terus berfungsi dan akan lebih bangga daripada gelas yang terbuat dari emas, perak, dan beling yang tidak pernah dipakai. Kita bangga karena kita dipakai oleh Tuhan. Kita berharga karena kita memiliki satu nilai kelayakan menjadi hamba-hamba Tuhan yang memiliki sifat-sifat hamba Allah. Di dalam hidup, kita harus punya nilai kualifikasi kebanggaan mengapa kita menjadi orang Kristen. Yaitu menjadi orang Kristen yang akhirnya bisa berharga karena dipakai Tuhan. Mengapa kita menjadi orang Kristen yang berharga ketika dipakai Tuhan? Karena di dalam hidup ini kita melihat Tuhan begitu luar biasa, kita yang lemah dan sederhana, boleh dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang kekal. Siapakah kita sehingga Tuhan mau pakai kita selain karena kasih Tuhan agar kita menyatakan ketaatan dan kesucian kita kepada Tuhan dalam kehidupan kita yang sementara ini.

Kita berharga karena kita selalu mau dipakai oleh Tuhan. Tetapi bagaimana kita tahu kalau kita sudah dipakai oleh Tuhan? Kita tahu dipakai Tuhan yaitu ketika kita dipercaya terlibat dalam pelayanan. Kalau kita tidak terlibat dalam pelayanan artinya kita tidak dipercaya oleh orang-orang sekitar kita, atau kita tidak melibatkan diri maka kita menjadi orang yang sangat sedih karena kekristenan kita hanya bersifat kekristenan pajangan biasa-biasa saja. Maka kalau kita sudah bersalah, sudah ada dosa, terus juga ternyata juga tidak tegur dan Tuhan biarkan berarti kita akan menjadi seperti perkakas yang indah tetapi kotor dan tidak berharga. Tetapi kalau kita memang berfungsi, ada sedikit kotor pun langsung dicuci. Ketika kita selalu diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam kesempatan pelayanan, kita adalah orang berharga. Ketika mati dalam status melayani Tuhan, kita akan dipanggil oleh Tuhan: “hambaku yang setia, pulanglah engkau adalah orang yang berharga dimata-Ku.” Tetapi jikalau kita tidak berharga maka kita ditolak oleh Tuhan: “Enyalah engkau semua pembuat kejahatan.” Tetapi ketika hidup kita masih dianggap berharga, ketika kita ada sesuatu yang kotor maka Tuhan pasti kita akan dibersihkan oleh Tuhan. Kitab Wahyu menjelaskan tujuh jemaat yang sempurna, dan dua jemaat yang mencapai kesempurnaan (tanpa teguran) yaitu smirna dan Philadelphia. Jemaat pergamus (Wahyu 2:12-17) mendapatkan penganiayaan dari kelompok Yudaisme dan kekaisaran romawi karena tidak mau menyembah kaisar Domitian menjadi dewa. Mereka bertahan atas penganiayaan dari luar tersebut. Tetapi di dalam itu ada kelompok mereka yang kompromi dengan ajaran Bileam. Bileam adalah hamba Tuhan yang karena kenikmatan dan bujuk rayu akhirnya menyesatkan Israel (Bilangan 22-24). Ia mengijinkan pernikahan dengan orang yang beda agama, dan terjadi satu kenikmatan-kenikmatan seks yang tidak bersifat suci. Juga ada beberapa jemaat pergamus yang ikut ajaran Nikolaus yaitu ajaran yang lebih menekankan kecintaan terhadap satu kekuasaan, uang, politik dan lain-lain melebihi kecintaan kepada Kristen yang mana akhirnya kompromi. Tuhan mengatakan pada jemaat di pergamus: “Aku tahu di mana engkau berada” berada di takhta iblis (Wahyu 2:13).  Kenapa demikian? Ada beberapa alasan yaitu (1) seringnya pengainayaan, (2) sering mendapat himpitan dari kelompok Yahudi dan orang-orang Roma. Maka mereka mementingkan kesatuan secara lahiriah saja. Mereka kesatuan tanpa teguran. Motivasinya kelihatan baik tetapi di mata Tuhan tidak berfungsi seperti garam. Harusnya kita dipanggil untuk mencegat dosa tidak berkembang dan menghancurkan perbuatan dosa. “Takhta Iblis” yang maksud adalah satu takhta yang tidak ada teguran, kenikmatan, dan tanpa pengadilan. Tetapi takhta Tuhan disebut takhta yang  ada pengadilan, pengakiman, teguran dan peringatan.

Maka di sini kita melihat mengapa kita berharga? Karena kita masih dipakai Tuhan untuk bagaimana hidup kita di mana pun kita berada kita akahirnya dipakai oleh Tuhan untuk mencegah supaya dosa tidak berkembang. Inilah prinsip yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita supaya mereka tidak membawa dosa karena dosa bisa membuat keluarga kita tidak ada damai sehingga kita tidak ada pemulihan jiwa di dalam keluarga kita. Maka dosa sekecil apapun harus kita buang kalau kita mau mendapatkan penyertaan Tuhan. Maka Alkitab berkata “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya karena sampai kita mati akhirnya boleh sungguh menjadi fungsi yang baik untuk mencegah supaya dosa tidak berkembang.” Mengapa ada hamba Tuhan dan orang-orang melayani Tuhan hidupnya tidak beres tetapi mereka tidak pernah dipukul Tuhan? Jawabannya adalah Tuhannya tidak ada karena Tuhan pergi dari gereja tersebut. Kaki dian Tuhan sudah tidak ada lagi. Jadi kalau hidup kita dan gereja ini masih disertai Tuhan maka ketika kita ada sedikit kesalahan kita akan seperti gelas yang langsung dicuci dan dibersihkan karena kita akan dipakai setiap hari. Kita harus mengingatkan supaya teman-teman kita jikalau ada hidupnya yang tidak beres, jangan berpikir nanti kita akan menyinggung hatinya tetapi pada akhirnya kita yang akan ditegur oleh Tuhan bahwa kita ada di takhta iblis. Teguran Tuhan untuk jemaat di pergamus adalah teguran kasih sayang Tuhan yang artinya Tuhan tidak dibiarkan engkau mati berada di takhta iblis. Kita berharga karena kita mau melayani Tuhan untuk nilai kerajaan Tuhan: menegakan kebenaran, kekudusan, dan kedamaian.

Ketiga, kita berharga karena berjerih lelah di dalam Tuhan. Firman Tuhan dalam Wahyu 14:13 menceritakan tentang jerih lelah pekerja-pekerja Tuhan yang handal di hadapan Tuhan. Waktu kita di perusahaan, dalam studi, dalam masyarakat, dalam rumah tangga, dan setiap hal yang kita kerjakan itu adalah jerih lelah untuk menyaksikan Kristus nyata di dalam hidup kita. Tetapi ketika jerih lelah kita berkaitan dengan uang, pujian manusia, dan pembuktian diri yang mana tidak menyatakan kemuliaan Tuhan maka itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Orang di gereja sekalipun belum tentu rohani. Kalau hidupnya dan hatinya pada waktu bekerja tidak ditujukan untuk Tuhan. Maka kelelahan kita dengan prinsip bekerja untuk Tuhan dan memuliakan Tuhan. Maka kita disebut orang yang berbahagia karena apa yang kita kerjakan tercatat di dalam kerajaan sorga. Maka dikatakan supaya akhirnya kita kelak beristirahat dari jerih lelah hidup kita terlepas dari maut, air mata yang terus berlinang, dari sakit-penyakit dan kita bisa menang karena Tuhan beserta dengan kita. Artinya kita di dalam hidup ini terus menabur harta iman. Dengan demikian kita menginfestasi nilai kerajaan Tuhan dalam nilai usaha kita, dalam nilai kerja kita, dan di mana pun kita berada.

Minggu lalu, saya menghadiri tutup peti dari seorang yang meninggal bernama Yusuf Masawan. Setelah acara kebaktian usai, saya berjabatan tangan dengan istri dan keluarganya. Kemudian saya berbicara ke General Maneger dari perusahaan yang mereka miliki. Pegawainya sekarang ±3000 orang. Almarhum Yusuf Masawan dulu adalah seorang penjual telor asin. Kemudian ia mencoba mengembangkan dengan berjualan roti. Namun tidak terlalu berkembang. Ia pun mencoba lagi berjualan pakaian yang kemudian mulai dari situ berkembang hingga memiliki mall yang paling maju di Palembang. Bahkan bisa buka cabang di Malang, Lampung dan di berbagai tempat lainnya. Dari kerja untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan akhirnya memiliki pegawai ±3000. Saya mengatakan bahwa kota Palembang sudah kelihangan pahlawan iman. Beliau adalah seorang Kristen yang baik. Jikalau mau mengadakan suatu bisnis, dia selalu memulai dengan doa bahkan membuat kebaktian terlebih dahulu. Beliau terus mendemonstrasikan imannya kepada partner-partner kerjanya bahwa dia adalah seorang Kristen. Semua orang yang kenal dengan beliau tahu bahwa beliau adalah orang yang memiliki ketulusan yang sungguh-sungguh dan moral yang tinggi. Dia selalu menempatkan diri sebagai seorang yang sederhana dan terus menjadi berkat bagi kota Palembang. Ketika ada hamba Tuhan yang anaknya kesulitan, dia mau membiayai. Dia berikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Orang yang sederhana, setiap hari baca dan renungkan Alkitab, berdoa untuk pekerjaan Tuhan ternyata dia diberkati oleh Tuhan. Beliau sejak dulu tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang kaya tetapi beliau punya prinsip bekerja untuk memberkati orang lain.

Berapa banyak kita menabur harta iman kepada orang lain? Berapa banyak kita sudah menabur visi hidup yang kekal kepada orang lain? Berapa banyak hidup kita diteladani orang lain? Kita berbahagia karena dalam hidup ini kita meninggalkan warisan iman, perjuangan, dan nilai hidup yang akhirnya orang-orang melihat kedalaman Tuhan yang kita cintai yaitu Yesus Kristus yang telah mati bagi kita. Maukah kita diberkati Tuhan seperti ini? Menjadi berkat dimana kita tinggal? Gereja ini perlu pejuang-pejuang iman seperti itu. Hidup ini adalah perjuangan. Firman Tuhan mengatakan kita menjadi satu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitannya itu adalah satu jaminan kebahagiaan yang pasti kita disebut orang berbahagia, berjerih lelah dan seluruh tindakan kita menyatakan kemuliaan bagi Allah. Marilah kita mengkoreksi diri kita, mengintropeksi diri, biarlah kita berdoa supaya Tuhan menjadikan kita orang yang berharga di mata Tuhan dan supaya Tuhan mau terus memakai kita.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Berharga dan Berbahagia di Dalam Tuhan

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti