Latest Post

Allah Memilih Kita Supaya Kita menjadi Kudus

Pdt. Tumpal Hutahaean

Efesus 1:11-14

Dalam ayat ini kita perhatikan bahwa Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus. Kita harus sama-sama mengerti bahwa Allah memilih kita karena kebaikan hati Allah. Dari dua kata ini kita pasti teringat dengan Roma 1:1 bagaimana kita diminta mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus, yang hidup, dan berkenan kepada Allah. Kata ini mengingatkan kita kepada perjanjian lama ketika korban dipersembahkan oleh kita kepada Allah ternyata bukan korban itu yang menyenangkan Tuhan tetapi iman kita yang percaya melalui korban bakaran penghapusan dosa yang Tuhan ampuni. Maka korban yang kita persembahkan adalah korban yang kudus, yang hidup dan yang tak bercacat. Maka di sini Alkitab mengatakan kepada kita bagaimana Allah memprogram hidup kita dipilih sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus. Maka di sinilah kita mengerti anak Tuhan yang sejati tidak akan mempermainkan keselamatannya bermain-main lagi dengan dosa. Anak Tuhan yang sejati memiliki satu komitmen untuk hidup kudus. Maka di sini kita diberi oleh Tuhan satu kuasa kemenangan untuk mengalahkan setiap godaan yang ada karena kita memang ada dalam jalannya Tuhan. Tetapi pada waktu kita mungkin akhirnya dibiarkan diijinkan Tuhan untuk jatuh bukan berarti Tuhan akan membiarkan kita terus menyelewengkan diri kita kepada satu kehancuran tetapi Tuhan akan menarik kita kembali untuk kembali kepada jalan Tuhan supaya kudus. Siapa yang menarik kita? Allah Roh Kudus memperingati kita dan suaranya bersenandung dalam hati nurani kita, kita terus diberikan kegelisahan, rasa bersalah dan dorongan untuk kembali kepada Tuhan. Maka anugerah Tuhan cukup untuk memanggil kita dan pada saat itulah kita punya kesadaran akan penebusan Kristus atas hidup kita maka kita akhirnya kembali kepada jalan Tuhan. Kita mendapatkan satu pembaharuan maka pada waktu kita bersungguh-sungguh mengakui akan keberdosaan kita kembali ke Alkitab mendapatkan jalan yang baru yaitu Kudus. Maka berbicara tak bercacat itu berarti berbicara tentang hidup kita di hadapan Tuhan sampai kematian kita.

Mungkinkah bahwa kita tidak sempurna akan mati dalam kesempurnaan dalam Tuhan? Mungkin, karena Allah yang membentuk kita. Ini artinya orang Kristen yang sejati tidak mungkin dalam dosa, mati di dalam keputusasaan, atau mempermalukan nama Tuhan. Mengapa demikian? kita bisa melihat satu contoh bagaimana penjahat di sebelah Yesus pun terbukti sebagai umat pilihan Tuhan. Kematian akan tiba untuk penjahat itu, yang tadinya mencaci maki Yesus tetapi berubah menerima akan seluruh perkataan Tuhan dan mengagumi Kristus adalah Raja. Penjahat itu tidak lagi mencaci maki Yesus, sebaliknya dia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan: “jikalau Engkau datang sebagai Raja, ingatlah akan aku” (Lukas 23:42). Maka Tuhan menggenapkan imannya dan berkata kepada penjahat itu: “hari ini juga engkau akan bersama dengan Aku di Firdaus” (Lukas 23:43). Artinya keselamatan adalah anugerah Tuhan. Baptisan tidak menyelamatkan, katekisasi tidak menyelamatkan. Tetapi mengapa kita harus dibaptis? sebagai konfirmasi iman kita kepada Tuhan. Mengapa kita harus katekisasi? sebagai bukti kebulatan kita sungguh-sungguh mempercayakan diri kita di hadapan Tuhan dan jemaat untuk menjadi nilai kesetiaan beribadah dan melayani dalam satu gereja yang jelas sebagai pertumbuhan iman yang sejati. Kita percaya bahwa keselamatan selalu ada dalam waktu Tuhan. Maka setiap kita harus percaya kita akan mati di dalam satu kesempurnaan dalam Tuhan. Kita tidak lagi mati di dalam satu ikatan daripada keberdosaan atau kuasa-kuasa si jahat.

Efesus 1:11, “Aku katakan “di dalam Kristus,” karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan  —  kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Kita melihat akan siapa diri kita di hadapan Allah. Surat Efesus akan membongkar akan seluruh keberadaan kita yang sesungguhnya dan surat Efesus juga akan membangun satu keberadaan kita yang tepat seharusnya bagaimana di hadapan Tuhan. Surat Efesus juga mendorong kita memperkenalkan kita bagaimana seharusnya kita melangkah dengan benar. Dalam bahasa Indonesia memakai kata bagian bisa juga diterjemahkan menjadi “warisan” Kerajaan Allah yang terbesar yaitu hidup yang kekal. Kita bersyukur sekali Allah yang kekal rela datang ke dunia untuk mencari kita yang sudah kehilangan kemuliaan Tuhan. Karena dosa kita kehilangan daripada penyertaan Tuhan tetapi Kristus datang membawa kita kembali untuk mendapatkan satu jaminan keselamatan yang kekal dan itulah warisan yang terbesar. Maka Yesus berkata: “apa artinya seluruh hartamu di dunia tetapi engkau kehilangan nyawamu?” (Matius 16:26). Maka orang Kristen yang sejati pada waktu bisa memberikan senyum dan sukacita untuk hidupnya karena dia memiliki pengharapan dan jaminan hidup kekal. Kita belajar bagaimana seharusnya kita hidup mendemonstrasikan hidup kita dengan senyum dan sukacita kerena kita selalu hidup kudus. Warisan terbesar dari kerajaan Allah adalah kita menikmati Tuhan dalam kekekalan terus menerus.

Kalau kita sudah mendapatkan warisan Kerajaan Allah kita akan terus bisa menghidupi hidup kita dengan senyum dan sukacita karena melampaui dari seluruh harta yang mungkin kita miliki dan mungkin akan kita capai. Ayat 11 dikatakan kita adalah milik Allah, maka kita berhak mendapatkan warisan kekal. Jadi kita perlu perhatikan warisan di dalam dunia ini akan disempurnakan dalam pertolongan Allah Roh Kudus untuk menjadikan kita milik Allah untuk memuji kemuliaan-Nya. Di dalam ayat ini yang perlu kita perhatikan kata “menerima”. Kita menerima warisan daripada Allah kita mendapat bagian dari Kerajaan Sorga yaitu menikmati Tuhan dalam kekekalan. Mengapa kita dapat menerima bagian Allah yang dijanjikan itu yaitu karena memang kita milik Allah. Allah berjanji untuk kita yang disebut umat-Nya menyatakan kebesaran Tuhan. Allah berjanji bagaimana melalui hidup kita, kita bisa menyatakan kemuliaan Tuhan. Bagaimana kalau ada orang Kristen sampai mati tidak menyatakan kemuliaan Allah? Maka keselamatannya dan kekristenannya dipertanyakan. Artinya setiap orang Kristen melalui hidupnya pasti akan menyatakan kemuliaan Tuhan. Bagaimana kita tahu? Di sini kita perhatikan Ulangan 32:9 “Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya.” Mengapa Yakub dipilih menjadi bapa orang Israel dan sebagai penerus Kerajaan Allah hingga sampai Kristus diturunkan? Alkitab mencatat karena Yakub adalah orang yang setia, taat, dan yang mengutamakan Tuhan.

Di dalam sejarah gereja, keluarga-keluarga missionaris yang pernah datang di Indonesia secara khusus banyak anak cucu mereka boleh sungguh dipakai Tuhan dalam dunia bisnis, pendidikan dan juga di dalam bidang yang lain. Mengapa bisa demikian? Karena Allah memiliki karya atas hidup mereka. Jadi jangan pikir kalau anak kita menjadi pendeta itu namanya penghinaan tetapi itu merupakan berkat. Setiap kita saudara harus membuka diri jikalau Tuhan panggil kita menjadi hamba Tuhan. Tuhan tidak melihat engkau muda atau tua. Segala sesuatu bisa dilihat Tuhan dalam waktu cemerlang di mana kita peka meresponi panggilan Tuhan maka Yakub dipilih oleh Tuhan dan dia menjadi milik Tuhan. Maka dalam Mazmur 33:12 “Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!” Yakub adalah miliki yang ditetapkan bagi Tuhan. Kalau kita sungguh dipilih oleh Tuhan dan kita disebut miliki Tuhan pasti kita dijaga Tuhan.

Bagaimana kita menghidupi kesetiaan kita sampai mati? Kuncinya ketika kita setia sampai mati biarlah Tuhan yang menopang. Artinya kita harus menyadari hidup kita bukan lagi kita yang miliki, hidup kita 100% sudah menjadi milik Allah. Maka jikalau hidup kita sudah menjadi milik Allah maka matikanlah semua keinginan-keingan daging, matikanlah semua hal-hal yang bisa membuat kita tidak memuliakan Tuhan. Kita bahagia dalam Tuhan, kita sudah dimiliki oleh Tuhan dan Tuhan melihat setiap kita. Maka Alkitab dengan jelas mengatakan, waktu zaman akhir semua kehidupan kita akan dibukakan oleh Tuhan karena Allah maha tau. Kita percaya setiap orang-orang yang murtad akan mendapat penghukuman (Wahyu 9:13-21). Pengkhotbah mengatakan Allah mengetahui akan apa yang dikerjakan manusia di bumi. Janganlah kita menjadi sia-sia seperti menjaring angin dengan jaring ikan. Kita melihat bagaimana Allah menyatkaan kemahakuasaan-Nya, Ia menilik, Ia membentuk hati. Siapa yang mengeraskan hati Firaun? Tuhan. Siapa yang mengeraskan hati Yudas? Tuhan. Dan siapa yang membuat kita bertobat? Tuhan. Artinya kita percaya sekali bahwa Tuhan berdaulat untuk membentuk setiap individu berdasarkan maksud dan kehendak Allah. Berarti Tuhan juga punya satu kuasa membentuk kita sebagai milik Tuhan. Jadi artinya mungkinkah anak Tuhan terus memiliki kekersan hati? Tidak mungkin, sekerasnya pun Rasul Paulus akhirnya bisa dilembutkan oleh Tuhan oleh karena itulah Tuhan yang menjamah. Di sini kita percaya sekali Allah kita adalah Allah yang ajaib. Allah yang ajaib karena bisa membentuk kita. Allah yang ajaib karena waktu mula-mula mencipta dunia yang kosong akhirnya dibentuk dengan sesuatu yang berada dan bernilai. Maka untuk membentuk diri kita menjadi kudus dan tak bercacat pasti Allah bisa. Maka di sini dikatakan Allah bisa menilik dan Dia membentuk hati kita. Setiap kita membaca Firman dan melalui apa yang kita baca Allah membentuk nilai hati kita. Jadi jikalau engkau tidak lagi rajin membaca Firman bagaimana Allah membentuk buah melalui Firman.

Setiap orang percaya dijanjikan:

(1) Roh yang Tuhan berikan kepada kita lebih besar daripada roh manapun juga. Allah memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Artinya sesusah-susahnya pun umat Tuhan di Yerusalem Tuhan tetap bisa pelihara melalui Paulus. Jemaat-jemaat Filipi, jemaat Makedonia semuanya mengambil bagian mendukung diakonia mengirimkan uang kepada orang Yahudi Kristen di Yerusalem.

(2) Tangan Tuhan adalah tangan yang besar, tangan Tuhan adalah tangan yang berkuasa untuk menyatakan pertolongannya kepada kita. Artinya Tuhan tidak mempermalukan kita yang percaya.

(3) Allah adalah penolong kita dan perisai kita. Ia mengingatkan bagaimana di Mazmur 3 Daud bisa menang sebelum berperang.

(4) Allah adalah sumber sukacita kita karena Dia hati kita bersukacita. Jadi puji Tuhan kembali lagi saudara, mungkinkah kita bisa memberikan senyum dan sukacita untuk hidup kita? Mungkin karena Tuhan adalah sumber sukacita kita.

(5) Allah kita adalah Allah yang setia, Dia akan selalu menyertai kita dan biarlah setiap kita percayakan bagian ini. Bahagiakah kita sudah menjadi milik Tuhan? Mengapa kita bahagia karena dari bagian Mazmur 33 saja kita melihat Tuhan yang kita sembah, Tuhan yang sudah menjadi pemilik kita adalah Tuhan yang luar biasa.

Siapa kita dihadapan Tuhan? Ayat 11 menyatakan Kita adalah milik Allah. Maka kalau kita milik Allah kita akan senantiasa berjalan dengan kehendak-Nya. Seorang anak yang baik akan mentaati apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Seorang anak yang baik akan menghargai setiap keputusan-keputasan daripada orang tuanya. Maka anak yang disebut anak adalah anak yang memliki ketaatan. Jadi siapakah kita yang disebut milik Tuhan, kita akan selalu berjalan dalam kehendak-Nya. “Kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Kita juga harus mengingat Efesus 1:5 & 9,  “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya; Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Roma 12:2). Bagaimana kita mengerti kita selalu ada dalam trek Tuhan, jalan Tuhan, kehendak Tuhan, berubahlah dalam pembaharuan budimu. Mengapa kita harus berubah karena dengan engkau berubah, engkau berubah kearah Kristus maka engkau akan mengerti mana kehendak Allah yang baik, yang kudus, dan yang berkenan, serta yang sempurna. Di dalam ayat ini perlu kita perhatikan penekanannya ada dalam sesuai dengan maksud Allah yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendaknya. Bahwa jelas keselamatan kita di dalam Kristus bukan bersifat kebetulan tetapi karena kehendakNya yang kekal.

Efesus 1:13 “Di dalam Dia kamu juga  —  karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu  —  di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Jadi kalau kita selamat tetap kita punya nilai ketaatan baca Firman artinya kita tetap punya nilai tanggung jawab. Artinya Tuhan punya kehendak dan kita juga memiliki kehendak. Bagaimana kehendak kita menghasilkan pertobatan karena kehendak kita sudah disucikan. Bagaimana kehendak kita bisa menghasilkan pertobatan? Karena kehendak kita sudah diarahkan. Maka kita masih bisa berpikir, emosi, tindakan dalam pertobatan tetapi semua sudah disucikan dan sudah diarahkan oleh Tuhan dan kita tetap punya tanggung jawab. Bagaimana kita tahu kalau kita punya tanggung jawab rohani? Kolose 2:6-8, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kalau kita sungguh-sungguh sebagai milik Tuhan, kita akan selalu berjalan dalam kehendak Allah. Tanggung jawab rohani kita, jikalau kita yang disebut di hadapan Allah kita sudah menjadi milik Allah dan kita harus membukitan berjalan terus dalam kehendak Allah maka yang pertama hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Di dalam Dia kita berjalan dalam kebenaran, kesucian, dan dalam terang Allah. Maka kalau kita mau berakar dalam Firman kita harus baca firman. Sampai sejauh mana kehausan kita akan Firman sampai sejauh itulah kita sedang berakar. Waktu kita tidak mau lagi haus akan Firman, berarti kita sedang stuck ibarat pohon tinggal menunggu waktu untuk dicabut. Maka penting kita menyadari hal ini sampai sejauh mana kita haus akan Firman. Ini adalah tanggung jawab kita, maka kita harus terus belajar akan Firman. Kita harus membangun akar Firman di atas Dia. Jadi satu akar akan punya satu batang dan terus mengarah dengan baik. Dan pohon yang baik selalu punya akar tunggang atau batang pokok. Sehingga ketika ada angin kencang dia tidak akan goyang karena dia punya batang yang kuat. Dan biarlah hati kita terus melimpah dengan syukur.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Allah Memilih Kita Supaya Kita menjadi Kudus

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami