Yesus sebagai Imam yang Besar (Ibrani 4:14-16)

Yesus sebagai Imam yang Besar (Ibrani 4:14-16)

Categories:

Khotbah Minggu 5 Januari 2020 PAGI

Yesus sebagai Imam yang Besar

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Sebelumnya kita sudah membahas tentang Yesus sebagai Raja yang Mulia. Kita akan melanjutkan dengan pembahasan tentang Yesus sebagai Imam yang Besar. Sebelum disalibkan, Yesus melakukan Perjamuan Kudus. Di sana Ia mewakili seluruh orang percaya untuk mendapatkan suatu penebusan. Di sana Ia menyatakan bahwa seluruh tugas keimamannya akan tergenapi pada saat Ia mati di bukit Golgota.

 

 

1) Pendahuluan

 

Jika Tuhan Yesus adalah Allah mengapa Ia berdoa kepada Bapa? Pernahkah kita memikirkan hal ini? Ketika Yesus menjadi Penebus kita, mengapa Ia berdoa? Mengapa ketika kita berdoa harus ditutup dalam nama Tuhan Yesus Kristus? Kita membuka doa dengan Allah Bapa, dan menyebutkan Allah Roh Kudus dalam prosesnya lalu ditutup dengan nama Tuhan Yesus. Jika kita memikirkan hanya tentang Pribadi Kedua, maka itu adalah doa yang salah. Doa kita harus merujuk kepada Allah Tritunggal, bukan hanya salah satu Pribadi. Mengapa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar berdoa syafaat untuk umat-Nya (Yohanes 17, Ibrani 7:25)? Dalam Yohanes 17 ada doa Tuhan Yesus sebelum Ia mati di bukit Golgota. Ia berdoa kepada Bapa untuk kita semua supaya kita mendapatkan penggenapan keselamatan, buah keselamatan, dan hidup di surga. Ibrani 7:25 jelas menyatakan bahwa Ia bersyafaat untuk kita. Ia tahu kita lemah, terbatas, dan kita diserang oleh Setan dan dunia. Inilah mengapa Tuhan bersyafaat bagi kita. Mengapa kita harus senantiasa berdoa dalam kehidupan kerohanian kita (Matius 6:5-15, Efesus 6:10-20)? Tuhan menyatakan bahwa ada doa orang percaya, yaitu Doa Bapa Kami menurut judul dari LAI. Seharusnya bagian itu berjudul ‘Doa Orang Percaya’. Efesus 6 jelas menyatakan bahwa ada peperangan dan ada janji kemenangan. Bagaimana caranya? Melalui doa.

 

Ibrani 4:14-16 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

 

Dikatakan bahwa Ia melintasi semua langit. Ia melampaui seluruh ciptaan, zaman, dan kerajaan. Yesus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia sebagai Imam Besar tidak terus menerus mempersembahakn korban. Sebelum Yesus, imam besar mempersembahkan korban di bait suci sekali dalam setahun. Namun Yesus melintasi waktu. Dikatakan bahwa kita harus berpegang teguh pada pengakuan iman kita, yaitu pengakuan akan siapa diri Yesus. Kita bisa berdoa secara sederhana, namun Tuhan Yesus tahu isi hati kita yang terdalam. Maka dari itu doa kita tidak boleh bertele-tele. Dalam zaman Perjanjian Lama orang-orang tidak boleh dengan sembarangan menghampiri takhta Tuhan. Ruang maha suci dan ruang suci bukan tempat yang boleh dimasuki sembarang orang. Risiko masuk ke ruangan itu adalah kematian. Imam besar jika tidak mengikuti peraturan dari Tuhan lalu masuk ke bait suci maka juga akan mati. Di sana kita belajar bahwa kesucian Tuhan tidak boleh dipermainkan. Yesus sudah mati bagi kita, maka kita memiliki keberanian untuk berdoa. Keberanian itu adalah suatu terobosan iman. Dan keberanian itu mendatangkan berkat bagi kita. Kita menerima rahmat dan kasih karunia dalam pertolongan Tuhan bagi kita.

 

 

2) Apa Artinya Imam?

 

            Kita bisa melihat dalam Kejadian 14. Di sana dituliskan Abraham memberikan perpuluhan kepada imam Allah yang Mahatinggi yaitu Melkisedek. Kelahiran dan kematiannya tidak pernah dicatat. Ini menunjukkan bahwa Melkisedek adalah tipologi Mesias dalam Perjanjian Lama. Seorang imam adalah orang yang dikhususkan oleh Tuhan untuk melayani manusia datang kepada Allah. Jadi dalam Perjanjian Lama, jika orang berdosa mau bertemu dengan Allah yang suci, maka tidak boleh dengan cara sembarangan. Ada titik temu yaitu melalui imam. Abraham dengan jelas mengakui Melkisedek sebagai imam. Dalam bangsa Israel, imam berasal dari suku Lewi. Imam bertugas untuk melayani manusia yang akan berhadapan dengan Allah yang suci. Imam melakukan pelayanan pendamaian, meminta penyertaan Tuhan, dan memberikan korban kepada Allah. imam juga adalah orang yang memimpin acara korban bakaran di ruang maha suci sekali setahun dan setiap hari di pelataran Bait Allah. Ada beberapa jenis korban yang dipersembahkan kepada Allah lewat imam. Imam bertugas untuk memimpin. Jadi tidak boleh sembarang orang menjadi imam. Sebelum melayani, para imam harus memakai pakaian yang ditetapkan Allah dan mengikuti peraturan yang Allah telah tentukan di kitab Taurat. Mereka menggunakan bel di kaki mereka. Jika bel itu masih berbunyi maka itu berarti mereka masih melayani di dalam bait suci. Jika bel itu tidak lagi berbunyi dan saat tali itu ditarik tidak ada respons, maka itu berarti imam tersebut sudah meninggal. Jenazahnya harus ditarik ke luar karena tidak boleh sembarang orang masuk ke dalam. Dari hal itu kita belajar tentang kesucian Tuhan yang tidak boleh dipermainkan. Jadi dosa tidak boleh masuk dan berkembang di hadapan Tuhan. Kita berhadapan dengan Tuhan di dalam ibadah. Jadi Gereja harus menjaga kesucian.

 

Ketika kita mendengar bahwa ada gereja yang tidak beres dalam keuangan, kesucian pernikahan, dan kebenaran, kita begitu sedih dan nama Tuhan dipermalukan. Di dalam Gereja yang memiliki jemaat ribuan bisa ada dosa yang dibiarkan. Ini adalah investasi Setan. Ketika semuanya terbongkar, banyak orang yang kecewa. Gereja yang suci bisa dikotori oleh dosa karena ada orang-orang yang mempermainkan kesucian Tuhan. Banyak orang memanipulasi Gereja untuk mendapatkan uang dan kepopuleran. Kitab Wahyu menyatakan bahwa Setan bisa memakai orang-orang yang menyamar sebagai anak-anak Tuhan untuk mengacaukan Gereja. Setan bisa berusaha untuk menghancurkan iman melalui kehadiran pendeta palsu. Setan juga bisa memakai penderitaan untuk menyiksa orang-orang percaya. Jadi kita bisa mendengar berita-berita yang menyedihkan hati kita. Di sini kita harus berdoa dan meminta untuk bisa mengerti kehendak Tuhan dalam setiap kejadian yang menyedihkan ini. Yesus adalah Imam Besar yang sempurna. Para pemimpin agama sudah melenceng dan para pemimpin politik di saat itu sudah tidak bisa diandalkan. Semuanya sudah menjadi liar. Ini seperti zaman Hakim-Hakim di mana tidak ada raja. Semuanya hidup berdasarkan pemikiran masing-masing. Pada bagian akhir kitab itu, suku Benyamin berperang melawan seluruh Israel. Suku Benyamin sudah menjadi begitu jahat sampai memperkosa seorang gundik sampai mati (Hakim-Hakim 19:25). Saat itu para pemimpin agama tidak lagi mengajarkan Firman Tuhan. Kebenaran Tuhan tidak lagi menjadi yang tertinggi di antara bangsa Israel. Pada akhirnya mereka menemukan kehancuran. Benyamin sebagai adik Yusuf adalah orang baik, namun generasi-generasi di depannya gagal untuk hidup takut akan Tuhan. Gundik itu dimutilasi oleh orang Lewi itu dan potongan-potongan tubuhnya dikirim ke seluruh daerah orang Israel (Hakim-Hakim 19:29). Respons orang-orang saat itu adalah: hal yang demikian belum pernah terjadi dan belum pernah terlihat, sejak orang Israel berangkat keluar dari tanah Mesir sampai sekarang (Hakim-Hakim 19:30). Di sini kita melihat bahwa manusia bisa menjadi liar tanpa Firman Tuhan. Manusia tanpa kebenaran akan hidup kacau. Manusia tanpa pikiran Tuhan akan menjadi sangat biadab. Di sini kita mengerti bahwa kita membutuhkan Firman Tuhan, bukan agama. Agama dibangun dari bawah ke atas, namun Firman Tuhan diberikan dari atas ke bawah. Kita butuh pencerahan dari Tuhan, yaitu dari atas ke bawah, bukan hanya rasio.

 

Maka dari itu peran imam sangat penting. Imam juga mengingatkan umat agar tidak hidup dalam dosa. Kita harus meninggalkan dosa-dosa kita dan menghidupi masa kini dan masa depan dengan iman. Kita harus mengingat Imam Besar kita yaitu Tuhan Yesus Kristus yang sudah menyelamatkan kita dan akan terus menyertai kita.

 

 

3) Mengapa Yesus disebut sebagai Imam Besar?

 

            Mengapa Ia berdoa kepada Allah Bapa? Jikalau Yesus adalah Allah, mengapa Ia berdoa kepada Allah Bapa? Dalam 1 Timotius 2:5 dikatakan bahwa Yesus adalah Pengantara kita. Dari kekekalan, Yesus sudah memiliki relasi dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Sebagai manusia, Yesus berdoa dan menunjukkan diri-Nya bergantung pada Allah Bapa. Ia taat sepenuhnya kepada Allah juga dalam doa. Ia hidup sinkron dengan visi dan misi Tuhan. Doa-Nya menunjukkan bahwa Ia 100% manusia sejati. Mengapa Yesus disebut sebagai Imam Besar? Ia mengorbankan diri-Nya sendiri/darah-Nya sendiri (Ibrani 7:26-27). Orang-orang Lewi mempersembahkan hewan dan darah hewan itu kepada Allah. Namun Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri. Perjamuan Kudus menyatakan bahwa Yesus mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita. Di sana ada kebenaran tentang Yesus sebagai Imam Besar. Roti itu pun tentang tubuh-Nya. Ketika Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri, kita mengetahui bahwa Ia adalah Imam yang aktif dan mengerti kesulitan kita. Tuhan Yesus memberikan damai sejahtera dengan membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Ketika kita mengalami kesulitan hidup, kita harus mengingat bahwa Tuhan bukan sedang jahat terhadap kita. Tuhan sudah mati untuk kita, dan kita diberikan ujian iman melalui kesulitan-kesulitan yang kita alami. Persembahan hewan tidak membuat perubahan apa-apa. Hanya darah Yesus yang dapat memberikan keselamatan. Yesus menjadi Imam Besar yang sempurna karena pengorbanan-Nya sempurna. Seorang pemimpin juga dinilai dari pengorbanannya. Ketika Tuhan sudah mengorbankan diri-Nya, Ia tidak hitung-hitungan dengan kita. Sebagai umat-Nya, kita juga seharusnya juga tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Kita mengerti bahwa masalah manusia yaitu dosa hanya bisa diselesaikan dengan kedatangan Yesus ke dunia. Ia menjadi Imam Besar bagi kita.

 

Ia mengorbankan diri-Nya sendiri sekali untuk selama-lamanya (Ibrani 9-12, 1 Timotius 2:5). Imam besar dipilih atas perintah Tuhan. Pertama-tama Alkitab menyebutkan Melkisedek lalu kemudian suku Lewi. Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia. Ia menjadi Imam Besar dan mengorbankan diri-Nya sekali untuk selamanya. Kuasa penebusan-Nya adalah untuk selama-lamanya. Ia adalah Imam Besar yang kekal. Ia datang dalam kesementaraan waktu namun kuasa-Nya kekal dan Ia adalah Allah yang kekal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia memberikan kita hidup kekal. Penebusan-Nya begitu efektif dan tidak perlu dilakukan berkali-kali. Di sini kita belajar untuk berkorban karena Tuhan sudah memberikan korban yang sempurna bagi kita. Kita harus berani mengorbankan diri sendiri dan bukan mengorbankan orang lain. Pengorbanan Yesus adalah untuk menyempurnakan kita. Ia sudah mati untuk dosa-dosa kita, maka hidup kita adalah hidup yang meninggalkan dosa.

 

Ia menjadi Imam Besar dari kekekalan untuk menderita dan mati bagi umat-Nya (Ibrani 2:9). Ketika kita membaca pasal-pasal kitab Ibrani, kita akan lebih mengerti bagian ini. Misi Yesus adalah dari sejak kekekalan. Misi itu tidak perlu dukungan pemerintah, pemimpin agama, dan politik. Seluruh misi itu dijalani Yesus dari nol sampai semuanya terjadi. Tidak ada kuasa manusia yang diandalkan dalam misi itu. kita harus memiliki semangat ini dalam menjalankan misi hidup kita. Kita bergantung pada Tuhan dalam melaksanakan panggilan-Nya bagi kita. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! (Yeremia 17:7). Misi penyelamatan adalah sepenuhnya dari kuasa Tuhan. Sudahkah kita mengerti misi yang Tuhan berikan kepada setiap kita? Misi itu harus menjadi tujuan dan penggerak kita. Ia mengerti pergumulan umat manusia dan peduli dengan umat-Nya (Ibrani 4:15). Yesus adalah Imam Besar yang maha hadir, maha tahu, dan maha kuasa. Ia adalah manusia 100% namun tidak pernah berbuat dosa. Ia pernah mengalami penderitaan yang hebat namun itu tidak membuat-Nya berdosa. Ia adalah Penebus yang suci. Ia pernah merasakan lapar, haus, dan lelah. Ia juga pernah dipukul dan disakiti namun di dalam semua itu Ia tidak berdosa. Semua itu Ia lalui dan Ia mengerti apa yang kita lalui. Jadi kita tidak bisa bertanya “mengapa Engkau tidak mengerti?” Ia sangat mengerti kita, maka kita tidak perlu meragukan-Nya.

 

Ia selalu siap setiap saat untuk melayani manusia beribadah kepada Bapa di surga (Ibrani 4:16). Maka dari itu kita memiliki keberanian untuk menghampiri takhta Allah. kita pasti akan mendapatkan rahmat, kasih karunia, dan penyertaan-Nya. Kita membaca Alkitab setiap pagi untuk mendapatkan ini semua. Kita senantiasa berdoa untuk memohonkan semua hal ini. Dalam situasi apapun, senang maupun susah, kita harus senantiasa mendekat kepada Tuhan dalam membaca Alkitab, berdoa, dan menjalankan kehendak Tuhan. Hikmat dalam Firman Tuhan membuat kita menjadi orang-orang yang berhikmat dalam menggenapkan kehendak-Nya. Kita harus meminta kekuatan dari-Nya karena kita adalah manusia-manusia yang terbatas. Kita bukanlah sumber apapun. Sumber dari segala yang baik adalah Tuhan. Segala hal yang kita bisa capai adalah anugerah Tuhan dan itu semua ada dalam kedaulatan Tuhan. Kita harus menjalani hidup kita hari demi hari dengan terus mengingat Imam Besar kita yang sempurna dan terus menyertai kita. Yesus terus bersyafaat bagi kita agar iman kita terpelihara.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami