Visi yang Mulia

Visi yang Mulia

Categories:

Khotbah Minggu 22 Desember 2019

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan merenungkan tentang visi yang mulia yang berkaitan dengan Natal dan hidup kita. Terkadang ada kesenjangan di antara pengetahuan kita dan apa yang kita mengerti dari visi Tuhan. Apa yang kita mengerti dari visi Tuhan terkadang tidak kita utamakan. Kita akan merenungkan dari ayat Kejadian 3:15, Yeremia 29:11, dan Galatia 4:4-5. Visi penciptaan Tuhan bagi manusia digagalkan karena Adam dan Hawa tidak memiliki suatu nilai peperangan iman ketika mereka berdialog dengan Setan. Mereka jatuh ke dalam dosa dan akhirnya Tuhan menetapkan adanya permusuhan di antara mereka dan ular. Ketika Yesus akan menggenapkan misi-Nya, Setan mencoba untuk mengagalkan namun tidak dapat menghancurkan-Nya. Jadi ular itu seperti meremukkan tumit-Nya. Namun kemudian Setan dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Jadi kelahiran Kristus sudah ada dalam rancangan mula-mula Allah Tritunggal bagi manusia yang jatuh ke dalam dosa. Rancangan Tuhan adalah damai sejahtera namun rancangan Setan adalah kecelakaan. Rancangan Setan bisa kelihatan baik, menyenangkan, dan menyukakan pada awalnya, namun pada ujungnya ada dukacita. Yeremia mengingatkan akan rancangan Tuhan yang indah dalam ketetapan-Nya. Kristus lahir tepat pada waktu-Nya setelah zaman intertestamental. Selama kira-kira 400 tahun tidak ada nabi, raja, maupun imam, setelah itu Kristus lahir. Waktu Tuhan telah genap ketika Kristus hadir. Ini seperti kata Yesus di kayu salib ‘tetelestai’. Baik kelahiran maupun kematian Kristus, semuanya tepat pada waktu Tuhan.

 

 

1) Mengerti Rancangan Tuhan

 

            Apa yang membuat kita sulit dalam memahami suatu hal, misalnya pelajaran sekolah? Setiap dari kita pasti memiliki kesulitan masing-masing, namun setiap dari kita pasti juga memiliki kemudahan-kemudahan kita tersendiri untuk bidang-bidang tertentu. Hal apa yang paling mudah untuk kita mengerti? Itu adalah kebutuhan kita. Terkadang kita mengerti apa yang kita mau dan apa yang terbaik bagi diri kita. Terkadang orang lain tidak mengerti apa mau kita, namun kita tahu apa yang kita mau. Di dunia ini, ilmu pengetahuan bisa dipelajari, dikaji, dan diuji. Namun untuk mengerti kehendak Tuhan, terkadang kita mengalami kesulitan dalam bagian itu. Maka dari itu di dalam mengambil keputusan-keputusan tertentu kita perlu berdoa dan bergumul. Mengapa Allah memberikan kita Alkitab yang tertulis? Bukankah Alkitab adalah pedoman bagi kita sehingga kita mengerti the principle of conduct? John Murray menulis buku Principles of Conduct dimana ia menjelaskan tentang prinsip-prinsip Alkitab dalam hal etika. Kehendak Tuhan yang tertulis dalam Alkitab itu jelas dalam membimbing kita untuk mengerti kehendak Tuhan. Namun pertanyaannya, mengapa hal ini pun terkadang sulit bagi kita? Pertama adalah karena kita mau otoritas kita berada di atas otoritas Tuhan. Terkadang kita ingin Tuhan mengikuti kemauan kita dan kita tidak rela untuk tunduk pada kehendak Tuhan. Ini karena kita orang berdosa, egois, dan hidup dalam kedagingan. Kedua adalah karena kita mau Alkitab mengikuti kehendak kita. Kita terkadang menuhankan diri kita di atas prinsip Firman Tuhan. Akhirnya kita memberontak dan sulit mengerti Firman Tuhan. Mazmur 119:105 dengan jelas menyatakan bahwa Firman Tuhan itu pelita bagi hidup kita dan terang bagi setiap langkah kita. Yesus menyatakan bahwa jika mata kita baik maka seluruh tubuh kita akan terang (Matius 6:22). Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia (Yohanes 8:12). Di sini kita mengerti bahwa kita sulit mengerti kehendak Tuhan karena kita tidak mau tunduk kepada-Nya sebagai murid-Nya.

 

Kita bisa melewati momen Natal selama bertahun-tahun namun tidak mengalami perubahan hidup. Di dalam hal itu kita berlalu ketika waktu berlalu dan kita dibuang oleh waktu. Mungkin di saat itu kita mengalami siksaan waktu. Apakah waktu itu begitu kejam sehingga kita menjadi statis atau malah menjadi negatif dan mengalami penderitaan? Waktu dan ruang yang Tuhan berikan itu tidak kejam. Terkadang kita masih menyimpan dosa kita sehingga kita tidak tahu bahwa kita sedang dididik oleh Tuhan sampai kita bisa mengerti rancangan Tuhan yang memberikan kita damai sejahtera dan bukan kegagalan. Untuk bisa mengerti visi Tuhan, kita harus mengerti apa rancangan Tuhan atas dunia, Gereja, dan diri kita. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1). Manusia diciptakan untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Manusia diciptakan untuk menikmati Tuhan di dalam waktu. Namun manusia memberontak dan tidak memuliakan Tuhan serta tidak menikmati Tuhan. Manusia melawan kehendak Tuhan setelah mendengarkan bujukan Setan. Alkitab menyatakan bahwa Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Mereka diusir dari taman Eden setelah memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Ini karena Setan menyatakan kebohongan. Kita harus berhati-hati dengan setiap ucapan kita. Kita bisa jatuh dan menjadi penipu. Tuhan menyatakan keadilan kepada Adam dan Hawa dan juga Setan. Allah menyatakan bahwa keturunan perempuan itu akan berseteru dengan keturunan ular. Ini berarti ada permusuhan di antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman. Bahkan ketika Maria sedang mengandung Yesus pun sudah ada rancangan Setan untuk menggagalkan misi-Nya. Setan terus menerus mencoba menggagalkan rancangan Tuhan. Kitab Wahyu juga menyatakan bagaimana Setan terus berjuang untuk menggagalkan rancangan keselamatan Tuhan. Namun Alkitab mencatat bahwa Kristus menang. Di dalam semua itu ada peperangan yang tersembunyi namun pada akhirnya Kristus menang dan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yang sejati. Setan bisa pandai menipu namun ia tidak bisa menggagalkan rencana Tuhan.

 

Di sini kita melihat ada rancangan peperangan rohani (Kejadian 3:15) dan rancangan penggenapan serta kemenangan iman (Galatia 4:4-5). Pada waktu Tuhan, Kristus lahir. Ia menebus kita dan menjadikan kita anak-anak Allah. Kita perlu ditebus karena kita orang berdosa. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan hanya Kristus yang dapat menebus kita. Pengetahuan, etika, agama, perbuatan baik, dan kesalehan kita tidak dapat menyelamatkan. Dosa kita mendatangkan maut. Allah mengirimkan Anak-Nya untuk menjadi manusia, mengalami penderitaan, mengalami kematian, dan mengalami kebangkitan. Ia menang atas kematian, menang atas kuasa manusia, dan menang atas kuasa Setan. Kristus adalah penguasa hidup. Maka dari itu Alkitab mengajarkan kita untuk tidak takut kepada kuasa manusia dan kuasa Setan. Semua itu bisa menyentuh fisik kita namun semua itu tidak berkuasa atas jiwa kita. Yesus berkata Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:26). Ketika Yesus dicobai di padang gurun, Setan menggoda Yesus dengan kekayaan dunia (Matius 4:9). Ini berarti Setan bisa memberikan kekayaan dan kesuksesan duniawi namun pada akhirnya itu semua membuat kita kehilangan nyawa kita.

 

Saat Yesus lahir, Allah tidak menggunakan Herodes atau orang-orang agama untuk memberitakan kelahiran Yesus. Malaikat datang dan menyatakan tentang kelahiran Yesus kepada orang-orang kecil misalnya para gembala. Tuhan tidak memakai orang-orang terkenal dan berjabatan untuk memperkenalkan Yesus. Jika presiden akan pergi ke suatu daerah, maka wajar saja jika pejabat di daerah itu mempersiapkan segala sesuatunya dan mengumumkan kedatangan presiden kepada penduduk daerah itu. Namun kedatangan Yesus yang adalah Raja di atas segala raja diumumkan kepada para gembala oleh para malaikat. Mengapa berita itu disampaikan kepada para gembala? Mengapa Allah tidak memberitakan itu kepada orang-orang penting di mahkamah agama? Mengapa berita itu tidak disampaikan kepada raja-raja? Pada saat itu mereka sudah tidak memiliki raja maupun nabi selama 400 tahun. Mereka sudah kehilangan pengharapan. Tidak ada penantian akan Imanuel pada saat itu. Para gembala adalah orang-orang yang sederhana namun mereka menantikan sang Mesias. Saat para gembala mendengar berita itu, tidak ada satupun yang ragu. Saat mereka sampai dan melihat bayi Yesus di palungan itu, mereka tidak ragu. Jika kita diberitahu bahwa cucu presiden telah lahir dan saat itu berada di sebuah palungan, maka kita pasti sulit untuk percaya. Di sini Tuhan mau mengubah konsep pandang dunia. Apa yang dipandang mulia dan penting oleh manusia bisa jadi tidak dipandang demikian oleh Allah. Kemewahan tempat kelahiran seseorang tidak menentukan orang itu seperti apa. Yesus adalah Raja di atas segala raja namun Ia berada di palungan. Di sana Allah sedang mengajarkan tentang visi yang mulia kepada semua raja, imam, dan nabi. Kita pasti ingin anak atau cucu kita lahir di tempat yang terbaik, namun yang terpenting adalah apakah kita menangkap visi mulia dari Tuhan atau tidak. Yesus lahir dan hidup dengan membawa visi Allah bagi dunia. Visi Allah mengubah manusia berdosa. Yesus lahir di tempat yang remeh namun Ia lahir pada waktu yang agung. Orang-orang majus mengunjungi Yesus dan memberikan persembahan yang terbaik kepada-Nya. Jadi Yesus lahir di dalam kesederhanaan namun dalam waktu yang agung. Kelahiran Yesus menentukan masa depan manusia.

 

Para malaikat bernyanyi Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14). Ini menyatakan kasih Allah. Nyanyian ini dan Yeremia 29:11 begitu sinkron. Rancangan ini bisa terjadi hanya melalui Kristus. Manusia bisa mendapatkan kedamaian dari kenikmatan atau apa yang dilakukannya, namun ini sifatnya dari luar ke dalam. Damai seperti itu bisa hilang tergantung pada situasinya. Damai yang sejati lahir dari dalam ke luar. Damai yang sejati itu tidak sementara. Ciri-ciri orang yang berdosa adalah kehilangan damai sejahtera. Orang berdosa tidak bisa hidup menikmati penyertaan Tuhan. Jadi orang berdosa selalu dibayang-bayangi ketakutan. Mereka takut akan hukuman Tuhan dan kematian. Ketika para malaikat bernyanyi, lagunya bersifat doksologi atau kemuliaan bagi Allah. Di dalam nyanyian itu ada kata damai bagi manusia di bumi. Saat Yesus lahir, yang paling bersukacita adalah malaikat di surga. Yang penuh dengan pengharapan adalah para gembala. Yang paling optimis dengan kelahiran Yesus adalah orang-orang majus. Dalam 3 kelompok ini, ada ibadah yang agung. Yesus menjadi pusat ibadah mereka. Para malaikat bernyanyi dan para gembala menikmati itu. Nyanyian mereka adalah nyanyian terbaik. Semua itu untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Mengapa kasih yang ajaib itu dinyatakan melalui bayi Yesus yang diletakkan di palungan? Kita bisa sulit mengerti rancangan dan visi Tuhan. Kasih Tuhan itu mengandung kesederhanaan dan bukan kemanjaan. Kasih Tuhan dinyatakan bukan dalam kemewahan tetapi dalam kairos Tuhan. Kasih Tuhan pasti membangun dan mengubah hidup. Kasih Tuhan memimpin kita untuk hidup lebih baik. Kasih Tuhan mendorong kita untuk berkorban dan bukan mengorbankan. Kasih yang mengorbankan bukanlah kasih yang sejati. Yesus lahir di tempat yang hina bagi manusia dan mati di salib yang hina di mata manusia. Namun di dalam semua itu Allah menyatakan kemuliaan-Nya.

 

Jika kasih kita memanjakan dan memberikan yang terbaik menurut kacamata dunia maka kasih kita bukanlah kasih yang sejati. Kasih yang sejati dan ajaib itu dinyatakan dalam Yesus yang berada di palungan. Kasih Tuhan memulihkan setiap relasi manusia. Tanpa kasih, hidup akan penuh dengan kebencian dan perseteruan. Ketika kasih itu memenuhi hati para malaikat, gembala, dan orang-orang majus, semuanya penuh dengan sukacita. Alkitab menyatakan bahwa semuanya akan berlalu namun kasih itu akan tinggal sampai selama-lamanya. Kasih itu mendorong kita untuk berjuang dan membuat kita tidak mencari kenyamanan serta kemanjaan. Kita menikmati kesederhanaan dan bukan kemewahan. Yesus lahir, hidup, dan mati bukan dalam kemewahaan tetapi dalam kesederhanaan dan penderitaan. Di dalam semua itu ada nilai misi untuk menebus manusia. Misi ini digenapkan pada waktu-Nya sesuai dengan Galatia 4:4-5. Kebenaran menyatakan kepada kita bahwa politik, agama, dan kuasa manapun tidak bisa menjamin keselamatan kita. Hanya Tuhan Yesus Kristus yang dapat menebus kita. Ibrani 7:25 dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan memberikan jaminan yang sempurna dan keselamatan yang sempurna. Ini karena Ia telah menjadi manusia secara sempurna dan telah menjadi pengantara yang sempurna. Kehadiran Kristus juga menyatakan kehadiran Gereja. Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, orang-orang menyanyikan pujian Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi! (Matius 21:9). Jadi Yesus lahir disambut dengan paduan suara para malaikat dan Yesus masuk ke Yerusalem dengan disambut oleh nyanyian orang banyak. Namun pada saat Yesus disalib, ia berkata kepada para wanita Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! (Lukas 23:28). Ini karena Yerusalem akan dihancurkan. Yerusalem yang sungguh indah kemudian berubah menjadi tempat yang sangat gersang. Ini karena para pemimpin agama tidak menyatakan kemuliaan Tuhan. Mereka tidak menangkap visi Tuhan. Mereka tidak mengerti akan kelahiran Yesus. Agama tidak melatih umat untuk peka dan menyambut kedatangan sang Mesias. Bait Allah yang mereka banggakan kemudian diruntuhkan. Mereka bisa terlihat beribadah namun mereka tidak memuliakan Tuhan. Banyak orang pada saat itu tidak mengerti misi Yesus. Mereka hanya memikirkan kemuliaan bangsa mereka sendiri.

 

Yesus datang untuk membangun Gereja. Jadi Gereja bukanlah tentang gedungnya tetapi tentang iman. Jadi Gereja tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Visi Tuhan hanya bisa ditangkap dengan iman. Identitas dan karakter Gereja juga dibangun di atas dasar iman. Namun saat itu para pemimpin agama justru menangkap dan menyiksa Yesus. Ketika Gereja kehilangan iman dan identitas, generasi masa depan pun juga akan kehilangan identitas. Maka dari itu Gereja harus kembali kepada kebenaran Kristus. Gereja yang tidak mementingkan kebenaran tidak bisa menjadi Gereja yang sehat. Gereja dibangun di atas batu karang yang teguh yaitu Logos.  Maka dari itu Firman Tuhan harus menjadi dasar. Kemuliaan Tuhan harus menjadi tujuan. Di sana Injil harus diberitakan. Gereja yang tidak lagi memberitakan Injil adalah Gereja yang tidak sehat. Kesulitan pasti ada namun kita harus terus bergantung pada Tuhan. Kita memberitakan Injil yang sejati dan bukan Social Gospel. Gereja tanpa nilai kemuliaan Tuhan bukanlah Gereja yang sehat. Kita harus berani berkorban untuk menjalankan semua misi dari Tuhan. Kita berani membayar harga untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Ketika ada jiwa yang bertobat, malaikat di surga bersorak-sorai (Lukas 15:7). Gereja harus menyatakan visi dan misi Tuhan. Kita harus mengerti rancangan Tuhan bagi anak-anak-Nya (Yeremia 29:11). Kita ini penting dan berharga di mata Tuhan. Kita diberikan kuasa sebagai anak-anak Allah untuk menikmati damai sejahtera dari-Nya. Ini adalah damai dari dalam ke luar. Tuhan Yesus Kristus harus lahir dalam hati kita dan Ia pasti memberikan kita rancangan masa depan yang memuliakan Tuhan. Tuhan merancang damai sejahtera namun Iblis merancang kecelakaan. Tuhan memberikan kita pengharapan namun Setan memberikan kita kegagalan. Tuhan menggagalkan rencana Setan melalui kelahiran Yesus. Tuhan menjanjikan kemenangan iman dengan kebangkitan Yesus. Inilah mengapa Ia disebut sebagai terang dunia. Ia menerangi hati, pikiran, dan perasan kita. Jadi untuk mengerti rencana Tuhan bagi hidup kita, kita harus kembali kepada Tuhan. Kita akan sulit mengerti rencana Tuhan ketika kita masih menyimpan dosa-dosa kita. Maka dari itu kita harus menyerahkan hidup kita kepada Tuhan.

 

Kita juga harus mengerti penggenapan rancangan hidup sebagai anak-anak-Nya (Efesus 2:10). Dalam hidup kita yang lama, kita adalah penikmat dosa yang hidup dalam kedagingan. Namun kita kemudian diselamatkan oleh Tuhan dan hidup kita diubahkan. Kita diberikan anugerah dan Tuhan mempersipakan pekerjaan yang baik untuk kita lakukan. Apakah pekerjaan yang baik itu? Melayani Tuhan. Jadi seluruh hal yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Tuhan. Itulah visi yang mulia. Kita dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia. Dunia ini sudah gelap karena dikuasai dosa. Kita hidup di dunia sebagai agen perubahan. Kita mengubah hidup orang lain agar visi mereka dikaitkan dengan visi Tuhan. Jadi kita harus terus mengingat bahwa kita adalah pembawa pesan Tuhan.

 

 

2) Dari Misi ke Visi dan dari Visi ke Misi

 

            Setelah kita mengerti semua hal itu, kita harus mengerti konsep ‘dari misi ke visi’. Tuhan itu maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa. Jadi Tuhan tidak membutuhkan visi. Ia tahu apa yang terbaik dan Ia menyatakan misi; misi penciptaan, misi penebusan, dan misi kemuliaan. Kita harus mendapatkan visi dari Tuhan. Nehemia mendapatkan visi dari Tuhan sehingga ia pergi untuk membangun tembok Yerusalem. Jadi manusia hidup berdasarkan konsep ‘dari visi ke misi’. Kita harus menangkap visi dan membuat misi. Di dalam organisasi, kita membuat aksi. Ketika Tuhan menciptakan dunia, pusatnya adalah manusia. Pusat dari komunitas manusia adalah Gereja. Pusat dari Gereja adalah Kristus. Jadi kita harus beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman kita harus berisi teologi yang benar yaitu teologi Reformed yang sudah diuji dalam ruang dan waktu. Sejarah Tuhan menyatakan kebenaran yang harus kita pegang. Di Efesus ada sekolah Tiranus. Pada masa lalu di sana orang-orang percaya membicarakan Kristologi. Di sana para bapa Gereja memformulasikan tentang keilahian dan kemanusiaan Yesus. Di sana kita melihat bahwa sejarah Tuhan selalu mewariskan kebenaran Tuhan. Reformed sangat menghargai sejarah Tuhan dan kebenaran di dalamnya. Apa tugas Gereja? Gereja harus menangkap sharing dari Tuhan yaitu visi dan misi Tuhan. Gereja harus mengembalikan arus teologi kepada teologi yang benar. Teologi yang salah sudah berkuasa di banyak Gereja, maka dari itu kita harus mengembalikan arus yang benar. Gereja juga harus mengobarkan semangat penginjilan dan semangat mandat budaya misalnya dalam hal pendidikan, musik, kemasyarakatan, dan lainnya. Jadi ketiga hal ini harus diperhatikan: teologi, penginjilan, dan mandat budaya. Inilah visi yang harus kita kerjakan. Kita tidak boleh takut untuk memperjuangkan hal ini.

 

Gereja yang berdasar pada Firman Tuhan dan berfokus pada Tuhan Yesus Kristus harus memengaruhi pribadi lepas pribadi untuk menangkap visi Tuhan. Di sini kita harus menjadi agen perubahan. Kita harus menjadi orang yang bisa dipercaya, diandalkan, dan tekun mengerjakan visi Tuhan. Keluarga kita harus kita bawa untuk mengerti visi Tuhan. Keluarga kita harus mengerti bahwa kedamaian itu bukan dibeli dengan uang atau materi. Barang-barang bisa dibeli namun damai sejahtera tidak bisa dibeli. Orang kaya bisa membeli ranjang yang mahal namun ia tidak bisa membeli tidur nyenyak. Keluarga harus memiliki iman untuk bisa meraih damai yang sejati. Dalam nilai pekerjaan, kita harus menangkap visi Tuhan dan mengaitkan pekerjaan kita dengan kemuliaan Tuhan. Ketika kita melayani dan bekerja, kita harus memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Orang-orang majus datang dari jauh untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mereka tidak hitung-hitungan karena mereka sungguh bersyukur kepada Tuhan. Kalau kita bisa berpikir untuk memberikan yang terbaik bagi rumah kita maka kita harus lebih memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Segala hal yang kita persembahkan untuk kemuliaan Tuhan pasti diberkati. Jadi semuanya harus dikembalikan untuk visi dan misi Tuhan. Kita juga harus memperjuangkan nilai-nilai kemuliaan Tuhan dalam masyarakat. Kita diutus ke dalam masyarakat untuk menjadi garam dan terang. Jadi kita harus membawa nilai misi dalam relasi kita.

 

 

3) Visi, Misi, dan Aksi GRII

 

            Gerakan Reformed dibangun berdasarkan visi. Dari sana misi diciptakan dan aksi dijalankan. Jadi ada pengarah dan pendukung. Misi adalah penunjang dan aksi adalah perealisasi. Jadi Reformed disebut sebagai gerakan. Kita tidak statis. Kita sudah memiliki visi, misi, dan aksi yang mulia. Semua yang melayani harus bergerak berdasarkan ini. Peperangan rohani harus kita lakukan untuk melawan musuh-musuh yang tidak terlihat. Di dalam semua itu kita bergantung pada Tuhan yang terus menyertai kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami