Tujuh Langkah Hidup Saleh (3)

Tujuh Langkah Hidup Saleh (3)

Categories:

Bacaan alkitab: 2 Petrus 1: 5 – 7; Ibrani 5: 7.

 

Kita hari ini akan membahas bagian yang kelima dari  tujuh langkah hidup saleh yaitu kesalehan.

 

Pendahuluan

Apakah keagamaan bisa menghasilkan hidup saleh secara konsep? Bisa. Apakah keagamaan bisa menghasilkan orang-orang saleh secara lahiriah? Bisa. Dan disini kita belajar bahwa agama adalah sesuatu yang dihasilkan dari manusia kepada sesuatu yang sifatnya di atas yaitu Tuhan. jadi kekristenan adalah bukan agama, karena bukan dibuat atau dilahirkan oleh manusia, kekristenan adalah berbicara tentang kita yang menjadi milik Kristus, karena melalui kelahiran baru. Kita memilih Kristus karena Tuhan memilih kita dari atas ke bawah dalam anugerah-Nya supaya kita diselamatkan.

Disini apa bedanya? Bedanya adalah dalam Pengkotbah 7: 15 dikatakan bahwa Salomo sudah melihat ada orang mati dalam kesalehan, ada orang saleh mati dalam tingkah laku keagamaannya. Di dalam bagian ini kita percaya sekali kesalehan secara nilai imani, kesalehan secara nilai hati pasti berbeda kualitas dengan kesalehan secara agama. Hari ini kita akan belajar itu, karena ini yang ditekankan oleh rasul Petrus supaya jemaat di Asia Kecil dan sekitarnya memahami perbedaan mutual atau kesalehan, dari kesalehan dari guru-guru palsu dan para pengikutnya dengan orang yang sungguh-sungguh dibangun karena pengenalan akan Kristus itu berbeda sekali. melalui inilah kita harus bisa tahu bagaimana kualitas kesalehan kita yang sesungguhnya, dan bagaimana seharusnya kita juga bisa tahu kesalehan seseorang yang mungkin ada disekitar kita. Kita sudah membahas betapa pentingnya iman harus dikerjakan, iman harus dipertumbuhkan, iman harus ditambah dengan kebajikan, iman harus ditambah dengan pengetahuan, iman harus ditambah dengan penguasaan diri, iman harus ditambah dengan ketekunan, atau iman harus ditambah dengan satu ketahanan diri kita, kesabaran diri kita untuk bagaimana bertahan dalam hal yang benar dihadapan Tuhan, dan hari kita akan belajar tentang iman harus ditambah dengan aspek kesalehan.

Kata kesalehan kata dasarnya adalah eusebeia. Menariknya disini Petrus menulis kata eusebeia – NAFS. Kenapa bukan plural, kenapa singular? Ini pasti punya satu rahasia yang mendalam, ini pasti punya arti yang sungguh-sungguh bahwa pribadi kita itu satu. Mungkinkah kita sebagai orang Kristen punya kepribadian ganda? Mungkin. Dikantor kita punya pribadi yang lain, diluar kantor kita punya pribadi yang lain. Tetapi orang Kristen yang sejati tidak mungkin kepribadian ganda. Kenapa demikian? Karena pribadi kita sudah diubahkan oleh Yesus Kristus menjadi pribadi yang mengandung peta dan teladan Tuhan. Ini berarti menunjukan orang Kristen tidak mungkin double standar dalam hidupnya. Di Gereja suci, tetapi di luar tidak suci, di Gereja dia menganggap itu hubungan vertical dengan Tuhan, maka hari Senin sampai hari Sabtu itu adalah hukumnya kebebasan, hukumnya aku menikmati dunia ini dengan segala tawarannya, berarti itu double standart.

Menjadi pertanyaan lagi lebih jauh, mungkinkah orang Kristen nilai hidupnya ganda? Standarnya tidak mutlak berdasarkan firman Tuhan, jadi double dalam konsep nilai hidupnya? Kalau orang Kristen yang sejati itu tidak mungkin. Di dalam bagian ini saya bertanya, hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Jawabannya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Kalau hidup untuk makan jadi tema kita kuliner terus. Tetapi kalau kita mengerti hidup kita untuk Tuhan, waktu kita hidup kita menyenangkan Tuhan, ini menunjukan hidup satu konsep nilai hidup dalam memuliakan Tuhan, bukan hidup memuliakan diri, bukan hidup memuliakan dunia, kalau itu dua-duanya dijalankan itu namanya double standart, double nilai.

Di dalam bagian ini mungkinkah orang Kristen harus mengalami satu proses supaya melalui kebenaran firman yang dia baca akhirnya benar-benar membuat dia menjadi pribadi yang saleh. Maka orang Kristen semuanya harus melalui proses untuk kita menjadi pribadi yang indah, sehingga standar nilai kita adalah standar Alkitab, dan standar dalam kita mengerti appaun berdasarkan prinsip daripada Alkitab itu sendiri. di dalam bagian ini rasul Petrus ingin mengajarkan jemaat di Asia Kecil pribadimu itu utuh, utuh karena diselamatkan oleh Tuhan, maka menjadi orang Kristen tidak mungkin mengalami personalitas ganda dan spiritualitas ganda, karena kita tahu Tuhan kita itu Mahakuasa, maka ketika Dia mengubah kita, Dia ingin mengubah kita menjadi orang yang bisa beribadah kepada Tuhan dengan jujur, transparan dan terbuka. 

 

Sekarang kita akan melihat 3 tanda orang saleh, kalua 3 hal ini ada dalam hidup kita maka kita adalah orang Kristen sejati:

 

  1. Setia dalam saat sulit

Di dalam bagian ini bagaimana kita tahu orang itu hidupnya benar-benar saleh, bagaimana kita tahu orang itu punya buah hidup dalam kesalehannya? Lihat dari hal hidupnya bersikap dalam situasi-situasi yang sulit. Di dalam bagian inilah kita bisa mencontoh dan Tuhan sendiri yang mengatakan hamba-Ku Ayub orangnya sangat saleh. Ternyata bukan hanya Tuhan yang memuji kesalehan daripada Ayub, ternyata dalam kesulitan, dalam kesedihan, dalam penderitaan, dalam kepedihan hati karena Ayub harus kehilangan anaknya, harus kehilangan daripada kekayaannya, harus kehilangan daripada kenyamanannya karena rumahnya hancur, harus kehilangan daripada hartanya karena dirampok dan harus kehilangan hartanya, maka pada saat itu Ayub tetap dipuji oleh istrinya, tetapi dibalik itu justru istrinya ketahuan dia tidak saleh dan tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Di dalam bagian itu istrinya berkata kepada Ayub meminta Ayub untuk menghujat Tuhan. Istrinya Ayub tidak baik. kenapa tidak baik? karena istrinya ternyata ikut Tuhan sifatnya minta take and give, kalau aku menyembah Tuhan berarti Tuhan harus kasih sesuatu kepada aku, aku berkorban untuk Tuhan, Tuhan harus bisa memberikan aku yang lebih. Jadi hukum rohani bagi istri Ayub adalah dia beribadah kepada Tuhan, Tuhan kasih kekayaan kepada dia, Tuhan kasih kesuksesan kepada dia, Tuhan kasih kenyamanan kepada dia, maka ketika dia harus bersedih karena anaknya mati, hartanya dirampok, suaminya jatuh miskin dan sakit, disitulah kita tahu istri Ayub tidak rohani, tidak saleh.

Pertanyaan saya kenapa istri Ayub tidak saleh dan kenapa Ayub saleh? Karena kesalehan istri Ayub tergantung situasi daripada harta benda yang bisa memberikan dia kesenangan dan kenikmatan, kedua kesalehan istri Ayub tergantung daripada Ayub itu sendiri. ini berarti menunjukan satu kerohanian yang bersifat situasional, ini tidak sejati. sedangkan Ayub memulai usahanya dari nol, dan dia mengerti bagaimana Tuhan memimpin dia. Jadi di dalam bagian itulah ketangguhan mental rohani yang paling kuat itu justru kelihatan mutiara imannya daripada pribadi Ayub. Dalam bagian inilah kita mengerti bersikap secara rohani itulah kunci untuk kita tahu orang itu punya kesalehan. Ketika Ayub bersedih, ketika Ayub harus mengalami kesulitan, terkena penyakit seperti bisul dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia tetap disebut orang yang menjalankan kesalehan. Di dalam bagian ini buah kesalehan kita itu bagian yang pertama bisa diketahui ketika kita bersikap dengan benar dalam situasi yang sulit, kita bersikap benar dalam situasi yang mungkin menyenangkan. Disini kita belajar, orang yang punya buah kesalehan dilihat dari waktu dia bersikap dalam situasi yang sulit, dalam situasi yang senang, dalam situasi menghadapi pergumulan, semua diuji seluruh sikapnya masihkah berkaitan dengan kedaulatan Tuhan, masihkah berkaitan dengan kekuatan Tuhan, masihkah berkaitan dengan pemeliharaan Tuhan.

 

  1. Suci dalam berpikir

Yang kedua ketika buah kesalehan itu bisa dilihat dari aspek kesucian. Mengejar kesucian, suci dalam berpikir. Kita disebut mahluk berpikir, kenapa? karena kita memang dicipta sebagai peta dan teladan Allah yang mengandung kebenaran dan kekudusan. Maka ketika kita menjadi orang yang harus punya aspek suci, kita mahluk berpikir, maka apapun bisa kita pikirkan, tetapi ketika kita bisa berpikir suci itulah kita orang saleh, ketika kita punya afeksi bisa suci respon emosi kita, kita orang saleh, ketika kita bisa berkata-kata dalam situasi apapun juga, kita orang saleh. Di dalam bagian ini lihatlah ketika Tuhan Yesus hidup sama dengan kita, di dalam surat Filipi dikatakan Kristus mengosongkan diri, Kristus dalam hidup-Nya seperti punya satu nilai pembatasan, padahal Dia adalah Allah yang Mahakuasa, tetapi Dia tidak boleh langsung mengambil atribut itu dalam seluruh hidup-Nya. Dia dihina, Dia dibatasi, Dia disiksa, Dia tetap suci dalam seluruh total hidup-Nya sebagai manusia. Maka Ibrani 5: 7 dikatakan ketika Dia dalam keadaan manusia, Dia berdoa kepada Tuhan, berdoa mengeluarkan permohonan, dan dikatakan dengan ratap dan tangis. Di dalam bagian ini tangisan yang paling suci ketika tangisanmu mengandung kesalehan karena merindukan orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Jadi orang saleh akan sinkron dia punya nilai daripada emosinya berkaitan dengan emosi Tuhan, berpikirnya berkaitan dengan berpikir Tuhan, kata-katanya berkaitan dengan kata-kata Tuhan. Di dalam bagian mari kita belajar, orang saleh buah kesalehannya dilihat daripada kesuciannya dalam berpikir, emosi dan berkata-kata dalam situasi apapun juga.

 

  1. Takut akan Tuhan

Yang ketiga menyangkut masalah takut akan Allah, maka buah kesucian itu sudah lewat, masuk kedalam buah takut akan Allah, dan hasilnya adalah orang itu saleh di dalam berbuat dan bertindak. Ada kesempatan dia bisa menyombongkan diri, tetapi dia tidak lakukan, ada kesempatan dia mempopulerkan diri, dia tidak mau, ada kesempatan dia untuk menunjukan dirinya hebat, dia tidak mau, kenapa? karena dia tahu seluruh kekuasaan, kekayaan, kepopuleran, keberhasilan dia semua datangnya daripada Tuhan.

 

Jadi orang saleh bisa kita lihat dari cara dia bersikap, orang saleh bisa dilihat dari buah dia berpikir, emosi dan buah berkata-kata, dan yang terakhir buah kesalehan dilihat dari rasa takutnya akan Tuhan. Lihatlah ketika Yohanes dan Petrus akan sembahyang di bait Allah di Yerusalem, orang Yahudi sembahyang 5 kali. Jam 3 Petrus dan Yohanes berjalan menuju gerbang indah bait suci. Pada saat itu sudah terbiasa ada orang lumpuh berdiri sebelum masuk gerbang indah, dan dia sudah terbiasa mengemis, dan sudah terbiasa memperoleh bantuan uang dari orang lain yang ingin berdoa, maka ketika dia berkata-kata memohon kepada Petrus dan Yohanes supaya mendapatkan sesuatu dari mereka, tetapi yang dikatakan Petrus dan Yohanes tataplah kami, mata dengan mata bertemu. Saat itulah Petrus berkata uang dan perak aku tidak punya, tetapi yang kupunya akan kuberikan kepadamu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus berdirilah. Disini yang dipunyai oleh Petrus dan Yohanes adalah nama Tuhan Yesus berkuasa. Saat itu langsung berdiri dan tidak mau lagi duduk, bahkan lompat-lompat kegirangan sambil memuji Allah, dan mengikuti Petrus dan Yohanes. Di dalam bagian ini orang itu tahu kesembuhannya dari Allah, bukan dari Petrus atau dari Yohanes. Dan orang-orang pada saat itu heboh, semua kaget, semua mempertanyakan, ini orang-orang saleh, ini orang-orang hebat, punya kuasa yang begitu luar biasa. maka Petrus berkata hai engkau orang-orang, kenapa engkau heran? Engkau pikir aku menyembuhkan orang ini karena kuasa dan kesalehanku? Bukan. Tetapi karena nama Yesus pribadi yang pernah engkau tolak dan engkau bunuh, itulah nama yang menyembuhkan orang ini. disinilah kita belajar, orang saleh tidak memanfaatkan situasi untuk menonjolkan diri, dan saat itu kita baru mengerti Petrus dan Yohanes disebut orang saleh. Jadi orang saleh tidak pernah menjual kesalehannya. Di dalam bagian ini kita bisa melihat perbuatan-perbuatan kita yang dimana kita ada potensi untuk menyombongkan diri, kita ada potensi menunjukan kehebatan kita, kita ada potensi untuk menunjukan kita ini orang yang cerdas, orang yang sukses, justru kita keluarnya melalui perbuatan kita menyatakan semuanya hanya karena anugerah Tuhan, semuanya hanya karena pertolongan Tuhan.

Jadi apa yang bisa kita simpulkan? Jadi arti “Kesalehan” berkaitan dengan perilaku seseorang yang taat dalam menjalani imannya. Apakah kita orang beriman? Ya. Sekarang kita buktikan keimanan kita bisa terpancar kepada orang-orang disekitar kita dalam situasi apapun juga. Jadi disitu kita bisa melihat bagaimana Petrus dan Yohanes akhirnya memunculkan iman yang baru, yaitu orang yang lumpuh disembuhkan dan percaya kepada Tuhan. contoh yang lain adalah Simeon dan Hana, dalam Lukas 2 : 25 – 39, tercatat pada saat itu ada orang yang tidak mati-mati, ada orang yang terus menantikan datangnya Mesias. Siapakah dia? Simeon. Maka setelah Simeon melihat wajah bayi Yesus, dan menggendong, dikatakan: Tuhan, sekarang aku mati dalam damai sejahtera, maka panggilah aku. Jadi luar biasa, Simeon tidak mau mati sebelum melihat

pengharapan ada keselamatan datang untuk umat Tuhan. maka ketika dia tahu bayi dibawa oleh Maria dan Yusuf itu adalah Mesias, dia langsung tahu ini adalah Mesias, langsung dia minta mati. Simeon tercatat disebut orang saleh, kenapa? karena hari demi harinya dipakai untuk melayani Tuhan di bait Allah, dan dia tidak mau mati sebelum dia melihat keselamatan akan tiba untuk dunia. Simeon tidak minta mati sebelum dia melihat suatu pengharapan terjadi untuk dunia, yaitu melihat Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Dan tercatat ada juga Hana, yang juga ketika dia baru menikah kurang lebih delapan tahun sudah menjadi janda, ada potensi untuk dia bisa menikah lagi, tetapi ternyata dia tidak menikah, dan dia terus masuk dalam status dia sebagai janda, tetapi hidup bagi Tuhan, sampai dia menantikan Mesias itu datang. Disinilah kita bisa melihat ketika orang-orang saleh bisa kita lihat dari prilakunya yang taat dalam menjalani keimanannya, dan keimanannya berkaitan dengan kehendak Tuhan, keimanannya berkaitan dengan nilai waktu dan pekerjaan Tuhan yang besar itu sendiri. Demikian pun hidup kita tidak boleh lagi kalau kita disebut orang punya kesalehan double standart, double nilai, double personalitas. Kalau engkau mencintai Tuhan dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Itulah jati dirimu. Jadi dimanapun engkau berada dalam situasi apapun, ingat hidupmu sudah ditebus oleh Yesus Kristus, ingat darah Yesus sudah dicurahkan untuk mati karena engkau berharga dimata Tuhan. Saat itulah pribadimu adalah pribadi yang utuh, karena engkau punya tekad, engkau punya komitmen mengasihi Tuhan, berarti engkau membenci seluruh tawaran dunia. Mengasihi Tuhan tandanya engkau tidak akan menyakiti Tuhan dengan engkau berbuat dosa lagi. itulah sisi pribadimu. Dan sisi pribadimu yang kedua adalah engkau akan mengasihi sesamamu manusia dengan belas kasihan Tuhan Yesus Kristus. jadi ketika kita melihat orang-orang berdosa, orang-orang jahat, orang-orang yang mungkin menyebalkan kita, kita tidak boleh membenci orang-orang itu, kita selamatkan orang itu. Jadi disini kita bisa melihat kesalehan orang dapat dilihat dari hubungannya dengan Tuhan Yesus setiap hari dengan utuh. Jadi setiap saat, setiap hari kita harus bergaul akrab dengan Tuhan.

Saya berharap setiap kita menjadi orang saleh. Saleh dari hal sikap kita, kedua saleh dalam hal berpikir, beremosi dan berkata-kata, ketiga takut akan Tuhan. Jadi kalau kita ada potensi untuk kita sombong, meninggikan diri, mencuri kemuliaan Tuhan, kita tidak lakukan itu, semua kita kembalikan untuk Tuhan, dari Dia oleh Dia dan dikembalikan kepada Dia. Jadi rasul Petrus mengingatkan kepada jemaat di Asia Kecil yang menghadapi guru-guru palsu, orang-orang Kristen palsu, tunjukan kualitas kesalehanmu yang sejati. Itu juga panggilan kita.

 

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami