Tujuh Langkah Hidup Saleh (2)

Tujuh Langkah Hidup Saleh (2)

Categories:

Bacaan alkitab: 2 Petrus 1: 5 – 7.

 

                  Manusia dalam kebebasannya bisa jatuh dalam nafsu yang liar dan menyesatkan. Apa yang membuat mereka menjadi liar dan menyesatkan? Karena tidak memiliki penguasaan diri, tidak ada aspek pengendalian diri, akhirnya terjadi sesuatu yang kebablasan, ada lost of control, sesuatu yang benar-benar bebas sebebas-bebasnya. Menjadi pertanyaan kita ketika manusia tidak punya aspek penguasaan diri, ketika manusia tidak punya aspek pengendalian diri maka  manusia itu akan menjadi manusia yang bermasalah, manusia akan terus menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan manusia yang terus bisa menyombongkan diri dengan apapun yang ada dan yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Apakah Tuhan yang memberikan kebebasan kepada manusia adalah Tuhan yang salah yang sudah menganugerahkan kepada kita potensi untuk berbuat dosa? Tidak. Allah tidak pernah salah pada waktu memberikan kebebasan kepada kita, tetapi kitalah yang salah bagaimana mengisi waktu, bagaimana kita menggunakan waktu, bagaimana kita harusnya mengendalikan waktu, bagaimana seharusnya kita menguasai seluruh waktu dikaitkan dengan nilai tanggung jawab dihadapan Tuhan.

Apa bedanya anak Tuhan di dalam waktu dan apa bedanya orang yang non anak Tuhan di dalam waktu? Orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam waktu dia akan berusaha bagaimana dia menggunakan waktu, mengendalikan waktu, mengontrol waktu dalam nilai tanggung jawab dihadapan Tuhan, maka hatinya akan takut akan Tuhan. Tetapi orang yang bukan sungguh-sungguh anak Tuhan di dalam waktu dia akan memanfaatkan semua waktu itu untuk kepuasan dirinya, untuk kenikmatan dirinya, untuk segala sesuatu yang membuat dia merasa untuk mendapatkan satu kenikmatan dia akan lakukan itu sebebas-bebasnya. Disini maka kita bisa simpulkan anak Tuhan berkaitan dengan waktu, dia akan menggunakan kebebasan yang terbatas dalam nilai tanggung jawab untuk memuliakan Tuhan, tetapi orang yang bukan anak Tuhan dia di dalam waktu, waktu dia pakai sebebas-bebasnya. disini maka kita melihat kebebasan itu adalah anugerah, tetapi kebebasan juga satu ujian yang bisa dipakai Tuhan untuk menunjukan apakah kita punya penguasaan diri atau tidak. jadi disini setiap kita harus belajar apakah kita sungguh-sungguh sudah menambah-nambahkan pertumbuhan iman kita dalam kebajikan, pengetahuan dan penguasaan diri itu sendiri.

Apakah karakter penguasaan diri itu mudah dibentuk? Jawabannya tidak mudah. Amsal mengatakan orang yang sabar, ditambah lagi orang yang punya penguasaan diri itu lebih daripada pemenang, berarti derajat kita adalah pemenang untuk diri, pemenang untuk situasi, pemenang untuk seluruh visi hidup kita didepan, kenapa? bayangkan kalau orang itu tidak punya penguasaan diri, dirinya akan kalah dengan emosinya, dirinya akan kalah dengan keinginannya, dirinya akan kalah dengan segala tawaran-tawaran dunia, dan akibatnya bisa hidup menjadi batu sandungan untuk orang disekitar, akhirnya hidupnya namanya jadi tercemar, dan akhirnya dia tidak mencapai apa yang terbaik untuk seluruh hidupnya. Di dalam bagian yang lain rasul Petrus mengingatkan dalam surat 1 Petrus yang sudah kita bahas pentingnya mengenai jaman akhir setiap kita juga punya aspek kuasailah diri kita untuk supaya kita bisa menenangkan diri berdoa untuk kita sunggu tahu apa yang penting, mana yang tidak penting, dan bagaimana seharusnya kita mengerjakan segala sesuatu dengan fokus dalam nilai tanggung jawab dihadapan Tuhan. Dan di dalam bagian yang lain nanti kita bisa melihat ternyata aspek penguasaan diri butuh dilatih, butuh ditekuni, butuh dirutinkan, dan butuh untuk bagaimana punya sungguh-sungguh komitmen dalam nilai tanggung jawab yang penuh, dan setiap kita jangan merasa sudah begitu yakin bahwa kita punya penguasaan diri dalam segala hal, belum tentu. Jadi penguasaan diri yang berkaitan dengan diri itu tidak mulia. Penguasaan diri, kembali kepada diri supaya dilihat cantik, supaya dilihat begitu menarik, semuanya kepada diri itu tidak punya satu nilai yang suci. Tetapi ketika engkau punya penguasaan diri dalam segala hal dikaitkan dengan janjimu untuk hidupmu menjadi milik Tuhan, dikaitkan penguasaan dirimu untuk memuliakan Tuhan itu adalah penguasaan diri yang suci, itu adalah penguasaan diri yang mulia.

Darimana sumber kekuatan untuk penguasaan diri? kita percaya sumber kekuatannya tetap dari iman, daripada firman yang kita dengar, dan dari teladan Kristus yang harus kita hidupi. Jadi jangan kekuatan penguasaan diri kita hanya untuk penampilan, hanya untuk sesuatu yang bersifat situasional, tapi karena memang penguasaan diri kita karena hidup kita sudah menjadi milik Tuhan, dan kita mau mempertanggungjawabkan setiap waktu, setiap kesempatan untuk bagaimana semua bagi kemuliaan Tuhan.

Mengapa penguasaan diri dalam segala hal itu penting? Karena melalui seseorang memiliki penguasaan diri, orang itu bisa diketahui dia memperoleh satu hidup yang kekal atau tidak, apakah dia sungguh-sungguh matang rohani atau tidak, apakah dia sudah disebut pelayan Tuhan yang sudah dewasa atau tidak, salah satunya bisa dilihat dari aspek penguasaan diri.

Yang ketiga hari ini yang kita lihat tentang penguasaan diri. menarik sekali kata penguasaan diri menggunakan kata egkrateia. Kata egkrateia adalah memiliki arti kemampuan mengendalikan diri, jadi penguasaan diri berkaitan dengan seseorang yang bisa mengendalikan diri. jadi diibaratkan seseorang itu seperti kapal ditengah laut. Dia bukan hanya dituntut untuk bisa menguasai kapal itu dengan satu nahkoda yang kecil, tetapi dia harus bisa mengendalikan kapal itu ketika kena benturan daripada badai, kena benturan daripada ombak, bagaimana dia harus menenangkan kapal, kapan dia mulai tancap gas ditengah-tengah gelombang itu. jadi di dalam bagian itu orang egkrateia itu adalah orang yang sungguh-sungguh dewasa dia mengelola dirinya, orang yang sungguh-sungguh punya satu nilai kedewasaan dalam mengelola kesulitan, dalam dia mengelola emosi, dalam mengelola masalah, jadi dia sungguh-sungguh punya penguasaan diri berkaitan dengan apa yang ada dalam dirinya. Disini kita bisa melihat kemampuannya bisa kita lihat dari hidupnya punya nilai pembatasan. Kenapa? karena kita tidak mau diperbudak oleh kesenangan kita yang akhirnya merugikan kita untuk besok tidak bisa efektif dalam bekerja. Jadi kita harus punya kekuatan untuk membatasi diri.

Orang yang dewasa adalah orang yang bisa membatasi diri, dan orang yang dewasa adalah orang yang bisa mengontrol segala keinginannya. Di dalam bagian ini ketika kita mengontrol dari bagian yang kecil dari mulut kita, pikiran kita, emosi kita, disitu kita baru tahu kita punya kekuatan memanage diri kita, akhirnya setiap nafsu itu tidak akan membuat kita menjadi liar, tidak akan membuat kita tersesat. Jadi di dalam bagian ini kita ketika punya penguasaan diri yang suci, yang mulia. Hidup kita sudah berjanji bahwa hidup kita tidak mau lagi segala tubuh kita dipakai lagi menjadi senjata kecemaran, tetapi kita mau dipakai menjadi senjata kebenaran bagi Tuhan. Jadi kita yang akan mengalahkan nafsu itu, kita akan mengalahkan keinginan-keinginan daging yang akan bisa membuat kita tidak memuliakan Tuhan.

Aspek yang lain egkrateia ini adalah bagaimana segala nafsu yang sifatnya adalah pemuasan, jadi harus dibatasi. Orang egkrateia tidak pernah memberhalakan keinginannya, jadi dia selalu punya nilai bagaimana semua itu harus dibatasi, dia tidak mau menjadi budak kepuasan-kepuasan yang akhirnya mendatangkan satu hal yang tidak efektif untuk hidupnya. Disini berarti kita bisa katakan sumber kekuatan untuk penguasaan diri adalah iman. Jadi hidup kita di dalam iman yang baik selalu punya konsep enough, cukup. Cukup yang kita tahu untuk hidup kita hari ini, cukup yang kita tahu untuk hidup kita dihari depan untuk memuliakan Tuhan. jadi disitu iman akan menolong kita dalam pengendalian daripada segala sesuatu, iman akan mengarahkan untuk bagaimana seluruh daripada diri kita boleh sungguh punya nilai tanggung jawab. Disini artinya sampai sejauh mana kita mau dipenuhi oleh firman dan mempercayai segala pikiran kita, perasaan kita, tindakan kita diarahkan dan disesuaikan dengan firman Tuhan saat itulah kita akan memiliki penguasaan diri.

Jadi penguasaan diri itu hanya bisa dikerjakan oleh sesuatu yang suci, yang mulia jikalau kita sudah sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan. Jadi dalam bagian ini ketika kita sungguh-sungguh anak Tuhan engkau punya potensi untuk memuaskan nafsumu, nafsu pikiranmu, nafsu matamu, nafsu emosimu semua bisa engkau penuhi tetapi engkau control karena engkau sudah tahu hidupmu sudah menjadi milik Tuhan, dan engkau teringat dengan kalimat “makanan yang secukupnya” dan apapun yang kau lakukan harus dengan iman untuk kemuliaan Tuhan, jadi pada waktu firman Tuhan memenuhi daripada seluruh pikiranmu dan engkau harus terus mau menjalankan itu, dan akhirnya engkau bisa menguasai diri, engkau bisa mengendalikan diri, engkau bisa mengarahkan dirimu keluar daripada zona penggodaan itu, engkau keluar daripada zona yang bisa membuat engkau terjebak dengan setiap lingkungan yang dimana nafsumu bisa liar, saat itulah iman berkemenangan hadir dalam dirimu.

Simson adalah contoh di dalam Alkitab yang diberikan satu karunia kekuatan yang lebih daripada manusia normal tetapi dia tidak punya penguasaan diri, dia tidak punya pengendalian diri, dia tidak bisa mengarahkan diri bagaimana kekuatan dia bisa diarahkan untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Di dalam bagian ini setiap kita terpanggil bagaimana seharusnya kita punya aspek self control yang total.

 

Sekarang, bapak ibu sekalian untuk mengusai diri ada tiga hal dalam hidup kita yang harus di kuasai.

  1. Nafsu Pikiran

Maka ketika kita diajak untuk mengenal yang namanya nafsu yang harus dikendalikan maka bagian yang pertama yaitu nafsu pikiran. Jadi pikiran itu perlu dikendalikan, pikiran itu perlu diarahkan, pikiran itu perlu diisi. Maka ketika kita bisa melakukan itu semua maka itu yang disebut kita punya penguasaan diri berkaitan dengan potensi berpikir kita, dan setiap kita diberikan hati, perasaan untuk punya aspek curiosity, yaitu perasaan ingin tahu, dan perasaan ingin tahu ini bisa bahaya. Maka pertanyaan kita ketika kita punya kerinduan pengetahuan, maka kita tidak akan memboroskan waktu kita mau tahu segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan iman, kita tidak mau memboroskan waktu kita untuk pengetahuan yang tidak ada kaitannya untuk hidup kita lebih baik lagi dalam berkeluarga, dalam studi, dan dalam pekerjaan kita. Jadi pada waktu kita punya penguasaan diri kita punya batasan-batasan seluruh apa yang perlu masuk dalam pikiran kita, karena kita akhirnya bisa tahu ini pengetahuan tidak penting.

Jadi di dalam bagian ini ternyata pikiran kita harus dipenuhi dengan satu pikiran-pikiran untuk mencerdaskan kita, untuk menangkap kehendak Tuhan, dan bagaimana sebenarnya kita hidup bisa lebih baik lagi. Jadi kalau sampai akhirnya kita sembarangan menerima semua keingintahuan kita, hati-hati, ketika itu menjadi bangunan paradigma susah diubah. Jadi hati-hati pada bagian ini dalam mendidik anak, dari kecil anak sudah harus dididik dengan paradigma yang sungguh-sungguh Alkitabiah.

Bagaimana kalau anak kita terkena racun dari luar? Harus kita murnikan. Disini kita harus tahu karena kita manusia berpikir. Jadi ketika pikiran kita dikaitkan dengan fenomena alam, dan anak kita diajar untuk belajar matematika, fisika, biologi, semua dikaitkan dengan sesuatu ciptaan daripada Tuhan, maka disitulah kita menjadi orang yang bijaksana, maka ketika anak kita mau belajar dengan sesuatu fenomenal manusia dalam tingkah lakunya, dia belajar psikologi, dia belajar antropologi, dia belajar sosiologi ini juga baik, itu suatu nilai curiosity. Tapi saya ingin katakan hati-hati, akhirnya banyak orang memalaskan dirinya, banyak orang membiarkan nafsu dirinya itu terpuaskan, banyak orang membiarkan dirinya manja karena dia mengadopsi ajaran-ajaran duniawi yang salah dari pengalaman-pengalaman orang yang belum tentu benar. di dalam bagian ini Alkitab mengajarkan orang Kristen adalah orang yang sungguh punya janji kerja dengan Tuhan. Adam mula-mula dicipta oleh Tuhan punya nilai janji kerja, punya nilai janji tanggung jawab. Maka di dalam bagian itulah jangan seolah-olah kita ikut-ikutan dengan apa yang kita pelajari akhirnya pelajaran itu hanya membuat kita menikmati hidup. Kita adalah orang yang berjuang, jadi jangan terlalu memanjakan diri, menikmati diri sementara waktu itu masih bisa diisi dengan sesuatu yang berarti.

 

  1. Nafsu Mata

Yang kedua yaitu nafsu mata. Ini perlu dikuasai. Mata bisa menanamkan suatu keinginan untuk memiliki. Matius : 22 – 23 ini yang menjadi kunci solusinya. 22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. di dalam bagian ini kita mesti hati-hati, laki-laki yang mudah jatuh cinta salah satunya kelemahannya adalah mata dan begitu pun juga dengan wanita yang mudah jatuh cinta kelemahannya adalah mata, hidup kita yang boros dan suka membeli yang tidak kita butuhkan juga itu kelemahannya adalah mata. Jadi matamu perlu dikuasai, perlu dikendalikan, perlu diarahkan.

 

  1. Nafsu Mulut

Yang ketiga yaitu nafsu mulut. Setiap kita punya mulut adalah anugerah Tuhan untuk bagaimana berbicara tentang firman, bagaimana untuk berkata-kata yang benar, berkata-kata yang bermanfaat yang penuh dengan damai, tetapi masalahnya mulut yang tidak bertobat bisa mencari kepuasan untuk makan, jadi tema hidup kita adalah hidup untuk makan, sedangkan kita temanya adalah makan untuk hidup, maka ketika tema kita makan untuk hidup maka makan yang secukupnya, makan yang membuat kita sehat untuk kita hidup memuliakan Tuhan. Tetapi kalau hidup untuk makan berarti pada waktu engkau sudah bekerja baik-baik maka pada saat liburan engkau puaskan mulutmu dengan wisata kuliner. Yang kedua nafsu mulut banyak orang akhirnya berbicara, jadi kalau dia sudah emosi dia harus banyak ngomong, dan kelemahan dia dirumah juga banyak ngomong, jadi mulutnya terlalu banyak bicara bukan yang mengandung edukasi, tetapi kebanyakan yang mengandung emosi. Di dalam bagian ini Amsal 21: 23, Yakobus 3: 5 – 6 mengingatkan kepada kita. 23 Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. Efesus 4: 29 mengingatkan kepada kita yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus mulut kita harus dipenuhi dengan perkataan yang benar, bukan yang bohong. Amsal mengingatkan kita bagaimana kita memelihara mulut dan lidah, memelihara diri daripada kesukaran. Jadi dalam bagian ini hati-hati dengan mulut, kita punya mulut harus dikendalikan, kita harus punya penguasaan diri dan kita harus mengisi seperti yang dikatakan Efesus 4: 29, mulut kita harus dipenuhi oleh satu kebenaran-kebenaran yang sejati daripada Tuhan.

Mari kita baca Yakobus 3: 5 – 6. 5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.  6 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Jadi dalam bagian ini kita harus hati-hati, mulut kita harus dikendalikan, kapan kita berbicara, kapan kita harus diam, jadi kendalikan setiap kualitas bicara kita karena itu bisa menunjukan kalau kita adalah orang yang punya kualitas penguasaan diri.

 

Selain ketiga nafsu di atas yang harus dijaga, masih ada tiga hal lagi yang orang Kristen harus miliki untuk menguasai dirinya:

 

  1. Rajin Mendalami Firman Tuhan

Saya coba memakai pendekatan 1 Korintus 9 : 24 – 25, disitu dikatakan tubuh kita harus dilatih dengan tekun dan teratur, akhirnya melahirkan satu komitmen yang membangun satu kepekaan hati nurani, jadi seperti Mazmur 119: 9. Bagaimana seorang muda mempertahankan hidupnya suci? Hidup bedasarkan firman Tuhan. berarti disitu Paulus katakan aku seperti seorang pelari, aku seperti seorang petinju, tetapi siapa yang menjadi pemenang adalah orang yang bisa menguasai dirinya dalam segala hal pada waktu dia bertanding. Jadi setiap kita untuk dibangun penguasaan dirinya perlu latihan setiap hari, pasti ada waktu jatuh bangun, tetapi terus dengan tekun sampai kita punya kepekaan hati nurani, karena hati nurani kita sudah disucikan, pasti hati nurani sudah dipenuhi oleh Allah Roh Kudus akan memampukan kita, mengingatkan kita bahwa kita kurang penguasaan diri berkaitan dengan pikiran kita, mata kita dan mulut kita, jadi belajarlah terus menerus.

 

  1. Hidup Fokus & Tidak Liar

Yang kedua kita harus memiliki fokus latihan, target latihan supaya kita punya keseimbangan ketangguhan, kecepatan serta ketepatan. Dalam bagian ini kita melihat 1 Korintus 15: 33, bagaimana anak muda dan kita orang dewasa supaya kita tidak terjebak dengan satu lingkungan yang akhirnya bisa membuat kita akhirnya punya penguasaan diri adalah kita jangan sampai terjebak dengan kebebasan yang dimana pergaulannya yang buruk. Jadi apa yang merusak kebiasaan baik? kata Paulus yang merusak kebiasaan baik adalah salah satunya karena kita ada dalam komunitas pergaulan yang salah, akhirnya kita tidak punya penguasaan diri. jadi di dalam bagian itu ketika kita memiliki fokus latihan dan target seperti keseimbangan, ketangguhan, kecepatan dan ketepatan dalam dunia pelari dan dunia petinju dikaitkan dengan diri kita, kita akan cepat-cepat menolak untuk kita tidak terjebak dengan cobaan.

 

  1. Bertanggung Jawab

Dan yang ketiga harus memiliki tanggung jawab. Artinya kita harus bisa siap sedia selalu masuk dalam dimensi peperangan rohani, karena orang yang punya penguasaan diri, orang yang bisa mengendalikan diri, orang yang bisa mengarahkan diri berarti dirinya selalu standby ingin dipakai Tuhan, bukan dipakai dunia. disini maka mari kita melatih diri kita. apa indahnya kita punya penguasaan diri? apa baiknya jika kita punya penguasaan diri? pasti kita bisa Memperoleh Mahkota yang Abadi di Sorga, yang bersifat kekal. Jadi Paulus sudah katakan dalam 1 Korintus 9: 24 – 27 kalau kita punya penguasaan diri kita akan disiapkan hidup yang kekal di surga, karena hidup kita hidup bagi Tuhan, bukan hidup bagi diri. jadi mengapa penguasaan diri itu penting? Karena menunjukan kedewasaan iman dan karakter seseorang sesuai dengan Galatia 5: 23. Kedua menunjukan kematangan kita melayani untuk fokus bagi Injil, 2 Timotius 5. Jadi di dalam bagian ini berarti penguasaan diri itu sangat penting dalam segala hal, dan penguasaan diri adalah kunci untuk kita menjadi berkat dan bahagia, dan penguasaa diri untuk hidup kita bisa bersosial untuk kita bisa bekerja sama dengan orang lain. jadi mari kita minta pertolongan Tuhan, minta pertolongan Allah Roh Kudus supaya kita dimampukan hidup memiliki aspek penguasaan diri, kita bisa mengisi hidup kita dengan baik, kita bisa mengarahkan semua hidup kita dengan baik untuk hidup bagi Tuhan. SOLI DEO GLORIA.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami