To See is To Be

To See is To Be

Categories:

Bacaan alkitab: Markus 6:30-34.

 

Markus 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Apa yang terjadi dalam konteks ini? Kita mengetahui bahwa pelayanan Tuhan Yesus begitu padat. Ada banyak orang yang tertarik untuk mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Dengan kuasa-Nya ia membuat mukjizat dan menyembuhkan banyak orang. Pengajaran yang begitu berkarisma dan begitu mendalam membuat orang-orang sangat tertarik untuk datang. Pelayanan Yesus begitu padat sampai Ia dan murid-murid-Nya tidak ada waktu untuk makan. Bahkan untuk beristirahat pun mereka hampir tidak bisa. Matius 8:23-27 menceritakan bagaimana Yesus tidur dengan tenang dalam perahu yang sedang diombang ambingkan oleh angin ribut. Ini adalah berita baik bagi orang yang susah tidur. Yesus melayani dengan begitu luar biasa dan itu menguras banyak tenaga. Tidur adalah suatu karunia yang berharga yang tidak selalu kita dapat. Jadi Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya kurang waktu untuk makan dan istirahat. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajak mereka untuk menyingkir dan retret. Namun berkali-kali rencana itu gagal karena banyak orang terus datang. Ketika Yesus pergi, orang-orang mencari tahu tentang kepergian-Nya dan kemudan mereka mengejar-Nya. Ketika Yesus mendarat, orang banyak sudah menunggu-Nya. Di tengah situasi seperti itu, orang banyak itu bisa terlihat seperti pengganggu. Namun Yesus tidak menilai mereka demikian. Yesus dan para murid-Nya begitu sulit menemukan waktu sendiri. Sampai akhirnya Yesus dan para murid-Nya tiba di Kaisarea Filipi (Matius 16:13), Yesus bertanya kepada para murid-Nya tentang siapa diri-Nya. Di sana Petrus menjawab Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16:16).

 

Jadi berkali-kali mereka ingin retret namun berkali-kali juga mereka gagal. Ketika melihat orang banyak itu, apa reaksi Yesus? Yesus tidak marah ataupun jengkel. Ia tergerak oleh belas kasihan. Yesus tidak fokus pada kesulitan diri sendiri tetapi melihat kebutuhan orang banyak untuk dilayani. Kita harus belajar bagaimana melihat dan bagaimana memberikan respons. Kita juga harus belajar bagaimana seharusnya diri kita dan kita harus menjadi apa. Kita melihat berbagai situasi dan peristiwa. Di sana kita memberikan penafsiran dan memberikan respons. Dalam situasi yang tidak menyenangkan, kita bisa merasa terpukul sehingga kita jengkel, marah, burnout, dan merasa sulit secara rohani sehingga kita bisa memberikan respons yang tidak baik. Namun ada orang-orang yang bisa memberikan respons yang benar ketika banyak orang lain tidak benar dalam memberikan respons. Apa yang bisa membuat orang-orang memuji Tuhan dan memiliki sikap hidup yang baik, positif, dan penuh dengan kemenangan? Dalam situasi yang sama, orang yang melihat secara berbeda akan memberikan respons yang berbeda. Ada orang yang melihat cangkir yang terisi separuh lalu mengomel, namun ada pula yang bersyukur. Ada 5 poin yang kita akan bahas bersama-sama tentang bagaimana kita memahami kata ‘melihat’.

 

  1. Melihat adalah Aktivitas Mental dan Intelektual

 

            Ketika berbicara tentang ‘melihat’, seringkali kita merujuk kepada indera kita yaitu mata fisik kita. Tanpa mata fisik, kita tidak dapat melihat. Namun seringkali orang yang memiliki mata fisik tetap tidak bisa melihat. Ini karena sesungguhnya manusia melihat bukan melalui mata fisik tetapi melalui intelektual dan mental. Berapa sering orang-orang yang memiliki mata tidak melihat? Ketika kita masih duduk di bangku sekolah, terkadang kita merasa bosan dengan pelajaran tertentu. Saat kita berada di kelas itu secara fisik, hati kita tidak ada di sana. Ketika guru melihat hal itu, mungkin ia menghukum kita. Setelah itu mungkin kita bisa terlihat seperti memerhatikan pelajaran dan apa yang guru bicarakan, namun sebenarnya hati dan pikiran kita berada di tempat lain. ‘Melihat’ tidak selalu berarti melihat. Melihat tanpa aktivitas mental dan intelektual sebenarnya tidak membuat kita bisa melihat. Orang yang telah mematikan aktivitas mentalnya sebenarnya tidak bisa melihat apa-apa.

 

  1. Melihat adalah Kecerdasan yang perlu Dipelajari, Dipertumbuhkan, dan Dilatih.

 

            Di dalam melihat ada tahapan-tahapan. Ketika kita pergi ke suatu tempat, kita bisa melihat banyak hal. Namun ketika diminta untuk memberikan deskripsi tentang tempat itu, apa yang bisa kita gambarkan? Mungkin kita melupakan banyak yang kita lihat. Jika kita menutup mata kita saat ini, maka bisakah kita mendeskripsikan warna mimbar di sini? Jangan-jangan sebagian orang sudah lupa. Kita seringkali tidak bisa melihat semua hal, namun ada orang yang peka sekali. Ketika kita melihat, kita harus juga mengamati (observe). Kita memang tidak seperti Tuhan yang maha tahu tetapi kita harus memiliki fokus. Di sana kita harus mengerti apa yang penting dan apa yang tidak penting. Orang bodoh mengamati hal-hal yang tidak penting, namun orang yang cerdas dan berhikmat mengamati hal-hal yang penting. Dari pengamatannya ia akan belajar suatu pengertian. Orang yang kurang cerdas ketika mendengarkan ayahnya, ia bisa berfokus pada kata-kata yang kurang penting. Ia bisa menghitung berapa kali ayahnya mengucapkan kata ‘ke’ atau berapa kali ayahnya memegang kacamatanya. Namun ia tidak menangkap pesan yang penting. Orang yang berhikmat menangkap poin-poin yang penting dalam suatu pembahasan. Kita dipanggil untuk pergi dan melihat pekerjaan Allah. Kita melihat peristiwa dan sejarah. Di sana ada benang merah sehingga kita bisa memahami suatu kebenaran. Kita melihat pengajaran dan wahyu Tuhan. Itulah yang membuat kita berhikmat.

 

Pengkhotbah 12:12b Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Apakah ayat ini mengajarkan kita bahwa penerbit buku itu tidak penting? Apakah ini berarti perpustakaan itu dibuang saja? Ada rohaniawan yang membakar buku-bukunya lalu berkata bahwa pengajarannya langsung datang dari Allah Roh Kudus. Itu pasti keliru karena ia salah mengerti. Ketika kita mendengar, kita bisa salah memahami. Kita bisa keliru ketika kita melihat. Oleh karena itu kita harus melihat secara benar. Kita harus bisa melihat intisari hikmat yang Tuhan berikan yang seharusnya membuat kita menjadi orang yang berhikmat. Kita sudah mendengarkan banyak khotbah dan seminar. Itu seharusnya membuat kita menjadi orang-orang yang lebih saleh dan lebih takut akan Tuhan. Jika setelah memakan vitamin atau obat kita tidak menjadi lebih sehat, maka kita sebenarnya sedang memakan racun. Jika kita mendengar namun tidak mengerti dan melihat namun tidak menanggap serta tidak paham, maka kita perlu memeriksa kembali cara kita melihat dan cara kita mendengar. Di dalam melihat dan mendengar ada tahapan-tahapan yang kita harus dalami sampai kita menemukan hikmat dan sampai kita menjadi orang berhikmat serta menjadi pelaku kebenaran. Kita harus ada komitmen untuk menghidupi kebenaran itu. Melihat adalah suatu kecerdasan dan kemampuan yang perlu dipupuk, dilatih, dan dibangun. Jika ini tidak dilakukan maka akan timbul banyak kekeliruan. Kita perlu belajar bagaimana menjadi orang yang mengetahui dengan benar.

Ada banyak orang yang mengetahui dengan begitu banyak kekeliruan misalnya kekeliruan dalam asumsi dan prasangkanya (prejudice). Ada sebuah buku yang menjelaskan tentang ketidakmampuan membaca orang banyak. Ketidakmampuan itu bisa ditemukan bahkan juga di dalam kaum terpelajar. Ini karena mereka mengabaikan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh suatu perkataan. Banyak orang mencoba mendengar namun gagal untuk memahami. Ini karena mereka sudah memegang asumsi mereka sendiri. Ketika kita sudah memegang asumsi negatif kita sendiri, kita akan sulit memahami. Kalau kita sudah menyukai seseorang, perkataannya yang keliru pun akan kita terima. Itulah bahaya dari sifat prejudice (prasangka) dan jiwa yang tidak adil. Itu menandakan bahwa kita bukanlah pencinta kebenaran. Kita mudah sekali keliru. D. A. Carson menulis buku dengan judul ‘Exegetical Fallacies’. Buku itu membicarakan mengenai kekeliruan-kekeliruan dalam melakukan eksegesis. Di sana kita harus berhati-hati. Para politikus juga sering menyuarakan opini yang terlihat baik namun sebenarnya keliru. Mereka memakai retorika-retorika yang menipu orang banyak. Jika kita menyukai semua kekeliruan dan kesalahan mereka, maka kita juga akan tertipu. Kita bukanlah makhluk yang murni rasional. Ketika hal yang kita suka ditentang, maka yang menentang itu kita anggap salah, meskipun sebenarnya kita yang salah. Di sana kita harus waspada. Ketika musuh kita mengucapkan hal yang benar, maka kita seharusnya tidak menolak perkataannya. Begitu pula ketika teman dekat kita mengucapkan hal yang salah, maka kita seharusnya tidak menganggapnya benar. Itu bukanlah jiwa pencari kebenaran.

 

Sebuah ilustrasi bisa menjelaskan hal ini. suatu kali ada seorang bapak yang kehilangan kapaknya. Dia mencari-cari namun tidak menemukan kapaknya. Ia kemudian berpikir bahwa ada yang mengambil kapak tersebut. Ia memeriksa orang-orang yang ada di dalam rumah dan menemukan bahwa tidak ada yang mengambil kapak itu. Lalu ia berkesimpulan bahwa orang di luar rumah-lah yang mengambil kapaknya. Ia melihat tetangga-tetangganya dan kemudian ia melihat ada seorang anak tetangga serta mencurigainya. Ini karena baginya anak itu berjalan seperti pencuri, gayanya mirip pencuri, dan ketika ia berjalan di depan rumahnya, ia berjalan dengan sangat cepat. Setelah memikirkan hal ini, ia mengambil keputusan untuk mengejar anak tersebut esok harinya. Namun sebelum ia mengejarnya, ia menemukan kapak tersebut. Ia berpikir bahwa tidak mungkin anak tersebut masuk ke dalam rumah hanya untuk mengembalikan kapak tersebut. Ketika ia melihat anak itu, ternyata cara berjalannya masih sama. Sebelumnya ia berpikir bahwa anak ini mirip seperti pencuri, namun kemudian ia menilainya secara berbeda. Perbedaan ini ada sebenarnya karena prasangka bapak itu. ketika kita sudah memiliki prasangka-prasangka sebelumnya, maka konklusi kita bisa keliru. Sekolah tidak selalu membuat menjadi lebih cerdas. Dalam era digital ini mungkin kita pernah menyebarkan hoax secara tidak sengaja. Pendidikan belum tentu membuat jiwa seseorang menjadi lebih mulia dan membuat pikiran lebih baik. Oleh karena itu dalam proses melihat dan memahami kita harus mencari bijaksana.

 

Melihat adalah suatu tindakan filosofis dan epistemologis. Kita harus belajar tentang kekeliruan logika. Kita bisa membuat satu argumentasi yang terlihat sangat baik namun di dalamnya ada kecerobohan dan prasangka yang salah. Suami-istri bisa bertengkar karena kekeliruan-kekeliruan prasangka. Sesama saudara seiman bisa saling bertikai karena prasangka-prasangka yang keliru. Tanpa anugerah Tuhan, apapun kita bisa jadikan alasan untuk bertikai. Masalah itu kemungkinan besar ada pada diri kita dan bukan orang lain. Bagi orang yang berjiwa baik, situasi bermasalah apapun pada akhirnya bisa dibuat menjadi lebih baik. Jika masing-masing sadar akan kesalahan dan kelemahan masing-masing, maka hidup akan menjadi lebih baik. Kita harus memiliki bijaksana dan pengertian dalam hal ini. Suami-istri yang terlihat rohani bisa bercerai karena kekeliruan-kekeliruan dalam melihat. Pengetahuan kita sangat terbatas sehingga kita bisa melihat, menafsir, dan memberikan respons secara keliru. Oleh karena itu untuk memahami suatu kebenaran kita perlu belajar. Remaja dan pemuda pun harus belajar agar tidak keliru. Jangan sampai generasi muda hanya mengetahui media sosial namun tidak pernah membaca buku berkualitas. Mungkin 90% lebih penduduk dunia sering melakukan kekeliruan. Hanya ada sedikit orang yang bisa bernalar dengan baik dan bijaksana sehingga hidupnya damai. Di tengah kekeliruan-kekeliruan yang ada, orang-orang bisa mengalami rasa sakit hati yang tidak perlu ada.

 

  1. Melihat adalah Tindakan Rohani

 

            Manusia melihat bukan dari mata fisik saja tetapi dari akal budi. Jika kita memiliki mata namun tidak memiliki akal budi atau hati yang peduli, maka tidak ada satu hal pun yang bisa kita lihat. Manusia melihat dengan hati, dan kita harus melihat dengan hati yang baik. 3 hal yang harus kita perhatikan adalah: hati, sikap atau karakter, dan akal budi. Kita harus menjaga hati karena hati yang rusak atau picik akan membuat kita habis. Kita juga harus memiliki karakter yang mencintai keadilan dan kebenaran. Manusia tidak dilihat hanya dari kepintarannya tetapi dari hati dan karakternya. Akal budi tidak terletak pada urutan pertama. Ada orang-orang yang pintar memakai akal budinya namun secara keliru sehingga ia sering membuat argumentasi-argumentasi yang keliru. Ketika dihina, kita perlu menanggapi dengan kesabaran yang besar. Ada orang-orang yang berargumentasi dengan akal budinya yang baik namun ternyata hatinya yang salah sudah mengarahkan argumentasi itu ke arah yang keliru. Hati itu mengarahkan akal budi kita. Ada orang-orang yang hatinya buta sehingga gagal melihat kemuliaan Kristus. Kristus yang begitu mulia hadir di tengah Palestina. Orang-orang Yahudi yang membaca Firman Tuhan dan menantikan kemuliaan Sang Mesias tidak melihat kemuliaan-Nya. 2 Korintus 4:3-4 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Mereka dibutakan oleh ilah zaman sehingga mereka tidak bisa melihat cahaya kemuliaan Injil. Kita yang bisa melihat adalah orang-orang yang berbahagia. Kita yang bisa melihat tipu muslihat Setan dan terhindar dari itu adalah orang-orang yang bahagia. Jika kita memiliki hati yang baik dan adil, maka kita bisa menilai segala hal dengan benar.

 

Tuhan menyembuhkan orang buta dalam Yohanes 9. Di dalam kisah itu ada orang-orang yang mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus yaitu para pemimpin agama. Orang buta yang disembuhkan itu menjawab pertanyaan-pertanyaan para pemimpin agama, namun mereka telah dibutakan oleh kebencian. Mereka keliru bersikap di dalam kebutaan itu. Mesias itu telah datang namun mereka menolak-Nya. Kita harus berhati-hati agar hal itu tidak terjadi pada diri kita. Yohanes 9:39-41 Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Melihat adalah perkara rohani. Hati dan pikiran kita tidak boleh tertutup. Imam Eli (1 Samuel 1:3) mendapat berkat dalam hal meneruskan posisi Harun. Ia menjadi imam besar yang melayani Tuhan. Ia memiliki 2 anak biadab. Mereka mengambil bagian terbaik dari setiap persembahan untuk diri mereka sendiri dan bukan untuk Tuhan. Jadi mereka bersikap begitu kurang ajar sampai mereka dikutuk oleh Tuhan. Eli ditegur oleh Tuhan dan kedua anaknya dibinasakan. Akhirnya tugas imam itu dialihkan ke keluarga lain. Di sana kita melihat suatu hak istimewa yang hilang. 1 Samuel 2:29 Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel? Mereka ditegur oleh Tuhan karena mereka memandang dengan loba kepada korban sembelihan Tuhan. Bagaimana kita memandang orang lain? Apakah kita memandang dengan nafsu? Apakah kita ingin memanfaatkan orang-orang yang kita lihat? Atau kita memandang orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang dikasihi Tuhan? Kita harus melihat dengan kebaikan Tuhan dan bukan dengan dosa. Kebencian dan ketamakan bukanlah cara kita memandang. Bagaimana kita melihat akan memengaruhi bagaimana kita hidup. Melihat adalah tindakan rohani. Itu akan memengaruhi bagaimana kita bertindak.

 

Ada sebuah kejadian yang mengerikan di taman Eden. Kejadian 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Hawa melihat buah terlarang itu. Tuhan sudah menyatakan bahwa buah itu tidak boleh dimakan karena itu akan menyebabkan kematian. Semua derita dan kesusahan manusia muncul karena pelanggaran terhadap perintah itu. Kematian itu bukan hanya kematian fisik tetapi mencakup penderitaan selama hidup di dunia. Kematian yang sesungguhnya adalah keterpisahan dari Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa buah itu tidak boleh dimakan, namun Hawa melihat bahwa buah itu baik untuk dimakan. Buah itu juga terlihat sedap baginya. Kemudian dikatakan juga bahwa buah itu menarik. Hal-hal yang menarik itu membuat kita seperti tersihir sehingga kita susah menolaknya. Dikatakan juga bahwa buah itu memberi pengertian. Ketika anak kita yang masih kecil ingin meminum racun yang dipikirnya adalah minuman menyegarkan dan kita melihat hal itu, maka kita pasti langsung mencegahnya. Hawa melihat buah itu secara positif dan akhirnya itu membuatnya jatuh dalam dosa. Melihat adalah aktivitas rohani.

 

Samuel diperintahkan oleh Tuhan untuk mengurapi salah seorang dari anak-anak Isai untuk menjadi raja (1 Samuel 16:1). Saul telah ditolak dan Tuhan sudah menunjuk raja yang lain. Samuel kemudian pergi ke rumah Isai untuk menjalankan perintah Tuhan. Ketika anak-anak Isai dibawa ke hadapan Samuel, ia melihat anak pertama yang kelihatan tinggi dan besar. Samuel berpikir bahwa anak itulah yang akan menjadi raja. Namun Tuhan berkata lain 1 Samuel 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati”. Tuhan melihat kedalaman hati manusia. Setelah semua anak Isai di sana dilihat oleh Samuel, Samuel menyatakan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang dipilih Tuhan menjadi raja. Ternyata ada anak lain yang belum ada di sana yaitu Daud. Akhirnya Daud dipanggil dari ladang dan ternyata ialah raja yang dipilih Tuhan. Di sana Samuel belajar untuk melihat seperti Tuhan melihat. Kita juga harus belajar demikian. Jika kita menilai berdasarkan hanya perspektif kita sendiri, maka kita akan berakhir dengan kekeliruan. Manusia itu terbatas dan masih bisa berdosa sehingga masih bisa memandang secara keliru. Kekurangan dan kelemahan kita bisa membuat kita menilai secara salah. Kita harus belajar untuk memiliki mata Yesus. Orang Kristen dipanggil untuk menghargai orang lain seperti Tuhan menghargai orang itu. Siapapun yang Tuhan kasihi harus juga kita kasihi. Di dalam gereja ada berbagai macam orang. Bagaimana kita memandang dan menyikapi setiap dari mereka? Kita harus memandang bukan dengan perspektif kita tetapi dengan perspektif Tuhan. Kita bisa memandang hanya kelemahan dan kekurangan orang lain, namun kita harus belajar untuk melihat seperti Tuhan melihat.

 

Rasul Paulus, sebelum ia menjadi rasul, memandang Yesus sebagai bidat. Ia menganiaya jemaat Tuhan dengan begitu gigihnya. Namun Tuhan mempertobatkan Paulus sehingga ia memandang Yesus bukan lagi dengan ukuran manusia tetapi ukuran Allah. 2 Korintus 5:16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Di sana ia melihat kemuliaan Kristus dan ia mengenal Yesus dengan benar. Teologinya mengalami transformasi dan ia hidup mencari kemuliaan Allah. Setelah memandang Allah dengan cara yang baru, ia juga memandang manusia dengan cara yang baru. Sebagai manusia kita memiliki kelemahan, kekurangan, dan bisa salah dalam melihat orang lain. Oleh karena itu kita harus melihat dari cara pandang Tuhan. Mazmur 119:37 Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan! Ini adalah doa yang sangat indah. Pemazmur memohon Tuhan agar ia tidak melihat hal-hal yang tidak baik. Kita pasti senang mendapatkan uang yang banyak, namun jika ternyata uang tersebut datang dari teroris, maka kita akan melihat itu sebagai malapetaka, bukan berkat Tuhan. Segala keuntungan yang bukan dari Tuhan tidak bisa kita pandang sebagai keuntungan. Dalam segala hal kita harus bertanya kepada Tuhan, apakah itu dari Tuhan atau bukan. Buah pahit, kalau itu datang dari Tuhan, maka itu baik bagi kita. Itu menjadi obat yang menyembuhkan bagi kita. Jalan berliku-liku, jika itu datang dari Tuhan, maka itu akan memimpin kita kepada kehidupan. Jalan lancar dan mulus yang bukan dari Tuhan akan membawa kita kepada kematian. Kita tidak boleh menginginkan keuntungan-keuntungan yang bukan dari Tuhan karena semua itu tidak baik. Matius 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Kita begitu mudah menunjuk orang lain dan menyatakan bahwa masalah ada pada orang lain dan bukan diri kita sendiri. Kita harus punya hati yang melihat dan memperbaiki diri. Dunia akan menjadi lebih baik jika kita lebih sering introspeksi diri daripada menyalahkan orang lain.

 

  1. Melihat adalah Mencipta (melayani)

 

            Kita menyukai hal-hal yang bersifat baik, positif, dan menyenangkan. Namun jika kita melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita maka kita bisa mengeluh. Apakah kita hanya mau menerima yang baik? Setiap orang bisa mengeluh. Orang-orang Israel mengeluh di padang gurun. Namun kita harus berbeda. Kita adalah orang-orang yang sudah dipertobatkan dan sudah berubah. Cara kita melihat bisa memengaruhi hal-hal yang akan terjadi pada kita. Melihat itu mencipta. Di dalam suatu kelas ada seorang guru baru yang mengajar. Guru tersebut diberitahu bahwa di kelas itu ada 2 golongan anak. Anak-anak yang duduk di sebelah kiri memiliki IQ rendah, sedangkan di baris kanan ada anak-anak yang ber-IQ tinggi. Ketika baris kiri bisa mengerjakan tugas yang diberikan, maka guru akan berkata bahwa itu kebetulan. Namun ketika baris kiri gagal mengerjakan tugas maka guru akan berkata bahwa mereka memang bodoh. Namun setelah mereka semua lulus, di antara anak-anak itu ada yang gagal dan ada yang sukses dalam hidup tanpa ada pengaruh dari tempat duduk mereka, entah itu baris kiri ataupun baris kanan. Jadi semua itu sebenarnya hanya prasangka yang salah. Prasangka yang salah itu memengaruhi cara guru itu memandang setiap anak dan cara mengajarnya. Ketika ia melihat, ia langsung mencipta. Cara kita melihat bisa menghancurkan atau menguatkan orang lain. Rasio dan argumentasi manusia seringkali bisa terlihat benar namun bisa keliru di mata Tuhan. Kita seringkali memandang dengan remeh, negatif, dan dengan prasangka buruk sehingga kita merusak orang lain.

            Ada yang menyatakan bahwa orang baik bisa menjadi jahat karena pengaruh-pengaruh di sekitarnya dan bagaimana orang di sekitarnya memandangnya. Seseorang bisa menjadi jahat karena pengaruh orang tua, guru, teman-teman, dan masyarakat. Banyak orang yang menjadi pembunuh berantai berasal dari masa kecil dan lingkungan yang buruk. Kita bisa mengutuki orang jahat namun terkadang kita tidak sadar bahwa kita turut berbagian dalam menciptakan dunia yang seperti sekarang ini. Secara tidak sadar kita bisa ikut berbagian dalam menciptakan orang jahat. Jadi melihat adalah mencipta. Dahulu ada seseorang bernama Robert Raikes yang diganggu oleh anak-anak nakal di Inggris. Ia menjadi marah dan ingin memanggil polisi. Ia juga mencari orang tuanya agar anak itu diberikan disiplin. Namun ternyata ia menemukan bahwa orang tua anak itu sulit mencari kerja dan tidak mampu menyekolahkan anak. akhirnya ia memutuskan untuk mengumpulkan anak-anak itu dan mengajarkan mereka Alkitab. Ini membuatnya dipanggil sebagai Bapak Sekolah Minggu. Ketika ia melihat satu kesulitan, ia tidak marah-marah dan menyebarkan atau membuat masalah lebih keruh dari sebelumnya. Namun ia berdiam, berdoa, dan mencoba melakukan sesuatu. Di sini kita belajar menjadi pembawa damai. Kita harus memiliki mata yang berbeda untuk melihat secara positif sehingga kita bisa menjadi alat di tangan Tuhan.

 

  1. To See Is to Be (Melihat adalah Menjadi)

 

             Ketika kita melihat, kita memberikan respons. Kita bisa sering memuji anak yang manis, namun ia bisa menjadi rusak ketika terus dimanja. Kita harus berpikir untuk berbagian dalam membantu orang lain dan diri kita sendiri bertumbuh. Kita melihat, memberi respons, dan juga memberi pengaruh. Orang berdosa yang memiliki jiwa yang sempit selalu mempunyai alasan untuk menghancurkan. Namun orang rohani yang berjiwa agung, yang telah diberikan mata rohani dan hati yang baru oleh Tuhan, akan melihat melampaui fakta yang buruk. Ia memiliki anugerah untuk membangun dan membuat transformasi. Tuhan melihat manusia begitu buruk dan rusak namun Tuhan memberikan belas kasihan. Tuhan memberikan diri-Nya untuk mati di atas kayu salib sehingga manusia bisa ditebus. Tuhan mau dengan sabar mendidik kita meskipun kita sering jatuh-bangun sampai pembentukan Tuhan itu terjadi dalam diri kita. Selama 7 hari Tuhan menciptakan langit dan bumi, namun Tuhan mendidik kita lebih lama daripada itu dengan sabar. Di dalam waktu yang Tuhan berikan, Tuhan membentuk orang-orang yang saleh seperti Ayub dan orang-orang saleh lainnya. Betapa sabar dan mulianya Tuhan. Ketika kita sedang melihat orang lain, kita sebenarnya sedang menciptakan diri sendiri. Ketika kita terus mengeluh, itu menggambarkan betapa buruk dan sempit hati kita. Ketika ada masalah, seharusnya kita berdiam, berdoa, dan berbuat sesuatu. Di sanalah kita bersikap sebagai orang yang agung. Apakah kita bertindak secara negatif atau secara positif atau konstruktif? Bukan hanya orang lain yang dipengaruhi oleh tindakan kita tetapi tindakan kita juga menunjukkan proses diri kita. Dari sana isi hati kita itu tampak. Bunda Teresa, ketika melihat orang-orang kusta di India, tergerak hatinya dan mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang kusta tersebut. Ia melihat seperti Tuhan melihat. Bagaimana kita melihat akan menyatakan siapa diri kita. Apakah kita sudah memiliki jiwa seperti Kristus dan hamba-hamba-Nya yang setia untuk bisa melihat dan memberikan respons yang benar?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami