Tersesat karena Materi (1 Samuel 8:1-3 dan 1 Timotius 6:10-11)

Tersesat karena Materi (1 Samuel 8:1-3 dan 1 Timotius 6:10-11)

Categories:

Khotbah Minggu 23 Februari 2020 (Pagi)

Tersesat karena Materi

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan melakukan pembahasan yang terakhir tentang Samuel. Bagian yang akan kita bahas adalah kegagalan Samuel dalam mendidik anak dan kegagalan Samuel dalam membangun kepekaan. Ia menyerahkan tugas hakim kepada anak-anaknya yang tidak takut akan Tuhan. Mereka tersesat karena materi. Anak-anak Imam Eli tersesat karena kehidupan bebas dalam perzinahan dan lainnya. Anak-anak Samuel jatuh karena materi. Kita akan membahas dari 1 Samuel 8:1-3 dan 1 Timotius 6:10-11. Anak-anak Samuel memandang laba. Mereka menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Dalam surat 1 Timotius, Timotius dipanggil sebagai ‘manusia Allah’, bukan ‘anak Allah’. Ia diajarkan untuk tidak memburu uang tetapi mengejar keadilan, kasih, kesetiaan dan lainnya.

 

 

1) Pendahuluan

 

Kegagalan Eli dalam mendidik anak-anaknya terulang kepada Samuel. Mengapa bisa terulang? Mengapa Samuel tidak belajar dari Imam Eli? Mengapa Samuel lambat mengatisipasi semuanya ini? Apakah hal ini dikarenakan Samuel sibuk dengan pelayanannya/pekerjaannya? Atau Samuel kurang memerhatikan pertumbuhan rohani anak-anaknya? Sampai sejauh mana pentingnya disiplin rohani bagi anak? kita memerhatikan bukan hanya disiplin dalam belajar. Dalam disiplin rohani ada disiplin belajar dan nilai tanggung jawab serta perjuangan. Di dalamnya juga ada bagaimana kita mengukur perkembangan iman dan karakter anak kita.

 

 

2) Kesalahan Samuel dalam Mendidik

 

Samuel melepaskan “peran sebagai pendidik” untuk Yoel dan Abia, karena sibuk dengan pelayanan/pekerjaan (1 Samuel 7:16). Samuel setiap hari pergi dari satu kota ke kota lain dengan berjalan kaki. Ia sangat sibuk dalam pelayanan. Akibatnya, figur ayah tidak ada dalam kehidupan anak-anaknya yang masih sangat kecil. Seharusnya Samuel mengerti bahwa anak-anaknya adalah orang-orang berdosa yang perlu dididik. Di dalam kisah keluarga Imam Eli maupun keluarga Samuel, tidak ada catatan mengenai peran istri. Apakah saat itu istri mereka tidak berperan dalam membesarkan anak dalam nilai iman dan karakter? Dalam Ulangan 6 dikatakan bahwa peran suami istri harus berpadu untuk menyatakan Firman Tuhan berulang-ulang kepada anak. Istri Samuel tidak banyak berperan dalam disiplin rohani anak-anaknya. Mengapa hanya dicatat nama Samuel? Kegagalan mendidik anak dalam keluarga diperhitungkan pada pemimpin keluarga yaitu ayah. Pelaksana pendidikan di rumah adalah ibu, namun tanggung jawab ada di tangan ayah. Di sebuah perusahaan, ketika pelaksana melakukan kesalahan, tanggung jawab ada di tangan pemimpin. Peran laki-laki di rumah adalah sebagai pendidik. Ini berarti laki-laki terlibat dalam proses pendidikan anak di rumah. Ini adalah panggilan dan jati diri setiap ayah. Celakanya, banyak orang mau mengajar namun tidak hidup menjadi teladan. Berapa banyak guru yang tidak memerhatikan uang serta fasilitas dan hanya memerhatikan jiwa-jiwa yang mereka didik? Mendidik anak untuk pintar dalam dunia itu mudah, namun mendidik anak untuk pintar dalam Tuhan itu sulit. Jadi menemukan guru yang bisa mendidik dalam kedua hal ini tidaklah mudah. Sekolah Kristen Calvin merekrut guru yang memang memiliki panggilan mengajar, bukan hanya senang mengajar. Ini sungguh penting, karena jika seorang guru salah mengajar seorang anak, maka Tuhan Yesus mengatakan bahwa sebaiknya leher orang itu diikatkan ke batu yang kemudian dilemparkan ke dalam laut (Lukas 17:2). Ini berarti pendidikan bagi anak itu sangat penting.

 

Karakter anak harus dibentuk dari sejak dini. Orang tua berperan sangat besar dalam bagian ini. Menurut Bloom Taxonomy, ada stages of knowledge dalam kehidupan anak-anak. Maka dari itu anak-anak harus diajarkan tentang ‘apa’ dan setelah itu tentang ‘mengapa’. Ini dikerjakan oleh orang tua. Ulangan 6 mengingatkan kita bahwa sekolah yang sebenarnya adalah di dalam rumah. Pada zaman Perjanjian Lama juga tidak ada sekolah resmi. Semua anak dididik di rumah oleh orang tuanya. Tidak hanya wanita, pria juga berperan. Suami istri harus bekerja sama dalam menanamkan disiplin rohani di rumah. Laki-laki menanamkan prinsip dan perempuan menjalankan prinsip. Begitu banyak pasangan berpikir bahwa laki-laki hanya mencari nafkah dan perempuan bisa memercayakan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah dan guru les. Ketika ini terjadi, anak akan kehilangan hubungan batin dengan orang tua. Ini mengakibatkan anak-anak lebih dekat dengan orang lain daripada orang tuanya. Di sini orang tua kehilangan otoritas untuk membawa anak-anaknya kepada Tuhan. Pengalaman liburan bersama keluarga itu tidak sepenting waktu di mana orang tua dan anak-anak berinteraksi dalam iman yang mengarah kepada Tuhan. Karakter anak jauh lebih penting daripada kepuasan fisik dan materi. Dalam proses perkembangan anak, orang tua harus senantiasa mendampingi. Anak-anak membutuhkan orang tua sebagai partner diskusi. Dalam penelitian Harvard, sharing knowledge harus terjadi juga di luar kelas, yaitu dalam kelompok yang dekat seperti keluarga. Dalam kelompok itu evaluasi yang detail bisa dilakukan. Dalam perusahaan juga harus ada kelompok pemimpin yang kuat yang bisa melakukan sharing knowledge sehingga target perusahaan bisa tercapai. Ulangan 6 mengajarkan agar orang tua selalu memberikan pendidikan iman kepada anak. Jadi teori Harvard itu bukan hal baru.

 

Anak-anak juga adalah orang-orang berdosa yang butuh pendampingan dan diskusi agar mereka tidak jatuh ke dalam jurang dosa. Anak-anak sering kali bersemangat namun kurang berpikir. Orang tua biasanya banyak berpikir dan lebih waspada. Jadi sharing knowldge and faith itu penting. Apa yang orang tua bicarakan dengan anak akan memengaruhi kecerdasan imannya. Orang tua harus peka akan visi dari Tuhan sehingga orang tua bisa mengerti ke mana anak harus dipimpin. Celakanya, Samuel tidak peka. Ia langsung menempatkan anak-anaknya sebagai hakim padahal itu adalah keputusan yang salah. Kualifikasi mereka tidak dipersiapkan dengan baik. Orang tua punya peran untuk membawa anak-anak kepada target yang Tuhan sudah nyatakan. Samuel terjebak dalam rutinitas sampai ia melupakan perannya sebagai ayah dan pendidik di rumah. Orang yang tidak percaya Tuhan pun bisa mengerti bahwa investasi yang berharga adalah waktu bersama keluarga, bukan uang atau materi. Banyak keluarga berfokus pada materi namun mengorbankan keluarga. Budaya di Inggris mengajarkan untuk memprioritaskan keluarga lebih daripada harta. Budaya di Inggris merupakan pengaruh dari teologi Puritan. Teologi Puritan menekankan pentingnya keluarga sebagai unit Gereja yang terkecil. Di Finlandia, anak-anak sekolah bisa pulang jam 3 atau 4 sore. Mereka tidak diberikan pekerjaan rumah secara akademis. Mereka diminta berelasi dengan keluarga serta masyarakat lalu mereka diminta untuk memberikan laporan tentang itu. Di Skandinavia, orang tua menjemput anak-anak sepulang sekolah. Di sana ada komunikasi orang tua-anak. harta yang sesungguhnya bukanlah uang tetapi iman dan karakter anak. Orang tua harus menjadi pendamping yang mengarahkan anak. Mazmur 127 mengajarkan bahwa segala usaha kita yang tidak melibatkan Tuhan akan sia-sia. Seperti seorang pemanah yang mengarahkan panahnya, orang tua harus bisa mempersiapkan dan mengarahkan anak-anak kepada masa depan yang baik. Memimpin dan membina keluarga itu tidak mudah. Kesibukan orang tua tidak boleh mengorbankan anak-anak. Ibu yang mengatur rumah tangga memang tidak mendapatkan gaji, namun investasi dalam mendidik anak itu sangat berharga. Lima aspek yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak adalah iman, karakter, pengetahuan, talenta, dan sosial. Banyak keluarga tidak memerhatikan karakter dan iman. Namun dalam keluarga Kristen, iman dan karakter harus diprioritaskan.

 

Kesalahan kedua Samuel adalah membesarkan anak tanpa memerhatikan pertumbuhan iman, karakter, sikap, dan lainnya sejak dini (bandingkan 1 Samuel 2:22-23). Di dalam kesibukan kita, kita harus bisa menyatakan sikap yang tegas. Sikap itu menunjukkan bahwa kita merupakan orang yang sudah matang. Dari perkataan kita bisa menilai isi hati dan dari perilaku kita bisa menilai karakter seseorang. Dalam membesarkan anak bersama dengan istri, Samuel hanya memerhatikan kebutuhan fisik anak-anaknya. Iman dan karakter tidak diperhatikan. Ini membuat anak-anak tidak hidup dengan benar di hadapan Tuhan. Pada akhirnya anak-anak Samuel hanya mengejar laba. Uang menjadi prioritas dalam hidup mereka. Jika orang tua ingin mendidik iman anak, maka anak harus diajarkan membaca Alkitab senantiasa. Orang tua juga harus menjadi contoh dalam bagian ini. Kita harus membaca Alkitab berulang-ulang. Ini adalah target rohani kita. Anak-anak harus diajarkan membaca Alkitab sampai mereka terbiasa membaca Alkitab tanpa perlu diminta. Jika anak-anak sudah sampai tahap ini dan mereka menjalankan apa yang Alkitab perintahkan, maka iman mereka sudah jelas. Iman dan karakter yang sudah terbentuk akan menghasilkan sikap takut akan Tuhan dan kerendahan hati untuk melayani-Nya. Kita pasti bahagia jika anak-anak kita sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan dan rajin melayani. Samuel tidak mengontrol, mengevaluasi, dan memperbaiki apa yang salah dari anak-anaknya. Ketiga hal ini tidak diperhatikannya sehingga anak-anaknya menjadi terhilang. Ketika mereka dewasa dan mendapatkan jabatan, mereka menggunakan itu untuk mencari laba. Maka dari itu orang tua harus melek mata untuk pendidikan anak. Kesibukan terkadang membuat kita lupa bahwa kita adalah pendidik anak. Kesibukan bisa membuat kita lupa memerhatikan anak. Ketika kita tidak melakukan perbaikan apapun, pada akhirnya anak-anak kita terbentuk menjadi orang-orang yang tidak takut akan Tuhan. Mereka di usia yang sudah dewasa akan sulit berubah. Anak-anak di usia sangat muda masih mudah untuk dibentuk, namun orang-orang dewasa sudah keras, sulit untuk dibentuk. Banyak orang tua menangis dan menyesal melihat anak-anaknya yang sudah dewasa namun belum memiliki iman dan karakter yang benar. Kita dari sejak dini harus sudah membuka mata kita dan benar-benar memerhatikan anak-anak kita. Kekompakkan suami-istri menentukan kualitas pendidikan anak. Jika orang tua tidak kompak, maka anak akan menjadi bingung dan harus memilih ikut siapa.

 

Kesalahan ketiga Samuel adalah mengasihi anak dengan diberikan tugas sebagai hakim tanpa memerhatikan kualifikasi kerohanian – Samuel tidak tegas (bandingkan 1 Samuel 2:22-23). Di masa tuanya, Samuel menyerahkan tugas hakim kepada anak-anaknya. Di sini ada nepotisme. Ia seharusnya mendidik orang-orang lain yang memiliki kualifikasi sebagai hakim untuk menggantikannya. Ia menjadikan anak-anaknya yang mengejar keuntungan sebagai hakim. Kita sebagai orang tua pasti mengasihi anak-anak kita. Namun kasih kita tidak boleh sampai mengorbankan hal-hal yang baik seperti keadilan. Di dalam GRII, anak-anak hamba Tuhan tidak otomatis menjadi orang-orang penting di sinode. Semuanya harus diuji dan diawasi. Samuel terlalu memaksakan anak-anaknya menjadi hakim. Bagi Yoel dan Abia, anak-anak Samuel, uang lebih menarik daripada jiwa-jiwa. Samuel mengasihi anak-anaknya namun mengorbankan pekerjaan Tuhan. Gereja tidak boleh dikorbankan karena mengizinkan orang-orang yang masih hidup dalam dosa melayani. Kesucian Tuhan tidak boleh dikorbankan. Mimbar harus terus murni dalam memberitakan Firman Tuhan. Ketika Akhan mencuri barang-barang milik Tuhan, seluruh bangsa menanggung akibatnya. Ketika Samuel tua, seharusnya ia bertanya kepada Tuhan tentang siapa yang akan meneruskan kepemimpinannya. Mengasihi anak itu tidak salah, namun kasih itu harus diberikan dalam kebaikan dan kebenaran. Jika Samuel mengasihi dalam kebenaran, maka standar kasihnya pasti sesuai dengan standar Tuhan. Jika ia memakai standar Tuhan, maka ia pasti bertanya kepada Tuhan apakah anak-anaknya bisa menjadi hakim atau tidak. Samuel tidak peka di masa tuanya. Ia tidak mencari pengganti yang tepat. Kita harus memiliki kepekaan dalam mempersiapkan generasi baru. Mereka adalah pemimpin-pemimpin masa depan yang harus kita bina baik-baik.

 

 

3) Akibat Kesalahan Samuel

 

Apa akibat dari keputusan Samuel yang salah? Akibat perilaku Yoel dan Abia yang mementingkan laba, terima suap, dan memutarbalikkan keadilan, bangsa Israel meminta raja sebagai bentuk kekecewaan. Bangsa Israel tidak hanya mau menyingkirkan anak-anak Samuel tetapi mereka juga mau menyingkirkan Tuhan. Sebagai pemimpin dan orang tua, kita harus bisa mempersiapkan generasi di depan. Di dalam Gereja, harus ada regenerasi yang sehat. 1 Timotius 6:10-11 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Ciri orang yang mencintai uang adalah menyukai banyak uang. Ia tidak mau uang secukupnya. Ia terus mengejar harta dan selalu iri hati pada orang lain yang lebih kaya daripada dirinya. Alkitab mengajarkan kecukupan. Paulus berkata ‘Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’ (Filipi 4:12-13). Kita harus bersyukur untuk kecukupan yang Tuhan berikan. Apapun yang berlebihan itu pasti tidak baik. Kita berdoa untuk kecukupan. Keinginan yang berlebihan itu bisa mengorbankan keluarga kita.

 

Dalam cinta uang, uang dianggap segala-galanya dan Tuhan tidak diutamakan. Uang diutamakan untuk bisa memenuhi hawa nafsu dan kepuasan. Yakobus 4:13-14 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Kita harus menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Segala hal yang kita lakukan harus berdasarkan iman untuk kemuliaan Tuhan (1 Korintus 10:31). Orang yang cinta uang selalu berpikir untuk menerima namun tidak pernah berpikir untuk memberi supaya orang-orang bisa melihat kasih Tuhan. Kita harus memikirkan bagaimana memuliakan Tuhan dengan harta kita. Apa yang Tuhan berikan juga bisa Tuhan ambil dalam kedaulatan-Nya. Tuhan tidak mau kita menjadi cinta uang. Itulah tiga ciri orang yang cinta uang: 1) ia selalu mau lebih, 2) ia mengutamakan uang di atas segala-galanya, dan 3) ia lebih suka menerima daripada memberi. Jadi orang itu picik dan pelit. Ketika uang memperbudak kita, kita akan hancur karena uang. Harta yang terpenting adalah iman, karakter, dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kita harus bisa menggunakan semua itu dengan maksimal untuk kemuliaan-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami