Tantangan Dan Masa Depan Reformasi

Tantangan Dan Masa Depan Reformasi

Categories:

Bacaan alkitab: Roma 1: 16 – 17; Roma 11: 36; Ibrani 11: 6.

 

Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Reformasi mengembalikan hakekat dan fungsi iman untuk kita berjalan mengikuti Tuhan. Kita memiliki imam diatas segala imam yaitu Yesus Kristus sudah siap untuk mengampuni akan dosa-dosa kita dan Ia akan memberikan upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Apa hadiah terbesar Allah bagi kita? Ketika Allah mengutus anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa-dosa kita, itulah hadiah yang terbesar dimana Kristus lahir dalam hati kita. Apa hadiah terbesar untuk gereja? Hadiah terbesar untuk gereja bukan izin, bukan gedung gereja itu sendiri, tetapi hadiah terbesar untuk gereja di dalam sejarah adalah Tuhan memberikan spririt reformasi yang di mulai oleh Martin Luther tahun 1517, dan kita melihat bagaimana reformasi membangun lagi satu kebahagiaan kita karena kita mengenal siapa Tuhan melalui firman, kita mengenal apa artinya hidup dalam sukacita, kita mengenal apa artinya hidup dalam kemenangan iman, karena firman boleh membukakan itu semua kepada kita. Apa kelanjutan dari reformasi? Mungkinkah anak cucu kita tidak mengerti tentang spirit reformasi, dan mereka terhisap lagi dalam organisasi gereja, rutinitas gereja, tidak punya lagi kebahagiaan spiritualisa karena mereka boleh menginjili orang? Mungkin. Itu sebab kita perlu berjuang agar reformasi jangan hanya sekedar monumen yang akhirnya kita kunjungi nanti, melainkan api yang boleh membakar hati kita untuk mengerti kehendak Tuhan, dan bagaimana seharusnya kita bergerak untuk terus menjangkau jiwa demi jiwa kembali kepada Tuhan.

 

Apa warisan reformasi yang boleh kita ingat? Apa warisan spirit reformasi yang boleh mempengaruhi seluruh hidup kita, bahkan sampai mempengaruhi Gereja Reformed? Minimal setiap kita memahami roda reformasi terus berjalan, dan tidak boleh berhenti, serta harus terus menggerakan kita dengan spirit sola scriptura mengingatkan kita bahwa hanya Alkitab sumber kebenaran, hanya Alkitab yang bisa mempertumbuhkan iman kita, membawa pengenalan kita akan Tuhan dengan benar, dan hanya melalui iman dalam Yesus Kristus kita dibenarkan, bukan melalui jasa kita, bukan melalui upaya kita, dan seluruh hidup kita apa yang kita capai, apa yang kita raih semuanya hanya karena anugerah, bukan karena hebatnya kita, dan seluruh hidup kita bisa menjadi pemenang bagi Tuhan jikalau hidup kita terus berpusat kepada Kristus, dan jikalau hidup kita terus berpusat kepada Kristus maka perubahan demi perubahan itu akan terjadi dalam kehidupan kita. Setelah semua itu terjadi kita boleh terus menyatakan dalam situasi apapun juga soli Deo Gloria, kemuliaan hanya bagi Allah, bukan karena hebatnya kita maka kita sukses menjadi seorang pengusaha, bukan kerena hebatnya kita, kita sukses menjadi seorang ayah, seorang ibu yang boleh membesarkan anak-anak boleh melayani Tuhan, tetapi semua kita kembalikan hanya karena anugerah Tuhan dan kemuliaan dikembalikan kepada Tuhan.

 

Selanjutnya bagaimana dengan tantangan reformasi di depan? Dan bagaimana dengan masa depan reformasi di depan? Martin Luther merubuhkan teologi-teologi yang penuh dengan kepalsuan, Martin Luther menghancurkan nilai spiritualitas tanpa Kristus. Dan Calvin membangun teologi yang benar, bagaimana seharusnya kita mengerti konsep tentang Allah, Gereja, Kristus dan yang lain-lain. Kita tahu tantangan mereka yang terbesar pada saat itu yaitu kebangunan zaman renaissance. Zaman renaissance meninggalkan zaman abad pertengahan, yaitu kebangunan budaya, dimana budaya Eropa mulai di Italia mempengaruhi negara-negara Jerman, Perancis, Swiss dan lain-lain, disitu mereka yakin Eropa punya nilai budaya seni, Eropa punya nilai seni lukis, seni pahat dan seni-seni yang lain, mereka meninggalkan abad pertengahan yang berkiblat kepada Yunani, mereka percaya mitologi-mitologi Yunani, dan mereka membangun satu budaya yang pusatnya adalah Eropa, dan saat itu ada di Italia, maka banyak pelukis-pelukis hebat pada saat itu bangkit, yaitu Michael Angelo, Davinci. Dan Pusat seni itu adalah gereja. Abad renaissance membawa kita berpikir kristis, objektif tentang yang disebut namanya kebenaran. Karena itulah reformasi pada saat itu ditengah iman dibangun.  Tetapi kebangunan seni dan budaya juga luar biasa. Dan kita tahu setelah zaman reformasi baru ditemukan dan dikembangkan pada saat itu, maka mesin fotokopi dan mesin-mesin yang lain baru ditemukan pada abad itu. Itu berarti menjelaskan kepada kita setelah orang kembali kepada firman otaknya juga dicerdaskan. Jadi tantangan pada saat itu berbeda sekali dengan tantangan kita pada saat ini.

Tantangan kita adalah zaman sekarang terjadi pertemuan yaitu zaman global dan zaman keragaman budaya. Zaman global ditandai dengan teknologi yang mempermudah kita untuk berkomunikasi, kita bisa menyaksikan apapun dengan cepat melalui televisi dan Handphone kita. Zaman ini adalah zaman kemajemukan tanpa bentuk, dimana keragaman budaya bisa saling mempengaruhi. Budaya film Hollywood bisa mempengaruhi trend setiap anak-anak muda bahkan juga orang tua. Keragaman seni, musik, gaya hidup bisa mencekoki dan mempengaruhi orang lintas negara.  Di sinilah maka pertemuan zaman global dan zaman keragaman budaya memanjakan kita untuk menikmati hidup dan mencoba segala sesuatu hinga akhirnya kita kehilangan identitas. Zaman ini juga terjadi pertemuan zaman humanis, dimana manusia ditinggikan setinggi-tingginya, dan berhak berteriak akan hak mereka harus dipenuhi. Ini mempengaruhi gereja dengan teologia humanis masuk ke gereja. Anak-anak sekarang banyak yang minta hak mereka, dan mereka tidak punya lagi spirit kewajiban. Kenalilah zaman dimana kita berada. Ini zaman hedonis, setiap orang mempertontonkan apa yang dia pakai. Zaman ini juga adalah zaman materialism, segala sesuatu dilihat dari sesuatu yang riil, yang berbentuk, membuat kita menjadi orang yang konsumerisme, membuat kita sangat dengan bebas membeli segala sesuatu, padahal belum tentu itu butuh, hanya karena ingin. Kedua zaman ini membuat kita menjadi orang yang bebas tanpa batas, zaman ini toko-toko secara nilai realita akan kalah dengan toko online. Kita tidak sadar kekristenan akan bisa mundur ditelan oleh zaman ini. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan akan mundur, akan diubah menjadi sosial gospel, Injil hanya berbicara menolong orang lain. Maka saudara kita melihat zaman ini dengan tantangan reformasinya.

 

Hal pertama yang diserang adalah teologi. Reformed hadir memberikan filter teologi untuk setiap orang punya kecerdasan, punya visi dan misi, teologi reformed, warisan pengakuan iman rasuli, warisan dalam sejarah, itu yang harus dijaga. Yang kedua yaitu keluarga. Gereja adalah institusi yang terbesar, gereja yang kecil adalah suami, istri dan anak-anak yang ada di rumah. Reformasi mengembalikan fungsi seorang ayah dan ibu, menjalankan fungsi sebagai raja, imam dan nabi dalam mendidik anak. Reformasi mengembalikan hakikat kesucian keluarga, reformasi mengembalikan bagaimana seharusnya keluarga bersama-sama melayani Tuhan. Jadi akhirnya melalui reformasi keluarga menemukan identitas yang baru, tetapi zaman sekarang banyak keluarga mengalami kehilangan identitas. Yang ketiga yang akan menyerang kita adalah dunia. Tidak ada lagi budaya boundary life. Reformasi meninggalkan budaya adanya batasan-batasan etika di dalam kita bergaul di dunia. Calvin membangun spirit boundary life. Melalui ini ia memberitahukan memberitahu kepada kita, kemerdekaan kita dalam Kristus menyadarkan kita nilai hidup bagi Kristus, menyadarkan kita mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang suci dan mana yang tidak suci, dan mencerdaskan kita untuk bagaimana kita memilih mana yang benar Mengapa ada spirit Ecclesia Reformata Semper Reformanda Secundum Verbum Dei? Gereja secara institusi harus terus melakukan reformasi. Ecclesia adalah kita, kita pun harus terus punya kewaspadaan rohani, pembaharuan demi pembaharuan untuk hidup kita berkenan kepada Tuhan. Maka ketika kita baca Alkitab biarlah firman yang murni dan suci itu kembali membersihkan kita, kembali mencuci kita untuk kita untuk menjadi tahir supaya kita kembali membangun budaya yang benar, teologi yang kembali kepada teologi salib kemuliaan, mengembalikan keluarga hanya untuk melayani Tuhan.

 

  1. Tantangan yang pertama adalah teologi

Teologi reformasi memberikan kepada kita pengajaran yang disebut teologi hidup. Teologi hidup menyatakan segala sesuatu yang kita tahu harus sungguh-sungguh bisa mengubah akan tingkah laku kita dan perbuatan kita, bagaimana teologi itu bukan hanya sekedar kepuasan kiita berpikir, tetapi menjadi suatu nilai kredo kita, nilai pondasi hidup kita, dan ini mempengaruhi karakter kita dengan apa yang kita perbuat. Serangan teologi pada zaman ini yaitu pertama teologi salib sudah bergeser pada zaman ini diubah menjadi teologi humanism. Teologi salib mengingatkan akan pengorbanan kita bagi Kristus yang terbesar, melalui berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus yang membawa manusia kembali kepada Tuhan dan diubahkan. Teologi salib mengingatkan kepada kita kasih yang murni yaitu kasih kepada Allah Bapa yang telah mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus mati menebus dosa-dosa kita. Sedangkan teologi humanis tidak lagi membicarakan teologi salib, tidak bahas tentang penderitaan. Teologi humanis membuat kita menjadi manusia tanpa bentuk, nilai ketaatan. Teologi kenikmatan membuang yang namanya sakit penyakit, membuang yang namanya penderitaan, kemiskinan, diganti dengan kesuksesan dan kekayaan, dan akhirnya kemuliaan identik dengan kemuliaan lahiriah, kemuliaan identik dengan seluruh kekayaan dari dunia. Reformasi merubuhkan teologi yang salah, merubuhkan kemunafikan, dan akhirnya membangun satu teologi yang benar melalui Calvin, dan kita lihat dalam sejarah gereja terjadi kebangunan, orang puritan membangun lagi spirit Penginjilan. Hal ini tidak ada di dalam teologi pluralism. Penginjilan telah diubah menjadi sosial gospel, yaitu yang penting kebaikan, kemurahan, bukan pemberitaan Injil bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, hanya melalui Yesus ada pengampunan dan penebusan, dan melalui teologi pluralism kita dibuat seperti sama dengan semua agama, akhirnya kita dibuat berpikir semua agama mempunyai jalan menuju surga, kita menjadi orang yang kehilangan api, kiita kehilangan spirit amanat agung itu.

 

Mari kita pertahankan dan tetap menghidupi teologi hidup itu menjadi sesuatu yang memang kita hidupi, karena reformasi mengingatkan kita teologi yang hidup itu, bagaimana melalui Alkitab kita boleh mengenal Tuhan. Jangan engkau hanya sekedar puas engkau tahu tentang Tuhan, teapi bagaimana apa yang engkau tahu itu membuat engkau punya satu pengakuan, dan apa yang engkau akui itu punya satu nilai pondasi mempengaruhi hidupmu sebagai doktrinmu. Ini yang dimaksud prinsip BCD (Bible, Creed And Doctrin), ini menjadi sesuatu yang terus terproses dalam hidup kita, Alkitab baik untuk mengajar kita, Alkitab baik untuk menyatakan kesalahan kita, Alkitab baik untuk memperbaiki kita, Alkitab baik untuk memimpin kita dalam kebenaran, setelah itu (ayat 17) kita akan diperlengkapi menjadi pelayan Tuhan yang handal. Itulah yang dikatakan Paulus dalam 2 Timotius 3: 16 – 17. Apa yang kita tahu harus mempengaruhi hidup kita, dan tingkah laku kita. Seperti apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 22, kita tidak boleh sama dengan dunia ini. Bagaimana kita tidak boleh sama dengan dunia ini? Berubahlah oleh pembaharuan akal budimu, iman yang sudah Tuhan tanamkan dalam hatimu, firman yang kau baca akan mendorong engkau bisa berubah tidak sama dengan dunia ini, dan engkau tahu mana kehendak Tuhan yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Bagaimana kita tahu kalau Alkitab itu sudah menjadi kredo dalam kehidupan kita?  Dia akan mempengaruhi karakter kita dengan total, dia akan memperbaharui penguasaan diri kita, dia akan mempengaruhi akan kesetiaan kita, kemurahan hati kita dan kasih kita, serta totalitas kita sampai hidup kita boleh menyaksikan Kristus yang yang hidup di dalam hidup kita. Melalui bagian inilah ini warisan reformasi, teologi harus menjadi teologi hidup, melalui sekolahmu, studimu, pekerjaanmu, usahamu, dan keluargamu, engkau mewakili Tuhan sehingga orang lain tertarik seluruh rahasia mutiara hidupmu.

 

  1. Tantangan yang kedua adalah keluarga

Institusi yang terbesar dari gereja adalah kita, tetapi institusi yang terkecil adalah keluarga. Keluarga dirusak oleh zaman ini. Kebahagiaan keluarga dulu identik dengan keluarga yang mengenal akan firman, suami istri berusaha untuk nabung, untuk bisa beli Alkitab, dan Alkitab itu diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak.  Martin Luther dan tokoh-tokoh reformasi, mengembalikan kepada kita teologi yang benar, dan puncak teologi keluarga adalah teologi orang Puritan. Di sini kita diingatkan, mari kita selalu bergaul dengan Tuhan melalui pendekatan firman setiap hari kepada anak-anak kita, sehingga melalui fungsi daripada keluarga, ayah dan ibu diingatkan peran dan fungsinya sebagai raja, imam, dan nabi. Harus bisa memimpin anak-anak, harus bisa menegur dosa anak-anak, dia harus bisa menjadi imam untuk anak-anak kembali kepada Tuhan sampai sungguh-sungguh mengenal siapa Tuhan. Zaman ini akan menyerang kita, menghancurkan kita tidak lagi menjadi keluarga yang theo centris, keluarga yang tidak lagi memusatkan Tuhan, tetapi menjadi keluarga yang human centris, tidak ada lagi firman, yang ada adalah setiap anak kita boleh berhak mendapatkan hak-hak mereka, kebebasan mereka, kenikmatan mereka, firman tidak lagi menjadi pusat mengajar anak kita, yang kita katakan cuma kata-kata motivasi, tidak ada lagi teguran dosa, yang ada hanya dorongan berhasil, kaya dan segala sesuatu. Jadi kita menjadi human centris, dan akhirnya kita akan menjadi terhisap menjadi keluarga yang kompromi, dan terpengaruh LGBTQ. Jadi di sini kita diingatkan lagi, mari kita bangun keluarga yang theo centris, keluarga yang memusatkan Tuhan, keluarga yang harus melayani Tuhan dalam kekompakan, keluarga yang harus terus mementingkan firman supaya keluarga bertumbuh imannya sama-sama.

 

Spirit reformasi dalam keluarga khususnya orang-orang puritan mengingatkan kita lagi keluarga yang berkarakter kudus yaitu:

  1. Kuat dalam iman, melalui anak-anak yang bermoral dan beretika.
  2. Keluarga yang takut akan Allah, melalui keluarga itu senantiasa mementingkan ibadah.
  3. Selalu memiliki keteladanan rohani, melalui sikap mau melayani.

 

  1. Tantangan yang ketiga adalah dunia dalam budaya bebas

Spirit postmodernism dan sekulerism, menjadikan segala sesuatu relative, tidak lagi ada yang mutlak, semua bebas menafsir. Aku bebas melihat Alkitab itu benar atau tidak benar dari sisi penafsiranku, aku bebas katakan bahwa Alkitab itu ditulis oleh orang yang beriman, bukan inspirasi, aku bebas memilih Alkitab itu benar atau tidak benar berdasarkan tafsiran diriku sendiri, jadi semua dianggap relative, sumber kebenaran dianggap relative, itulah zaman sekarang. Maka zaman sekarang banyak orang free thinker karena dibelakangnya ada paradigma-paradigma posmoderism. Dan apa yang sudah diwariskan oleh John Calvin dalam theologi stewardship, orang Kristen harus kerja keras, orang Kristen harus berjuang, orang Kristen harus bertanggung jawab, orang Kristen harus disiplin dalam rohani ataupun dalam menggunakan waktu, dan orang Kristen harus hidup sederhana, irit. Berhati-hatilah dengan budaya bebas yang bukan budaya Reformed.

 

Spirit Reformasi yg dimulai abad 16 merupakan gerakan yg murni, unik dan tidak tertandingi karena:

  1. Motivasi reformasi adalah kembali pada Kitab Suci.
  2. Mengaku segala sesuatu berdasarkan anugerah dan kedaulatan Tuhan.
  3. Hanya melalui iman manusia dapat dibenarkan dan bukan karena jasa manusia.
  4. Kaum pilihan dipanggil bukan hanya untuk mengabarkan Injil dan kebenaran saja, melainkan juga dipanggil untuk melaksanakan Mandat Budaya melalui pencerahan dari firman Tuhan untuk mencerahkan dunia yang berdosa ini.

Di dalam sejarah dicatat bahwa teologi Reformed telah membuktikan dirinya memberikan kontribusi di dalam konsep “Demokrasi” , “Bermasyarakat” , “Pendidikan” dan “Etos Kerja”.

 

Teologi Reformed yang tanpa kompromi berani membela kebenaran, atas serangan-serangan kaum Cult. Telah membuktikan kemurnian pengajarannya dan kekonsistenannya hingga pada saat ini. Kenapa bisa bertahan? Karena kita mempertahankan iman rasuli, kita mempertahankan pengakuan-pengakuan iman dalam sejarah gereja, sampai saat ini kita berdiri teguh melawan penyesat-penyesat.

 

Konsep tentang General Revelation dan Common Grace, telah menjadi keunggulan teologi Reformed dalam menghadapi masalah-masalah culture, science, etic. Bahkan telah memberikan bimbingan dan pencerahan untuk penemuan-penemuan ilmiah hingga jaman modern ini, juga terhadap filasafat New Age dan Postmo, dll. Teologi Reformed merupakan salah satu teologi yang paling tahan uji dan paling unggul untuk memimpin orang Kristen melalui peperangan iman dan memberi petunjuk untuk hari depan umat manusia yang lebih baik lagi. Jadi teologi ini adalah teologi yang membawa kita berpikir futuris, terus kita berpikir bagaimana maju ke depan.

 

Jadi apa yang harus kita perbuat untuk masa depan reformasi?

Mari kobarkan api penginjilan hadir dalam dirimu, mari kita kobarkan semangat pengajaran firman Tuhan, mari kita kobarkan spirit mandat budaya, dan mari kita kembangkan pelayanan musik, pendidikan, dll.

 

Roma 12: 11. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

 

Amsal 13: 13. Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.

 

Amsal 16: 20. Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

 

Amsal 11: 30. Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang.

 

Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami