The Sovereignty of God: Democracy & Christian Faith

The Sovereignty of God: Democracy & Christian Faith

Categories:

Bacaan alkitab: Mazmur 103: 19; Yakobus 3: 13 – 18

 

Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Berarti ini mengingatkan kepada kita Kristus menyatakan karakter kita adalah pembawa damai, jadi di dalam dimensi apapun, di dalam satu kualifikasi apapun, di dalam kebijakan apapun, di dalam satu keputusan apapun kita harus mengingat kita dipanggil untuk menabur kebenaran bukan kebohongan, kita dipanggil untuk menabur sesuatu yang terang, sesuatu yang menyatakan kemuliaan Tuhan bukan penghakiman, kenapa? karena kita pembawa damai Tuhan.

Jadi melalui peristiwa demi peristiwa, melalui kejadian demi kejadian kita baru tahu apakah kita sungguh-sungguh orang yang benar dimata Tuhan ketika kita merespon sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi disitulah kita baru tahu siapakah kita dihadapan Tuhan. Maka berbicara kedaulatan Tuhan berarti berbicara nilai tanggung jawab kita pada waktu kita hidup. Maka kedaulatan Tuhan ketika dikaitkan demokrasi, maka pertanyaan kita, apakah rancangan Tuhan untuk manusia hidup diseluruh dunia sistem negaranya adalah demokrasi? Di dalam Alkitab dicatat seluruh sistem yang diajarkan oleh Tuhan mula-mula adalah teokrasi, di dalam perjanjian baru adalah Kristokrasi, maka ketika Tuhan mengijinkan untuk pertama kali ada sistem demokrasi, maka lahirnya satu kerajaan yang dibangun dari suara bawah, suara keatas maka Israel meminta dipilih ada raja, dan ternyata raja yang diinginkan ternyata raja yang secara lahiriah mereka tekankan yaitu orang yang tinggi, ganteng dan gagah, maka Israel akhirnya memilih Saul untuk menjadi raja, maka Tuhan di dalam proses akhirnya menyesal karena memilih atau mengijinkan semua terjadi karena hati Saul yang tidak khususnya mengutamakan Tuhan.

Pertanyaan kita mungkinkah dalam demokrasi kita bisa salah pilih dan kita menyesal? Mungkin. kedua, mungkinkah melalui demokrasi kita bisa benar dan tidak menyesal? Mungkin. kenapa yang pertama bisa menyesal? Karena mungkin kita seperti Israel tertipu dengan fenomena. Kenapa kita memilih tidak menyesal? Karena kita pilih dalam standar Alkitab. Di dalam bagian inilah kita harus mengerti setiap panggilan kita dalam nilai tanggung jawab kita hidup di negara Indonesia, di negara apapun juga harus punya kualifikasi menyatakan kebenaran melalui profesi kita, menyatakan kebenaran melalui seluruh keberadaan kita, menyatakan kebenaran melalui situasi-situasi yang sulit, dan kita harus berani menyatakan itu.

 

Pendahuluan

Apakah orang Kristen perlu terlibat dalam politik? Jawabannya adalah orang Kristen sangat perlu masuk politik, orang Kristen sangat perlu ada di militer, orang Kristen sangat perlu ada di kepolisian, orang Kristen sangat perlu ada di angkatan udara, orang Kristen sangat perlu ada di elemen pemerintah. Kenapa demikian? Karena kita dipanggil terhisap dengan yang disebut general public, dan general public adalah tempat dimana kita mengaktualisasikan nilai-nilai Kristen melalui profesi kita.

 Pertanyaan lanjut, apakah Gereja boleh terlibat dalam politik? Jawabannya tidak bisa. Tuhan tidak pernah mengijinkan politik masuk di dalam keagamaan dan Tuhan tidak pernah mengijinkan agama memakai politik, dan itu artinya Kerajaan Tuhan yang dibangun bukan bedasarkan kekuatan politik, Kerajaan Tuhan yang Tuhan bangun bukan bedasarkan kekuatan militer, bukan kekuatan uang, tetapi bedasarkan Kerajaan Allah isinya adalah kebenaran, sukacita dan damai. Jadi tiga ciri daripada Kerajaan Allah adalah ada kebenaran, ada sukacita, dan ada damai. Jadi jikalau Kerajaan Allah itu hadir damai itu hadir, orang bertobat akan kembali kepada Tuhan. Jikalau Kerajaan Allah itu hadir akan ada sukacita surgawi, dimana banyak orang boleh sungguh-sungguh dipakai menyenangkan hati Tuhan karena orang berdosa kembali kepada Tuhan melalui mulut bibir kita. Dan jikalau Kerajaan Allah itu hadir maka kebenaran itu dinyatakan dan orang makin bertumbuh imannya. Disini maka kita mengatakan Gereja tidak boleh masuk dalam politik secara aktif dan secara praktis.

Apa manfaatnya jikalau kita harus terjun dalam politik? Ingat, fungsi kita di dunia menjadi garam dan terang. Artinya melalui kekuatan politik engkau harus mematikan potensi dosa yang berkembang, engkau harus bisa mencegah supaya kebusukan moral itu tidak terjadi, kebusukan korupsi itu tidak terjadi, dan melalui politik kita mau menjadi terang, kita mau sungguh-sungguh menyaksikan Kristus itu hidup. Disitu berarti manfaatnya ketika kita punya profesi politisi, ketika kita punya profesi apapun juga jangan lupa panggilan kita dalam publik adalah garam dan terang. Jadi manfaatnya jelas sekali kita menggenapkan kehendak Tuhan dan kita menjadi saksi Tuhan.

Mengapa banyak orang Kristen menghindari dunia politik? Karena banyak orang yang mengatakan politik itu kotor, politik itu jahat, politik itu mendatangkan sesuatu yang mencemaskan. Maka saya tanya, apakah benar politik itu jahat? Ketika Plato mengungkapkan satu pemikiran tentang nilai kerakyatan republik yang yang baik secara parlemen dan segala sesuatu dari kata itu perlu kita mengerti demokrasi intinya adalah kekuatan rakyat. Maka ketika kita mengatur sistem kerakyatan dalam suatu negara itu namanya politik. Politik selalu berkaitan dengan kebijakan, kebijakan berkaitan dengan keputusan segala sesuatu yang bersifat global demi kesejahteraan rakyat. Maka Politik tidak jahat, tapi ketika politik itu dipakai untuk kekuatan, kejayaan dan kekayaan para politisi dan partai saat itulah politik sudah menjadi politikus, bukan politisi disitulah politik menjadi jahat. Kata politikus menunjukan ada orang-orang yang munafik menghalalkan segala cara supaya kepentingannya, kekuasaannya, uang yang ia peroleh semua didapatkan dan dia menghalalkan segala cara bahkan membunuh hati nurani. Politisi adalah pelayan rakyat, bukan memanfaatkan rakyat untuk kekuasaan mereka. Maka ketika kita harus terjun dalam politik itu adalah panggilan.

Bolehkah orang Kristen mengadakan revolusi? Tidak boleh. Panggilan kita adalah membawa damai. Allah bertahta disurga, Kerajaan kuasa-Nya ada di dalam segala sesuatu, jadi Allah tidak mungkin kalah dengan kekuatan militer, Allah tidak mungkin kalah dengan kekuatan ekonomi, Allah tidak mungkin kalah karena kekuatan politik, Allah tidak mungkin kalah karena kekuatan budaya, karena tahta surga adalah tempat Allah menyatakan kuasa, dan Kerajaan kuasa Tuhan dinyatakan diatas segala sesuatu. Dalam bagian itulah jelas kita punya kaidah daripada Yakobus 3 : 13 – 18, bagaimana hikmat dari atas ke bawah membawa kita menjadi peace maker, kalau hikmat dari bawah ke atas membawa kekacauan, jadi program kita bukan membuat dunia ini kacau. Jadi disinilah bagaimana kita harus mengerti panggilan kita adalah panggilan untuk menjadi orang yang menggenapkan kehendak Tuhan dan menjadi saksi hidup Tuhan melalui seluruh kehidupan kita.

 

Pembahasan.

 

Apa yang menyebabkan dunia ini jahat dan tidak adil berkaitan dengan kedaulatan Tuhan, demokrasi dan iman Kristen?

  1. Ketika “kuasa” kerajaan, pemerintahan, politik, ekonomi, militer, budaya, media, dan lain lain memakai AGAMA untuk membenarkan tindakannya atau Contoh ketika Tuhan Yesus Kristus lahir. Herodes memakai ahli-ahli agama untuk mencatat benarkah akan lahir Raja orang Yahudi yang disebut Mesias. Maka ketika orang-orang majus mereka datang daripada tempat yang jauh juga ditanya dan ditawarkan satu kebaikan, dijamu, setelah itu ditanya, setelah itu diminta jika sudah bertemu untuk memberitahu, padahal tujuannya Yesus ingin dibunuh. Maka setelah tidak diberitahu oleh orang-orang majus, dan akhirnya ada keputusan politik kerajaan pada saat itu memakai pergerakan agama yaitu setiap bayi laki-laki daripada satu sampai tiga harus dibunuh. Jadi kita tahu dalam catatan Alkitab Yesus lahir ada tantangan, Yesus lahir ada ancaman, dan saat itu ada pengorbanan dimana ayah dan ibu menangis karena bayi-bayi mereka dibunuh oleh Herodes. Disitulah kita bisa melihat ketika kekuatan pemerintah, kekuatan politik memakai agama untuk membenarkan diri disitulah ada kekacauan. Hikmat dari atas ke bawah menciptakan damai, hikmat dari bawah ke atas menciptakan satu kekacauan.
  2. Ketika AGAMA memakai “kuasa” kerajaan, pemerintahan, politik, ekonomi, militer, budaya, media, dan lain-lain untuk membenarkan tindakannya atau Contoh ketika Yesus Kristus mati. ahli-ahli agama bertemu dengan orang-orang farisi yang dimana orang farisi adalah ahli taurat yang terjun dalam politik, mereka mensiasati, mereka mengatur untuk menangkap Yesus tujuannya adalah supaya Yesus diadili dan dihukum sampai Dia mati. Saat itu kita baru tahu ketika keagamaan dibangunnya dari bawah ke atas dia akan mengalami kebutaan secara rohani, tetapi ketika keagamaan itu dilihatnya dari atas ke bawah semua akan melihat dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah, ketika keagamaan itu dilihat dari atas ke bawah maka akan mementingkan kehendak Tuhan harus dinyatakan di bumi seperti di surga. Disinilah kita bisa melihat bahwa banyak manusia memanfaatkan agama, dan agama juga memanfaatkan kuasa pemerintahan dan politik untuk membenarkan akan kehendaknya itu namanya terror, dari terror menjadi tindakan itu namanya teroris. Jadi disini harus hati-hati kita dipanggil bukan untuk mengadakan kekacauan, kita dipanggil untuk menyelesaikan kekacauan, damai terjadi dan manusia damai dengan Tuhan, dan manusia damai dengan dirinya, dan manusia damai dengan orang lain, itulah panggilan kita.

 

Ketika Allah berdaulat atas waktu, hidup manusia, pemerintahan dan setan kita sudah melihat dalam catatan sejarah bahwa Allah menciptakan waktu yang bersifat alfa dan omega, maka di dalam waktu Tuhan yang bersifat kairos itulah waktu Tuhan yang kekal dan suci, maka ketika manusia berdosa, manusia tidak bisa lagi berkaitan dengan waktu kairos maka di dalam sejarah dunia, dunia yang dikuasai oleh satu kerajaan yaitu disebut bangsa Asyur. 722 BC Israel dihancurkan dan dibuang oleh bangsa Asyur, 605 BC dan puncaknya 585 BC akhirnya satu suku yang tersisa yaitu suku Yehuda juga dijajah dan akhirnya barang perkakas bait Allah dan beberapa orang dibawa ke Babel yaitu jaman raja Nebukadnezar, sampai akhirnya kerajaan Persia mengalahkan Asyur, setelah itu timbul kerajaan yang baru yaitu Yunani, setelah itu Tuhan ijinkan kerajaan romawi menguasai dunia, dan saat itulah kita tahu puncaknya disitu Kristus hadir, Kristus mati, dan Kristus menyatakan akan kerajaan-Nya, dan kerajaan Tuhan bukan terdiri dari kekuatan politik, militer, ekonomi, budaya dan segala sesuatu, tetapi kerajaan Tuhan hadir dalam damai, sukacita dan kebenaran.

Di dalam bagian ini bolehkah kita mengatakan bahwa Tuhan bisa memakai satu pemerintahan yang tidak seiman dengan kita tetapi dipakai untuk kemuliaan Tuhan? mungkin. Firaun kekerasannya dipakai oleh Tuhan mempersiapkan iman, kesucian, karakter daripada orang Israel sampai menuju tanah perjanjian Tuhan. Jadi disini kita bisa melihat Kristus hadir dalam kuasa-Nya. Dalam Lukas 4: 18 – 19 menyatakan 5 hal, kabar baik kepada orang-orang miskin. Kenapa? karena mungkin yang seperti tercatat dalam Roma 13: 1 – 7 orang-orang itu miskin karena ekonomi hanya untuk golongan tertentu, jadi kekuatan ekonomi dalam suatu negara adalah untuk mensejahterakan seluruh rakyat, tetapi mungkin pada saat itu orang-orang Israel dijajah, mereka ditekan dan dianiaya, mereka mau lepas, tetapi mereka disebut bangsa yang nomor sekian. Maka ketika Tuhan hadir membawa suatu kabar kepada orang-orang miskin supaya mereka mendapatkan kemerdekaan secara nilai hati nurani, mereka mendapatkan secara nilai keimanan sehingga mereka bisa mengatur hidup mereka dengan lebih baik lagi, sehingga pada waktu mereka miskin secara harta tetapi mereka bisa kaya secara iman, itu akan memampukan mereka untuk hidup penuh dengan sukacita.

Dan ketika demokrasi berkaitan dengan pluralisme maka berkaitan dengan masyarakat maka setiap individu diwakili oleh partai politik, apa artinya? Artinya adalah partai politik harus memperjuangkan hati rakyat. Kenapa demikian? Karena ketika ketiga ini kita gabung dikaitkan dengan Roma 11: 36 segala sesuatu datangnya daripada Tuhan, dan kita percaya semua dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan, dari Dia, untuk Dia dan bagi kemuliaan Dia. Itu yang disebut Soli Deo Gloria. Maka ketika Soli Deo Gloria kemuliaan demokrasi terjadi di Indonesia, ketika kemuliaan demokrasi terjadi dalam partai maka intinya adalah mereka harus sadar pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Jadi kalau kita mengerti bagian ini dan akhirnya kita terpanggil ingin terjun dalam politik, engkau bisa mengkaitkan Roma 11: 36, biarlah Tuhan kehendak-Mu jadi di bumi seperti di surga. maka ketika engkau kaitkan kehendak-Mu jadi di bumi seperti di surga berarti engkau mengkaitkan kemuliaan Tuhan Soli Deo Gloria yaitu dengan kemuliaan yang terjadi di dalam nilai kepartaian. Maka ketika pemerintah menyadari dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itulah yang disebut namanya politisi, dia pelayan rakyat, dia bukan perampok rakyat. Jadi disini kita mengerti betapa indahnya ketika kita mengkaitkan segala sesuatu dan memandang segala sesuatu dari kacamata iman Kristen. Jadi ketika kita menjadi pegawai public kita harus mengkaitkan dengan Soli Deo Gloria dalam nilai kuasamu, kebijakanmu, karena pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Menjadi pertanyaan bagaimana sikap kita kalaq demokrasi menuju kearah yang salah? Apa yang paling penting di dalam kita mengikuti demokrasi dan setelah demokrasi adalah SIKAP kita (Yak 3:13-18). Sekarang mari kita melihat sikap tiga tokoh Alkitab dalam menghadapi demokrasi yang salah.

 

  1. Yusuf

Jangan benci, jangan marah, jangan kecewa, jangan bikin dendam politik. Dan ketika kita mengatakan sikap lebih penting perhatikan Yusuf dijual ke Ismail, Ismail jual ke Potifar akibat demokrasi secara individual, kakak-kakaknya marah karena Yusuf sering menceritakan dia punya mimpi, dia menjadi seperti batang gandum yang berdiri, dan kakak-kakaknya akan seperti menjadi gandum yang turun di bawah, seolah-olah dia akan disembah, dan kedua Yusuf sangat dimanja oleh ayahnya, kulitnya selalu bersih, memakai pakaian yang begitu mewah, anak ini terlalu dimanjakan, akhirnya kakak-kakaknya marah. Pertama berniat ingin membunuh, akhirnya pada waktu demokrasi tidak jadi, dimasukan di lubang, setelah itu akhirnya singkat cerita dijual ke Ismail, setelah itu orang Ismail menjual ke Potifar, setelah itu Yakub dibohongi. Jadi kita lihat dia harusnya bisa sedih karena terlepas dari adiknya Benyamin, terlepas daripada ayahnya, sangat sedih, bisa marah? Ya, bisa dendam? Ya. Tetapi apa yang tercatat pada waktu dia menjadi seorang pembantu rumah tangga dia bisa mengerjakan semua dengan sikap yang benar. Maka Kejadian 39: 2 – 3 mencatat apapun yang dia kerjakan selalu berhasil karena Allah beserta dengan Yusuf. Penyertaan Tuhan itu sangat penting dalam hal apapun, karena jikalau Allah selalu beserta dengan kita, engkau seorang pembantu pun sikapmu benar Tuhan akan pakai engkau menjadi alat kemuliaan-Nya. Akhirnya dia difitnah oleh istri Potifar karena dia tidak mau berzinah, dia pun bisa menjadi berkat dipenjara, karena apa? Tuhan beserta dengan dia. Maka pada waktu kerajaan mengalami mimpi yang tidak bisa dijawab akhirnya kepala penjara mengingatkan ada orang yang begitu hebat, akhirnya Yusuf dipanggil untuk menterjemahkan mimpi. Disitu kita baru melihat ketika akhirnya menjadi raja, keluarganya datang, akhirnya dalam proses waktu keluarganya tahu bahwa Yusuf itu sudah menjadi raja, singkat cerita akhirnya Yakub mati, kakaknya takut Yusuf dendam, dan lihat apa yang dikatakan: Kejadian 50: 20, 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi

sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. akhirnya Yusuf tahu sekali kehidupan dia dikaitkan dengan sesuatu program Tuhan didepan maka dia tidak punya kemarahan, dia tidak punya dendam, dia tidak punya kebencian terhadap kakak-kakaknya, yang ada adalah damai. Jadi sikap ini penting.

 

  1. Ayub

Yang kedua kita lihat sikap Ayub. Dia menjadi konglomerat yang terkenal, pada saat itu dia kaya luar biasa, Tuhan ijinkan setan mencobai dia, dirampok hartanya, dihancurkan daripada seluruh ternak dan rumahnya, dan anak-anaknya mati, dan dia kena penyakit. Tetapi kita lihat demokrasi sosialisme bisa menimbulkan keirian, maka Ayub tercatat dia mengalami perampokan secara total, dan dia miskin. Benar-benar miskin. Dia sudah miskin, istrinya hidup tidak mendukung dia, dia kehilangan anak, tetapi kita lihat dalam respon dia dalam bagian ini yang paling benar: Ayub 1: 21 – 22. 21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”  22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. Jadi kalau kekuasaan kita diambil kita percaya kedaulatan Tuhan, kalau orang yang kita kasihi diambil itu kedaulatan Tuhan, kalau harta kita diambil itu kedaulatan Tuhan.

 

  1. Tuhan Yesus

Bagian yang terakhir kita lihat Kristus pun disalib karena demokrasi yang bersifat pluralisme, berkaitan semua kepentingan, yang mula-mula Yesus masuk ke Yerusalem disambut dengan luar biasa, setelah Tuhan membiarkan diri-Nya disalib atau Dia dipermalukan orang-orang itu teriak salibkan Dia, salibkan Dia. Apa sikap Tuhan? Tuhan tidak memakai emosi yang tidak suci, Dia menunggu segala sesuatu dalam situasi yang tepat. Dia berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Ternyata setelah Tuhan berkata demikian penjahat disebelah-Nya selalu mempermalukan Dia, akhirnya dia mengerti kalimat itu, akhirnya Tuhan berkata: Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga emgkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk 23:43). Inilah Penginjilan, Tuhan kasih janji penggenapan untuk orang itu akan mendapatkan surga. jadi kita percaya dalam situasi yang sulitpun kita bisa dipakai Tuhan membawa orang kembali kepada Tuhan kalau sikap kita benar, emosi kita suci. Yang ketiga Tuhan menunjukan nilai tanggung jawab: Ibu inilah, anakmu! (Yoh 19:26). Dia menghargai Maria. Keempat: Eli, Eli, lama sabachtani? (Mat 27:46). Kelima: Aku haus (Yoh 19:28). Keenam: Sudah selesai (Yoh 19:30). Ketujuh: Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Luk 23:46). Disitu kita tahu seolah-olah Tuhan dikalahkan oleh agama, seolah-olah Tuhan membiarkan diri-Nya dikalahkan oleh politik, dan mereka tidak tahu Kristus itu akan bangkit. Kristus memperoleh satu kemenangan, setelah itu Dia berkata: kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Jadi kita harus percaya Tuhan itu hidup, Tuhan berdaulat untuk waktu, Tuhan berdaulat untuk segala sesuatu menyatakan kemenangan Kristus dalam kehidupan kita itu jauh lebih penting.

Jadi bagaimana sikap dan perbuatan kita dalam menegakan demokrasi? Yaitu yang pertama kita bisa simpulkan harus menyatakan God’s will, kehendak Tuhan itu lebih penting, bukan kehendak diri. kedua kita harus siap menjadi wakil Tuhan, manusia yang selalu menyaksikan Kristus dimanapun kita berada, seperti perkataan Thomas Aquinas: Panggilan kita dimasyarakat adalah mewakili Kristus dalam profesi kita. jadi kita harus percaya dalam menyikapi segala sesuatu bahwa Allah akan membuat segala sesuatu indah dalam setiap kehidupan kita dalam waktu Tuhan, dan Dia sanggup membuat akan bunga yang indah dalam anugerah seperti taman dalam hati kita, dan kita akan melihat semuanya itu indah dalam waktu Kristus. SOLI DEO GLORIA

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami