Solus Christus

Solus Christus

Categories:

Bacaan alkitab: 1 Timotius 2: 5 – 6; Kisah Para Rasul 4: 12.

 

                        Reformasi biasanya sangat berkaitan dengan yang namanya keselamatan. Salah satu yang paling ditentang di dalam masa reformasi adalah konsep keselamatan. Sebenarnya sola itu baik dari Scriptura, Gratia, Fide, maupun yang kali ini kita bahas Solus Christus dan bahkan sampai Soli Deo Gloria, semua ada hubungannya dengan keselamatan, dan pusatnya adalah di dalam Solus Christus. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan itu hanya diperoleh melalui anugerah Tuhan (Sola Gratia). Sola Gratia diterima melalui Kristus yang mati diatas kayu salib untuk menebus dosa kita, dan dari Solus Christus kita menerima anugerah keselamatan ini. Kita menerima pekerjaan Kristus ini dengan cara Sola Fide, yaitu melalui iman saya kepada Kristus, bukan oleh karena perbuatan baik saya, tapi hanya kepercayaan saya kepada Kristus. Sehingga ini berarti dari awal sampai akhir keselamatan saya semuanya itu dikerjakan oleh Allah saja, makanya saya mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan (Soli Deo Gloria). Tidak ada bagian saya di dalam saya memperoleh keselamatan saya, semuanya dari Tuhan, makanya saya mengembalikan semua kemuliaan hanya kepada Tuhan. Jadi kita boleh lihat ada koneksi antara satu Sola dengan Sola yang lain. Nanti kita boleh lihat sama-sama khususnya di dalam konteks kenapa Solus Christus ini didengungkan pada masa itu. Kita akan membahas Solus Christus itu apa, masih ada efek dan relevansinyakah hingga zaman sekarang?

 

Biasanya Solus Christus itu terutama mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus Kristus itu satu-satunya pengantara kita kepada Bapa. Bapa dan kita itu bukan teman, bukan sahabat, bahkan setelah jatuh dalam dosa, relasi Bapa dan kita itu adalah musuh, lawan, Bapa dan kita hubungannya sangat buruk adanya, sehingga kita membutuhkan seorang mediator, seorang pengantara supaya bisa mendamaikan antara kita dengan Bapa, agar kita boleh dipandang sebagai anak-anak Allah dan hubungannya bisa menjadi baik. Di dalam konsep dunia khususnya agama-agama banyak yang berpikir mungkin tidak perlu mediator, saya bisa memediasikan diri saya dengan Allah, saya bisa berdamai dengan Allah, saya bisa memperkenankan Allah, saya bisa masuk surga dengan usaha saya sendiri, contohnya dengan perbuatan baik saya. Saya tidak butuh pengantara, saya tidak butuh Juruselamat, saya bisa menyelamatkan diri saya sendiri dengan cara perbuatan-perbuatan baik yang saja kerjakan. Tetapi apakah mungkin hal seperti ini dilakukan? Apakah dengan perbuatan baik saya, saya bisa memperkenankan Allah? Jawabannya tentu tidak. Satu dosa saja sudah cukup untuk menghadirkan murka Allah di dalam kehidupannya, tidak mungkin manusia itu berkenan kepada Allah, tidak mungkin manusia itu menyelamatkan dirinya sendiri, sehingga manusia membutuhkan yang namanya Juruselamat, manusia membutuhkan yang namanya Pengantara yang bisa membantu bagaimana manusia yang merupakan musuh Allah ini boleh berdamai kembali dengan Allah.

Hari ini kita boleh belajar Pengantara satu-satunya itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Sebelum kita memulai pembahasannya mari kita coba buka 1 Samuel 2: 25. Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka. Yang saya tekankan dalam bagian ini “jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Kalau kita bermusuhan dengan Tuhan siapa yang bisa membantu kita? Kalau saya bermusuhan dengan Tuhan siapa yang lebih tinggi dari Tuhan, yang dihormati sama Tuhan, dan dihormati sama saya yang bisa mendamaikan saya? Jawabannya tidak ada. Dan puji Tuhan jawabannya ada di dalam ayat yang kita baca tadi, 1 Timotius 2: 5, Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. Yesus bukan hanya manusia saja tetapi Dia juga adalah Allah sendiri yang mungkin mendamaikan saya dengan Bapa. Kita perlu pengantara karena dosa-dosa kita, kita butuh Jutuselamat yang bisa menyelamatkan kita dari hukuman dosa kita, dan Juruselamat yang Tuhan berikan kepada kita adalah Tuhan Yesus Kristus itu sendiri.

 

Bagaimana caranya Tuhan Yesus bisa menyelamatkan kita?

Yang pertama coba kita renungkan kembali di dalam kisah Adam dan Hawa. Misalnya ketika Adam dan Hawa hadir di taman Eden, lalu Adam diperintahkan sama Tuhan untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan, karena jikalau mereka memakannya, mereka akan mati. Coba pikirkan kalau Adam dan Hawa tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, apakah dia mati? Kemungkinan besar tidak. Tetapi masalahnya Adam dan Hawa gagal. Mereka jatuh kedalam dosa itu ada konsekuensinya yaitu menerima hukuman yang kekal. Supaya Adam dan Hawa bisa mendapatkan kehidupan yang kekal paling tidak dia harus loncat dua kali. Pertama, dia harus bayar hukuman dosanya, harus menanggung maut tersebut, dan yang kedua, setelah menanggung maut tersebut dia harus taat kepada perintah Allah secara sempurna supaya akhirnya dia bisa masuk ke dalam surga, dia mendapatkan kehidupan yang kekal. Karena kita di bawah perwakilan Adam dan Hawa kita juga harus loncat dua kali supaya kita bisa masuk kedalam kehidupan yang kekal.

Bisakah manusia menanggung murka Allah? Jawabannya bisa, tetapi hancur. Saya hutang sama Tuhan, bisakah dibayar? Bisa. Dengan cara apa? Dengan saya menerima maut tersebut. Tetapi siapa yang mau kalau begini, kalau kita terima maut pasti hancur semua. Yang kita mau apa? Yang kita mau kita bisa mendapatkan kehidupan yang kekal. Jadi harus ada yang pertama tanggung hukuman atas maut tersebut, yang kedua, harus memampukan kita bagaimana caranya bisa taat sempurna kepada hukum Allah. Harus loncat dua kali supaya kita bisa masuk kedalam kehidupan yang kekal. Masalahnya bisa tidak? Bagaimana caranya supaya semua ini bisa dikerjakan? Jawabannya adalah karena Bapa di surga sangat tahu bahwa kita tidak mungkin bisa menyelamatkan diri kita sendiri, jangankan saya melakukan yang baik, tetapi yang saya kerjakan hari demi hari adalah dosa sehingga Dia tahu itu semua, dan Dia memberikan jalan keluar bagi kita. Bukan saja tidak usah menanggung hukuman yang kekal, tetapi bisa masuk kedalam kehidupan yang kekal. Caranya adalah dengan Bapa yang di surga mengirimkan Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini.

Apa yang Yesus lakukan di tengah dunia ini? Yang Dia lakukan adalah dua hal, Yesus di dalam hidup ini Dia menderita dan puncaknya mati diatas kayu salib untuk menggantikan kita menanggung hukuman dosa. Coba kita pikir sama-sama kalau Yesus mati di atas kayu salib untuk menanggung hukuman dosa saya, saya jadi kaya gimana posisinya? Saya sama Adam jadi mirip tidak? Saya sama Adam jadi mirip ketika dia pertama kali diciptakan yang tetap harus taat kepada perintah Allah. Tetapi masalahnya kita sebagai manusia yang berdosa bisa tidak taat kepada perintah Allah? Kegagalan satu saja sudah menjadi kegagalan semuanya. Bukan saja kita tidak melakukan, tetapi bahkan ketika kita tidak menjalankan perintah yang baik, seperti mengasihi sesama itupun juga merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah yang sama.

Kalau Yesus mati di atas kayu salib untuk menanggung hukuman dosa saya saja itu tidak terlalu ada gunanya, karena untuk saya mendapatkan hidup yang kekal saya tetap harus taat mutlak terhadap perintah – perintah Tuhan. Tetapi puji Tuhan, Tuhan Yesus bukan saja mati di atas kayu salib menanggung hukuman dosa saya, tetapi ketika Dia turun ke dalam dunia ini, Dia hidup secara sempurna taat kepada perintah Allah, kita seringkali mendengar bahwa Yesus itu tanpa dosa. Tanpa dosa apa artinya? Tanpa dosa cuma satu artinya, berarti Dia senantiasa menjalankan perintah Tuhan dengan sempurna, itulah yang dilakukan. Jadi ketika Tuhan Yesus datang kedalam dunia Dia melakukan dua hal untuk kita, yang pertama Dia menanggung hukuman dosa saya, dan yang kedua Dia taat secara sempurna terhadap hukum Allah, sehingga akhirnya kita yang percaya kepada Dia mendapatkan dua hal ini, bukan hanya saja mendapatkan pengampunan dosa, tetapi juga mendapatkan ketaatan yang sempurna terhadap hukum Allah, sehingga Allah melihat kita bukan hanya saja sebagai orang yang tidak berdosa lagi karena Tuhan Yesus sudah menggantikan kita menanggung hukuman dosa, tetapi juga Bapa yang disurga melihat kita sebagai orang yang benar, karena bukan kebenaran saya tetapi kebenaran Kristus yang saya terima dengan iman. Dari sinilah kita bisa berkata bahwa satu-satunya Juruselamat saya, satu-satunya pengantara saya kepada Bapa yang mungkin mendamaikan saya dihadapan Bapa, yang mungkin membenarkan saya di hadapan Bapa hanya Kristus, tidak ada cara lain, tidak ada mediator lain, tidak ada pengantara lain, tidak ada Juruselamat lain yang memungkinkan saya boleh benar dihadapan Bapa dan boleh damai dihadapan Bapa. Ini yang dikatakan dalam Solus Christus, hanya Kristus satu-satunya Juruselamat kita.

 

Menjadi pertanyaan kenapa para reformator menekankan hal ini pada sekitar 500 tahun yang lalu? Apakah gereja Katholik tidak mengajarkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat? Apakah mereka mengajarkan tentang Kristus yang berbeda? Jawabannya tidak. Orang Roma Katholik dan orang Protestan sebenarnya mengakui Kristus yang sama-sama ditulis di dalam Konsili Kalsedon, bahwa Dia adalah memang Allah yang sejati, Dia adalah manusia sejati, Dia tanpa dosa, Dia dilahirkan dari perawan Maria, itu semua yang dipercayai oleh orang Katholik dan juga yang dipercayai oleh kita, dan juga yang dituliskan didalam Alkitab. Kita memahami Kristus yang sama, percaya kepada Kristus yang sama, tetapi kenapa reformasi tetap menegaskan Solus Christus? Yang masalah itu bukan pemahaman Kristusnya, yang menjadi permasalahan adalah Solus-nya (hanya). Apakah Kristus dan pengorbanan-Nya, dan karya-Nya itu cukup untuk keselamatan kita atau harus ditambah-tambahkan lagi, itu yang menjadi permasalahannya. Mereka percaya Kristus yang sama, tetapi mereka berbeda dengan Alkitab dan berbeda dengan pengertian keselamatan yang sudah Tuhan Yesus kerjakan itu bisa saya terima. Yesus mati di kayu salib, Yesus menyucikan kita dari segala dosa dan kita terima ini dengan iman. Waktu saya percaya, saya dapat dua hal, pengampunan dosa dan juga ketaatan yang sempurna terhadap hukum-hukum Allah. Tetapi orang-orang Katholik berbeda, mereka mendapatkan semua yang Yesus sudah kerjakan itu, dengan iman, tetapi juga dengan yang namanya sakramen. Mereka percaya ketika baptisan, ketika seorang dibaptis, mereka itu dihilangkan dari namanya dosa asalnya, dan ketika dihilangkan dari dosa asalnya mereka juga mengalami perubahan didalam diri mereka, dan dari sana mereka bisa dimampukan untuk berespon kepada Allah. Itu yang Roma Katholik ajarkan mengenai tentang baptisan. Jadi ada efek yang spesial yang diperoleh oleh seorang percaya ketika mereka dibaptis, dan merupakan awal dari kehidupan mereka sebagai orang Kristen, tanpa baptisan Roma Katholik berkata tidak mungkin seorang itu diselamatkan karena mereka masih memiliki dosa asal mereka masing-masing. Dan setelah itu ada sakramen yang lain yang namanya pengakuan dosa. Baptisan menghilangkan mereka dari dosa asalnya, kalau dosa asalnya dihilangkan dan setelah itu mereka masih melakukan dosa, ada sakramen pengakuan dosa, kesalahannya dihapuskan dengan sakramen pengakuan dosa, tetapi hukumannya itu tidak, hukumannya dihapuskan dengan cara purgatory. Setelah lunas semuanya saya baru masuk ke dalam surga, pengertiannya adalah seperti itu. Dan ada penambahan lagi, Ada jalan lain untuk kita mempercepat purgatory tersebut, namanya indulgensia (surat pengampunan dosa).

Surat pengampunan dosa dikeluarkan oleh Paus dengan dasar karena mereka percaya satu bagian treasury of the saints, atau kita belajar perbendaharaan jasa. Jadi Kristus yang sudah kerjakan semuanya itu kaya, semua yang Yesus kerjakan, berkat-berkat yang diperoleh melalui kematian Kristus baik pengampunan dosa, baik juga ketaatan yang sempurna itu dimasukan ke dalam seperti perbendaharaan, demikian juga jasa-jasa yang dilakukan oleh para santo-santonya dan santa-santanya, baik Maria, ataupun Paulus, Petrus dan segala macam itu semuanya disatukan kedalam perbendaharaan jasa, dan Pauslah yang memiliki kuncinya. Indulgensia itu kenapa bisa berlaku? Karena jasa-jasanya ini banyak dan tinggal dibuka saja oleh Paus dan diberikan kepada orang-orang melalui namanya indulgensia. Yang menjadi permasalahan utama di waktu itu adalah Indulgensianya itu dijual oleh orang-orang untuk membangun Basilika Santo Petrus yang ada di Vatikan.

Kita sebagai orang reformed tidak setuju dengan yang namanya pengampunan dosa dengan cara yang demikian, kita tidak setuju dengan yang namanya perbendaharaan jasa tersebut, dan kita tidak setuju bahwa Paus bisa mengeluarkan itu kepada kita diwaktu-waktu tertentu, dan gereja Katholik masih sampai hari ini percaya ada namanya indulgensia tersebut. Ini yang diprotes oleh para reformator. Yesus itu sudah cukup, saya beriman kepada-Nya saya mendapatkan pengampunan dosa dan juga ketaatan yang sempurna, sehingga saya pasti masuk surga, tidak perlu ditambah-tambahkan dengan yang lain.

 

Apakah Solus Kristus di zaman sekarang masih ada signifikansinya? Jawabannya pasti ada. Kita tetap mendapatkan keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus. Kristus memang satu-satunya perantara kita, satu-satunya Juruselamat kita, itu signifikansi yang paling penting, dan yang paling utama. Yang pertama, saya coba mengajak sama-sama untuk membuka satu bagian firman Tuhan, ada signifikansi-signifikansi yang lain, hanya Kristus di tempat yang lain yang boleh kita renungkan pada zaman sekarang. Kita buka dari Filipi 3: 10. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Roma 8: 29. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 500 tahun yang lalu pergumulan Solus Christus adalah pergumulan melawan pengajaran yang salah dari Roma Katholik, bahwa Kristus saja tidak cukup, masih perlu perantaraan pastur, perantaraan yang lain yang mengerjakan sakramen dan surat pengampunan dosa tersebut. Itu pergumulan 500 tahun yang lalu. Kita sebagai orang reformed harusnya sudah melewati pergumulan ini, karena kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara kita kepada Bapa, satu-satunya Juruselamat kita. Tetapi mungkin kita menghadapi pergumulan yang lain, pergumulan yang tadi kita baca sama-sama, sudahkah hanya Kristus yang harus kita kenal dan serupai? Kadang-kadang kita sebagai orang reformed sendiri tidak terlalu ada kerinduan untuk mengenal Kristus apalagi menjadi serupa dengan Kristus, kita lebih suka mungkin mengenal yang lain dan juga serupa dengan yang lain, bukan menjadi serupa dan mengenal Kristus. Kiranya kita memiliki kerinduan yang dimiliki oleh Paulus dan yang dimiliki oleh Bapa itu sendiri, bagaimana kita mengenal Kristus lebih lagi, dan bagaimana kita menjadi serupa dengan Kristus lebih lagi. Itu yang kiranya boleh menjadi pergumulan kita yang pertama di zaman ini. Sudahkah hanya Kristus yang menjadi kerinduan kita untuk kenal dan jadi kerinduan kita untuk serupai, untuk menjadi model kehidupan kita? Mari kita renungkan sama-sama.

 

Yang kedua, kita coba baca satu bagian firman Tuhan yang lain dari 1 Petrus 3: 15 – 16. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, 16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Yang menjadi penekanan saya adalah apa artinya kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan? Artinya adalah bagaimana kita menempatkan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati saya, bagaimana Dia mengatur seluruh kehidupan saya, karena hati adalah pusat dari kehidupan seseorang, ketika kita menempatkan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati saya, Dia yang bertahta di hati saya, Dia yang mengatur seluruh kehidupan saya, itu namanya yang menjadikan Kristus sebagai Tuhan, dan dari situ baru terpancarlah seluruh kehidupan kita, dari hati keluar seluruh tindak tanduk dan prilaku kita, demikian seharusnya yang kita kerjakan sama-sama. Hanya Kristus Tuhan saya. Sudahkah kita seperti itu? Solus Christus juga di dalam pengertian yang lain. Hanya Kristus Tuhan saya yang bertahta dihati saya, yang mengatur seluruh kehidupan saya. Menarik didalam ayat yang kita baca. Apa hubungannya menempatkan Kristus sebagai Tuhan dengan akhirnya kaya

model Penginjilan atau model apologetika, atau model pertanggungjawaban iman? Hubungannya adalah hanya orang-orang yang mempertuhankan Kristus di dalam hatinya yang terpancar dari kehidupannya, orang-orang seperti itu yang bisa memberikan kesaksian yang baik. Kadang-kadang kita menjadi orang Kristen tidak menjadi kesaksian karena apa? Bukan karena kita tidak mengenal Kristus, bukan karena kita kurang pengetahuan tentang Kristus, tetapi karena kehidupan kita tidak mencerminkan Kristus yang bertahta didalam kehidupan saya, sehingga akhirnya kita bukan jadi kesaksian, kita malah menjadi batu sandungan terhadap orang lain, bukannya memuliakan Tuhan, tetapi malah mempermalukan Tuhan.

 

Poin yang terakhir yang boleh saya sampaikan yang berkaitan dengan Solus Christus didalam kehidupan kita zaman ini adalah kita buka sama-sama Filipi 1: 21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Saya kasih judul bagian ini adalah hanya Kristus ambisi dari hidup kita. Sudahkah Kristus menjadi satu-satunya ambisi dari kehidupan kita, hidup saya hanya untuk Kristus? Apakah sudah seperti ini? Karena hanya hidup yang dipersembahkan kepada Kristus hidup tersebut baru mendapatkan keuntungan nantinya. Hidup yang tidak dipersembahkan, hidup yang tidak dipakai untuk Kristus tidak akan mendapatkan keuntungan. 1 Korintus 3: 11 – 15. 11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 13 sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 14 Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. 15 Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Semua orang yang percaya kepada Kristus akan menerima pengampunan dosa dan masuk ke dalam surga. Tetapi apakah semua orang yang percaya kepada Kristus akan menerima upah yang sama? Jawabannya tidak. Setiap orang akan diuji, entah pekerjaannya tahan uji, atau tidak, entah seseorang membangun dengan emas, dengan perak, atau dengan jerami yang ketika kena api akan hilang semuanya. Kita bekerja bagi Tuhan seperti apa? Kita membangun kehidupan kita di atas Kristus seperti apa? Membangun dengan emas, perak, atau dengan jerami yang akan hancur dihari penghakiman. Orang-orang yang hidup bagi Kristus yang membangun dengan emas, yang membangun dengan perak mereka akan mendapatkan upah yang besar, yang menanti ketika Tuhan Yesus datang yang kedua kalinya. Sedangkan orang-orang yang tidak membangun dengan emas dan perak, tetapi membangun dengan jerami entah apa yang akan mereka dapatkan. Mungkin selamat, tetapi tidak akan ada upah apapun yang diperoleh dari orang-orang tersebut. Hanya hidup yang dikerjakan untuk Kristus yang akan mendapatkan keuntungan, karena hanya hidup yang untuk Kristuslah yang akan mendapatkan keuntungan. Kiranya Solus Christus benar-benar boleh kita hidupi juga di zaman sekarang. Amin.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Bitnami