Sola Scriptura

Sola Scriptura

Categories:

Bacaan alkitab: 2 Timotius 3: 15 – 17

 

Bapak, Ibu, Saudara yang saya kasihi didalam Tuhan kita Yesus Kristus, Sola Scriptura adalah hanya Alkitab satu-satunya otoritas yang paling tinggi, Alkitab itu tidak boleh disandingkan dengan apapun juga secara otoritasnya. Bapak, ibu, saudara, para reformator khususnya Martin Luther ketika berbicara tentang Sola Scriptura mengutip bagian firman Tuhan ini. Bagian ini ditulis oleh Paulus dengan latar belakang seorang Farisi. Pada saat itu tradisi telah disandingkan dan dipersamakan dengan Alkitab, dan orang-orang farisi juga menafsirkan Alkitab dengan semaunya sendiri. Lalu Paulus menuliskan hal ini bahwa Alkitab itu diilhamkan Allah untuk mengajar, untuk menunjukan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik kita didalam kebenaran. Apa artinya? Sola Scriptura yang didasarkan pada bagian firman Tuhan kita ini ada 3 hal:

 

Pertama, ketika menuliskan bahwa Alkitab itu diilhamkan Allah, artinya bahwa Alkitab itu mempunyai otoritas Ilahi, Alkitab itu jangan disamakan dengan pikiran manusia. Pada zaman Paulus, orang-orang Farisi mencampur adukan Alkitab dengan hukum-hukum yang secara lisan diajarkan. Orang Yahudi ketika membaca firman Tuhan, mereka menafsirkan dengan aturan dan regulasi yang ada. Contoh: Ketika firman Tuhan mengatakan kuduskan hari sabat, apa artinya? Apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan? Maka di situ tradisi mulai dipakai untuk menafsirkan, dan itu disetarakan dengan wibawa atau otoritas Alkitab. Pada saat itu dikatakan, orang sakit pada hari sabat tidak boleh disembuhkan kecuali berada di dalam keadaan sekarat, sehingga mencegah jangan sampai orang tersebut meninggal masih boleh diberikan pertolongan darurat tetapi tidak boleh disembuhkan. Jadi kalau ada seorang Farisi, dia sedang berjalan lalu terjadi gempa, kemudian tembok itu terjatuh dan menimpa jemaat Tuhan orang Yahudi, dia akan lihat apakah orang ini bisa bertahan sampai besok, jika sekiranya orang itu dapat bertahan hingga besok, orang Farisi ini akan pergi meninggalkan orang itu tanpa melakukan pertolongan. Contoh yang lain adalah Ulangan 24: 1. Di situ dikatakan kalian boleh bercerai apabila istrimu melakukan hal yang tidak senonoh. Apa artinya hal yang tidak senonoh? Lalu tradisi mulai menafsirkan di situ dan Rabi Hillel mulai mendaftar yang pertama, ketika istri kita masak keasinan, perempuan terlalu cerewet sampai dia ngomong itu kedengaran tetangga, itu bisa menjadi alasan untuk diceraikan. Bahkan ketika istri kita bicara dengan orangtua bicaranya kurang sopan itu artinya perbuatan yang tidak senonoh. Kemudian ketika bicara dengan orang asing lalu tidak pakai penutup muka, tidak pakai cadar pada saat itu istri kit a sudah melakukan hal yang tidak senonoh. Lalu Rabi Akiba menambahkan satu hal lagi. Dia bilang artinya tidak senonoh adalah ketika suami lihat wanita lain, gadis lain lebih cantik daripada istri kita, itu artinya istri kita sudah melakukan hal yang tidak senonoh, kita bisa menceraikan dia.

Saudara tahu pada saat itu orang-orang Yahudi hidup bukan menurut firman tetapi menurut apa kata tradisi, saudara tahu saat itu dikumpulkan semua tradisi yang oral kedalam buku yang namanya Talmut. Satu buku itu ada 248 hal yang positif yang bisa dilakukan, lalu ada 365 hal yang negatif yang tidak boleh dilakukan. Di Yerusalem ada 12 jilid kitab talmut, tiap hari dibuka untuk tahu apa yang boleh dilakukan dan tidak. Jadi bukan Alkitab menjadi otoritas tetapi apa yang boleh dan apa yang tidak di dalam tradisi. Ketika dibuang ke Babilonia, tulisan ini bertambah menjadi 60 volume. Jadi jemaat Tuhan hidup dibawah tradisi dan bukan Alkitab.

Pada saat Martin Luther dan John Calvin menghadapi Katholik, orang Katholik pada saat itu percaya Alkitab adalah firman Allah, tetapi mereka mengatakan bukan hanya Alkitab melainkan juga tradisi. Mereka percaya Yesus Juruselamat, tetapi menurut tradisi Maria itu juga pengantara antara manusia dengan Allah. Mereka percaya orang-orang suci yang dinamakan Santo itu bisa melakukan apa yang dituntut oleh mereka bisa melakukan melampaui itu, dan jasa mereka itu bisa kita minta untuk mengampuni dosa-dosa kita. Katholik percaya Alkitab itu firman Allah tetapi ditambah dengan tradisi, makanya Alkitab Katholik bukan hanya 66 kitab seperti kita ini, ditambah juga dengan kitab-kitab apokrifa, kitab-kitab tradisi pada saat itu. Pada saat itu Martin Luther dan John Calvin menolak akan adanya apokrifa. Sekali lagi Scripture Alone, Alkitab diilhamkan oleh Allah, Alkitab ini dinafaskan oleh Allah. Pada zaman itu para reformator bukan hanya menghadapi Katholik, tetapi menghadapi satu aliran yang radikal Reformed yang dinamakan dengan istilah Anabaptis. Anabaptis pada saat itu mengatakan mereka setuju dengan Reformator, Scripture alone, Alkitab satu-satnya tetapi mereka menafsirkan Scripture alone itu sebagai satu-satunya otoritas orang Kristen dan tidak ada otoritas yang lain. Ini bukan lagi Scripture alone, bukan lagi sola scriptura, tetapi solo scriptura. Ketika itu mereka mengatakan ketika kita membaca Alkitab hanya ada Roh Kudus, kita dan Alkitab. Tidak boleh ada penafsiran, tidak boleh ada commentary, penafsiran manusia. Jadi setiap orang Kristen bisa menafsirkan sendiri secara langsung. Saat itu Martin Luther dan John Calvin mengatakan bahwa ini suatu satu kekeliruan dalam menafsirkan sola Scriptura. Saudara masih ingat ketika di dalam Kisah Para Rasul kita bisa membaca ada sida-sida daripada Ethiopia. Sida-sida itu sedang membaca Alkitab di dalam Yesaya 53, dan pada saat itu dia tidak mengerti. Lalu Filipus Tuhan pimpin untuk datang menafsirkan. Filipus datang dan bertanya “Apa yang sedang tuanku baca”? Sida-sida Ethiopia menjawab: “Saya sedang membaca tentang penderitaan, tentang kesulitan seseorang yang dinyatakan Yesaya, tetapi saya tidak tahu siapa yang dimaksudkan ini. Lalu Fhilipus mengatakan itu adalah Yesus.

Ketika kita membaca Alkitab kita butuh tradisi yang juga menafsirkan Alkitab. Martin Luther dan John Calvin, ketika menafsirkan Alkitab mereka selalu kutip kata Agustinus dan Irenius. Mengapa mereka kutip orang-orang ini? Karena mereka itu begitu setia di dalam menafsirkan Alkitab sesuai konteksnya. Contohnya ketika kita membaca dalam Markus 10:25. Di situ dituliskan bahwa lebih mudah untuk seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apa artinya lubang jarum? Kita melihat bahwa Abraham itu orang yang begitu kaya tetapi masuk surga. Tuhan tidak melarang kita kaya, asal saudara mendapatkannya dengan cara halal dan kita bisa menjadi berkat yang begitu besar. Apa artinya lubang jarum di sini? Ada komentator Alkitab yang menafsirkan ini. Pada jaman itu ketika kota Yerusalem ada pintu gerbang. Unta biasanya jika masuk melalui pintu gerbang utama, beberapa Unta bisa masuk sekaligus, tetapi ketika malam pintu utama itu ditutup, lalu dibuka yang kanan dan kiri pintu kecil, dan yang bisa masuk cuma satu Unta. Ketika masuk juga tidak mungkin kalau ada beban. Beban itu harus diturunkan, lalu unta itu mulai masuk meski agak sedikit sesak. Itulah namanya lubang jarum. Itu berarti orang kaya kemungkinan dapat masuk surga.

Martin Luther dan juga John calvin mengatakan mereka menentang tradisi yang disetarakan dengan Alkitab, tetapi juga menentang solo Scriptura dari Anabaptis, yang mengatakan tidak ada lagi otoritas lain, hanya Alkitab.

 

Kedua, ketika para reformator mengatakan Scripture alone, Alkitab itu satu-satunya, artinya mereka mengatakan Alkitab ini cukup. Di dalam bacaan kita ayat 15 tadi, dikatakan bahwa Alkitab ini mampu menuntun orang kepada keselamatan melalui iman di dalam Kristus. Para reformator mengatakan Alkitab ini tulisan mati, tetapi Roh Kudus yang mewahyukan Alkitab, sehingga ketika engkau dan saya membaca Alkitab, Roh Kudus yang ada di dalam hati kita kemudian menjadi firman yang kita baca itu hidup. Maka tulisan itu bisa menuntun, menunjukkan kesalahan, mengajar, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita di dalam kebenaran. Alkitab ini menjadi hidup karena ada Roh Kudus bersama-sama kita. Calvin mengatakan, apa bedanya Kristen dan bukan Kristen dalam membaca Alkitab? Orang Kristen ketika membaca Alkitab ada Roh Kudus di dalam hati yang kemudian menterjemahkan Alkitab ini menjadi firman yang hidup. Yesaya 55: 11 mengatakan firman itu ketika keluar daripada mulut Tuhan, dia tidak akan kembali dengan sia-sia, dia akan melaksanakan kehendak Tuhan, dan apa yang dilakukannya itu akan berhasil karena ada Roh Kudus yang menyertai. Saudara, kalau kita melihat Tuhan Yesus ketika di atas kayu salib, ada penjahat di sebelah kiri dan kanan Yesus. Kedua penjahat ini sama-sama butuh pengampunan dan mereka mendengarkan firman Tuhan Yesus, “ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Sama-sama dengar firman tetapi kenapa hanya salah satu penjahat itu yang bertobat dan mengimani, dan yang satunya tetap saja melecehkan Tuhan Yesus, awalnya keduanya melecehkan dan menghina Tuhan Yesus, tetapi setelah Yesus berkata: “ya Bapa ampunilah mereka” kenapa hanya salah satu yang bisa mengerti firman Tuhan Yesus? Karena Roh Kudus masuk di dalam hati dia dan menjadi firman yang hidup di dalam hati dia. Roh Kudus menyertai firman, sehingga firman ini keluar dari mulut Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia.

Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus, pada saat itu Martin Luther ketika dia membaca Roma 1:17, sampai di dalam satu kalimat kebenaran Allah, di situ dia terpaku dengan kata itu. Dia mengatakan: Saya sama sekali tidak mengerti kalimat ini. Pada saat itu Katholik mengatakan kita mesti mencapai kebenaran Allah dengan kekuatan kita. Martin Luther mencoba doa, berpuasa. Martin Luther sebelumnya sangat kurus karena dia berpikir berpuasa adalah cara untuk bisa mencapai hidup yang kekal. Tetapi setelah dia menjadi Reformed dia berhenti menyiksa dirinya, dan menjadi lebih gemuk. Mulanya dia menyiksa diri dengan berjalan dengan lutut di tangga Pilatus yang begitu tinggi, sampai lututnya lecet. Dia berdoa menyiksa diri habis-habisan, dia beramal, dia melakukan semuanya, hingga sampai kepada satu kesimpulan bahwa manusia tidak mungkin menyelamatkan diri dengan kekuatan sendiri. Dia mengatakan: Saya sangat benci Roma 1: 17, saya benci dengan yang namanya Yesus, saya benci yang namanya Allah, itu adalah Allah yang begitu kejam. Allah seolah beri tuntutan begitu tinggi dan dia tahu manusia tidak mungkin mencapainya, lalu dia menghakimi manusia, ini Allah yang kejam. Dia mengatakan ketika saya mendengar Yesus yang katanya nanti menjadi hakim di dalam akhir zaman, saya ketakutan seperti mendengar kata iblis. Dia begitu frustasi. Lalu satu kali ketika dia membaca firman Tuhan, Roh Kudus masuk dalam hati dia, lalu dia dicelikkan mata rohani dia dan dibukakan bahwa kebenaran Allah itu bukan tuntutan, tetapi satu pemberian Allah. Itu adalah Divine gift. Inilah anugerah di dalam Kristus melalui iman kepada Kristus. Di situ dia menjadi orang Kristen yang sejati. Lalu dia menuliskan righteousness (pembenaran) itu bukan aktif, bukan kita mesti mencapainya, bukan kita dengan upaya sendiri, righteousness of God itu adalah pasif, dan itu diberikan kepada kita. Yesus yang sudah melakukan segala kebajikan, Dia mati di atas kayu salib supaya kita bisa dibenarkan oleh Allah. Mata rohani Luther terbuka, Roh Kudus masuk dalam hati dia.

 

Pada saat itu gereja begitu sewenang-wenang, gereja dipengaruhi oleh ajaran Siprianus yang mengatakan di luar gereja tidak ada keselamatan, hanya ketika engkau dan saya dibaptis maka kita bisa selamat, tidak dibaptis tidak bisa selamat. Lalu ketika Martin Luther diekskomunikasikan, gereja mengatakan itu artinya keselamatan dia hilang, keanggotaan gereja dia sudah dicabut. Gereja yang menentukan keselamatan bukan percaya kepada Kristus. Pada saat itu gereja yang begitu sewenang-wenang menafsirkan Alkitab semaunya sendiri. Kita buka mazmur 104: 2. Ketika saat itu Paus bersama dengan petinggi-petinggi gereja Katholik membaca Mazmur 104: 2. yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda. Saat itu ditafsirkan bumi bukan bulat, bumi ini datar, jadi ketika berjalan bersama perahu atau kapal hati-hati bisa jatuh ke bawah. Kemudian ini menjadi olok-olok orang dunia pada saat itu. Lalu pada Mazmur 104: 5, yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. Ini ditafsirkan Geosentris, bumi sebagai pusat, matahari dan semua planet mengitari bumi, bukan Heliosentris, matahari sebagai pusat, bumi dan semua planet mengitari matahari. Ketika Galieo Galilei penemu teleskop, mengatakan mataharilah yang menjadi pusat dan bukan bumi, dia dipenjarakan sebagai tahanan rumah, dikasih makanan yang kurang, lalu dia mati di dalam tahanan rumah. Para scientist pada saat itu berontak terhadap gereja. Lalu Nikolas Kopernikus juga mengalami hal yang sama. Kopernikus mengatakan bukan bumi sebagai pusat, tetapi matahari sebagai pusat, Paus dan Gereja mengatakan menurut Mazmur 104: 5 bumi ini pusat, yang lain itu mengitari bumi, ini menjadi tertawaan yang begitu luar biasa. Muncul Martin Luther mengatakan ketika gereja membaca Alkitab bukan gereja yang menafsirkan Alkitab, tetapi Alkitab yang menafsirkan

gereja. Firman Allah ketika Roh Kudus bekerja didalamnya, maka firman ini menjadi hidup.

 

Ketiga, di dalam bacaan kita dikatakan bahwa Alkitab ini bisa menuntun kepada perbuatan baik, Alkitab bukan hanya menuntun didalam keselamatan kita, tetapi juga bisa membuat engkau dan saya menjauhkan diri dari dosa, dan untuk merestorasikan, memulihkan hidup kita. Di dalam bacaan kita, kembali di situ dikatakan Paulus sengaja pakai verb ketika dia berbicara tentang Alkitab. Alkitab akan menuntun kepada keselamatan, Alkitab itu akan mengajar, menunjukkan kesalahan, memperbaiki kelakuan, sampai kepada mendidik di dalam kebenaran. Ketika engkau dan saya membaca Alkitab bukan kita membaca Alkitab, Alkitab yang meneropong hidup kita. Ketika engkau dan saya membaca satu buku yang bukan Alkitab mungkin kita menempatkan diri sebagai subyek, buku sebagai obyek.

 

Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus, ketika Rasul Paulus di dalam Filipi 3: 6 dia menulis: Ketika dulu saya seorang Farisi, saya mentaati hukum taurat itu dengan sempurna. Ini omong kosong, tetapi dia mau katakan orang Farisi kalau membaca firman Tuhan membaca dengan maunya dia sendiri. Ketika dia membaca firman Tuhan, mereka menafsirkan dosa hanya sebatas perbuatan. Lalu dikatakan saya tidak pernah berzinah, saya tidak pernah membunuh, jadi dua dosa ini hilang daripada diri saya, hidup saya. Tetapi Yesus mengatakan dalam Matius 5, Jikalau engkau dan saya melihat wanita lalu kita menginginkannya secara hawa nafsu, lalu terjadi pikiran kotor, fantasi seks, Yesus mengatakan engkau dan saya sudah berzinah. Firman mengatakan jangan membunuh, tetapi engkau dan saya ketika melihat sesama kita lalu dalam hati kita ada satu kali kita bilang “bunuh dia”, saudara dan saya sudah membunuh. Saya ingin tanya siapa di antara kita yang bisa melepaskan diri dari dosa? Tidak ada satupun. Hukum taurat yang ke 10 menulis janganlah engkau mengingini. Saya mau tanya mengingini itu sudah buat atau belum? Belum. Dosa dengan tuntas dibahas didalam firman Tuhan. Pada saat itu Luther, Calvin mengatakan Alkitab harus menginterpretasikan diri-Nya. Luther mengatakan satu kalimat Scripture is interpreting it self, lalu puritan mengatakan Scripture interprate Scripture. Ketika engkau dan saya ada satu kesulitan di dalam satu bagian ayat, saudara harus juga menggunakan ayat yang lain untuk menafsirkan. Ketika saudara lihat ayat jangan berzinah saudara juga harus lihat hukum yang ke 10, mengingini istri sesama itu sudah berzinah, sekalipun kita belum melakukan. Berarti melanggar hukum Allah, Allah bisa melihat sampai hati dan pikiran kita. Alkitab ini jangan dijadikan alat legitimasi, maunya kita lalu kita baca untuk membenarkan diri kita. Alkitab ini meneropong hidup kita, bukan sebaliknya kita menghakimi Alkitab.

 

Tuhan memberkati. Amin

 

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Bitnami