Sang Visioner (Yusuf)

Sang Visioner (Yusuf)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 41:38-49.

 

Pendahuluan

Hidup ini adalah perjuangan baik dalam aspek luar ke dalam maupun dalam ke luar. Perjuangan kita di dalam adalah menghadapi keinginan daging dan dosa yang tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Seluruh keinginan daging itu dihancurkan setelah kita ada di dalam Tuhan. Kuasa dosa dihapuskan dalam diri kita ketika kita menjadi anak-anak Allah. Perjuangan kita ke luar adalah ketika kita menghadapi dunia dengan segala isinya, tawarannya, strateginya. Dunia terus-menerus akan menarik kita masuk ke dalam lumpur dosa dan kenikmatan yang bersifat sia-sia. Pada akhirnya perjuangan kita hanyalah untuk kepuasan diri dan bukan untuk Kerajaan Allah yaitu membawa orang-orang berdosa kembali kepada Tuhan. Perjuangan dan tanggung jawab kita secara horizontal adalah menyatakan kebesaran Tuhan dalam studi dan pekerjaan. Kita terpanggil untuk berjuang dalam mengisi waktu, menerobos waktu, serta mengontrol waktu dan bukan sebaliknya yaitu kita diarahkan, ditelan, dibuang, dan dihancurkan oleh waktu. Amsal 24:33-34 “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,” maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata. Orang malas seperti dikatakan oleh Amsal ini tidur di dalam waktu dan ditelan oleh waktu sehingga tidak mungkin berhasil dan punya nilai perjuangan. Ia terlalu memanjakan diri. Di dalam zaman ini, orang autis bukanlah mereka yang tidak bisa berkonsentrasi tetapi mereka yang terlalu berkonsentrasi dan terlalu asyik dengan gadget-nya. Ketika ada orang lain yang menegurnya, ia langsung marah. Emosinya tidak terkendali sehingga ia susah membangun relasi. Orang-orang yang seperti ini biasanya mengalami penurunan drastis dalam nilai studi, pekerjaan, dan tanggung jawab sehari-harinya. Setan memakai sarana teknologi zaman ini untuk menunggangi manusia. Semuanya bisa diakses melalui gadget kita dan itu memanjakan kita.

Efesus 5:16, dan pergunakanlah (tebuslah) waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Ayat ini mengajarkan kita untuk menebus waktu di tengah situasi yang seperti ini. dalam kenyataannya kita mengalami hal yang sebaliknya yaitu tertidur dalam zaman milenial dengan segala tawarannya. Kita terlalu terikat dengan kepuasan diri sehingga melupakan perintah untuk menebus waktu. Ini menyebabkan kita tidak bisa maju dan membuang waktu. Di sini kita harus mengerti tentang Yusuf yang disebut sebagai orang yang visioner. Ia menggenapkan seluruh visi Tuhan dan menciptakan perubahan. Mengapa ada kesenjangan antara apa yang kita tahu tentang masa depan dengan realita hidup kita? Kesenjangan itu terjadi salah satunya karena kita tidak berjuang dan tidak punya ketekunan untuk maju perlahan-lahan. Yusuf mendapatkan mimpi saat ia masih remaja. Ia masih belum matang namun Tuhan membawanya ke dalam sekolah iman ketika ia tidak lagi tinggal bersama Yakub. Semua kesulitan dan tantangan dilewatinya. Ia menjadi budak tetapi tidak bermental budak. Ia mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik dan menjaga kesucian. Ketika ia dimasukkan ke dalam penjara, kepala penjara memercayakan segala sesuatu kepada Yusuf karena ia mengatur semuanya dengan berhikmat. Hidup kita harus memiliki visi dan kita harus menjadi orang visioner (misi dan aksi selaras). Kita harus memiliki visi dan harus menggenapinya juga. Orang tua Kristen sering mendidik anak dengan visi yang salah yaitu demi kepuasan dan kebanggaan orang tua. Visi yang kita miliki harus berkaitan dengan Kerajaan Allah. Allah-lah yang ingin Yusuf menjadi pemimpin dan bukan Yusuf sendiri. Ketika ia menjadi pemimpin, ia menyatakan kebesaran Allah dan bukan dirinya sendiri. Visi, misi, dan aksi kita harus konsisten. Apa yang kita ingin capai harus sesuai dengan perkataan dan tindakan kita. Di sanalah kita bisa menjadi orang yang visioner.

Yusuf pada umur 30 tahun menjadi pemimpin setelah bertahun-tahun dibentuk imannya melalui kesulitan dan tantangan. Juru minuman teringat akan Yusuf ketika Firaun mendapatkan mimpi dan di sanalah Firaun akhirnya memanggil Yusuf. Setiap kehidupan anak Tuhan selalu memiliki kairos, seperti Yusuf waktu bertemu dengan Firaun. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk menangkap kairos Tuhan. Oleh karena itu mulai dari sekarang kita harus memikirkan dan berjuang untuk masa depan kita. Orang yang visioner adalah orang yang mendahului zamannya dalam hal belajar dan berjuang. Saat Firaun menyatakan mimpinya, Yusuf dapat menafsirkannya dengan tepat. Ini membuat Firaun terkagum-kagum. Hanya dalam hitungan menit Yusuf bisa menjawab pergumulan Firaun. Ia tidak hanya memberitahu masalah yang dinyatakan dalam mimpi Firaun tetapi juga bisa mengusulkan solusi yang tepat. Inilah bijaksana Yusuf. Ada banyak orang yang bisa mengritik dan menyatakan masalah namun hanya ada sedikit orang yang bisa memberikan solusi yang tepat. Orang-orang Farisi bisa mengritik dan menghakimi namun mereka tidak bisa memberikan solusi. Tuhan Yesus mengajar: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (Matius 7:5). Yusuf sungguh-sungguh merupakan orang baik, benar, dan bijak. Kita bisa melihat kualitas Yusuf yang sangat baik ini. Ia bisa mengubah kesulitan menjadi kemajuan, itulah orang visioner. Ia tidak pernah takut akan kesulitan dan tantangan, justru ia menyukainya. Ia harus mengatur segala sesuatunya agar jumlah penduduk tidak melebihi jumlah makanan yang dikumpulkan. Bukan hanya orang Mesir yang membutuhkan makanan itu tetapi juga orang-orang dari bangsa-bangsa lain. Perubahan yang dikerjakan oleh Yusuf adalah perubahan yang bersifat fundamental dan menjawab tantangan zaman. Maka dari itu ia layak disebut sebagai agen perubahan.

Firaun berkata tentang Yusuf: Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu (Kejadian 41:38-40). Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah orang yang mengerti hati Tuhan. Yusuf penuh dengan Roh Kudus maka ia bisa menjawab hal-hal yang berkenaan dengan masa depan. Semua jawabannya tepat sesuai situasi dan kondisi. Pertemuan yang singkat itu meyakinkan Firaun untuk percaya kepada Yusuf. Tuhan bekerja dalam hal ini. Bukanlah hal yang mudah bagi seorang Firaun untuk langsung percaya kepada pemuda dari bangsa asing, bahkan memercayakan kerajaan Mesir kepadanya. Orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti bisa menerobos waktu. Maka dari itu Efesus 5:18 berkata Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh. Kita harus bisa mengontrol diri, mencintai kesucian, kebenaran, dan kehendak Tuhan melebihi kehendak kita sendiri. Yusuf bergaul dengan Tuhan dalam kehendak-Nya. Jika kita hidup seperti Yusuf, maka itulah bukti bahwa kita dipenuhi Roh Kudus. Orang yang penuh dengan Roh Kudus bukan dilihat dari bahasa Roh-nya tetapi dari kemampuannya untuk menciptakan perubahan dan kerinduannya untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak mungkin sombong. Yusuf menyatakan kepada juru minuman dan juru roti bahwa Allah-lah yang menafsirkan mimpi mereka dan bukan Yusuf sendiri (Kejadian 40:8). Demikian pula Yusuf mengatakan hal yang sama kepada Firaun. Ia tidak takut menyatakan Allah Yahweh di depan Firaun. Di sini ada keberanian yang suci. Firaun merasa diberkati dengan perkataan Yusuf yang adalah wakil Tuhan. Kita juga harus seperti Yusuf yaitu membuat orang lain merasa diberkati oleh kehadiran kita.

Pembahasan

Tubuh kita adalah bait Allah (1 Korintus 6:19), maka kita harus memeliharanya dengan baik. Saat Musa turun dari gunung Sinai, mukanya bercahaya dan orang Israel tidak takut mendekatinya (Keluaran 34:30). Ini karena Musa bergaul dengan Tuhan. Ketika kita bergaul dengan Tuhan, orang di sekitar kita bisa merasakan hal yang berbeda dari diri kita. Tuhan membentuk iman dan karakter Yusuf serta membuatnya penuh dengan Roh Kudus. Menurut Firaun, Yusuf adalah orang yang berakal budi (Kejadian 41:39). Ia dikatakan berakal budi karena ia bisa menganalisa masalah dan bisa memberikan solusi bagi masalah itu. Ia bisa mengatur segala sesuatu di dalam akal budinya sehingga semuanya bisa dikerjakan dengan baik. Roma 12:2 mengajarkan bahwa kita harus berubah oleh pembaruan akal budi kita. Jadi akal budi kita harus diterangi Firman Tuhan. Itu membuat kita menjadi orang yang berbeda dan bisa mengerti kehendak Tuhan yang baik, berkenan kepada Allah, dan sempurna. Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Di sini pikiran Yusuf selaras dengan pikiran Tuhan karena ia bergaul akrab dengan Tuhan. Dalam ayat yang sama Yusuf juga disebut sebagai orang yang bijaksana. Ia bijaksana dalam menguraikan masalah dan mencari solusi bagi masalah tersebut. Amsal 9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. Yusuf menjadi orang bijaksana karena selalu takut akan Tuhan. Ia takut berbuat dosa maka berani melawan istri Potifar. Orang yang bijaksana selalu mempertahankan kesucian hidup. Yusuf sebagai orang bijaksana berhasil menjadi agen perubahan yang tindakannya memengaruhi masa depan bangsa-bangsa.

Dalam zaman Perjanjian Lama, tidak ada sekolah seperti sekarang ini. Dulu semua anak belajar di rumah, yaitu home-schooling. Ibu menjadi pengajar bagi anak-anak. Ini berarti para ibu zaman itu harus cerdas. Mereka harus bisa mengurus rumah tangga sekaligus mengajar banyak mata pelajaran. Yusuf belajar tentang kelembutan hati dari ayahnya yaitu Yakub. Jika anak tidak dibesarkan dalam kasih, maka hatinya akan penuh dengan pemberontakan. Anak yang terlalu dimanjakan juga akan sulit berkembang, karen itulah Tuhan memisahkan Yakub dari Yusuf. Tuhan mendidik Yusuf melalui kesulitan. Oleh karena itu kita sebagai anak harus memprotes orang tua ketika mereka memanjakan kita. Yusuf penuh dengan Roh Kudus dan dia juga bijaksana serta berakal budi. Dia juga merupakan orang yang futuris. Ia mau mengoptimalkan semua potensi untuk bisa menjawab semua tantangan di masa depan. Ia berjuang agar bisa dipakai Tuhan untuk memelihara banyak bangsa. Setelah ia diangkat oleh Firaun, ia mengelilingi seluruh tanah Mesir (Kejadian 41:46). Jika kita melihat peta, maka kita akan mengetahui bahwa Yusuf membutuhkan waktu 3 bulan untuk mengelilinginya. Jika ia juga menganalisa setiap bagian, maka waktu yang dibutuhkan bisa mencapai setahun. Yusuf tidak mengadakan pesta setelah mendapatkan jabatan tetapi ia langsung bekerja. Ia melakukan riset lapangan agar ia tahu seluruh potensi dari setiap daerah dan bisa memanfaatkannya dengan baik. Ini berarti Yusuf melakukan investigasi. Ia mengumpulkan semua data dan memeriksanya langsung secara komprehensif. Inilah orang yang berakal budi. Dia tidak cepat-cepat bertindak tetapi menganalisa situasi terlebih dahulu. Ia melakukan case study dan membuat perencanaan. Yusuf memiliki fokus terhadap visi dan fokus untuk mengoptimalkan masa panen sehingga 7 tahun kelaparan itu bisa dilewati dengan baik. Ia mungkin juga memberikan edukasi dan melatih setiap petani di Mesir sehingga mereka bisa bekerja dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Yusuf harus memperhitungkan segala faktor di dalam pertanian. Setiap bibit dan lingkungan harus dipelajari sehingga bisa produktif. Di sini Yusuf juga memiliki fokus terhadap strategi.

Ia harus merumuskan dan mengomunikasikan semua rancangannya kepada Firaun sehingga ia tahu apa yang Yusuf akan kerjakan. Setelah itu ia mensosialisasikan semua ini kepada semua pemimpin daerah dan mengajak mereka bekerja sama. Semua porsi makanan, pemasukan, dan pengeluaran harus diatur agar tidak terjadi pemborosan. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak semua orang mau mengubah diri. Sebelumnya Yusuf sudah dilatih oleh Tuhan ketika ia bekerja di penjara. Di sana ia harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan semua kriminal secara berhikmat. Yusuf harus mentransformasikan seluruh daerah termasuk para pemimpinnya. Ia berhasil karena ada penyertaan Tuhan. beberapa kali Alkitab menyebutkan bahwa Tuhan menyertai Yusuf sehingga apa yang dikerjakannya selalu berhasil yaitu dalam Kejadian 39:2 dan 39:23. Sebelum kita mentransformasikan orang lain, kita harus mengubah diri terlebih dulu. Kita bisa menjadi agen perubahan karena kuasa Tuhan. Yusuf mengontrol semua produksi dan melakukan pengembangan melalui pencarian bibit unggul dan produktif. Yusuf mendapatkan hasil yang luar biasa karena ia mengontrol dan melakukan perbaikan demi perbaikan. Bahan makanan yang dikumpulkannya bertahan sampai 7 tahun sehingga Mesir dan bangsa-bangsa sekitarnya tidak menderita kelaparan. Yusuf berhasil menjaga kualitas panen sehingga tidak ada pembeli yang memprotes. Setelah semua keberhasilannya itu, Yusuf tetap membuat pengakuan bahwa Allah yang membuat semuanya berhasil dan bukan dirinya sendiri.

 

Penutup

Mimpi tanpa perjuangan adalah kosong (fantasi). Setiap kita pasti memiliki mimpi untuk menjadi orang yang berhasil. Maka dari itu kita harus bekerja keras dan berjuang untuk mencapai keberhasilan itu. Perjuangan tanpa ketekunan adalah statis, bahkan mundur (kelelahan). Di dalam proses waktu, kita pasti mengalami jatuh-bangun tetapi kita harus tetap tekun sampai akhir. Ketekunan tanpa strategi adalah pemborosan waktu. Kita harus memiliki strategi dalam mengerjakan segala hal. Strategi tanpa fokus adalah kegagalan. Tanpa fokus, kita tidak akan bisa bekerja dengan tuntas sampai selesai. Pdt. Stephen Tong pernah mengajarkan prinsip ‘global thinking and local action’. Kita harus berpikir global dan komprehensif namun bekerja secara lokal. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan semua pekerjaan kita. Fokus tanpa inovatif adalah kekakuan dan bisa patah. Kita terkadang terlalu fokus namun tidak memikirkan perkembangan sehingga terjadi kekakuan. Banyak perusahaan yang tutup karena tidak mengikuti perkembangan teknologi. Mereka tidak inovatif sehingga gagal. Inovatif tanpa dinamika hikmat Tuhan adalah kesia-sian. Setelah semua ini, kita harus meminta pimpinan Tuhan supaya apa yang kita kerjakan selaras dengan kehendak Tuhan. Pada akhirnya kita akan bisa mencapai yang terbaik untuk Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami