Samuel – Dipanggil untuk Melayani (1 Samuel 3:1-21)

Samuel – Dipanggil untuk Melayani (1 Samuel 3:1-21)

Categories:

Khotbah Minggu 9 Februari 2020 Pagi

Samuel – Dipanggil untuk Melayani

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas bagaimana Samuel dipanggil untuk melayani Tuhan. Bagian Alkitab yang kita akan baca adalah 1 Samuel 3:1-21. Bagian ‘Samuel belum mengenal Tuhan’ sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘Samuel belum mengenal suara Tuhan’.

 

 

1) Pendahuluan

 

Apakah sukacita terbesar yang kita miliki? Sukacita terbesar kita bukanlah apa yang kita miliki secara materi, bukan kepuasan batin yang berhubungan dengan hal-hal lahiriah, dan bukan pengalaman-pengalaman duniawi. Sukacita terbesar adalah ketika Tuhan mau memakai kita untuk melayani Kerajaan-Nya dan ketika Tuhan mau memakai kita untuk memenangkan jiwa-jiwa. Jadi ketika Tuhan masih mau memakai kita, itulah sukacita kita. Kita dipanggil untuk memberitakan kabar baik kepada seluruh dunia. Kita ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan supaya kemudian kita melayani-Nya. Kita sudah menerima anugerah keselamatan namun terkadang kita lupa bahwa kita harus melayani. Terkadang kita terjebak dalam rutinitas sehingga kita mengabaikan panggilan kita dan kita semakin menjauh dari Tuhan. Sukacita terbesar kita adalah ketika jiwa- jiwa kembali kepada Tuhan melalui pelayanan kita. Tuhan tidak melihat berapa kekayaan materi kita tetapi Tuhan melihat berapa jiwa yang kita sudah bawa kepada Tuhan. Tuhan tidak melihat jabatan kita tetapi Tuhan melihat kesetiaan kita dalam melayani Dia. Ada orang-orang yang kelihatannya rohani dan rajin melayani namun tidak benar-benar menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Apa yang kurang dari orang-orang ini? Mereka tidak membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Gereja tanpa penginjilan adalah Gereja yang sudah kehilangan hati dan penyertaan Tuhan.

 

Mengapa Tuhan memanggil Samuel sejak remaja? Ini adalah hal yang unik. Musa dipanggil pada umur 80 tahun, namun Samuel dipanggil dari sejak mudanya. Ini adalah keunikan pimpinan Tuhan untuk setiap pribadi. Jadi tidak ada kemutlakkan bahwa yang melayani Tuhan harus sudah berumur dewasa. Ada orang-orang yang dipanggil Tuhan dari sejak SD. Mereka terus konsisten hidup untuk Tuhan sampai akhirnya mereka kuliah di sekolah teologi. Terkadang Tuhan memanggil orang-orang pada saat mereka sudah bekerja untuk masuk sekolah teologi. Karakteristik apa yang terpenting dalam melayani Tuhan? Mungkinkah seseorang melayani Tuhan tanpa panggilan? Mungkin. Apakah Yudas mendapatkan panggilan? Ia mendapat panggilan, namun dipanggil untuk apa? Banyak orang melayani bukan karena panggilan Tuhan tetapi karena panggilan keagamaan, budaya, atau umur. Mungkinkah ada orang yang mau mendapatkan jabatan pelayanan demi kebanggaan pribadi? Mungkin. Kita seharusnya melayani karena kita murni mau menyenangkan hati Tuhan dan bukan manusia.

 

 

2) Dipersiapkan untuk Melayani Tuhan

 

            Ketika kita mendapatkan seorang anak, apa yang kita pikirkan untuknya? Mungkin kita memikirkan soal fasilitas dan perlengkapan untuk anak. Berikutnya kita mungkin memikirkan studinya dan kemudian pengembangan talentanya. Setelah itu kita mungkin mempersiapkan mental dan karakternya agar ia siap menjadi orang yang mandiri. Jarang ada orang yang berpikir seperti Hana yaitu dari sejak mulanya Hana sudah berpikir untuk menyerahkan anaknya demi pekerjaan Tuhan di masa depan. Ketika kita merencanakan untuk mendapatkan anak, kita harus mengaitkan rencana kita dengan rencana Tuhan. Anak kita bukanlah penghiburan kita semata. Anak kita adalah untuk Tuhan. Sebelum mendapatkan anak, kita harus memikirkan bagaimana mendidik anak untuk Tuhan. Pada saat anak itu lahir, keinginan kita sudah bersinergi dengan keinginan Tuhan. Samuel dipersiapkan oleh Hana dan Elkana. Hana bukan hanya seorang ibu yang pintar mengurus urusan rumah secara fisik. Elkana bukan hanya seorang kepala keluarga yang pintar mencari nafkah. Setiap tahun mereka mengunjungi Samuel ketika beribadah. Mereka memberikan yang terbaik. Imam Eli juga mendidik Samuel dengan baik. Jadi ada kerja sama yang begitu baik. Namun kita tahu bahwa pada awalnya orang tua Samuel sudah menanamkan yang baik padanya.

 

Peran keluarga itu sangat penting. Anak-anak dididik dalam Sekolah Minggu hanya 1-2 jam seminggu. Anak paling banyak mendapatkan pendidikan dari keluarganya. Jadi orang tua harus benar-benar memerhatikan pendidikan dalam keluarga. Orang tua adalah guru untuk anak dari masa kecilnya. Peran orang tua itu begitu efektif dalam mendidik anak. Dalam hukum Yahudi, ibu berperan sebagai guru di rumah. Jadi wanita dalam bangsa Yahudi harus bisa mengajarkan berbagai hal kepada anak. Maka dari itu yang lebih penting bukanlah kecantikan tetapi kecerdasan. Dalam Alkitab kecerdasan yang terpenting bukanlah kecerdasan pikiran tetapi kecerdasan iman. Pada diri laki-laki yang lebih penting bukanlah ketampanan tetapi mental kerja keras. Jadi masing-masing dari kita harus memerhatikan kecerdasan iman dan karakter. Setiap ibu harus bisa mendidik anak dengan baik. Perkembangan otak anak sangat dipengaruhi oleh ibunya. Dalam hal penampilan kita sebaiknya sederhana. Kita tidak perlu berkompetisi dengan orang lain dalam hal penampilan. Kita bukan melihat merek tetapi fungsi. Hana dan Elkana benar-benar mempersiapkan Samuel sehingga ia bertumbuh menjadi anak yang baik dan tidak merepotkan Eli.

 

Berikutnya kita melihat peran Imam Eli. Dikatakan bahwa Eli mengawasi Samuel di rumah Tuhan. Kita perlu memerhatikan kata mengawasi. Eli menjadi guru dan pembina bagi Samuel. Ia memberikan evaluasi dan perbaikan agar Samuel bisa melayani dengan baik sesuai standar Tuhan. Orang-orang yang punya peran positif dalam mendidik anak-anak kita harus kita hargai dan anggap penting. Alkitab mengutuk orang-orang yang menyesatkan anak-anak kecil. Matius 18:6 Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Penyesatan yang paling bahaya adalah pengajaran doktrin yang salah terhadap anak kecil. Maka dari itu peran orang-orang yang mengajar anak-anak kita sangat penting. Ketika kita memilih sekolah untuk anak-anak kita, apa yang kita perhatikan? Kita harus memerhatikan visi misi dan filsafat pendidikan sekolah itu. Setelah itu kita harus memerhatikan sumber daya manusia yaitu para gurunya. Kualitas guru harus sangat diperhatikan karena merekalah yang mengajar anak-anak. berikutnya kita memerhatikan kurikulum sekolah itu. fasilitas adalah hal terakhir yang kita pikirkan. Tanpa visi Tuhan, kehidupan akan menjadi liar. Visi Tuhan membuat kehidupan kita menjadi teratur. Orang tua dan guru memberikan pengaruh kepada anak. Jadi kedua pihak ini harus bekerja sama. Hana dan Elkana berperan dalam mendidik Samuel. Mereka mengerjakan apa yang mereka bisa kerjakan untuk Tuhan.

 

Berikutnya kita melihat peran lingkungan. Kita tidak bisa melihat peran lingkungan yang membentuk Samuel, namun Alkitab mencatat bahwa lingkungannya tidak baik. Anak-anak Imam Eli hidup tidak takut akan Tuhan. Mereka memberikan pengaruh negatif. Mengapa Samuel tidur di dalam rumah Tuhan? Ia tidur dekat tempat Imam Eli. Di manakah anak-anak Imam Eli? Mereka sudah hidup liar. Imam Eli memberikan yang terbaik untuk Samuel. Ia tidak mau Samuel mendapatkan pengaruh buruk anak-anaknya. Hal ini memang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alkitab, namun kita bisa mengetahui bahwa Imam Eli benar-benar menjaga pembentukan Samuel sehingga ia tidak mendapatkan pengaruh buruk. Samuel bisa menjadi rusak jika ia terus dibiarkan mendapatkan pengaruh Hofni dan Pinehas. Sebagai orang tua dan guru, kita harus mengondisikan lingkungan anak-anak kita agar mereka mendapatkan pengaruh yang baik. Anak-anak harus bersyukur jika orang tua masih mau mengawasi. Pada zaman ini media sosial anak harus diawasi karena bisa menjadi liar. Samuel tidak pernah bersungut-sungut tetapi ia terus taat. Kunci pembentukan karakter Samuel yang baik adalah dari pendidikan orang tuanya yang baik dari sejak kecil. Maka dari itu kita sebagai orang tua memiliki peran yang sangat berpengaruh pada anak. Kita harus mengajak anak-anak kita mengunjungi anak-anak di panti asuhan agar mereka mengerti bahwa mereka memiliki hidup yang sangat nyaman. Kita juga bisa melatih anak-anak kita dengan mengajak mereka berlibur di alam. Anak-anak yang sudah dimanjakan dengan fasilitas akan selalu menuntut fasilitas yang lebih baik. Maka dari itu anak-anak harus dikondisikan untuk hidup tidak manja dan tidak banyak protes. Imam Eli selalu mengawasi pelayanan Samuel. Kita sebagai orang tua juga harus memerhatikan kerohanian anak. Anak-anak harus dipersiapkan untuk melayani dan hidup bagi Tuhan.

 

 

3) Panggilan Tuhan

 

Allah memanggil nama Samuel. Ia tidak memanggilnya sebagai anak kecil. Dua kali Allah menyebut nama Samuel. Saat itu Samuel berlari mendapatkan Imam Eli karena ia berpikir bahwa Imam Eli yang memanggilnya. Ketika itu sudah terjadi tiga kali, Eli akhirnya peka dan menyatakan bahwa itu adalah suara Tuhan. Saat itu Samuel belum bisa membedakan berbagai macam suara. Nama itu penting. Allah menghargai dan menyebut nama Samuel. Jadi Allah mengenal Samuel namun Samuel belum mengenal suara Tuhan. Allah mengerti hati Samuel dan panggilan untuknya. John Calvin menyatakan dua macam pengenalan yang penting yaitu pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri (manusia). Jika kita hanya mau mengenal dunia, maka hidup kita akan kacau. Semakin kita mengenal Tuhan, kita akan semakin mengenal diri kita, begitu pula sebaliknya. Allah memanggil nama Samuel karena ia tahu hati Samuel. Allah mau melihat Samuel berespons. Tiga kali Samuel dipanggil namun Samuel tidak mengenal suara itu. Allah mau ada dialog dengan Samuel di mana ada saling mengerti. Allah mau berkomunikasi dengannya. Kita ingin dimengerti oleh Tuhan namun kita terkadang tidak mau mengerti visi dan kehendak Tuhan. Mengapa Tuhan tidak langsung memperkenalkan diri kepada Samuel? Ketika Tuhan memanggil Musa, Ia menyatakan diri-Nya melalui semak duri yang terbakar. Ketika Tuhan memanggil Paulus, Ia langsung memperkenalkan diri-Nya. Namun mengapa Tuhan tidak langsung memperkenalkan diri-Nya kepada Samuel? Saat itu Samuel belum mengenal suara Tuhan. Saat itu Tuhan sedang melatih kepekaan Samuel supaya ia bisa membedakan mana suara Tuhan, suara manusia, dan suara lainnya. Saat itu Samuel sudah belajar Firman Tuhan dan mengenal Tuhan, jadi Tuhan hanya perlu melatih kepekaannya. Kita harus peka akan suara Tuhan. Di dalam saat teduh, kita harus merenungkan Firman Tuhan yang kita baca. Jadi ada waktu kontemplasi. Di sana kita juga sedang melatih kepekaan kita. Setelah kita merenungkan, kita harus menaati dan menghidupi Firman Tuhan.

 

Setelah akhirnya Tuhan berdialog dengan Samuel, Tuhan menyatakan apa yang akan terjadi pada keluarga Imam Eli dan bangsa Israel. Imam Eli bertanya kepada Samuel apa yang Tuhan telah nyatakan. Ketika ia mendengar bahwa Hofni dan Pinehas akan dihukum mati, ia tidak bersedih. Ia menerima sepenuhnya keputusan Tuhan. Ia sudah siap hati menerima hukuman Tuhan untuk anak-anaknya yang tidak bertobat. Mengapa pesan itu diberikan kepada Samuel dan tidak langsung diberikan kepada Eli? Tuhan mau memakai Samuel untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada seluruh orang di Israel termasuk keluarga Eli. Jadi Tuhan memberitahukan hal-hal yang bersifat futuris dan peringatan melalui Samuel. Dalam bagian itu Tuhan juga sedang menguji apakah Samuel berani berkata jujur atau tidak kepada Eli mengenai apa yang Tuhan telah nyakatan. Samuel harus menyampaikan kabar penghakiman itu kepada Eli dan ia menyampaikan semuanya dengan tulus, jujur, dan berani. Inilah yang perlu kita miliki. Jelas bahwa panggilan Tuhan untuk Samuel adalah panggilan nabi. Pada akhirnya seluruh orang di Israel tahu bahwa Samuel dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi nabi.

 

 

4) Hati yang Melayani

 

            Ketika kita melayani, kita melayani bukan karena kita mampu, berpengalaman, atau memiliki keahlian tertentu. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah hati. Yeremia 17:5 Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Kita melayani Tuhan karena kita punya iman dalam Yesus Kristus (Faith in Christ). Kita beriman bahwa kita sudah diselamatkan dan bahwa di dalam segala keterbatasan kita, Tuhan bisa memakai kita untuk bersinar bagi-Nya. Kita punya hati yang melayani karena kita punya panggilan iman. Kita melayani bukan karena panggilan organisasi. Kita melayani karena anugerah dan pelayanan adalah suatu hak yang luar biasa. Maka dari itu kita tidak merayu-rayu orang lain agar ikut melayani seolah-olah Tuhan membutuhkan orang itu. Ketika kita dipercayakan pelayanan, itu adalah anugerah bagi kita. Jadi iman itu sangat penting. Karakteristik apa yang perlu kita miliki? Pertama adalah integritas (integrity). Orang yang sudah mengerti bahwa melayani adalah karena hati dan iman, ia harus memiliki integritas, keterbukaan, tanggung jawab, dan kejujuran. Ia juga harus memiliki jiwa yang rendah hati (humble) sehingga ia bisa bekerja sama dengan orang lain dalam satu visi yang sama. Ia harus terbuka terhadap segala masukan dan ia tidak boleh memandang dirinya lebih besar daripada orang lain. Orang yang rendah hati terus menerus bergantung pada Tuhan.

 

Orang yang melayani juga harus punya kerelaan untuk berkorban (sacrifice). Dalam hidup kita harus ada terobosan iman. Orang yang seperti ini tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia selalu siap untuk berkorban demi pekerjaan Tuhan dan tidak memperhitungkan pengorbanannya. Ia juga selalu siap untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Hana dan Elkana memberikan anaknya kepada Tuhan. Bagi orang lain ini merupakan pengorbanan namun Hana dan Elkana tidak merasa demikian. Ketika kita mulai hitung-hitungan dengan pengorbanan kita, Tuhan tidak akan berkenan pada pelayanan kita. Kita sudah merasakan pengorbanan yang terbesar yaitu pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Ada orang-orang yang merelakan waktunya untuk dipakai kapanpun demi pekerjaan Tuhan. Mereka adalah teladan dalam pelayanan. Kita harus menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan dan untuk Tuhan. Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Orang-orang yang belum menyadari pengorbanan Kristus baginya akan sulit berkorban untuk Tuhan. Sejauh apa kita mau berkorban untuk Tuhan merupakan ekspresi dari sejauh apa kita sudah menghayati pengorbanan Tuhan untuk kita. Kita berpikir untuk berkorban dan bukan mengorbankan orang lain. Seperti korban dalam Perjanjian Lama yang dibakar habis, kita juga harus rela memberikan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

 

Berikutnya setiap pelayan Tuhan harus berjuang baik ke dalam maupun ke luar (struggle). Ke dalam kita harus berjuang untuk terus mencari makanan rohani dari Firman Tuhan. Terkadang kita bisa rajin melayani namun tidak membina hubungan pribadi dengan Tuhan. Ini menyebabkan keropos rohani. Dalam kurun waktu tertentu kita bisa hancur. Kekuatan kita untuk melayani adalah dari pergaulan kita dengan Tuhan setiap hari. Ke luar, kita harus berjuang sesuai dengan visi dan misi Tuhan melalui Gereja dan berjuang dalam peperangan iman untuk menyatakan Kristus di manapun kita berada. Terkadang Setan secara perlahan membawa kita menjauh dari Tuhan dengan memakai apa yang memuaskan diri kita. Jadi Setan bisa membuat kita terjerat dalam zona nyaman. Maka dari itu kita harus berjuang. Kita bisa melayani ke luar namun tidak sadar telah menjadi batu sandungan karena hidup kita tidak beres. Inilah mengapa kita harus terus evaluasi diri dan bertumbuh karena Firman Tuhan. Setan tahu titik lemah kita, maka dari itu kita harus terus waspada dan berperang. Semua ini harus ditopang dengan komitmen sepenuh hati (commitment). Semua ini, jika tanpa komitmen, maka akan hancur. Tanpa komitmen, kita akan cepat mundur dari pelayanan. Komitmen kita harus sepenuh hati. John Piper menyatakan bahwa ketika kita sudah melihat kemuliaan Tuhan, kemuliaan yang lain itu menjadi tidak penting. Pada akhirnya semua masalah dalam hidup menjadi tidak sebesar itu. Namun jika kemuliaan yang lain itu lebih besar daripada kemuliaan Tuhan di mata kita, maka semua masalah akan terlihat besar. Dalam berelasi, ujian komitmen itu begitu penting. Pernikahan itu membutuhkan komitmen. Orang yang tidak bisa memegang komitmen adalah orang yang tidak setia. Samuel terus memegang komitmen untuk hidup melayani Tuhan sehingga orang-orang melihatnya sebagai berkat. Hati yang mau melayani adalah yang terpenting. Kita melayani bukan karena harta, jabatan, dan lainnya. Iman kepada Tuhan menjadi pusat dalam pelayanan kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami