Salomo: Dipilih dari yang Terpilih

Salomo: Dipilih dari yang Terpilih

Categories:

Khotbah Minggu 4 Oktober 2020

Salomo: Dipilih dari yang Terpilih

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Salomo dengan tema “Dipilih dari yang Terpilih”. Kita akan melihat bagaimana Tuhan memimpin dan apa kualifikasi yang diperkenan oleh Tuhan yang tidak berubah. Ayat yang kita lihat bersama-sama adalah 2 Samuel 12:24-25. Ini adalah masa setelah Daud dan Batsyeba kehilangan anaknya. Tuhan mengasihi anak itu yaitu Salomo atau Yedija. Arti namanya adalah ‘semua karena Tuhan’. Kita juga akan melihat 1 Raja-Raja 1:5, 16-18. Meskipun Batsyeba adalah istri Daud, ia tetap memanggil Daud sebagai ‘tuanku’. Ini adalah peraturan pada saat itu. Kita tidak perlu mengikuti cara ini. kita juga melihat 1 Raja-Raja 1:29-30.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Cara Allah selalu dinamis dalam menyatakan kehendak-Nya. Secara prinsip atau substansi tidak pernah ada perubahan, namun cara-Nya selalu dinamis. Mengapa Daud tidak mempersiapkan Salomo sebagai penggantinya secara publik? Orang yang paling tahu bahwa Salomo dipersiapkan menjadi raja adalah Daud sendiri, Batsyeba, dan Nabi Natan. Hal ini tidak diperlihatkan ke publik. Tidak ada organisasi yang dibuat untuk hal ini. Mengapa adonia salah dalam mengenal hati ayahnya dan salah membaca peta politik di kerajaan Israel? Alkitab mengatakan bahwa ia meninggikan diri. ia mempercepat waktu karena ia melihat Daud yang sudah tua. Ia tidak bertanya kepada Daud tetapi hanya kepada Yoab dan Imam Abyatar perihal usahanya menjadi raja. Hal yang lebih parah lagi adalah ia tidak bertanya kepada Tuhan. Ia memaksakan nafsu dan keinginannya. Pada akhirnya ia bersalah dalam semua hal ini. Mengapa Nabi Natan, Imam Zadok, dan Benaya tidak diajak untuk mendukung Adonia? Ini adalah suatu permainan politik yang licik. Ada kisah-kisah di dalam Alkitab di mana politik yang licik dan cara-cara yang salah digunakan untuk mencapai tujuan tanpa nilai pimpinan Tuhan. Rancangan Adonia dipatahkan oleh karena Daud meneguhkan Salomo dan Tuhan berkenan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Dari pemilihan Tuhan kepada pemilihan garis dinasti

            Di dalam sejarah kerajaan Israel, raja yang sesungguhnya adalah Allah sendiri. Namun ketika iman Israel sudah mundur, mereka mau meniru cara bangsa-bangsa lain yang menobatkan raja. Mereka kemudian meminta raja dan Samuel mengizinkan hal ini. Rakyat akhirnya memilih Saul. Saul itu tinggi badannya. Parasnya juga elok. Wibawanya juga terlihat baik. Saul akhirnya menjadi raja atas izin Allah. Ini bukanlah ketetapan Allah. Saat Israel mulai dibentuk, Allah langsung menjadi raja. Allah menyatakan kepada Samuel bahwa Israel sebenarnya sedang menyingkirkan Tuhan dengan meminta raja, namun Allah tetap mengizinkan hal itu terjadi. Tuhan mengizinkan ini juga agar Israel bisa melihat siapa orang yang dipilih oleh rakyat dan siapa raja yang dipilih oleh Tuhan. Jadi mereka bisa melihat perbedaannya. Allah memilih Daud dan pada akhirnya semua rakyat berkenan kepadanya. Ada proses panjang yang diizinkan oleh Tuhan dalam hal ini. Saul berusaha untuk membunuh Daud dan di sana rakyat bisa menilai kedua orang ini. Daud menyatakan hati yang tidak mendendam dan selalu bergantung pada Tuhan. Ia berani dan mendapatkan penyertaan Tuhan. Kita bisa menghadapi kesulitan namun ada rancangan Tuhan agar kita menang atas kesulitan itu. Di sana Tuhan memperlihatkan kualitas karakter, iman, dan hati kita. Jadi kita tidak perlu takut pada kesulitan. Tugas kita adalah taat seperti Daud. Kita tidak boleh mempercepat waktu Tuhan karena itu bukanlah cara Tuhan. Setelah Daud, Tuhan tidak memilih raja seperti dahulu lagi. Raja berikutnya haruslah berasal dari garis keturunan Daud. Saat itu ada dua kandidat yaitu Adonia yang lebih tua dan Salomo. Kita bisa melihat perbedaan antara apa yang diinginkan Adonia dan apa yang diinginkan oleh Tuhan.

 

            Salomo tidak tahu bahwa dirinya lahir sebagai anak yang spesial karena dipilih oleh Daud. Daud menghibur Batsyeba dan setelah itu lahirlah Salomo. Salomo menjadi anak penghiburan bagi orang tuanya. Tuhan mengasihi Salomo. Jadi Salomo belum dikenal dari segi perbuatan dan karakter, namun Tuhan mengasihi Salomo. Daud memilih dari bawah ke atas dan Tuhan berkenan. Salomo diberi nama Yedija karena semuanya adalah karena Tuhan. Salomo lahir bukan karena Daud dan Batsyeba tetapi karena Tuhan. Nama Yedija itu spesial dan mengingatkan kita akan Roma 11:36. Ini bukanlah karena kehebatan orang tuanya atau siapapun. Anak itu terlahir karena anugerah.

 

2) Dari janji menjadi ketetapan: Salomo menjadi raja

            Kapan Daud berjanji bahwa Salomo akan menjadi raja? Saat ia lahir. Alkitab mencatat bahwa Daud sangat mengasihi Salomo. Tuhan juga berkenan kepada Salomo dan memberi nama Yedija. Akhirnya janji itu berubah menjadi ketetapan. Namun ada waktu sepanjang 30 tahun sampai itu terjadi. Semua peristiwa itu terjadi karena ada dukacita rohani Daud dan Batsyeba ketika mereka kehilangan anak. Ketika Daud berubah, bertobat, dan berdukacita secara rohani, itu menjadi awal Tuhan berkenan kembali kepada Daud dan Batsyeba. Pertobatan tanpa perubahan dan dukacita rohani itu baik hanya di mata manusia namun itu tidak baik di mata Tuhan. Matius 5:3a Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. ketika kita menjadi orang Kristen, setiap hari kita harus memiliki nilai pertobatan. Kita ini bukanlah siapa-siapa. Saat kita memandang diri kita terlalu tinggi, kita sudah melanggar Matius 5:3. Di hadapan Allah lita harus menyatakan diri kita yang miskin di dalam roh. Ini adalah awal yang baik karena Tuhan mengubah dukacita Daud dan Batsyeba menjadi sukacita. Tuhan memberikan Salomo kepada mereka. Dalam hal ini kita melihat bahwa manusia melakukan apa yang ia bisa lakukan. Tuhan melakukan apa yang Daud tidak bisa lakukan yaitu memelihara iman Salomo.

 

            Perubahan itu terjadi karena Tuhan melihat kesungguhan Daud dan Batsyeba untuk tidak melakukan dosa lagi. Salomo terlahir dalam hubungan suci Daud dan Batsyeba. Ia lahir setelah mereka bertobat. Ketika ia lahir, Tuhan memberi nama Yedija. Nama itu sungguh indah. Nama itu menyatakan bahwa semuanya adalah karena Tuhan. Tidak ada kehebatan manusia yang ditonjolkan di sini. Semua perubahan itu dimulai ketika ada perubahan hati Daud dan Batsyeba. Mereka memiliki satu komitmen yang baru sebagai suami istri. Tuhan memberi nama Yedija melalui Nabi Natan. Inilah cara Tuhan untuk turut campur. Natan tahu dari nama itu bahwa anak itu akan dipersiapkan untuk menjadi raja Israel. Mengapa Tuhan menyatakan kepada Natan terlebih dahulu dan bukan Daud? Ini karena Nabi Natan memiliki otoritas. Natan nantinya akan mengingatkan janji Tuhan kepada Daud tentang Salomo. Ketika Adonia meninggikan diri untuk menjadi raja, orang pertama yang tahu bahwa ini adalah pelanggaran adalah Natan. Mengapa bukan Imam Zadok, Abyatar, atau Yoab? Ternyata orang yang menangkap visi Tuhan itu adalah Natan. Mengapa Natan tidak langsung menyatakan kepada Salomo dari masa kecilnya tentang hal ini? Natan bukanlah seorang penjilat. Ia tidak mencari muka. Ia tidak mencari popularitas. Hal yang diinginkannya adalah perkenanan Tuhan. Semua rancangan agar Salomo terpilih adalah karena belas kasihan Tuhan. Imam Abyatar adalah keturunan Imam Eli. Pada bagian berikutnya kita bisa melihat bahwa Salomo kemudian membunuhnya. Jadi Salomo menggenapkan apa yang dikatakan oleh Tuhan. Jadi seorang Imam tidak boleh memperalat jabatannya demi keuntungan pribadi.

 

            Tuhan mengasihi Salomo dan memimpin hidupnya sampai ia dewasa. Alkitab tidak mencatat dosa Salomo pada masa remaja. Alkitab hanya mencatat dosa Salomo saat ia dewasa. Alkitab tidak pernah mencatat kenakalan masa kecil Salomo. Mengapa seperti ini? karena Tuhan mengasihi Salomo. Tuhan bisa memakai orang di sekitarnya termasuk Natan untuk menjadi guru iman Salomo. Mereka bisa mengajarkan tentang keimanan yang benar. Salomo juga pasti belajar tentang etika pergaulan dari mereka. Ini karena Tuhan mengasihi Salomo. Anak kita adalah anak milik Tuhan. Dalam ayat ke-17 Daud berkata tentang Salomo kepada Batsyeba ‘anakmu’. Ia tidak berkata ‘anak kita’. Jadi Daud sebagai raja tidak mencampurkan urusan tugasnya dengan urusan keluarganya. Saat itu tidak ada orang yang boleh sembarangan menghadap raja. Semuanya harus mengikuti prosedur.

 

            Kedua, Daud diingatkan oleh Batsyeba atas saran dari Nabi Natan sehingga Daud terbangun dari janjinya. Saat itu Nabi Natan, Benaya, dan Imam Zadok tidak diundang dalam peneguhan Adonia untuk menjadi raja. Mereka dianggap sebagai kelompok yang tidak mendukung Adonia. Saat itu Adonia begitu bernafsu untuk menjadi raja, namun Nabi Natan melihat kehendak Tuhan dan bukan hati Adonia. Ia takut kepada Allah sehingga akhirnya ia melaporkan peneguhan Adonia kepada Batsyeba dan kemudian Daud. Adonia mengundang anak-anak raja yang lain dan para pejabat. Ia mempersiapkan semuanya dengan baik mulai dari kereta-kereta, kuda-kuda, orang-orang yang berlari di depannya, tempat pesta, korban bakaran, dan lainnya. Namun ia tidak mempersiapkan urapan. Saul dan Daud diurapi oleh Samuel, namun Adonia lupa mempersiapkan urapan. Padahal urapan itu sangat penting. Peneguhan manusia itu bersifat horizontal namun peneguhan Tuhan itu dinyatakan melalui urapan. Mengapa ia terjebak dalam hal yang bersifat duniawi itu? Alkitab mencatat bahwa Adonia tidak pernah ditegur oleh Daud sampai dewasa. Inilah kelemahan Daud. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sampai tidak mendidik anak-anaknya. Jadi Adonia tidak mengerti tentang kesalahannya. Ini membuat Adonia menjadi tinggi hati. Ia berpikir bahwa rancangannya itu selalu benar. Jadi keangkuhan Adonia juga disebabkan oleh kesalahan cara mendidik Daud. Ini juga merupakan kesalahan ibunya yang tidak mendidiknya dengan baik. Setelah mempersiapkan semuanya, Adonia lupa untuk mempersiapkan orang yang mengurapinya. Namun ketika Salomo diurapi menjadi raja, peristiwanya begitu berbeda dengan peneguhan Adonia.

 

            Ketika Batsyeba mengingatkan Daud, ia seperti terbangun. Daud tidak terbawa emosi untuk menghancurkan Yoab, Abyatar, dan Adonia tetapi ia membuat acara yang sederhana yang maknanya berkenan di hati Tuhan. Ketika Batsyeba selesai berbicara, Natan datang dan berbicara kepada Daud. Daud kemudian meminta Natan, Benaya, dan Zadok untuk mempersiapkan acara itu. Mengapa ada Imam Zadok? Karena Salomo dipersiapkan untuk membangun Bait Allah. Pada ayat ke-33 dikatakan bahwa Salomo dinaikkan ke atas bagal betina. Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, dituliskan bahwa ia menaiki keledai (Matius 21:7). Jadi Salomo tidak menggunakan kereta yang indah atau kuda yang perkasa. Ia menaiki bagal yang pernah ditunggangi oleh Daud. Adonia memakai kereta dan kuda. Itu terlihat hebat di mata manusia. Jadi perbedaannya terlihat begitu jelas. Namun perbedaan paling besar adalah ada urapan dalam peneguhan Salomo. Tuhan mengizinkan Maria mengurapi-Nya dengan minyak narwastu (Matius 26:7). Minyak itu diberikan bukan oleh orang kaya tetapi perempuan yang mempersiapkan pernikahannya. Tuhan berkenan atas hal itu. Yesus adalah mempelai laki-laki dan Gereja adalah mempelai perempuan. Ada keindahan ketika kita bertemu dengan Dia nanti. Pesta terbesar dengan sukacita surgawi akan terjadi pada saat itu. Adonia tidak peka akan hal itu.

 

            Bagaimana seandainya jika Imam Abyatar mengurapinya? Apakah itu akan menjadi urapan yang sah? Jika itu dilakukan di dekat batu Zohelet, maka itu tidak sah. Tempat yang diperkenan Tuhan untuk peneguhan adalah di Gihon. Maka dari itu Daud mau Salomo diurapi di Gihon. 1 Raja-Raja 1:40 Sesudah itu seluruh rakyat berjalan di belakangnya sambil membunyikan suling dan sambil bersukaria ramai-ramai, sampai seakan-akan bumi terbelah oleh suara mereka. Bagian ini tidak dipersiapkan sebelumnya. Jadi rakyat sudah tahu tentang siasat Adonia. Mereka mungkin sudah melihat bagaimana Natan, Benaya, dan Zadok dipanggil masuk ke istana untuk menghadap raja. Ketika mereka pergi untuk mempersiapkan peneguhan Salomo, rakyat mengikuti mereka. Banyak penafsir menyatakan bahwa orang yang dipilih menjadi raja itu tidak perlu mengemis untuk diagungkan oleh rakyat. Cara Tuhan itu bijaksana. Ia bisa menggerakkan siapapun juga. Tuhan Yesus berkata ‘Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.’ (Lukas 19:40). Jadi penggerak yang paling utama adalah Tuhan. Adonia menjadi penggerak utama dalam siasatnya sehingga ia tidak mendapatkan simpati rakyat. Ia membuat undangan namun ia lupa bahwa penggerak paling utama yang sesungguhnya adalah Tuhan. Ketika Tuhan sudah bergerak maka apapun tidak bisa menghalanginya.

 

            Suara rakyat yang bersorak sorai itu terdengar sampai kepada Adonia dan semua undangannya (ayat 41). Ketika mereka mengerti apa yang sedang terjadi, mereka semua ketakutan termasuk Adonia, Yoab, dan anak-anak raja. Akhirnya mereka pergi menurut jalannya masing-masing (ayat 49). Mereka tidak mau ditangkap karena melakukan kudeta. Dalam Alkitab dicatat tentang intrik-intrik politik yang tidak berkenan kepada Tuhan. Akhirnya rancangan Tuhan-lah yang berhasil. Salomo menjadi raja yang dipilih dari yang terpilih. Daud memilih dengan tepat sesuai perkenanan Tuhan. Pola kerajaannya adalah Kerajaan Allah. Salomo akhirnya ditinggikan melebihi Adonia karena belas kasihan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tuhan berkenan dengan dukacita rohani Daud dan Batsyeba. Tandanya adalah Tuhan memberikan Salomo kepada Daud dan Batsyeba sebagai anak yang dikasihi Tuhan.

            Semua ini dimulai dari pertobatan sejati. Pertobatan sejati itu menghasilkan komitmen rohani dan buah yang berkenan kepada Tuhan. Daud dan Batsyeba memulai hubungan dengan cara yang tidak baik namun bisa mengakhiri dengan baik karena ada pertobatan. Hubungan mereka akhirnya dipakai Tuhan untuk melahirkan Salomo yang dikasihi oleh Tuhan. Kita dahulu mungkin memulai sesuatu dengan awal yang tidak baik, namun ketika kita mau bertobat, Tuhan bisa memimpin kita dan memberikan kebaikan. Jadi awal yang tidak baik tidak selalu berakhir dengan tidak baik. Namun awal yang baik belum tentu menjamin akhir yang baik. Jadi kuncinya adalah kita harus melihat diri kita sebagai orang yang miskin di dalam roh. Hidup kita ini terpelihara karena anugerah Tuhan. Setiap hari kita harus memiliki pertobatan praktis yang bersifat rohani. Sebelum menaikkan doa syafaat kita selalu mengaku dosa di hadapan Tuhan. Salomo berkata bahwa di bumi ini tidak ada orang yang saleh (Pengkhotbah 7:20). Namun kita harus berusaha untuk menjadi orang saleh yang berkenan kepada Tuhan.

 

2) Tuhan dapat memakai orang lain untuk mengingatkan janji rohani kita kepada Tuhan seperti peran Natan ke Batsyeba tentang janji Daud kepada Salomo.

             Daud diingatkan oleh Batsyeba dan Natan akan janjinya. Kita pasti punya janji rohani. Kita juga punya janji iman. Kita berjanji untuk membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan. Kita punya janji untuk taat kepada Tuhan. Ketika ada orang-orang yang mengingatkan kita akan semua janji itu, maka mereka boleh disebut sebagai orang-orang yang baik. Hal yang paling membuat kita bersedih adalah ketika kita belum menggenapkan janji kita kepada Tuhan. Jadi kita harus kembali mengingat janji-janji kita kepada Tuhan dan menggenapkan semua janji itu.

 

3) Cara Tuhan mengurapi Salomo itu lebih indah dibandingkan dengan cara Adonia yang memakai hal duniawi.

            Cara Salomo itu begitu sederhana yaitu memakai bagal. Minyak dipakai untuk mengurapi Salomo dan tidak ada pesta. Namun maknanya berkenan kepada Tuhan. Yesus tidak memakai kereta kuda yang indah dan orang-orang yang berlari-lari di depan-Nya. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Matius 21:7-9). Namun di antara mereka ada orang-orang yang kemudian berteriak “salibkan Dia!”. Jadi tidak semuanya memuji dengan sungguh-sungguh. Kita harus memakai cara Tuhan dan bukan cara dunia. Saat mengatur keuangan pun kita harus memakai cara Tuhan. Di sana kita melihat apakah hati kita sungguh dipersembahkan 100% kepada Tuhan atau tidak. Hal itu juga menjadi kesaksian di mata orang lain. Kita harus mementingkan Tuhan terlebih dahulu. Allah adalah pusat hidup kita. Pada bagian berikutnya kita akan membahas tentang ‘Ketegasan dalam Keadilan’. Daud menyatakan ketegasan dalam kasih, namun Salomo menyatakan ketegasan dalam keadilan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami