Rendah Hati atau Rendah Diri (Musa)

Rendah Hati atau Rendah Diri (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 3:11-12, Kisah Para Rasul 7:25, dan Mazmur 23

 

Pendahuluan

Melayani karena panggilan Tuhan itu berbeda kualitasnya dengan melayani karena panggilan diri sendiri. Mungkinkah ada seseorang yang melayani Tuhan tanpa panggilan Tuhan? Mungkin. Seseorang bisa melayani tanpa panggilan Tuhan ketika ia merasa dirinya memang beragama Kristen dan situasi mendorongnya untuk melayani. Jadi pelayanannya adalah sekadar untuk memenuhi panggilan keagamaan. Panggilan yang sejati tidaklah demikian. Setiap kita diselamatkan dan dipanggil untuk menderita di dalam proses kita mengikut Tuhan (Filipi 1:29 dan 2 Timotius 3:12). Melalui penderitaan iman kita dimurnikan dan dibentuk (1 Petrus 1:6-7). Pelayanan kita harus menyatakan bahwa kita adalah orang beriman dalam situasi apapun juga. Mengapa Musa mengalami perubahan diri sebelum dan saat dipanggil oleh Tuhan? Sebelum ia dipanggil oleh Tuhan, ia begitu percaya diri menjadi pemimpin bagi orang Ibrani. Namun 40 tahun kemudian ia kehilangan kepercayaan diri itu. Apa artinya bersikap dengan iman? Saat Tuhan memanggil kita, bagaimana seharusnya kita bersikap dengan iman? Ketika Tuhan mengutus kita, mungkin Tuhan akan meminta kita berpindah tempat tinggal. Kita harus mengerti dinamika pimpinan Tuhan berdasarkan Firman Tuhan dan bukan mengikuti kemauan diri sendiri.

 

Pembahasan

Dalam Keluaran 2:11-12 (bdk. Kisah Para Rasul 7:25), Musa begitu yakin bahwa ia akan menjadi pemimpin bagi orang Ibrani. Ia berpikir bahwa dirinya adalah orang penting di istana Firaun. Musa berpikir bahwa dirinya memiliki kuasa yang besar sebagai putra dari putri Firaun. Ia merasa siap untuk memimpin dan ia membela orang Ibrani. Musa membunuh orang Mesir itu demi membela orang Ibrani dan menunjukkan bahwa ia bisa memimpin. Namun di sini keyakinannya bukan bersumber dari panggilan Tuhan. Musa yakin akan panggilannya, tetapi berdasarkan pada kekuatannya sendiri. Ia memiliki jabatan dan relasi yang dekat dengan kerajaan sehingga ia merasa layak dan cocok menjadi pemimpin bagi bangsanya. Ia mengandalkan kekuatannya sendiri dan membunuh orang Mesir itu. Pada keesokan harinya ia mendekati 2 orang Ibrani yang sedang berkelahi dan kemudian mentalnya dijatuhkan oleh perkataan dari orang Ibrani yang bersalah itu: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu (Keluaran 2:14)? Ia menjadi takut dan kemudian melarikan diri ke padang gurun. Sebenarnya Musa bisa memilih untuk meminta ampun dari Firaun melewati putri Firaun yang adalah ibu angkatnya, namun Ibrani 11:24-25 menyatakan: Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Karena iman Musa tidak memilih untuk mencari pembelaan dari ibunya. Ia pergi ke Midian dan bertemu dengan Yitro. Di sana ia menikah dengan Zipora dan bekerja sebagai gembala kambing domba selama 40 tahun. Selama 40 tahun ia mendapatkan sekolah kepemimpinan di istana Firaun dan selama 40 tahun di padang gurun ia mendapatkan sekolah pembentukan hati. Di sana Musa membangun kepekaan dan hati yang sungguh-sungguh memiliki kerelaan untuk berkorban demi hewan yang ia gembalakan.

 

Setelah berumur 80 tahun, Musa mendapatkan panggilan Allah. Saat Tuhan memanggilnya, mukjizat dinyatakan kepada Musa. Ia melihat semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api (Keluaran 3:2). Ia tidak mencium bau hangus dan melihat bahwa semak duri itu tidak hangus. Hal itu menarik perhatiannya dan ia mendekatinya untuk memeriksanya (Keluaran 3:3). Ketika ia mendekat, Tuhan memanggil Musa dari tengah-tengah semak duri itu (Keluaran 3:4) dan memperingatkannya agar tidak berdiri terlalu dekat dan menanggalkan kasutnya (Keluaran 3:5). Tanah yang dipijaknya adalah tanah yang kudus sehingga Musa tidak boleh sembarangan. Tanah itu menjadi kudus karena ada kehadiran Allah. Ketika Musa menyadari bahwa di sana ada Allah, ia takut dan menutupi mukanya (Keluaran 3:6). Ia mendengar suara Tuhan dan panggilan Tuhan namun Musa tidak langsung menaati perintah-Nya. Selama 40 tahun di padang gurun Musa tidak mempersiapkan dirinya secara fisik. Di padang gurun hatinya diperas oleh Tuhan. Ia dulu adalah orang penting yang memiliki segalanya di istana Firaun namun di padang gurun ia menjadi gembala yang harus bekerja keras. Dulu ia bisa bersantai di istana Firaun dan merasakan kesejukan ayunan kipas dari para pekerja di istana, namun di padang gurun ia harus merasakan sengat matahari yang begitu panas. Di sana ia harus bekerja keras untuk mendapatkan hasil. Saat Tuhan menampakkan diri-Nya dan mengutus Musa, bangsa Israel sudah ada di Mesir selama 400 tahun sebagai budak. Jumlah mereka mencapai 2 juta orang dan Musa diminta untuk memimpin mereka ke tanah Kanaan.

Musa merasa tidak yakin akan hal itu (Keluaran 3:11-12). Jadi dulu ia sangat yakin karena kekuatan dirinya sebagai seorang pemimpin besar di Mesir, namun sekarang ia tidak yakin lagi. Musa tidak yakin akan panggilannya, karena melihat diri yang rendah. Meskipun Musa sudah melihat mukjizat Tuhan, ia tetap tidak yakin. Ia merasa rendah diri. Ia bertanya: Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir? (Keluaran 3:11). Ia juga bertanya tentang nama Allah (Keluaran 3:13). Allah menjawab Musa: AKU ADALAH AKU (Keluaran 3:14). Apakah salah jika Musa melihat dirinya tidak layak? Musa sebenarnya sedang menolak panggilan Tuhan. Pelayanan yang dipercayakan kepada Musa itu begitu besar dan ia tidak mau langsung menerimanya. Di sanalah terjadi dialog. Tuhan melalui percakapan itu mau mengubah konsep pandang Musa terhadap diri dan Allah. Di sini Tuhan memberikan peneguhan dan jawaban. Tuhan tidak memakai pendekatan emosi dan memberikan janji penyertaan (bdk. Yosua 1:5-9; Matius 28:19-20). Ketika Yosua mengalami keraguan karena ia harus menjadi pengganti dari Musa dan menjadi pemimpin bagi Israel, Tuhan menguatkannya dalam Yosua 1:5-9 dengan memberikan janji penyertaan. Tuhan berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkannya. Setiap tempat yang diinjak oleh Yosua akan diberikan oleh Tuhan (Yosua 1:3). Sebelum Yesus naik ke surga, ia memberikan janji penyertaan: Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Di sini kita belajar tentang Allah yang maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa. Allah mau beserta dengan kita (Imanuel, Yesaya 7:14). Tuhan memberikan janji ini kepada Musa karena Musa melihat dirinya terlalu kecil untuk menjalankan panggilan itu. Ia melihat Firaun sebagai orang yang sangat besar dan Musa tidak bergantung pada Tuhan. Ketika Musa membandingkan dirinya dengan Firaun, ia melihat bahwa dirinya terlalu kecil dan Firaun terlalu besar. Di sini cara pandang Musa itu salah. Ia tidak melihat Allah yang maha besar dan kekal yang sudah memberikan janji penyertaan baginya.

Jadi selama 40 tahun Musa hidup sebagai orang yang rendah diri. Jika kita salah mendidik anak, maka anak kita bisa menjadi rendah diri. Ada orang-orang yang sombong karena memiliki wajah rupawan, uang yang banyak, jabatan yang tinggi, badan yang kuat, atau talenta yang luar biasa. Allah tidak berkenan kepada mereka karena: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6). Musa diperas oleh Tuhan selama 40 tahun sampai ia tidak memiliki kesombongan lagi. Musa memulai dari titik nol dan memandang dirinya bukan siapa-siapa. Semua kemuliaan Mesir yang dulu Musa rasakan telah sirna dan ia sekarang hanyalah seorang gembala. Daud memulai dari titik nol setelah ia bertobat dari dosa perzinahannya dengan Batsyeba. Kita harus memulai dari titik nol dan bangkit dari sana. Terkadang kita tidak rela untuk kembali ke titik nol dan itu membuat kita tidak bisa maju. Tuhan adalah pendesain yang terbaik dan maha tahu. Ia membangun kita sampai kita mencapai panggilan kita yang baru dari titik nol. Tuhan mengajarkan Musa untuk memiliki sikap iman yang benar. Musa diajarkan untuk memandang Tuhan yang besar dan setia (bdk. Mazmur 23:4-6). Ia harus percaya pada penyertaan dari Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah mau iman Musa bersinar dan memimpinnya menjadi orang yang berani. Iman seharusnya membuat kita memiliki pengharapan di dalam Tuhan dan tidak khawatir. Saat itu Musa masih bersikap secara melankolis. Ia masih mengandalkan emosinya yang sudah diperas oleh Tuhan. Tuhan kemudian mendidiknya untuk kembali melihat kepada Tuhan yang besar dan setia. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4). Ada seorang pilot yang pernah menerbangkan pesawat melewati awan yang gelap. Di saat itu ia menyadari bahwa kematian itu begitu dekat dan bahwa segala hal yang ia miliki di dunia ini akan lewat begitu saja. Ketika kita melewati lembah kekelaman itu, di sanalah iman kita diuji. Tuhan mau menguji iman kita melewati penderitaan sehingga iman kita semakin bertumbuh.

Bagian yang berikutnya juga menarik untuk kita renungkan: Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah (Mazmur 23:5). Di dalam bagian ini para musuh pemazmur itu ada di hadapannya namun ia bisa makan dengan tenang. Ini menunjukkan bahwa pemeliharan Tuhan itu melampaui semua ketakutan kita. Tuhan mengajarkan kepada kita sikap iman yang benar dalam menghadapi segala kesulitan dan tantangan. Sikap iman yang benar seharusnya membuat kita tidak takut. Musa harus belajar untuk melihat kebesaran Allah dan Firaun yang kecil. Namun bukan hal yang mudah bagi Musa untuk mengubah cara pandangnya. Jika kita masih memiliki ketakutan yang tidak suci, maka kita harus berdoa meminta keberanian yang suci dari Tuhan. Seseorang bisa menjadi berani karena kesombongannya, namun itu bukanlah keberanian yang diperkenan Tuhan. Keberanian kita harus suci dan memuliakan Tuhan. Ketika ketakutan dan keberanian kita sudah disucikan, di sanalah kita belajar untuk takut akan Tuhan. Kita harus selalu siap bersikap dengan iman yang benar kapanpun Tuhan memanggil kita. Hidup kita menjadi indah ketika kita mengikuti pimpinan Tuhan. Tuhan telah memberikan janji penyertaan-Nya bagi kita seperti Ia menyertai Musa sehingga kita tidak perlu takut. Tuhan mau kita memiliki karakter Kristus dan bukan hanya pengetahuan. Karakter yang benar itu memampukan kita mengikuti panggilan Tuhan dengan benar sehingga pada akhirnya hidup kita memuliakan Tuhan. Iman harus ditempatkan di depan dan yang lainnya akan menyusul. Kita harus memandang kepada kebesaran Tuhan dan melangkah dengan iman.

 

Penutup

Musa yakin akan panggilannya, tetapi berdasarkan pada kekuatannya sendiri. Tuhan Allah membentuk Musa sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi bersandar pada kekuatannya sendiri melainkan mengandalkan Tuhan. Dalam kedaulatan-Nya, ia membentuk Musa yang awalnya sombong menjadi rendah diri kemudian dilengkapi dan diteguhkan menjadi pemimpin yang rendah hati. Orang yang rendah hati berari orang yang memandang kepada kebesaran Tuhan dan melangkah dengan iman. Kiranya kita semakin dibentuk menjadi orang yang demikian.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami