Regenerasi Kepemimpinan

Regenerasi Kepemimpinan

Categories:

Bacaan Alkitab: Ulangan 31:1-8.

Pendahuluan

Siapa yang tidak mau menjadi pemimpin yang berhasil atau sukses? Setiap kita pasti mau. Setiap orang harus bisa menjadi pemimpin rohani bagi dirinya sendiri dalam nilai tanggung jawab. Siswa atau mahasiswa Kristen harus bertanggung jawab dalam nilai, pengetahuan, karakter, dan talenta. Seorang pemimpin juga bisa dinilai kualitasnya dari apakah dia bekerja untuk keuntungan pribadi atau bersama, visi misinya, serta target dan tujuannya. Seorang pemimpin yang sejati memimpin bukan dengan uang atau kekuasaan melainkan dengan keteladanan. Setiap kita setidaknya harus belajar menjadi pemimpin mulai dari dalam keluarga. Tuhan memberikan panggilan kepada setiap kita dan kita harus menjalankan itu, termasuk dalam panggilan menjadi seorang pemimpin.

Musa dikategorikan sebagai pemimpin yang berhasil atau setia? Musa adalah pemimpin yang setia. Ia tidak berhasil karena tidak mencapai tanah Kanaan. Ia dikatakan setia karena tidak memanipulasi Tuhan, tidak curang, tidak mengorbankan orang lain melainkan mengorbankan dirinya sendiri. Ia menyatakan kebesaran Tuhan dan mau menjalankan semua kehendak Tuhan dengan rela.

Mengapa Musa tidak mempersiapkan anaknya (Gersom dan Eliezer) sebagai penggantinya? Setiap ayah pasti mau anaknya ditunjuk sebagai penggantinya dalam memimpin. Namun dalam bagian ini, Musa tidak menunjuk anaknya melainkan Yosua.

Kepemimpinan teokrasi, autokrasi, dan demokrasi: mana yang baik? Musa sadar bahwa Tuhan memimpin secara teokrasi. Allah memberikan standar dan Ia sendiri yang memilih pengganti Musa. Dalam autokrasi, pemimpin tunggal menentukan segala halnya termasuk penggantinya. Dalam demokrasi, rakyat yang memilih pemimpinnya melalui musyawarah. Demokrasi bisa salah, kejam, tidak adil, dan bersifat manipulatif. Yesus disalib karena kesepakatan mayoritas pada saat itu. Ketika kita diberikan kesempatan untuk memilih, maka kita harus memilih pemimpin yang paling dekat dengan standar yang Allah berikan.

Jadi gereja paling tepat memakai sistem yang mana? Di dalam gereja ada nilai teokrasi. Kita memilih pemimpin-pemimpin di gereja berdasarkan standar yang sudah Alkitab berikan. Di dalam demokrasi pun kita tetap mengakui ada teokrasi. 1 Timotius 3:2-7 memberikan standar penilik jemaat. Banyak gereja tidak melihat standar ini tetapi menggunakan politik kuasa dan uang. Hal ini menyebabkan gereja menjadi pelacur dunia karena firman Tuhan diabaikan sedangkan uang dan kuasa diutamakan. Ada gereja-gereja yang dimana pendirinya memberikan jabatan kepada keluarganya ketika ia sudah pensiun. Jika ia tidak memiliki keluarga, maka ia akan menjual gereja tersebut. Para pendiri ini tidak melihat firman Tuhan melainkan keuntungan diri dan keluarganya sendiri. Gereja harus menjalankan prinsip-prinsip alkitab tentang kepemimpinan.

Pembahasan

1) Kepemimpinan teokrasi

Dalam kepemimpinan ini, Allah melakukan pemilihan berdasarkan kehendak Allah dengan standar dan norma-norma berdasarkan Alkitab (Keluaran 19:4-6 sampai 1 Samuel 8:7). Di dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa Allah-lah yang menunjuk pemimpin, hakim, sampai raja bagi Israel. Allah tidak membutuhkan manusia untuk memimpin umat-Nya, namun dari kitab Hakim-Hakim kita menyadari bahwa tanpa kehadiran pemimpin manusia dan tanpa visi, maka rakyat menjadi liar. Misi pendiriannya adalah untuk menegakkan hak penebusan (Keluaran 6:6-7) dan hak perjanjian (Ulangan 26:17-19). Ketika bangsa Israel dijajah dan diperbudak oleh Mesir, Allah mengutus Musa untuk menjadi pemimpin dan menggenapkan penebusan-Nya. Setelah Musa, Tuhan menunjuk Yosua untuk menjadi pemimpin yang menggenapkan kehendak-Nya. Dalam teokrasi Allah berdaulat penuh dalam memilih atau mengganti pemimpin umat-Nya. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Namun dosa membuat manusia terpisah dari Allah dan tidak lagi beribadah kepada Allah. Musa adalah salah satu pemimpin yang membawa umat Allah kembali beribadah. Ibadah adalah respons iman, bukan sarana untuk memanipulasi dan memaksa Tuhan agar mengikuti kehendak kita. Dalam ibadah, kita menyatakan kesetiaan dan mengingat janji Tuhan. Musa menjadi pemimpin sebagai alat di tangan Tuhan untuk menyatakan janji-Nya kepada bangsa Israel.

Dimanakah Allah tinggal bersama dengan umat-Nya? Kemah suci menjadi tempat kediaman Allah (Keluaran 25:8 dan Imamat 26:11-12). Kemah suci merupakan tempat yang khusus, bahkan ketika imam masuk dengan sembarangan maka ia akan mati. Kemah suci menyatakan otoritas dan kesucian Tuhan. Setiap orang yang bekerja berkenaan dengan kemah suci harus suci. Dalam kepemimpinan teokrasi, kesucian menjadi simbol dan bukan kekuasaan serta harta. Kehendak Tuhan harus dijalankan dalam teokrasi. Bagaimana dengan kepemimpinan kita? Di dalam diri kita harus ada semangat teokrasi. Kita mengetahui bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Tuhan menyatakan kuasa, otoritas, dan kesucian-Nya dalam diri kita. Jangan sampai kita melupakan hal ini dan berpikir bahwa kita adalah pemilik dan pemimpin bagi diri kita sendiri. Jiwa teokrasi juga harus kita aplikasikan dalam keluarga dan masyarakat. Ini berarti bahwa kita harus menjadi teladan. 1 Timotius 3:2-7, karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. Ini menjadi standar bagi kita orang Kristen dalam menjadi atau memilih pemimpin di masyarakat. Standar ini memang sempurna dan mungkin tidak ada manusia yang dapat mencapai 100% dari standar ini, namun setidaknya seorang pemimpin harus memiliki 70% dari semua ini serta ia harus terus berusaha agar ia semakin mendekati standar tersebut.

2) Mengapa Yosua terpilih?

Pertama, Yosua terpilih karena kesetiaannya. Ketika Musa naik ke gunung Sinai beberapa kali, Yosua mengikutinya. Ia menyaksikan Musa bertemu dengan Tuhan di kemah pertemuan. Dia adalah abdi Musa. Orang yang setia adalah orang yang memiliki fokus dalam menjalankan tanggung jawabnya serta komitmen penuh. Yosua setia kepada Musa meskipun ia tidak tahu bahwa ia dijadikan Tuhan sebagai penerus Musa. Kesetiaan kita bukanlah karena uang, fasilitas, kenyamanan dan kesenangan pribadi melainkan karena visi dan misi. Jika kita setia karena uang, maka celakalah kita. Jika tempat kita bekerja memiliki visi dan misi yang benar, maka kita harus setia dan mendukung. Di sanalah kerohanian kita akan bertumbuh karena apa yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Yosua mencerminkan anak muda yang setia. Ia berbeda dengan anak-anak muda zaman sekarang yang lebih setia kepada gadget-nya. Zaman sekarang kebahagiaan anak itu tergantung pada gadget dan internet. Anak-anak muda zaman sekarang lebih banyak memerhatikan kepopuleran diri di media sosial bahkan sampai menjual diri demi kemuliaan diri. Kemuliaan Tuhan bukan lagi hal yang dipikirkan oleh mereka.

Yosua adalah hamba yang setia. Ketika 12 pengintai diutus (Bilangan 13), 10 pengintai berbohong dan ketakutan sedangkan Kaleb dan Yosua melihat janji Tuhan dan menyatakan dengan optimis bahwa bangsa Israel pasti menang dan mendapatkan tanah itu (Bilangan 14:6-9). Mereka berdua sungguh adalah anak-anak muda yang benar di mata Tuhan. Setia terhadap apa? (1) Setia kepada firman Tuhan, (2) Setia menjaga kesucian hidup, (3) Setia hidup dalam ketaatan, (4) Setia menjalankan seluruh roda kerohanian kita: berdoa, melayani, menginjili, mendalami Alkitab, dan menjalankan panggilan di masyarakat. Jika kita punya semua ini, maka kita adalah orang-orang yang setia.

Kedua, Yosua memerhatikan seluruh firman, membaca, dan merenungkannya sehingga ia berhasil (Yosua 1:8). Kita percaya firman adalah pelita bagi hidup kita (Mazmur 119:105). Ketika jalan kita serasa gelap atau redup, firman itu menerangi pikiran kita dan mencerahkan hati kita sehingga kita mendapatkan hikmat dan bisa menjalankan yang tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka dari itu Allah mau agar Yosua sebagai pemimpin merenungkan firman siang dan malam. Mazmur 1:2 menyatakan hal yang sama. Ini membuat kita berbuah pada waktunya. Mengapa Tuhan memilih Yosua? Karena ia dekat dengan Tuhan. ia selalu taat dan mau belajar dari Musa. Yosua adalah seorang yang mendapatkan didikan dari Ulangan 6. Ia adalah anak dari Nun dari suku Efraim. Ia sesungguhnya bernama Hosea tetapi Musa memanggilnya Yosua (Bilangan 13:16). Arti namanya adalah ‘Tuhan menyelamatkan’. Nama Yosua itu juga sama dengan Yesus. Di dalam bahasa yang lain: Mesias. Saya percaya ayahnya, yaitu Nun, mengajarkan yang baik kepada Yosua sehingga ia bias menjadi abdi Musa. Kita sebagai orang tua harus mendidik anak dengan iman. Seluruh sarana seperti saat teduh, doa keluarga, dan ibadah keluarga harus dijalankan. Kita harus terus merenungkan firman dan meminta pimpinan Roh Kudus sehingga kita tidak salah memutuskan dan selalu ikut kehendak Tuhan. tawaran dunia dan kesenangan membuat ini menjadi tidak mudah. Hati kita bisa dipenuhi dengan berita-berita dunia atau gosip namun tidak diisi dengan firman Tuhan. kita harus mendoakan bangsa kita agar Tuhan memberikan pemimpin yang terbaik. Tuhan berdaulat atas setiap pemimpin di dunia ini. Ketika ada seorang pemimpin yang mau melawan Tuhan misalnya Nebukadnezar (sekitar 630 SM – 562 SM), Tuhan bisa merendahkannya (Daniel 4:37). Ketika ada pemimpin yang melawan kesucian Tuhan, maka Ia bisa menghakimi (Daniel 5:30). Otoritas Tuhan adalah yang tertinggi sehingga semua pemimpin dunia dan semua kuasa harus tunduk kepada-Nya. Tidak ada yang bisa mempermainkan Tuhan. Saat Musa dan bangsa Israel ingin melewati negeri orang Amori, kelihatannya mereka mempersilahkan, namun sebenarnya mereka telah mempersiapkan tentara untuk membunuh orang Israel. Akhirnya Tuhan menghancurkan orang-orang Amori. Musa mengingatkan Israel tentang hal itu (Ulangan 31:4). Yosua pun menyaksikan kejadian itu.

Ketiga, Yosua telah teruji iman, mental, dan komitmennya bagi Tuhan (bandingkan Kisah Para Rasul 6:3). Dalam 1 Timotius 3:6 dikatakan bahwa orang yang baru bertobat tidak boleh dijadikan penilik jemaat agar ia tidak jatuh. Alkitab menyatakan bahwa kita harus menguji segala hal (1 Tesalonika 5:21). Banyak orang Kristen memakai nama Tuhan namun untuk keuntungan diri saat ini. Maka dari itu kita harus menguji agar tidak tertipu. Yosua sudah teruji. Ia sebagai pengintai telah memberikan laporan yang benar karena melihat firman Tuhan (Bilangan 14:6-9). Ketika memerangi Amalek, ia setia memimpin sampai memenangkan peperangan (Keluaran 17:9-13). Yosua telah membuktikan bahwa dirinya beriman kepada Tuhan. Ia tidak pernah berpikir untuk menyembah ilah lain. Ketika Timotius mendengar bahwa Paulus akan dihukum mati, ia sempat tergoncang imannya. Maka dari itu Paulus menulis agar Timotius menjadi prajurit, petani, dan olahragawan yang baik (2 Timotius 2:3-6). Paulus juga menulis 2 Timotius 2:20-23, dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran. Timotius pada akhirnya menjadi orang yang teruji karena firman yang diberitakan melalui mulut dan tulisan Paulus.

Yosua bermental kuat karena ia melihat Tuhan sebagai sumber kekuatan. Komitmennya teruji dan ia selalu siap untuk menjalankan perintah Tuhan. kita harus memiliki mental seorang prajurit yang selalu berfokus untuk menjalankan perintah Tuhan dan pantang mundur serta bermental teguh. Kita melihat bahwa untuk pekerjaan Tuhan, Tuhan menetapkan kriteria-kriteria dalam memilih hamba-hamba-Nya. Kita harus menguji apakah orang-orang yang kita pilih sudah sesuai standar firman atau belum. Kita boleh menaikkan gaji dari orang di perusahaan kita yang setia terhadap visi dan misi perusahaan yang benar, namun kenaikan gaji itu bukanlah untuk membeli orang itu dengan uang atau memakai uang sebagai alat untuk memanipulasinya.

3) Cara Musa mengumumkan penggantinya

Musa melayani karena panggilan Tuhan. Ia mengakhiri pelayanan dengan menunjuk orang yang tepat. Dia telah mendapatkan visi dari Tuhan dan ia telah membagikan visi itu kepada penerusnya. Dia mempersiapkan Yosua untuk bisa menyelesaikan misi dari Tuhan. Ini berarti bahwa Musa adalah pemimpin yang berhasil karena ia tidak meninggalkan pelayanan begitu saja. Pertama, Musa melihat diri dan mengevaluasi diri (Ulangan 31:2). Itu baik untuk kita lakukan agar kita mengetahui apakah diri kita mengalami kemajuan atau kemunduran. Musa mengakui bahwa dirinya sudah tua sehingga tidak gesit dan lincah lagi. Ia juga tahu bahwa Tuhan tidak mengizinkannya masuk ke tanah Kanaan. Ia tidak mengidap post-power syndrome. Musa sadar bahwa dirinya sudah tidak mungkin melanjutkan misi Tuhan, namun ia juga tahu bahwa misi Tuhan harus diselesaikan sehingga ia menunjuk Yosua untuk melanjutkan pelayanannya. Waktu ada di tangan Tuhan. Segala sesuatu ada waktunya. Ketika Tuhan sudah menunjukkan waktu-Nya, maka kita harus taat.

Kedua, Musa membagikan janji penyertaan itu kepada seluruh orang Israel (Ulangan 31:3-5). Tuhan telah berjanji untuk menyertai mereka dan menaklukkan bangsa-bangsa di tanah Kanaan seperti Ia telah menghancurkan orang-orang Amori. Tuhan juga menjanjikan kekuatan dan perlindungan bagi bangsa Israel. Tuhan tidak akan meninggalkan dan membiarkan mereka. Musa tahu dulu bangsa Israel adalah budak Mesir sehingga menjadi orang-orang yang bermental ciut dan mudah mundur, oleh karena itu ia menyebutkan janji tentang kehadiran Tuhan. Kita juga harus melatih anak-anak kita agar mereka memiliki keberanian dan memegang janji Tuhan. Tuhan bisa memakai kita yang terbatas untuk bekerja secara maksimal bagi Tuhan. Janji penyertaan itu membuat mereka melihat kekuatan Tuhan di tengah kelemahan mereka dan melihat kebesaran Tuhan yang melampaui pemikiran mereka. Kita juga harus melatih diri kita secara iman untuk melihat Tuhan dalam hal apapun yang kita kerjakan. Tuhan kita maha kuasa dan Ia memerhatikan umat-Nya. Tuhan Yesus menceritakan tentang hakim yang tidak benar dalam Lukas 18:1-8. Dalam perumpamaan itu ada seorang janda yang terus menerus memohon bantuan hakim sampai hakim itu pada akhirnya mengabulkan permintaannya. Perumpamaan ini berbicara mengenai ketekunan. Kita harus tekun berdoa dan berharap akan janji penyertaan Tuhan. Janji penyertaan Tuhan itu sempurna, tidak mungkin salah, dan tidak mungkin mengecewakan.

Ketiga, Musa melakukan pengutusan dan peneguhan iman jemaat (Ulangan 31:6-7). Ini adalah salah satu pesan terakhir Musa untuk mereka. Mereka adalah umat yang diutus oleh Tuhan dan harus selalu melihat kepada firman Tuhan dan janji-janji-Nya. Musa melakukan pengutusan dan peneguhan iman Yosua (Ulangan 31:7-8). Regenerasi pemimpin itu indah jikalau orang yang tepat dipilih. Jika orang yang salah yang dipilih, maka sebuah perusahaan pasti akan mengalami kerugian. Kita melihat bahwa Musa dan Yosua bergerak karena iman dan panggilan Tuhan bagi mereka. Kita harus mendidik anak-anak kita dengan iman di tengah zaman yang bengkok ini sehingga mereka menjadi “Yosua-Yosua” yang baru bagi gereja Tuhan.

Penutup

Musa sadar bahwa Tuhan yang memimpin umat-Nya. Kepemimpinan ini disebut teokrasi. Oleh karena itulah, ia pun hanya meneruskan estafet kepemimpinan kepada orang yang memang ditentukan oleh Tuhan. Musa tidak mempersiapkan anaknya (Gersom dan Eliezer) sebagai penggantinya karena Tuhan telah menunjuk Yosua. Kiranya kita diberikan kepekaan untuk mempersiapkan generasi penerus menjadi “Yosua-Yosua” masa kini.

(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami