Raja yang Rendah Hati (Bagian 2) – 2 Samuel 6:1-18

Raja yang Rendah Hati (Bagian 2) – 2 Samuel 6:1-18

Categories:

Khotbah Minggu 20 September 2020

Raja yang Rendah Hati (Bagian 2)

2 Samuel 6:1-18

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan melihat bagaimana sikap Daud ketika ia mulai menjadi raja. Di dalam kerajaannya ia mengutamakan Tuhan dan belajar dari kesalahan. Itu adalah dua poin yang kita akan bahas. Pembahasan kita didasarkan pada ayat 2 Samuel 6:1-18.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Siapa guru untuk keberartian hidup kita? Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, dosa menghancurkan identitas dan jati diri kita. Dosa juga menghancurkan masa depan kita. Namun kita percaya bahwa Tuhan melalui penebusan-Nya mengajarkan kita untuk membangun ulang jati diri kita melalui kebenaran Firman Tuhan. Alkitab adalah guru kita yang paling utama. Guru yang kedua adalah buku-buku rohani. Guru yang ketiga adalah pemberitaan oleh hamba Tuhan yang sungguh-sungguh bertanggung jawab, memiliki teologi yang benar, dan memiliki tujuan untuk memuliakan Tuhan. Setelah itu kita belajar dari tokoh-tokoh Kristen dalam sejarah yang jejak kakinya dipakai oleh Tuhan. Kita bisa belajar dari keberhasilah rohani mereka dan kegagalan mereka yang mengandung nilai pembaruan. Kelima, kita bisa belajar dari sejarah. Kita bisa mempelajari kemerosotan dan kehancuran dalam sejarah di zaman-zaman tertentu. Kita juga bisa belajar secara pribadi dari kesalahan-kesalahan kita. Daud belajar dari semua ini. Ia mau terus menjadi lebih baik. Ia juga belajar dari kesalahan Saul.

 

            Mengapa program utama Daud sebagai raja adalah membawa tabut Allah ke Yerusalem? Mengapa Daud tidak mengutamakan pembangunan istana raja atau bala tentara yang kuat? Mengapa ekonomi bangsa Israel bukan agenda utamanya tetapi tabut Tuhan? Selama 20 tahun tabut itu berada di Kiryat-Yearim (1 Samuel 7:2). Apa visi Daud untuk dirinya dan Yerusalem ketika ia menjadi raja? Ketika ia menjadi raja, ia tidak lupa akan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Kita bisa mengingat siapa diri kita di hadapan Tuhan ketika kita sedang kesulitan namun tidak demikian dalam kelancaran. Jadi Daud tidak kehilangan identitasnya. Ia tidak melupakan komitmennya untuk menyembah Tuhan sampai kota itu sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan. Mengapa Daud melihat pentingnya tabut perjanjian ini harus ada di Yerusalem? Mengapa Saul tidak berpikir seperti Daud? Saul memikirkan keutuhan kerajaannya ketika menghadapi orang-orang Filistin. Ia mementingkan takhtanya namun melupakan takhta Kristus yang sudah selama 20 tahun berada di Kiryat-Yearim. Inilah keunikan kerohanian Daud yang sungguh mengutamakan Tuhan. Dari sikap dan tindakan Daud yang mengutamakan kehadiran Tuhan di kerajaannya, kita bisa melihat kerendahan hatinya.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Tujuan baik tetapi cara yang salah di mata Tuhan dapat mengakibatkan kefatalan

            Kita harus berhati-hati. Tuhan kita mengajarkan kebenaran. Pengetahuan itu mengisi pikiran kita dan mengubah hati kita. Jadi kita harus hidup lurus sesuai dengan kebenaran. Orang yang beriman itu hidup dalam kebenaran dan orang benar itu akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Jadi iman dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Iman itu menghasilkan kebenaran karena didasarkan pada teologi yang benar. Teologi yang benar akan menghasilkan cara pandang yang benar akan apapun juga dan sikap kita dalam menghadapi krisis ekonomi serta usaha kita dengan benar. Tujuan kita harus dicapai dengan cara yang benar di mata Tuhan. Daud melakukan kesalahan dalam bagian ini. Tujuan Daud begitu sangat baik. Daud mementingkan hadirnya tanda kehadiran Tuhan di kerajaannya. Ia mau menjadi pemimpin yang mengandalkan Tuhan (ayat 1-3). Saul bukanlah pemimpin yang teosentris, namun Daud berbeda. Ia tahu bahwa selama Saul menjadi raja, orang-orang Filistin mau membunuh Saul. Saul menghadapi begitu banyak tantangan sampai ia frustrasi. Daud memainkan kecapi untuk Saul dan ia bisa melihat Saul yang sedang stres. Saul tidak mencari solusi d dalam Tuhan. Daud belajar untuk menjadi raja yang berbeda. Ia tahu bahwa sebagai raja ia akan menghadapi ancaman kematian dan tantangan yang begitu berat. Ia belajar bahwa untuk melewati itu semua ia harus dekat dengan Tuhan. Ia tahu bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dan manusia harus kembali kepada Tuhan. Manusia itu terbatas dalam pikiran, fisik, dan pengalaman. Jadi ia mengerti bahwa dirinya harus kembali kepada Tuhan.

 

            Jadi keputusan Daud untuk membawa kembali tabut Allah ke Yerusalem itu adalah hal yang baik dan benar. Daud memiliki tujuan yang baik yaitu mengubah Yerusalem menjadi kota Allah dan negara yang beribadah kepada Tuhan. Ini adalah tujuan yang sangat mulia. Secara pribadi Daud sangat dekat dengan Tuhan. Ia sudah mengalami pertolongan Tuhan yang luar biasa ketika ia menjadi gembala. Ketika menghadapi ancaman alam dan hewan buas, ia melihat bahwa kuncinya adalah mengandalkan Tuhan. Keberaniannya yang suci merupakan hasil pertolongan Tuhan. Jadi hal pribadi memengaruhi hal yang umum. Hal yang umum ini adalah bangsa. Kualitas kita harus terpancar keluar. Kualitas hidup kita harus bisa dirasakan orang lain. Jadi kita harus berpengaruh. Kalau kita berkata bahwa diri kita rohani namun kerohanian kita tidak tampak dalam nilai kerja, relasi, dan keluarga, maka kerohanian kita patut dipertanyakan. Namun apakah tujuan yang mulia itu saja cukup? Tidak cukup. Cara yang salah itu mengakibatkan kematian Uza. Kesalahan Daud adalah tidak mempelajari sejarah. Di dalam tabut itu ada dua loh batu, tongkat Harun, dan manna. Daud menggerakkan tiga puluh ribu orang. Ia menyiapkan penari dan pemusik. Namun apakah kuantitas itu yang dibutuhkan? Tidak. Hal yang Tuhan mau adalah agar Daud mengikuti aturan Tuhan. Tabut perjanjian hanya boleh diangkut oleh orang Lewi. Uza dan Ahyo bukanlah orang Lewi. Daud memakai kereta untuk mengangkut tabut perjanjian. Di sini Tuhan mau mengajarkan perbedaan antara penyembahan terhadap diri-Nya dan berhala. Patung-patung berhala itu boleh disentuh. Namun tabut Tuhan tidak boleh disentuh dengan sembarangan. Melihat ke bagian dalamnya pun bisa mendatangkan kematian. Tuhan tidak mau tabut itu dibawa dengan kereta seperti bangsa-bangsa lain yang tidak menghargai kesucian.

 

            Dalam hal ini ada dua kesalahan Daud. Kesalahan pertamanya adalah Daud tidak belajar bahwa hanya orang-orang tertentu yang boleh mengangkut tabut itu yaitu orang-orang Lewi yang telah ditunjuk oleh Tuhan. Kesalahan keduanya adalah Daud memakai kereta yang ditarik oleh hewan untuk membawa tabut itu. Hanya orang Lewi yang sikapnya benar boleh membawa tabut yang mewakili kehadiran Tuhan itu. Tabut itu bukan barang sembarangan. Tuhan tidak mau kompromi dengan tujuan yang baik namun yang dicapai dengan cara yang salah. Ketika lembu itu tergelincir, Uza bermaksud baik yaitu ia tidak ingin tabut itu terjatuh. Namun ketika ia memegangnya, saat itu pula ia mati. Daud menjadi begitu marah terhadap Tuhan. Namun bagi Tuhan tidak boleh ada kompromi. Di sana Daud harus introspeksi diri. ia harus belajar bahwa kesucian Tuhan tidak boleh dipermainkan. Takhta Tuhan tidak boleh dipermainkan oleh para pelayan Tuhan. Ini karena kesucian itu menyatakan kemulian-Nya. Perjanjian Baru menyatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah. bait Allah bukanlah gedung yang ada di luar diri kita. Kristus sudah merombak kita dan kita menjadi anggota tubuh Kristus yang kudus. Kita juga mempelajari kesucian dalam perjamuan kudus. Orang yang tidak mempersiapkan dirinya dan hati baik-baik ketika menerima perjamuan kudus bisa mendapatkan penyakit atau kematian (1 Korintus 11:30). Ini karena kesucian Tuhan dipermainkan. Perjamuan kudus itu menyatakan kepada kita tentang darah kudus yang menebus kita. Kalau kita tidak menganggap ini sebagai hal yang serius, maka kita hanya akan menambah dosa.

 

            Seluruh peristiwa itu pasti membuat Daud kaget. Maksud Daud itu baik dan ia ingin mendatangkan sukacita bagi Israel. Namun ternyata hal yang terjadi adalah dukacita. Daud akhirnya membawa tabut itu ke rumah Obed-Edom (2 Samuel 6:10). Selama tiga bulan tabut itu berada di sana. Daud tidak berani dan harus evaluasi diri. Namun setelah Daud mendengar bahwa Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya, konsepnya berubah. Ia berpikir bahwa Tuhan masih marah, namun setelah mendengar kabar itu, ia sadar bahwa Tuhan memberkati Obed-Edom. Itu berarti Tuhan tidak marah. Saat itu pasti Daud berdiskusi dengan beberapa orang mengenai tabut itu. Saat Hofni dan Pinehas membawa tabut itu ke medan peperangan, Tuhan tidak menyertai mereka sehingga mereka mengalami kekalahan. Tabut itu kemudian dibawa ke kota-kota Filistin. Itu mendatangkan kutuk bagi mereka. Kehadiran tabut itu membuat patung Dagon jatuh tersungkur. Di hari berikutnya, mereka menemukan bahwa patung Dagon sudah tidak memiliki kepala dan tangan serta patung itu tergeletak di pintu gerbang kuil Dagon. Sampai saat itu mereka tidak berani masuk pintu kuil itu. Mengapa Tuhan menyatakan hal ini? Orang Filistin berpikir bahwa Israel dan Allah sudah kalah. Namun ternyata kehadiran tabut Tuhan membuat semua orang Filistin ketakutan. Mereka mendapatkan borok yang membusuk pada tubuh mereka. Para raja Filistin menjadi gelisah dan akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan tabut itu memakai kereta yang ditarik lembu. Jadi tidak ada manusia yang mengantar tabut itu. Para raja Filistin memasukkan tikus dan benjol emas ke dalam kereta itu. Ketika orang-orang Bet-Semes melihat hal itu, mereka menjadi gempar. Tuhan membunuh 70 orang dari mereka karena mereka melihat ke dalam tabut Tuhan (1 Samuel 6:19). Daud pasti mendengar kisah-kisah ini dan itu membuatnya mengerti bahwa tabut Tuhan tidak boleh diangkut dengan sembarangan.

 

2) Belajar dari kesalahan sebagai guru kehidupan untuk berkenan kepada Allah

            Tujuan dan cara yang kita pakai harus baik dan benar. Daud belajar dari kesalahannya yaitu mengikuti aturan Tuhan dalam membawa tabut Allah (ayat 12-13). Daud mengerti bahwa ia tidak boleh memakai kekuatan militer, penari, ataupun penyanyi. Ia harus mengikuti cara Tuhan. Ia memimpin prosesnya dan ia menjadi contoh yang baik. Ia memakai baju efod (2 Samuel 6:14). Di sini kita melihat keberanian Daud sebagai pemimpin. Baju efod itu mula-mula dipakai oleh Harun dan dibuat pada zaman Musa memimpin. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang siap mengambil satu risiko serta siap menjadi teladan dalam setiap keputusan. Daud tahu bahwa jika ada kesalahan lagi maka yang mati selanjutnya adalah dirinya sendiri. Pasti Daud sudah mempersiapkan dirinya agar layak. Kabar tentang Obed-Edom itu mengubah cara pandangnya. Ia sadar bahwa Tuhan marah bukan karena tabut itu akan dipindahkan ke Yerusalem tetapi karena cara Daud sebelumnya itu salah. Ia belajar dari kesalahan dan ia tidak mau untuk memakai cara yang salah lagi. Ia mempersiapkan orang-orang Lewi untuk mengangkat tabut itu. Pada ayat ke-3, tabut itu diangkat dengan kereta. Namun pada ayat ke-12, tabut itu diangkat oleh orang Lewi. Manakah yang lebih efektif: mengantar barang dengan kereta lembu atau diangkat oleh manusia? Jarak untuk sampai ke Yerusalem adalah 15 km. Kita pasti memilih kereta lembu. Itu membuat kita tidak lelah secara fisik. Namun di mata Tuhan, hal yang dipentingkan bukanlah efektivitas dan efisiensi. Orang Lewi mengangkat tabut itu dengan balok/kayu dan tidak menyentuh tabut perjanjian.

 

            Tuhan mau mereka menghargai kesucian-Nya. Tabut itu bukanlah sekadar barang biasa. Tabut itu adalah panji kemenangan Israel. Dua loh batu itu berisi Firman Tuhan. Tongkat Harun menyatakan otoritas dan kuasa Tuhan. Manna itu menyatakan tentang pemeliharaan Tuhan. Semua itu memiliki makna yang sangat penting. Jadi tabut itu tidak boleh diangkat dengan cara yang sembarangan. Orang Lewi harus mengangkat tabut itu dengan persiapan hati yang matang. Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan (2 Samuel 6:13). Hal ini dilakukan oleh mereka sepanjang perjalanan itu (15 km). Para penafsir menyatakan bahwa 4000-5000 ekor lembu harus dipersiapkan untuk hal ini. Hal itu pasti membuat orang-orang yang menonton bertanya-tanya. Yerusalem akan diubah oleh Daud agar menjadi kota Allah. Ia mau negara itu beribadah kepada Tuhan. Jadi seluruh rakyat harus mempersiapkan ini secara rohani. Seluruh proses pemindahan tabut itu pasti melibatkan banyak orang Israel. Inilah reformasi dalam satu bangsa yang dimulai oleh Daud. Dalam peristiwa itu pasti Daud melibatkan semua orang secara penuh. Itulah cara Tuhan. Di balik peristiwa kematian Uza, Daud belajar menjadi raja yang rendah hati. Ia belajar bahwa tujuan yang baik itu tidak cukup. Ia harus memakai cara yang tepat juga. Tuhan mengubah rakyat sehingga mereka mengenal Tuhan.

 

            Ketika mereka mengangkat tabut itu, tabut itu harus ditutupi dengan kain supaya tidak menjadi tontonan terbuka. Kain yang digunakan adalah kain lenan ungu. Ketika tabut itu diletakkan di tempat Bet-Semes, 70 orang meninggal hanya karena melihat bagian dalamnya. Kemuliaan Tuhan bukanlah tontonan murahan. Jadi ibadah Kristen bukanlah pertunjukan atau hiburan bagi para penonton. Ibadah bukanlah tempat untuk menyatakan kehebatan manusia. Ibadah itu harus menyatakan kebesaran Tuhan. Ketika bait Allah didirikan, ada ruang suci dan ruang maha suci. Tabut itu hanya bisa dilihat oleh imam besar sekali dalam setahun. Dalam kesempatan satu kali itu imam besar harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Ketika imam besar masuk ke dalam bait Allah, kakinya diikat dengan tali dan ada lonceng di kakinya. Kalau lonceng itu berbunyi, maka itu berarti ia masih hidup dan berkenan kepada Tuhan. Namun jika lonceng itu tidak berbunyi sampai waktu tertentu, maka itu berarti imam besar itu sudah mati. Jadi sebelum melayani, kita harus mempersiapkan hati, kerohanian, mental, dan kemampuan kita. Orang dunia hanya mempersiapkan mental dan kemampuan. Mereka hanya mau terlihat hebat di mata penonton. Salah satu pertunjukan Freddie Mercury harus dipersiapkan selama delapan bulan. Artis-artis dunia mempersiapkan pertunjukan mereka selama berbulan-bulan. Petinju bisa mempersiapkan diri sampai berbulan-bulan bahkan setahun. Ini semua adalah agar mereka bisa menghibur penonton. Bagaimana dengan kita yang ingin melayani Tuhan? Apakah kita hanya mempersiapkan secara gampangan?

 

            Kita dipanggil sebagai anak Tuhan yang sudah ditebus oleh Kristus. Kita menghidupi panggilan kita dalam melayani Tuhan. Panggilan kita yang ketiga adalah membawa orang-orang dunia kepada Tuhan dengan pemberitaan Injil. Jadi tema hidup kita adalah panggilan. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9a). Kehadiran kita harus menyatakan Tuhan dan membawa orang-orang berdosa kembali kepada Tuhan. Jadi kita harus aktif melayani Tuhan. Saat menghidupi panggilan itu kita harus memakai cara Tuhan. Daud mau belajar. Ia adalah raja yang rendah hati dan mau mengutamakan Tuhan. Ia belajar dari kesalahannya dan memperbaiki diri. Saat memperbaiki diri, ia pasti serius mencari tahu dan menjalankan cara yang benar. Daud adalah seorang Yehuda, namun mengapa ia boleh memakai baju efod? Di sana ada risiko, namun Daud pasti mengikuti semua aturan. Ia menyiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin yang membawa kebaikan bagi bangsa Israel. Seluruh rakyat bergembira, namun ada satu orang yang memandang rendah Daud yaitu Mikhal, istrinya sendiri, anak Saul. (2 Samuel 6:20). Dalam terjemahan yang lain sebenarnya Daud tidak telanjang sepenuhnya. Ia masih memakai pakaian. Akhirnya Mikhal dihukum oleh Tuhan, yaitu ia menjadi mandul sampai akhir hidupnya. Ini karena ia tidak mengerti waktu Tuhan. Kita harus mengerti bahwa permainan musik dan tarian itu dilakukan oleh Daud di luar ibadah bait Allah. Ada Gereja-Gereja yang salah mengerti bagian ini dan memasukkannya ke dalam ibadah. Akhirnya Gereja-Gereja itu mengikuti cara-cara dunia. Musik tidak boleh menjadi dominan dalam ibadah. Ini adalah kesalahan banyak Gereja masa kini. Firman Tuhan tidak menjadi pusat tetapi hiburan manusia. Di dalam ibadah kita harus ada keteraturan.

 

            Kita harus belajar untuk menjadi rendah hati ketika kita menjadi pemimpin. Kita harus mengandalkan Tuhan dan kesucian itu harus hadir dalam setiap aspek hidup kita. Kita tidak boleh seperti Hofni dan Pinehas yang memperlakukan tabut Tuhan sebagai jimat. Mereka kalah karena mereka tidak menghargai kesucian Tuhan. Kita tidak mementingkan benda. Gereja adalah kita yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1).

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tujuan atau motivasi yang baik harus diikuti dengan cara yang benar menurut aturan Tuhan. Kita tidak boleh bermain-main dengan Tuhan yang maha hadir, maha kuasa, dan maha tahu. Takhta kesucian Tuhan tidak boleh dipermainkan. Aturan Tuhan tidak boleh dikompromikan. Semua aspek harus memuliakan Tuhan. Kita semua mungkin memiliki tujuan yang baik, namun semuanya harus dikembalikan dalam cara yang benar.

 

2) Tuhan tidak pernah kompromi dengan tujuan yang baik tetapi caranya/strateginya salah. Di dalam bagian ini kita harus takut akan Tuhan. Uza seperti menjadi korban. Alkitab menyatakan bahwa ia teledor. Tanpa Uza menopang tabut itu, Tuhan tetap bisa menjaga agar tabut itu tidak jatuh dan menjadi rusak. Terkadang kita bisa merasa bahwa Tuhan membutuhkan kita. Namun Tuhan bisa memakai cara-Nya sendiri untuk memelihara segala sesuatu. Kita bisa menjadi seperti Uza yang terburu-buru ingin menolong. Padahal Tuhan bisa memakai cara-Nya sendiri untuk menjaga apapun yang Ia kehendaki.

 

3) Setiap tujuan yang mau dicapai harus digumulkan secara rohani termasuk langkah-langkahnya di dalam pimpinan Tuhan. Kita bisa mengkaji situasi saat ini dengan pertimbangan-pertimbangan dunia namun semua perkara itu harus dibawa kepada Tuhan secara rohani. Kita boleh menangkap setiap peluang bisnis, namun kita harus tetap mengingat bahwa bisnis adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Kita tidak boleh melupakan panggilan kita baik sebagai kepala rumah tangga, suami, ayah, dan lainnya. Uang bukanlah tujuan utama kita. Kita harus menjadi berkat melalui usaha kita. Setiap perbuatan baik yang bisa kita lakukan tidak boleh ditunda karena itu membuat kita berdosa. Amsal 1:20 menyatakan bahwa hikmat itu berseru di jalan-jalan. Jadi kita harus menangkap itu dan mengkajinya. Kita harus senantiasa belajar.

 

4) Kerendahan hati seorang pemimpin akan memengaruhi gayanya dalam bersikap secara rohani dalam memimpin [pribadi (personal) ke umum (general)]. Daud secara pribadi sangat dekat dengan Tuhan. Ia sangat intim dengan Tuhan. Ia bahkan berkata ‘Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya’ (Mazmur 27:4). Ini adalah bahasa sastra. Ini tidak berarti bahwa kita hanya berdiam di kamar kita terus menerus untuk menikmati Tuhan. Kita mendapatkan panggilan ke dalam dan panggilan ke luar. Daud ingin hatinya terus melekat kepada Tuhan. Ia mau Yerusalem berubah menjadi kota Allah. Namun setelah itu ternyata orang-orang Israel berbalik dari Tuhan sampai Tuhan menghancurkan Yerusalem. Pada tahun 586 SM, Yerusalem dihancurkan oleh Babel.

 

            Para ahli Alkitab mengambil kesimpulan bahwa tabut perjanjian itu hilang pada tahun 586 SM. Tidak ada catatan bahwa tabut Allah itu dibawa ke Babel. Perkakas-perkakas bait Allah dibawa ke Babel dan dipergunakan secara sembarangan oleh Belsyazar (Daniel 5:2-3). Akhirnya Tuhan menyatakan melalui tulisan di dinding bahwa ia akan mati. Dalam bagian itu pun tidak ada catatan tentang tabut perjanjian. Ini adalah misteri yang diketahui hanya oleh Tuhan. Tuhan sudah mengubah sehingga Bait Suci itu bukan lagi gedung tetapi diri kita. Tanda pemeliharaan Tuhan bukanlah manna lagi dan tanda pimpinan serta otoritas Tuhan bukanlah tongkat Harun lagi. Iman yang dipelihara oleh Tuhan itulah tanda pemeliharaan Tuhan. Otoritas kita adalah mulut kita yang memberitakan Firman Tuhan. Jadi semua itu ada dalam diri kita. Di dalam bagian ini hidup kita harus berjalan dalam kesucian. Tabut itu ada di dalam diri kita yang adalah bait Allah.

 

            Kita tidak perlu mencari tabut itu secara fisik. Jadi sejarah harus kita pahami dalam maknanya, bukan dalam simbol atau benda yang bersifat mistik. Kita tidak lagi mengutamakan Yerusalem secara fisik. Yerusalem Baru adalah diri kita. Pusat hidup kita adalah Kristus dalam kemuliaan-Nya. Firman Tuhan adalah pemimpin hidup kita. Kemuliaan yang kita cari adalah kemuliaan Tuhan, bukan Yerusalem. Yerusalem fisik telah menjadi reruntuhan karena tidak lagi beribadah kepada Tuhan. Pada tahun 70 M Bait Suci dihancurkan oleh Jenderal Titus. Jadi semua itu bukan pusat atau fokus kita. Kita adalah Yerusalem Baru itu. Kita harus menjadi orang yang rendah hati. Tujuan kita dan cara kita harus sesuai dengan aturan Tuhan. Setiap kesalahan yang kita lakukan harus kita jadikan bahan pelajaran agar kita berubah menjadi lebih baik. Kita tidak boleh mengeraskan hati tetapi mengikuti pimpinan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami