Raja yang Mulia (3)

Raja yang Mulia (3)

Categories:

Khotbah Minggu 1 Januari 2020

Raja yang Mulia (3)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

1) Pendahuluan

 

Jika Tuhan Yesus disebut Raja Kemuliaan, maka di manakah takhta dan kedudukan-Nya? Setiap raja hadir identik dengan kekuasaannya. Di manakah letak kekuasaan Tuhan Yesus? Mengapa ketika Yesus hadir, Ia tampak tidak memiliki kuasa apapun padahal Ia Raja? Mengapa Ia harus mati dengan mahkota duri dan bukan mahkota berlian? Setiap raja memiliki rakyat yang dipimpinnya. Siapa komunitas yang dipimpin oleh Tuhan Yesus? Kitalah yang dipimpin-Nya sebagai umat yang percaya. Kepemimpinan raja memiliki tujuan untuk segenap rakyatnya. Apa tujuan Kerajaan Tuhan Yesus hadir di dunia? Kehadiran Kerajaan Allah bukan identik dengan militer dan bangunan. Kehadiran Kerajaan Allah berkaitan dengan kuasa Yesus. Kuasa itu menyatakan bahwa Ia adalah Allah Pencipta, Penebus, Penopang, dan Allah yang menjamin seluruh hidup kita. Kuasa itu diberikan kepada kita sehingga kita bisa hadir sebagai anak-anak Raja. Kita bukan bermental anak Raja secara lahiriah. Kita bermental anak Raja secara rohani. Alkitab mencatat bahwa dunia ini dikuasai oleh Setan, namun kemudian akan dikuasai oleh anak-anak Tuhan secara kualitas dan bukan kuantitas. Jadi kita bermental anak-anak Allah yang bukan lahiriah tetapi rohani. Kita adalah pemenang bagi Tuhan dan bukan orang kalah atau penakut. Kita juga tidak menyombongkan kelebihan-kelebihan kita. Kita harus memiliki kerendahan hati sebagai anak-anak Allah. kita melihat kepada pujian Allah dan bukan pujian manusia.

 

Mengapa Tuhan Yesus disebut Raja yang Mulia, padahal Ia tidak memiliki kuasa militer, kuasa ekonomi, kuasa politik, kuasa hukum, dan lainnya? Orang yang mulia tidak identik dengan harta yang ia miliki. Ada banyak tokoh dunia yang melampaui pemimpin-pemimpin dunia. Menurut sejarah, dunia pernah dikuasai oleh Mesir. Namun setelah itu yang berkuasa adalah Asyur. Asyur hancur pada tahun 722 SM. Setelah itu ada kerajaan Babel pada tahun 605 sampai 585 SM. Asyur menghancurkan kerajaan Israel Utara dan Babel menghancurkan kerajaan Israel Selatan. Babel kemudian dihancurkan oleh Darius, raja Media-Persia. Setelah itu ada kerajaan Yunani. Setelah Yunani, ada kerajaan Romawi. Setelah semua ini, tidak ada lagi kerajaan manusia yang berkuasa secara mendunia. Akhirnya manusia mencoba untuk berkuasa dengan kuasa agama, seperti yang kita bisa lihat dalam perang salib. Namun sejarah membuktikan bahwa manusia yang mencoba berkuasa dengan kuasa agama pada akhirnya hancur juga. Ketika Tuhan datang, Ia menyatakan bahwa kerajaan-Nya itu tidak terguncangkan. Kerajaan Allah adalah kerajaan rohani atau kerajaan iman. Lao Zi dan Gandhi adalah tokoh-tokoh yang besar dalam sejarah. Mereka adalah orang-orang sederhana. Mereka tidak memiliki kendaraan mewah untuk berpergian. Gandhi pernah dipermalukan karena dia dianggap sebagai orang kelas bawah. Namun melalui hidup mereka yang sederhana, mereka meninggalkan pelajaran-pelajaran yang penting bagi dunia. Karena inilah mereka dikenang. Mereka memiliki nilai kemuliaan bukan karena kuasa atau harta. Mereka memiliki kemuliaan karena mereka hidup berkarya bagi orang lain. Mereka tidak mengorbankan orang lain tetapi mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Mereka mengajarkan kelembutan hati dan bukan kekerasan.

 

Lao Zi pernah menyatakan bahwa pikiran yang pintar itu tidak cukup. Baginya, kepintaran kita harus bisa berguna untuk orang lain. Kemarahan bisa menjadi kehancuran, maka dari itu baginya kita harus berkepala dingin. Jadi kita harus memiliki kelembutan yang bisa menyejukkan situasi. Lao Zi juga mengajarkan bahwa kata-kata kita harus baik. Jadi dari mulut kita harus keluar kalimat-kalimat positif dan bukan negatif. Pada zaman ini kita harus berhati-hati dengan apa yang kita sampaikan melalui media sosial. Kita bisa jatuh ke dalam dosa di aspek itu. bagi Lao Zi, hati kita harus dijaga sehingga tidak mudah terpancing emosi. Di dalam kekristenan, kita belajar bahwa hati kita harus memiliki kasih. Kasih itu menutupi banyak dosa (1 Petrus 4:8). Menurut 1 Korintus 13, kasih itu sabar dan baik. Di mana ada kasih, di sana ada solusi. Kasih itu mengajarkan kita untuk mencari solusi dan bukan menyalahkan orang lain. Segala masalah bisa menjadi ujian iman kita, maka dari itu kita harus menghadapi masalah dengan sikap hati yang benar. Kasih itu mencerdaskan pikiran kita sehingga kita bisa berpikir solusi. Jadi kemuliaan itu tidak identik dengan kekayaan. Orang-orang kaya yang hari ini termasuk orang-orang terkaya di dunia bisa dilupakan namanya seiring waktu. Mereka juga tidak selamanya menjadi yang terkaya. Yesus hidup bukan dalam kemewahan tetapi dalam kemiskinan.

 

 

2) Tuhan Yesus sebagai Raja yang Menang

 

1 Korintus 15:45 Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Teologi Reformed memakai istilah dari ayat ini. Yesus adalah Adam kedua. Melalui Adam yang pertama, manusia jatuh ke dalam dosa dan masuk ke dalam peperangan dalam dosa. Adam diciptakan baik adanya, namun jatuh karena keinginannya. Namun Adam yang kedua yaitu Yesus hadir di dalam dunia untuk memberikan hidup yang kekal. Adam diciptakan dari debu tanah dan mendapatkan napas kehidupan sehingga ia menjadi hidup. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Ketika mereka berdosa, mereka diikat dengan kematian. Disebutkan bahwa Adam yang terakhir itu menjadi roh yang menghidupkan. Allah Roh Kudus bekerja dalam rahim Maria sehingga Yesus bisa lahir. Menurut Calvin, Yesus berinkarnasi bukan ketika Ia lahir tetapi ketika Ia sudah berada dalam rahim Maria.

 

1 Korintus 15:54-55 Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Ular tidak pernah mengunyah tetapi langsung menelan makanannya. Elastisitas mulut ular mendukung hal ini. Kita harus mengunyah dengan bantuan gigi-gigi kita sehingga kita bisa menelan. Lao Zi mengajarkan bahwa walaupun gigi itu lebih keras daripada lidah, pada akhirnya yang paling lama bertahan di mulut kita adalah lidah dan bukan gigi. Gigi bisa menggigit lidah dan lidah tidak bisa melawan balik. Namun lidah yang lembut itulah yang bertahan paling lama. Kekerasan itu tidak abadi, namun kelembutan itu bertahan lama. Kematian berada di tangan Setan. Jadi orang-orang di luar Tuhan itu berada dalam tangan Setan. Namun kita sebagai anak-anak Tuhan dilindungi oleh Tuhan.

 

Roma 5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. Karena Adamdan Hawa, semua manusia memiliki dosa asal. Anak-anak kita tidak memakan buah terlarang itu namun mereka sudah memiliki dosa asal.

 

Yohanes 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? Ketika Lazarus meninggal, Maria dan Marta menangis. Setelah 4 hari, Yesus datang dan membangkitkan Lazarus untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Di sana Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak memakai nama atau kuasa orang lain. Ia memerintahkan Lazarus untuk datang kepada-Nya dan saat itu juga Lazarus bangkit. Jadi maut tidak bisa melawan Yesus. Apapun yang dikatakan Yesus, semuanya terjadi.

 

Matius 24:30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Mengapa orang dunia meratap? Saat Yesus datang, dunia akan dihancurkan dan kita anak-anak-Nya akan hidup bersama Yesus selamanya. Ini digambarkan melalui pernikahan. Pernikahan diikat bukan oleh seks tetapi oleh keintiman yang bersifat rohani. Jadi orang-orang dunia pada akhirnya akan mengalami kehancuran. Mereka tidak bisa menikmati persekutuan dengan Tuhan.

 

Yesus adalah Raja yang menang. Mengapa Ia juga disebut sebagai Raja yang harus berperang? Alkitab menyatakan bahwa Ia adalah Raja yang melayani. Ia adalah Raja yang memiliki nilai misi. Ia tahu bahwa ciptaan-Nya yaitu manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Dosa itu bukan materi tetapi memiliki substansi. Kekuatan dunia adalah dalam kuasa dan kekerasannya. Namun Alkitab pernah menyatakan seorang tokoh yang kuat namun kalah karena cinta yaitu Simson. Kelemahan Simson selalu pada cinta. Pada akhirnya ia jatuh karena cinta. Ia begitu kuat, namun karena cinta ia dikalahkan dan pada akhirnya menjadi buta. Alkitab menyatakan bahwa rambutnya terus tumbuh ketika ia ditangkap (Hakim-Hakim 16:22). Pada akhir hidupnya Simson berdoa kepada Tuhan. Jadi kita bisa yakin Simson masuk surga. Ia berdoa meminta belas kasihan Tuhan dan meminta agar pada akhir hidupnya ia bisa menghancurkan orang-orang Filistin. Tuhan mendengarkan doanya. Di akhir hidupnya Simson mengerjakan misi Tuhan. Simson lemah karena matanya. Ketika melihat perempuan cantik, ia langsung jatuh cinta. Maka dari itu Tuhan mengambil matanya. Ketika Simson tidak lagi memiliki apa-apa, di saat itu ia beriman. Ia buta secara fisik namun bisa melihat secara iman. Jadi mata rohani itu lebih penting daripada mata fisik. Saat hanya mengandalkan mata fisik, Simson jatuh ke dalam dosa, namun mata rohani itu membuatnya mengerjakan misi Tuhan.

 

Dosa itu tidak selalu hadir secara terang-terangan. Dosa bisa hadir secara halus misalnya kenikmatan dan kepuasan. Daud adalah seorang tokoh besar yang dianggap mewakili Kerajaan Allah. Setelah ia berkuasa dan banyak mendapatkan kemenangan, ia berhenti berperang (2 Samuel 11:1). Di saat itu ia ingin menikmati hidupnya sebagai raja. Di waktu itu ia melihat-lihat dari sotoh istana dan ia melihat Batsyeba sedang mandi. Di situlah titik kejatuhan Daud. Simon Kistemaker menyatakan bahwa titik kejatuhan Daud adalah ketika ia tidak taat dan memilih untuk bersantai di istana. Di sana Daud tidak mengutamakan Tuhan. Daud lupa bahwa ia adalah raja yang harus berperang dan bukan sekadar menikmati takhtanya. Dari sana, Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan, kemudian pembunuhan, dan juga penipuan. Dari satu dosa Daud melakukan dosa yang lain. Setelah itu nabi Natan menegurnya. Daud berdukacita secara rohani. Ia mengoyakkan pakaian rajanya dan mengganti mahkotanya dengan abu. Ia berlutut dan merendahkan dirinya. Di sana ia tidak memandang kemuliaannya sebagai raja. Jadi orang-orang kuat seperti Simson dan Daud pun bisa jatuh ke dalam dosa. Raja Salomo meskipun memiliki hikmat yang begitu luar biasa, ia tidak mengaitkan hikmat itu dengan Tuhan sehingga pada akhirnya ia jatuh ke dalam dosa yang lebih parah daripada dosa ayahnya. Ia memiliki 1000 wanita. Namun di Tiongkok pernah ada seorang kaisar yang memiliki 2500 wanita. Inilah mengapa istananya begitu besar. Kaisar itu hidup melakukan seks setiap hari sampai pada akhirnya ia mati karena penyakit seks. Jadi manusia tidak bisa membentengi diri untuk menang atas dosa.

 

Ketika Yesus datang, ia dihancurkan oleh para pemimpin agama. Para pemimpin agama justru adalah orang-orang yang menutupi keberdosaannya dengan topeng agama. Yesus dihancurkan oleh para politisi dan oleh murid-Nya sendiri. Jadi kesucian itu bukan dinilai dari situasi tetapi dari kedalaman hati. Yudas bisa dekat secara fisik dengan Yesus namun hatinya jauh dari Tuhan. Di sini kita melihat mengapa Yesus perlu hadir sebagai raja yang menang. Kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan secara fisik atau materi. Peperangan yang paling berbahaya adalah peperangan yang menghadapi musuh yang tidak terlihat. Jika musuh berada di luar dan sangat terlihat, maka kita bisa bertindak segera. Namun jika musuh itu tidak terlihat dan musuh itu berada dalam diri kita, maka ini adalah hal yang berbahaya. Musuh itu adalah dosa. John Owen memakai istilah indwelling sin. Dosa itu ada di dalam diri secara tidak terlihat namun tampak dalam pikiran, kata-kata, emosi, dan perbuatan kita. Di sini kita mengerti mengapa Yesus harus datang melayani dan mati bagi kita. Dosa tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lain. Dosa itu tidak terlihat namun hasilnya terlihat. Disebutkan bahwa Adam yang pertama itu jatuh ke dalam dosa, namun Adam yang kedua itu suci, setia, dan menang atas dosa. Adam yang pertama mewariskan kematian namun Adam yang kedua mewariskan hidup. Alkitab menyatakan bahwa Yesus mengalahkan dosa (1 Korintus 15:45, 54-57). Di sana ada peperangan rohani, bukan peperangan fisik. Dari 7 perkataan salib, kita mengerti bahwa Yesus menjalankan peperangan itu. Yesus menang dengan cara mati di atas kayu salib. Bagi orang dunia, kematian berarti kekalahan. Namun Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus membawa kemenangan. Ada yang menyatakan bahwa kemenangan tanpa pengorbanan bukanlah kemenangan. Yesus sudah menang dan tidak ada yang bisa menggagalkan kemenangan itu. Inilah kemenangan yang sejati. Dalam olimpiade olahraga, orang-orang yang bisa menang pada hari ini belum tentu bisa menang lagi di tahun-tahun berikutnya. Pada akhirnya umur mereka membatasi mereka. Ini bukanlah kemenangan yang sejati. Namun kemenangan Yesus itu kekal dan tidak bisa dibatalkan.

 

Kemenangan Yesus juga mengalahkan maut (Roma 5:14-15; Efesus 1:7; Kolose 1:14; 1 Yohanes 2:2). Fakta kematian membuat kita tidak bisa memiliki damai. Maut membuat kita tidak bisa menikmati kekekalan. Dalam perumpamaan Yesus tentang Lazarus dan orang kaya, dinyatakan bahwa orang kaya yang menikmati kepuasan dunia itu pada akhirnya mati dan masuk neraka (Lukas 16:19-31). Jadi jubah kekayaan orang kaya itu hanyalah sementara. Pada akhirnya ia harus mati. Setelah ke neraka pun orang kaya itu masih mau memberikan perintah kepada Lazarus dan Abraham. Ia berpikir bahwa mukjizat bisa membuat orang-orang bertobat, namun Abraham menyatakan bahwa sudah ada kesaksian Taurat dan para nabi. Rancangan manusia bisa terlihat indah namun berakhir pada maut. Namun rancangan Tuhan itu damai sejahtera, kebaikan, dan kehidupan. Hal itu tidak dimengerti oleh Yudas. Ia begitu kaget ketika Yesus rela menyerahkan diri-Nya untuk ditangkap dan mati. Pada akhirnya Yudas bunuh diri. Kematian Yudas adalah karena ditelan maut. Namun Yesus mati untuk menelan maut. Maka dari itu Paulus bisa berkata “Hai maut, di manakah sengatmu?” Ini adalah tantangan yang berani. Kristus telah menang, maka dari itu kita juga bisa berkata demikian. Yesus pernah mengunjungi daerah Gerasa dan menemui seorang yang dirasuki Setan. Yesus mengusir setan-setan itu sehingga mereka masuk ke dalam babi-babi yang ada di sana. Babi-babi itu kemudian terjun ke dalam danau sehingga mereka mati. Ada penafsir yang menyatakan bahwa kesuksesan peternak babi di daerah itu adalah karena kuasa Setan. Jadi bisnisnya dijalankan dalam dosa. Di zaman ini pun kita harus berhati-hati dalam aspek itu. kita tidak bisa mengalahkan maut dengan kuasa uang atau kuasa dunia. Hukum suatu negara bisa dipermainkan dengan uang namun tidak ada satu manusia yang bisa mempermainkan kematian. Tidak ada manusia yang bisa membayar atau menyogok sehingga kematian tidak menelannya. Di dalam kematian itu ada penderitaan kekal yaitu neraka. Sengat maut itu menghasilkan penderitaan yang menyeluruh. Semua penderitaan itu sudah ditanggung oleh Yesus. Ini dilakukan-Nya untuk membebaskan kita dari dosa dan maut. Dari sini kita tahu bahwa kita sudah mendapatkan anugerah yang begitu besar. Ketika kita semakin memahami penderitaan-Nya, kita juga semakin memahami kasih-Nya untuk kita. Ia berada di atas kayu salib selama 8-9 jam. Sebelum itu Ia berdoa di taman Getsemani. Dikatakan bahwa keringat-Nya bagaikan titik-titik darah (Lukas 22:44). Semua itu untuk kita. Ia bangkit pada hari yang ketiga dan menyatakan kemenangan-Nya atas maut. Di sini kita mengerti mengapa Ia disebut sebagai Raja yang Mulia.

 

 

3) Tuhan Yesus sebagai Raja yang Mulia

 

Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua disertai dengan kuasa dan kemuliaan (Matius 24:30). Tuhan Yesus Kristus datang dalam kemuliaan-Nya dan disertai dengan semua malaikat-Nya (Matius 25:31). Tuhan Yesus Kristus menerima pujian dan hormat dari semua malaikat-Nya, makhluk-makhluk, dan tua-tua (Wahyu 5:12). Alkitab menyatakan bahwa gunung-gunung pun bisa memuji Tuhan (Mazmur 98:8). Apapun bisa Tuhan pakai untuk memuji nama-Nya. Yesus datang kedua kali sebagai Hakim yang paling berkuasa. Ia akan datang untuk memberikan hukuman kekal secara menyeluruh bagi mereka yang terus menerus menolak Allah. Ia akan datang dalam segala kuasa, kemuliaan, dan takhta-Nya. Para malaikat akan datang untuk menyertai-Nya. Ketika Yesus lahir, para malaikat bersorak bagi Tuhan (Lukas 2:13-14). Malaikat di surga menyatakan kemenangan-Nya. Sebagai anak-anak Tuhan kita dilibatkan untuk menjadi pemenang dan kita dipanggil untuk memuji nama Yesus. Jadi kemuliaan Yesus itu tampak juga pada akhir zaman. Jadi kita harus merajakan Kristus dalam hati kita. Hal itu akan memengaruhi ibadah dan ketaatan kita dalam seluruh aspek hidup kita di tahun yang baru ini. di sini kita menjalankan mandat Injil dan mandat budaya. Kemuliaan Tuhan harus tampak dalam seluruh bidang kehidupan kita. Kita dan keluarga kita harus memperjuangkan hal ini sehingga orang-orang bisa melihat kemuliaan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS).

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami