Rahasia Panggilan Paulus dan Rencana Allah

Efesus 3:1-6
Kita sudah membahas akan status kita di dalam ikatan Yesus Kristus menjadi Injil pendamaian bagi kita. Status kita di dalam aspek kekekalan adalah warga kerajaan Allah, keluarga Allah dan bait Allah. Ketiga bagian ini menjelaskan kepada kita sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan sebagai sumber kesadaran iman kita.

Rahasia Panggilan Paulus dan Rencana Allah

Categories:

Kita sudah membahas akan status kita di dalam ikatan Yesus Kristus menjadi Injil pendamaian bagi kita. Status kita di dalam aspek kekekalan adalah warga kerajaan Allah, keluarga Allah dan bait Allah. Ketiga bagian ini menjelaskan kepada kita sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan sebagai sumber kesadaran iman kita. Ketika kita mendapatkan godaan dan ujian di bumi maka harus kita ingat bahwa kita adalah warga kerajaan sorga karena Kristus telah mati bagi kita. Ketika dalam kesementaraan, kita harus berpikir sesuatu yang kekal maka kita akan berani membuang sesuatu yang tidak bersifat kekal dalam seluruh wujud hawa nafsu berdosanya. Karena kita mengerti bahwa Kristus sudah mati untuk menebus kita menjadi milik-Nya, warga kerajaan sorga. Sehingga pada waktu kita hidup, kita tidak akan mempermalukan gereja Tuhan, tubuh Kristus dan hidup kita di hadapan Tuhan. Karena sebagai keluarga Allah seharusnya kita memiliki persekutuan, kerukunan dan keharmonisan. Artinya kita tidak suka dengan konflik dan perpecahan. Selain itu, kita juga sebagai bait Allah. Dikatakan Allah akan diam dalam tubuh kita. Artinya Allah berdiam bukan secara misteri dan bukan secara fisik tetapi berdiam di dalam setiap aspek hidup kita yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Maka sebagai bait Allah, hidup kita akan makin lama makin serupa dengan Dia. Kristus adalah batu penjuru kita, maka kita akan dibangun menjadi suatu bangunan rohani yang tersusun rapi, menarik, berkualitas dan kecemerlangan. Artinya pada waktu kita diutus oleh Tuhan, kita diutus dalam misi kualitas yang menyatakan bahwa Kristus hidup di dalam hidup kita. Pada waktu kita sudah hidup dalam Kristus dan bersatu dengan Dia maka hidup kita berpusat kepada Dia yang adalah Batu Penjuru kita. Artinya hidup kita mengarah kepada panggilan Kristus. Paulus memperkenalkan dirinya sebagai orang yang dipenjara karena Kristus dan karena orang-orang bukan Yahudi yang belum mengenal Allah. Ia dipenjarakan karena injil. Di dalam perkenalan ini jelas sekali bahwa Paulus mengerti sekali  panggilan surgawi untuk arah hidup dia. Sebagai seorang Kristen sudah seharusnya kita sadar tujuan hidup kita ke arah mana. Seluruh hidup kita harus diarahkan untuk kemuliaan Kristus. Kristus sebagai batu penjuru artinya menjadi batu yang mengarahkan seluruh nilai bangunan hidup kita. Kita harus merenungkan bagaimana kita hidup dalam kesementaraan tetapi berpikiran kekekalan. Dan bagaimana bertindak yang kekal di dalam hidup yang sementara ini. Kita akan hidup from grace to grace dan from faith to faith. Ikatan di dalam Kristus ini juga yang memastikan bahwa kita yang di dalam Kristus adalah warga kerajaan sorga, keluarga Allah dan bait Allah. Karena itu pula selama hidup kita harus menjalankan etika kerajaan Allah. Etika kekanaan harus dinyatakan dalam etika kekinian. Etika kita yang tertinggi adalah untuk menyatakan nilai sorgawi di dalam hidup kesementaraan ini. Maka etika kerajaan Allah menjadi utopi yang terbesar dalam konsep Reformed. Jadi bukan etika motivasi atau hati nurani yang murni yang paling tinggi. Etika kerajaan Allah artinya tindakan, keputusan dan seluruh hidup kita mempunyai nilai kekekalan. Firman Tuhan adalah kunci untuk membangun pola pikir, perasaan dan tindak kita sebagai manusia baru di dalam Kristus. Maka kita seharusnya mempunyai komitmen hidup di dalam Kristus. Misalnya komitmen untuk tidak menjadi batu sandungan dan menyakiti orang lain. Dalam ikatan keluarga Allah, kita tidak boleh saling menyakiti. Sebagai bait Allah, kita menjaga kesucian hidup di hadapan Tuhan. Di sinilah kita mengerti mengapa kita harus hidup tidak boleh jatuh dalam dosa. Mengapa kita hidup tidak boleh mencobai diri karena tubuh kita adalah bait Allah. Jangan tubuh kita diikat dengan segala sesuatu di luar Tuhan. Pada hari ini kita akan membahas bagaimana panggilan Paulus dan bagaimana Ia mendapat bagian dalam rencana kekal Allah. Setelah Paulus menyatakan bahwa Allah bekerja dalam kehidupan orang Kristen, ia menyatakan bagaimana Allah bekerja dalam hidupnya secara pribadi. Setelah Paulus menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan manusia lama dan manusia baru kita dalam Yesus Kristus dan juga mengenai Injil pendamaian yang membuat semua orang dapat menjadi dekat dengan Kristus. Maka memasuki Efesus 3, Paulus menyatakan mengenai keberadaan dirinya di dalam rencana kekal Allah Bapa. Namun tetap tulisan Paulus tersebut bersifat Christo-centered (Berpusat pada Kristus bukan diri). Orang Kristen tidak boleh menjual kesusahan, kesulitan dan penderitaannya supaya orang berprihatin kepadanya. Kita percaya di dalam penderitaan pun kemuliaan Tuhan bisa nyata. Seperti dinyatakan dalam Kitab Wahyu bahwa ternyata dalam penghukuman Tuhan pun kemuliaanNya dinyatakan. Di dalam penderitaan orang Kristen yang diijinkan Tuhan, maka kemuliaan Tuhan dinyatakan. Para Rasul mengalami penganiayaan dan mati sebagai martir, kecuali Yohanes. Namun tidak pernah mereka mengeluarkan kata-kata penghinaan. Malahan yang keluar adalah suatu pujian bagi Tuhan. Dalam ayat 3, 4 dan 9 ada kata to musterion” yang artinya adalah rahasia (misteri) Injil Allah. Jadi di sini kita mengerti sekali bahwa Paulus dalam panggilannya ternyata ini diutus oleh Allah Bapa, Allah Anak dan di dalam penggenapan Allah Roh Kudus supaya dia menyatakan rahasia Injil kepada orang-orang lain khususnya orang-orang non-Yahudi. Banyak orang Yahudi sudah buta bahwa keselamatan itu hanya bagi mereka saja. Padahal dalam Perjanjian Lama (misalnya Mazmur dan Yesaya) sudah dinyatakan bahwa keselamatan itu juga bagi banyak orang termasuk yang non-Yahudi. Mengapa Yudaisme salah konsep tentang rahasia keselmatan? karena kebodohan mereka dan menambahkan 613 hukum taurat berdasarkan apa kata manusia, bukan dari Tuhan. Paulus menjadi saksi Tuhan yang adalah seorang Yahudi asli namun menyatakan bahwa keselamatan adalah juga bagi bangsa non-Yahudi. Panggilan Paulus jelas untuk memberitakan Injil kepada orang non-Yahudi karena jangkauan misi pelayanan Paulus bukan di Yerusalem tetapi di Asia kecil. Hari ini kita khusus merenungkan Efesus 3:1-6 yang berfokus pada panggilan Paulus dan bagaimana Paulus termasuk dalam rencana kekal Allah. Paulus menyadari panggilan dan rancangan kekal Bapa. Maka, sudahkah kita sadar akan panggilan dan rencana Allah dalam hidup kita? Kapan dalam hidup kita mengalami kemuliaan Tuhan? Ketika kita mengalami kelahiran baru yang sejati di dalam Kristus oleh Roh Kudus. Kesadaran itulah yang mendorong kita bagi Kristus. Tetapi kalau kita tidak sadar akan hal ini, maka kita tidak mengerti mengenai kekristenan sejati dan hanya Kristen secara lahiriah saja. Panggilan dan kesadaran kita harus jelas karena di dalamnya mengandung iman dalam keselamatan. Paulus mendemonstrasikan bagaimana rahasia panggilan hidupnya dan rancangan Allah dalam hidupnya. Ayat 1, Paulus menjelaskan mengenai keberadaan dirinya sebagai orang yang dipenjarakan karena Kristus. Paulus mengatakan: Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah” (Efesus 3:1). Mengapa Paulus  mengatakan jika Ia dipenjarakan karena Kristus? Bukankah secara fakta kita tahu bahwa dia dipenjara atas dasar keputusan Kaisar Nero dan karena desakan orang-orang Yahudi (lihat Kisah Para Rasul 21:27-28)? Diceritakan bahwa Paulus akhirnya ditangkap dan dituduh karena sudah melecehkan ajaran agama Yahudi. Paulus menyatakan pembelaan diri karena memang dia tidak bersalah di hadapan Tuhan dan bersandar pada kedaulatan Tuhan. Dalam Kisah Para Rasul 25-:11-12, Jadi jika aku benar-benar bersalah dan berbuat kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati tetapi jika apa yang mereka tuduhkan itu kepada aku ternyata tidak benar maka tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan aku sebagai sesuatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!” Setelah berunding dengan anggota-anggota pengadilan, Festus menjawab: Engkau telah naik banding kepada kaisar jadi engkau harus pergi menghadap Kaisar.” Paulus harus pergi dari Yerusalem menuju Roma supaya menyelesaikan naik bandingnya. Mengapa dia berhak? Karena Paulus warga kerajaan Roma. Paulus dengan yakin bahwa dia ditangkap bukan karena dosa, atau perbuatan jahat tapi karena berada dalam kedaulatan Tuhan. Paulus ditangkap karena Kristus untuk orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Ia menyatakan ini bukan dalam keadaan marah atau kebencian tapi kebenaran di dalam Tuhan. Demikian ketika Yesus disalib dan sedang kesakitan, Ia tidak mengeluarkan kata-kata dalam kemarahan tetapi perkataan yang menyatakan kesucianNya. Kita harus memiliki kontrol diri di dalam iman. Dalam Roma 12:3 mengingatkan kepada kita: Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Artinya iman adalah kunci pengarah dan frame hidup kita. Sebab itulah tulisan Paulus adalah tulisan bergaya rohani yang punya nilai kasih karena dia mengerti kedaulatan Tuhan dan mengerti segala sesuatu tidak akan melewati turut campur Tuhan. Paulus melihat bahwa semua yang terjadi di dalam kedaulatan Allah. Artinya apapun yang terjadi dalam hidup kita entah itu menyenangkan atau tidak menyenangkan, semua adalah dalam kedaulatan Allah. Paulus percaya bahwa Allah turut campur dalam perkaranya dan tidak pernah meninggalkan dia. Karena itu ia tidak menulis dalam ungkapan emosi kemarahan atau kebencian tapi berpusat pada Kristus (Christo-centered). Selanjutnya Paulus menjelaskan dari tujuan hukumannya bahwa dia dipenjarakan untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah. Karena dikatakan dengan jelas bahwa Paulus diutus oleh Tuhan bagi orang-orang non-Yahudi. Semunaya itu untuk menjelaskan bahwa dia dipenjara bukan karena unsur kejahatan dan dosa. Tiga tuduhan bangsa Yahudi terhadap Paulus: (1) Menentang bangsa Yahudi, (2) Menentang ajaran Yudaisme, (3) Menentang aturan Bait Allah. Inilah menjadi tuduhan yang kuat terrhadap Paulus. Padahal Paulus menentang bangsa Yahudi dalam hal kesombongan dan keangkuhannya yang menyatakan bahwa keselamatan itu hanya di dalam bangsa yahudi. Maka semua citra buruk tentang Paulus menyatakan bahwa kaum Yudaism menolak misi Paulus sebagai utusan dari Tuhan. Di dalam Kisah Para Rasul 22:22, Paulus menjelaskan bagaimana Allah bekerja dalam hidupnya dan bagaimana dia dipakai Tuhan. Namun respon ada orang-orang yang mendengarkannya saat itu berteriak supaya Paulus dilenyapkan dari muka bumi dan dihukum mati saja. Hal ini sama seperti teriakan terahadap Tuhan Yesus yaitu Salibkan Dia”. Bolehkah dalam hukum taurat kita membunuh? Tidak boleh, Mengapa mereka mau sampai membunuh Paulus? Ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka bukanlah pelaku hukum taurat. Mereka tidak suka jikalau Paulus menempatkan orang non-Yahudi sejajar dengan orang Yahudi. Dalam ajaran Yudaisme bahkan diperbolehkan untuk membunuh atau membiarkan orang non-Yahudi mati. Tuhan Yesus pernah menceritakan mengenai orang Samarian yang murah hati (Lukas 10:25-37). Orang samaria dianggap orang yahudi sebagai orang yang terhina. Tapi dalam perumpamaan tersebut justru menolong orang yang terluka. Bangsa Yahudi sangat tertutup dan melihat mereka sangat penting dan superior dibandingkan dengan bangsa lainnya. Namun Paulus mengatakan bahwa dia dipenjara bukan karena tuduhan orang Yahudi tapi karena Kristus supaya orang-orang lain datang kembali kepada Tuhan. Dalam ayat 2 dan 7, Paulus membaca panggilan Tuhan kepada dirinya untuk orang non yahudi sebagai kasih karunia Allah yang dipercayakan kepadanya. Jadi penderitaan dan kesulitan yang dia alami dalam pelayanannya merupakan bagian dari kasih karunia Allah. Jikalau kita terus sadar bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia maka kita pasti juga menghidupi keselamatan kita berdasarkan kasih karunia. Paulus menyatakan bahwa penyataan Allah kepada Paulus adalah wahyu. Saat itu canon Perjanjian Lama sudah selesai, namun canon perjanjian baru belum selesai. Setelah pertemuan orang-orang Kristen dan ahli-ahli teologi dan sastra Kristen di Chalcedon menyatakan bahwa Perjanjian Baru itu terdiri dari 27 kitab. Semuanya ini harus harmonis diantara kitab tersebut dan juga terhadap Perjanjian Lama. Paulus menyebut bahwa semua yang diterimanya sebagai Wahyu tentang berita rahasia Kristus. Jadi ketika kita membaca tulisan-tulisan Paulus maka kita akan mengenal siapa Kristus dan berhubungan dengan keselamatan serta iman kita. Rahasia yang besar tentang Mesias ini sangat dinantikan oleh orang Yahudi. Tetapi karena pengertian firman Tuhan yang salah maka akhirnya mereka menolak Kristus sebagai Mesias. Rahasia berita Kristus ini menjelaskan tentang karya keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus dan umat-Nya. Keselamatan dalam Kristus terbuka bagi semua orang sudah diajarkan dalam Perjanjian Lama (Kejadian 12:1-3, Maz. 2:8, Yes. 2:2-4, 42-6, 49:6). Mengapa hal ini sulit dan bahkan tidak dimengerti oleh orang Yahudi? karena mereka sudah menambahkan arti taurat. Maka hati-hati, kalau kita ingin menambah sesuatu yang sudah punya standar terkadang menjadi rusak. Paulus menjelaskan keberadaan orang-orang Kristen non Yahudi secara statusnya turut menjadi ahli-ahli waris, anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Yesus Kristus. Kita bukan orang Yahudi tetapi kita ahli-ahli kerajaan Allah yaitu hidup yang kekal. Kita adalah anggota-anggota tubuh Allah di dalam gereja umat percaya. Kita menjadi bagian dalam janji keselamatan dari Allah melalui Kristus Yesus. Dan itu harus melalui kelahiran baru dan pertobatan sejati. Paulus menceritakan kepada orang-orang Kristen di Efesus supaya mereka melihat semua sama di mata Tuhan dan tidak ada perbedaan. Rahasia Kristus ini mengajarkan tentang kesatuan yang sejajar dan utuh antara orang-orang yahudi dan orang non yahudi di dalam Yesus Kristus sebagai ahli-ahli waris, anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami