Rahasia Kemenangan atas Yerikho

Rahasia Kemenangan atas Yerikho

Categories:

Bacaan alkitab: Yosua 2:24; 6:1-5; Ibrani 11:30

Pendahuluan

Apa itu ketekunan orang saleh? Banyak orang di dunia ini tekun dan berhasil dalam bisnis, pendidikan, dan lainnya. Hal yang membedakan ketekunan orang-orang di luar Kristus dan di dalam Kristus adalah orang-orang Kristen memiliki ketekunan yang saleh. Keduanya memang harus berbeda.

Mengapa Yerikho takut dengan Israel? Pasukan mereka berjumlah lebih dari 40.000 dan sudah teruji dalam banyak kemenangan. Mereka memiliki banyak pahlawan perang yang handal. Mereka juga memiliki senjata dan strategi perang yang sangat baik. Benteng mereka pun sungguh kuat dan luasnya mencapai 4 hektare. Ketika mereka takut kepada Israel, itu bukan karena jumlah tentara Israel. Mereka takut karena ada bukti yaitu Israel sudah menyeberangi laut Teberau dan sungai Yordan. Mereka takut pada kuasa Tuhan yang menyertai Israel. Ketika orang dunia mendengar tentang kuasa Allah, mereka bisa begitu ketakutan. Siapa yg mengalahkan Yerikho? Tuhan. Apa tugas Israel? Menjalankan segala peran dengan iman, ketaatan, dan ketekunan. Siapa yang bertemu dengan Yosua (Yosua 5:13-15)? Pada waktu Yosua mempersiapkan segala sesuatunya dan melakukan pengamatan untuk menyusun strategi, ia melihat ada seorang panglima balatentara. Yosua mendekati orang itu dan bertanya apakah ia kawan atau lawan. Ternyata ia adalah utusan Tuhan dan Yosua langsung tunduk berserah dan taat serta hormat. Di dalam bahasa Inggris, orang itu disebut messenger atau malaikat utusan Tuhan. Di dalam peperangan Yerikho ada 1 konfirmasi melalui kehadiran malaikat Tuhan yang siap menyertai Israel dalam berperang melawan Yerikho.

Mengapa harus berjalan 6 kali selama 6 hari dan 7 kali pada hari yang ke-7? Berjalan 4 km sehari itu normal, namun pada hari yang ke-7 mereka harus berjalan 28 km. Jadi mereka yang berjalan itu harus sehat, tekun dan fokus.

Mengapa bersorak sorai sebelum tembok Yerikho hancur? Ada orang-orang yang suka bersorak sorai dan membanggakan dirinya. Dalam hal ini bisa ada penyakit kejiwaan. Namun dalam kisah Yosua, mereka diperintahkan oleh Tuhan bersorak sorai sebelum tembok itu runtuh. Jadi apa rahasia kemenangan atas Yerikho? Kemenangan itu tidak bersifat murahan. Di dalam prosesnya Tuhan mendidik iman, ketaatan, dan ketekunan orang Israel. Orang Israel harus menghadapi benteng Yerikho yang kuat itu dimana di atas temboknya 4 kuda bisa berjalan karena temboknya begitu tebal. Jika mereka mengandalkan mata mereka, maka mereka pasti putus asa dan berpikir bahwa Tuhan sedang menjebak mereka. Di sini Tuhan mengajarkan Israel untuk memandang dengan kacamata rohani dan bukan lahiriah. Nilai peperangan yang sejati itu bukan karena kuasa kita tetapi karena ada Tuhan yang berperang di pihak kita. Di sana Tuhan mengajarkan kita untuk memakai kacamata iman. Kota Yerikho itu terkenal sebagai kota benteng yang sangat kuat, sedangkan bangsa Israel belum membuktikan kuasa militer mereka, namun di sana mereka harus taat kepada Tuhan.

Pembahasan

Apa Rahasia Kemenangan Israel atas Yerikho? Pertama, iman (Yosua 2:24 dan Ibrani 11:30). Karena iman mereka menang atas Yerikho. Di dalam iman mereka sungguh-sungguh bersandar pada Tuhan yang memberikan kemenangan. Kedua, ketaatan total. Ini adalah bukti bahwa mereka tidak berani merendahkan perintah Tuhan. Mereka mempersiapkan segala hal yang diperintahkan Tuhan dan mengikuti setiap petunjuk dan arahan Tuhan. Mereka diminta untuk mengelilingi tembok sebanyak 6 kali selama 6 hari. Tuhan menciptakan segala sesuatu dan pada hari yang ke-6 Tuhan menciptakan manusia. Hari ke-7 adalah hari Sabat. Angka 7 merupakan angka kesempurnaan dan pada hari ke-7 merupakan puncak ibadah kepada Tuhan dan penyataan iman kita. Ketiga, ketekunan. Tuhan mengajarkan mereka ketiga hal ini dalam peperangan ini. Ketika mereka berjalan mengelilingi tembok Yerikho, mereka tidak boleh bersungut-sungut atau berbicara satu dengan yang lain. Tugas mereka adalah fokus dalam sikap ibadah kepada Tuhan. Sangkakala itu ditiup oleh para imam. Mereka memakai tanduk domba yang berbentuk spiral sehingga bunyinya bisa memuncak dan fokus. Mereka mulai berjalan pada jam 3 pagi dan mereka melakukan itu hari demi hari. Di sana mereka harus tekun. Pada hari yang ke-7 mereka harus berjalan sejauh 28 km. Di sini mereka diajar untuk tidak mengasihi diri melebihi pemeliharaan Tuhan. Iman memengaruhi ketaatan dan ketekunan. Di sana mereka juga belajar untuk mengalahkan diri sendiri. Apa yang perlu dikalahkan dalam diri kita supaya tekun? Kita pasti punya keinginan diri dan program diri. Itulah yang harus dikalahkan, yaitu keinginan yang tidak suci, ego, dan sungut-sungut. Mereka tidak boleh kalah oleh diri mereka sendiri. Kita akan kalah ketika kita ragu apakah Tuhan di pihak kita atau tidak. Kita mudah tersesat karena godaan dunia.

Ketika kita sudah memiliki 3 hal yaitu iman, ketaatan, dan ketekunan, maka kita akan bisa menang atas diri kita sendiri. Ketekunan itu juga memengaruhi iman dan ketaatan. Di dalam Kolose 1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya. Ternyata bagian-bagian ini tidak bisa dipisahkan karena merupakan kesatuan. Bagian-bagian ini mengajarkan kita bukan untuk melihat kepada diri tetapi kepada Tuhan di dalam kekuatan-Nya. Orang yang tekun bisa saja tergoda untuk mundur karena melihat kelemahan diri dan tantangan di luar. Namun jika ketekunan ini berdasarkan iman, maka ia akan bisa melihat Tuhan yang besar yang menjadi penolongnya dan penyertanya. Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose yang menghadapi pengajar-pengajar sesat yang terus menyerang mereka. Mereka diminta untuk memiliki ketekunan iman itu. Puncak kemenangan Israel atas Yerikho adalah ketekunan. Ketekunan orang dunia adalah ketekunan untuk mencapai ambisi diri dan menyenangkan manusia. Ketekunan orang beriman adalah untuk menyenangkan Tuhan dan kemuliaan Tuhan. Ketekunan orang saleh ada di dalam kesucian dan selalu dikaitkan dengan ketaatannya terhadap perintah Tuhan. Di sini Yosua harus memimpin generasi baru untuk memiliki ketekunan iman orang saleh. Di waktu berikutnya kita bisa melihat kegagalan Israel karena dosa Akhan. Hanya karena 1 orang yang melakukan dosa yaitu mengambil barang yang dikhususkan untuk Tuhan, bangsa Israel dikalahkan oleh kota yang sangat kecil yaitu Ai.

Apa yang menjadi kunci dari ketekunan orang saleh yaitu Israel? Pertama, percaya kemenangan datangnya dari Tuhan (faith, bandingkan Filipi 1:6 dan Yohanes 10:27-30). Kemenangan mereka datang dari Tuhan dan bukan diri mereka sendiri. Inilah iman yang harus mereka miliki. Iman itu melihat ke depan yaitu kepada penggenapan janji Tuhan. Filipi 1:6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Kita harus memeriksa apakah yang kita kerjakan ini menyenangkan Tuhan atau tidak. Di dalam proses kita menuju kemenangan, pasti ada jatuh-bangun, tantangan, kesulitan, dan lainnya. Itu adalah hal yang wajar karena kemenangan kita bukanlah kemenangan yang murahan. Di dalam prosesnya kita dididik dan diuji oleh Tuhan. Kita percaya bahwa Allah yang memulai juga adalah Allah yang mengakhiri. Allah yang memulai dengan baik juga akan mengakhiri dengan baik. Ketika kita sudah mengerjakan apa yang Tuhan mau, maka kita harus percaya bahwa Tuhan ada di pihak kita. Kesulitan-kesulitan yang ada tidak boleh membuat kita kurang percaya. Di sini kita harus terus maju dan pantang mundur. Iman itu membuat kita selalu kuat. Di sana kita tidak melihat kelemahan diri kita atau tantangan yang ada di depan mata jika kita tahu bahwa semua yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan. Yohanes 10:27-30 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu. Bagian ini menyatakan bahwa keselamatan kita tidak mungkin hilang atau gagal karena apapun juga. Kita harus menghargai penebusan Kristus di dalam diri kita. Jangan sampai dosa menggagalkan pekerjaan kita untuk Tuhan. Banyak hal di dalam dunia ini menggoda kita untuk meninggalkan Kristus. Maka tidaklah mudah untuk hidup sebagai anak Tuhan, namun kita harus berani melawan setiap godaan itu. Ketika kita sudah menyadari bahwa kemenangan sudah ada di tangan Tuhan, kita tidak perlu lagi melihat tinggi tembok itu tetapi melihat janji Tuhan yang menyertai kita. Bangsa Israel harus berjalan dengan iman dan para imam meniup sangkakala juga dengan iman. Semuanya harus siap untuk menyatakan kebesaran Tuhan. di sini ketekunan orang saleh menyatakan iman yang tidak pernah mundur hanya karena sakit, pergumulan, dan lainnya.

Kedua, berjalan dengan kewaspadaan iman, pikiran yang jernih, dan jiwa yang bersih (obey, bandingkan 1 Timotius 4:16). Ketika bangsa Israel diminta untuk berjalan mengelilingi Yerikho, pasti tentara Yerikho mengamati mereka. Di dalam barisan itu ada yang berdoa dan ada yang mengatur barisan agar tetap rapi. Saat memerangi Amalek, tugas Musa adalah berdoa dan mengangkat panji kemenangan Tuhan dan tugas Yosua adalah melakukan peperangan. Orang tua berdoa untuk anak-anaknya di rumah dan anak-anaknya berjuang di tempat studi dan tempat bekerja. Di sini harus ada kesatuan dan perpaduan. Kekuatan rohani dan kekuatan realitas di lapangan harus padu. Di lapangan pun kita juga mengandalkan Tuhan. Di dalam setiap hal kita harus memiliki kewaspadaan iman. Kita tidak boleh lengah. Kita bisa kalah karena emosi yang tidak suci di tengah kelelahan kita. Orang yang berperang harus memiliki kesiapan. Orang-orang yang bermental menikmati hidup akan mudah jatuh dalam dosa. Jadi kita harus berhati-hati terhadap zona nyaman yang menyita kewaspadaan iman kita. Semua musuh bisa menjatuhkan kita, namun kita harus waspada. Melalui Paskah kita diingatkan bahwa Kristus sudah menang atas kematian. Kita sudah ditebus dan sudah lunas dibayar. Kita tidak boleh lagi berfokus pada keinginan diri dan menuhankan ambisi kita. Kewaspadaan iman itu harus terus ada sampai kita mati. Peperangan iman itu adalah peperangan seumur hidup. Pikiran kita harus jernih itu juga harus kita miliki. Ketika bangsa Israel berjalan, mereka harus memiliki pikiran yang jernih. Mereka tidak bisa memikirkan diri mereka sendiri tetapi harus melihat bagaimana Tuhan memimpin. Di sana mereka harus terus berdoa. Mereka harus mengamati peperangan itu setiap hari. Di sana peperangan itu menjadi milik mereka bersama. Ada kesatuan iman di antara mereka. Pikiran mereka harus bersatu dalam kehendak Tuhan. Saat itu selama 7 hari pikiran mereka harus suci, yaitu selaras dengan Tuhan. Di zaman sekarang ini godaan tidak hanya datang di luar rumah tetapi juga di dalam rumah ketika kita menikmati internet. Di sini kita harus menjaga kesucian pikiran kita.

Jiwa mereka juga harus bersih yaitu tidak egois dan tenang mengandalkan Tuhan. mereka yang berharap kepada Tuhan akan memiliki kedamaian dalam jiwanya. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang melihat kehendak Tuhan dan kemuliaan Tuhan. Ketika Stefanus akan mati, ia melihat Tuhan karena jiwanya bersih. Orang yang jiwanya bersih akan bersukacita ketika akan meninggal. Di dalam jiwa yang bersih itu kita mengerti keindahan surga. 1 Timotius 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. Di sini Paulus mengajarkan untuk bertekun dalam mengawasi diri. Di dalam ketekunan kita harus mengevaluasi diri. Kita harus melihat apakah diri kita sudah menjadi teladan atau belum. Evaluasi itu harus dilakukan setiap hari. Kita memiliki pengawas yang sejati yaitu Roh Kudus. Ia datang untuk menghakimi dan mempertobatkan dunia. Ia juga datang untuk memperingati kita dan memimpin kita dalam kebenaran. Ketika kita berdosa, Roh Kudus akan bersuara dalam hati kita. Kita harus mengawasi diri kita agar jangan sampai kita terbawa oleh dunia dan melupakan Tuhan. Kita sebagai orang tua juga adalah pengawas bagi anak. Kita juga harus menjadi pengawas bagi pasangan kita. Kepercayaan itu terbangun jika kita menjaga diri dari dosa. Cinta itu bertumbuh karena ada kepercayaan terhadap pasangan. Jika kita terlalu percaya dan tidak peka akan dosa, maka kita harus bertobat. Kepercayaan itu pun harus kita bangun dalam iman. Paulus juga mengajarkan untuk mengawasi ajaran. Kita mungkin benar secara teori namun salah secara praktik. Di sini kita harus bertekun. Setiap berita yang kita dengarkan dari dunia bisa menodai ajaran yang benar. Bangsa Israel harus bertekun dalam mengawasi diri mereka selama berjalan mengelilingi Yerikho.

Ketiga, fokus pada tujuan (perseverance bandingkan Filipi 3:9-11). Orang-orang saleh tahu apa tujuan mereka. Bangsa Israel tahu mereka harus berjalan menuju tanah perjanjian itu. Mereka harus berfokus sebagai orang-orang pilihan yang harus menyatakan kebesaran Tuhan. Tujuan itu bisa mereka capai dalam ketekunan. Ketekunan itu menjadi kunci untuk kita bisa meraih masa depan kita. Filipi 3:9-11 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Ketekunan orang saleh itu berfokus pada tujuan. Tujuan kita yang paling mulia di dalam hidup ini adalah mengenal Kristus dan mengenal kuasa kebangkitan-Nya yang hari ini dirayakan di seluruh dunia. Kristus tidak bisa dikalahkan oleh kematian dan dosa. Setan pun tidak bisa menggagalkan misi Tuhan. Kita harus mengenal kuasa kebangkitan itu di dalam medan peperangan. Di sini kita harus tetap berfokus pada tujuan kita. Paulus juga ingin mengenal penderitaan Kristus supaya ia bisa menjadi serupa dengan-Nya di dalam kematian-Nya. Paulus ingin menjadi martir. Kita memiliki tujuan rohani. Kanaan yang kita ingin tuju bukanlah yang bersifat fisik tetapi rohani. Di sana kita menyatakan tujuan kita untuk mengenal Tuhan. Kita adalah pemenang bagi Tuhan. Kita bisa menderita karena hidup suci namun kita harus menikmati itu. Ketika kita mati, kita harus percaya bahwa kita akan bangkit bersama dengan Kristus. Di sini ketekunan orang saleh itu harus dimiliki. Kita harus memakai kacamata rohani dimana kita melihat kemenangan dan keselamatan kita di dalam Tuhan. Kita harus memiliki kewaspadaan iman, pikiran yang jernih, dan jiwa yang bersih. Kita harus mengawasi diri kita dan menjadikan diri kita teladan. Fokus kita harus jelas dan tujuan kita harus benar yaitu memuliakan Tuhan. Setiap kita harus seperti Paulus yang tidak boleh cepat goyah dan terus memberitakan Injil Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah -LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami