Problem Solver: Bergaul Akrab dengan Tuhan (Mazmur 63)

Problem Solver: Bergaul Akrab dengan Tuhan (Mazmur 63)

Categories:

Khotbah Minggu 27 September 2020

Problem Solver: Bergaul Akrab dengan Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Daud. Daud adalah pribadi yang bisa menyelesaikan masalah dengan Tuhan, dirinya, dan orang lain. Namun karakter seperti ini tidak langsung terbentuk begitu saja. Ada satu proses perjalanan iman dan pergumulan iman. Ada pimpinan Tuhan yang membentuk Daud hingga seperti ini. Puncaknya adalah Daud membangun satu perspektif yang baru untuk melihat Tuhan berkaitan dengan seluruh hidupnya di dalam segala tantangan dan kekhawatirannya. Ia bergaul akrab dengan Tuhan sampai ia bertemu dengan Tuhan. Umur Daud tidak sampai begitu tua yaitu 70 tahun. Selama 40 tahun ia menjadi raja dan kemudian ia memberikan jabatan itu kepada Salomo di dalam izin Tuhan. Kita akan melihat Mazmur 63:2-4. Di sini Daud mengutamakan Tuhan di dalam tantangan dan masalah yang ada dalam kehidupan dan kerajaannya. Ketika beribadah, Daud bukan meminta apa yang baik untuk dirinya misalnya kekayaan, kemuliaan, dan kesehatan. Justru ia mau belajar untuk melihat kekuatan dan kemuliaan Tuhan. Kasih setia Tuhan itu lebih baik daripada hidup. Itulah pengakuan Daud. Kekayaan, kemuliaan, dan pujian manusia bukanlah yang terbaik. Ia melihat bahwa sumber hidupnya adalah kasih setia Tuhan. Kita juga melihat Mazmur 119:97-99. Daud punya perenungan hidup yang begitu baik. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan dan bijaksana. Itulah yang membuatnya bisa menjadi penyelesai masalah di dalam dan luar dirinya.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Setiap hari kita memiliki tantangan dan kekhawatiran tersendiri. Kita sebagai orang Kristen yang dipenuhi oleh Allah Roh Kudus pasti tetap menghadapi tantangan dan memiliki kekhawatiran. Dari mana datangnya tantangan dan kekhawatiran itu? Ini bisa datang dari dalam maupun luar. Ini bisa datang dari ujian Tuhan atau pencobaan Setan. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi tantangan dan kekhawatiran ini? Inilah yang menunjukkan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Terkadang tantangan dan masalah bisa menyatakan apakah kita ini sungguh Kristen atau tidak. Sikap kita akan terlihat pada waktu itu. Mungkikah orang Kristen bisa terbebas dari tantangan dan kekhawatiran hidup ini? Tidak mungkin. Adanya tantangan dan kekhawatiran hidup itu menunjukkan bahwa kita memang masih hidup di dunia ini. Tantangan dan kekhawatiran hidup bisa diizinkan Tuhan untuk mengkristalisasi semua nilai kebaikan kita sehingga itu muncul. Semua ini merupakan suatu alat di tangan Tuhan untuk menyatakan kualitas iman, pengharapan, dan kasih kita. Apa rahasia Daud ketika ia bisa menjadi penyelesai masalah? Ini bukanlah karunia instan dari Tuhan. Di dalamnya ada proses dan respons Daud. Ada ketaatan Daud untuk siap dipakai oleh Tuhan sehingga ia bisa menjadi alat perubahan dan kemuliaan sehingga kerajaannya bisa melihat kemuliaan Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Tantangan dan kekhawatiran adalah alat di mata Tuhan untuk menguji kualitas iman, pengharapan, dan kasih kita.

            Jadi kita tidak boleh menolak tantangan. Kita tidak boleh merasa bahwa kita tidak boleh khawatir. Ketika tantangan dan kekhawatiran itu datang, kita harus mengingat bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Ini menguji iman, pengharapan, dan kasih kita pada waktu kita tinggal di dunia. Jika tantangan dan kekhawatiran ini datang dari Setan, maka iman, pengharapan, dan kasih kita harus berperan. Itulah yang memimpin kita untuk menyelesaikan masalah di dalam kacamata Tuhan, bukan kacamata dunia.

 

2) Di dalam hidup selalu ada tantangan dan kekhawatirannya sendiri

            Alkitab mengatakan bahwa tantangan dan kekhawatiran datang setelah manusia jatuh di dalam dosa. Dosa mengakibatkan dunia mengalami kekacauan dan ketidakharmonisan dengan program Tuhan. Setiap pemimpin menjalankan kekuasaan dengan kehendaknya sendiri. Mereka tidak mengerjakan kehendak Tuhan. Setiap pribadi dalam kebebasannya mau melakukan apa yang menurutnya memuaskan, enak, dan nikmat. Manusia tidak lagi memiliki standar kesucian, kebenaran, dan norma Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa dunia ini sudah dikuasai Setan (1 Yohanes 5:19). Ini berarti pengaruh dunia akan terus ada di sekitar kita. Ini bisa membuat kita terjebak untuk hidup dalam cara dunia. Di sini kita harus memiliki peperangan iman. Peperangan kita terjadi di dalam. Kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang suci dan mana yang tidak suci, mana yang mulia dan mana yang tidak mulia, mana yang adil dan mana yang tidak adil, serta mana yang sedap didengar dan mana yang bukan. Kita harus mendengarkan kebenaran. Semua kebohongan harus dibuang. Kitab Amsal berkali-kali mengatakan bahwa orang yang hidup dalam kepalsuan selalu berani mengatakan hal-hal yang tidak benar. Teologi kata dari perspektif kitab Amsal membuat kita mengerti bahwa mulut kita akan mengatakan kebenaran Tuhan jika kita mengenal Tuhan. Jika mulut kita sudah ditebus oleh Tuhan namun kita masih mengatakan hal-hal yang bukan kebenaran Tuhan, maka keselamatan kita patut dipertanyakan. Kita harus waspada agar tidak dipakai oleh dunia di dalam kekacauannya.

 

            Tantangan dan kekhawatiran itu ada setelah manusia jatuh dalam dosa. Mengapa ada orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus masih bisa merasakan bahwa di dalam hidupnya selalu ada tantangan dan kekhawatiran? Bisa jadi ada perspektifnya yang salah dalam melihat tantangan dan kekhawatiran itu. Ia sudah ditebus oleh Kristus namun ia terus merasa berat. Mungkin ia melihat masalah hidupnya lebih besar daripada kasih setia Tuhan. Semua ini bisa dikaji dari berbagai macam perspektif. Kita tidak boleh sampai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Ketika orang Kristen memiliki tantangan dan kekhawatiran tersendiri, maka itu wajar karena kita masih hidup di dunia. Alkitab mengatakan bahwa orang-orang yang mati di dalam Tuhan itu berbahagia (Wahyu 14:13). Itu karena mereka sudah terbebas dari penyakit, kekhawatiran, dan pergumulan. Ini menunjukkan kepada kita tentang dinamika hidup pada waktu kita berada di dunia. Di dalamnya kita bisa menghadapi tantangan dan kekhawatiran. Bagaimana kita bisa melihat, menghadapi, dan menyelesaikan semua itu tanpa menggeser iman, pengharapan, dan kasih kita? Iman memimpin kita untuk melihat masalah dengan kacamata Tuhan. Dalam proses penyelesaiannya pengharapan kita selalu melekat dengan kehendak Tuhan. Pada finalisasinya kasih harus terus melekat. Kasih menutupi segala pelanggaran (Amsal 10:12b). Kasih akan mengajarkan kepada kita bagaimana berkata-kata dalam bijaksana Tuhan untuk menyelesaikan setiap masalah.

 

            Kita harus menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh tahu bahwa dunia adalah tempat untuk kita mempersaksikan Tuhan termasuk pada saat kita menyelesaikan masalah. Ini dilakukan tidak hanya saat hidup kita lancar. Kristus hadir untuk menyelesaikan masalah yang terbesar di dunia, yang manusia tidak bisa selesaikan, yaitu dosa. Kristus hadir di tengah masalah dunia yang begitu kuat: keagamaan yang mengandung kemunafikan, kehancuran dunia, dan kepemimpinan yang tidak memuliakan Tuhan. Kristus hadir bukan untuk menjadi sama dengan dunia, kompromi, dan mencari kenikmatan dunia. Ia hadir untuk membawa dunia kembali kepada Tuhan. Manusia harus kembali kepada Tuhan. Visi dan misi Kristus adalah menyatakan Allah dalam belas kasihan-Nya untuk menebus kita. Ia mati untuk menyelamatkan kita.

 

3) Sumber tantangan dan kekhawatiran hidup

            Kita menjadi orang-orang yang diutus Tuhan untuk menjadi penyelesai masalah dalam diri kita dan luar diri kita. Kristus sudah menanamkan bijaksana itu dan kuasa itu dalam diri kita. Jadi jangan sampai kita menyalahkan orang lain dan Tuhan ketika ada tantangan dan masalah. Semua itu bisa saja datang dari dalam diri kita sendiri karena ada pola pikir, pola rasa, dan pola tindak yang belum sinkron dengan kehendak Tuhan. Dalam buku John Owen “Indwelling Sin” kita diingatkan bahwa akibat kejatuhan dalam dosa adalah cara pikir kita menjadi berdosa, motivasi kita tidak mengandung kemuliaan Tuhan, emosi kita tidak berkaitan dengan emosi Tuhan yang suci, dan tindakan kita tidak berkaitan dengan Kerajaan Allah. Jadi ada musuh dalam diri kita, yaitu keinginan-keinginan yang belum disucikan. Pada waktu kita sudah menjadi anak Tuhan, maka ada tugas dalam diri kita untuk menuhankan Kristus dalam seluruh pola pikir, pola rasa, dan tindakan kita. Amsal mengajarkan kita untuk tidak memiliki kebanggaan yang sifatnya duniawi saja. Kebanggaan kita bukanlah popularitas, kekayaan, dan kenikmatan. Semua itu akan sirna. Kebanggaan itu hanya akan menciptakan kesombongan. Kebanggaan tanpa Tuhan itu tidak berarti.

 

            Tantangan dan kekhawatiran itu bisa ada karena diri kita sendiri. Itu bisa karena kita belum sungguh-sungguh hidup penuh dengan Allah Roh Kudus. Mungkin hidup kita masih dipenuhi dengan tantangan dan kekhawatiran. Ada orang-orang yang begitu mudah menjadi khawatir. Mereka menyiapkan begitu banyak perlindungan rumah karena takut kemalingan. Kita bisa memiliki kekhawatiran-kekhawatiran yang normal maupun tidak normal. Ini semua bergantung pada bagaimana kita membangun mindset, afeksi, dan tindakan kita yang berkaitan dengan Tuhan. Kuasa dosa masih ada di luar diri kita. Itu bisa memengaruhi diri kita. Tantangan dan kekhawatiran itu bisa menggeser iman, pengharapan, dan kasih kita. Covid-19 merupakan tantangan dan bisa menyebabkan kekhawatiran. Beberapa negara sudah menemukan vaksin untuk Covid-19. Ini memberikan pengharapan tetapi juga kekhawatiran. Vaksin ini bukan ditemukan pertama kali oleh negara Kristen. Sebelum kita mendapatkan vaksin ini, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: apakah iman, pengharapan, dan kasih kita tergeser? Kalau semua itu tergeser, berarti kita gagal menjadi penyelesai masalah. Di sana kita gagal melalui ujian Tuhan. Ini bukan berarti kita kemudian mencobai diri dengan bergaul bebas tanpa memerhatikan protokol. Kita tetapi harus waspada dan menjaga diri. Kita harus sadar bahwa cepat atau lambat kita pasti akan terkena virus Covid-19. Namun pertanyaannya adalah: apakah kita kuat menghadapi virus itu? Obat dan vaksin akan membantu, namun iman, pengharapan, dan kasih kita tidak bergantung pada vaksin. Kita tidak boleh bergantung pada situasi. Secara tidak sadar kita bisa menganut standar ganda: untuk pekerjaan kita berani hadir secara fisik, namun untuk beribadah kita memilih untuk di rumah saja. Kita harus mengusahakan kehadiran ibadah secara fisik. Di sana keberanian kita yang suci diuji.

 

            Tantangan dan kekhawatiran itu bisa datang dari luar diri kita sendiri (dunia dengan segala tawarannya beserta paham-pahamnya). Kita ini berharga di mata Tuhan. Kita adalah alat kemuliaan Tuhan. Maka Iblis dan dunia akan memakai segala cara, termasuk Covid-19 untuk menjatuhkan kita. Covid-19 dengan segala ancamannya bisa membuat kita lupa bersandar pada Tuhan. Jadi ada upaya untuk menghancurkan iman, pengharapan, dan kasih kita. Kita tidak boleh takut akan semua hal ini. Daud tidak pernah takut akan rencana pembunuhan Saul. Ia paling takut kalau tidak ada penyertaan Tuhan. Jadi kita tidak perlu takut akan ancaman dan tantangan sepanjang hidup kita benar di mata Tuhan.

 

4) Proses hidup Daud menjadi penyelesai masalah

            Daud tidak dengan instan menjadi penyelesai masalah yang luar biasa. Ada proses yang ia harus lalui. Ia harus belajar dari kesalahan untuk hidup lebih berkenan kepada Allah. Ada lima kesalahan Daud yang bisa kita pelajari. Kesalahan pertama adalah tidak meminta petunjuk Tuhan ketika memindahkan tabut. Karena itu Uza mati. Ia tidak memiliki pengetahuan akan standar itu. Kesalahan keduanya adalah berzinah dengan Betsyeba. Ketika ia menikmati zona nyaman dan tidak melaksanakan tugasnya yaitu berperang, ia jatuh dalam dosa. Ketika upaya untuk menutupi kehamilan Betsyeba itu tidak berhasil, ia membunuh Uria. Kesalahan keempatnya adalah ia tidak peduli untuk menyelesaikan masalah keluarganya. Daud berpoligami dan itu menimbulkan banyak masalah dalam keluarganya. Setelah ia mendengar bahwa Amnon memerkosa Tamar, Daud membiarkannya. Daud seharusnya menghibur Tamar dan menegur Amnon dengan keras. Absalom melihat bahwa ayahnya tidak bertindak sehingga ia kemudian membunuh Amnon. Setelah pembunuhan itu terjadi, Daud tidak memanggil Absalom. Jadi tidak ada penyelesaian masalah. Ketika para istrinya berkonflik, Daud tidak menyelesaikannya. Kesalahan kelima Daud adalah menghitung jumlah prajurit Israel. Ini salah di mata Tuhan karena hal itu berarti Daud mengandalkan kekuatan tentara dan bukan Allah. Lima kesalahan ini begitu fatal, namun Amsal 24:16 mengajarkan Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Ini bukan berarti kita boleh berbuat dosa. Ketika kita terjauh, kita bisa bangkit kembali. Orang fasik sekali jatuh tidak akan bisa bangkit kembali karena tidak ada pertolongan Tuhan.

 

            Karena lima kesalahan ini sebenarnya Daud harus dihukum berat. Namun mengapa Tuhan berbelas kasihan dan memberikan kesempatan lagi? Mengapa ia dan keluarganya bisa pulih? Karena ada pertobatan sejati. Daud berani mengambil komitmen-komitmen yang baru. Gereja menerima jiwa-jiwa tetapi bukan dosanya. Gereja tidak boleh membiarkan dosa berkembang. Orang-orang fasik tidak boleh diberikan sarana untuk mempermainkan kesucian Tuhan. Tuhan memberikan pemulihan, namun konsekuensi dosa tetap ada yaitu Daud tidak boleh membangun rumah Tuhan. Mengapa tidak boleh? Karena tangannya sudah penuh dengan darah. Ketika Musa dikuasai emosi, ia tidak berbuat sesuai dengan petunjuk Tuhan (Bilangan 20:11-12). Satu kesalahan itu membuatnya tidak bisa masuk ke dalam tanah Kanaan. Jadi cara Tuhan memberikan konsekuensi itu berbeda-beda pada masing-masing orang. Kita juga harus belajar dari kesalahan kita supaya semua itu tidak terulang.

 

5) Sikap Daud dalam menghadapi tantangan dan ancaman dunia

            Di dalam menghadapai tantangan dan kekhawatiran hidup, Daud selalu berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan kesetiaan dan pengorbanan (2 Samuel 6:14-15, 7:1-17). Ia membawa tabut Allah ke Yerusalem dan kemudian ia mementingkan rumah Tuhan. Takhtanya bukanlah yang utama baginya. Kita dipanggil untuk menggenapkan kehendak Tuhan. Komitmen kita menggambarkan pengenalan kita akan Tuhan. Kalau kita sadar bahwa kita sudah ditebus oleh Kristus, maka kita punya hasrat untuk melayani Tuhan. Kalau tidak ada keinginan untuk melayani Tuhan, maka iman kita perlu dipertanyakan. Kuasa penebusan itu pasti memunculkan hasrat untuk melayani Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak perlu dipaksa atau disuruh untuk melayani. Daud berkomitmen untuk secara total melayani Tuhan sampai mati. Tidak ada kata pensiun bagi Daud. Ia belajar untuk berkorban dan terus mau berkorban. Ia belajar untuk tidak mengorbankan orang lain lagi. Sikap Daud yang kedua adalah ia begitu mengasihi Tuhan dan Firman Tuhan. Mazmur 119:97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105). Untuk menyelesaikan masalah, kita membutuhkan Firman Tuhan. Daud tidak memakai cara Tuhan ketika ia pertama kali memindahkan tabut Allah. Tuhan sudah menyatakan bahwa tabut itu seharusnya dipindahkan oleh orang-orang Lewi (1 Tawarikh 15:2). Daud tidak memerhatikan bagian itu dan memakai hewan untuk mengangkut tabut Tuhan. Jadi masalah itu bukan berkurang tetapi malah bertambah. Ketika Daud tidak mendidik anak-anaknya dengan benar, akhirnya Absalom melawannya.

 

            Dari Mazmur 3-5 kita bisa melihat bagaimana Daud menyelesaikan masalah. Ia pertama-tama mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia melihat kepada Tuhan seperti tertulis dalam Mazmur 63. Di sana terang Tuhan menerangi pikirannya dalam melihat tantangan dan ancaman dunia. Bangsa Filistin begitu keras melawan Israel, namun mengapa mereka takluk di bawah Daud? Ini karena penyertaan Tuhan. Jadi kita harus bergaul akrab dengan Tuhan dalam segala aspek. Pikiran kita harus ditaklukkan di bawah pikiran Tuhan. Kebenaran Tuhan harus bercahaya dalam rasio kita. Semua kebenaran Tuhan harus kita terima dalam hati dan emosi kita. Itulah yang harus kita pegang. Dalam ibadah kepada Tuhan, rasio kita harus tetap aktif. Rasio kita diciptakan oleh Tuhan dan ditebus oleh Tuhan. Jadi kita harus beribadah dengan segenap akal budi kita. Namun rasio tidak boleh menjadi yang terutama dalam ibadah. Iman harus memimpin rasio kita. Kita boleh berpikir sedemikian rupa untuk melihat tantangan dan ancaman dunia termasuk Covid-19. Kita bisa melihat dari berbagai macam perspektif, namun iman harus tetap memimpin rasio kita. Iman juga harus menerangi emosi dan tindakan kita. Jadi dalam situasi yang sulit iman, pengharapan, dan kasih tidak boleh digeser. Mazmur 1 mengajarkan tentang hidup yang mengutamakan Tuhan. Kita diajarkan untuk merenungkan Firman Tuhan dan berjalan dalam kebenaran. Dari sana kita akan selalu berbuah pada waktunya. Hidup kita akan terus berbuah. Di tengah kesulitan pun kita tetap akan bisa mempersaksikan Tuhan. Kita harus mengerti prioritas hidup kita sehingga kita bisa produktif untuk Tuhan. Kita mau terus menerus berbuah. Buah kita harus manis dan bisa dinikmati oleh orang lain sehingga mereka bisa melihat kepada Tuhan. Kita mengasihi Tuhan dan Firman Tuhan bukan dari mulut saja. Kasih itu harus dibuktikan dalam hidup kita. Itulah yang dilakukan oleh Daud. Keahilan Daud bermain musik dipakainya untuk memuji Tuhan.

 

            Sikap Daud yang ketiga adalah ia menjadi pendoa syafaat (Mazmur 3-5, 9, 13, 20, 1 Samuel 18:18-23, 2 Samuel 7:18). Ketika masalah datang, respons Daud pertama-tama adalah berdoa. Ia tidak mengandalkan manusia dan tidak memakai cara dunia. Ia mau mengerti kehendak Tuhan melalui doa. Hatinya mau bergaul akrab dengan Tuhan. Ia mau mengerti visi dan misi Tuhan serta mau dekat dengan Tuhan. Kerinduan terbesar Daud adalah diam di rumah Tuhan. Ini berarti ia mau dekat dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan diterapkan dalam gaya kepemimpinannya dan caranya menyelesaikan masalah. Kita mungkin berdoa lima kali dalam sehari. Namun kita harus berdoa senantiasa ketika ada pergumulan. Kita juga terus mengevaluasi diri dan memikirkan apa yang kita bisa kerjakan bagi Tuhan. Kita bersyukur ketika kita boleh menjadi alat Tuhan. Kita harus mendukung Gereja di dalam doa. Itu adalah tugas kita. Kita harus peduli terhadap Gereja kita. Generasi-generasi berikutnya harus menjadi perhatian kita dan kita harus berjuang untuk mereka sehingga mereka bisa mengenal dan beribadah kepada Tuhan. Kita mungkin sering mendoakan rumah dan tempat kerja kita, namun apakah kita rajin berdoa untuk Gereja? Gereja selalu menghadapi ancaman dan masalah, namun kita harus belajar bagaimana menyikapi masalah tersebut dan memuliakan Tuhan. Kita bisa saja memakai cara dunia, namun itu tidak akan berkenan di mata Tuhan. Daud tidak hanya menjadi pendoa syafaat tetapi ia juga selalu aktif mengerjakan apa yang ia bisa kerjakan. Ada kalanya di mana kita hanya bisa berdoa dan menantikan Tuhan bertindak. Namun ada kalanya kita harus berdoa, bertindak, dan menjadi penyelesai masalah itu.

 

            Sikap Daud yang keempat adalah ia selalu berusaha hidup berkenan kepada Allah (1 Samuel 13-14 dan Mazmur 63). Dalam sepanjang hidup Daud, ia selalu mau berkenan kepada Tuhan. Pada masa tuanya, tubuhnya menjadi mudah dingin sehingga ia membutuhkan kehangatan dari luar (1 Raja-Raja 1:1-4). Akhirnya pegawainya mencarikan seorang perempuan cantik untuk menghangatkan Daud. Alkitab mencatat bahwa Daud tidak bersetubuh dengan perempuan itu sama sekali. Jadi ia tidak berzinah. Kita harus senantiasa hidup berkenan kepada Allah di tengah situasi apapun juga. Kita harus terus mencari Firman Tuhan dan bertumbuh di dalam Tuhan. Itulah yang menjadi kekuatan bagi kita. Di balik segala tantangan dan ancaman, Daud selalu mengandalkan Tuhan. Ia mengasihi Tuhan melebihi dirinya sendiri, keluarganya, dan takhtanya. Ia menjadi pendoa syafaat dan pelaksana untuk menyelesaikan setiap masalah.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tantangan dan ancaman dunia adalah alat di mata Tuhan untuk mendidik kualitas iman, pengharapan, dan kasih kita kepada Tuhan.

            Semua ini tidak boleh tergeser karena masa pandemi. Umur dan kelemahan tubuh kita tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melayani Tuhan. Kita harus menjadi prajurit Tuhan. Kita berhenti saat kematian itu tiba. Meskipun kita ditembak, kita harus terus berperang jika tubuh kita masih bisa bergerak. Itulah mental seorang prajurit.

 

2) Sikap yang baik dalam melihat masalah dan tantangan hidup adalah berani mengubah cara pandang kita untuk melihat semua itu.

            Mindset kita harus diubah. Cepat atau lambat, kita akan terjangkiti virus Covid-19. Masalah dan kekhawatiran tidak mungkin tidak ada. Jadi mindset kita-lah yang harus diubah. Jika ini adalah ujian Tuhan maka kita harus berani menghadapinya. Jika ini adalah pencobaan maka kita harus berani menghadapinya bersama dengan Tuhan.

 

3) Sikap yang baik dalam menyelesaikan masalah adalah kita berdamai dengan Tuhan: bersyukur, beribadah, dan melayani Tuhan selalu dan berani menghadapi masalah.

            Di sini kita belajar untuk menjadi penyelesai masalah. Masalah kita sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kita bukan lagi musuh Tuhan. Seluruh kutuk sudah dipatahkan di dalam kematian Yesus. Kuasa maut dan kuasa Setan sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Jadi masalah terbesar dalam hidup kita sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus dan hidup kita sudah menjadi milik Yesus. Kita harus menjalankan semua perintah Tuhan. Firman Tuhan dan kasih setia Tuhan adalah hidup kita. Perintah Tuhan membuat hidup kita berarti. Bijaksana Tuhan menuntun kita untuk menyelesaikan setiap masalah. Penasihat kita yang ajaib adalah Tuhan Yesus. Allah Roh Kudus mencerahkan pikiran dan hati kita melalui Firman Tuhan yang kita baca. Jadi kita harus bergaul akrab dengan Firman Tuhan. Kita harus dekat dengan Tuhan dalam segala aspek dan menjalankan perintah-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami