Preman yang Diubahkan Menjadi Pemimpin Israel (Yefta)

Preman yang Diubahkan Menjadi Pemimpin Israel (Yefta)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 11:1-11.

 

Pendahuluan

Mengapa Yefta diusir keluar oleh keluarganya? Jikalau ia dari kecil tinggal bersama dengan keluarganya, maka ia pasti memiliki pengalaman sukacita bersama dengan mereka. Namun setelah dewasa ia diusir hanya karena masalah materi (harta). Di sini kita melihat bahwa ternyata materi bisa membutakan hati nurani seseorang. Materi bisa memecah belah keluarga dan persahabatan.

Mengapa Tuhan memakai Yefta dari seorang preman menjadi hakim atas Israel yang sudah 18 tahun dikuasai Amon? Apakah tidak ada orang lain yang lebih baik dan lebih suci yang bisa dipakai oleh Tuhan? Apakah hal ini karena Israel sedang mengalami krisis kepemimpinan? Dalam Hakim-Hakim 10, setelah Israel bertobat dan mendengarkan Firman Tuhan, mereka bertanya (ayat 18): Siapakah orang yang berani memulai peperangan melawan bani Amon itu? Di sini kita melihat bahwa di Israel tidak ada lelaki yang bisa diandalkan dan dipercaya untuk memimpin perlawanan terhadap bani Amon.

Bagaimana kita tahu pertobatan Yefta? Mungkinkah orang yang hidupnya tidak kudus atau tidak mulia dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang kudus atau mulia? Jikalau Yefta dipanggil oleh Tuhan, maka bagaimana kita dapat mengerti titik pertobatannya? Apakah Yefta adalah orang berdosa yang pengalaman berdosanya dipakai oleh Tuhan untuk melawan bani Amon? Kita akan mempelajari semua hal ini. Mengapa Yefta membawa semua perkara itu di hadapan Tuhan? Itu adalah hal yang sangat penting. Melalui bagian itu kita mengerti tentang kerohaniannya. Ia tidak mencari kepuasan dan tidak mencari pembalasan dendam.

 

Pembahasan

1) Perpisahan yang Menyakitkan.

Siapa yang sangat bersedih ketika Yefta diusir dari keluarganya? Yefta sendiri, ibunya, dan ayahnya. Yefta pasti merasa sangat sakit hati ketika diusir oleh keluarga besarnya, secara khusus oleh anak-anak lain di keluarga itu ketika mereka sudah dewasa. Ketika dewasa Yefta diusir dari keluarga Gilead hanya karena alasan materi (harta). Apakah benar bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10)? Apakah benar bahwa uang dapat membutakan hati nurani seseorang? Apakah hati manusia adalah sumber kejahatan? Dalam Alkitab tertulis: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Lukas 12:34). Itulah cara kita mengetahui apakah kita dikendalikan uang atau sebaliknya. Jika standar hidup kita adalah uang dan uang itulah yang membuat kita semangat bekerja, maka itu berarti kita sudah menuhankan uang. Jikalau kita sudah menuhankan uang dan melihat uang sebagai kebutuhan yang pokok, maka kita sudah berdosa. Kita memang membutuhkan uang namun itu bukanlah yang paling penting di dalam hidup. Penyertaan Tuhan itu yang paling penting. Banyak keluarga ketika anak-anaknya masih kecil hidupnya sungguh harmonis namun ketika anak-anaknya sudah hidup mandiri dan warisan akan dibagikan, perpecahan terjadi di dalam keluarga itu. Orang yang mencintai uang akan kehilangan hati nuraninya. Banyak keluarga bertikai karena uang bahkan sampai membawa pertikaian itu ke pengadilan. Jadi keluarga bisa hancur gara-gara uang. Olah karena itu kita harus berhati-hati karena uang bisa menjadi berhala dan alat Setan untuk menghancurkan keluarga. Ada sebuah keluarga, yang ketika usahanya masih kecil, bisa hidup harmonis. Namun setelah usahanya menjadi besar, keluarga itu menjadi terpecah. Cinta akan uang pasti menghasilkan kesedihan dan kejahatan. Uang dan materi bisa dicari namun tali persaudaraan tidak bisa dibeli. Persaudaraan yang sudah hancur tidak mungkin diperbaiki dengan uang. Warisan yang paling berharga adalah iman. Jangan sampai mata rohani kita dibutakan karena uang. Ada anak yang membawa ibunya ke pengadilan karena tidak memberikannya warisan. Jadi anak bisa menjadi musuh besar di dalam keluarga. Ketika anak menuntut orang tuanya di pengadilan, hati yang paling hancur adalah hati Tuhan dan hati orang tuanya. Jika anak tidak dididik dengan iman maka akhirnya anak itu bisa memenjarakan orang tuanya demi harta.

 

Iman mengontrol cara kita berpikir dan sikap kita. Keluarga Gilead tidak dibesarkan secara iman namun menariknya Yefta mengerti kebenaran Firman Tuhan. Bagi Yefta, peristiwa pengusiran itu sangat menyakitkan. Yefta kehilangan pengharapan dan mengalami kekecewaan karena penolakan. Ia tidak bisa lagi berharap pada keluarganya sebagai bagian dari sukacitanya. Ia merasa tertolak sebagai saudara dan anak. Ia merasa terhina dan terbuang sebagai anak seorang perempuan sundal. Gilead sebagai ayah tidak membelanya. Mungkinkah Yefta merasa dendam dan menyimpan kepahitan? Mungkin. Di mana para tua-tua Gilead pada saat itu? Mereka semua juga membencinya. Siapakah yang bersalah dalam perkara ini? Apakah Yefta bersalah karena terlahir dari seorang perempuan sundal? Gilead-lah yang paling bersalah dalam hal ini. Alkitab mencatat bahwa orang yang meneruskan Kerajaan Tuhan dari keluarga Daud adalah Salomo yang terlahir dari istri yang didapatkan Daud dengan cara yang salah yaitu Batsyeba (2 Samuel 12:24-25). Jadi kita tidak boleh langsung memandang secara negatif orang yang memiliki latar belakang yang buruk. Yefta memang terlahir sebagai orang berdosa, namun ia tidak bersalah atas ketidakadilan yang terjadi ketika keluarganya mengusirnya. Gilead seharusnya memberikan solusi bagi masalah itu. Mungkinkah saat itu Gilead sudah meninggal? Mungkin ia masih hidup namun kalah otoritas dengan anak-anaknya pada waktu berbicara tentang harta. Perpisahan itu menyakitkan dan membuat Yefta lari dari saudara-saudaranya.

 

2) Pelarian Diri yang Salah

Yefta melakukan pelarian diri yang salah. Dalam ilmu psikologi disebutkan ada 2 macam gejolak jiwa dalam pelarian. Ada orang yang merasa tertolak dan terbuang sehingga ia merasa inferior. Dalam hal ini orang itu bisa menangisi diri, menyesali diri, dan bahkan bisa menjadi gila. Orang itu tidak mau menghadapi masalah dan terus berdiam dalam kesedihannya. Jadi ia menyiksa dirinya sendiri. Kemungkinan yang lain adalah orang itu akan merusak diri. Orang itu akan mabuk-mabukan, tidak peduli dengan edukasi, tidak peduli dengan masa depannya, dan menyakiti diri melalui pergaulan yang salah dan obat-obatan terlarang. Karena jiwanya merasa tersiksa, ia mengejar segala kenikmatan yang salah. Namun ada orang yang ketika ditolak malah menunjukkan superioritasnya. Orang itu akan belajar dengan keras demi menjadi orang yang lebih baik daripada saudara-saudaranya. Motivasinya adalah balas dendam. Banyak orang menjadi rajin dan pintar karena dendam dan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Ada orang-orang yang ingin membuktikan bahwa diri mereka itu jauh lebih baik daripada orang lain. Dalam bagian yang kita baca, Yefta lari dari saudara-saudaranya dan menjadi perampok di tanah Tob. Seandainya kita dibuang atau ditolak, apakah reaksi kita? Kita seharusnya menghadapi semua itu dengan iman. Jiwa kita pasti merasa tersakiti ketika mendapatkan penolakan. Pernahkah kita merasa inferior karena ditolak? Ketika seorang pemuda sedang patah hati, ia bisa mencari pacar yang lebih baik untuk menunjukkan superioritasnya. Ia juga bisa menjadi orang yang merasa inferior sehingga ia tidak bersemangat untuk melakukan hal apapun juga. Yefta disebut oleh Tuhan sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Ia punya keberanian, jadi ia menyatakan superioritasnya. Jika ia bisa diterima oleh kelompok petualang itu, maka itu berarti Yefta memiliki kelebihan tertentu. Zakheus juga adalah seorang preman yang kemudian bertobat dan mencari Yesus. Ia bertubuh pendek namun bisa menjadi preman. Setelah percaya kepada Tuhan, ia bertobat dan membagikan hartanya kepada orang miskin (Lukas 19:8). Jadi orang yang statusnya tidak baik pun bisa bertobat dan berbuat baik. Status Yefta sebagai preman mungkin menggelisahkan hatinya karena itu merupakan pelariannya. Berapa lama Yefta menjadi preman? Mungkin 10-18 tahun. Amon membuat Gilead tersiksa selama 18 tahun. Selama 18 tahun itu tidak ada pembela dan tidak ada kemenangan bagi Israel. Di manakah Yefta saat itu? Ia sedang menjadi preman. Berdosakah ia ketika menjadi preman? Pasti berdosa karena apa yang dilakukannya pasti berhubungan dengan kejahatan. Kendati demikian itu bukanlah akhir dari hidupnya. Ketika ia lari dan menjadi preman, apakah ia masih memiliki hati untuk kembali? Ia masih ingin kembali, namun ia harus menunggu waktu yang tepat.

 

3) Mengapa Yefta Dipilih menjadi Panglima Perang atau Hakim?

Ketika Israel tidak memiliki panglima perang, mereka kebingungan. Tidak ada lelaki yang berani memimpin peperangan melawan Amon. Apakah tua-tua Gilead berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk dari Tuhan? Tidak. Ketika mereka terdesak, mereka pergi ke tanah Tob dan mencari Yefta. Mereka meminta Yefta menjadi panglima perang. Saat itu Yefta berkata (ayat 7): Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak? Para tua-tua menjanjikannya posisi sebagai kepala atas seluruh penduduk Gilead (ayat 8) dengan sumpah di hadapan Tuhan (ayat 10). Jadi mereka mencari Yefta karena mereka membutuhkan panglima perang. Apakah hal yang mereka lakukan itu salah? Dari mana mereka tahu bahwa Yefta pandai berperang dan bahwa Yefta masih punya hati untuk Gilead? Alkitab tidak mencatat jawabannya. Mungkin saja selama menjadi preman Yefta masih mengikuti hati nuraninya dan masih berbuat kebaikan bagi penduduk Gilead. Mungkin saja Yefta adalah pemimpin dari para petualang itu. Dari mana para tua-tua tahu bahwa Yefta memiliki kualitas untuk menjadi panglima perang? Mereka pasti tahu berdasarkan pengalaman dan kasus-kasus yang terjadi. Dari sana mereka berkesimpulan bahwa Yefta adalah kandidat yang terbaik. Para tua-tua Gilead hanya membutuhkan panglima perang, namun Tuhan melihat lebih daripada itu. Tuhan mencari pahlawan yang gagah perkasa dari aspek iman. Mereka membutuhkan orang yang tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga beriman. Sebagaimana Gideon, Yefta disebut sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Jadi walaupun ia hidup dalam komunitas perampok, Yefta masih membaca Alkitab meskipun ia belum memiliki nilai pertobatan. Bagaimana kita tahu bahwa Yefta mengerti Firman Tuhan dengan teliti? Ketika ia bertanya jawab dengan bani Amon, ia bisa menjelaskan sejarah Israel dengan mendetail. Ini membuktikan bahwa Yefta adalah orang yang belajar. Kendati demikian, potensinya belum dikuduskan oleh Tuhan.

 

4) Keberanian dan Pengalaman Yefta sebagai Preman yang Dikuduskan

Jadi Yefta harus dikuduskan keberaniannya dan pengalamannya. Tuhan melakukan hal ini dengan menggerakan tua-tua Gilead. Bagaimana kita mengetahui bahwa Yefta masih memiliki potensi untuk menjadi orang baik? Yefta menunjukkan kerendahan hatinya ketika tua-tua Gilead menemuinya. Ia mengungkapkan tangisan jiwanya pada ayat ke-7. Yefta tidak menyuruh para petualang itu untuk menyiksa para tua-tua itu. Yefta tidak membiarkan emosinya dan kemarahan masa lalu mengendalikan dirinya dalam pertemuan itu. Ia hanya bertanya dalam ayat ke-7. Selama puluhan tahun Yefta tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan orang tuanya. Ia pasti merindukan tempat tinggalnya namun ia menahan itu semua dan menunggu waktu Tuhan. Ketika para tua-tua datang, ia pasti terkejut namun tidak memakai kesempatan itu untuk membalas dendam. Yefta di dalam pembuangan itu mengalami perubahan status. Sebelum kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita semua adalah orang berdosa, pemberontak, dan musuh Allah. Saat kita percaya, kita mengalami perubahan status di dalam pertobatan kita. Kita dijadikan orang suci dan benar. Allah memberikan pendamaian di dalam Kristus. Yefta adalah orang yang terbuang dan terhina karena diusir oleh keluarganya, namun dalam pertemuan dengan para tua-tua Gilead, statusnya berubah menjadi orang terkemuka dan ia dianggap berharga. Di dalam pertemuan itu, apakah para tua-tua menyebut nama Tuhan? Hanya Yefta yang menyebut nama Tuhan. Jadi Yefta-lah yang memiliki iman dan melihat dari kacamata Tuhan. Yefta menyebut nama Tuhan secara personal. Ini menyatakan relasinya dengan Tuhan. Yefta mendapatkan pembaruan status, maka dari itu ia meminta peneguhan ulang. Para tua-tua kemudian bersumpah dan menyatakan bahwa Tuhan adalah saksi di antara mereka (ayat 10). Di dalam pertemuan itu ada dialog dalam nilai kasih dan bukan emosi. Di sini ada penyelesaian masalah dan bukan mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu. Para tua-tua mencari Yefta karena mereka membutuhkannya, namun Yefta menanggapi semua itu di dalam kekudusan. Di sini kita belajar untuk hidup bukan dalam kemarahan, dendam, dan sakit hati yang membuat kita tidak berjalan sesuai waktu Tuhan.

 

5) Pemulihan Diri Yefta

            Dalam ayat ke-11 kita melihat pemulihan diri Yefta secara tuntas. Bagaimana kita tahu akan hal ini? Yefta membawa semua perkara itu ke hadapan Tuhan. Ia tidak bertanya kepada tua-tua apakah semua saudaranya masih hidup atau tidak untuk merencanakan balas dendam. Ia membawa semua perkara itu kepada Tuhan. Ia tidak sombong dan tidak meminta bayaran. Perampok pasti memikirkan tentang uang, namun Yefta tidak menginginkan materi seperti saudara-saudaranya yang mengusirnya karena harta. Harta itu menutup hati nurani dan mata rohani semua saudaranya. Yefta membawa segala perkara ke hadapan Tuhan: perkara hubungan dirinya dengan Tuhan, dirinya dengan dirinya, dirinya dengan keluarganya, dan dirinya dengan tugasnya. Setelah semuanya diserahkan kepada Tuhan dan semuanya telah beres, ia tidak lagi menyimpan kemarahan, dendam, dan rasa sakit hati. Ia tidak lagi mengungkit perkara masa lalu. Ia berfokus untuk menyelesaikan tugas yang ada di hadapannya. Dari ayat ke-11 kita mengetahui bahwa iman Yefta sudah beres dan ia sudah bertobat. Orang yang sudah bertobat akan mencintai Firman Tuhan, berjalan dalam kebenaran Tuhan, mencintai kekudusan Tuhan, dan hidup dalam kekudusan. Di sana tidak ada kemarahan, dendam, dan upaya untuk membesar-besarkan masalah. Kita hidup bukan dengan dosa dan kepahitan masa lalu tetapi dengan pimpinan Tuhan yang memberikan masa depan. Jika kita masih menyimpan dosa dan kepahitan masa lalu, maka kita berada dalam bahaya. Ada seorang anak yang dididik secara homeschooling dari kecil sampai dewasa. Ia begitu pintar dan nilai akademisnya begitu tinggi namun mentalnya begitu rapuh. Ia tidak memiliki kawan dekat dan beberapa pertanyaan kritis sudah membuatnya menangis. Jadi nilai akademisnya sangat baik namun nilai sosialnya sangat kurang. Kita sebagai orang tua seharusnya mendidik anak juga dari segi sosialnya. Pengalaman bermain dan bersosial itu sangat penting untuk anak-anak sehingga mereka bisa belajar mandiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri di dalam hidup. Mental anak yang terlalu lemah akan menimbulkan banyak masalah. Kita sebagai orang tua Kristen harus mendidik anak-anak kita dengan benar.

           

Penutup

Status Yefta sebagai orang terbuang dan preman bukanlah akhir dari segalanya. Ia tetap memiliki pengharapan di dalam Tuhan. ketika ada pemulihan status dan pengharapan yang baru, ia tidak segera menjadi sombong dan mencari kepuasan yang berdosa. Sebaliknya ia menyerahkan semua perkara ke hadapan Tuhan. ia juga berdoa meminta pimpinan Tuhan. ketika ia berperang, Tuhan menyertainya. Ayat ke-11 menjadi kunci di dalam bagian ini. ketika bertemu dengan bani Amon ia tidak langsung menghadapi dengan kekerasan. Ia memakai cara persuasif dan pendekatan kasih terlebih dahulu. Kita bisa melihat iman dan perubahan diri Yefta dari sikapnya. Rancangan Tuhan dan pilihan Tuhan terkadang bisa mengejutkan. Siapakah yang menyangka bahwa pemimpin Gilead lahir dari seorang perempuan sundal? Siapa yang menyangka bahwa Yefta, seorang preman yang diubahkan oleh Tuhan, bisa menjadi pemimpin Gilead? Seringkali kita berharap bahwa anak kitalah yang nantinya akan menjadi penerus kita, namun Tuhan bisa memakai orang lain. Kedaulatan dan keputusan Tuhan tidak bisa disetir berdasarkan garis keturunan. Rancangan Tuhan itu lebih besar daripada apa yang dapat kita bayangkan. Ketika tua-tua Gilead mencari panglima perang, Tuhan menyediakan panglima rohani yang beriman. Mereka membutuhkan iman dalam menghadapi bani Amon. Di dalam Ibrani 11:32 Yefta dicatat sebagai tokoh yang beriman.

 

Walaupun Yefta menjadi preman ia tidak kehilangan semangat untuk belajar. Ia mengetahui sejarah Israel dengan rinci. Ketika ia bertemu dengan bani Amon, ia bisa menjelaskan semua itu secara alkitabiah. Sekolah akademis bisa berhenti, namun ada sekolah yang tidak pernah berhenti selama kita hidup yaitu sekolah ketaatan. Kita harus membaca Alkitab setiap hari dan mengerjakan pekerjaan Tuhan. Ada seorang direktur sukses yang gajinya mencapai ratusan juta Rupiah setiap bulan. Pada akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya karena mengikuti panggilan Tuhan. Dari segi akademis ia hanya setaraf SMA namun ia bisa bekerja dengan kualitas yang lebih baik daripada orang-orang yang sudah lulus kuliah. Jadi ada orang-orang yang sukses bukan karena sekolah akademis tetapi karena sekolah ketaatan. Ia sudah membaca Alkitab sebanyak puluhan kali dan selalu menyediakan waktu secara khusus untuk melayani Tuhan. Jadi ia adalah orang yang sederhana secara akademis namun ia taat kepada Tuhan. Sekolah akademis itu terbatas namun sekolah ketaatan itu harus dijalani seumur hidup di hadapan Tuhan. Meskipun Yefta hidup bersama para perampok, ia tetap mempelajari Alkitab. Ia setia dan sabar menunggu waktu Tuhan. kita harus belajar dari kerendahan hati Yefta yang tidak dendam. Yefta diusir karena materi sehingga ia menjadi orang yang terbuang dan terhina, namun ia bisa bertahan hidup bukan karena dendam. Ia tetap rendah hati ketika para tua-tua menemuinya. Ia bersikap bukan dengan emosi, kemarahan, dan dendam. Ia berfokus pada tugasnya dan bukan masa lalunya. Kita hidup bukan karena masa lalu tetapi karena pembaruan dari Tuhan sehingga kita bisa meraih masa depan yang baru. Yefta dianggap tidak berharga, namun di tangan Tuhan ia menjadi orang yang berharga. Kita harus belajar untuk rendah hati dan tidak mendendam seperti Yefta.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami