The Power of Love (Yakub & Rahel)

The Power of Love (Yakub & Rahel)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 29:1-30

 

Pendahuluan

Dari mana datangnya cinta? Cinta adalah anugerah Tuhan. Kita akan mendalami tentang itu melalui kisah Yakub dan Rahel ini. Percayakah anda dengan cinta pada pandangan pertama? Kita tidak percaya akan hal ini karena itu bukan cinta yang sejati. Mata kita bisa menilai keindahan dan menyatakan apa yang menarik bagi kita, namun kita harus mengerti standar cinta dan kapan cinta itu boleh timbul. Ada orang-orang yang mudah jatuh cinta, namun ada pula yang sulit jatuh cinta. Bagi orang yang melihat cinta sebagai kesempurnaan, pernikahan adalah hal yang mengerikan karena dapat menimbulkan konflik. Mengapa Yakub cinta kepada Rahel? Apakah ini karena pandangan pertama? Apakah karena Rahel itu cantik? Rahel keluar pada siang hari, maka kulitnya pasti agak gelap. Rahel juga pasti kuat karena ia sering keluar dan menggeser batu besar yang menutupi mulut sumur itu. Mana yang terlebih dahulu: mengenal atau cinta? Seharusnya mengenal dulu baru timbul cinta. Mengapa Yakub rela bekerja 7 tahun untuk mendapatkan Rahel? Ia bisa saja meminta hanya 7 bulan, namun mengapa 7 tahun? Kita akan membahas hal itu. Mengapa Laban membohongi Yakub dan Yakub rela bekerja lagi selama 7 tahun untuk Laban?

 

Pembahasan

1) Dari mana datangnya cinta?

            Setiap kita mendapatkan anugerah untuk bisa mencintai dan dicintai. Cinta dalam keluarga (storge) adalah cinta yang menjadi modal awal bagi kita untuk mengaktualisasikan cinta dalam keluarga. Jika orang tua kurang memberikan cinta, maka anak bisa mendapatkan dampak negatif. Esau mudah jatuh cinta karena ia kekurangan kasih dari ibunya. Banyak orang yang kondisinya seperti Esau. Ada orang yang sulit jatuh cinta seperti Yakub karena terlalu banyak menerima cinta dari Ribka. Maka perpisahan Yakub dengan ibunya merupakan satu pergumulan baginya. Saat Yakub bertemu dengan Rahel, ia menuangkan emosinya lewat air matanya. Ia biasanya menceritakan segala hal kepada ibunya namun sekarang ia terpisah dari ibunya dan ia menuangkan semua emosinya kepada Rahel. Rahel pasti terkejut melihat Yakub yang seperti itu. Jika kita memiliki anugerah untuk mencintai dan dicintai, maka kita harus melihat itu sebagai anugerah dari Tuhan. Bagaimana kita mengelola spirit cinta? Sebagai manusia kita memiliki tanggung jawab dalam hal relasi. Cinta bisa datang karena melihat. Mata diciptakan agar kita bisa melihat ciptaan dan kemuliaan Tuhan yang besar sehingga kita pada akhirnya memuliakan Tuhan. Mata bisa menilai keindahan namun mata juga bisa menyesatkan kita. Yesus mengajarkan untuk mencungkil mata jika mata menyesatkan (Matius 5:29). Ini karena ada banyak orang yang matanya belum dikuduskan. Hukum kesepuluh menyatakan bahwa kita tidak boleh mengingini milik orang lain (Keluaran 20:17), maka dari itu kita harus berhati-hati terhadap mata kita. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Matius 5:28). Kita harus waspada dalam menggunakan mata, telinga, dan mulut kita. Mata diciptakan untuk kemuliaan Tuhan dan mata bisa membuat kita mengerti cinta.

Ketika Yakub sampai di negeri Bani Timur (Kejadian 29:1), ia bertemu dengan para gembala dan bertanya kepada mereka tentang keluarga Laban. Mereka mengarahkan Yakub kepada Rahel yang lewat di sana. Yakub menyatakan dirinya bukan melalui kata-kata tetapi melalui sikapnya. Ia menggulingkan batu dari mulut sumur untuk menunjukkan niat baiknya sebagai lelaki yang bisa diandalkan. Kemudian ia langsung memberikan air kepada kambing dan domba Rahel. Di sana Rahel berdiam dan terpana. Yakub kemudian menciumnya lalu menangis dan menceritakan tentang keluarganya. Rahel kemudian menceritakan hal itu kepada keluarganya. Yakub melihat Rahel sebagai objek namun bukan itu yang menjadi inti melainkan konteks dimana Rahel berada itulah yang menjadi pokok. Banyak orang memandang wanita sebagai objek dan ini membawa kepada dosa perzinahan. Objek itu harus diisi dengan nilai tanggung jawab. Apa yang dilakukan Yakub menyenangkan Rahel. Jika kita ingin menyenangkan seseorang, maka pekerjaan pun terasa ringan. Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Cinta yang sejati mendorong kita untuk mengorbankan diri bukan mengorbankan orang yang kita cintai. Mencintai itu wajar, namun manusia belum tentu bisa menangkap cinta yang benar. Cinta itu harus dikontrol dan diredam jika belum ada kesiapan. Cinta tidak boleh dipertumbuhkan sebelum waktunya. Seluruh program Tuhan itu sudah diatur dengan baik untuk iman dan karakter kita. Sekarang banyak anak muda yang cepat jatuh cinta karena tidak mengendalikan cintanya.

Ketika Yakub bertemu dengan Laban, mereka begitu bersukacita dan Laban menyuruhnya untuk tinggal di sana. Ia di sana selama 1 bulan. Di sana cinta Yakub dan Rahel diuji. Apakah Laban tahu bahwa ada cinta di antara mereka? Ia tahu. Laban kemudian bertanya upah apa yang dapat diberikan kepada Yakub. Yakub menyatakan dengan jujur dan mau bekerja selama 7 tahun untuk mendapatkan Rahel. Ketika Lea mendengar itu pasti ia memberontak. Di dalam hukum Yahudi, adik tidak boleh menikah lebih dahulu daripada kakaknya. Pada akhirnya Yakub harus menikah dengan Lea. Hal itu diinginkan Lea namun tidak diinginkan Yakub. Ini adalah cinta karena situasi dan kondisi. Ini semua dikondisikan oleh Laban sehingga akhirnya muatan cinta Yakub dan Lea bersifat natural. Ketika nanti Yakub sudah menikahi Rahel dan Rahel lebih dicintai daripada Lea, Tuhan membuka kandungan Lea namun menutup kandungan Rahel. Di saat itu ada kompetisi cinta di antara Lea dan Rahel. Nama Ruben diberikan karena ia mengharapkan cinta lebih banyak dari suaminya. Simeon adalah anak kedua dan namanya berarti tanda. Anak yang ketiga adalah Lewi. Anak yang banyak tidak bisa diidentikkan dengan cinta. Anak Lea ada 6 orang dan Rahel hanya 2 orang, namun tetap cintanya hanya bersifat natural. Kita harus berhati-hati terhadap situasi dan kondisi. Yakub pada akhirnya tetap lebih mengasihi Rahel. Ini adalah kesalahan yang pertama-tama dari Laban. Cinta natural ini sifatnya tidak sejati. Mengapa Yakub tidak meminta hanya 7 bulan? Hasrat cinta harus diuji dalam ruang dan waktu. Hasrat cinta harus dikuasai iman. Cinta itu berarti kita mau memberikan yang terbaik bagi orang itu. Di dalam hukum Yahudi, laki-laki yang mau menikah harus mempunyai modal. Waktu 7 tahun tersebut dianggap investasi kerja. Yakub ingin memperlihatkan dirinya sebagai pekerja yang handal. Di dalam waktu 7 tahun itu ia juga mau mengenal Rahel lebih lagi. Cinta itu timbul karena pengenalan. Di dalam cinta ada proses dan waktu. Di dalam waktu itu harus ada pengenalan yang lebih dalam. Dikatakan bahwa mata Lea tidak berseri dan ia kalah cantik dengan Rahel. Dikatakan bahwa sikap Rahel itu elok dan parasnya cantik (ayat 17). Di sini kita belajar untuk tidak melihat paras terlebih dulu. Kecantikan akan hilang seiring waktu. Ketika Yakub berani menguji cintanya dalam waktu dan mau mengenal Rahel, ia melihat Rahel sebagai subjek. Rahel tidak marah ketika harus menunggu 7 tahun, ini berarti bahwa keduanya memiliki kedewasaan dalam proses itu. Pada akhirnya cinta yang seperti ini akan mendatangkan bahagia. Apa perbedaan dari senang dan bahagia? Senang berarti bisa mengorbankan pasangan namun bahagia berarti memberi untuk menyenangkan pasangan. Jadi cinta dulu baru kemudian bahagia, bukan sebaliknya.

Ketika kita mau ikut program Tuhan, maka kita akan mengalami pertumbuhang yang positif dari iman, karakter, dan mental kita. Jika proses pacaran membuat kita semakin bertumbuh, maka itu berarti proses yang dilewati itu benar dan diperkenan Tuhan. Jika sebaliknya, maka itu bukan cinta yang sejati. Konflik itu boleh ada, namun jika dalam relasi terus ada konflik maka relasi itu harus dipertanyakan. Ada orang yang tidak mau memutuskan relasi meskipun sudah banyak terjadi hal-hal yang tidak sehat di dalamnya. Jadi api cinta itu dapat membutakan. Cinta itu kuat seperti maut (Kidung Agung 8:6). Cinta harus dikendalikan rasio dan bukan emosi semata. Di sini Yakub meminta 7 tahun supaya ada waktu untuk memproses cintanya dan pengenalannya. Ia merasa bahagia selama 7 tahun itu, maka dari itu hanya seperti melewati 7 hari. Api cinta itu membuat Yakub tidak merasa bosan. Cinta yang dikuduskan itu selalu ada nilai tanggung jawab. Jika kita bisa bosan terhadap pasangan, maka semangat cinta kita sudah turun. Jika cinta itu sudah menjadi dingin, maka kita tidak akan berpikir untuk menyenangkan pasangan. Saya yakin setiap suami-istri perlu melakukan bulan madu berikutnya setiap setahun atau dua tahun sekali supaya tidak terjebak dalam rutinitas. Cinta harus dirawat dan dijaga. Cinta harus terus dipertumbuhkan ke arah Kristus. Kita harus membedakan antara hasrat dan senang dengan cinta. Jika di dalam hati kita ada hasrat maka itu belum tentu cinta. Jikalau kita hanya merasa senang maka kita harus berhati-hati hanya menjadikan pasangan sebagai objek. Cinta sejati tidak pernah mengorbankan orang lain tetapi mengorbankan diri sendiri.

2) Bagaimana kita tahu bahwa cinta Yakub kepada Rahel itu murni adanya?

            Ayat 17 Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya. Di sana Yakub melihat sikapnya dulu baru melihat parasnya. Selama 7 tahun Yakub melihat sikap Rahel. Rahel dalam bahasa Ibrani berarti domba betina. Ini identik dengan kecantikannya. Namun yang jauh lebih penting adalah sikapnya. Banyak wanita sulit mendapatkan cinta karena sikapnya tidak elok. Mengapa Laban menugaskan Rahel menjadi gembala kambing dan domba? Musa pernah menjadi gembala kambing dan domba selama 40 tahun. Di sana ia dilatih karakternya. Saya yakin jika Rahel boleh memilih maka ia akan memilih untuk bekerja di rumah. Namun sebagai gembala Rahel dilatih untuk memiliki kecakapan dan tanggung jawab. Ia harus terbakar kulitnya karena matahari namun ia dilatih untuk memiliki tanggung jawab di sana. Ketika ia bertemu dengan Yakub, ia menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang yang cepat histeris. Cinta Yakub kepada Rahel diuji dalam waktu 7 tahun. Cinta itu tidak boleh mengendalikan rasio dan iman harus mengendalikan cinta. Yakub mempersilahkan Tuhan untuk memproses cintanya dalam waktu 7 tahun itu. Cinta harus dikuasai iman kepada Yesus Kristus.

Kesimpulan

Cinta yang sejati adalah cinta agape. Cinta eros bukanlah cinta sejati. Cinta agape itu memiliki karakter. Kristus mengorbankan diri-Nya karena mengasihi kita. Jika Ia tidak berkorban maka kita akan mati dalam dosa-dosa kita. Puncak kasih-Nya adalah salib. Melalui salib itu kita mengerti bahwa kita harus melayani (aktif). Yakub ketika bertemu dengan Rahel langsung melayani dan bukan minta untuk dilayani. Cinta yang sejati membuat kita memperlakukan orang yang dikasihi sebagai subjek dan bukan objek. Cinta yang sejati itu bukan menjadikan kita bos. Yakub melayani Rahel dengan menggulingkan batu itu. Tuhan Yesus datang ke dunia dan mencari kita yang berdosa. Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi semua orang (Matius 20:28). Selama 3,5 tahun Yesus membuktikan kesetiaan-Nya di dunia. Ia tidak mundur ketika ada tantangan, ancaman, dan bahaya. Ia suci adanya. Kesetiaan-Nya tidak berubah sampai selama-lamanya. Di dalam pernikahan harus ada kesetiaan. Aspek pengorbanan juga harus ada. Orang yang sungguh memiliki kasih agape akan mau mengorbankan dirinya. Pengorbanan adalah karakter yang terindah dalam menyatakan cinta. Aspek berikutnya adalah penebusan. Ini berarti kita harus memberikan yang terbaik dalam nilai waktu, usaha, dan relasi. Kita harus menebus segala sesuatu bagi kemuliaan Tuhan. Pada waktu kita memiliki aspek ini, kita akan mau untuk membangun iman pasangan kita. Alkitab menyatakan banyak tokoh yang jatuh di dalam dosa pada masa tua. Suami-istri harus terus menjadi partner iman seumur hidup. Jika iman tidak dijaga, maka akan mengalami kekeroposan dan Setan bisa memanfaatkan hal ini. Maka dari itu pasangan harus terus berfokus untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Kita harus mengejar kairos Tuhan dan menggunakannya demi kemuliaan Tuhan.

Cinta harus diuji, dikuduskan, dijaga, dan dipertumbuhkan. Cinta harus diuji agar kita mengetahui kemurniannya dalam ruang dan waktu. Cinta itu harus dikuduskan jika mengandung hasrat-hasrat yang liar. Cinta itu harus dijaga agar hal yang liar tidak muncul. Cinta itu juga harus dipertumbuhkan ke arah Kristus. Cinta yang terus hidup itu tidak akan membuat kebosanan di dalam pernikahan. Yakub merasakan 7 tahun seperti 7 hari saja karena cintanya. Cinta yang tidak bertumbuh ke arah Kristus akan membosankan. Orang yang mudah jatuh cinta juga akan mudah untuk putus cinta. Kita harus terus melakukan semua ini demi kemuliaan nama Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami