Pilih Kasih

Pilih Kasih

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 25:28

 

Pendahuluan

Panggilan orang tua adalah menjalankan fungsi imam, nabi, dan raja dalam mendidik anak-anaknya. Fungsi ini juga dijalankan oleh Tuhan Yesus. Orang tua berfungsi sebagai imam sehingga mereka harus mengajak anak-anak untuk bersekutu dengan Tuhan. Anak-anak harus melihat kebesaran Tuhan dan bukan melihat yang lain lebih besar. Orang tua sebagai imam harus menjadi perantara sehingga anak-anak senantiasa beribadah kepada Tuhan. Di sini orang tua harus menjadi pendidik iman. Pendidikan pengetahuan bisa lakukan oleh orang tua manapun, namun orang tua Kristen harus memberikan pendidikan iman. Orang tua Kristen harus menyatakan karakter Kristus dan pengetahuan yang sejati dari Firman Tuhan. Orang tua harus mengembangkan talenta anak untuk kemuliaan Tuhan dan mendidik anak menjadi garam dan terang. Kedua, orang tua juga berfungsi sebagai nabi. Anak-anak terlahir sebagai orang berdosa sehingga orang tua harus berani menegur dosa anak. Anak harus dididik untuk takut akan Tuhan. Orang tua tidak boleh tidak menegur dosa dan juga tidak boleh terlalu banyak menegur. Anak harus diajarkan untuk mengaku dosa dan memohon ampun. Jadi peran orang tua sebagai nabi adalah penegak kesucian di keluarga. Sebagai fungsi raja, orang tua harus bisa memimpin dan mengarahkan pendidikan anak dalam seluruh aspek. Orang tua harus memiliki keteladanan, hikmat, dan otoritas dalam memimpin seluruh keluarga. Anak-anak harus menjadi penerus generasi yang takut akan Tuhan.

Bagaimana jika orang tua salah mendidik anak? Apakah perilaku pilih kasih terhadap anak diizinkan Tuhan? Tidak diizinkan Tuhan namun bisa dibiarkan Tuhan. Ishak sayang kepada Esau hanya karena makanan. Ishak mendapatkan anak pada umur 60 tahun dan ia menikah pada umur 40 tahun. Selama 20 tahun ia menantikan anak. Abraham menantikan Ishak selama 25 tahun. Ishak secara umur memang sudah dewasa namun pengelolaan emosinya masih kanak-kanak. Dia hanya menyukai Esau karena alasan yang remeh. Kita harus waspada terhadap hal ini. Mungkin secara afeksi kita masih anak-anak. Kita mungkin saja terjebak dalam perilaku yang seperti itu. Atau kita mungkin merupakan korban dari perilaku orang tua kita. Mengapa terjadi perilaku pilih kasih terhadap anak? Pasti karena ada faktor pencetus. Adakah dampak negatif akibat perilaku pilih kasih (diskriminatif) terhadap anak? Ada banyak dan kita akan membahas itu.

Pembahasan

Mengapa terjadi perilaku pilih kasih? Begitu banyak universitas melakukan penelitan terhadap hal ini di Amerika dan Eropa. Penyebab yang pertama adalah karena adanya anak yang paling kecil (bungsu). Mungkin orang tua merasakan salah didik terhadap anak-anak yang sebelumnya dan kemudian mau menebus kesalahan tersebut pada anak yang bungsu. Pada akhirnya anak bungsu dimanjakan. Mungkin juga pada saat anak pertama dilahirkan, orang tua sedang mengalami pergumulan ekonomi. Saat anak paling terakhir dilahirkan, semua keadaan sudah stabil, maka orang tua cenderung memanjakannya. Kedua, anak yang paling banyak menuntut. Anak yang menuntut hal-hal positif seperti les pelajaran tambahan dan sejenisnya bisa menciptakan ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya. Anak yang seperti ini biasanya mendapatkan kasih lebih besar dari orang tua. Tuntutan yang positif itu membuat orang tua senang. Ketiga, anak yang paling banyak mengingatkan masa lalu orang tuanya. Anak yang paling banyak mengingatkan masa lalu orang tuanya cenderung lebih banyak mendapatkan kasih sayang. Keempat, anak yang paling sayang pada orang tua. Anak yang banyak memberikan perhatian pada orang tua akan sangat mudah mengambil hati orang tua. Kelima, anak yg menyenangkan orang tua (ambil hati). Anak seperti ini mengerti bagaimana membuat situasi yang menyenangkan untuk orang tuanya. Ia pintar mengambil setiap kesempatan untuk menyenangkan orang tuanya. Keenam, anak yang membanggakan orang tua (pintar, berprestasi, bisa diandalkan, dan lainnya). Anak yang seperti ini paling mudah untuk menjebak orang tua agar pilih kasih. Pernahkah kita sangat disayang oleh orang tua kita? Dimanakah kesalahan Ishak dan Ribka? Pada poin ke-5. Esau adalah orang yang kasar dan ia suka bertualang sedangkan Yakub adalah orang yang tenang. Ketika Esau lahir, badannya penuh dengan bulu sedangkan Yakub tidak demikian. Jika kita pernah terjebak dalam pilih kasih, maka kita sudah bersalah di mata Tuhan. Tuhan mau kita memberikan kasih dan keadilan dan seimbang. Ketika ini terjadi, anak itu akan menjadi anak yang sehat.

Mungkinkah kita yg hadir di sini adalah korban pilih kasih orang tua baik sekarang dan masa lampau? Mungkin saja. Kita bisa saja merespons secara negatif karena kita telah menjadi korban dari orang tua, namun itu adalah respons yang salah. Atau kita adalah orang tua yang sudah melakukan pilih kasih terhadap anak-anak kita? Jika benar demikian, maka kita harus bertobat karena ini tidak diinginkan Tuhan. Di dalam budaya tertentu, anak laki-laki lebih dikasihi daripada perempuan, namun kita harus tahu bahwa semuanya sama di mata Tuhan, maka dari itu anak-anak harus diperlakukan dengan adil. Apa dampak negatif akibat pilih kasih? Kita akan melihat apa yang terjadi pada Esau dan Yakub. Pertama, terjadi persaingan yang tidak sehat antara mereka berdua (Kejadian 25:29-31). Ribka mendukung Yakub untuk mendapatkan hak sulung dari Esau. Sebaliknya, Esau tidak melihat itu sebagai hal yang penting. Ketika Esau sedang kelaparan, ia meminta makanan dari Yakub. Yakub memberikannya dengan syarat bahwa hak kesulungan tersebut diberikan kepadanya. Apakah ini siasat atau strategi? Siasat itu negatif dan strategi itu positif. Dalam siasat banyak cara dihalalkan namun strategi masih melihat peraturan. Di dalam cara Yakub seperti ada siasat dan juga strategi. Kita sebagai orang tua tidak boleh membanding-bandingkan anak. Hal itu menyakitkan bagi anak. Mungkin orang tua melakukan itu secara tidak sadar namun kita harus waspada. Ishak sangat senang kepada Esau. Setiap kali Esau pulang membawa hewan buruan, Ishak memujinya. Sebaliknya, Ribka sering memuji Yakub. Di sini terjadi kompetisi yang tidak sehat. Pada akhirnya Esau setuju untuk menukar hak kesulungannya dengan makanan Yakub.

Kedua, menggampangkan sesuatu atau tidak berpikir komprehensif (Kejadian 25:32-34). Di sini Esau menggampangkan sesuatu. Ishak senang kepada Esau karena makanan dan Esau juga kehilangan hak kesulungan karena makanan. Ia adalah seorang pemburu yang handal dan ia dimanjakan ayahnya dan alam sehingga ia menggampangkan segala hal. Itulah mengapa ia menggampangkan hak kesulungannya. Ketika anak-anak bersifat menggampangkan banyak hal, sangat mungkin itu karena orang tua salah mendidik. Maka dari itu orang tua harus membiarkan anak mendapatkan kesulitan dan berjuang sendiri. Orang tua tidak boleh segera mengabulkan semua permintaan anak dan anak tidak boleh menikmati pemberian yang berlebih dari orang tua. Esau telah kehilangan hak kesulungannya dan itu berarti ia tidak boleh menerima berkat itu dari Ishak. Kemanjaan itu mengakibatkan karakter yang buruk. Banyak orang di daerah yang begitu kaya hasil alam memiliki karakter malas dan tidak mau berkembang karena sudah dimanjakan oleh alam. Sebaliknya, ada daerah-daerah yang sulit hasil alamnya yang penduduknya memiliki mental perjuangan. Kesulitan itu membuat manusia berusaha lebih baik. Jika anak dimanjakan, maka karakternya bisa rusak. Anak harus dididik untuk memiliki perjuangan.

Ketiga, Esau mudah untuk jatuh cinta dan tidak menghormati perintah orang tua (Kejadian 26:34-35). Esau menikah dengan dua perempuan Het. Mereka tidak percaya kepada Tuhan. Esau mudah jatuh cinta karena kekurangan kasih dari ibunya. Yakub mendapatkan banyak kasih dari ibunya sehingga ia baru mencari pasangan hidup ketika sudah diberikan kondisi yang tepat. Esau haus akan cinta wanita karena ia kurang mendapatkan itu dari Ribka. Di sini Esau juga tidak menghormati perintah orang tua. Ishak mengerti bahwa pasangan yang tepat adalah yang seiman karena Abraham mengajarkan demikian. Setelah Esau mengambil 2 perempuan Het itu, dikatakan bahwa Ishak dan Ribka pedih hatinya. Ini karena anaknya mengambil istri yang tidak takut akan Tuhan. Esau terlalu menggampangkan segala hal. Ia tidak peduli dengan perasaan orang tuanya. Ia suka bertualang cinta. Keempat, Yakub menipu Ishak dengan bantuan Ribka (Kejadian 27:1-29). Ishak menyuruh Esau untuk mendapatkan hewan buruan dan mengolahnya untuk dijadikan makanan bagi Ishak. Setelah itu Ishak berencana untuk memberkatinya. Ribka mendengar hal tersebut dan kemudian menyuruh Yakub untuk menyamar dan menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat. Rencana tersebut berhasil, namun itu membuat Esau marah kepada Yakub dan ingin membunuhnya. Kita harus waspada terhadap pilih kasih dalam keluarga karena itu memecah keluarga. Terjadi hukum tabur tuai dalam bagian ini.

Bagaimana dengan Daud yang terlalu sayang dan sangat melindungi Absalom anaknya (2 Samuel 3:3-5)? Dikatakan bahwa Absalom sangat tampan, badannya tinggi tegap, dan rambutnya lebat. Adiknya Tamar begitu cantik dan kemudian diperkosa oleh Amnon. Ketika Absalom mengetahuinya, ia membunuh Amnon. Seharusnya Absalom dihukum, namun Daud melindungi Absalom. Dalam Mazmur 3 kita mengetahui bahwa Absalom itu begitu licik. Ia pulang dan berpura-pura bertobat. Ia mengambil hati bangsa Israel lalu memberontak terhadap ayahnya. Di sini anak yang dimanjakan bisa menjadi anak yang tidak tahu diri. Ia tidak lagi menghormati orang tuanya. Pada akhirnya Absalom mati dibunuh. Di sini kita belajar untuk waspada terhadap perilaku pilih kasih. Bagaimana upaya perbaikan dari orang tua yang sudah pilih kasih dan anak yang sudah bersikap salah dalam menghadapi perilaku pilih kasih? Pada pasal 27 bagian akhir dan bagian awal dari pasal 28 ditulis bahwa ada pemulihan antara Ishak dan Ribka. Setelah itu Yakub dipulihkan dengan orang tuanya. Mereka masing-masing intropeksi diri. Memang tidak dicatat dalam Alkitab namun dalam Kejadian 27:46 Ribka menyatakan keluh kesahnya kepada Ishak. Hal ini didengar oleh Yakub. Ia juga tahu bahwa Esau ingin membunuhnya dan Ishak tahu bahwa Yakub juga belum punya pacar. Mereka saling mengevaluasi diri. Di sini ada komunikasi dari hati ke hati. Akhirnya Ishak mengambil satu solusi yaitu mengutus Yakub ke Mesopotamia untuk mencari keluarga Abraham yaitu keluarga Laban. Ia juga diminta untuk mendapatkan istri dari keluarga itu. Setelah pemulihan ini keluarga itu menciptakan manner of life yang baru. Mengapa orang Jepang selalu berkembang? Karena mereka selalu melakukan perkembangan dan mencari solusi-solusi baru. Tuhan ingin kita selalu dibarui. Kita harus secepatnya bertobat ketika sadar akan dosa kita dan kita harus memohon pembaruan diri. Keluarga Ishak baru mengalami pemulihan setelah anak-anaknya bertikai. Jangan sampai kita meremehkan kebaktian keluarga. Jika keluarga kita bisa berkumpul maka kita harus mengusahakan kebaktian keluarga. Firman Tuhan itu memiliki kuasa untuk mengubah. Kita harus berubah menjadi orang-orang yang menyenangkan Tuhan. Di dalam hati kita harus ada pengampunan dan perubahan untuk menjadi orang-orang yang lebih baik melalui pemulihan yang Tuhan berikan. Orang tua harus bertobat dan anak-anak juga harus bertobat. Waktu dan rencana Tuhan adalah yang terbaik dimana kita bisa mengalami pembaruan demi pembaruan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami