Pertolongan yang Ajaib

Pertolongan yang Ajaib

Categories:

Bacaan Alkitab: Yosua 3:1-17.

Pendahuluan

Hidup adalah perjuangan iman dan peperangan rohani. Israel telah berjalan dari Mesir ke tanah Kanaan selama puluhan tahun. Ini merupakan perjuangan iman dan peperangan rohani mereka. Hidup kita bagaikan musafir yang berjalan menuju ke tempat yang Tuhan tetapkan. Kita harus terus mengikuti pimpinan Tuhan dan tidak boleh merasa diri sudah aman dan nyaman lalu kemudian menikmati hidup. Itu adalah dosa.

Mengapa Yosua butuh tiga hari menginap di tepian sungai Yordan dan tidak langsung menyeberang? Di bagian ini Yosua harus menaati pimpinan Tuhan. Yosua memerintahkan bangsa Israel untuk menguduskan diri mereka sebelum melihat perbuatan Tuhan yang ajaib. Kekudusan hidup sangat berkaitan dengan kehadiran dan pertolongan Tuhan.

Apa arti dan makna ketaatan dalam iman? Yosua taat kepada Tuhan, para imam taat kepada Yosua, dan umat taat kepada Yosua dan para imam. Mereka taat karena iman dan bukan uang.

 

Pembahasan

1) Tabut Perjanjian “Shekinah”

Ada yang berbeda dari cara Tuhan memimpin Yosua untuk masuk ke dalam tanah Kanaan, yaitu Tuhan memakai tabut perjanjian. Tuhan memimpin mereka menyeberangi sungai Yordan. Sungai itu berhenti aliran airnya bukan dengan tongkat tetapi dengan para imam yang melangkah ke depan. para imam harus mengangkut tabut perjanjian. Di tabut perjanjian ada bagian yang disebut shekinah. Di sana sayap para kerubim bertemu. Itu adalah tanda kehadiran dan perlindungan serta pertolongan Allah. Tabut tersebut dibuat pada 1513 SM. Di dalamnya ada 2 loh batu yang dituliskan 10 perintah Allah juga tongkat Harun yang berbunga dan buli-buli manna (Ibrani 9:4). Tabut ini dibuat dari kayu akasia yang ringan namun kuat. Kayu ini dilapisi dengan emas dan dibuat dengan rapi (Keluaran 37:1-5). Pada zaman Musa, kehadiran Tuhan disimbolkan dengan tiang api dan tiang awan, namun pada masa Yosua tidak ada lagi tiang api dan tiang awan melainkan tabut perjanjian. Tuhan sudah mengatur serapi mungkin untuk tabut perjanjian. Tuhan menunjuk Bezaleel (Keluaran 37) untuk membuatnya dan kemudian diresmikan oleh Musa. Pada 1070 SM tabut itu dibawa ke Yerusalem oleh Daud dan pada 1026 SM tabut tersebut diletakkan di bait Allah pada masa pemerintahan Salomo (1 Raja 8:17-21). Tabut perjanjian sempat hilang namun kemudian ditemukan kembali oleh Yosia pada 642 SM dan dikembalikan ke bait Allah. Pada tahun 603 SM tabut tersebut tidak ada lagi di bait Allah karena tidak terbawa ke Babel. Pada tahun 63 SM tabut perjanjian dinyatakan hilang oleh Jenderal Pompeius. Dahulu memang tabut perjanjian merupakan hal yang sangat penting, namun ketika Tuhan akan memulai Perjanjian Baru, tabut perjanjian tidak dimunculkan lagi. Bahkan sejak zaman intertestamental, tabut perjanjian sudah tidak ada lagi.

Hal yang perlu kita ketahui pada masa Yosua bahwa tidak ada lagi tiang awan dan tiang api tetapi hanya tabut perjanjian. Dalam ayat 1 dikatakan bahwa mereka sampai di sungai Yordan dan bermalam di sana. Ketika dikatakan mereka bangun pagi-pagi benar, itu berarti jam 3 pagi dan mereka berjalan sampai petang dan tiba di sana. Jutaan orang dari mereka harus berjalan dengan perjuangan sampai ke sana. Pada zaman Musa, ketika bangsa Israel bertemu dengan tantangan, mereka langsung menggerutu, namun di masa Yosua ini, bangsa Israel tidak bertanya bagaimana mereka bisa menyeberang. Mereka hanya taat kepada pemimpin mereka yaitu Yosua. Selama 3 hari Tuhan tidak berbicara dan tidak menyuruh mereka untuk menyeberang.

2) Retret 3 hari (ayat 3-6)

Mereka melakukan retret selama 3 hari. Mengapa 3 hari? Mereka membutuhkan pemulihan fisik karena sebelumnya mereka sudah berjalan dari pagi-pagi benar sampai petang. Dalam retret itu juga mereka melakukan persiapan rohani. Ini karena mereka tahu bahwa mereka akan menyeberang dan menyerang orang-orang Kanaan. Mereka akan menyeberang sebagai pemenang namun mereka tahu bahwa mereka harus taat dan punya iman yang kuat. Selama 3 hari itu mereka harus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Mereka harus punya sikap rohani yang baik dan melangkah dengan berani mengikuti pimpinan Tuhan. mereka harus memiliki kesiapan fisik dan rohani. Saat mereka menyeberangi sungai itu, mereka tidak boleh menggerutu tetapi semua harus berjalan dengan tertib dan di dalam kekudusan. Dalam persiapan rohani, mereka dipersiapkan untuk menang tanpa kecacatan, tanpa kekecewaan, dan tanpa ada yang dikorbankan. Persiapan rohani itu mencegah mereka dari dosa dalam kata-kata dan juga emosi. Saat mereka menyeberang, ternyata tidak ada emosi yang tidak suci. 3 juta orang berjalan dengan kekudusan karena mereka sudah melakukan persiapan rohani yang baik. Yosua kemudian mengutus 2 pengintai untuk mengintai Yerikho. Kedua pengintai itu menginap di rumah Rahab. Rahab mengakui Allah sebagai Allah yang hidup dan bersedia membantu para pengintai itu dengan permohonan bahwa dirinya dan keluarganya akan diluputkan dari bahaya. Perempuan sundal itu percaya kepada Allah Yahweh dan bertindak dengan iman. Kita mengetahui bahwa kemudian ia menikah dengan Salmon dan memperanakkan Boaz yang akhirnya menikah dengan Rut (Matius 1:5). Dari mereka lahirlah Daud dan kemudian Tuhan Yesus. Rahab sudah sungguh-sungguh bertobat sehingga ia bisa menikah dengan baik dengan Salmon.

Selain mengirim pengintai, Yosua juga mengatur strategi dan barisan mereka. Bangsa Israel diminta untuk mengikuti para imam yang membawa tabut perjanjian. Mereka semua harus selalu waspada dan memerhatikan tabut perjanjian di depan mereka. Para imam berjalan sesuai arahan Yosua seperti Yosua taat kepada Tuhan. Kekuatan mereka bukanlah kuasa militer tetapi kekuatan dan pertolongan Tuhan yang ajaib. Semua ini diatur dalam 3 hari. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus selalu punya persiapan di dalam menghadapi peperangan rohani. Retret 3 hari yang dialami oleh bangsa Israel adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk mempersiapkan segala halnya.

3) Cara Tuhan membesarkan nama Yosua (ayat 7-13)

Dalam ayat 7 Tuhan memberikan janji untuk membesarkan nama Yosua. Tuhan mau menyatakan kepemimpinan yang penuh kuasa di depan mata semua orang Israel. Jika manusia yang mau membesarkan manusia, maka bisa gagal dan menjadikan batu sandungan. Namun ketika Tuhan yang membesarkan nama Yosua, ia tidak menjadi sombong. Ia tetap menjadi pemimpin yang rendah hati dan taat total. Ini berarti kita tidak boleh membesarkan diri sendiri dengan cara-cara yang duniawi. Kita harus menyerahkan kepada Tuhan untuk membesarkan orang-orang yang dipilih-Nya. Tuhan membesarkan nama Yosua bukan untuk kepentingan pribadi Yosua tetapi untuk menyatakan Allah yang hidup. Bangsa Israel yang sudah terlalu lama diperbudak oleh Mesir tidak lagi melihat Allah yang hidup. Ketika bangsa Israel akan dibawa menyeberangi sungai Yordan dan mengalahkan musuh-musuh yang ada, mereka diberikan motivasi yaitu bahwa mereka pasti akan dipimpin oleh Allah yang hidup. Dalam kitab Ulangan, orang tua diajarkan untuk terus mengulang-ulang perintah Tuhan dimanapun juga supaya anak-anak mengetahui tentang Allah. Di sini anak-anak diajarkan untuk mengandalkan Tuhan. Saat mereka akan menyeberang, sungai Yordan saat itu sedang mengalir deras. Aliran airnya bisa menghanyutkan orang dan membawa mereka sampai ke Laut Mati. Dalam bahasa Ibrani, arus yang kuat ini disebut nakal. Para imam yang tidak punya pengalaman saat itu taat dan mencelupkan kaki mereka ke dalam air sungai dan saat itu juga mukjizat terjadi. Saat itu mungkin para imam mengalami ketakutan, namun tugas mereka adalah taat. Mereka mungkin tidak pernah mengalami Laut Teberau yang terbelah dan mungkin mereka tidak punya gambaran bagaimana mereka bisa lewat namun mereka harus mengambil langkah iman itu. Seluruh misi yang diberikan kepada Yosua adalah untuk menyatakan bahwa Allah itu hidup.

 

4) Ketaatan dalam iman sebagai ujian (ayat 14-17)

Pertama, Yosua harus taat total kepada Tuhan tanpa ada perdebatan dan diskusi. Yosua melaksanakan semua yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Ia adalah pemimpin yang baik karena menangkap apa yang Tuhan mau. Ia tidak mengritik dan berdebat melainkan memegang seluruh janji Tuhan. Ketaatan Yosua lahir dari iman. Hal yang tersulit adalah memimpin 3 juta orang untuk berjalan, namun menghadapi hal ini pun Yosua tidak berdebat dengan Tuhan. Kedua, para imam harus taat kepada Yosua. Dulu para imam taat kepada Musa dan Harun yang juga adalah dari keluarga imam, namun para imam di dalam masa Yosua harus taat kepada Yosua yang bukan berasal dari keluarga imam. Mereka tidak boleh berdiskusi dan berdebat tetapi harus taat total kepada Yosua. Mungkin mereka menyanyi lagu rohani sambil menyeberang karena mereka ada ketakutan. Mereka sedang diuji dalam nilai ketaatan dan iman. Begitu pula bangsa Israel harus taat kepada para imam dan Yosua. Generasi sebelumnya tidak diizinkan untuk masuk ke tanah Kanaan bersama dengan Musa karena mereka tidak taat. Generasi yang baru memiliki iman dan mau taat. Mereka tidak bermental budak dan berani melakukan penerobosan. Retret selama 3 hari tidak menghasilkan sungut-sunggut tetapi menghasilkan persiapan yang matang dan ketaatan total. Musa harus memimpin generasi yang tegar tengkuk dan suka bersungut-sungut, namun Yosua memimpin generasi yang mau taat total kepadanya. Kolose 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kita sebagai pegawai harus taat kepada atasan. Para istri harus taat kepada suami sebagai pemimpin keluarga. Para suami jika sering membuat keputusan yang salah maka wajar saja bila istri sering melawan dan memberontak, namun istri harus taat ketika suami sudah membuat keputusan yang benar. Di dalam pernikahan, pria adalah pemimpin dan wanita harus siap mengikuti pemimpin dan rela untuk dipimpin.

Ketaatan dalam iman adalah ketaatan yang paling indah. Kita harus terus merenungkan dan menaati firman Tuhan karena di dalamnya ada ketaatan dalam iman. Di dalam hal itu ada kerelaan total. Ketika mau taat dalam iman, kita tidak akan mempertanyakan Tuhan karena melihat Tuhan yang besar yang akan menyatakan rencana-Nya. Bangsa Israel tidak bertanya dimana jembatan yang mereka akan seberangi. Ini menunjukkan bahwa mereka taat 100%. Mereka menantikan pertolongan Tuhan yang ajaib. Pertolongan dari Tuhan selalu tepat pada waktu-Nya. Pertolongan Tuhan itu selalu tepat pada waktu-Nya dan tidak pernah terlambat. Ini berarti Tuhan akan mempersiapkan kita dalam waktu-Nya. Kita tidak boleh mempercepat atau memperlambat waktu Tuhan. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias pada umur 30 tahun. Mengapa demikian? Karena dalam budaya Yahudi, seorang pria baru dianggap layak menjadi pemimpin pada umur 30 tahun. Dalam peristiwa pernikahan di Kana (Yohanes 2:1-11), Maria meminta Yesus untuk menolong mereka yang kehabisan anggur, namun Yesus menjawab ‘waktu-Ku belum tiba’ (ayat 4). Saat waktu-Nya tiba, mukjizat itu dinyatakan. Kita melihat di sini bahwa pertolongan Allah itu tepat pada waktunya. Kita harus taat pada proses waktu Tuhan. Tugas kita adalah menjaga kekudusan hidup dan berani melangkah dengan iman ketika sudah menerima perintah Tuhan. Kekudusan hidup dan langkah iman adalah dasar Allah menyatakan pertolongan yang ajaib.

Setiap dari kita adalah orang yang lemah dan terbatas, maka dari itu kita membutuhkan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan. Retret 3 hari itu mempersiapkan seluruh bangsa Israel sehingga ketika mereka menyeberangi sungai Yordan, semuanya bisa berjalan dengan baik karena mereka berjalan dengan iman. Di sana pertolongan Tuhan yang ajaib itu nyata. Air sungai itu terbendung. Tuhan menyuruh mereka untuk mengambil 12 batu untuk setiap suku dan membuat batu itu menjadi tanda peringatan. Mereka memiliki satu sikap yang baru di dalam mereka menyeberang. Setiap kita pasti mengalami kesulitan, namun yang terpenting adalah sikap kita ketika menghadapinya. Kita harus memohon pertolongan Tuhan di dalam menghadapi pergumulan baik di dalam keluarga, pekerjaan, dan studi kita. Roma 1 :17 Orang benar akan hidup oleh iman. Orang yang beriman pasti hidup dalam kebenaran. Mereka pada akhirnya bisa menyeberangi sungai itu dengan tetap memiliki sikap ibadah di hadapan Tuhan. Di sana mereka melihat bahwa Allah itu hidup. Kita semua membutuhkan pertolongan Tuhan karena kita tahu bahwa diri kita ini terbatas, lemah, dan tidak ada apa-apanya. Kita harus melihat kembali apa yang harus kita kerjakan sehingga kita tidak membuang kesempatan, tenaga, waktu dan uang yang Tuhan sudah anugerahkan bagi kita. Dari seluruh bagian yang kita bahas kita melihat bahwa pertolongan yang ajaib itu muncul bukan dari manusia tetapi datang dari Tuhan sebagai pemilik dan penebus kita. Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang baik (Yohanes 10:14).

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami