Pertobatan dan Pemulihan (1 Samuel 7:1-17)

Pertobatan dan Pemulihan (1 Samuel 7:1-17)

Categories:

Khotbah Minggu 16 Februari 2020 Sore

Pertobatan dan Pemulihan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Samuel. Bagian yang akan kita bahas berbicara mengenai satu periode yang baru yaitu perpindahan dari zaman para hakim ke zaman para raja. Kita akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Samuel. Pada bagian berikutnya, kita bisa melihat bahwa Samuel juga gagal dalam mendidik anak. Kesalahannya lebih fatal karena ia mengangkat anak-anaknya menjadi hakim namun mereka tidak memiliki kualifikasi. Jadi ada nepotisme dalam bagian ini. Kita akan membahas tema Pertobatan dan Pemulihan. Kita akan bersama-sama melihat 1 Samuel 7:1-17.

 

 

1) Pendahuluan

 

Mengapa bangsa Israel menjadikan “tabut” seperti jimat? Ini adalah suatu kemunduran di mana mereka tidak dekat dengan Tuhan namun mereka memperalat simbol-simbol tentang Tuhan. Kita bisa melihat dalam pasal ke-4 sampai ke-6 betapa jauhnya hati Israel dari Tuhan karena mereka menjadikan simbol-simbol itu sebagai jimat. Mereka tidak bergantung pada Tuhan dalam mengalahkan bangsa Filistin. Mereka menjadikan tabut itu jimat dan pada akhirnya Tuhan mempermalukan mereka. Bangsa Israel dikalahkan dan tabut itu dibawa oleh orang Filistin, namun tabut itu menyebabkan malapetaka bagi mereka. Terkadang kita bisa berbuat seperti ini. Kita bisa memberhalakan suatu hal yang bernilai dan berkuasa, padahal itu adalah hal yang semu. Kita akan membahas mengapa hal itu terjadi. Apa itu pertobatan yang sejati? Dalam perjalanannya, Israel jatuh-bangun. Ada masa di mana mereka terlihat bertobat dan ada masa di mana mereka hidup nyaman sampai melupakan ibadah kepada Tuhan. Ketika mereka meninggalkan Tuhan, mereka menyembah berhala-berhala. Mengapa Samuel meminta adanya pertobatan nasional? Apakah ini menunjukkan bahwa dosa Israel adalah dosa nasional dan bukan dosa pribadi? Mengapa dalam persekutuan doa malam Gereja ini kita berdoa mengaku dosa kita secara pribadi dan secara komunal? Kita tidak bisa memungkiri bahwa Israel sebagai satu bangsa memang sudah tidak setia kepada Tuhan. Mereka tidak mengutamakan dan bergantung pada Tuhan secara keseluruhan. Mengapa Allah memberikan pemulihan nasional selama Samuel hidup? Dikatakan bahwa tangan Tuhan-lah yang membentengi Israel dan melawan Filistin. Israel aman karena Tuhan. Berbeda dengan bangsa Israel, Samuel beriman kepada Tuhan.

 

 

2) Pertobatan Nasional

 

Mengapa Israel diminta oleh Samuel untuk bertobat? Mereka sudah mendapatkan tabut setelah 20 tahun. Dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa ketika tabut itu sudah kembali kepada Israel, mereka tidak otomatis mengalami pemulihan ekonomi, kesejahteraan, dan rasa nyaman. Mereka sudah mengeluh selama 20 tahun namun tabut itu seperti tidak memberikan jaminan apapun untuk masa depan mereka. Mereka memiliki status sebagai anak-anak Tuhan namun mereka tidak punya karakteristrik sebagai umat Tuhan yang setia. Mereka begitu bangga menjadi umat pilihan namun mereka tidak mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Jika kita mengalami kekhawatiran dan kesusahan selama sebulan, maka kita pasti merasakan beban hati. Terlebih lagi bangsa Israel dalam bagian ini. Ini semua karena mereka berdosa namun tidak sadar akan dosa mereka. Di sinilah letak permasalahannya. Selama 20 tahun mereka bersusah hati dan tidak memiliki pengharapan yang pasti. Mereka tidak setia kepada Tuhan dengan menyembah berhala-berhala. Inilah dosa mereka. Mereka berstatus umat pilihan namun hati mereka jauh dari Tuhan. Kita bisa terlihat Kristen namun belum tentu dalam hati kita ada Kristus. Ketika Samuel meminta mereka semua untuk bertobat, kita mengerti bahwa keagamaan Israel sudah mengandung kemunafikan. Hosea 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Mengapa hal ini ditekankan oleh Hosea dan juga Samuel? Di sini kita mengerti bahwa mereka sering menunjukkan pertobatan yang palsu. Setiap orang bisa bertobat karena situasi dan kondisi atau keterpaksaan namun ini bukanlah pertobatan sejati. Samuel meminta agar seluruh bangsa Israel dikumpulkan dan meminta mereka bertobat serta mendoakan mereka untuk pemulihan mereka. Sekitar 1 juta lebih orang mendengarkan khotbah Samuel. Saat itu tidak ada fasilitas dan sound system yang mendukung kebaktian ini. dalam Matius 5-7 dicatat bahwa Yesus berkhotbah di atas bukit. Di sana ribuan orang berkumpul untuk mendengarkan Yesus. Bagaimana begitu banyak orang bisa mendengarkan apa yang mereka sampaikan tanpa bantuan pengeras suara? Ini pasti pekerjaan Tuhan. Khotbah Samuel bisa didengar oleh setiap orang dan menyentuh hati mereka karena karya Allah Roh Kudus.

 

Mengapa setelah 20 tahun mereka baru sadar bahwa mereka membutuhkan Tuhan? Mengapa pada titik nol mereka baru sadar bahwa mereka membutuhkan Tuhan? Daud menyalahgunakan kuasanya untuk berbohong, berzinah, dan membunuh. Tuhan memakai Nabi Natan untuk menegur Daud sehingga ia bertobat. Niniwe bertobat ketika Nabi Yunus diutus oleh Tuhan dan berkhotbah. Tuhan bisa memakai cara ini, namun Tuhan juga bisa bekerja seperti dalam kisah Ayub. Tuhan baru menyatakan diri-Nya setelah Ayub benar-benar habis yaitu ketika Ayub sudah kehilangan kesehatan, harta, dan anak-anaknya. Ketika ia masuk ke titik nol itu, Tuhan menyatakan Firman-Nya untuk mengubah cara pandang Ayub sehingga Ayub mengalami pertobatan sejati. Pertobatan tanpa pengakuan itu semu. Bangsa Israel mengakui bahwa mereka orang berdosa. Mereka sadar bahwa mereka layak diadili oleh Tuhan. Mereka meninggalkan berhala-berhala mereka. Orang yang bertobat, menurut Pengakuan Iman Westminster, memiliki ciri punya kesadaran akan kesucian Allah. Orang itu sadar akan dosanya terhadap Tuhan. Setelah itu ia memiliki kebencian terhadap dosa. Dari sini perubahan sikap muncul sehingga ia mulai mencintai Tuhan. Perubahan dalam dirinya terus terjadi karena ia bertumbuh ke arah Tuhan. Itulah ciri orang yang sungguh bertobat. Yudas menyesal namun tidak bertobat. Dalam pertobatan pasti ada penyesalan, namun dalam penyesalan belum tentu ada pertobatan. Kita mungkin pernah menyesal karena memakan makanan enak yang membuat kita sakit perut, namun setelah itu kita bisa memakan makanan itu lagi. Orang yang bertobat akan sedih karena dosanya dan ia mau sungguh-sungguh berkomitmen untuk tidak lagi hidup dalam dosa. Samuel menantikan pengakuan, iman, dan komitmen bangsa Israel. Samuel ingin tahu apakah mereka sungguh-sungguh akan meninggalkan berhala dan berbalik kepada Tuhan. Ternyata itulah yang dilakukan orang Israel.

 

Mengapa harus pertobatan nasional? Mereka berstatus umat pilihan Tuhan namun mereka jauh dari Tuhan. Ketika bangsa Filistin datang menyerang, mereka bukan mencari Tuhan atau Samuel. Mereka malah mengambil tabut dan menganggap itu jimat mereka. Namun mereka akhirnya dikalahkan dan tabut itu dibawa oleh bangsa Filistin. Setelah tabut itu sampai di tempat orang Filistin, malapetaka terjadi dalam tempat mereka. Akhirnya tabut itu dikembalikan agar tidak menyusahkan mereka. Mereka sadar ada kuasa Tuhan. Ketika tabut itu kembali, ternyata bangsa Israel tidak menyambut tabut itu dengan ibadah. Mereka tidak antusias menyambut kehadiran Tuhan. Ini karena mereka sudah jauh dari Tuhan. Mereka tidak bersukacita melihat kehadiran dan kemuliaan Tuhan. Selama 20 tahun mereka berdiam. Tabut itu ada namun dianggap seperti tidak ada. Mata hati mereka sudah tertutup. Ini karena dosa nasional itu sudah mengikat mereka sehingga mereka tidak bisa melihat Allah yang hidup. Allah seharusnya dianggap penting dan ibadah juga demikian. Gaya hidup yang berdosa membuat Samuel menuntut mereka untuk memiliki pertobatan nasional. Maka dari itu Samuel mau seluruh orang dari bangsa itu berkumpul. Samuel tidak hanya memanggil sebagian atau kelompok tertentu. Samuel mau mereka semua mendengarkan Firman Tuhan dan bertobat. Mereka yang datang tidak melawan perintah Samuel. Ketika diminta berpuasa, mereka menjalankan itu. Setelah itu mereka membersihkan diri dengan air sehingga tahir. Jadi mereka sungguh-sungguh bertobat dari dalam hati. Setelah Daud sadar akan dosanya, ia berkabung dan berpuasa sampai semuanya selesai. Ia menunjukkan dukacita rohani dan setelah itu ia menerima hukuman Tuhan sambil terus mencari kehendak Tuhan. Ia memulai dengan titik yang baru. Pertobatan tanpa dukacita rohani dan perendahan diri bukanlah pertobatan sejati. Dalam Gereja ini kita mengadakan puasa sebulan sekali agar kita fokus pada kehendak Tuhan dan mengutamakan Tuhan. Ini juga merupakan bagian dari peperangan rohani. Markus 9:29 Jawab-Nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa”. Jadi kita tidak boleh meremehkan puasa. Bangsa Israel mengalami ketaatan yang baru. Di sana mereka mendapatkan pemulihan nasional.

 

 

3) Pemulihan Nasional

 

Ketika seluruh pemimpin Filistin bergabung untuk menyerang Israel, mereka mengalami ketakutan. Bangsa Israel terbiasa bermain aman, namun kali ini mereka tidak bisa melakukan itu. Di sana bangsa Israel meminta Samuel untuk terus berseru kepada Tuhan agar mereka mendapatkan pertolongan. Samuel mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan. Bangsa Filistin begitu yakin bisa menghancurkan bangsa Israel, namun Tuhan melawan mereka sehingga mereka kalah. Tuhan mengacaukan tentara Filistin dan bangsa Israel menyerang mereka. Jadi bangsa Filistin dikalahkan dengan kekuatan iman (ay 8-11). Di sini kita melihat bahwa pertobatan menghasilkan penyertaan Tuhan yang baru. Pertobatan membuka pintu anugerah dan pemulihan yang baru. Tanpa pertobatan, mereka tidak mungkin mendapatkan penyertaan Tuhan. Di sini mereka sungguh-sungguh bertobat dan meminta Samuel untuk terus beribadah kepada Tuhan. Ternyata Tuhan mendengar permohonan mereka dan memberikan mereka kemenangan. Di sini kita melihat bahwa doa orang benar besar kuasanya (Yakobus 5:16). Ibadah dan doa tidak bisa diremehkan. Tuhan berperang bagi mereka ketika mereka mengandalkan Tuhan. Inilah mengapa pertobatan itu begitu penting, baik secara pribadi maupun komunal. Anugerah dan penyertaan diberikan kepada mereka yang bertobat. Tuhan melindungi orang-orang yang bersandar pada-Nya. Pemulihan nasional terjadi dan bangsa Filistin dikalahkan bukan karena kehebatan bangsa Israel tetapi karena Tuhan.

 

1 Yohanes 5:4b Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Dunia begitu cerdik dan licik dalam menjebak kita sehingga kita memboroskan waktu dan hidup dalam dosa. Ia bisa memakai apapun juga untuk menyesatkan kita. Namun dengan iman kita mengalahkan dunia. Setelah bangsa Israel bertobat, mereka memiliki iman yang hidup. Iman mengalahkan dunia dan menyucikan cara berpikir kita. Iman juga menyucikan perasaan dan sikap kita terhadap Tuhan. 1 Korintus 10:31 menyatakan bahwa kita harus melakukan segala hal dengan iman. Iman harus memimpin seluruh aspek kehidupan kita. Ini berarti kita harus bergaul dengan Tuhan dan Firman Tuhan setiap hati. Di sanalah iman kita bertumbuh. Tuhan menyatakan bahwa kemenangan Israel bukanlah karena senjata mereka atau kehebatan mereka tetapi karena kuasa Tuhan. Kita harus waspada terhadap segala keinginan diri. Apa yang bisa membentengi kita dari semua itu? Iman, ketaatan, kerelaan untuk memberitakan Injil, dan kerinduan untuk menjadi orang benar. Itulah senjata yang Tuhan berikan dalam Efesus 6. Senjata yang paling ampuh adalah pedang roh yaitu Firman Tuhan. Setelah berpuasa di padang gurun, Yesus dicobai oleh Setan. Yesus melawan semua itu dengan Firman Tuhan (Matius 4:1-10). Setan memiliki emosi dan perasaan. Ia bisa ketakutan ketika menghadapi Yesus (Markus 3:11). Setan pernah memohon kepada Yesus agar mereka boleh memasuki babi-babi di Gerasa (Lukas 8:32). Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak memiliki roh ketakutan. Kita hanya takut untuk berbuat dosa dan ketika kita tidak lagi dipakai oleh Tuhan. Kita tidak perlu takut pada Setan. Setanlah yang harus takut pada kita. Setan memiliki banyak pengetahuan namun ia tidak maha tahu. Orang-orang di sekitar kita bisa mencoba untuk menjatuhkan kita, namun kita bisa menang karena iman. Hidup kita yang sudah dipulihkan oleh Tuhan akan dijaga dan dipelihara Tuhan. Tuhan mau kita mengandalkan Dia. Di sana kita mengerti bahwa bukan karena kekuatan kita tetapi karena kuasa Tuhan.

 

Setelah mengalahkan bangsa Filistin, Samuel mengambil sebuah batu untuk dijadikan batu peringatan: Eben-Haezer. Ini artinya ‘Sampai di sini TUHAN menolong kita’. Pada zaman Yosua memimpin, mengapa bangsa Israel diminta untuk mengambil 12 batu dari sungai Yordan yang dikeringkan untuk dijadikan batu peringatan? Ketika seseorang meninggal, biasanya batu nisan ditempatkan di kuburannya. Ketika Indonesia merdeka, Taman dan Tugu Proklamasi didirikan. Semua ini memiliki arti. Batu peringatan yang didirikan Samuel mengandung kairos/waktu Tuhan. Batu ini seharusnya menjadi momentum, namun bisa menjadi monumen ketika orang-orang yang melihatnya tidak lagi mengingat Tuhan dan menganggap itu semua sebagai rutinitas tanpa makna. Dalam hal ini batu peringatan itu sudah kehilangan nilai sejarahnya. Ketika kita sudah terlalu sering mengunjungi suatu tempat bersejarah, kita bisa kehilangan maknanya. Jadi untuk apa Samuel mendirikan batu peringatan itu? mengapa Tuhan juga meminta Yosua membuat batu peringatan? Ini dibuat agar tidak menjadi monumen. Ini adalah momentum atau peringatan iman. Mereka diingatkan bahwa ada sejarah Tuhan yang memimpin kemenangan bangsa Israel. Ada tiga makna Eben-Haezer. Pertama ini menyatakan bahwa Allah itu berkuasa termasuk atas seluruh bangsa Filistin. Tidak tidak memakai kekuatan tentara Israel tetapi kekuatan alam. Setelah tentara Filistin dikacaukan, Tuhan baru menyerahkan sisanya kepada bangsa Israel. Kedua ini menyatakan pertolongan Tuhan yang ajaib dan tepat pada waktunya. Ketika Tuhan bekerja, kita akan melihat bahwa segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Kita harus senantiasa bersabar dalam ujian dan menantikan pertolongan Tuhan. Virus Corona menjadi ujian iman bagi kita dan juga orang-orang Kristen di Wuhan. Ada orang-orang Kristen yang beribadah secara online namun ada yang tetap pergi berkumpul di gedung Gereja. Merekalah yang bisa bersaksi Eben-Haezer. Mereka beriman pada kesetiaan dan pertolongan Tuhan. Ketika Wuhan kembali menjadi aman, orang-orang Kristen di sana pasti bersyukur kepada Tuhan. Ketiga, Eben-Haezer berarti suatu pengakuan bahwa kuasa perubahan itu berasal dari atas ke bawah. Hanya Tuhan yang bisa memastikan kondisi Israel tetap aman. Kuasa dan pertolongan Tuhan itu ajaib. Kuasa manusia bisa berakhir, namun kuasa Tuhan tetap kekal. Eben-Haezer menyatakan tentang perubahan iman melalui pertobatan dan perubahan sikap untuk mengutamakan Tuhan. Bangsa Israel sungguh-sungguh dalam membuang seluruh berhala mereka dan mereka kembali menyembah Tuhan. Maka dari itu Samuel mendirikan batu peringatan ini.

 

Di dalam keluarga atau hidup kita, mungkin ada hal-hal yang perlu kita buang. Kita tidak mungkin mengalami penyertaan Tuhan jika kita masih menyimpan berhala. Dengan iman kita harus berani berkata bahwa yang terpenting adalah penyertaan Tuhan dan Firman Tuhan. Firman Tuhan harus berkuasa dalam pikiran dan hati kita. Ketika kita mengutamakan Tuhan, penghiburan yang sejati itu akan masuk ke dalam hidup kita. Pemulihan itu terjadi melalui satu orang yaitu Samuel. Pemulihan nasional itu diizinkan Tuhan karena ada peralihan dari zaman para hakim menuju zaman para raja. Meskipun dalam peralihan ini bangsa Israel meminta seorang raja karena motivasi yang berdosa, Tuhan mengizinkan hal ini. Namun Tuhan kemudian menyatakan bahwa pertolongan yang sejati bagi Israel adalah Tuhan sendiri. Ketika anak-anak Samuel tidak memimpin dengan baik seperti Samuel, pemberontakan terjadi. Di sini ada kegagalan Samuel dalam mendidik anak. Dari kisah bangsa Israel kita belajar untuk tidak menyimpan dosa. Selama 20 tahun mereka melupakan Tuhan sampai mereka mencapai titik nol kemudian mereka baru bertobat. Jangan sampai kita baru bertobat ketika sudah dihabisi oleh Tuhan. Kita sudah memiliki kesadaran karena iman, maka dari itu kita harus berdoa memohon pemulihan dan memohon agar Tuhan memakai kita sebagai agen-agen perubahan dalam penyertaan Tuhan. Dalam prosesnya kita belajar bahwa berkat Tuhan dinyatakan bukan karena kekuatan kita tetapi karena Tuhan berkuasa dan berkenan memakai kita yang lemah. Kita harus bisa bersaksi Eben-Haezer dalam hidup kita. Maka dari itu kita harus hidup dalam kesucian dan kebenaran serta senantiasa peka akan kehendak Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami