Perjumpaan dengan Tuhan yang Membawa Perubahan Hidup (Gideon)

Perjumpaan dengan Tuhan yang Membawa Perubahan Hidup (Gideon)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 6:1-40.

 

Pendahuluan

Mengapa Israel sangat mudah untuk tidak setia kepada Tuhan? Debora dan Yael berperan dengan sangat luar biasa untuk menyatakan kekuasaan Allah yang hidup ketika berperang melawan Sisera dan Yabin. Setelah itu kita melihat ada titik kelemahan Israel lagi yang mudah untuk tidak setia kepada Tuhan. Salah satu penyebab regenerasi yang kehilangan spiritualitas, tidak takut akan Tuhan, dan tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan adalah karena tidak ditanamkan disiplin rohani yang kuat.

Mengapa butuh hukuman dahulu yaitu “kemelaratan hidup” baru bertobat? Selama 7 tahun mereka kesusahan, kehilangan kenyamanan, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan kemerdekaan hidup. Mereka diperbudak dan diancam oleh orang Midian dan orang Amalek. Setelah itu mereka berteriak memanggil Allah. Banyak orang biasanya baru memerhatikan kesehatan setelah jatuh sakit. Ketika masih sehat, mereka tidak memedulikan kesehatannya. Manusia di dalam keberdosaannya terlalu menganggap enteng pendidikan dan hukuman Tuhan sehingga butuh 7 tahun sampai mereka sadar bahwa semua itu terjadi karena mereka tidak datang kepada Tuhan. Setelah itu pun mereka masih tidak sadar bahwa mereka telah menyembah Baal, dewa orang Amori.

Mengapa Tuhan memakai Gideon? Ia adalah yang paling muda di dalam keluarga Yoas namun Tuhan memilihnya. Mengapa Tuhan tidak memakai Yoas? Karena hidup Yoas menyesatkan Gideon. Ia membiarkan patung Baal dibangun di dekat rumahnya. Ia adalah ayah yang tidak baik yang hidupnya tidak setia kepada Tuhan.

Mengapa Tuhan memanggil Gideon sebagai “Pahlawan yang gagah berani”? Apakah gideon sudah menjadi pahlawan? Apakah ia sudah menjadi pemberani saat itu? Mengapa ia mengirik gandum di dalam tempat pemerasan anggur yang tersembunyi, yang terletak dekat pohon tarbantin itu? Gideon pasti tidak mengerti panggilan Tuhan karena gelar “pahlawan yang gagah berani” berbeda dengan kenyataan. Di sini Malaikat Tuhan langsung memanggil Gideon sebagai orang yang disertai Tuhan dan sebagai pahlawan yang gagah berani. Ini adalah pujian yang luar biasa. Malaikat yang bertemu dengan Gideon bukanlah malaikat biasa tetapi teofani, yaitu kehadiran Kristus di Perjanjian Lama.

 

Pembahasan

1) Perjumpaan dengan kenikmatan dunia membawa perubahan negatif

Mengapa Israel mudah tidak setia kepada Tuhan? Mereka terlalu asyik dengan kenyamanan hidup dan kenikmatan dari seluruh tawaran dunia. Mereka tidak sadar bahwa ketika mereka sudah menyingkirkan Tuhan, tidak bergantung pada Tuhan, dan tidak lagi beribadah kepada Tuhan, maka iman mereka sudah bergeser. Mereka tidak sadar bahwa ibadah yang benar hanyalah kepada Allah Yahweh. Bangsa Israel selalu mencari ilah yang bisa diraba dan dilihat seperti patung Baal, dewa orang Amori. Saat mereka beribadah, mereka mau langsung melihat wujud ilah yang disembah. Alkitab sudah mengajarkan dengan jelas bahwa kita ini beribadah dan menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23). Kita beribadah karena panggilan iman, bukan demi kepuasan rasio dan mata sehingga kita mencari pembuktian atas kehadiran Allah yang hidup. Ketika mereka menyingkirkan Tuhan, mereka tidak beribadah lagi kepada Tuhan. Mereka kehilangan damai sejahtera dan kenyamanan selama 7 tahun. Pada saat itu mereka terus dirongrong orang Midian. Saat mereka memanen, orang Midian datang dan mengambil semua hasil mereka sehingga mereka hidup melarat. Kita harus waspada terhadap perjumpaan dengan kenikmatan dunia. Tuhan menciptakan kita untuk menikmati Tuhan. Titik kepuasan kita adalah melalui mengenal Tuhan, bukan kenikmatan dunia dan tawaran dunia. Setelah kejatuhan dalam dosa, Setan menghasut kita dan menggunakan seluruh tawaran dunia agar kita berfokus pada kenikmatan dunia. Secara perlahan ia menggeser hati kita dan pada akhirnya kita menjadi jauh dari Tuhan. Kita telah menyedihkan hati Tuhan.

 

Setelah 7 tahun mereka berseru kepada Tuhan, bagaimana respons Tuhan terhadap seruan mereka yang seolah ingin bertobat dan menginginkan pengampunan dan pemeliharaan Tuhan? Tuhan mengutus nabi-Nya dan ia berkata: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang menuntun kamu keluar dari Mesir dan yang membawa kamu keluar dari rumah perbudakan. Aku melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan semua orang yang menindas kamu, bahkan Aku menghalau mereka dari depanmu dan negeri mereka Kuberikan kepadamu. Dan Aku telah berfirman kepadamu: Akulah TUHAN, Allahmu, maka janganlah kamu menyembah allah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku itu (Hakim-Hakim 6:8-10). Ini menunjukkan bahwa kita bukanlah orang merdeka yang boleh menikmati kebebasan kita terlepas dari Tuhan. Jika kita menggunakan kebebasan kita di luar Tuhan maka kita akan menuhankan kemandirian kita dalam berpikir. Saat kita menuhankan keinginan dan kemandirian berpikir kita, kita hanya akan mencari apa memuaskan hati kita dan menyingkirkan Tuhan. Namun saat kita mengakui bahwa Tuhan adalah pencipta, penebus, pemelihara hidup kita, dan pemberi kebahagiaan, serta kita mau bergantung kepada-Nya dan mau mencari kehendak-Nya, kita sudah beribadah kepada Tuhan. Ketika Allah berkata “Akulah Tuhan”, Tuhan mempertanyakan ibadah bangsa Israel kepada ilah-ilah patung dan tiang-tiang berhala yang mati. Ilah-ilah palsu pasti berbeda dengan Allah yang hidup, yang maha kuasa, dan maha hadir. Seharusnya mereka mengakui Allah dan bukan berhala.

 

Tuhan mau Israel bertobat dan membuat pengakuan yang sejati tentang kepercayaan mereka kepada Allah Yahweh saja di dalam seluruh kehidupan mereka. Allah mau mereka meninggalkan semua berhala mereka dan meninggalkan pergaulan dengan bangsa lain yang membawa mereka kepada iman yang lain. Israel seharusnya memengaruhi dan bukan dipengaruhi oleh bangsa lain. Mereka sudah kehilangan kuasa, visi, dan misi hidup mereka. Jika kita tidak menetapkan batasan dalam perjumpaan kita dengan kenikmatan dan kita tidak berpegang kepada visi dan misi kita yang sejati, maka kita akan terhisap dan tersesat dalam seluruh tawaran dan kenikmatan dunia. Kita bisa tersesat dalam games, gadget, dan pergaulan yang salah. Semua itu bersifat mengasyikan dan bisa membawa kita menjauh dari Tuhan. Kita bisa seperti perahu yang pelan-pelan terbawa arus. Mungkin saat itu kita menikmati pemandangan di sekitar sehingga kita tidak sadar bahwa kita sudah dibawa jauh oleh arus itu. Ini karena mata kita dipuaskan oleh semua pemandangan menarik itu. Setan menyesatkan kita dengan cara memuaskan mata kita. Kita bisa dibuat tidak sadar telah berjalan jauh dari jalan yang benar karena pemandangan itu begitu menarik perhatian dan kewaspadaan kita. Israel menjadi tersesat karena perjumpaan dengan kenikmatan dunia. Dunia menjadi jahat setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Semua ini memberikan dampak negatif bagi Israel sehingga mereka tidak lagi beribadah kepada Allah, tidak lagi takut akan Tuhan, tidak sungguh mengandalkan Tuhan, dan tidak lagi mementingkan ibadah. Sebaliknya, mereka membangun tempat ibadah untuk Baal, dewa orang Amori. Mereka tidak mau mendengarkan Firman Tuhan dan mereka sangat bebal serta keras kepala. Israel mudah sekali menjadi tidak setia karena mereka tidak membangun komitmen untuk senantiasa takut kepada Tuhan.

2) Perjumpaan dengan Tuhan yang membawa perubahan

Perjumpaan dengan Tuhan itu membawa perubahan (transformasi). Transformasi secara fisik tidak berguna jika tidak ada reformasi hati. Setiap perubahan yang tidak berdasarkan Firman Tuhan pasti akan menjadi perubahan eksternal yang sementara. Setiap orang yang tidak diubahkan sampai ke hatinya pasti akan kembali kepada dosanya yang lama. Reformasi yang paling sejati adalah adanya perubahan karena perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan itu memberikan dampak positif karena Allah itu berkuasa, maha hadir, dan maha tahu. Ia mengubah kita bukan dari luar ke dalam tetapi dari dalam ke luar. Pemerintah bisa memberikan perubahan dari luar ke dalam, misalnya dengan membuat sistem yang sangat ketat. Namun itu bisa membuat banyak orang mengeluh dan tidak benar-benar berubah. Banyak orang memilih pemimpin berdasarkan apakah pemimpin itu bisa memberikan mereka kebebasan untuk korupsi atau tidak. Pemimpin yang jujur dan bersih tidak mereka pilih karena pemimpin itu menghilangkan kesempatan mereka untuk korupsi. Ini adalah kejahatan manusia yang mencari kenikmatan dunia bagi dirinya sendiri meskipun harus merugikan banyak orang lain. Jika hanya ada perubahan sistem namun tidak ada perubahan hati maka perubahan itu adalah perubahan yang sementara dan eksternal saja. Ini bukanlah perubahan yang sejati. Anak bisa terlihat taat karena peraturan yang ketat di rumah, namun tanpa perubahan hati anak itu akan berubah menjadi liar setelah tidak lagi tinggal di rumah.

 

Allah mengubahkan Gideon dari dalam ke luar. Pertama-tama Allah mengeluarkan Gideon dari pandangan tentang dirinya sendiri. Gideon mengirik gandum di tempat pemerasan anggur yang tersembunyi selama 7 tahun. Selama 7 tahun itu Yoas mengajarkannya agar bersembunyi ketika mendengar kedatangan orang Midian. Israel juga membuat gua-gua persembunyian sebagai tempat perlindungan mereka. Mereka tidak berani menghadapi orang Midian karena jiwa mereka penakut dan mereka merasa sudah kalah. Setelah nabi yang dikirim Tuhan menegur bangsa Israel, Malaikat Tuhan menemui Gideon. Ia menyatakan penyertan Tuhan bagi Gideon dan menyebutnya pahlawan yang gagah berani. Kata ‘pahlawan’ itu menunjukkan bahwa di dalam diri Gideon ada jiwa seorang pahlawan. Mengapa Tuhan yang menemukan bakat itu dan bukan ayahnya yaitu Yoas? Yoas bukanlah ayah yang baik karena ia tidak menjadi teladan yang baik dan berkompromi dengan membuat berhala. Tuhan tidak memilih Yoas karena alasan ini.

 

Tuhan memakai malaikat untuk memanggil Gideon supaya ia tahu bahwa Tuhan melihat potensi di dalam dirinya untuk menjadi pahlawan. Mental pahlawan itulah yang diajarkan oleh Tuhan kepada Gideon. Tuhan mau ia keluar dari zona persembunyiaan dan memiliki mental pahlawan. Apakah Gideon langsung percaya akan perkataan Malaikat Tuhan? Gideon meragukan panggilan Tuhan karena melihat realitas. Ia bertanya: jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian (Hakim-Hakim 6:13). Siapa yang membutuhkan kemerdekaan: Israel atau Tuhan? Israel, bukan Tuhan. Siapa yang membutuhkan kenyamanan dan kedamaian: Israel atau Tuhan? Israel, bukan Tuhan. Apakah Gideon tahu bahwa yang bertemu dengannya adalah Malaikat Tuhan? Gideon tahu, namun ia masih meragukan panggilannya. Ia mempertanyakan penyertaan Tuhan bagi Israel karena ia melihat kondisi Israel yang begitu menyedihkan. Jawaban Gideon bukanlah jawaban seseorang yang mengenal Tuhan. Ia mempertanyakan Tuhan dan sebenarnya ini adalah sikap yang kurang ajar. Ini seperti sikap seorang anak yang mempertanyakan kebaikan orang tuanya. Gideon bersikap demikian membuktikan bahwa Gideon tidak mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh.

 

Bagaimana Tuhan menjawab Gideon yang sudah salah bersikap? Allah menceritakan kembali penyertaan Tuhan bagi Israel ketika mereka keluar dari Mesir dan menuju ke tanah Kanaan. Allah mau memberikan kesadaran iman melalui pengajaran akan sejarah Tuhan. Orang Israel telah dibebaskan dan diberikan kemenangan oleh karena Tuhan. Orang Israel seharusnya sadar bahwa dalam 7 tahun itu mereka masih bisa hidup karena ada pemeliharaan Tuhan. Mereka seharusnya meninggalkan Baal dan menyembah Tuhan yang sejati. Tuhan begitu bersabar menghadapi Gideon yang selama 7 tahun sudah diracuni oleh lingkungan dan situasi Israel saat itu sehingga ia menjadi penakut. Selama 7 tahun itu ia tidak mengalami pengalaman rohani, tidak melatih kerohanian, dan tidak melihat mukjizat Tuhan dinyatakan. Inilah mengapa Tuhan mau bersabar dan Ia mau membimbing Gideon agar kembali percaya kepada Allah yang hidup dan berkuasa.

 

Gideon kemudian meminta kepastian atau konfirmasi dari Tuhan sekali. Ia berkata: Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku. Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu (Hakim-Hakim 6:17-18). Malaikat Tuhan mau menunggu Gideon. Dalam hal ini Gideon mengatur Malaikat Tuhan. Lalu: Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya (Hakim-Hakim 6:19). Gideon kemudian mengikuti petunjuk dari Malaikat Tuhan lalu: Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya (Hakim-Hakim 6:21). Hal itu membuat Gideon kaget dan berkata: Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka (Hakim-Hakim 6:22). Tuhan menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia tidak akan mati (Hakim-Hakim 6:23). Gideon menguji panggilan Tuhan, memberikan persembahan, melihat pemandangan yang tidak biasa dan berpikir bahwa dirinya akan mati, lalu mendapatkan penghiburan bahwa ia tidak akan mati. Jika kita mengalami hal yang seperti ini yaitu mendapatkan konfirmasi langsung dari Tuhan, maka mungkin kita akan langsung percaya sepenuhnya. Namun Tuhan tahu bahwa Gideon belum lulus sebagai pahlawan yang gagah berani, maka dari itu Tuhan mengujinya.

 

Setelah itu Tuhan memerintahkan Gideon untuk menghancurkan Baal, yaitu mezbah Baal dan tiang berhala (Hakim-Hakim 6:25). Itu semua milik ayahnya. Selanjutnya Gideon diminta untuk membangun mezbah bagi Tuhan (Hakim-Hakim 6:26). Gideon melakukan semua itu di malam hari karena ia takut kepada keluarganya dan orang-orang di kota itu (Hakim-Hakim 6:27). Tuhan mengizinkan ini karena Gideon masih diproses. Ia mengambil 2 lembu dan mempersembahkan itu kepada Tuhan. Mungkinkah pada malam itu Yoas mendengar suara mezbah Baal dan tiang berhala yang sedang dihancurkan Gideon dan terbangun karena itu? Mungkin. Mengapa Yoas berdiam dan tidak mencegah Gideon? Ketika orang-orang kota bangun pada pagi hari, mereka terkejut melihat mezbah Baal dan tiang berhala yang sudah dihancurkan (Hakim-Hakim 6:28). Mereka kemudian mencari tahu siapa yang melakukan hal itu dan menemukan bahwa Gideon-lah yang melakukan itu (Hakim-Hakim 6:29). Orang-orang kota itu kemudian memanggil Yoas dan memintanya untuk membawa Gideon kepada mereka supaya ia dihukum mati (Hakim-Hakim 6:30). Yoas juga menyembah berhala dan ia tahu bahwa Gideon-lah yang menghancurkan mezbah Baal. Dimana Gideon saat itu? Ia berada di rumahnya. Yoas percaya bahwa yang dilakukan Gideon adalah perintah Tuhan. Ia percaya bahwa Allah telah memanggil Gideon. Jadi Yoas percaya kepada Allah yang benar. Ia berkata: jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya (Hakim-Hakim 6:31). Pernyataan Yoas mengandung makna yang mendalam. Yoas yang sebelumnya adalah penyembah berhala telah berubah menjadi pendukung Gideon. Perjumpaan dengan Tuhan ternyata tidak hanya mengubah Gideon secara mental, paradigma, dan nilai ibadah tetapi juga mengubah Yoas.

 

Bagaimana ayahnya (Yoas) mendapatkan keberanian seperti ini? Mungkin ia mendengar percakapan Gideon dengan Malaikat Tuhan dan mendengar Gideon yang mempersiapkan persembahan untuk-Nya saat itu. Saat itu Gideon memberikan respons dengan beribadah dan Yoas menyaksikan hal itu. Allah yang sejati tidak perlu dibela oleh umat-Nya karena Ia bisa membela diri-Nya sendiri. Itu membuktikan bahwa Allah kita sungguh berkuasa dan hidup. Itulah perbedaan dari jiwa penyembah Baal dan penyembah Allah yang sejati. Setelah perkataan Yoas, tidak ada satupun orang yang berani membunuh Gideon. Ia kemudian mendapatkan nama Yerubaal karena orang berkata ‘biarlah Baal berjuang dengan dia’ (Hakim-Hakim 6:32). Tuhan membuat Gideon dipenuhi oleh Allah Roh Kudus (Hakim-Hakim 6:34). Setelah itu keberaniannya mulai muncul. Ketaatannya untuk membangun mezbah Tuhan itu diperkenan oleh Tuhan dan Allah Roh Kudus berkuasa atasnya. Ketika ia meniup sangkakala, banyak orang mengikutnya. Ia tidak mengemis agar orang Israel datang kepadanya. Gideon yang dipenuhi Allah Roh Kudus dan meniup sangkakala dengan sikap beribadah kemudian diikuti oleh banyak orang. Kuasa Gideon dinyatakan hanya melalui sangkakala. Ini karena penyertaan Allah Roh Kudus. Orang yang sedang dipenuhi oleh Allah Roh Kudus masih bisa sakit namun ia digerakkan untuk menggenapkan kehendak Tuhan. Gideon memiliki kuasa dalam meniup sangkakala karena ia sedang menghimpun serdadu Tuhan. Tanpa penyertaan Tuhan, tidak mungkin mereka mau berkumpul. Jika kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan seperti Gideon, maka kita akan diubahkan sehingga kita akan menjadi penggenap kehendak Tuhan.

 

Apakah setelah ini hati Gideon sudah mantap sepenuhnya? Belum. Ia kembali meminta kepastian atau konfirmasi dari Tuhan untuk kedua dan ketiga kalinya. Ia berkata: Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu, maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering, maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan (Hakim-Hakim 6:36-37). Pada pagi harinya, ia memeras bulu domba yang basah itu dan mendapatkan air secawan penuh sedangkan tanah di sekitarnya kering (Hakim-Hakim 6:38). Ia meminta konfirmasi lagi: Janganlah kiranya murka-Mu bangkit terhadap aku, apabila aku berkata lagi, sekali ini saja; biarkanlah aku satu kali lagi saja mengambil percobaan dengan guntingan bulu itu: sekiranya yang kering hanya guntingan bulu itu, dan di atas seluruh tanah itu ada embun (Hakim-Hakim 6:39). Tuhan mengabulkan doanya (Hakim-Hakim 6:40). Mengapa sampai 3 kali Gideon harus meminta konfirmasi? Mengapa Allah mau mengabulkan permintaan Gideon? Banyak penafsir mengatakan bahwa Gideon belum mengerti panggilan Tuhan sehingga ia meminta konfirmasi sampai 3 kali. Tafsiran yang benar adalah: Gideon sudah mengerti panggilan Tuhan dan kemudian ia meminta konfirmasi sampai 3 kali. Kita pun harus mengerti panggilan Tuhan terlebih dulu baru meminta konfirmasi. Prinsip ini harus kita terapkan ketika mendapatkan perintah dari Tuhan. Tuhan memanggilnya sebagai pahlawan yang gagah berani sebelum ia menjadi sesuai dengan panggilannya. Jadi pengetahuan Tuhan itu mendahului jati dirinya saat itu. Gideon dibentuk Tuhan sedemikian rupa sehingga mencapai jati dirinya seturut rancangan Allah. Demikian pula tugas orang tua kepada anak. Tugas orang tua yang tersulit bukanlah memelihara secara fisik tetapi menemukan serta mengembangkan bakat anak untuk kemuliaan Tuhan. Self-discovery harus dikaitkan dengan kehendak Tuhan di dalam peran orang tua ketika membesarkan anak. Jika orang tua belum menemukan potensi kita, maka kita harus bergumul untuk menemukan itu semua. Semua potensi dan bakat kita harus dikembangkan dan dipersembahkan kepada Tuhan.

 

Penutup

Konfirmasi Tuhan bagi Gideon ditanggapi dengan sikap ibadah. Percobaan dengan bulu domba itu menyatakan bahwa Tuhan berkuasa atas alam. Konfirmasi dan belas kasihan Tuhan sebenarnya sudah begitu banyak dan sering dinyatakan bagi kita, namun kita tidak siap untuk hidup bagi Tuhan. Panggilan Allah untuk Gideon adalah sempurna karena Allah itu sempurna adanya. Di dalam proses, Allah menyempurnakan Gideon. Perjumpaan kita dengan Tuhan setiap hari akan semakin menyempurnakan kita. Oleh karena itu kita tidak boleh melalaikan perenungan akan Firman Tuhan setiap pagi. Firman Tuhan yang sempurna itu akan menyempurnakan konsep berpikir kita. Kita harus bergumul dan mengaitkan apa yang kita kerjakan dengan Tuhan supaya tidak menyedihkan hati Tuhan. Tugas Gideon adalah taat dan menyatakan Allah itu hidup dan berkuasa juga atas orang-orang Midian. Jadi kita harus menunjukkan kasih setia kita kepada Allah. Disiplin rohani kita harus ketat dan tanpa kompromi karena itu menjaga kita agar tidak melenceng dan tersesat karena mengutamakan Tuhan di dalam hidup kita adalah harga mati.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami