Perjuangan Kesetiaan Seorang Pelayan

Efesus 2:10
Karena kita buatan Allah. Kita bukan hasil pertemuan cinta dari orang tua kita. Secara teologis kita adalah buatan Allah, secara biologis memang kita adalah buah cinta dari orang tua kita. Yang mana kita diciptakan dalam Kristus Yesus. Mengapa kita diciptakan kembali di dalam Yesus Kristus?

Perjuangan Kesetiaan Seorang Pelayan

Categories:

Karena kita buatan Allah. Kita bukan hasil pertemuan cinta dari orang tua kita. Secara teologis kita adalah buatan Allah, secara biologis memang kita adalah buah cinta dari orang tua kita. Yang mana kita diciptakan dalam Kristus Yesus. Mengapa kita diciptakan kembali di dalam Yesus Kristus? karena kita tahu bahwa manusia lama: mati rohani, budak dosa, tunduk kepada penguasa-penguasa kerajaan alam semesta dan dimurkai oleh Tuhan. Maka kita perlu dicipta baru dalam Kristus menjadi manusia baru karena Tuhan sudah mempersiapkan kasih karunia Tuhan yang tiada habisnya dan kita diberikan hidup yang kekal. Dalam hidup kita yang sekarang, kita akan diperlengkapi untuk melayani Dia sebagai tubuh Kristus. Dan kekayaan kasih karunia senantiasa akan diberikan kepada kita sehingga kita dimampukan hari demi hari memuliakan nama Tuhan. Manusia yang baru itu memiliki new direction di dalam cara berpikir, nilai rasa dan cara sikap kita. Kita juga diberikan new life karena anugerah Tuhan. Pekerjaan yang baik. Tuhan pun mempunyai program bagi kita menjadi pekerja-Nya. Kita sudah disediakan suatu pekerjaan baik untuk memuliakan Dia. Kehidupan kita berbahagia jikalau kita menggenapi kehendak Tuhan secara pribadi yang diberikan kepada kita untuk melakukan perkara yang besar dan bersifat kekal. Allah memiliki rencana yang indah pada setiap kita. Kita harus peka akan rencana Allah dalam hidup kita. Kalau kita diberikan kesempatan melayani Tuhan maka kita akan mengalami suatu sukacita rohani. Sukacita rohani akan membuat kita optimis dan terus mendapatkan kesegaran yang baru. Dalam 2 Korintus 4:1, 6 & 12 menyatakan mengenai kesetiaan Rasul Paulus. Kuncinya adalah paradoks hidup dari Rasul Paulus: kami ditindas namun tidak terjepit, kami habis akal namun tidak putus asa, kami dianiaya namun tidak ditinggalkan sendiri, kami dihempaskan namun tidak binasa. Mengapa Paulus bisa seperti itu? karena dia membawa kematian Kristus ke dalam perjuangannya. Kalau kita mau mematikan emosi-emosi yang tidak suci dalam diri kita maka kuncinya adalah bawalah kematian Kristus. Paulus mendemonstrasikan semuanya itu dalam 1 Korintus 15:58, Karena itu, saudara-saurdaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Di dalam terjemahan bahasa Indonesia seolah-olah kita mendapatkan berkat karena jerih payah kita. Arti yang sebenarnya adalah di dalam pekerjaan Tuhan tidak ada yang sia-sia. Pada waktu kita dijadikan Tuhan seorang pelayan dalam bidang apapun juga semuanya tidak ada yang sia-sia. Tuhan Allah bisa memakai kita yang lemah dan terbatas. Karena itulah Paulus mengatakan kepada kita untuk senantiasa berdiri teguh dan tidak goyah. Waktu kita melayani Tuhan jangan lupa untuk berdoa meminta kekuatan yang baru dari Firman Tuhan maka kita segar kembali supaya kita tidak terjebak dengan rutinitas. Problema seorang pelayan ada tiga yaitu status, semangat dan buah terkadang bertentangan. Isu yang  pertama, status pelayan tetapi di rumah dan di kantor menjadi batu sandungan. Kedua, begitu aktif pelayanan tetapi tidak pernah dekat dengan Tuhan maka membuat kita habis energi. Ketiga, melayani tetapi tidak pernah memiliki buah pelayanan, kegiatan rohani saja dan tidak pernah berorientasi kepada jiwa. Kita tidak mau memiliki isu-isu seperti itu sebagai seorang pelayan. Maka kita perlahan mengikis hal-hal yang tidak fokus kepada jiwa.Kita harus berdoa supaya Tuhan memakai kita melalui usaha kita mencukupi KKR yang kita kerjakan mulai dari Cikarang dan luar kota karena sekarang adalah awal. Kita akan mendapat sukacita rohani ketika meluangkan waktu, tenaga, dan uang kita untuk pelayanan dalam gereja Tuhan. Karena itu terjunkanlah dirimu dari perkara kecil hingga perkara yang besar. Dalam Efesus 2 kita sudah belajar bagaimana seharusnya hidup kita sudah diberikan modal. Di dalam kita melayani Tuhan, Tuhan tidak sembarangan mengutus. Tuhan meminta agar kita taat terlebih dahulu. Di dalam pembahasan Efesus 2:1-3, Tuhan membuat satu program kerja yang disebut covenant work kepada Adam dan Hawa yaitu mewakili Tuhan sebagai penguasa dan pemelihara dunia. Tetapi manusia jatuh dalam dosa, karena itu perjanjian kerja diulangi lagi kepada Abraham, Musa, Daniel dan Yeremia akhirnya perjanjian kerja ini disempurnakan di dalam Kristus. Sehingga di dalam Kristus kita dimampukan mewakili Tuhan di dunia ini melalui nilai kerja kita. Kita menjadi wakil Tuhan dalam mandat budaya. Tetapi di dalam Kristus ada perjanjian ketaatan. Kita dimateraikan oleh Roh Kudus dan diberikan kebebasan, bisakah kebebasan kita dikontrol dengan iman? Dalam perjanjian baru dalam Kristus kita diberikan kebebasan tetapi dikontrol dengan iman (Roma 1:16-17, orang benar pasti hidup oleh iman) untuk mentaati segala perintah Tuhan. Tetapi jikalau dalam kebebasan kita terus bermain-main dengan dosa itu berarti kita bukan anak Tuhan yang sejati. Seharusnya kita menghargai anugerah Tuhan from faith to faith, iman memimpin kehidupan kita kepada Tuhan. Demikian juga kita hidup dalam suatu anugerah, from grace to grace. (1) Panggilan hidup: keselamatan dan pelayanan (Ef. 2:8-10). Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, modal kita yang pertama yaitu mendapatkan panggilan hidup dalam keselamatan dan pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Status kita bukan orang mulia atau pun orang pintar, tapi sebagai orang berdosa yang kemudian diberikan anugerah keselamatan dari Tuhan. Ketika kita menjadi musuh Allah, Allah mati bagi kita. Tuhan bekerja dalam kehidupan kita, ini modal  kita yang pertama. (2) Komitmen dan dedikasi (1 Kor. 15:58). Kita mendapatkan modal pelayanan yaitu Tuhan dalam kekuatan-Nya dan penyertaan-Nya selalu bisa menguatkan kita. Maka di dalam bagian Alkitab dikatakan kita harus berdiri teguh dan tidak boleh tergoncangkan. Terkadang waktu kita melayani yang menggoncangkan kita adalah orang terdekat kita atau mungkin rutinitas kita tetapi Paulus mengatakan berdirilah teguh karena Tuhan sedang menguji iman kita. Penderitaan kita belum ada apa-apanya. Kita belum mendapatkan penderitaan fisik dan batin yang luar biasa. Sebagai peperangan rohani maka milikilah iman dan perjuangan iman maka setia sampai mati. (3) Pimpinan Tuhan dan kehendakNya (Ef. 2:10; Mat. 28:18-20; 2 Tim. 3:16; Gal. 6:22-23). Modal pelayanan kita adalah Tuhan memberikan kehendak-Nya melalui Firman Tuhan maka Dia akan mengarahkan dan membimbing kita. Jadi Tuhan memprogram, mengarahkan, dan membimbing kita untuk melayani Dia. Saudara kapan kita menyatakan diri kita untuk siap melayani Tuhan? Jangan buang waktumu kepada sesuatu yang sia-sia, jikalau ada kesempatan bekerja bagi Tuhan, ambillah segera untuk menghasilkan buah yang kekal. Karena setiap kita akan diminta pertanggungjawaban atas segala yang kita kerjakan. Kita berdoa supaya Tuhan memakai kita bagi kemuliaanNya. Dalam Matius 28:20 dikatakan dengan jelas bahwa Tuhan akan terus menyertai kita. Selain itu, firman Tuhan akan terus memperlengkapi dan menyempurnakan kita seperti tertulis dalam 2 Timotius 3:16. Jadi bukan tunggu sempurna lalu kita melayani Tuhan. Karena kita berada dalam proses menuju kesempurnaan. Kita juga dijanjikan akan menghasilkan buah-buah rohani, salah satunya seperti yang dicatat dalam Galatia 5:22-23. Di dalam bagian ini saya percaya sekali kita sudah diberikan modal pelayanan, jadi tinggal langkah iman dari kita. Maka jadilah serdadu Tuhan melayani gerakan Reformed di Cikarang. Karakteristik seorang pelayan yaitu hidup berpusat kepada Kristus. Artinya bagaimana hidup kita dipenuhi Kristus maka pikiran dan perasaan kita harus dipenuhi Kristus. Abraham Kuiper mengatakan tidak ada satu inci dimana Kristus tidak mengatakan bahwa itu milikNya. Hidup berpusat kepada Kristus artinya kita mengutamakan Tuhan atas segala-galanya, first things first. Kita tidak lagi mengutamakan ambisi kita tetapi pekerjaan Tuhan yang berpusat kepada Kristus. Dan kita harus meneladani Kristus sebagai model kita. Kristus memberikan keteladanan dalam kesetiaan dan kesucian. Demikian dengan kita tidak ada yang menjadi bos karena kita harus punya mental melayani dan kita harus menjadi contoh dalam pengorbanan kita. Kita juga harus punya nilai moral, takut akan Tuhan, mencintai kesucian dan kebenaran. Setiap pengurus dan anggota harus mengejar kekudusan maka Tuhan akan menyertai kita. Setiap kita harus bergandengan tangan dan menyatukan hati untuk hidup takut akan Tuhan dan berpusat pada Kristus. Paulus berkata kepada Timotius: Jangan engkau dipandang rendah karena engkau muda, tetapi jadilah teladan dalam perkataanmu, dalam sikapmu, dalam ketekunanmu, dalam kesucianmu. Pelayanan yang baik selalu berbicara mengenai Kristus. Maka ketika kita melayani Tuhan dalam ikatan tubuh Kristus, kita harus saling mengingatkan akan hal-hal yang membangun tubuh Kristus. Seperti mengingatkan rekan-rekan kita untuk terus memiliki kerinduan bersekutu dan belajar firman bersama.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami