Peranan Orang Tua dalam Mendidik Anak (Abraham)

Peranan Orang Tua dalam Mendidik Anak (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 17:7-14

Pendahuluan

Bagian yang kita baca menceritakan tentang satu tema yang berkaitan dengan pengulangan janji Tuhan kepada Abraham. Dalam Kejadian 12 Allah berjanji kepada Abraham untuk membuatnya menjadi bangsa yang besar, memberkati dirinya, membuat namanya masyhur, dan menjadikannya berkat bagi semua kaum di muka bumi. Allah juga telah menjanjikan tanah bagi Abraham dan keturunannya. Dalam Kejadian 15 Allah menyatakan kepada Abraham bahwa diri-Nya lah perisai bagi Abraham dan bahwa Allah akan memberikan upah yang sangat besar kepada Abraham. Allah juga berjanji bahwa anak kandung Abraham akan menjadi ahli warisnya dan bukan hambanya. Allah juga menyuruh Abraham untuk menghitung bintang-bintang di langit dan menyatakan bahwa sebanyak itu pula keturunan Abraham nanti. Pada waktu ia diberikan pandangan tentang alam dengan melihat bintang, dikatakan bahwa Abraham percaya dan Allah memperhitungkan itu sebagai kebenaran, namun ternyata di dalam proses waktu Abraham tetap kurang teguh.

Setelah itu Tuhan memberikan satu pengulangan janji dan sekarang janji-Nya bukan apa yang dilihat tetapi apa yang bisa dirasakan oleh setiap anak yang lahir dari keluarga Abraham. Setiap anak laki-laki yang ada di keluarga Abraham harus disunat termasuk anak-anak laki-laki dari para budak milik Abraham. Mereka harus disunat pada hari yang kedelapan. Sunat menjadi tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan semua keturunannya. Allah juga menyatakan bahwa ini adalah perjanjian yang kekal. Laki-laki yang tidak disunat di dalam rumah Abraham akan mendapatkan hukuman yang keras yaitu kematian karena ia dianggap telah mengingkari perjanjian. Di dalam bagian ini ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan: Mengapa Allah memakai tanda sunat dalam perjanjian-Nya dengan Abraham? Mengapa penyunatan dilakukan kepada anak? Mengapa tidak menunggu sampai anak itu dewasa baru disunat? Mengapa sunat dilakukan dalam masa Perjanjian Lama tapi tidak dilakukan dalam masa Perjanjian Baru? Apa hubungan antara sunat dan baptisan anak? Apakah mereka yang telah disunat di masa Perjanjian Lama atau dibaptis di masa Perjanjian Baru pasti diselamatkan oleh Tuhan? Apa peranan orang tua dalam semua ini?

 

Pembahasan

Mengapa Allah memakai tanda sunat sebagai perjanjian-Nya dengan Abraham?

Alkitab menyatakan bahwa ada makna yang mengandung kerohanian dimana Abraham akan dipersiapkan menjadi bapa orang beriman, tidak hanya bagi Israel saja tetapi seluruh dunia. Dia akan mempunyai anak yang disebut anak iman hasil perjanjian. Allah sendiri yang telah berjanji dan menganugerahkan anak itu kepada Abraham dan Sara. Sara itu mandul namun Allah telah berfirman bahwa Sara pasti mengandung dan itu terjadi. Alkitab menyatakan bahwa bukan Ismael-lah anak perjanjian itu melainkan Ishak. Abraham menyunat Ishak seperti yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya (Kejadian 21:4). Ishak dikatakan lahir pada masa tua Abraham yaitu saat ia berumur 100 tahun (Kejadian 21:2, 5). Hal ini pasti memengaruhi cara Abraham dan Sara dalam mendidik Ishak. Biasanya anak yang dilahirkan di masa tua orang tuanya akan sangat disayang dan dimanja, namun orang tua Kristen tidak boleh terlalu memanjakan anak.

Menjadi orang tua Kristen bukan hanya sekedar suka pada anak dan senang punya anak, maka kemudian memutuskan untuk punya anak. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah orang tua menyadari tentang adanya kaitan perjanjian antara orang tua dengan Tuhan yang telah menganugerahkan pernikahan Kristen dan telah menganugerahkan anak di dalam keluarga itu. Dalam kisah Abraham di atas, perjanjian itu bukan lagi merupakan sesuatu yang dilihat dari alam, bintang-bintang di langit, tetapi sesuatu yang bisa dilihat dari aspek komitmen yaitu berkaitan dengan sunat itu sendiri. Apakah sunat menyelamatkan seorang anak? Tidak. Semua orang Israel disunat namun Rasul Paulus menyatakan di dalam Surat Roma bahwa tidak semua orang Israel dipilih dan diselamatkan. Sunat hanyalah sebuah konfirmasi dari orang tua yang beriman dimana mereka yakin bahwa anaknya kelak akan menjadi orang percaya dan diserahkan kepada Tuhan.

 

Apa kaitan antara sunat dengan baptisan anak? Bagian ini juga dibahas di dalam Teologi Reformed yang menerima dan setuju dengan baptisan anak. Teologi Reformed menyatakan bahwa sunat dalam Perjanjian Lama itu berkesinambungan dengan baptisan anak dalam Perjanjian Baru. Keduanya merupakan tanda dan berhubungan dengan perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Keduanya sama-sama diperintahkan oleh Tuhan sendiri, maka sunat dalam Perjanjian Lama maupun baptisan anak dalam Perjanjian Baru merupakan hal yang sangat penting bagi orang percaya. Baptis anak itu penting namun tidak menyelamatkan, sama seperti sunat. Ada orang yang yakin bahwa baptisan itu menyelamatkan. Jika baptisan itu menyelamatkan maka sesungguhnya orang percaya tidak boleh membaptis anak. Jika baptisan itu menyelamatkan maka baptisan itu hanya boleh diberikan kepada orang dewasa yang sudah mengerti tentang Tuhan di dalam satu keputusan iman secara pribadi. Namun sesungguhnya Alkitab berkata dengan jelas bahwa baptisan itu tidak menyelamatkan. Penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus tidak sempat menerima baptisan sebelum ia mati, bahkan ia baru percaya kepada Yesus di akhir hidupnya. Kendati demikian, Yesus berkata kepadanya bahwa ia akan berada bersama-sama dengan Tuhan di Firdaus pada hari itu juga.

Sunat sebagai Tanda yang Kelihatan

Sunat adalah tanda yang kelihatan atas janji Allah. Adakah perbedaan antara anak yang lahir karena hukum alam (biologi) dengan anak yang lahir karena hukum rohani yaitu iman yg mendahului realita (bandingkan Yohanes 1:13, 3:6)? Ada perbedaan. Di dalam konteks ini dapat dilihat bahwa Abraham sudah mempunyai anak yang berumur 13 tahun yang bernama Ismael sebelum Ishak lahir. Pada waktu Tuhan memanggil Abraham, Allah mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sara. Abraham menertawakan Tuhan ketika ia mendengar Tuhan menyatakan bahwa seorang anak laki-laki akan lahir dari Abraham dan Sara. Abraham masih berpikir bahwa anak perjanjian itu adalah Ismael. Tuhan mengubah pemikiran Abraham yang salah dan menyatakan rencana-Nya kepada Abraham. Sara juga tertawa ketika mendengar bahwa dirinya akan melahirkan seorang anak dalam waktu satu tahun ke depan. Ketika anak tersebut lahir, ia dinamai Ishak yang artinya adalah tertawa. Ia tumbuh menjadi anak yang beriman kepada Allah, tidak seperti Ismael saudaranya. Orang tua Kristen harus memperhatikan iman anak-anaknya.

 

Yesus menjelaskan tentang pentingnya kesungguhan menjadi pengikut Tuhan atau menjadi orang yang beriman kepada Dia. Yohanes menerjemahkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus akan diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Yohanes 1:12 “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Jika seseorang tidak mempunyai iman yang menyelamatkan atau kepercayaan kepada Yesus, maka ia tidak akan diberi kuasa sebagai anak-anak Allah yang bisa mengalahkan dosa di dalam dirinya dan godaan dari Setan. Orang itu akan terus menerus gagal di dalam pencobaan dan terus menerus kalah dari Setan. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya itu bukan dilahirkan dari daging tetapi dilahirkan dari Roh. Yohanes 1:13 “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Alkitab menyatakan bahwa bukan semua keturunan Abraham secara fisiklah yang menerima janji itu melainkan secara rohani, yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Maka kerohanian itu sangat penting untuk diperhatikan. Ini adalah tugas orang tua Kristen dalam mendidik anak-anaknya.

           

Mengapa Allah mengulang perjanjian-Nya dengan Abraham, mulai dari memakai alam semesta – bintang (Kejadian 15) sampai memakai tanda sunat? Tuhan sudah membuktikan melalui alam semesta, maka dengan cepat orang percaya dapat mengetahui bahwa Abraham dibenarkan karena percaya dan bahwa seluruh keturunannya akan seperti bintang di langit. Allah melatih iman Abraham melalui proses-proses dan kejadian-kejadian dalam kehidupannya. Abraham dilatih untuk punya komitmen dan tanggung jawab sebelum mempunyai anak. Ia disebut sebagai bapa orang beriman dan ia memiliki tugas sebagai orang tua untuk mewariskan iman itu kepada anaknya. Sunat merupakan tanda yang jelas dan harus dialami setiap laki-laki di rumah Abraham bahkan sampai seluruh orang Israel. Dalam proses menyunat ada darah yang dicurahkan dan ada rasa sakit yang dirasakan. Semua ini memiliki maknanya tersendiri yang Tuhan ingin umat-Nya ketahui.

 

Kesaksian Iman Orang Tua dalam Mendidik Anak

            Mengapa perjanjian tanda sunat diberikan sebelum Ishak lahir? Apakah ini menunjukkan bahwa Ismael adalah anak perjanjian? Tidak. Di sini Tuhan memberikan satu konfirmasi bahwa setiap anak laki-laki itu penting maka setiap anak laki-laki harus dididik dalam iman. Di dalam bagian ini laki-laki dianggap penting karena laki-laki dalam konteks hukum Yahudi, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, semua laki-laki adalah calon pemimpin. Pemimpin dalam nilai rumah tangga adalah laki-laki. Wanita adalah pengikut laki-laki. Di dalam konteks inilah laki-laki ada di dalam tanggung jawab iman untuk membesarkan anak-anak di dalam Tuhan. Di dalam bagian ini orang percaya diingatkan bahwa iman mendahului realita. Realita keberadaan anak itu ada di depan. Realita itu adalah bahwa anak tersebut untuk diselamatkan harus ada iman. Jadi sunat sebagai tanda perjanjian Allah yang kedua dengan Abraham adalah karena Allah ingin membangun satu tanggung jawab keimanan dari Abraham sebagai orang tua. Di sini dapat dilihat bahwa anak-anak dalam keluarga Kristen boleh kelak di depan disebut sebagai anak-anak perjanjian, anak-anak yang mengalami kelahiran baru, anak-anak yang sungguh-sungguh bertobat di dalam Tuhan, karena semua orang tua Kristen punya peran. Orang tua Kristen punya tugas bukan hanya untuk membesarkan anak-anak secara lahiriah tetapi yang lebih penting dari itu, mereka harus mendidik keimanan anak-anak di keluarganya.

 

            Makna sunat di dalam Perjanjian Lama dan baptisan anak dalam Perjanjian Baru adalah sebagai kesaksian iman orang tua atas pekerjaan Allah yang sudah diterima dalam sunat atau baptisan itu. Jadi di dalam bagian ini peranan iman orang tua itu sangat penting. Orang tua Kristen yang mementingkan perintah Tuhan pasti akan melihat dan mau melaksanakan bagian ini. Sunat atau baptisan anak hanya merupakan tanda dan janji tentang akan datangnya keselamatan untuk anak itu kelak (lahir baru, Yohanes 1:12-13 dan 3:6) dan bukanlah keselamatan atau jalan keselamatan itu sendiri. Kesedihan sebagai orang tua Kristen adalah jika anak-anak dalam keluarganya belum mengalami kelahiran baru. Maka pada waktu pasangan suami-istri Kristen mempunyai anak, mereka harus beriman supaya anak-anak mereka kelak bisa mengalami kelahiran baru. dan di situ ada peranan orang tua Kristen dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anaknya sejak dini. Anak-anak harus melihat kesaksian iman dari orang tuanya terlebih dahulu sehingga mereka bisa mendapatkan teladan iman Kristen.

Apa tugas orang tua dalam pendidikan iman untuk anak-anaknya?

Orang tua harus menabur Firman Tuhan berulang-ulang setiap hari, dimana pun, dan dalam situasi apapun. Ulangan 6:6-7 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Mazmur 127:1 “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Orang tua Kristen harus rajin menabur benih firman kepada anak-anaknya. Tuhan telah memberikan contoh bagi setiap orang Kristen. Rasul Paulus sebelum mengenal Tuhan ia bernama Saulus. Dia begitu keras karena kesesatan agamanya, maka ia dipukul keras oleh Tuhan. Ia sebelumnya begitu rajin menganiaya jemaat Tuhan namun kemudian Tuhan menampakkan diri kepadanya dan ia sadar bahwa dirinya telah berdosa sehingga kemudian ia bertobat dan menjalani panggilan dari Tuhan yaitu menjadi rasul dan pemberita Injil bagi orang-orang bukan Yahudi. Ia telah menerima benih firman Tuhan yang membuatnya bertobat dan ia kemudian menyebarkan benih firman itu ke segala tempat yang ia bisa capai. Tuhan meminta Abraham untuk memikul tanggung jawab yang besar. Dia bukan saja menjadi pemimpin usaha, kepala keluarga, tetapi dia juga harus menjadi pemimpin dalam nilai keimanan. Begitu pula setiap orang tua Kristen harus menjadi pemimpin dalam kerohanian bagi seluruh anggota keluarganya.

Kelahiran baru itu jauh lebih penting daripada sunat. Sunat atau baptisan itu tidak dapat menghasilkan kelahiran baru atau keselamatan. Di dalam Galatia 6:15, Rasul Paulus membedakan antara kelahiran baru dengan tanda-tanda lahiriah Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Dalam bagian ini telah dengan jelas dinyatakan oleh Paulus mengenai kepentingan peranan sunat dan kelahiran baru. Kelahiran baru itu pasti tentang kerohanian sedangkan sunat adalah tanda yang bersifat lahiriah. Dalam surat Galatia juga Paulus dengan keras menegur jemaat Galatia yang menganut doktrin bahwa keselamatan didapatkan dengan melakukan sunat dan melakukan hukum Taurat. Dalam surat Roma Paulus juga menegaskan bahwa semua manusia telah berdosa dan tidak ada satupun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, tanpa cacat. Hanya anugerah Tuhan yaitu kelahiran baru yang Tuhan berikanlah yang dapat menyelamatkan seseorang. Selain itu, Paulus di dalam 1 Korintus 4:15 menulis Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yg kuberitakan kepadamu. Jadi sunat dalam Perjanjian Lama atau baptisan anak dalam Perjanjian Baru itu penting karena menurut peranan iman, orang tua mempunyai tanggung jawab rohani dalam mendidik anak-anaknya di dalam Tuhan. Orang tua harus menjadi pendidik iman dan menjadi kesaksian iman bagi anak-anaknya sehingga mereka bisa melihat Tuhan dalam keluarganya.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami