Peran Orang Tua dalam Menentukan Pasangan Hidup untuk Anaknya

Peran Orang Tua dalam Menentukan Pasangan Hidup untuk Anaknya

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 24:1-67 dan 2 Korintus 6:14.

Pendahuluan

Salahkah jika orang tua (Abraham) turut campur untuk mencarikan istri bagi Ishak? Tidak salah. Orang tua bersalah jika mereka tidak memiliki kriteria standar untuk pasangan anaknya. Jika orang tua tidak turut campur dan tidak memberikan kriteria maka orang tua itu tidak beriman. Mengapa Abraham tidak setuju Ishak menikah dengan perempuan Kanaan? Karena mereka adalah penyembah berhala. Abraham tahu bahwa para perempuan Kanaan tidak takut akan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mencari kesenangan diri dan egois. Ini tidak masuk dalam kriteria Abraham sebagai penyembah Allah Yahweh. Mengapa Abraham menyuruh pelayanannya ke Haran? Karena Abraham mau menemukan anggota keluarganya yang menyembah Allah yang benar. Bolehkah kita berdoa seperti pelayan Abraham (Eliezer – Kejadian 15:2)? Ia berdoa (ayat 24) Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu”. Ia berdoa meminta tanda dari Tuhan. kita akan membahas bagian ini. Doa yang dinaikkan harus mengandung kebenaran. Kita tidak boleh berdoa untuk pasangan sesama jenis karena itu pasti tidak diinginkan Tuhan. Pasangan hidup adalah pilihan atau takdir dari Tuhan? kita tidak hanya pasrah menunggu dan hanya menunggu Allah bekerja seperti dalam konsep hyper-Calvinism. Reformed menganut Calvinism. Kita mengakui bahwa kita memiliki tanggung jawab dan kebebasan. Di dalam ruang dan waktu ini kita diberikan kebebasan dan kita harus memakainya dengan rohani, bertanggung jawab, serta menunjukkan ketaatan kita. Pasangan itu adalah pilihan. Ada otoritas Tuhan yang memakai otoritas kita yang disucikan untuk memilih dalam standar yang Tuhan tetapkan. Kita bisa sehat dalam kedaulatan Tuhan serta kita memilih dan mengatur apa yang kita makan dalam kebebasan kita.

Pembahasan

1) Apa yang Abraham lakukan untuk mendapatkan istri bagi Ishak?

            Setelah Sara meninggal, Ishak kehilangan figur ibunya. Ia merenung dan tidak lagi memiliki satu penghiburan karena kehilangan ibunya. Saat itu ia tidak merengek-rengek dan meminta kekasih dari perempuan-perempuan Kanaan. Inisiatif pernikahan Ishak justru ada di tangan Abraham. Nanti anak Ishak adalah Esau dan Yakub. Esau sangat mudah jatuh cinta namun Yakub tidak demikian. Kita melihat bahwa nanti janji Tuhan diberikan kepada Yakub. Esau langsung menikahi 2 orang perempuan Kanaan dan mereka membuat hati orang tuanya sedih (Kejadian 28:1-9). Jika kita mudah jatuh cinta maka kita harus bertobat. Kita harus berhati-hati agar jangan sampai asal atau salah memilih. Abraham di sini peka bahwa Ishak membutuhkan istri. Abraham tidak membuat sayembara tetapi membuat ketetapan efektif. Apa artinya? Mengarahkan pilihan jodoh bagi Ishak sesuai dengan standar Tuhan (bandingkan Amsal 31:10-31, 2 Korintus 6:14). Orang tua harus membuat kriteria pasangan bagi anak-anaknya sejak kecil. Kriteria itu disebut sebagai ketetapan efektif. Orang tua tidak boleh pasif membiarkan anak memilih sendiri atau merasa bahwa apapun yang terjadi adalah dalam perkenanan Tuhan. Orang tua yang mengerti kebenaran harus turut campur dalam menetapkan kriteria bagi pasangan anak. Jika kriteria itu terikat oleh budaya, maka itu salah. Amsal 31:10-31 menyatakan standar istri yang berhikmat, berkarakter, dan bisa mengatur segala hal yang merupakan tanggung jawabnya. Ia adalah istri yang taat dan rajin bekerja. Ia bisa melakukan banyak pekerjaan dan bisa diandalkan. 2 Korintus 6:14 menyatakan bahwa pasangan kita harus seiman. Abraham telah memberikan ketetapan efektif. Abraham tidak mau mengambil perempuan Kanaan sebagai menantunya (ayat 3). Ia mengutus pelayannya yang paling tua dan paling teruji untuk mencari saudaranya yaitu Nahor. Pelayan itu diberkati lalu kemudian diutus. Pelayan itu takut gagal dalam misinya karena Ur-Kasdim itu luas. Ia mungkin saja bertemu dengan orang yang salah. Abraham menyatakan bahwa malaikat Tuhan akan menyertai Eliezer (ayat 7). Di sini ada keraguan Eliezer namun ada kemantapan iman dari Abraham.

Saat hambanya pergi, ia masih menyimpan keraguan, namun ia memiliki pengharapan dengan membawa 10 unta, gelang-gelang emas, dan anting-anting emas. Semuanya dipersiapkan dengan baik. Eliezer saat itu berjalan tanpa peta yang jelas, namun sesampainya di Mesopotamia ia berdoa kepada Tuhan: TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu (ayat 12-14). Ia berdoa meminta petunjuk dari Tuhan. Di dalam kasus ini Tuhan memberikan petunjuk baginya. Bolehkah kita berdoa seperti ini? Ia meminta bukti yang bisa dilihat. Pada saat itu ia tidak tahu siapa saja keturunan Nahor, maka ia meminta petunjuk itu. Tuhan mengabulkan doanya. Dikatakan bahwa datanglah Ribka (ayat 15). Eliezer kemudian meminta air tersebut lalu Ribka memberikan air tersebut baginya dan juga unta-untanya (ayat 17-19). Seekor unta yang kehausan bisa meminum sampai 57 liter, jadi kira-kira 1 unta membutuhkan air sebanyak 3 galon air. Jadi pada saat itu Ribka menimba air sampai 30 galon. Ribka juga menawarkan jerami dan makanan unta kepadanya (ayat 25). Ribka tidak saja memenuhi jawaban doa Eliezer tetapi ia juga menunjukkan kualitas karakter, minimal berbudi baik. Ribka juga menunjukkan bahwa dirinya pemberani. Ia memberikan semua dengan gratis dan ini menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang baik.

Eliezer kemudian mengambil anting-anting dan sepasang gelang tangan lalu menemukan bahwa Ribka adalah keturunan Nahor. Ia kemudian berlutut dan mengucap syukur kepada Tuhan (ayat 26). Ini menunjukkan bahwa orang yang telah selesai melakukan pekerjaan Tuhan tidak boleh sombong. Ia berterima kasih dan mengakui bahwa keberhasilan itu datang dari Tuhan. Ini adalah teladan yang kita harus ambil dari Eliezer. Pertama ia memang ragu, namun ia berharap kepada Tuhan dan ketika ia telah berhasil ia tidak sombong. Ia menunjukkan rasa syukurnya melalui ibadah kepada Tuhan. Ribka kemudian berlari dan menceritakan itu kepada keluarganya. Setelah mereka berdiskusi, akhirnya mereka setuju Ribka dibawa kepada Abraham dan Ishak (ayat 51).

2) Mengapa Ribka mau menikah dengan Ishak yang belum pernah dilihat atau dikenalnya?

            Apakah ini karena ia sudah mendapatkan perhiasan? Apakah ini karena Abraham itu kaya? Pastinya ayahnya pernah bercerita tentang pamannya yang merantau ke Kanaan karena pimpinan Tuhan dan janji Tuhan untuk memberikan tanah perjanjian. Ribka mau menikah dengan Ishak karena percaya (iman). Ia percaya pada apa yang dikatakan Eliezer bahwa Abraham menginginkan menantu yang menyembah Allah Yahweh dan bukan penyembah berhala. Di sini Ribka memiliki tindakan iman, belum melihat namun percaya. Dia percaya bahwa keluarga Abraham pasti seperti yang pernah diceritakan ayahnya dan kakeknya. Ribka sudah percaya, namun bagaimana dengan Ishak? Ishak pasti tahu bahwa ayahnya sedang mencarikannya pasangan. Ishak pasti sedang merenung karena dalam ayat 63 dikatakan bahwa Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Dalam bahasa aslinya Ishak sedang merenung, bukan berjalan-jalan. Ini berarti Ishak sedang menanti Ribka. Mungkin saat itu dia juga sedang merenungkan apakah dirinya sudah siap menjadi suami dan ayah atau belum. Ia sedang mempersiapkan hatinya untuk menjadi kepala keluarga. Sebelum pergi, ibu dari Ribka mau menahannya 10 hari lagi (ayat 55) namun Eliezer tidak mau mengabulkan permintaan tersebut (ayat 56). Ketika ditanya, Ribka langsung menjawab mau untuk pergi dan dinikahkan dengan Ishak. Tidak ada keraguan pada dirinya. Ia tidak mau untuk memeriksa Ishak secara fisik terlebih dahulu baru memutuskan. Semua sudah diatur oleh Tuhan demikian. Di sini ada realitas pandangan Ishak dan Ribka. Dalam ayat 63 dan 64 Ishak dan Ribka saling melayangkan pandangnya. Ribka kemudian bertanya siapa laki-laki itu dan Eliezer menjawab bahwa itulah Ishak (ayat 65). Ia turun dari untanya dan menggunakan telengkungnya. Ini karena budaya saat itu memang demikian. Eliezer menceritakan semua yang telah terjadi dan kemudian Ishak menikah dengan Ribka.

            Apa yang dilakukan Abraham? Ia telah melakukan hal yang tepat. Respons dari Ribka juga baik, begitu pula respons Ishak. Ishak langsung menerima berdasarkan cerita dari Eliezer. Apakah ini yang disebut cinta dalam pandangan pertama? Cinta selalu dibangun di atas dasar pengenalan. Saya percaya bahwa Ribka mengenal Ishak dari cerita Eliezer dan Ishak mengenal Nahor dan keturunannya dari cerita Abraham. Jadi mereka memang tidak mengenal secara langsung namun mereka mengerti prinsip-prinsipnya. Mereka tidak jatuh cinta pada pandangan pertama tetapi mereka sudah saling mengenal lewat keluarga masing-masing. Ketika mereka bertemu, cinta mereka berpadu. Dicatat bahwa Ishak dihiburkan melalui pernikahannya (ayat 67). Selama 3 tahun ia berduka setelah kepergian ibunya. Figur Ribka ternyata dapat menghibur hatinya. Di sini pernikahan mereka mendatangkan kebahagiaan dan bukan kebahayaan.

3) Kriteria memilih pasangan hidup – berkarakter yg benar

            Pertama, orang itu sudah lahir baru atau berstatus anak terang. Jika orang tersebut belum bertobat, maka pasti orang itu tidak masuk kriteria. Kedua, bertumbuh iman dan karakternya dalam Kristus. Ada orang-orang yang mengaku percaya namun tidak mau bergereja sehingga tidak bertumbuh iman dan karakternya. Orang yang seperti ini tidak masuk kriteria. Ketiga, dewasa hidupnya (mandiri, bertanggung jawab, dan menghormati orang tua). Orang itu harus sudah bisa hidup sendiri, bekerja dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, ia memikirkan masa depannya dan menghormati orang tuanya. Jangan sampai kita terikat dengan orang yang tidak bertanggung jawab. Keempat, melayani Tuhan Yesus. Orang yang dipilih haruslah orang yang tidak berfokus pada diri dan melihat dirinya sebagai pelayan Tuhan bukan tuan yang minta dilayani. Kelima, memiliki cara pandang yang alkitabiah. Orang itu harus menilai segala sesuatu dari kacamata Alkitab. Ada banyak orang Kristen yang cara pandangnya tidak Kristen. Ini adalah kekristenan tanpa Kristus. Kristus tidak dituhankan di dalam hidupnya. Keenam, berpikir dan bersikap positif (solusi). Kita harus mencari orang yang menyelesaikan masalah dan bukan membesarkan masalah. Kita harus waspada dengan orang yang menjadikan pasangan sebagai solusi bagi masalah pribadinya. Minimal 6 kriteria ini harus kita pegang dalam mencari pasangan baik bagi diri kita maupun anak-anak kita. Inilah yang disebut sebagai ketetapan efektif. Banyak orang tua telah melupakan hal ini, padahal ini adalah bagian dari panggilan kita. Orang tua boleh turut campur namun tidak memaksa. Kita harus memilih orang yang berkarakter, bukan yang berkepribadian.

4) Kesalahan memilih kriteria pasangan hidup – berkepribadian

            Kriteria salah yang pertama adalah tampan, cantik, dan menarik. Ketika Ribka akan bertemu dengan Ishak, ia menutupi wajahnya. Ia tidak menonjolkan kecantikannya tetapi rendah hati. Orang yang jatuh cinta karena kecantikan harus mengingat bahwa kecantikan akan pudar seiring dengan waktu. Ishak menyukai Ribka bukan karena wajah. Mereka mau menikah tanpa Ishak dapat melihat wajah Ribka terlebih dahulu. Kedua, pribadi yang menyenangkan atau humoris. Banyak orang jahat yang humoris. Ini boleh menjadi bonus namun tidak boleh menjadi kriteria utama kita. Ketiga, pribadi yang menyukai jalan-jalan, berbelanja, berpetualang, film, musik, dan lainnya. Inipun boleh menjadi bonus namun jangan sampai menjadi kriteria utama kita. Keempat, pribadi yang romantis dan perhatian. Ini semua bukan hal yang terpenting dan hal ini bisa berubah. Kelima, pribadi yang lembut (ramah) dan tenang (tidak banyak bicara). Ada orang yang menginginkan pasangan yang seperti ini karena dirinya keras dan kasar. Sekali lagi ini boleh menjadi bonus namun ini bukanlah kriteria yang utama. Keenam, pribadi yang menyukai olahraga dan berbadan olahragawan. Ketujuh, pribadi yang kaya. Banyak orang membuat kriteria berkepribadian namun tidak berkarakter. Ini sebenarnya salah. Eliezer berdoa agar menemukan perempuan yang berkarakter bukan berkepribadian. Kita harus belajar dari Amsal 31:10-31. Mengapa Amsal ditutup dengan kriteria wanita? Karena Salomo pernah menghabiskan bagian akhir hidupnya dengan wanita-wanita kafir. Ia sadar bahwa dirinya sudah jatuh ke dalam dosa dan ia menutup Amsal dengan teologi cinta. Mari kita belajar dari Abraham dan bagaimana ia membuat ketetapan efektif dalam memilih pasangan yang baik untuk anaknya.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami