Pengharapan yang Baru (Menuai dalam Kepastian)

Pengharapan yang Baru (Menuai dalam Kepastian)

Categories:

Khotbah Minggu 10 November 2019

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

ayat bacaan: Rut 2:18-23 dan Yakobus 1:3-4.

 

 

1) Pendahuluan

 

Manusia hidup membutuhkan pengharapan. Pengharapan adalah suatu energi hidup untuk mencapai apa yang kita inginkan. Di dalam kekristenan, pengharapan yang suci, mulia, dan sejati selalu berkaitan dengan iman dan dengan kasih. Apa yang kita harapkan harus selalu dikaitkan dengan nilai kemuliaan Tuhan. Rancangan Tuhan harus digenapi dalam hidup kita berkenaan dengan kasih dan iman. Di sanalah pengharapan menjadi seperti energi pendorong sehingga kita bisa mencapai sesuai rancangan Tuhan. Dunia bisa menawarkan suatu pengharapan namun dunia tidak bisa menjamin bahwa pengharapan itu bisa melintasi jiwa dan batin kita. Dunia bisa memberikan pengharapan lahiriah yang bersifat memuaskan namun semua itu sementara. Di dalam kurun waktu tertentu, pengharapan dunia itu akan hilang. Jadi pengharapan dari dunia bisa mengecewakan, tetapi pengharapan dalam Tuhan itu pasti atau terjamin. Pertanyaan yang bisa muncul adalah mengapa Rut terkaget ketika mendapat perhatian dan belas kasihan dari Boas? Orang asing dan pendatang mendapat untuk mengambil sisa-sisa jelai gandum, namun mengapa Rut begitu kaget dan sampai berlutut di hadapan Boas? Ia bertanya-tanya tentang perhatian dan belas kasihan Boas. Dan mengapa Naomi juga terkaget dengan apa yang didapat oleh Rut dari Boas? Naomi mungkin berpikir bahwa Rut hanya akan membawa pulang sedikit makanan, namun ternyata Rut membawa sangat banyak. Itu membuat Naomi bertanya-tanya tentang dari siapa dan dari mana Rut mendapatkan semua itu. Naomi berkata “Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN”. Kata-kata manis keluar dari mulutnya. Ini tidak seperti ketika Naomi baru sampai di Betlehem di mana ia meminta untuk dipanggil Mara. Di sana ia menyatakan kepahitan hidupnya. Ia marah kepada Tuhan seolah Tuhan adalah sumber semua masalah itu. Apa yang terjadi terhadap Naomi setelah melihat semua itu? Apa yang kita bisa pelajari dari bagian ini berkaitan dengan Tuhan?

 

 

2) Pengharapan yang Baru

 

            Setiap orang membutuhkan pengharapan. Pengharapan adalah suatu energi hidup kita untuk mencapai apa yang kita imani berkaitan dengan Tuhan. Itu adalah suatu pendorong untuk mencapai target yang diberikan oleh Tuhan, bukan hanya tujuan kita. Mengapa kita membutuhkan pengharapan yang baru? Karena dunia selalu berubah. Di dalam Alkitab kita melihat bahwa Tuhan terkadang sengaja menyatakan bahwa manusia tidak bisa menghasilkan apapun dari upayanya sendiri. Dalam Lukas 8:40-56, Lukas mencatat secara detail. Yairus, seorang pemimpin rumah ibadah, memohon kepada Tuhan agar datang dan melihat anaknya yang sedang sakit dan hampir meninggal. Orang-orang juga mendorong Yesus untuk melihat anak Yairus. Saat itu Yairus sudah pergi ke dokter-dokter di sana. Sebagai pemimpin rumah ibadah, ia pasti sudah berdoa, namun ternyata tidak ada perubahan. Seiring waktu kondisi anaknya semakin kritis. Kemudian ia memutuskan untuk mencari Yesus. Itu adalah pilihan yang terakhir sekaligus pilihan yang baru secara iman. Pengharapan yang baru selalu dimulai dengan benih iman yang baru. Segala pengharapan yang tidak berkaitan dengan iman bukanlah pengharapan yang baru dalam nilai penyertaan yang baru. Yairus tidak lagi dapat bergantung pada manusia, maka ia bergantung pada Yesus yang adalah Mesias. Ia meminta kesembuhan, namun ternyata Yesus memberikan kebangkitan dari kematian. Yesus seperti terlambat menyembuhkan anak itu. Saat Yesus sampai di sana, ternyata anak Yairus sudah mati. Saat itu Yairus berpikir bahwa Tuhan tidak sanggup. Peristiwa kebangkitan itu hanya disaksikan oleh Petrus, Yakobus, Yohanes, Yairus, dan istrinya. Yesus berkata ‘talita kum’ dan anak itu segera bangkit. Perkataan itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Ia tidak perlu memakai nama siapapun untuk menyatakan kuasa. Kita sebagai manusia biasa harus memakai kuasa nama Yesus untuk berdoa. Namun Yesus adalah Tuhan sehingga perkataan-Nya saja cukup.  Di sini kita belajar bahwa Tuhan sengaja menunda sampai kematian itu terjadi. Namun dari peristiwa itu Yesus mau mengajarkan bahwa diri-Nya adalah Tuhan. Semua itu harus dimulai dari titik nol.

 

Di tengah cerita itu Lukas menyisipkan cerita tentang perempuan yang mengalami pendarahan sudah 12 tahun. Putri Yairus berumur 12 tahun dan wanita itu sudah sakit selama 12 tahun. Dikatakan bahwa uangnya sudah habis. Dalam terjemahan lain dikatakan bahwa wanita itu seperti tidak punya apa-apa lagi. Ia sudah mencoba segala cara sampai uangnya habis. Pada akhirnya ia hanya bisa berharap pada Yesus. Pengharapan dunia sudah habis, namun ia memiliki pengharapan baru dalam iman. Ia percaya bahwa hanya dengan menyentuh jubah-Nya saja ia akan sembuh. Dalam Perjanjian Lama tidak ada konsep ini. iman wanita ini sungguh luar biasa. Wanita yang mengalami pendarahan itu tidak tahir menurut hukum Taurat. Ia tahu bahwa sentuhannya akan membuat menjadi najis. Ia memiliki iman, maka dari itu ia menyentuh jubah Yesus. Di sana Yesus peka ada energi-Nya yang keluar. Wanita itu mengalami titik nol juga. Ia sudah menghabiskan hartanya namun tidak sembuh juga sampai akhirnya ia bertemu dengan Yesus. Iman kita memunculkan pengharapan yang baru. Kelemahan kita adalah terkadang kita tahu tentang Tuhan namun belum tentu itu menjadi iman kita. Kita bisa memiliki banyak pengetahuan tetapi kita belum tentu beriman kepada Tuhan. Kesulitan, pergumulan, dan masalah membuktikan semuanya itu.

 

 Dalam Yohanes 11 terdapat kisah di mana Lazarus sedang sakit dan kemudian meninggal. Yesus mengatakan bahwa Lazarus sedang tidur. Para murid saat itu tidak mengerti. Saat Yesus tiba, Lazarus sudah meninggal selama 4 hari. Di sini Tuhan sengaja menunda. Menurut orang Yahudi, kematian selama 3 hari itu berarti mayat tersebut sudah membusuk. Di sana kita melihat ada titik nol. Saat itu orang-orang di sana tidak percaya bahwa Yesus sanggup membangkitkan Lazarus sampai akhirnya ia memanggil Lazarus dan Lazarus bangkit. Ketika Tuhan akan membangkitkan jiwa kita, terkadang semua dimulai dari titik nol. Setelah Daud ditegur oleh nabi Natan, ia harus memulai segala sesuatu dari nol. Ia mengoyakkan baju rajanya, melepaskan mahkotanya, meletakkan abus di atas kepalanya, dan duduk di atas tanah. Ini menyatakan bagaimana manusia diciptakan dari debu dan akan kembali kepada debu. Saat itu Daud sungguh bergumul akan dosanya. Ia berpuasa sampai tiba waktu Tuhan. Ketika dikatakan bahwa anak yang dikandung Betsyeba itu meninggal, ia tidak bersedih. Ini karena ia tahu bahwa semua itu akan terjadi. Namun setelah itu Daud dipulihkan dengan luar biasa. Setelah itu tidak pernah lagi dicatat Daud jatuh dalam dosa perselingkuhan atau seksual. Ini karena semua dimulai dengan kehancuran hati dan penyesalan yang sangat dalam. Ia memulai dari titik nol.

 

Kita belajar mengapa Tuhan mengizinkan Naomi dan Rut pulang ke Betlehem, yaitu mereka memulai dari nol. Naomi pergi dengan hartanya namun kembali dengan tangan kosong. Tuhan sengaja melakukan ini untuk menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Tuhan yang memelihara mereka. Tuhan menunjukkan bahwa sumber keberhasilan manusia bukanlah uang ataupun keterampilan tetapi Tuhan sendiri. Tuhan berkuasa atas hidup seluruh manusia. Rut memiliki pengharapan yang baru karena iman. Ia tidak berdiam diri di rumah dan menangisi nasib malangnya. Ia menunjukkan tanggung jawabnya, maka dari itu ia bekerja. Saat ia pergi bekerja, ia bertemu dengan Boas. Rut terkaget ketika bertemu dengan Boas. Rut mendapatkan pelayanan yang begitu ramah dari Boas. Di sana ia berlutut dan bertanya mengapa ia mendapatkan kebaikan yang begitu besar. Boas kemudian menyatakan apa yang ia dengar mengenai Rut. Dalam cerita itu kita melihat iman Rut. Di sini kita melihat bagaimana Rut mendapatkan jaminan atau kepastian untuk hidup (bandingkan Efesus 2:19). Saat Rut sampai di Betlehem, ia tidak tahu bagaimana mencari makan di sana. Ketika ia memutuskan untuk memungut sisa jelai gandum, itu menunjukkan bahwa ia memang adalah pendatang atau orang asing yang tidak punya apa-apa. Namun di situ ia tidak menangisi dirinya sendiri. Tuhan mengizinkannya melalui titik nol. Rut dahulu adalah istri orang kaya. Ia bisa saja merasa gengsi ketika memungut sisa jelai gandum dan ketika tidak memakai pakaian yang bagus. Namun semua itu sudah dihancurkan dan ia memulai dari nol. Ia melangkah dengan pengharapan yang baru di dalam Tuhan. Rut mendapatkan itu. pengharapannya yang baru itu berkaitan dengan iman. Iman itulah yang pada akhirnya memberikan kepastian di dalam Tuhan. Paulus menyatakan bahwa hidup dalam Kerajaan Allah itu berarti tidak ada lagi orang asing atau pendatang. Semuanya dianggap sebagai warga Kerajaan Allah. tidak ada yang perlu membeli kewarganegaraan bagi dirinya sendiri. Paulus melihat kewarganegaraan Romawi-nya sebagai sampah karena Kristus. Tentara di Filipi takut menghukum Paulus karena ia adalah warga negara Roma. Hal itu memberikan jaminan, status sosial, dan keamanan. Kepada jemaat yang tidak memiliki kewarganegaraan Romawi, Paulus memberikan status yang lebih daripada itu, yaitu kewarganegaraan Kerajaan Allah. itu memberikan kenyamanan bagi jemaat. Ia sangat mengerti bagaimana orang-orang mengejar status warga negara Roma, namun ia membuang itu karena Kristus. Kita diakui sebagai anak-anak Tuhan. Jaminan sosial kita bukanlah asuransi, deposito, atau usaha kita. Jaminan yang kita miliki yang memberikan damai itu adalah jaminan sebagai warga Kerajaan Allah. Rut mendapatkan kepastian dari Boas. Ia boleh terus memungut jelai gandum di ladang Boas. Ia mendapatkan perlindungan dengan bekerja bersama dengan para pekerja perempuan dan ia mendapatkan keramahan Boas. Ini membuatnya terkejut.

 

Bagaimana dengan Naomi? Naomi terkaget ketika bertemu dengan Rut. Ini karena apa yang dibawa Rut itu terlalu banyak. Naomi berpikir bahwa Rut hanya akan mendapatkan sedikit namun ternyata Rut membawa begitu banyak. Ini membuat Naomi bingung dan bertanya kepada Rut. Rut menceritakan semua yang dialaminya dan menyebut nama Boas. Di sana Naomi menjelaskan bahwa Boas adalah salah seorang kerabat yang wajib menebus keluarganya. Naomi kemudian memohon berkat Tuhan untuk Boas. Pertolongan Boas membuat paradigma Naomi berubah. Jadi Naomi juga mendapatkan jaminan atau kepastian untuk hidup, juga di masa tuanya. Sebagai seorang lansia ia mendapatkan pengharapan ini. Naomi sebelumnya pasti merasa seperti seorang ibu atau nenek yang gagal karena ia tidak memiliki cucu. Ia sebelumnya belum mendapatkan penopang ekonomi di masa tuanya. Saat ia melihat apa yang Tuhan lakukan melalui Boas dan Rut, ia mengalami perubahan.

 

 

3) Kejutan yang Mendatangkan Pengharapan

 

Terkadang Tuhan sengaja menunda untuk menghasikan suatu kejutan. Kita tidak bisa mengatur waktu Tuhan—Tuhan-lah yang mengatur waktu kita. Ketika kita berdoa dan meminta sesuatu, terkadang Tuhan tidak memberikan yang kita inginkan. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itu Tuhan bisa berikan. Tuhan-lah yang paling tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan mengatur waktu kita untuk semuanya berkaitan dengan waktu Tuhan. Jadi Rut dan Naomi mendapatkan kejutan yang mendatangkan pengharapan. Rut mengalami pemulihan sosial dan ekonomi. Seorang asing dan miskin seperti Rut mendapatkan pemulihan. Di dalam hukum Yahudi, seorang janda tidak bebas untuk berkawan dengan orang-orang. Apa yang dilakukan seorang janda bisa menimbulkan kecurigaan di masyarakat. Namun setelah bertemu dengan Boas, ia mendapatkan jaminan dalam penghasilan. Ia baru bertemu dengan Boas namun bisa mendapatkan jaminan yang begitu tinggi. Tidak hanya ekonomi, status sosialnya pun dipulihkan. Ketika presiden mengundang kita untuk makan bersama di istana negara, status kita secara sosial otomatis langsung naik. Saat itu Rut hanya berpikir untuk memungut sisa-sisa jelai gandum, namun ternyata Boas mengundangnya untuk makan bersama. Rut begitu dihargai oleh Boas. Tuhan memakai Boas untuk mendatangkan kenyamanan jiwa bagi Rut. Boas tidak memanjakan Rut. Ia tidak menyuruh Rut untuk berdiam dan mendapatkan semuanya secara gratis. Ia tetap membiarkan Rut bekerja, namun Boas mempermudah pekerjaannya dengan menyuruh para pegawainya untuk secara sengaja menjatuhkan hasil ladang itu untuk dipungut oleh Rut. Rut mendapatkan pemulihan sosial dan ekonomi. Ini adalah hal yang penting. Banyak orang merasa hancur ketika status sosialnya turun. Mereka merasa tidak lagi dihormati dan merasa tertekan karena hal itu sampai mereka mengalami penyakit kejiwaan. Status ekonomi yang turun juga bisa menyebabkan penyakit kejiwaan. Terkadang Tuhan mengizinkan titik nol itu dalam hidup kita.

 

Maria dan Marta menantikan Yesus datang segera untuk menyembuhkan Lazarus, namun Yesus baru datang 4 hari setelah Lazarus meninggal. Air mata mereka tercurah, namun di sana Yesus mau menyatakan siapa diri-Nya. Di balik semua kesedihan itu Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Wanita yang sakit selama 12 tahun itu sudah habis hartanya namun ia bisa berharap pada Yesus. Pengharapan baru dari iman itulah yang memberikan sukacita. Itu membuat kita percaya bahwa Tuhan itu hidup dan selalu memberikan melampaui apa yang kita bisa harapkan. Naomi juga mendapatkan kejutan yang mendatangkan pengharapan. Naomi melihat kelimpahan itu saat Rut pulang. Saat itu Naomi masih tertutup dan tidak mau bersosial, namun peristiwa itu mengubah Naomi. Kata-kata manis keluar dari mulutnya untuk Boas. Di sana Naomi mengalami pemulihan rohani dan jiwa. Secara ekonomi dan sosial ia juga mengalami pemulihan. Jadi Naomi mengalami pemulihan rohani, kejiwaan, sosial dan ekonomi. Hal itu tidak membuat Naomi menyuruh Rut untuk bermalas-malasan. Rut terus mau bekerja sampai masa panen itu habis. Inilah kejutan yang mendatangkan pengharapan. Dahulu Naomi dan suaminya berpikir bahwa kesuksesan itu bisa didapatkan di Moab, namun itu bukan rencana Tuhan. Tuhan memberkati Naomi dan Rut melalui Boas. Setelah Boas dan Rut menikah, mereka mendapatkan anak yang dinamai Obed. Dari Obed, Isai lahir, dan dari Isai, Daud lahir. Semua ini dimulai dari kisah yang berawal pada titik nol. Kejutan yang mendatangkan pengharapan itu datang pada titik nol, ketika kita merasa bukan apa-apa. Dalam iman kita bergantung pada Tuhan sehingga kita tidak berpikir bahwa kita itu apa-apa. Iman itu mengubah konsep pandang kita terhadap segala sesuatu. Rut dipulihkan hanya secara sosial dan ekonomi, karena kerohanian Rut lebih mantap daripada kerohanian Naomi. Naomi mendapatkan pemulihan rohani karena ia membutuhkan itu. perubahan Naomi terjadi begitu dalam, yaitu perubahan konsep pandang. Iman Naomi bersifat futuris. Ia melihat Boas sebagai kerabat yang wajib menebus dirinya dan Rut. Jadi ada pengharapan penebus.

 

 

4) Pengharapan Penebus

 

Boas adalah penebus bagi Rut dan Naomi. Menurut Imamat 25:25, saudara terdekat wajib menolong keluarganya yang sedang kesulitan. Setelah 7 tahun, jika ia tidak sanggup membayar, maka semuanya dianggap lunas. Ini adalah hukum Yahudi. Jadi kelunasan itu datang karena kasih. Tidak boleh ada tuntutan terhadap pihak yang membutuhkan pertolongan karena begitulah aturan dari Tuhan. Boas adalah salah satu kerabat terdekat Naomi dan Rut. Ada kerabat lain yang lebih dekat yang bisa menebus mereka, namun pada akhirnya Boas-lah yang menebus mereka. Inilah keindahan keluarga yang bersatu dalam Tuhan. Kita memberikan pertolongan bagi keluarga kita dengan kasih, bukan dengan hutang piutang yang bisa membuat perpecahan keluarga. Setelah 7 tahun, semua hutang itu lunas karena kasih, menurut hukum Yahudi. Kita mengakui bahwa segala hal yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan kita adalah berasal dari Tuhan. Kita belajar dari hal ini. Penebus itu pertama-tama menebus secara nilai sosial dan ekonomi. Setelah itu, penebus itu menebus pribadi yang ditebus. Saat itu Naomi tidak lagi memikirkan penampilan Boas. Mungkin Naomi tidak tahu Boas seperti apa saat itu karena sudah 10 tahun ia tidak bertemu dengannya. Dengan iman Naomi melihat bahwa Boas adalah pribadi yang wajib menebus keluarganya. Di sini Naomi mengalami pemulihan rohani sampai ia memiliki iman yang menerobos (breakthrough). Ia berpikir futuris. Salahkah Naomi mengandalkan Boas? Tidak, karena itulah hukum yang Tuhan berikan. Naomi tidak salah dalam menjodohkan Rut dengan Boas. Naomi memiliki konsep pengharapan penebus. Di dalam Alkitab kita diperintahkan untuk menebus setiap waktu yang kita miliki. Dahulu ketika kita hidup dalam dosa, kita mengisi waktu dengan hal-hal yang memuaskan kita yang tidak kekal. Setelah kita ada di dalam Tuhan, kita harus menebus waktu (Efesus 5:16). Setiap waktu kita harus diarahkan dan dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan.

 

Inilah pengharapan penebus yang dimiliki Naomi. Syaratnya adalah penebus itu harus merupakan kerabat terdekat. Ada kerabat yang lebih dekat daripada Boas, yang merupakan satu garis keturunan dengan Elimelekh. Orang itu mampu secara ekonomi untuk menebus dan orang itu memang layak. Boas juga memenuhi syarat itu, namun kita akan melihat bahwa Boas bukanlah orang yang dipimpin oleh emosi atau keinginan yang tidak suci. Ia tidak pernah berpikir memperalat Rut dan Rut juga tidak berpikir untuk memanfaatkan Boas. Dalam pasal ke-3 dinyatakan rencana Naomi untuk Rut agar dapat meminta Boas menjadi penebus mereka. Boas adalah orang kaya yang sebenarnya bisa mencari perempuan untuk dijadikan istri, namun mengapa Boas masih belum menikah? Apakah ia dipanggil untuk hidup selibat? Semuanya ada dalam waktu Tuhan. Kita tidak boleh melihat status kita tetapi kita harus melihat panggilan kita. Pasangan yang kita cari adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam waktu Tuhan. Boas tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ia mempertimbangkan semuanya dengan baik. Ia memilih untuk bertanya kepada kerabat yang lebih dekat. Boas memang layak namun ia tahu diri dan ia mengakui bahwa ada kerabat lebih dekat yang lebih layak menebus Rut dan Naomi. Di dalam Yesus kita menerima pengharapan yang baru saat kita percaya. Kita mendapatkan status dan jaminan yang baru sebagai anak Tuhan. Kita memiliki pengharapan kebangkitan dan pengharapan surgawi. Kita mendapatkan pemeliharaan Allah Roh Kudus dan penyertaan yang baru dalam kasih Tuhan. Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia yang hidup kudus. Ia layak menjadi Penebus kita karena Ia memenuhi semua tuntutan Alkitab. Tidak ada seorang pemimpin agamapun yang mampu dan layak melakukan ini semua kecuali Tuhan Yesus Kristus. Naomi memiliki pengharapan penebus. Ia mau Boas menikah dengan Rut. Dari pasangan ini Obed dilahirkan. Daud berasal dari garis keturunan ini. Yesus Kristus kemudian lahir dari garis keturunan Daud. Inilah iman yang bersifat futuris dan menerobos. Kita harus mengucap syukur sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Melalui Perjamuan Kudus kita diingatkan bahwa Yesus sudah mati bagi dosa-dosa kita. Di dalam iman kita harus bersikap dengan benar. Kita sebenarnya tidak layak mendapatkan penebusan itu, namun kita ditebus oleh-Nya. Maka dari itu kita harus menghargai apa yang Tuhan lakukan bagi kita dengan menjalankan setiap komitmen kita yang baru di dalam Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami