Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 3)

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 3)

Categories:

Khotbah Minggu 28 Juni 2020

Pengharapan dalam Perjuangan (3)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas bagian yang ketiga dari tema ‘Pengharapan dalam Perjuangan’. Kita sudah membahas bagian pertama dan bagian ‘Pengharapan yang Hidup’. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Pengharapan yang Dikuduskan (atau yang Diselaraskan dengan Kehendak Tuhan) di tengah pandemi Covid-19 yang menyulitkan ini. Kita akan melihat Yeremia 29:11, Amsal 23:18, Mazmur 147:11 (bandingkan Mazmur 33:18), dan Amsal 3:5-6.

 

 

PENDAHULUAN

 

Pernahkah kita mengalami kegagalan dalam menggenapkan pengharapan atau keinginan kita? Apa yang menyebabkan harapan kita yang kelihatannya baik namun gagal menurut Alkitab? Hal yang baik menurut kita belum tentu benar. Apa yang kita pikir benar juga belum tentu mulia. Kita tidak hanya melihat apa yang mulia tetapi juga apa yang sempurna di mata Tuhan. Jadi ada tahapan dalam bagian ini: baik, benar, mulia, dan sempurna. Mungkinkah penyebabkan karena tidak selaras dengan kehendak Tuhan? Dan bagaimana supaya pengharapan kita selaras/dikuduskan sesuai dengan kehendak Tuhan? Roma 12:2 menyatakan tentang pembaruan akal budi sehingga kita bisa mengerti apa yang baik dan sempurna di mata Tuhan. Mengapa Tuhan senang dengan orang yang takut akan Dia dan pengharapannya pada kasih setia Tuhan? Kita akan membahas hal ini.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Mengapa Allah senang kepada orang-orang yang hidupnya takut akan Dia?

 

            Di dalam Alkitab dicatat banyak tokoh yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Mereka bisa memiliki latar belakang yang buruk dan keluarga yang kurang baik, namun Tuhan memakai mereka semua. Tuhan tidak melihat harta, kemuliaan, dan kepintaran mereka. Hal yang mereka punya adalah hati yang takut akan Tuhan. Hati yang takut akan Tuhan adalah esensi iman Kristen yang hidup. Jadi iman kita dinilai dari aspek takut akan Tuhan yang melebihi rasa takut akan hal yang lain di dunia ini. di dalam masa pandemi ini banyak orang menyatakan takut akan kematian. Namun tidak sedikit di antara mereka yang ketakutan berlebihan. Di sisi yang lain ada orang-orang yang terlalu berani sampai mencobai Tuhan. Jadi takut akan kematian tanpa iman membuat kita berdosa, dan terlalu berani sampai mencobai diri itu juga berdosa. Jadi kita berada di tengah, yaitu kita bersandar pada Tuhan dan bukan pada diri. Kita lebih takut kepada Tuhan daripada takut kepada ancaman dunia. Kunci keberhasilan iman adalah selalu mau menggenapkan apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

 

            Orang yang takut akan Allah itu takut berbuat dosa (bandingkan Kejadian 39). Kakak-kakak Yusuf menyakiti Yusuf. Pertama-tama mereka memisahkan Yusuf dari keluarganya, memasukkannya ke dalam lubang, dan kemudian menjualnya. Namun semua itu dihadapi Yusuf dengan emosi yang suci. Dikatakan bahwa apapun yang Yusuf lakukan itu berhasil karena ada penyertaa n Tuhan. Jadi kita mengerti bahwa Yusuf adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah pertama-tama dalam dirinya sendiri. Dia tidak dendam, tidak marah, dan tidak memanipulasi situasi. Ia tidak meminta dipulangkan. Mengapa Tuhan menyertai Yusuf? Karena dia bisa mengelola semua masalah tanpa menyakiti hati Tuhan. Di dalam hal ini ada pengudusan emosi, pengudusan motivasi, dan pengudusan pencapaian berdasarkan pimpinan Tuhan atas Yusuf. Yusuf dijadikan pemimpin besar di Mesir. Sebelumnya ia tidak tahu akan hal ini secara spesifik. Ia tidak tahu sebelumnya bahwa ia harus terpisah dari keluarganya terlebih dahulu. Ia tidak mengerti sebelumnya bahwa Tuhan mengizinkan dirinya menjadi budak dan narapidana terlebih dahulu untuk melatih iman dan mentalnya. Semua itu ia tidak tahu, namun ia menjalani semuanya tanpa dosa. Itulah kunci mengapa dikatakan bahwa Tuhan berkenan pada Yusuf. Ia tidak mau jatuh dalam dosa. Ia tidak berzinah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ia memuliakan nama Tuhan.

 

            Ibrani 12:14 berbicara mengenai mengejar kekudusan. Allah itu kudus dan orang yang mencintai hidup damai serta mengejar kekudusan akan melihat pimpinan Tuhan. Bagi Yusuf kedamaian itu adalah suatu hakekat yang ia dapatkan dari Allah. Ia tidak suka kekacauan dan kebencian karena ia menyukai kedamaian. Bukan hanya itu saja, ia juga mengejar kekudusan. Inilah pesan dalam Ibrani 12:14. Jadi memiliki pengharapan itu baik, namun jika karakter tidak menunjang maka Tuhan akan menggagalkan. Tuhan bisa menghentikan anak-anak Tuhan jika hidupnya menjadi batu sandungan dan mencemarkan nama Tuhan. Tuhan bisa sampai menghentikannya secara jasmani namun menyelamatkan jiwanya. Ini adalah suatu keadilan Tuhan. Kita bisa menilai apa yang baik berdasarkan rasio dan pengalaman kita, namun ketika semuanya gagal, kita harus menyelidiki kembali pengharapan kita. Kita harus melihat kembali karakter kita. Yusuf mencintai hidup damai. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ia pernah konflik dengan pekerja-pekerja di tempat Potifar maupun penjara. Ketika ia sudah menjadi pemimpin di Mesir, tidak pernah dikatakan bahwa ia berkonflik dengan orang lain. Kita yang sudah diperdamaikan dengan Kristus juga sudah memiliki damai dalam diri. Kita juga dipanggil untuk berdamai dengan orang-orang di sekitar kita. Kita harus menjadi agen damai. Kunci yang pertama adalah kita mengejar kekudusan di dalam segala aspek untuk kita bisa mengerti pimpinan Tuhan sehingga Tuhan berkenan.

 

            Kedua, orang yang takut akan Allah memiliki ketaatan total kepada Allah (Ibrani 11:7). ‘Taat’ bisa berarti ‘Tuhan Allah berfirman’, ‘aku mendengar dan aku melakukan apa yang aku bisa’, dan ‘Tuhan melakukan apa yang aku tidak bisa lakukan’. Ibrani 11:7 mencatat tentang kisah Nuh. Dalam Kejadian 5 dikatakan bahwa umur Nuh 500 tahun ketika ia mendapatkan visi dari Tuhan. Sebelumnya ia sudah mendapatkan tiga anak. Setelah itu kejadian 6 dan 7 Alkitab menyatakan bahwa ia masuk ke dalam bahtera. Ada catatan yang menyatakan bahwa Nuh membangun bahtera selama 100 tahun. Ada yang menyatakan 120 tahun. Kalau kita berada di posisi Nuh, kita bisa saja ragu. Ini karena ia tidak pernah melihat kapal. Tempat tinggal Nuh itu begitu jauh dari pantai. Ia tidak pernah melihat kapal namun harus membangun kapal. Kita bisa berimajinasi karena ada contoh, namun Nuh tidak punya contoh. Kedua, Nuh diberitahu bahwa kapal itu harus dibuat karena akan ada banjir. Namun Nuh tidak pernah mengalami banjir. Saat itu irigasi begitu baik sehingga tidak ada banjir. Jadi ketika Tuhan menyatakan bahwa air bah akan datang, Nuh tidak punya bayangan. Ketiga, Nuh tidak pernah bergaul dengan hewan. Tuhan memerintahkan dia untuk membawa hewan sepasang-sepasang. Semua ini tidak pernah ia pikirkan dan alami sebelumnya. Namun Nuh taat total mengerjakan semua itu. Ini semua dikerjakan bukan hanya dalam 1-2 tahun tetapi 100 tahun lebih. Jadi bagian besar hidupnya dipakai untuk mengerjakan kehendak Tuhan.

 

            Dalam kondisi itu Nuh bisa saja ragu dan mempertanyakan kehendak Tuhan. Nuh bisa saja bertanya mengapa dunia menjadi begitu jahat dan Tuhan tidak meredam. Nuh tidak mempertanyakan visi Tuhan. Saat itu Tuhan mau menciptakan generasi yang baru dari Sem, Ham, dan Yafet. Ada turut campur Tuhan dalam menyeleksi alam dan manusia. Terkadang Tuha n memakai kematian. Tuhan menciptakan segala sesuatu, namun hanya manusia yang memiliki akal budi. Tetapi akal budi manusia sudah berzinah sehingga keadilan Tuhan harus dinyatakan. Ketika manusia sudah menutupi hati nurani dan tidak mau kembali kepada Tuhan, Tuhan bisa memberikan kematian. Tuhan bisa memunculkan satu generasi yang baru yang bisa melihat kemuliaan Tuhan. Tindakan Nuh dalam membangun kapal itu pasti menyenangkan hati Allah. Nuh bukan ahli pembuat kapal. Ia tidak pernah secara khusus sekolah tentang hewan. Namun saat kapal itu mendarat, Alkitab tidak mencatat kematian hewan di dalamnya satupun. Mengapa demikian? Ada penyertaan Tuhan bagi Nuh dan keluarga sehingga semuanya bisa diatur dengan baik. Nuh boleh disebut sebagai pawang di atas segala pawang dan ahli kapal di atas segala ahli kapal. Ia mengatur segala hal dengan baik. Tidak ada target atau pengaturan yang salah oleh Nuh.

 

            Mengapa Allah bisa berkenan pada seseorang? Karena orang itu kudus dan selalu taat. Orang itu tidak memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan dirinya. Sebagai orang tua, kita pasti senang kalau anak kita membawa damai dan terus hidup kudus. Kita pasti senang pada anak yang taat kepada Tuhan dan bertanggung jawab dalam seluruh tugasnya. Tidak ada orang tua yang senang pada anak yang hidupnya kacau dan berdosa. Kalaupun ada orang tua yang senang pada anak yang demikian, maka ada yang salah pada pikiran orang tua itu.

 

 

2) Apa artinya berharap pada kasih setia Tuhan?

 

            Alkitab berkata bahwa Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Orang yang demikian selalu membangun pengharapan dan kasih setia kepada Tuhan. Ketika kita berharap kepada kasih setia Tuhan, maka kita percaya sepenuhnya pada janji-janji Tuhan untuk umat-Nya (bandingkan Mazmur 23) dan bukan pada janji manusia. Mazmur 23 itu wajib dihafalkan oleh tentara-tentara Amerika. Ketika mereka akan menghadapi kematian, mereka sudah tahu akan Mazmur ini. Dalam bagian ini kita diingatkan bahwa Allah adalah sumber hidup dan pemeliharaan kita. Tuhan akan menuntun dan mencukupkan hidup kita. Tuhan juga memberikan iman yang cukup agar kita bisa menghadapi setiap tantangan. Di tengah kesulitan Tuhan akan memegang kita. Kita akan diberikan damai sehingga kita bisa makan di hadapan musuh kita. Ketika kita menghadapi maut, maut itu tidak dapat menghancurkan iman kita. Kita akan siap menghadapi itu semua karena Tuhan menyertai iman kita. Kita berharap akan kasih setia Tuhan dalam pandemi Covid-19 ini. Pengharapan kita adalah kepada janji Tuhan yang tidak mungkin meninggalkan dan membiarkan kita. Tuhan pasti menolong kita di kala kita lemah. Ia memberikan hikmat yang cukup bagi kita. Keselamatan dari Tuhan itu melampaui pikiran kita. Ketika Tuhan mengizinkan kematian kita, kita akan melihat kepada Tuhan sebagai sumber pengharapan kita. Kita bisa mati namun kita akan bersama-sama dengan Tuhan di surga.

 

Jadi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Tuhan tidak akan pernah menggagalkan pengharapan kita yang selaras dengan kehendak Tuhan. Ketika pengharapan kita digagalkan oleh Tuhan, kita akan melihat itu sebagai hal yang baik karena pengharapan kita ternyata tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Ketika apa yang baik itu belum diberikan juga, kita tahu bahwa waktunya memang belum tiba. Jadi kita tidak membangun pengharapan berdasarkan janji manusia. Di dalam situasi pandemi ini kita tidak berhadap kepada para peniliti, ilmuwan, pejabat, atau siapapun juga. Hal yang sungguh indah adalah ketika kita membangun pengharapan kepada Tuhan yang tidak mungkin mengecewakan kita. Berkali-kali ada berita yang menyatakan bahwa vaksin akan segera ditemukan, namun pada kenyataannya belum ada vaksin satupun juga. Apa artinya? Tuhan masih mau mengajar manusia melalui pandemi ini. Flu Spanyol mewabah selama 2 tahun, namun setelah itu manusia tetap sombong. Manusia kembali berperang setelah itu, bahkan perang yang terjadi semakin besar. Ketika manusia saling membunuh dengan senjata, akhirnya Tuhan memberikan flu Spanyol. Di masa ini kita juga melihat konflik antar negara. Jika para pemimpin tidak melihat bahwa Tuhan sedang bekerja di tengah pandemi ini dan mereka masih berbuat sesuka hati mereka, maka Tuhan akan menghukum mereka. Jadi kita membangun pengharapan kepada kasih setia Tuhan yang tidak pernah mengecewakan dan meninggalkan kita. Kita bisa tersenyum dengan penuh syukur karena melihat Tuhan yang setia. Itulah penghiburan yang terpenting.

 

 

3) Pengharapan yang dikuduskan

 

Jika ada masa depan yang selalu baik untuk setiap anak Tuhan dan pengharapan yang tidak akan hilang (Amsal 23:18), maka mengapa banyak anak Tuhan sering mengalami kegagalan dalam hal ini? Apa solusinya menurut Alkitab? Yeremia 29:11 menyatakan bahwa rancangan Tuhan adalah damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Rancangan Tuhan adalah untuk masa depan yang lebih baik. Namun kita bisa bertanya di tengah situasi yang sulit: mengapa damai, pengharapan, dan masa depan itu belum datang juga? Solusi menurut Alkitab adalah pengharapan kita harus dikuduskan. Pengharapan bisa menjadi sumber konflik dalam relasi. Ketika semua saling memaksa, maka masalah akan timbul. Ketika pengharapan yang salah itu menjadi yang utama sehingga manusia tidak peduli kepada manusia lainnya, di saat itu manusia sudah menjadi budak keinginannya. Di sana manusia menganut mental Setan. Ketika pengharapan kita gagal dan keinginan yang baik itu gagal, kita harus merenungkan tentang pengudusan pengharapan. Dalam masa pandemi ini kita sudah mengalami retret selama kurang lebih 100 hari. Kita harus mengerti tentang pengharapan yang dibangun bukan berdasarkan apa kata orang lain/pengertian sendiri: tidak menangkap visi Tuhan (Amsal 3:5).

 

Dalam Kejadian 13, ketika Abraham menawarkan Lot kesempatan pertama untuk memilih tanah yang ia mau pakai sebagai tempat tinggal, Lot memilih Sodom dan Gomora. Tempat itu begitu subur. Menurut pengertian manusia, itu adalah tempat yang baik. Lot pasti melihat bahwa tanah itu baik untuk dia membangun usaha. Tanah yang subur itu menjanjikan kesuksesan. Mungkin juga saat itu Lot merasa dirinya bisa lebih berhasil daripada Abraham secara ekonomi karena tanah itu. Namun ketika kita memutlakkan pengertian manusia dan membangun pengharapan berdasarkan itu, maka kita pasti kecewa. Apa yang terjadi pada Lot setelah itu? Kejahatan Sodom dan Gomora begitu besar sampai Tuhan memusnahkan kedua tempat itu. Jadi sebelumnya tempat itu terlihat begitu indah dan menjanjikan, namun ternyata setelah itu ada malapetaka yang terjadi. Di balik setiap kesempatan mendapat uang lebih banyak, di sana ada para pencinta uang yang tidak takut akan Tuhan. Abraham tidak mendapatkan tanah yang subur seperti Lot. Dari pandangan manusia, kita bisa menilai bahwa Abraham tidak mungkin berhasil. Namun dengan adanya penyertaan Tuhan, Abraham berhasil. Jadi pengharapan kita harus dikaitkan dengan Tuhan. Kita terkadang berharap akan sesuatu berdasarkan kesenangan kita sendiri dan pencapaian-pencapaian lahiriah, namun semua itu akan mengecewakan. Sodom dan Gomora sebagai pusat dosa itu dihancurkan oleh Tuhan. Pengharapan kita harus dikuduskan. Segala pengharapan yang berfokus pada diri sendiri pasti gagal.

 

Dalam pengharapan yang dikuduskan, kekuatan rasio kita harus ditundukkan pada kehendak Tuhan sampai kita mengakui Tuhan dalam setiap jalan kita (Amsal 3:6, bandingkan Yakobus 4:7). Yakobus 4:7 mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah dan melawan Iblis agar ia lari dari kita. Iblis menunggangi keinginan kita agar kita mengikuti kemauan dunia dalam seluruh penghiburannya. Kalau kita mulai bersahabat dengan segala kesenangan dunia, salah satunya dengan kesenangan di media sosial, dan kita tidak sadar bahwa itu ditunggangi oleh Setan, maka kita bisa dibawa ke dalam dosa. Dalam hal ini kita harus waspada. Semua itu bisa memberikan kepuasan namun menjauhkan kita dari Tuhan. Di sana jiwa kita akan semakin kosong dan kita menjadi lebih mementingkan diri sendiri. Kita harus sadar bahwa ada dosa rasio. Rasio kita bisa menjadi pelacur atau pezina. Kita bisa menjual diri, bukan secara fisik tetapi secara fantasi. Kita bisa mengkhayalkan hal-hal yang tidak pantas dan terbawa ke dalam dosa. Setan itu begitu kreatif dalam merusak iman kita. Ia bisa memakai hal-hal yang tampaknya biasa saja namun sebenarnya berbahaya. Dosa dalam pikiran itu menghalangi kita untuk mengerti apa yang Tuhan mau.

 

Di Gereja Filipi, ada dua perempuan yang konflik yaitu Euodia dan Sintikhe. Memang Alkitab berkata bahwa pemimpin itu sebaiknya pria. Pria lebih cenderung menggunakan rasio daripada perasaan. Solusinya tertulis dalam Filipi 4:8 yaitu perintah untuk memikirkan apa yang benar, mulia, adil, suci, bijak, serta patut dan sedap didengar. Konflik bisa terjadi karena manusia memikirkan dirinya sendiri dan memaksa orang lain mengikuti kemauan diri sendiri. Namun sebagai orang Kristen kita harus memikirkan apa yang Tuhan pikirkan. Terkadang rasio kita yang berdosa itu membuat kita tidak bisa memikirkan kehendak Tuhan. Jadi kita harus waspada terhadap dosa rasio dan keinginan. Pikiran yang kotor perlu dikuduskan. Kita harus menggunakan rasio, namun rasio itu pertama-tama harus ditundukkan di bawah pimpinan Tuhan sehingga selaras dengan tujuan Tuhan. Iman memimpin rasio dan rasio memimpin perasaan. Gabungan ini mengarahkan hidup kita.

 

Jika semua ini sudah selaras, maka Tuhan meluruskan jalan kehidupannya (Amsal 3:6b). Ketika pengharapan kita sudah dikuduskan dan selaras dengan kehendak Tuhan serta rasio kita sudah ditundukkan di bawah pimpinan Tuhan, maka Tuhan akan meluruskan jalan kita. Tuhan akan bekerja dalam hati nurani kita sehingga kita tidak berjalan serong. Ketika pengharapan dan rasio kita sudah dikuduskan, hati kita akan menjadi mudah untuk diajar. Ini karena kita akan memiliki kepekaan berdasarkan iman, bukan perasan. Nuh taat kepada Allah dan Allah memberitahukan kepadanya hal-hal di masa depan. Orang lain tidak tahu akan hal itu namun Nuh tahu dan ia taat total. Nehemia menangkap visi Tuhan untuk membangun tembok Yerusalem sehingga ia rela meninggalkan jabatannya di kerajaan saat itu. Kita bisa lemah dalam berpikir, lemah dalam mengelola emosi, dan lemah dalam bertindak. Namun kalau kita terus menjadi murid kebenaran dan terus mengandalkan Tuhan maka Allah Roh Kudus akan terus meluruskan jalan kita sesuai dengan jalan Tuhan. Terkadang ketika Tuhan mau meluruskan jalan kita, rasanya itu menyakitkan. Namun itulah cara Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada kita. Ini agar kita mementingkan apa yang Tuhan mau dan bukan kemauan kita. Apapun ketika diluruskan, misalnya pohon, bisa berisiko patah. Hal-hal yang buruk juga bisa timbul pada pohon itu ketika sedang diluruskan. Itu pasti menyakitkan. Ketika kayu itu dipahat, maka kayu itu harus merasakan sakit. Namun setelah kayu itu menjadi ukiran yang indah, maknanya akan terlihat. Ketika Tuhan membentuk kita, itu mungkin menyakitkan, namun pada akhirnya akan terlihat keindahan. Jadi kita harus siap untuk dibentuk oleh Tuhan.

 

Pengharapan kita terus dikuduskan sampai kita berani mengakui dan melibatkan Tuhan dalam seluruh tindakan kita. Kita harus mengakui jalan Tuhan sampai rencana Tuhan itu tergenapkan dalam hidup kita. Di dalam setiap tantangan kita harus meminta hikmat dari Tuhan agar kita bisa terus melangkah maju. Kita bukanlah orang-orang yang dimatikan oleh situasi tetapi menerobos situasi karena pimpinan Tuhan. Kita bukanlah orang-orang yang pasrah karena kita memiliki pengharapan dalam Tuhan. Kita haru mengakui kedaulatan-Nya, meminta jalan-Nya, dan meminta penyertaan-Nya supaya dalam kesulitan pun kita bisa bercahaya. Ester bisa bekerja sama dengan Mordekhai dan melibatkan Tuhan agar akhirnya bangsa Israel terselamatkan. Jadi kita perlu melibatkan Tuhan, juga dalam situasi yang sulit. Kita perlu mengalami pengudusan motivasi, pengudusan emosi, dan pengudusan pencapaian. Ester tidak hanya menikmati posisinya sebagai permaisuri. Ia mau merisikokan dirinya untuk bangsanya. Segala sesuatu harus kita doakan terlebih dahulu. Jika ada motivasi yang salah maka kita harus berdoa agar motivasi kita dikuduskan. Kita meminta pengudusan emosi agar kita bisa menghadapi segala hal dengan sikap yang baik. Kita juga memohon pengudusan pencapaian agar kita tidak sombong. Di masa pandemi ini jika kita masih bisa terus berkarya maka itu adalah anugerah Tuhan. Tuhan memberikan banyak pelajaran juga melalui masa pandemi ini.

 

 

 

KESIMPULAN

 

            Pengharapan manusia harus diselaraskan dengan pengharapan Tuhan. Kita tidak memutlakkan pengharapan berdasarkan keinginan kita yang lama. Banyak orang tua memaksakan anaknya menjadi apa yang orang tuanya tidak bisa capai di masa mudanya. Ada juga orang tua yang ingin membalas dendam dengan menggunakan anak-anaknya. Kita tidak boleh seperti itu. Tuhan membentuk setiap anak secara unik dan kita harus menyerahkan anak-anak kita ke dalam rencana Tuhan. Rasio yang belum dikuduskan atau ditundukkan pada kehendak Tuhan adalah racun atau penghalang kita untuk mengerti kehendak Tuhan. Rasio bisa menjadi racun dan menjadi pezina, jadi harus ditundukkan di bawah kehendak Tuhan. Pengharapan di dalam Tuhan harus senantiasa dikuduskan. Ini agar kita tidak menyeleweng. Salomo awalnya begitu setia kepada Tuhan, namun seiring waktu ia melenceng. Jadi kita harus berhati-hati. Kita selalu membutuhkan teguran dari Tuhan. Ini semua supaya jalan kita sesuai dengan jalan Tuhan yang penuh damai.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami