Pengantin Darah (Musa)

Pengantin Darah (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 4:25-26

 

Pendahuluan

Pernakah kita lalai sebagai orang tua dalam menjalankan tanggung jawab kita terhadap anak-anak berkaitan dengan perintah Tuhan? Di sini Musa lalai. Ia sudah tahu bahwa di dalam perintah Tuhan kepada Abraham, anak laki-laki harus disunat pada hari ke-8. Kelalaian yang kecil ini ternyata bisa berakibat fatal. Kita belajar untuk tidak menyepelekan dan tidak menganggap penting perintah Tuhan. Oleh karena itu kita harus membaca Alkitab setiap hari. Pembacaan Alkitab setiap hari itu seperti hal yang sepele namun itu penting di mata Tuhan. Berdoa adalah kegiatan yang terlihat mudah namun sering dilalaikan, padahal itu penting bagi Tuhan.

Mengapa Tuhan ingin membunuh Musa (bandingkan Kejadian 17:7-14)? Abraham diminta untuk menyunatkan setiap anak laki-laki di rumahnya termasuk budak-budaknya. Jika tidak disunat maka hukumannya adalah kematian. Mengapa ini dianggap penting? Yang terpenting bukanlah cara penyunatan tetapi nilai substansi iman orang percaya. Orang tua yang menyunatkan anaknya berarti mempersembahkan anaknya bagi Tuhan. Ini adalah anak perjanjian dan suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan umat-Nya. Di sini orang tua harus mendidik anak secara iman dan bukan hanya lahiriah.

Apakah Musa tahu bahwa perjanjian antara Tuhan dengan Abraham itu mutlak penting? Musa tahu. Mengapa ia tidak segera melakukannya? Alkitab mencatat bahwa Musa pada umur 40 tahun menolak untuk disebut sebagai putra dari putri Firaun (Ibrani 11:24). Ia pergi ke Midian dan bertemu dengan Yitro serta menikah dengan Zipora dan mendapatkan 2 anak (Keluaran 2:15-22). Saat Musa berumur 80 tahun, Gershom sudah cukup dewasa. Alkitab menyatakan bahwa Musa adalah orang yang paling lembut hatinya (Bilangan 12:3). Ia memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan. Namun dalam bagian ini kita tahu bahwa Musa masih tidak peka dan masih berada dalam proses Tuhan. Musa lembut hati maka dari itu ia tidak peka dan tidak memaksa istrinya untuk menyunat anaknya sebelumnya. Jadi ada sisi baik dan tidak baiknya.

Mengapa Musa lalai dalam menjalankan penyunatan terhadap Gersom? Dan mengapa Zipora yang melakukan penyunatan ini? Siapa yg terancam? Jika kita membaca berdasarkan Kejadian 17:7-14, maka yang seharusnya terancam adalah Gersom lalu Musa.

 

Pembahasan

Mengapa Allah mau membunuh Musa? Bisakah Allah memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum membunuhnya? Tuhan pasti sudah memperingatkan Musa berkali-kali untuk menyunatkan anaknya seperti perintah-Nya kepada Abraham namun Musa menolak perintah itu. Bukankah Musa sedang diutus Allah ke Mesir? Mungkinkah misinya gagal? Mungkin, namun kita percaya bahwa rencana Tuhan tidak mungkin digagalkan oleh manusia. Musa sebagai pemimpin harus menyatakan keteladanan yang sempurna. Ini dianggap penting oleh Tuhan karena sunat adalah tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham sebagai tanda perjanjian iman. Jumlah anak bukanlah yang terpenting. Tuhan mengajarkan Abraham untuk pertama-tama bukan melihat jumlah anak tetapi kualitas anak. Kualitas itu dibangun dari iman orang tua itu sendiri. Jadi pernikahan membutuhkan iman. Mendidik anak pun perlu iman. Anak bukanlah sekadar buah cinta tetapi juga buah iman. Orang tua Kristen harus memikirkan dan merencanakan masa depan anak untuk kemuliaan Tuhan. Tanda perjanjian adalah tanda penyertaan Tuhan jikalau anak itu disunat. Tugas orang tua adalah mendidik anak namun orang tua tidak mungkin sanggup menyingkirkan pengaruh lingkungan di sekeliling anak. Namun kita percaya bahwa anak-anak kita adalah milik Tuhan dan kita sebagai orang tua sudah menyerahkan mereka kepada Tuhan. Jadi penyunatan pada hari ke-8 bukanlah hal sepele. Di dalam Perjanjian Baru tidak ada lagi penyunatan karena diganti menjadi baptis anak. Secara substansi kedua hal itu sama. Keduanya tidak menyelamatkan namun substansinya sama. Kedua hal ini menyatakan iman orang tua dalam membesarkan anak. Bagaimana jika hal ini dilalaikan? Konsekuensinya adalah hukuman mati (Kejadian 17:7-14). Tuhan sudah banyak bersabar karena sampai Musa berumu 80 tahun lebih perintah ini belum dilaksanakan. Jadi Tuhan sudah menunggu cukup lama namun Musa tidak peka. Di tengah jalan Tuhan ingin membunuh Musa namun Zipora peka akan hal ini.

Mengapa Musa lalai menjalankan perintah sunat ini? Bukankah perintah ini sangat penting? Zipora menolak sunat terhadap bayi. Mungkin karena ia tidak tega. Di dalam budayanya Zipora tidak pernah melihat anak bayi disunat sehingga bayi itu berdarah dan menangis. Perasaan tidak tega itu bisa membuat kita berkompromi. Dalam ilmu medis, pembekuan darah yang terbaik pada bayi adalah ketika bayi berumur 8 hari. Oleh karena itu para peneliti mengakui bahwa hari ke-8 adalah hari yang terbaik untuk menyunatkan bayi. Zipora sebagai orang Midian menolak untuk menyunatkan anaknya. Di sini Musa tidak berani memaksa dan akhirnya membiarkan. Hal ini akhirnya dibiarkan selama bertahun-tahun sampai Musa diutus ke Mesir. Ternyata di dalam pengutusan itu Tuhan menuntut ketaatan dan tanggung jawab. Musa melupakan perintah sunat itu sehingga akhirnya ia terancam dibunuh. Dalam peristiwa ini, nyawa siapa yang sebenarnya terancam: Musa atau Gersom? Seharusnya nyawa Gersom-lah yang terancam berdasarkan (Keluaran 17:7-14). Jadi mengapa Allah ingin membunuh Musa? Musa adalah pemimpin dan Tuhan menuntut kesempurnaan dari Musa sebagai pemimpin dari keluarganya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? (1 Timotius 3:5). Musa belum menjadi teladan dalam mengatur keluarganya dengan baik di mata Tuhan. Ini membuat Tuhan marah dan mau membunuh Musa. Zipora peka dalam hal ini dan ia adalah istri yang baik. Ia mengasihi keluarganya sehingga ia melakukan perintah itu. Bagaimana Zipora tahu cara menyunat dengan baik? Ia pasti belajar dari Musa. Ia juga belajar memakai pisau yang sudah dibakar. Gersom saat itu pasti sudah dewasa namun tanpa ada diskusi Zipora langsung menyunat Gersom. Itu adalah detik-detik yang genting. Zipora juga tidak berdiskusi lagi dengan Musa tetapi langsung menjalankan perintah Tuhan.

Zipora kemudian menyebut Musa sebagai pengantin darah. Setelah menyunat Gersom, ia meletakkan kulit khatan itu pada kaki Musa dan menyebut istilah itu (ayat 25). Bagaimana Zipora tahu istilah itu? beberapa penafsir menyatakan bahwa istilah itu berarti kepemilikan melalui nilai pengorbanan. Pada akhirnya kita akan bertemu tatap muka dengan Yesus. Dalam pertemuan itu kita akan mencapai kepuasan yang tertinggi dan kita akan disebut sebagai mempelai wanita Kristus. Istilah pengantin darah itu mengingatkan kita akan perintah sunat. Di sana darah tercurah dan itu mengingatkan nilai perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Di dalam baptis anak tidak ada darah yang dicurahkan, namun ada substansi yang sama yaitu orang tua menyerahkan anaknya untuk dibaptis dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus sehingga anak menjadi milik Allah. Di sana kita mengingat bahwa Tuhan Yesus Kristus sudah berkorban bagi kita semua. Di sini kita tahu bahwa Zipora mempelajari teologi dan ia mengerti bahwa umat Allah disebut sebagai biji mata Allah (Ulangan 32:10). Umat-Nya begitu dekat dengan Allah. Israel juga disebut sebagai anggur Allah (Yesaya 5:7) dan itu menggambarkan kedekatan. Pengantin darah itu adalah Musa. Ada yang menafsir bahwa pengantin darah itu adalah Zipora karena Musa akan menjadi pemimpin yang besar dan pernikahannya harus dikuduskan. Namun Alkitab sendiri menyatakan bahwa Musa-lah pengantin darah itu. Bagaimana Zipora tahu bahwa Allah hendak membunuh Musa? Kepekaan Zipora tidak dicatat secara jelas, namun ia pasti tidak bisa melihat Tuhan karena Allah itu Roh. Allah itu suci adanya. Zipora bisa peka dan itu adalah hal yang luar biasa. Biasanya istri memiliki kepekaan yang lebih besar daripada suami dan kepekaan itu tidak bisa dimengerti dengan penalaran. Inilah kelebihan wanita namun kelebihan itupun perlu dikendalikan dan disucikan karena emosi bukanlah standar kebenaran. Musa pun tidak tahu bahwa Zipora sudah menyunat anaknya. Ia berhasil dalam pertolongan Tuhan.

 

Penutup

Apa yang dapat kita pelajari dari cerita ini? Kita mempelajari tentang pengantin darah dan tentang sunat. Sunat secara lahiriah di Perjanjian Lama tidak berlaku lagi. Di Perjanjian Baru diganti dengan sunat secara rohani yaitu dibaptis dalam Yesus Kristus (Kolose 2:11-13). Sunat diperintahkan dalam Perjanjian Lama dan baptis anak diperintahkan dalam Perjanjian Baru. Keduanya memiliki substansi yang sama. Dalam keduanya, orang tua menyerahkan anak ke dalam perjanjian dengan Tuhan sehingga menjadi milik Tuhan. Di dalam kelahiran barulah seseorang menjadi miliki Kristus dan mengalami baptisan penuh dalam Yesus Kristus. Jadi orang tua harus mendidik dalam iman dan terus mendoakan sampai anak itu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus secara pribadi dan mengalami baptisan secara rohani. Inilah mengapa baptisan itu sangat penting karena ini berbicara tentang iman dan perjanjian dengan Allah. Jika kita belum dibaptis, maka kita harus merencanakan untuk dibaptis. Baptisan air itu tidak menyelamatkan namun ini merupakan suatu pernyataan komitmen kita untuk percaya dan setia kepada Tuhan. Di sana kita berjanji untuk mau melayani Tuhan sebagai bagian dari tubuh Kristus.

Bagaimana dengan baptisan bayi? Ini penting karena menyangkut iman orang tua dalam mendidik anak secara iman dan tanggungjawab. Banyak orang tua Kristen berpikir bahwa anak hanyalah buah cinta dan bukan buah iman. 2 Korintus 6:14 menyatakan dengan tegas bahwa pernikahan itu menuntut kesatuan iman. Pasangan harus sama-sama percaya kepada Allah Tritunggal dan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Di dalam bagian ini tidak boleh ada kompromi. Di dalam pemberkatan nikah itu pasangan yang seiman dipersatukan oleh Allah Tritunggal. Allah menghendaki keturunan yang kudus dari persatuan ini (Maleakhi 2:15). Di sini orang tua harus mendidik secara iman dan melihat anak sebagai buah iman. Anak harus dibentuk agar semakin serupa dengan Kristus.

Jangan sampai kita menganggap kemarahan Allah terhadap Musa sebagai peristiwa yang remeh. Membaca, merenungkan, dan melakukan perintah Tuhan itu bukanlah hal yang remeh. Jika kita menganggap remeh, maka kita akan menerima konsekuensinya. Semua perintah Tuhan itu penting. Musa dituntut untuk menjadi seorang pemimpin bukan hanya dalam hal organisasi, kebangsaan, tetapi juga kerohanian. Itulah bagian yang terpenting. Ia harus memimpin bangsa Israel yang jumlahnya lebih dari 1 juta jiwa. Di sini Musa membutuhkan kekuatan yang melebihi kuasa manusia. Ia harus hidup benar dan menjadi teladan di hadapan Tuhan sehingga Tuhan memberkati dan menyertainya. Sekolah yang terpenting bukanlah sekolah akademis tetapi sekolah ketaatan kepada Tuhan. Terkadang kita melupakan hal ini sehingga tidak mendapatkan penyertaan Tuhan. melatih kepemimpinan secara organisasi itu mudah, namun melatih kerohanian pemimpin itu sulit dan membutuhkan pembentukan Tuhan. Musa harus hidup secara sempurna karena ia harus menjadi teladan rohani bagi semua yang mengikutinya. Dunia ini mengalami krisis teladan iman dan kita harus berdoa untuk hal ini. pengantin darah itu menunjukkan kepemilikan melalui pengorbanan. Tuhan Yesus Kristus sudah menebus kita dan memiliki kita. Ia sudah lahir, menyatakan karya-Nya di atas kayu salib, dan bangkit. Kita sudah disucikan oleh darah-Nya sehingga semua sudah lunas dibayar oleh-Nya. Kita sudah menjadi milik-Nya dan kita harus mempersembahkan seluruh hidup kita bagi Kristus. Kita harus sadar bahwa anak bukanlah milik kita tetapi titipan Tuhan. Di sini kita disadarkan agar tidak terjatuh dalam dosa ketika membesarkan anak. Banyak orang tua merasa memiliki anak dan tidak mau melepaskan anak untuk kemuliaan Tuhan. Kita harus menyerahkan semuanya termasuk anak-anak kita bagi Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami