Pemimpin yang Taat (Musa)

Pemimpin yang Taat (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 3:1-10 dan Matius 22:31-32

 

Pendahuluan

Setiap kita harus memiliki kairos panggilan. Jika kita tidak memiliki kairos panggilan, maka hidup kita akan datar. Jika hidup kita tidak dikaitkan dengan Tuhan maka hidup ini akan menjenuhkan. Meskipun seseorang bisa memiliki kekayaan yang besar, jika semua itu tidak dikaitkan dengan Tuhan maka sesungguhnya hidupnya sia-sia. Apa perbedaan kairos dan kronos? Apa itu kairos Tuhan? Kronos merupakan waktu kronologis yang mengikat kita di dalam seluruh hal yang kita lakukan. Namun kairos adalah waktu atau momentum Tuhan supaya kita melihat dinamika hidup di dalam pimpinan Tuhan dan bukan rutinitas. Segala hal yang berupa rutinitas bisa mendatangkan kejenuhan bagi kita. Segala hal yang bersifat rutin tanpa kairos dan pimpinan Tuhan akan membuat kita tidak lagi melihat kebesaran Tuhan dalam seluruh kehidupan kita. Jadi kairos itu penting agar hidup kita memiliki momentum. Momentum itu melampaui kronos. Ia muncul pada saat tertentu dan bisa menyegarkan kita. Kairos itu mendorong dan memberikan kita kekuatan untuk terus bersemangat. Kita merindukan kairos itu ada di dalam kehidupan kita. Kita mau agar hidup kita diisi dengan momentum-momentum itu di dalam penyertaan Tuhan. Mengapa Tuhan memanggil Musa di saat umurnya sudah 80 tahun? Bukankan ini umur yang sudah tua? Ia memang sudah tua pada saat itu. Selama 40 tahun ia tinggal di istana Firaun. Selama itu ia menikmati fasilitas dan kenikmatan Mesir. Setelah membunuh orang Mesir yang menyiksa saudaranya, ia pergi dari Mesir. Ia rela menderita bersama dengan orang-orang Ibrani. Dengan iman ia tidak mau disebut sebagai putra dari putri Firaun (Ibrani 11:24-26). Pada 40 tahun berikutnya Musa hidup sebagai gembala kambing domba.

Mengapa Tuhan mengizinkan Musa selama 40 tahun tinggal di istana Firaun dan 40 tahun menjadi gembala ternak? Selama ia berada di istana Firaun, Musa belajar tentang kepemimpinan. Selama ia berada di padang, ia belajar tentang kerendahan hati dan kasih. Ada penelitian yang menyatakan bahwa kasih dan perhatian anak bisa dilatih dengan memberikannya hewan peliharaan untuk dirawat olehnya. Di sana anak belajar bertanggung jawab dan dilatih hati nuraninya. Ketika hewan peliharaannya mati, di sana anak dilatih kesedihannya. Jadi Tuhan mengajarkan Musa dalam sekolah kepemimpinan dan sekolah hati. Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya adalah gembala yang baik (Yohanes 10:11). Domba-domba mendengarkan suara gembalanya dan Tuhan berjanji akan memimpin mereka ke rumput hijau dan mencari domba yang hilang (Yohanes 10:3, Lukas 15:4, dan Mazmur 23:2). Allah mengajarkan Musa melalui pekerjaan Musa yaitu menggembalakan kambing domba selama 40 tahun. Apakah panggilan Allah ini langsung dijalankan oleh Musa? Tidak. Mengapa demikian? Bukankan Allah sudah memanggil dia dengan cara yang luar biasa yaitu melalui semak duri yang menyala? Musa tetap menolak. Ia melihat dirinya sudah tua dan lemah. Ia melihat dirinya bukan dengan kerendahan hati tetapi dengan kerendahan diri. Musa tidak melihat Allah yang besar tetapi melihat diri yang lemah. Berapa kali Musa menolak panggilan Allah? 5 kali. Musa mengutarakan berbagai alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Ada penafsir yang menyatakan bahwa jumlah orang Israel saat itu mencapai 2 juta orang. Ini membuat Musa yang sudah tua itu gentar. Sesungguhnya Musa masih cukup kuat karena ia masih bisa naik ke gunung Horeb pada umur 80 tahun sambil menggembalakan kambing domba. Kita bisa belajar dari Musa yang masih mau bekerja fisik seperti ini.

Pembahasan

Mengapa Allah memanggil Musa melalui sarana bara api dari semak-semak? Sebagai gembala, ketika Musa pergi ke padang gurun di musim panas, ia biasa melihat semak berduri yang terbakar secara alami. Di sana ia bisa mencium bau semak yang terbakar. Ia juga biasa melihat warna api dan perubahan warna dari semak yang terbakar. Namun saat Allah memanggilnya, ia melihat semak duri yang terbakar namun tidak tampak hangus dan tidak berbau hangus (Keluaran 3:2). Mengapa Musa mau memeriksa penglihatan yang hebat itu? Ini pemandangan yang luar biasa baginya. Maka dari itu ia mendekati semak itu untuk memeriksanya. Di sanalah kemudian Allah berbicara dengan Musa. Mengapa Musa menyebut gunung Horeb sebagai gunung Allah? Setelah peristiwa panggilan itu, Musa menyebutnya sebagai gunung Allah karena ia melihat kehadiran Allah di sana. Ia diminta untuk melepaskan kasutnya karena tanah yang diinjaknya adalah tanah yang kudus. Dikatakan dalam ayat 2 bahwa di dalam nyala api itu ada Malaikat Tuhan. Siapa Malaikat yang berbicara dengan Musa? Pada ayat ke-4 dikatakan bahwa Allah-lah yang berbicara. Malaikat Tuhan itu adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, Malaikat Tuhan itu disebut sebagai The Angel of The LORD (ESV dan KJV).

Mengapa harus Allah Tritunggal yang memberikan konfirmasi? Allah Tritunggal menyatakan diri-Nya berkali-kali di sepanjang Alkitab. Di dalam pembaptisan dan pernikahan, nama Allah Tritunggal disebut. Di dalam pertemuan itu Musa diajarkan untuk menghormati kehadiran dan kekudusan Tuhan. Mengapa Allah meminta Musa untuk menanggalkan kasut kakinya (Keluaran 3:5)? Musa harus menanggalkan kasutnya sebagai tanda ia menghormati Allah. Ia tidak boleh memakai kasutnya dan menginjak tanah yang kudus itu. Ini berarti Musa diminta untuk berserah dan beribadah. Di gunung itu ia beribadah. Di dalam konsep Reformed, tidak ada yang disebut sebagai Holy Land. Yerusalem diperebutkan 3 agama yaitu Yudaisme, Kristen, dan Islam. Dalam Perjanjian Lama, Yerusalem memang penting karena Allah secara khusus hadir di sana. Tuhan tidak terikat oleh tempat tertentu. Tempat Musa berpijak saat itu menjadi kudus karena ada kehadiran Allah. Dalam Perjanjian Baru dinyatakan tubuh kita adalah bait Roh (1 Korintus 6:19) dan Roh Kudus yang ada di dalam hati kita lebih besar daripada roh manapun juga yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:4). Ini berarti kita memiliki kuasa dari Allah dan kita tidak perlu takut kepada Setan. Di gunung Horeb, Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan mukjizat dan melalui itu Tuhan meminta Musa untuk beribadah. Di sana Musa harus tunduk kepada Tuhan. Mukjizat Tuhan itu ada bukan ketika kita menangis atau tertawa tanpa kendali tanpa sikap yang hormat. Di gunung Horeb itu Musa mengalami hal yang tidak biasa dan di sana mata Musa disucikan. Ia diajarkan untuk melihat apa yang Tuhan lihat yaitu umat-Nya yang tertindas. Musa sudah lama menjadi gembala kambing domba dan ia terlalu menikmati itu. Ia sudah lupa bahwa dulu ia pernah mencoba untuk membela bangsanya dengan membunuh orang Mesir. Apapun kairos yang Tuhan berikan, itu selalu memberikan nilai kontemplasi dalam hidup kita. Saat itu mata dan telinga Musa tidak lagi peka akan penderitaan dan seruan bangsa Israel. Tuhan meminta Musa menundukkan dirinya dan mendengarkan Allah. Jadi mukjizat yang sejati seharusnya membuat kita semakin melihat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya dengan sikap yang benar.

Mengapa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Matius 22:31-32)? Kepada Abraham, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang maha tahu. Di dalam hidupnya Allah mengajarkan Abraham sehingga ia mengenal Allah yang maha tahu. Ishak diajarkan tentang Allah yang maha hadir. Di sana ia harus terus melihat dan beribadah kepada Allah. Kepada Yakub, Allah mengajarkan-Nya. Yakub diajarkan untuk tidak menipu dan melarikan diri lagi. Ia harus belajar mengandalkan Allah yang maha kuasa yang melampaui seluruh pengalamannya. Di sini kita belajar bahwa Allah memperkenalkan diri melalui sejarah nenek moyang Musa. Musa belajar untuk mengenal Allah yg hidup. Allah yang hidup itu telah memimpin Abraham, Ishak, dan Yakub. Di dalam pertemuan dengan Musa pun Allah menyatakan diri-Nya hidup. Mungkin terkadang kita berpikir bahwa Allah terlalu lambat dalam menyatakan diri-Nya. 430 tahun lamanya Israel tinggal di Mesir dan mereka diperbudak selama 400 tahun (Keluaran 12:40-41). Kita mungkin berpikir bahwa 400 tahun itu terlalu lama, namun Allah kemudian menyatakan bahwa Ia telah turun dan membebaskan mereka (Keluaran 3:8). Tidaklah mudah bagi Musa yang dulu pernah berusaha untuk membela bangsanya namun gagal dan yang tidak melihat Tuhan segera turun untuk menolong umat-Nya.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah itu hidup? Kebenaran itu bisa dilihat dari fakta bahwa ada iman yang hidup di tempat itu. Musa sulit untuk mengerti kebenaran ini sehingga Allah kemudian memberikan konfirmasi kepadanya. Dia menyatakan kepedulian dan kemahakuasaan-Nya. Allah melihat penderitaan orang Israel dan Ia mendengar seruan umat-Nya (Keluaran 3:7). Tuhan menantikan Israel berobat dan berseru kepada-Nya. Tuhan memberikan mereka pemimpin yaitu Musa. Dikatakan dalam Kejadian 3:8 bahwa Allah turun untuk memerdekakan orang Israel. Allah itu aktif dan ia memanggil Musa sebagai pemimpin untuk membebaskan bangsa Israel. Allah menjanjikan bagi mereka tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya. Inisiatif dan keaktifan Allah membuktikan bahwa Ia hidup. Dalam Kejadian 3:9 dinyatakan bahwa Allah melihat dosa orang Mesir. Orang Mesir dianggap sudah begitu keras menyiksa orang Israel. Ini adalah dosa di mata Allah. Musa sudah diajarkan tentang 4 hal ini dengan jelas, jadi Tuhan memberikan panggilan dan juga peneguhan bagi Musa. Di sini Tuhan begitu baik kepada Musa.

Namun setelah hal ini pun Musa merasa dirinya tidak siap dan tidak mau untuk diutus. Bukannya bersemangat, Musa mempertanyakan panggilan itu karena ia melihat kepada dirinya sendiri. Ia tidak melihat panggilan dan peneguhan dari Tuhan. Usianya yang sudah tua membuatnya berpikir bahwa dirinya terlalu lemah. Ia bertanya kepada Tuhan ‘siapakah aku ini?’ (Kejadian 3:11). Ketika Tuhan memberikan kairos panggilan itu, Ia juga memberikan konfirmasi. Di dalam konfirmasi itu ada isi yang mengarahkan kita kepada tujuan yang jelas dan pasti. Ada seorang dokter yang begitu jelas mendapatkan panggilan dari Tuhan untuk melayani di pedalaman yang begitu sulit di Papua. Sebenarnya ia bisa hidup nyaman di kota namun ia mengerti dengan jelas kairos panggilan Tuhan dan dia mau taat sehingga ia rela diutus ke tempat-tempat yang sangat sulit untuk melayani Tuhan di sana. Ketika ia melihat bahwa tenaga dokter bedah dibutuhkan di sana, ia melanjutkan studinya untuk menjadi dokter bedah dan kembali melayani di sana. Kita melihat pimpinan Tuhan dalam hidupnya dan bagaimana Tuhan memakai hidupnya untuk menjadi berkat. Dokter itu mengakui bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan. Kita harus belajar untuk menangkap kairos panggilan Tuhan dan mengaitkan semua yang kita kerjakan untuk kemuliaan Tuhan. Seandainya Tuhan tidak memanggil Musa, maka ia pasti merasa nyaman di dalam pekerjaannya dan statusnya sebagai menantu dari imam di Midian. Namun kenyamanan itu bukanlah panggilan untuk Musa. Ia harus meninggalkan semua kenyamanan itu dan mengikuti pimpinan Tuhan. Setiap kita diutus oleh Tuhan dan panggilan itu dikonfirmasi juga oleh Tuhan. Pengutusan itu seringkali jelas berkaitan dengan profesi kita. Di sana kita harus berbuah dan akan mengalami penyertaan Tuhan yang luar biasa. Jika kita hanya menjalani kronos dan tidak melihat kepada kairos panggilan Tuhan, maka kita akan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan menjenuhkan. Kita harus berani mengambil kairos tersebut dan mengikuti pimpinan Tuhan. Musa akan mati sebagai orang yang biasa-biasa saja jika ia hanya hidup dalam kronos. Namun ketika Musa mau taat, ia mendapatkan kairos panggilan itu dan Tuhan membuatnya menjadi pemimpin besar yang dipimpin oleh Allah yang besar.

 

Penutup

Setiap kita harus memiliki kairos panggilan. Jika kita tidak memiliki kairos panggilan, maka hidup ini sia-sia. Kronos merupakan waktu kronologis yang mengikat kita di dalam seluruh hal yang kita lakukan. Namun kairos adalah waktu atau momentum Tuhan supaya kita melihat dinamika hidup di dalam pimpinan Tuhan dan bukan rutinitas. Ketika Tuhan memberikan kairos panggilan itu, Ia juga memberikan konfirmasi. Di dalam konfirmasi itu ada isi yang mengarahkan kita kepada tujuan yang jelas dan pasti. Kita harus berani mengambil kairos tersebut dan mengikuti pimpinan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami