Pemimpin Yang Rendah Hati (Musa)

Pemimpin Yang Rendah Hati (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Amsal 22:1; Bilangan 12:3; Ibrani 11:24-29; Keluaran 32:19-28

 

Pendahuluan

Mengapa ada orang yang mau menjadi pemimpin besar tetapi gagal? Ada orang yang tidak pernah bermimpi menjadi pemimpin namun di dalam proses waktu Tuhan mengizinkan dan mempersiapkannya untuk menjadi seorang pemimpin. Banyak orang yang berhasil menjadi pemimpin belum tentu memiliki anak-anak yang berhasil menjadi pemimpin. Di dalam sejarah dicatat bahwa generasi pertama adalah generasi pemimpin-pemimpin besar. Generasi kedua mempertahankan kepemimpinan dan generasi ketiga membuat kepemimpinan itu merosot. Pada akhirnya generasi keempat kehilangan kepemimpinan itu. Sejarah menyatakan bahwa hanya kepemimpinan Tuhan-lah yang abadi. Mereka yang abadi adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan dan mereka meninggalkan jejak kepemimpinan yang kekal.

Dari mana bakat, kapasitas, dan karakter seorang pemimpin dihasilkan? Ada teori yang menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena orang tuanya (faktor genetik). Pada tahun 1970an awal ada riset yang menyatakan bahwa faktor lingkungan dan pendidikan sangat berpengaruh bagi pembentukan seorang pemimpin. Alkitab menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena panggilan Tuhan. Panggilan itu bisa melampaui genetik, lingkungan, dan pendidikan.

Mengapa Tuhan mengizinkan ada pemimpin yang berkarakter negatif dan sukses pula, sementara ada pemimpin yang berkarakter baik tetapi tidak sukses menurut kacamata dunia atau biasa-biasa saja? Mereka yang mengikut Tuhan pasti berbahagia meskipun tidak sukses menurut dunia. Mazmur 37 menyatakan bahwa kita tidak perlu iri kepada mereka yang berhasil secara duniawi. Mereka akan seperti rumput yang segera kering dan akan hilang ditiup oleh angin. Kita tidak perlu iri kepada orang yang menjadi sukses karena bermain curang karena hidup mereka tidak diberkati Tuhan. Dunia boleh punya standar kesuksesan, namun kita mengejar standar keberhasilan Alkitab.

Siapa yang disebut sebagai pemimpin yang berhasil di mata Tuhan? Alkitab tidak menuntut orang Kristen agar memiliki nama besar di dunia namun Tuhan mau orang Kristen memiliki kesetiaan dalam hal berbicara Firman Tuhan dan membawa orang berdosa kembali kepada Tuhan. Pada saat Yeremia meninggal, tidak ada satu jiwapun yang kembali kepada Tuhan, namun ia terus mencucurkan air matanya dan berdoa agar orang-orang kembali kepada Tuhan. Ia menulis kitab Ratapan karena pergumulannya itu. Di mata Tuhan ia adalah seorang nabi yang besar dan setia. Seorang pemimpin harus memiliki karakter yang setia, jujur, adil, dan mau melayani. Ada yang mengatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang bergaya bos itu mudah, namun menjadi pemimpin yang melayani seperti Tuhan Yesus, yang bersifat kasih, pengorbanan, sabar, bukanlah hal yang mudah. Kita harus meneladani Yesus Kristus yang merupakan seorang yang rendah hati.

 

Pembahasan

Dari mana sumber bakat, kapasitas, dan karakter seorang pemimpin dihasilkan? Pertama, faktor genetik. Ada teori yang menyatakan bahwa bakat, kapasitas dan karakter kepemimpinan seseorang itu diturunkan dari orang tua. Ada yang mengamati bahwa 60% kepintaran anak bersumber dari ibu. Seorang yang terkenal pernah mencari pasangan yang lebih pintar secara akademis dari dirinya. Ketika mereka menikah, mereka mendapatkan anak yang pintar pula. Namun prinsip ini tidak selalu benar. Ada pasangan suami istri yang pintar dan sukses dalam bisnis namun tidak memiliki anak yang memiliki potensi dan keberhasilan yang sama. Ini bisa terjadi karena dosa. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Manusia diberikan pikiran oleh Allah, namun dosa membuat pikiran manusia menjadi rusak. Dosa bisa membuat kita gagal karena merusak pikiran dan cara pandang kita.

Kedua, faktor lingkungan. Jika seorang anak dari sejak kecilnya sudah tumbuh di lingkungan yang terus mengajarkannya bisnis, maka ia akan menjadi orang yang sangat lihai dalam berbisnis. Jadi sebenarnya lingkungan itu mahal. Kita menciptakan lingkungan yang sehat di rumah dalam komunikasi, isi, dan iman agar anak-anak dapat bertumbuh dengan baik. Lingkungan yang tidak sehat akan membuat anak-anak mengalami pembentukan yang buruk. Kita memilih sekolah yang baik dengan komunitas yang baik, guru yang baik, dan suasana yang baik agar anak-anak kita memiliki masa depan yang baik. Maka dari itu kita harus berani membayar harga demi memberikan edukasi yang baik bagi anak, karena itu berkaitan dengan masa depannya. Jika kita hanya mempertimbangkan edukasi anak secara ekonomi, maka kita bisa menyesal di masa depan nanti. Banyak orang tua telah menuai air mata karena salah mendidik anak-anaknya. Ada anak yang ketika pulang dari luar negeri menjadi ateis karena tidak mendapatkan pendidikan iman dan dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk. Di sini kita mengerti bahwa uang tidak bisa menyelesaikan semua masalah. Ambisi orang tua yang tidak suci bisa menjebak anak-anak ke dalam dosa. Lingkungan dengan pergaulan yang buruk harus dihindari, apalagi jika anak masih bermental ikut-ikutan. Lebih baik kita menyekolahkan anak di tempat yang dekat dengan kita sehingga kita bisa memantaunya terutama dalam hal karakter dan iman. Lingkungan bisa memengaruhi kepekaan hati nurani, maka dari itu faktor lingkungan menjadi sangat penting.

Ketiga, faktor pelajaran (edukasi). Seseorang bisa belajar untuk menjadi pemimpin. Aktivitas belajar itu mengasah pikiran dan bisa menghasilkan pembentukan paradigma, pengetahuan, dan potensi. Pembelajaran non-formal bisa menghasilkan yang formal. Tidak semua pembelajaran formal bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Bangsa Israel dalam Perjanjian Lama tidak memiliki sekolah formal bagi anak-anak mereka. Mereka memakai sistem home-school. Para ibu di sana menjadi guru bagi anak-anak dalam semua mata pelajaran. Jika kita sebagai ibu tidak bisa mendidik anak maka kita telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Ayah mengajarkan karakter kepemimpinan. Jadi di sini ada perpaduan yang indah. Jika ayah dan ibu memberikan pengajaran secara efektif maka pendidikan non-formal itu bisa memberikan hasil formal. Anak yang mendapatkan pendidikan formal di sekolah namun tidak mendapatkan pendidikan non-formal di rumah tidak akan menjadi anak yang berhasil. Inilah mengapa kita perlu memberikan edukasi di rumah dan di gereja. Ada penelitian yang menyatakan bahwa mereka yang terlibat dalam organisasi gereja sebenarnya sedang dilatih untuk menjadi pemimpin. Jadi gereja tidak boleh dihina karena ternyata gereja bisa menjadi sarana pelatihan kepemimpinan dengan manajemen kasih. Edukasi itu penting, namun yang terpenting adalah pendidikan iman.

Keempat, faktor panggilan Tuhan (karunia khusus – Yefta). Dalam teologi kepemimpinan, itu disebut sebagai karunia khusus. Ada orang-orang yang tidak diduga-duga ternyata bisa menjadi pemimpin yang luar biasa karena panggilan Tuhan. Salah satunya adalah Yefta. Ia adalah anak seorang perempuan sundal (Hakim-Hakim 11:1). Ia diusir oleh keluarga besarnya karena latar belakangnya. Yefta kemudian bergabung dengan para perampok dan menjadi pemimpin mereka. Ketika Israel tidak bisa mengalahkan musuhnya, para tua-tua Yahudi memohonnya untuk menjadi pemimpin rohani dan organisasi. Oleh karena itu kita tidak boleh menghina orang-orang dengan latar belakang yang tidak baik. Tuhan bisa mengubah dan memakai mereka untuk melakukan hal-hal yang besar.

Manakah yang lebih penting: kepemimpinan rohani atau kepemimpinan duniawi? Kita harus bisa menjadi pemimpin rohani, (2 Timotius 2:2 dan Matius 28:19-20). Jika Tuhan memberikan anugerah lebih banyak, maka kita bisa menjadi pemimpin organisasi duniawi yang mencari profit. Kita bisa memimpin organisasi duniawi yang bersaing di dunia bisnis. Itu tidak masalah selama fokus kita adalah Tuhan. Namun menjadi pemimpin rohani itu jauh lebih penting karena itulah panggilan kita. Setiap pemimpin rohani yang baik adalah pemimpin yang mula-mula bisa memimpin dirinya sendiri secara rohani. Inilah mengapa kita sebagai orang tua harus melatih anak-anak kita agar mereka bisa memimpin dan menggembalakan diri mereka sendiri. Alkitab memberikan kita standar untuk memilih orang-orang yang baik, dipenuhi Allah Roh Kudus, memiliki nama yang baik, berintegritas, dan lainnya (Kisah Para Rasul 6:3 dan 1 Timotius 3:1-13). Penatua harus bisa mengepalai rumah tangganya. Jadi seorang pemimpin yang baik harus bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika kita masih diperbudak oleh gadget dan hal-hal lainnya, maka kita tidak mungkin bisa menjadi pemimpin besar yang baik. Kerohanian kita memengaruhi kualitas kepemimpinan kita. Oleh karena itu kita harus senantiasa membaca Firman Tuhan, berdoa, dan melayani dalam komunitas gereja. Banyak pemimpin besar bersaksi bahwa mereka memulai dari kesetiaan terhadap perkara-perkara kecil. Seorang dari mereka pernah bersaksi bahwa pada masa remajanya ia sudah menjual telur di pasar dari sejak pagi sampai sore setiap hari. Pada malam harinya ia menjual pakaian di tepi jalan. Ia terus melakukan itu dengan setia sampai ia dipercayakan untuk berjualan di ruko. Usahanya terus berkembang sampai ia memiliki mall, hotel, dan banyak cabang bisnis bahkan di luar negeri. Semua ini dimulai dari kesetiaannya dalam menjual telur di pasar. Di balik semua itu, orang-orang sukses ini tidak pernah meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah di gereja. Mereka adalah orang-orang yang rajin mengikuti acara-acara gereja dan juga menyimpan setiap catatan khotbah. Ia tekun dan setia sampai akhir. Jadi untuk menjadi orang kaya tidak harus terlahir dalam keluarga orang kaya. Kepemimpinan rohani adalah sekolah yang paling penting dimana kita dilatih untuk bisa berkarya di dunia. Anak-anak harus dilatih dari sejak dini agar mereka siap dipakai Tuhan pada waktunya.

Karakter Musa yang paling menonjol, pertama adalah kerendahan hati. Ia menerima kesalahan ketika istrinya menyunatkan anaknya (Keluaran 4:24-26). Istrinya mengerti bahwa Musa akan bertemu dengan Tuhan. Ia tahu bahwa Musa telah diutus untuk menjadi pemimpin bagi bangsa Israel dan membawa mereka ke tanah Kanaan. Istrinya peka bahwa Tuhan murka karena Musa lalai menyunatkan Gersom. Di sana Zipora mengambil batu yang tajam dan membakarnya lalu menyunat anaknya. Kulit khatannya diletakkan pada kaki Musa lalu menyebutnya sebagai pengantin darah. Hal itu menghilangkan murka Tuhan. Bagian ini menjelaskan kepada kita bahwa ada ikatan perjanjian di antara orang tua, anak, dan Tuhan melalui sunat. Mungkin Musa pernah berdiskusi dengan Zipora mengenai ini namun mereka tidak tega untuk menyunatnya. Ketika Tuhan murka, Zipora mengambil inisiatif. Musa menerima tindakan Zipora yang berarti Musa menerima kesalahannya. Hal yang menarik adalah istrinya tidak merongrong atau menuntut Musa. Ia justru mencari dan memberikan solusi dan Musa menerima hal itu. Istri yang baik adalah istri yang membantu suaminya dengan memberikan solusi. Istri yang buruk adalah istri yang menambah masalah yang sudah ada termasuk lewat perkataan-perkataan yang buruk. Tuhan sudah memberikan istri yang baik bagi Musa. Ketika Musa menyadari kesalahnnya, ia berdiam. Menurut hukum Yahudi, seharusnya suamilah yang menyunat anaknya, namun dalam kasus ini Zipora yang bertindak. Zipora tahu bahwa Tuhan akan membunuh Musa karena kelalaiannya. Musa tidak menyerahkan anaknya dalam perjanjian dengan Tuhan dan tidak memberikan pendidikan iman melalui sunat. Baptisan anak memiliki substansi yang sama dalam teologi Reformed. Sunat dan baptisan tidak menyelamatkan namun di dalam semua itu orang tua berperan dalam menyerahkan anak kepada Tuhan dan berjanji untuk mendidik anak dalam iman.

Musa tidak marah ketika Zipora mengerjakan tugas Musa. Jadi Musa mau mengakui kelemahan dan kesalahannya. Istri yang baik bukan membicarakan kelemahan suami di luar tetapi memberikan solusi. Istri harus bisa menjadi penolong bagi suaminya. Laki-laki memang lebih sulit untuk mengakui kesalahannya karena ada gengsi. Tidak mudah bagi pria yang dipanggil sebagai pemimpin untuk mengakui kesalahan di hadapan istri yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani mengakui kelemahannya dan mau mencari solusi. Di sana ia bisa menggapai kekuatan yang baru. Oleh karena itu organisasi yang baik selalu mengadakan evaluasi dan pengembangan. Kelemahan harus diubah menjadi kekuatan agar bisa berhasil dan unggul. Kita harus rendah hati dan mau menerima evaluasi dan teguran. Kita tidak boleh terlalu cepat membela diri ketika menerima teguran. Kita tidak boleh menjadi orang-orang yang segera mengasihani diri dan cepat menyalahkan orang lain atau situasi. Semakin kita sering membela diri maka semakin jauh kita akan dibuang oleh Tuhan. Mengapa demikian? Karena kita telah menjadi orang yang sombong dan keras kepala. Jika demikian maka kita sebenarnya tidak mau dibentuk oleh Tuhan.

Tuhan mengizinkan Musa menjadi gembala kambing domba selama 40 tahun karena itulah sekolah non formal yang memberikan hasil yang formal. Di sana hati Musa diperas, dibentuk, dan dimurnikan. Sebagai gembala, Musa tidak mendapatkan banyak pujian dari orang lain. Di dalam relasi kita dengan ciptaan Tuhan, kita bisa dibentuk oleh Tuhan. Di sana hati dan tanggung jawab kita bisa dibentuk. Karakter kepemimpinan kita bisa diproses melalui hal itu. Musa dahulu adalah orang yang keras, sombong, dan percaya diri. Namun setelah pembentukan itu, ia memiliki hati yang lembut. Karena itulah dikatakan bahwa Musa adalah orang yang paling lembut hatinya (Bilangan 12:3).

Kedua, Hati Musa terbuka untuk menerima masukan dari orang lain (Yitro) tentang model kepemimpinannya: pendelegasian (Keluaran 18:13-24). Saat Musa sudah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk pergi ke tanah Kanaan, di padang gurun ia menjadi hakim seorang diri saja. Ia mengerjakan semua itu sendirian bagi seluruh orang Israel. Dari pagi sampai petang ia terus bekerja untuk menyelesaikan setiap kasus mereka. Saat mertuanya datang untuk mengunjunginya bersama istrinya dan anak-anaknya, Yitro melihat bahwa Musa harus memakai cara yang berbeda. Ia melihat bahwa ada orang-orang Israel yang bisa dididik menjadi hakim, maka ia memanggil Musa. Ia berkata: haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang (Keluaran 18:20-21). Yitro mengajarkan Musa untuk membuat sekolah pendidikan hakim. Jadi Musa mendidik mereka dan menunjuk dari mereka orang-orang yang bisa menjadi hakim. Di sini Yitro menegur sekaligus memberikan solusi bagi Musa. Ternyata solusi yang diberikan Yitro memberikan dampak yang positif bagi bangsa Israel. Musa sudah pernah membelah Laut Teberau dan ia sudah menjadi pemimpin yang diakui. Kendati demikian, ia tidak sombong dan mau menerima saran dari Yitro serta melihat itu sebagai petunjuk dari Tuhan.

Kita terkadang melupakan satu prinsip yaitu shema (mendengarkan). Di dalam Perjanjian Lama, orang yang mendapatkan penyertaan Tuhan adalah orang yang shema. Kita harus senantiasa mendengar dan merenungkan Firman Tuhan. Di zaman digital ini, anak-anak tidak dibentuk untuk mendengar dan memiliki ingatan jangka panjang. Mereka tidak terlatih untuk menyelesaikan masalah yang bersifat kompleks karena terbiasa hidup dalam kemudahan teknologi. Di sini kita sebagai orang tua harus sadar akan bagaimana seharusnya kita mendidik anak di zaman revolusi industri 4.0. Teknologi bisa memanjakan manusia sehingga tidak lagi mau berjuang. Kemudahan itu bisa membuat manusia malas berpikir. Di sini kita perlu belajar untuk shema. Suara hiburan dari gadget zaman sekarang bisa membuat kita tuli terhadap suara-suara yang lain. Narkoba digital telah membius banyak pemuda zaman ini sehingga fokus mereka telah rusak. Kita perlu membuat kebiasaan berpuasa dari gadget. Musa sudah menjadi pemimpin yang besar dan sukses namun ia masih mau untuk shema. Bukanlah hal yang mudah bagi seorang pemimpin besar untuk mengakui bahwa kebijakannya berasal dari masukan orang lain dan bukan dirinya sendiri. Musa tidak mau menyombongkan dirinya. Inilah ciri orang yang rendah hati. Ia membuka hati dan pikirannya terhadap masukan-masukan yang baik.

Ketiga, Musa berani menulis kesalahannya (emosi yang tidak kudus) yang mengakibatkan Musa tidak bisa masuk ke tanah Kanaan (Bilangan 20:2-12 dan Ulangan 1:37). Musa menulis kelima kitab pertama dan di dalamnya ia juga mencatat kesalahan-kesalahannya sendiri. Musa sendiri menulis mengapa ia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Tuhan memerintahkan agar Musa mengatakan kepada bukit batu itu namun Musa malah memukulnya sampai 2 kali (Bilangan 20:8, 11). Di sana Musa menunjukkan emosi yang tidak suci. Mereka mendapatkan air dari bukit batu itu, namun Tuhan marah kepada Musa. Tuhan akhirnya memutuskan bahwa Musa tidak boleh masuk ke tanah Kanaan. Ini mungkin terlihat seperti kesalahan yang kecil, namun sebenarnya ini adalah hal yang penting di mata Tuhan. Di sana Musa tidak mempertanyakan keputusan Tuhan atau berdebat dengan Tuhan tetapi menerima semua itu dengan sepenuh hati. Ia diminta mempersiapkan pemimpin yang baru yaitu Yosua. Musa sudah menjadi pemimpin dan ia hampir mencapai puncak keberhasilannya namun ternyata generasi selanjutnyalah yang mendapatkan hal itu. Di sini Musa harus berbesar hati. Kerendahan hati Musa tampak dalam keputusannya untuk menerima semua itu. pahlawan yang benar adalah pahlawan yang mempersiapkan generasi berikutnya. Ia bisa menciptakan generasi yang baru yang dipersiapkan untuk menghadapi semua tantangan di masa depan. orang yang rendah hati adalah orang yang berani menceritakan kegagalannya. Kita tidak perlu membanggakan keberhasilan di masa lalu di hadapan orang-orang yang mendengarkan kita karena itu akan membuat kita sombong. Kita harus berfokus pada masa kini dan menunjukkan nilai perjuangan kita. Kita harus memegang pengharapan kita dan apa yang kita mau capai di masa depan dengan bersandar pada anugerah dan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Penutup

Kunci rahasia kerendahan hati Musa dimulai karena iman yang memperbarui cara pandangnya.  Iman akan memperbarui cara pandang dan dari sana hidup kita akan berubah menjadi hidup yang benar. Musa mengalami hal ini. Ia menolak disebut sebagai putra dari putri Firaun karena iman (Ibrani 11:23-26). Ia menolak seluruh kenikmatan istana Mesir dan lebih memilih untuk menderita bersama umat Allah. Ia melihat penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada kekayaan duniawi. Iman-lah yang membuat kita berhasil menjadi pemimpin dan berhasil dalam keluarga, studi, dan pekerjaan kita. Jika kita mengaku beriman namun cara pandang kita masih tidak sesuai dengan Alkitab, maka iman kita perlu dipertanyakan. Musa tidak mencari solusi dari ibu angkatnya yaitu putri Firaun. Karena iman ia membuang semua itu. Paulus berkata: Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Filipi 3:7). Pemimpin yang berfokus pada uang pasti akan dibuang oleh Tuhan. pemimpin yang diperkenan oleh Tuhan adalah pemimpin yang memperjuangkan pekerjaan-pekerjaan Allah. segala hal yang kita lakukan harus berkaitan dengan Kerajaan Allah. Jika kita hanya memikirkan kerajaan diri maka kita akan dibuang oleh Tuhan.

Kerendahan hati Musa dicapai karena kerelaan hatinya dibentuk oleh Tuhan (Bilangan 12:3). Musa tidak pernah mengeluh selama ia menjadi gembala kambing domba. Selama 40 tahun ia mendapatkan sengat matahari dan hidup bersama hewan-hewan. Di sana ia tidak mendapatkan pujian, namun ia menjadi orang yang terus melayani. Di dalam kesulitan kita, kita tidak boleh cepat bersungut-sungut. Itu adalah ujian bagi kita. Kita tidak boleh terlalu cepat meminta fasilitas dan kenyamanan. Orang yang rendah hati selalu belajar dan tidak pernah berhenti belajar.

Kerendahan hati Musa dicapai karena kualitas pengenalan akan Allah yang terus bertumbuh. Ia tidak marah ketika tidak diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. Ia rela mempersiapkan generasi berikutnya karena ia melakukan itu untuk Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kualitas pengenalan Musa akan Tuhan semakin bertumbuh. Ia memang sudah tua namun semangatnya untuk belajar tidak pernah menjadi tua. Ia selalu mau diajar dan dibentuk. Itulah kunci rahasia kesuksesan Musa. Di sini kita belajar untuk menjadi pemimpin rohani yang baik, pertama-tama untuk diri kita sendiri, lalu kemudian untuk lingkungan di sekitar kita. Tuhan akan memakai kita jika kita mau untuk menjadi pemimpin rohani yang baik bagi Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami