Pemimpin Yang Melayani (Musa)

Pemimpin Yang Melayani (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 32:11-32; Markus 10:45.

 

Pendahuluan

Apa keunikan seorang pemimpin Kristen? Jikalau kita tidak mengerti hal ini, maka kita bisa menganut standar ganda di dalam pekerjaan atau usaha kita. Di dalam gereja kita bisa memiliki motivasi untuk melayani namun di luar gereja kita bisa lupa untuk menjadi pemimpin yang melayani. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang melayani baik di gereja maupun di luar gereja.

Apakah benar seorang pemimpin identik dengan: kuasa, uang, fasilitas, dan kenikmatan? Jikalau kita melihat keseluruhan Alkitab maka kita akan menemukan bahwa seorang pemimpin tidak harus identik dengan semua hal itu. Banyak orang mengikut Tuhan Yesus ketika mereka sudah melihat mukjizat. Tuhan Yesus berkata kepada mereka: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20). Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidaklah identik dengan uang, kuasa, fasilitas, atau kenikmatan. Seorang pemimpin identik dengan sejauhmana ia mau menggenapkan rencana Kerajaan Allah melalui hidupnya.

Mengapa Alkitab melihat seorang pemimpin itu sebagai hamba dan bukan bos? Kita mengetahui bahwa Tuhan adalah pemimpin dari semua pemimpin. Dia-lah yang memberikan panggilan, pengetahuan, hikmat, peluang, dan anugerah bagi kita. Kita memiliki tanggung jawab di hadapan-Nya. Ketika kita boleh mencicipi hal-hal yang baik maka kita harus mengakui bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan. Kita adalah orang yang sombong jika mengatakan bahwa semua itu adalah karena kehebatan, kepintaran, dan kekuatan kita. Di saat itu kita menjadi orang yang akan dihukum oleh Tuhan. Jadi seorang pemimpin Kristen tidak boleh bermental bos di dalam situasi apapun juga. Orang yang bermental bos tidak akan memiliki hati yang melayani. Di saat itu ia tidak mencerminkan identitasnya sebagai orang Kristen.

Mana yang lebih tepat: pemimpin yang melayani atau pelayan yang memimpin? Pemimpin yang melayani. Saat kita menjadi seorang pelayan, kita harus siap untuk menunjukkan nilai seorang pemimpin yang menyatakan kebesaran Tuhan. Kita tidak boleh bermental budak yang tidak siap untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Orang yang bermental budak hanya bisa menyatakan keminderannya dan ketidakberdayaannya. Mental seorang pemimpin sejati adalah menyatakan Tuhan. Oleh karena itu seorang pemimpin tidak identik dengan semua kebesaran duniawi. Saat kita memimpin keluarga, orang-orang di gereja, atau orang-orang di tempat usaha kita kepada Tuhan, kita sudah bisa disebut sebagai pemimpin.

 

Pembahasan

Apa yang disebut sebagai seorang pemimpin oleh dunia? Kita perlu menyeleraskan paradigma kepemimpinan dalam Alkitab (Markus 9:30-37 dan 10:43-45). Orang yang ingin menjadi yang terdahulu harus menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya. Kita diperintahkan untuk menjadi hamba bagi semua orang. Tuhan juga menyatakan bahwa mereka yang seperti anak kecil menjadi terbesar dalam Kerajaan Sorga (Matius 18:3-4). Ketika kita menjalin relasi dengan orang lain, kita harus membuat mereka bukan melihat kita tetapi melihat kepada Tuhan. Jadi mental seorang hamba yang sejati adalah untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Ketika para murid bertanya siapa yang bisa menjadi yang terbesar maka Yesus menjawab ia yang menjadi hamba bagi semua orang. Kita harus siap untuk menjadi pelayan bagi semua orang. Yesus berkata: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Ini mengajarkan bahwa di dalam nilai kepemimpinan, dimanapun kita berada, kita harus menyatakan kehadiran Tuhan. Tuhan-lah sumber kemuliaan dan bukan diri kita. Dia-lah pemimpin yang sejati dan sumber hikmat.

Pemimpin identik dengan otoritas sebagai atasan, jadi tidak mungkinkah dalam waktu bersamaan menjadi pelayan? Pemimpin harus menjadi otoritas karena ia menjadi atasan. Namun kita harus memiliki hati yang melayani. Kita harus menjadi teladan. Kita tidak boleh hanya bisa menyuruh orang lain bekerja namun kita sendiri tidak bisa menjadi contoh. Jika kita dipercayakan menjadi pemerintah, maka kita harus memiliki mental untuk melayani masyarakat. Kita harus berani bekerja keras dan menyelesaikan semua tanggung jawab kita. Kemalasan bukanlah bagian dari etos kerja Kristen. Banyak orang tidak menyukai orang Kristen yang jujur dan rajin karena kehadirannya membuat banyak usaha curang menjadi gagal. Identitas kita adalah menjadi pemimpin yang memberikan teladan. Contoh hidup kita harus mengajarkan keberanian, kejujuran, kesetiaan, karakter, dan tanggung jawab. Pemimpin yang arogan dan mementingkan diri sendiri adalah pemimpin yang gagal untuk mencerminkan nilai Kristus.

Pemimpin besar identik dengan seberapa banyak pengikutnya (hukum memengaruhi) dan jadi tidak mungkin disamakan dengan seberapa banyak orang yang dilayaninya? Tuhan Yesus menjadi pemimpin dan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Ia memiliki 12 murid. Banyak orang pada saat itu ingin menjadi orang Farisi atau ahli Taurat dan mereka ingin menjadi murid Gamaliel. Pada saat itu muridnya bisa mencapai ratusan, sedangkan murid Yesus hanya 12 orang. Manakah yang lebih berpengaruh? Dari sisi pengaruh dan keuangan pasti Yesus tidak sukses. Namun Yesus mengajarkan bukan kuantitas melainkan kualitas. Apakah Yudas murid berkualitas? Ia adalah orang cerdas namun hatinya tidak benar. Jadi kecerdasannya tidak dipimpin oleh rasa takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan tidak akan memamerkan kecerdasannya. Ia akan hidup dengan prinsip tidak mau mempermalukan nama Tuhan. Yesus juga memiliki 70 murid yang dididik dengan baik. Seorang pemimpin tidak boleh berpikir untuk menjadi pemimpin yang besar namun tidak memiliki pengaruh dalam nilai Kerajaan Allah. Kita tidak mengincar kuantitas yang tidak memuliakan Tuhan. Jika kita menjadi pengusaha besar yang tidak memberikan pengaruh kepada bawahan agar mereka melihat Tuhan, maka kita adalah pemimpin yang gagal. Jika kita memiliki keinginan untuk menjadi besar dalam hal yang salah, maka Setan bisa menggoda kita. Ada orang-orang yang berhasil menjadi besar karena ada pertolongan dari Setan. Mereka pasti mendapatkan penghakiman. Kita mau menjadi pemimpin yang setia, bukan sukses. Kesuksesan adalah anugerah dari Tuhan. Kita harus menjadi pemimpin bagi banyak orang dengan prinsip kasih, keadilan, dan edukasi. Orang-orang yang dipimpin oleh kita harus dikembangkan kapasitasnya sehingga mereka menjadi orang-orang yang lebih baik. Dengan demikian kita menjadi agen perubahan bagi orang-orang di sekitar kita.

Di dalam Perjanjian Lama tidak ada sekolah formal, hanya ada sekolah di rumah dan sekolah Taurat. Semua anak dididik oleh ibunya secara penuh. Ayah menjadi pembina karakter di rumah. Oleh karena itu orang tua di Perjanjian Lama menguasai banyak ilmu. Hati yang takut akan Tuhan itu sangat penting untuk ditanamkan pada diri anak. Anak harus diajarkan untuk menghormati otoritas dari sejak dini. Kepintaran dan paras yang baik itu penting, namun hati yang takut akan Tuhan itu jauh lebih penting. Kita harus waspada terhadap keinginan untuk menjadi besar. Banyak cara bisa dihalalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Banyak orang demi jabatan akhirnya memakai cara-cara yang tidak benar untuk mencapai tujuan tersebut. Pemimpin yang setia adalah pemimpin yang melayani banyak orang di sekitarnya. Mungkin ia tidak bisa melayani secara fisik namun ia bisa melayani dengan memberikan edukasi. Setiap kita sudah diberikan talenta yang berbeda-beda oleh Tuhan untuk kita pakai dalam pelayanan kita sebagai seorang pemimpin. Kita dipercayakan bagian-bagian yang berbeda. Kita harus mengingat bahwa Tuhan mau kita setia dalam perkara-perkara yang kecil. Mereka yang setia pada perkara kecil akan dipercayakan perkara yang besar. Sebelum menjadikan kita seorang pemimpin yang besar, Tuhan akan melatih mental kita seperti Yusuf. Yusuf menjadi budak di rumah Potifar namun di sana ia sebenarnya menjadi saksi bagi Tuhan. ia melayani dan mengerjakan semua hal dengan baik. Semua pekerjaannya beres karena ia setia. Kita harus belajar untuk setia dan memiliki mental melayani dan bukan ingin dilayani. Jadi kita harus menggunakan prinsip kasih dan edukasi. Tuhan datang ke dunia karena kasih-Nya, dan kasih-Nya adalah agape. Agape mengandung kesetiaan, pengorbanan, dan penebusan. Yesus telah menjadi teladan bagi kita. Dia adalah teladan yang lebih tinggi daripada pemimpin-pemimpin lainnya karena Ia adalah pemimpin yang sejati.

Pemimpin identik dengan kewibawaan yang besar jadi tidak mungkin dalam waktu bersamaan menjadi pelayan? Kewibawaan kita bukan bergantung pada apa yang kita pakai dan status kita melainkan karakter kita. Kita harus memiliki mental seorang hamba dan sadar akan panggilan kita. Kita adalah utusan Tuhan yang mewakili Tuhan untuk menyatakan kebesaran Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. Kewibawaan kita datang dari atas yaitu Tuhan. Yohanes Pembaptis hadir untuk mempersiapkan jalan dan memperkenalkan Mesias. Ia memakai pakaian yang terbuat dari kulit unta dan ia makan belalang (Matius 3:4). Penampilannya tidak megah dan mewah namun ia adalah utusan Tuhan yang memberitakan pertobatan. Perkataannya memiliki kuasa. Banyak orang yang mendengarnya bertobat dan memberikan diri mereka dibaptis (Matius 3:5-6, 11). Ia tidak seperti para orang Farisi atau ahli Taurat yang memakai pakaian terhormat namun mungkin tidak memiliki kuasa ketika mengajar. Yesus mengajar secara berbeda, yaitu dengan kuasa. Alkitab berkata: Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka (Matius 7:29). Ini menunjukkan bahwa kewibawaan datang dari Tuhan. Saat kita diutus, kita harus berdoa memohon kuasa dan wibawa dari Tuhan. Dengan demikian menjadi seorang pemimpin dan menjadi seorang pelayan bukanlah 2 peran yang berkontradiksi. Pemimpin yang melayani itu ingin agar orang-orang di sekitarnya terberkati. Mental seorang hamba mengajarkan diri kita agar tidak sombong. Nebukadnezar dengan sombong menyatakan kuasanya yang besar. Ia sombong di dalam seluruh keberhasilannya dan Tuhan menghukumnya (Daniel 4:33). Tuhan merendahkannya sehingga ia bertindak seperti seekor hewan. Banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, salah satunya dengan cara menipu orang lain. Setan adalah bapa dari segala dusta (Yohanes 8:44). Manusia berdosa bisa memalsukan setiap data demi keuntungan dirinya sendiri. Penipuan adalah gaya hidup mereka dan mereka adalah pengikut Setan. Banyak penipu tampil sebagai orang yang baik untuk menipu korban-korban mereka. Karena itulah kita harus waspada. Pemimpin yang sejati pasti mau menjadi hamba untuk semua orang dan ia memiliki karakter yang baik.

Musa adalah pemimpin yang melayani. Pertama, Ia melayani umat Israel untuk menaati Tuhan dan bergantung pada Tuhan (Keluaran 32:11-14). Di dalam bagian itu Musa berusaha melunakkan hati Tuhan yang sedang murka terhadap Israel. Israel telah membuat lembu emas dan Tuhan mau menghukum mereka. Musa menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Ia menyatakan janji Tuhan tentang membuat Israel menjadi bangsa yang besar. Ia memohon belas kasihan lalu dinyatakan bahwa Tuhan menyesal. Ini adalah bahasa antropomorfis. Tuhan tidak menyesal seperti penyesalan manusia. Tuhan mau mendengarkan permohonan Musa yang memohon belas kasihan Tuhan. Tuhan itu maha tahu dan maha hadir serta keputusan-Nya sempurna sehingga tidak mungkin bersalah. Setelah itu Tuhan memberikan 10 hukum lagi kepada Musa dan Tuhan mau Israel hidup secara taat. Ketika kita dipercayakan menjadi seorang pemimpin maka kita harus mengajarkan orang-orang di bawah kita untuk taat kepada Tuhan, pemerintah, lalu kepada perusahaan. Roma 13:1-7 menyatakan bahwa kita harus menghormati pemerintah karena Tuhan-lah yang menetapkan pemerintah. Kolose 3:23 mengajarkan bahwa kita harus bekerja seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Jadi sebagai seorang pekerja kita harus menjaga kekudusan kita dan melakukan pekerjaan kita untuk kemuliaan Tuhan. Kita harus bsia menjadi agen moral untuk orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang kita pimpin harus kita didik untuk takut akan Tuhan. Segala kelakukan kita harus mencerminkan bahwa diri kita adalah orang Kristen. Keberanan yang kita hidupi itu akan menjadi suatu pesan yang sangat jelas bagi orang-orang di sekitar kita. Firman itu harus terpancar dalam kehidupan kita. Musa mengarahkan orang Israel untuk melihat kepada Tuhan dan bukan dirinya sendiri. Orang Israel diajarkan untuk bergantung dan beribadah kepada Tuhan dan bukan kepada Musa. Sebagai orang tua kita juga harus mengajarkan demikian kepada anak-anak kita. Mereka adalah milik Tuhan dan bukan milik kita. Tuhan menitipkan anak-anak di dalam keluarga kita untuk kita bina. Tubuh kita juga milik Tuhan. Dalam waktunya, tubuh kita akan kembali ke dalam tanah. Tubuh kemuliaan akan kita terima ketika Tuhan Yesus datang kembali. Sebagai seorang pemimpin yang melayani kita harus mengingat bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan.

Kedua, Musa melayani umat Israel dengan pengorbanan dan bukan mengorbankan (Keluaran 32:30-31). Musa mau Tuhan mengampuni bangsa Israel. Ia bahkan rela namanya dihapus dari kitab yang Tuhan tulis jika itu bisa membuat Tuhan mengampuni Israel. Ini adalah pengorbanan yang luar biasa. Yesus datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani serta memberikan nyawa-Nya untuk semua orang percaya. Musa juga memiliki kerelaan untuk berkorban. Stefanus mau mengorbankan dirinya demi kemuliaan Tuhan (Kisah Para Rasul 7:60). Kita harus memiliki semangat pengorbanan seperti ini. Mengapa Musa berani berdoa demikian? Apakah Musa sedang putus asa? Pemimpin yang melayani tidak akan mengorbankan orang yang dipimpinnya demi dirinya sendiri. Pemimpin yang sejati berdiri di depan dan mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dipimpinnya. Pengorbanan yang kita lakukan harus kita kaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Di sana kita tidak akan merasa sudah berkorban. Jika kita merasa sudah berkorban, maka kita akan menjadi orang yang sombong. Pengorbanan itu kita lakukan bukan agar orang lain melihat kita sebagai orang yang baik melainkan agar orang lain melihat Tuhan. Pengorbanan Musa yang pertama adalah harus berpisah dari istri dan anaknya supaya ia bisa fokus melayani Tuhan ketika akan membebaskan bangsa Israel. Di dalam hidup kita, kita harus lebih banyak berkorban daripada mengorbankan orang lain. Alkitab berkata bahwa mereka yang memberi itu lebih berbahagia daripada mereka yang menerima (Kisah Para Rasul 20:35). Kita harus menghidupi Roma 12:1, yaitu mengorbankan hidup kita sebagai persembahan yang kudus di hadapan Tuhan. Tuhan ingin kita memiliki kesetiaan dan pengenalan akan Tuhan. Orang tua berani berkorban untuk anak dan anak harus mengerti pengorbanan orang tuanya. Jika seorang anak hanya memiliki mental untuk menuntut dan meminta maka mereka mirip seperti bangsa Israel yang terus bersungut-sungut di padang gurun. Segala pengorbanan kita yang tulus harus dipersembahkan untuk Tuhan. Kerelaan hati membuat kita mau berkorban.

Ketiga, Musa melayani umat Israel sampai garis akhir (Bilangan 27:12-23, Ulangan 3:23-29, dan 34:1-12). Setelah Musa melakukan kesalahan yaitu tidak mengikuti petunjuk Tuhan, ia tidak diperbolehkan masuk ke dalam tanah Kanaan. Ia memukul bukit batu sebanyak 2 kali dalam kemarahan yang tidak suci. Ia diizinkan untuk naik ke gunung Pisga sehingga ia bisa melihat Tanah Perjanjian itu namun ia sendiri tidak boleh masuk ke dalamnya. Setelah itu ia harus menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Yosua. Ia melayani Tuhan sampai garis akhir. Ia tidak berhenti melayani karena umurnya atau karena urusan keluarganya. Ketika kita mengutamakan Tuhan, kita pasti dipelihara oleh Tuhan. Tuhan sudah menunjukkan kasih setia-Nya dan kita harus setia sampai mati kepada Tuhan. Musa adalah seorang pemimpin yang setia dan mau berubah untuk menjadi lebih baik. Saat Musa diperintahkan untuk menyiapkan seorang pemimpin yang baru, ia setia menjalankannya. Ia tetap mau melayani bangsa Israel sampai akhir hidupnya. Seorang pemimpin yang baik pasti mempersiapkan pemimpin yang baru. Pemimpin yang tidak baik tidak akan mau turun dari jabatannya dan ia tidak rela menyerahkan semua itu kepada orang lain. Ini adalah orang yang gila kekuasaan. Hal yang kita butuhkan bukanlah jabatan tetapi penyertaan Tuhan. pemimpin yang baik pasti mau melayani sampai mati. Setiap orang yang jabatannya dicabut oleh Tuhan harus rela menerima keputusan itu. Setiap kita dipanggil menjadi seorang pemimpin, minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Di dalam setiap perkara kecil kita harus setia demi kemuliaan Tuhan. Yusuf setia dalam setiap perkara kecil sehingga ia diperkenan oleh Tuhan. Wibawa kita sebagai seorang pemimpin bergantung bukan pada harta dan jabatan melainkan penyertaan Tuhan.

 

Penutup

Milikilah hati seorang pemimpin yang melayani dan bukan untuk dilayani sebagai bos. Ini bukan berarti seorang anak bisa menuntut agar orang tuanya tidak memberikan perintah kepadanya. Setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing yang sudah diberikan oleh Tuhan dan ini harus dijalankan. Pekerjaan rumah tangga bukanlah pekerjaan yang remeh karena di dalam pekerjaan itu seorang ibu sedang melayani Tuhan. Setiap pemimpin harus melayani dan tidak semua pelayan menjadi pemimpin. Jadi di dalam segala hal ada ordo dan aturan. Jika semua orang memperebutkan jabatan maka akan terjadi kekacauan sehingga pekerjaan Tuhan tidak mungkin dikerjakan. Ketika seorang pemimpin melupakan apa yang seharusnya menjadi fokus dan hanya mementingkan uang dan jabatan, ia kehilangan identitas. Banyak orang telah kehilangan identitas demi mencapai hal-hal yang berharga di mata dunia. Jika kita bisa menjadi seorang pemimpin maka itu adalah anugerah untuk menyatakan Tuhan yang besar. Kita harus memiliki mental seorang pemimpin sejati supaya Kerajaan Allah semakin dinyatakan melalui hidup kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami