Pemimpin Yang Futuris

Pemimpin Yang Futuris

Categories:

Kita akan mempelajari kepemimpinan Musa sebagaimana dinyatakan oleh firman Tuhan. Mari kita membaca Keluaran 3:9-10, 2 Korintus 5:7, dan Ibrani 11:27. Ibrani 11:27 mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan berdasarkan kekuatan mata kita sendiri. Kita tidak bergantung pada hal-hal yang bersifat lahiriah termasuk pengalaman. Kekuatan kita dalam menghadapi berbagai masalah dan tekanan hidup adalah iman.

PENDAHULUAN

Apa arti pemimpin yang futuris? Setiap kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri. Kita adalah pemimpin di dalam keluarga kita. Kita adalah pemimpin yang memiliki nilai tanggung jawab, tujuan, dan target yang harus dicapai. Mungkin di antara kita ada pemimpin suatu perusahaan atau suatu lembaga. Ini adalah pemimpin organisasi. Di sini kita melihat bahwa Musa memiliki kualitas sebagai pemimpin rohani dan pemimpin organisasi. Pemimpin yang visioner itu berbeda dengan pemimpin yang futuris. Pemimpin yang visioner itu belum tentu futuris. Mengapa demikian? Karena visi bisa menjadi fantasi jika apa yang diinginkan atau dimimpikan tidak tercapai. Visi bisa hanya menjadi mimpi kalau ternyata pemegang visi itu tidak mau melangkah sedikitpun. Sedangkan orang yang futuris di dalam seluruh hidupnya ada nilai penggenapan untuk apa yang dikerjakan berkaitan dengan kemuliaan Tuhan.

Sampai sejauh mana visi itu penting untuk mengarahkan pada tujuan? Visi mengarahkan agar hidup kita punya isi. Jika hidup tidak memiliki visi maka hidup itu tidak memiliki isi atau bobot. Jika visi kita hanya bersifat lahiriah atau duniawi maka visi kita akan tenggelam oleh karena visi-visi yang baru. Visi yang baik adalah visi yang bersifat rohani. Visi mengarahkan seluruh hidup kita untuk konsisten dan fokus untuk mencapai yang terbaik demi Tuhan.

Bagaimana dapat menangkap visi rohani untuk seluruh hidup kita? Mengapa visi rohani itu penting? Karena apapun yang kita kerjakan dan apapun status kita, semuanya harus berkaitan dengan visi rohani. Visi rohani yang teragung adalah basileia yaitu Kerajaan Tuhan. Seluruh hidup kita bukanlah untuk diri kita sendiri dan keluarga kita tetapi untuk Tuhan. Kita akan menghadap Tuhan tatap muka dan kita akan mempertanggungjawabkan seluruh hal yang kita sudah kerjakan berkaitan dengan visi Kerajaan Tuhan.

Apa peranan iman berkaitan dengan pemimpin yang futuris? Pemimpin yang futuris bukan bersandar pada kekuatannya sendiri tetapi pada imannya. Iman itu didapat dari firman. Iman merupakan satu kekuatan yang luar biasa yang memampukan setiap kita untuk bertahan, mengembangkan, dan memajukan segala hal dalam aspek iman. Rasul Yohanes mengatakan bahwa hanya imanlah yang bisa memberi kemenangan (1 Yohanes 5:4) dan bukan kekuatan pribadi, hikmat, kekayaan, dan pengalaman kita. Ini mengajarkan kepada kita tentang perjuangan iman.

Kenapa Musa disebut pemimpin yang futuris dan strategis? Karena seluruh hidupnya sudah dipaketkan oleh Tuhan. Selama 40 tahun ia menjadi putra dari putri Firaun. 40 tahun berikutnya ia tinggal di Midian dan menjadi gembala kambing domba. 40 tahun yang terakhir Musa memimpin bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Seluruh hal yang akan dicapai di depan itu bersifat futuris, bernilai progresif, dan strategis. Semua yang dikerjakannya memiliki nilai organisasi yang rapi, padu, dan harmonis agar ia dapat mencapai yang terbaik sampai pada akhirnya ia bisa melakukan regenerasi dalam kepemimpinannya.

PERJUANGAN IMAN

Setiap kita dipanggil untuk berjuang. Perjuangan kita tidak hanya dikaitkan dengan bangsa dan negara, keluarga, ekonomi, dan hal-hal lainnya. Perjuangan kita harus dikaitkan dengan penebusan Kristus. Kita harus berdiri dalam status yang benar, suci, dan punya nilai ketaatan di hadapan Tuhan. Di dalam bagian ini, hidup adalah peperangan. Mengapa peperangan? Karena Setan akan senantiasa mengincar kita. Setelah kita menjadi anak-anak Tuhan dan memiliki dedikasi yang kuat untuk hidup bagi Tuhan, Setan akan terus menciptakan banyak cara untuk menjatuhkan kita. Di sinilah kita mengerti bahwa menangkap visi Tuhan bagi hidup kita itu penting. Perjuangan iman kita yang dikaitkan dengan visi Tuhan membuat hidup kita memiliki isi. Kita telah membaca bahwa Allah mendengar doa orang Israel. Selama 400 tahun mereka diperbudak oleh Mesir dan mereka kehilangan mental, identitas, dan karakter sebagai imamat yang rajani. Tuhan mendengar suara Israel dan Ia memilih Musa sebagai pemimpin. Saat itu Musa menolak beberapa kali karena ia melihat kepada dirinya sendiri, keterbatasan diri, dan ketidaklayakan diri. Ia meminta agar Tuhan memilih orang lain saja tetapi di dalam proses itu akhirnya Musa menangkap dan mengerti maksud Tuhan dan visi Tuhan. Mengapa Musa trauma untuk menjadi pemimpin? Dahulu ia adalah orang penting di istana Firaun dan dididik dalam hikmat dan pengetahuan Mesir. Apapun yang dikatakan dan diperbuat oleh Musa memiliki kuasa. Ini berarti bahwa Musa adalah orang yang sangat penting. Ia memiliki banyak pengetahuan dan kedudukan yang tinggi serta kuasa yang besar sehingga ia melakukan kesalahan ketika ingin menjadi pemimpin bagi orang Ibrani.

Ketika ia berdiam selama 40 tahun di Midian, ia tidak belajar apa-apa namun ia sedang dibentuk dan diperas oleh Tuhan agar ia menjadi seorang gembala yang baik. Musa menjalani sekolah formal di Mesir. Namun itu ternyata tidak cukup untuk membuatnya menjadi seorang pemimpin berkualitas di mata Tuhan. Musa harus menjalani sekolah kemurnian hati agar ia bisa dipakai oleh Tuhan sebagai pemimpin yang sungguh memiliki kualitas dan kehandalan untuk mencapai yang terbaik dalam standar Tuhan. Pada akhirnya Musa menangkap visi Tuhan. Setiap kita hidup di dalam waktu, namun semua yang bersifat kronos akan tenggelam dan ditelan oleh waktu. Kita diberikan satu nilai anugerah untuk menangkap waktu Tuhan yang bersifat kairos. Di dalam proses waktu kita yang bersifat kronos, setiap kita harus menangkap kairos itu. Ini karena kairos itu merupakan visi yang harus digenapi berkaitan dengan pekerjaan, usaha, studi, dan keluarga kita dimanapun kita berada. Jika kita tidak menangkap visi Tuhan tetapi menangkap visi dunia maka kita akan menjadi orang yang tertatih-tatih dan kelelahan. Ini karena apa yang kita pikir sebagai baik ternyata ujungnya tidak baik dan apa yang kita pikir membahagiakan dan membanggakan justru mendatangkan kesedihan. Inilah akibat dari tidak menangkap visi Tuhan. Visi Tuhan tidak akan mengecewakan, menenggelamkan, dan menyedihkan kita tetapi justru visi Tuhan membuat kita menjadi orang yang berarti, yang bisa dibanggakan Tuhan pada waktu kita bertemu tatap muka dengan Tuhan.

Ketika Musa menangkap visi Tuhan, ia menjalankan visi Tuhan untuk bisa memimpin bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Normalnya, perjalanan ini hanya membutuhkan 3,5 sampai 4 tahun namun ternyata Tuhan membuatnya menjadi 40 tahun. Mengapa demikian? Karena Tuhan mau agar tanah tersebut diduduki oleh orang-orang yang memiliki mental, karakter, jiwa, dan rohani yang baru. Maka Tuhan menguji, memurnikan, dan menyatakan keadilan bagi orang Israel agar mereka siap masuk ke tanah perjanjian dengan hati, komitmen, dan karakter yang baru. Namun ternyata setelah diuji, ada yang tidak siap. Alkitab menyatakan bahwa hanya mereka yang berumur 20 tahun ke bawah, kecuali Kaleb dan Yosua, yang boleh masuk ke tanah Kanaan (Bilangan 14:29-30). Sisanya mati dalam hukuman Tuhan. Musa ternyata memimpin satu bangsa yang tegar tengkuk. Dalam Amsal 29:21 dituliskan ‘siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala’. Jangan sampai kita melupakan ayat ini. Orang-orang menjadi keras kepala jika dari sejak mudanya mereka terus dimanja oleh lingkungan, orang tua, dan kakek-nenek. Mereka menjadi keras kepala karena mereka merasa diri mereka benar, tidak pernah dikoreksi, dan tidak pernah ditegur agar dirinya bisa menjadi orang yang lebih baik. Ketika Israel menjadi budak selama 400 tahun, mereka dimanjakan dengan fasilitas dan makanan serta dibentuk sampai bermental budak. Mereka akhirnya menjadi orang yang tidak siap menghadapi kesulitan, tantangan, dan pembaruan. Musa harus menerima ini semua dan memimpin mereka menuju tanah Kanaan. Ini pasti berat sekali bagi Musa.

Inilah mengapa perjuangan iman itu sangat penting. Kita harus selalu mengandalkan Tuhan. Musa melihat bahwa dirinya harus memimpin bangsa yang keras kepala dan tegar tengkuk dan mungkin ini bisa membuatnya mundur. Namun Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa kita hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya (2 Korintus 5:7). Ini mengajarkan kepada kita, sesuai dengan Ibrani 11:27, bahwa Musa bisa bertahan bukan karena unsur melihat tetapi karena memegang janji dan penyertaan Tuhan. Mata kita sudah berdosa. Mata kita sudah menjadi standar untuk menilai kebaikan hidup. Mata kita mudah sekali ditipu oleh fenomena-fenomena lahiriah. Maka kekuatan hidup kita bukanlah karena melihat tetapi karena iman. Iman itu bertumbuh dari firman yang kita baca, renungkan, kontemplasikan dan hidupi dalam kehidupan kita setiap hari. Kita harus membiarkan firman membaca, mengoreksi, mengevaluasi, dan mengajarkan kita banyak hal. Dengan demikian kita bisa bergaul dengan Tuhan melalui firman. Maka marilah kita membaca firman setiap hari. Jika tidak, bagaimana kita dapat hidup dalam iman? Bagaimana kita dapat menang menghadapi tantangan dan godaan dunia? Kita percaya bahwa Musa bertahan dalam memimpin bangsa Israel selama 40 tahun karena kekuatan iman. Imanlah yang memberi menang dan bukan diri kita. Imanlah sumber kemenangan. Firman harus kita ingat dan hidupi sehingga kita menjadi pejuang iman yang menang bagi Tuhan.

KEPEMIMPINAN FUTURIS

Kepemimpinan futuris berarti memiliki kemampuan untuk menggenapkan visi Tuhan. Setiap orang punya mimpi, ambisi, dan visi. Namun waktulah yang menguji apakah semuanya digenapi atau tidak. Semua itu tidak digenapi karena orang tersebut tidak punya nilai futuris dan progresif untuk mencapai yang terbaik untuk Tuhan. Musa disebut sebagai pemimpin yang futuris karena ia memiliki kemampuan dari Tuhan untuk menggenapkan seluruh visi Tuhan satu persatu walaupun pada akhirnya ia tidak bisa masuk tanah Kanaan. Ia memimpin menuju tanah Kanaan dan ia dapat melihat tanah Kanaan dari gunung Nebo (Ulangan 34:1). Di situlah ia berserah dan ia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan karena satu alasan kecil. Dia marah dan memukul batu dengan tongkat dan air keluar dari batu itu (Bilangan 20:11). Ia satu kali melakukan kesalahan yang melanggar kesucian Tuhan dan meluapkan emosi yang tidak suci dan kesalahan satu kali ini membuatnya tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Satu emosi yang tidak suci membuatnya tidak menunjukkan kebenaran tetapi malah menunjukkan kuasa yang tidak benar. Itu membuatnya tidak bisa masuk ke tanah perjanjian. Namun apakah Musa seorang pemimpin yang gagal? Tidak. Ia setia dan berhasil karena ia mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Pada akhirnya ia harus menunjuk pemimpin yang baru yaitu Yosua. Kita melihat Musa sebagai pemimpin yang menggenapi visi Tuhan. Ia menangkap visi Tuhan, menjalankannya, dan menggenapinya secara progresif dalam pandangan rohani. Jika wawasan duniamu tidak dikaitkan dengan pandangan rohani tentang Kerajaan Tuhan maka semua konsep pandangmu itu tidak berguna. Paulus berkata bahwa dirinya menaklukkan semua pikiran di bawah pikiran Kristus (2 Korintus 10:5). Paulus merubuhkan rencana atau siasat manusia bukan dengan kekuatannya sendiri melainkan dengan firman Tuhan. Pandangan rohani selalu membuat kita melihat surga. Paulus mengatakan bahwa dirinya adalah seperti petinju yang tidak sembarangan memukul dan seperti pelari yang selalu fokus untuk mencapai garis akhir dari panggilannya. Setiap kita harus menggenapi visi Tuhan yang berkaitan dengan seluruh kehidupan kita. Kita tidak boleh melupakan pandangan rohani yang terus memandang ke depan. Kunci fokus kita adalah menangkap hal yang ada di depan tersebut.

Kriteria pertama dari pemimpin yang futuris adalah pemimpin yang membawa perubahan. Ada dua macam hal yang bisa terjadi dalam kehidupan kita yaitu kita diubah atau kita mengubah, atau mungkin kita tidak membawa perubahan apa-apa. Setiap kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus agar setidaknya kita bisa berfungsi sebagai garam dan terang. Garam bisa mencegah kebusukan dan terang bisa menerangi kegelapan. Kita semua harus menjadi agen perubahan. Kita perlu terlebih dahulu berubah lalu kemudian kita bisa merubah hal yang di luar. Kita bisa merubah hal yang bersifat umum. Pemimpin yang futuris punya visi yang bersifat global. Musa harus mengerjakan transformasi dan perubahan dalam nilai rohani dari orang-orang Israel. Alkitab jelas mencatat bahwa setelah menyeberangi laut Teberau, Musa merayakan ibadah bagi Tuhan (Keluaran 15:1-21). Mengapa mereka langsung beribadah? Karena itu adalah tugas yang pertama yaitu transformasi rohani. Masa 400 tahun membuat mereka kehilangan karakter sebagai umat pilihan Tuhan dan imamat rajani. Mereka bermental budak dan tidak memandang Tuhan sehingga mereka berkompromi dalam agama orang Mesir. Transformasi rohani telah dikerjakan oleh banyak tokoh dalam Alkitab. Transformasi-transformasi rohani yang telah dikerjakan merupakan hal yang penting pada masa itu. Di bagian ini kita melihat bahwa Musa telah mengerjakan transformasi rohani. Transformasi ini bersifat dari dalam ke luar dan membuat mereka bisa melihat dan percaya kepada Allah. Ini mendorong mereka untuk beribadah dalam iman, bersyukur, dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan melalui hidup mereka.

Perubahan rohani adalah perubahan yang harus selalu progresif. Roma 12:2 menyatakan ‘berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna’. Ini menunjukkan bahwa perubahan adalah tugas kita. Modal perubahan sudah diberikan oleh Tuhan. Seluruh perubahan dalam nilai kerohanian sudah disiapkan sarananya oleh Tuhan. 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa firman itu mengajar, mengoreksi, memperbaiki, dan membentuk kita. Ayat berikutnya menyatakan bahwa kita akan dipakai secara luar biasa oleh Tuhan. Perubahan hati kita dimulai pada saat lahir baru. Perubahan hati itu membuat kita melihat dosa dengan serius dan merubah konsep pandang kita tentang segala hal. Kita harus berubah secara radikal. Maka perubahan ini bisa disebut sebagai perubaha yang revolusioner. Itu semua harus nyata dalam hidup kita. Pertobatan tanpa perubahan 180 derajat bukanlah pertobatan. Perubahan yang tidak dimulai dari hati dengan Roh Kudus sebagai sumber kekuatan adalah perubahan yang bersifat situasional saja dimana perubahan situasi akan memengaruhi perubahan itu. Perubahan kondisional adalah perubahan dari dalam ke luar. Ketika kondisi hati kita berubah, kita akan secara otomatis merubah hal-hal di luar diri kita. Bukan hal di luar yang menciptakan perubahan yang sesungguhnya karena yang dihasilkan hanyalah perubahan sesaat. Musa mengajarkan Israel tentang transformasi spiritualitas supaya mereka mendengarkan, menyenangkan, dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Musa mengajarkan mereka bernyanyi dan memuji Tuhan.

Berikutnya, Musa mengadakan perubahan dalam nilai karakter. Masa 400 tahun membuat bangsa Israel bermental budak sehingga mereka tidak berjuang dan tidak memikirkan kemajuan. Mereka hanya menjalani hidup hari demi hari dan hanya memikirkan tentang makanan dan pekerjaan mereka. Ketika mereka menemukan tantangan dan kesulitan, mereka langsung berteriak kepada Musa dengan mengeluh (Keluaran 16:3). Mereka menyatakan bahwa mereka ingin pulang ke Mesir karena hidup di Mesir dirasa lebih baik (Bilangan 14:3-4). Ini menunjukkan bahwa mereka bermental budak. Israel sangat mudah bersungut-sungut, protes, dan marah. Kita hendaknya tidak seperti itu. Ketika dihadapkan dengan tantangan dan hambatan, kita harus menyatakan identitas kita sebagai murid Tuhan. Kita harus memiliki karakter yang teguh dan kuat. Ketika menghadapi ujian, kita harus meminta hikmat, kekuatan, dan jalan keluar dari Tuhan. Kita semua harus kuat dalam menghadapi penderitaan. Anugerah keselamatan disaksikan ketika kita diuji dalam penderitaan dan kita tidak menghujat dan membuang nama Yesus juga ketika kita siap mati bagi Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kita sudah memiliki karakter yang teguh dan kuat di dalam Yesus Kristus. Mengubah karakter menjadi lemah lembut itu sulit. Musa dahulu memiliki karakter yang keras, namun setelah 40 tahun pembentukan Tuhan di Midian, hati Musa terbuka. Tuhan menyatakan bahwa di muka bumi ini, Musa adalah orang yang paling lembut hatinya (Bilangan 12:3). Ini menunjukkan bahwa sekeras apapun karakter kita, jika kita mau diubahkan oleh Tuhan maka kita akan memiliki karakter yang lemah lembut. Karakter dalam Perjanjian Baru disebut sebagai buah Roh. Ada sembilan aspek di dalamnya yang ditutup dengan penguasaan diri. Hanya ada satu buah Roh yang berasal dari satu Roh Kudus yang membentuk hati kita. Perubahan karakter menunjukkan bahwa kita punya nilai pertobatan. Jika kita mengaku Kristen tetapi tidak punya karakter Kristus dan kesucian maka kita sebenarnya bukan anak Allah. Musa mengadakan pembaruan karakter supaya mereka memiliki identitas imamat rajani, umat pilihan Tuhan. Musa memulai dengan menunjukkan karakternya yang bisa menjadi contoh.

Tuhan adalah agen perubahan. Merubah spiritualitas dan karakter orang Israel yang bermental budak tidaklah mudah. Proses yang harus dilewati adalah selama 40 tahun. Yohanes 15 menyatakan bahwa jika ada cabang yang memiliki ranting yang tidak menghasilkan buah maka Tuhan akan membersihkan ranting itu. Jika hidup kita tidak produktif maka hidup itu tidak boleh dipertahankan. Kita harus membuang sifat-sifat yang buruk dan menempel pada pokok anggur yang benar supaya kita berbuah yang benar demi Tuhan. Perubahan karakter harus dikerjakan terus menerus. Sebagai orang tua kita harus memiliki mata yang tajam. Jika kita melihat ranting yang tidak berubah dari anak-anak kita maka kita harus membersihkannya. Semua ranting yang bersaling-silang harus dipotong karena ranting yang baik bercabang dari dalam ke luar. Karakter anak harus dibentuk sejak dini, maka dari itu orang tua harus segera memotong ranting yang tidak berbuah. Jika tidak demikian, maka mungkin butuh 40 tahun untuk merubah anak-anak kita. Karakter itu akan sangat sulit diubah jika orang itu tidak mau diubah, namun karakter itu bisa berubah jika orang itu mau berubah dalam pertolongan Allah Roh Kudus.

Berikutnya, perubahan dalam nilai komunal atau komunitas. Mereka sudah bermental budak, tidak punya kekuatan untuk bersatu, dan tidak memiliki pemimpin. Mereka tidak bersatu untuk beribadah tetapi mereka berdiam dalam kelompok-kelompok. Di dalam bagian ini Musa harus membuat perubahan dalam komunitas sehingga mereka memiliki identitas dan memiliki perjuangan dalam Tuhan serta tidak lagi bermental budak yang bersungut-sungut. Pada tahap yang kedua, keberanian mereka diuji pada masa Yosua. Mereka harus merebut Kanaan melalui peperangan. Angkatan berikutnya harus dilatih menjadi tentara Tuhan. Bagaimana dengan komunitas, lingkungan, keluarga, dan tempat kerja kita? Apakah kita sudah menghadirkan Tuhan? Apakah kita sudah bercahaya dan menegakkan kebenaran di dalam komunitas kita? Musa mendemonstrasikan dalam Keluaran 18 ketika mertuanya datang dan membawa Zipora, istrinya serta kedua anaknya. Yitro adalah imam dari agama yang berbeda. Musa kemudian menceritakan tentang pimpinan Tuhan bagi bangsa Israel. Mendengar cerita itu, Yitro memuji Tuhan “Terpujilah Tuhan, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun” (Keluaran 18:10). Pada ayat ke-11 ia berkata “sekarang aku tahu, bahwa Tuhan lebih besar dari segala allah”. Alkitab tidak mencatat apakah setelah Yitro pulang ia menjadi orang percaya atau tidak, tetapi setidaknya kita tahu bahwa Musa menceritakan perbuatan Tuhan yang besar kepada keluarganya. Ia tidak menceritakan keberhasilan ekonominya karena itu tidak penting. Kita juga harus memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita. Israel harus menghidupi panggilan untuk menyatakan kebesaran Allah di dalam komunitas. Kita bersatu sebagai tubuh Kristus untuk menggenapkan kehendak Tuhan di Cikarang. Tim pembangunan juga harus bersatu. Kita harus membagi tugas dan mengerjakan secara komprehensif karena kita tahu bahwa ini adalah beban yang sulit. Kita harus merancang strategi yang baik. Jika engkau tidak dapat mengerjakan sesuatu maka setidaknya engkau bisa berdoa. Musa mengadakan pembaruan dalam komunitas dan mereka harus bersatu untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Ini tidak mudah. Pemimpin yang futuris, yang menggenapkan perubahan, melakukan perubahan itu untuk menyenangkan hati Tuhan. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. Jika kita sendiri tidak berubah maka kita tidak akan bisa menjadi contoh sehingga kita tidak punya kuasa. Jika kita ingin hidup kita memiliki kuasa maka kita harus menjadi contoh terlebih dahulu. Musa harus menciptakan komunitas yang beribadah kepada Tuhan dan yang menyatakan kebesaran Tuhan serta tidak lagi bermental budak. Musa ingin agar komunitas Israel berani melakukan perkara-perkara yang besar demi Tuhan. Mereka harus bersatu bukan untuk kesenangan pribadi tetapi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar bagi Tuhan. Dalam KPI yang direncanakan pada tanggal 27 April, kita akan menguji kesatuan para pemuda dan hati mereka dalam menjangkau jiwa-jiwa baru. Itulah panggilan kita. Gerakan Reformed Injili mendorong kita untuk terus bergerak. Kita tidak boleh statis tetapi dinamis. Kita tidak boleh menikmati zona nyaman tetapi menerobosnya. Kita harus terus berinovasi bagi Tuhan.

Kedua, pemimpin yang futuris adalah pemimpin yang selalu mencari solusi (Problem Solver). Musa adalah pencari solusi. Dia dipanggil untuk menyelesaikan masalah dan masalah yang terbesar dari umat Israel adalah mereka tidak lagi memandang Tuhan sebagai sumber kekuatan, hikmat, dan pertolongan. Mereka bermental budak dan sudah terbiasa untuk mengandalkan kekuatan manusia. Ketika Yitro melihat bahwa Musa dari pagi sampai petang menghadapi segala masalah bangsa Israel sendirian, ia memberikan saran kepada Musa (Keluaran 18). Hal yang dilakukan Musa tidak mencerdaskan bangsa Israel. Ia menyuruh Musa agar mengajarkan hukum kepada orang-orang yang sudah dipilih sehingga bangsa Israel tidak hanya bergantung pada Musa seorang diri. Musa menjalankan saran tersebut sehingga penyelesai masalah bukan hanya ia seorang diri tetapi juga orang-orang yang sudah dididiknya. Orang-orang yang menyelesaikan masalah tidak boleh sampai dirinya sendiri menjadi sumber masalah. Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan masalah terbesar di dunia yaitu dosa dan terputusnya relasi antara Allah dan manusia. Kita semua sudah terhilang dan akan mati dalam dosa tetapi Tuhan datang untuk menyelamatkan kita (Roma 3:23-24). Dia masuk ke dalam hati kita untuk menyelesaikan masalah terbesar. Ia memulihkan relasi kita dengan Allah sehingga kita mendapatkan pengampunan dan pembaruan. Panggilan kita juga terkait dengan penyelesaian masalah yang terbesar yaitu dosa. Ketika dunia tidak mengerti kebenaran dan mengenal Allah, kita harus mengabarkannya kepada mereka (Matius 28:19).

Musa menjadi penyelesai masalah yang berani berdialog dengan Tuhan. Ketika bangsa Israel membuat lembu emas, Musa memerintahkan orang Lewi agar membunuh orang-orang yang menyembah lembu emas (Keluaran 32:26-28). Musa memohon agar Tuhan memberikan pengampunan bagi mereka. Musa bahkan berani meminta kepada Tuhan agar namanya dihapus dari kitab kehidupan demi bangsa Israel (Keluaran 32:32). Ketika menjadi penyelesai masalah, kita harus memiliki nilai kasih dan pengorbanan seperti Musa. Tanpa kasih dan keadilan, kita hanya menjadi orang yang kejam adanya. Jika kita tidak memiliki pengorbanan, maka kita akan mengorbankan orang lain. Hakim dan jaksa yang mengerti prinsip ini akan menjadi orang yang sangat dipakai oleh Tuhan. Musa berani mengorbankan dirinya karena ia punya kasih kepada bangsa Israel. Jika kita mau menyelesaikan masalah anak kita, maka kita harus memiliki kasih terlebih dahulu. Kasih itu memberikan kekuatan. Tanpa kasih, kita menjadi orang yang kejam. Jika anak tidak dididik di dalam kasih, maka mereka akan menjadi monster. Apa yang dilakukan oleh Musa mirip dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus datang dalam kasih dan mengorbankan diri-Nya supaya kita bisa lebih baik dan berarti. Ketika pemimpin futuris menyelesaikan masalah, ia selalu berlimpah dengan kasih kepada orang yang dipimpin. Ia selalu siap untuk mengorbankan dirinya dan bukan orang lain. Kita dipanggil bukan untuk menimbulkan masalah melainkan menyelesaikan masalah. Musa berhasil menjadi penyelesai masalah. Kita harus melatih keluarga kita, kelompok kita, dan karyawan kita untuk menganalisa dan mencari solusi untuk setiap masalah. Jika kita ikut seperti Musa yang mau menyelesaikan semua masalah bangsa Israel sendirian maka kita tidak akan bisa berfokus untuk hal-hal yang besar. Pemimpin yang futuris adalah pemimpin yang punya nilai penyelesai masalah. Dia punya kasih dan pengorbanan. Kita sebagai orang tua juga harus memikirkan masa depan anak-anak kita. Kita harus siap untuk berkorban bagi mereka.

Ketiga, pemimpin yang futuris adalah pemimpin yang inspiratif. Musa diminta untuk naik ke atas gunung Sinai untuk bertemu dengan Tuhan tatap muka dan mendapatkan sepuluh perintah Allah (Keluaran 19-20). Hukum pertama sampai keempat bersifat vertikal dan sisanya bersifat horizontal. Selain itu Tuhan juga memberikan hukum moral. Semuanya diberikan oleh Tuhan kepada Musa supaya kemudian ia memberikannya kepada bangsa Israel. Tuhan mau bangsa Israel menjadi cerdas dalam kesucian. Banyak orang memiliki kecerdasan pengetahuan tetapi tidak punya kesucian dan hatinya kosong. Banyak orang berhasil di dunia namun ditolak oleh Tuhan. Ada sebuah acara televisi yang tidak mendidik tetapi hanya menonjolkan masalah dan perempuan-perempuan cantik. Acara ini hanya menunjukkan nilai hedonisme dan bukan firman Tuhan. Orang dalam acara ini pintar namun tidak memiliki rasa malu, tidak cerdas dalam hati nurani, dan tidak cerdas iman. Ini berbahaya untuk generasi berikutnya. Ini adalah acara yang tidak bermutu namun ada banyak yang suka menontonnya. Ini merupakan masalah. Acara ini laku karena orang-orang yang menontonnya juga adalah orang-orang yang bermasalah. Dunia ini memang terbalik adanya dan inilah tanda bahwa kita sudah mendekati akhir zaman. Segala usaha yang menjual kenikmatan malam semakin laku. Namun Alkitab mengajarkan agar kita hidup sebagai anak-anak terang dan seperti terang yaitu terbuka (Efesus 5:8).

Tuhan memakai Musa sebagai pemimpin yang inspiratif yang memberikan wahyu Tuhan dan membarui hati Israel supaya terjadi perubahan dalam hidup mereka sampai mereka bisa mencerdaskan orang lain karena mereka akan menjadi bangsa yang besar. Firman adalah pelita dalam hidup kita (Mazmur 119:105) dan juga hikmat tertinggi yang mempermalukan hikmat dunia (1 Korintus 2 :27). Mari kita berdoa agar kita bisa menjadi pemimpin yang inspiratif yang menghidupi dan membagikan firman yang mencerdaskan kehidupan. Kecerdasan yang tertinggi adalah takut akan Tuhan (Amsal 1:7), bukan takut miskin maupun kegagalan. Orang yang takut kepada Tuhan akan mengerjakan segala hal dengan maksimal karena ia mau bertanggung jawab kepada Tuhan. Pemimpin yang inspiratif adalah pemimpin yang mencerdaskan orang-orang di sekitarnya agar mereka melihat Tuhan dan bukan dirinya sendiri. Hasil kerja dan semua kaidah dari pemimpin yang inspiratif pasti menang dalam ujian waktu. Kita juga harus melihat perkataan Yohanes dalam Yohanes 3:30 “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Pemimpin yang baik selalu mempersiapkan generasi berikutnya agar mereka lebih besar daripada dirinya sendiri. Kita sebagai orang tua harus memiliki pemikiran yang demikian. Pemimpin yang inspiratif membuat hidup orang lain lebih efektif dan produktif karena ia selalu bersandar pada Tuhan. Inilah yang Musa lakukan. Pada akhir hidupnya, Musa naik ke gunung Nebo, melihat tanah Kanaan, kemudian ia mati tanpa marah atau sungut-sungut. Ia menerima kedaulatan Tuhan. Ia tidak masuk ke tanah Kanaan tetapi mempersiapkan orang lain sebelum masuk ke tanah Kanaan. Jika tiba saatnya bagi kita untuk berhenti melakukan pekerjaan kita di dalam kedaulatan Tuhan, maka kita tidak boleh marah dan bersungut-sungut karena memang itulah waktu yang diberikan oleh Tuhan. Hal yang terpenting adalah Musa mati dalam perkenanan Tuhan. Yesus berkata “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Orang kaya yang bodoh itu mati dan tersiksa di neraka (Lukas 16:23). Kita harus menjadi pemimpin yang futuris. Setiap kita memiliki ‘Kanaan’ kita sendiri dan visi dari Tuhan yang harus kita genapi berkaitan dengan Kerajaan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami