Pemimpin yang Berkorban (Musa)

Pemimpin yang Berkorban (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 2:11-22 dan Ibrani 11:24-26.

 

Pendahuluan

Terkadang di dalam hidup, kita diperhadapan dengan sebuah pilihan. Pilihan tersebut bisa bersifat praktis untuk jangka pendek, jangka panjang, atau di antara itu. Dari pilihan inilah kita tahu apakah itu sudah tepat dan benar melalui tujuan dan hasilnya. Mungkin kita pernah pergi ke pasar atau mall dengan satu tujuan tetapi kemudian pulang dengan membawa barang-barang yang bukan menjadi tujuan kita. Di sinilah kita harus mengontrol keinginan kita dan melihat kembali apa yang menjadi prioritas kita serta melihat apa yang harus segera dibeli dan apa yang bisa dibeli nanti. Musa ketika berumur 40 tahun memilih untuk membela bangsanya dan berani untuk membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Ibrani. Ia harus memilih antara membela bangsa Mesir yang dimana ia menjadi pemimpin atau membela orang Ibrani yang sedang diperbudak oleh bangsa Mesir. Musa adalah putra dari putri Firaun dan ia memiliki jabatan yang begitu tinggi di Mesir. Ia bertugas untuk mengawasi pekerjaan para budak dari bangsa Israel. Ketika ia melihat ada orang Mesir yang memukul orang Ibrani, ia membela orang Ibrani. Ini bukanlah pilihan yang mudah. Ibrani 11:25 menyatakan bahwa Musa lebih memilih penderitaan bersama dengan umat Allah daripada menikmati kesenangan Mesir sebagai putra dari putri Firaun yang punya kekuasaan yang besar. Ia memilih untuk meninggalkan semua itu dan membela orang Ibrani. Ia melihat kepada upah rohani dan memilih itu sehingga ia menolak kesenangan dalam dosa. Apakah pilihan Musa untuk membunuh orang Mesir adalah jalan keluar atau solusi yang benar? Bisakah Musa memakai cara yang lebih bijaksana? Mungkin Musa bisa memilih untuk berbicara kepadanya dan menyuruhnya untuk tidak memukul orang Ibrani lagi, namun seiring waktu kabar ini bisa tersebar dan Musa akan ketahuan juga. Jadi situasi ini memang sulit bagi Musa. Ketika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri dalam menyelesaikan masalah tanpa melibatkan Tuhan, ujung-ujungnya kita hanya akan menambah masalah dan bukan menyelesaikan masalah. Mengapa Allah membiarkan Musa melakukan ini? Membunuh adalah dosa dan hal itu dituliskan Musa ketika ia sudah bertemu dengan Tuhan di gunung Sinai.

Alkitab mencatat secara singkat mengenai pertumbuhan Musa. Pada saat Musa lahir, Firaun sudah memerintahkan bahwa semua anak laki-laki harus dibunuh (Keluaran 1:22). Ini karena bangsa Israel bertambah jumlahnya dengan sangat cepat sehingga mereka akan bisa menguasai Mesir (Keluaran 1:9-10). Di sanalah Firaun mengeluarkan kebijakan itu. Ketika Yesus dilahirkan, Herodes memerintahkan agar anak-anak berumur 2 tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya dibunuh (Matius 2:16). Jadi Musa yang masih bayi saat itu terancam nyawanya, namun orang tuanya berusaha menyelamatkannya. Dikatakan bahwa Musa itu elok parasnya (Keluaran 2:2). Ia disembunyikan selama 3 bulan, namun setelah ia tidak dapat lagi disembunyikan, orang tuanya menaruh Musa di dalam peti dan meletakkannya di sungai Nil (Keluaran 2:2-3). Peti tersebut dilihat oleh putri Firaun dan ia berbelas kasihan pada Musa yang saat itu sedang menangis (Keluaran 2:5-6). Kakak Musa kemudian menawarkan seorang inang penyusu yaitu ibunya sendiri kepada putri Firaun dan ia menerima tawaran itu (Keluaran 2:7-8). Putri Firaun menamainya Musa dan nama Musa itu berarti ‘diambil dari air’ (Keluaran 2:10). Setelah semuanya itu Alkitab melanjutkan kisah Musa ketika ia sudah dewasa yaitu berumur 40 tahun. Ia menjadi pemimpin dan saat itu ia belum menikah. Saat itu ia masih menyimpan emosi yang bergejolak sehingga ia memilih untuk membunuh orang Mesir sesudah ia memukul seorang Ibrani. Di sini ia mencari solusi dengan kekuatannya sendiri tanpa mengandalkan Tuhan.

 

Pembahasan

Mengapa Musa marah ketika orang Ibrani dipukul oleh orang Mesir (ayat 11)? Kita pasti pernah marah dan kita pasti marah ketika melihat orang yang dekat dengan kita dipukul oleh orang lain. Musa melihat orang-orang Ibrani sebagai saudaranya. Ia marah karena melihat saudara-saudaranya diperbudak dan disiksa oleh orang Mesir. Di sini Musa melihat dengan mata lahiriah. Kemarahan yang ditunjukkannya bukanlah kemarahan yang suci. Musa berbelas kasihan pada orang Ibrani yang dipukul itu, namun apakah orang Ibrani itu menganggap Musa sebagai saudaranya? Belum tentu. Siapakah yang melaporkan pembunuhan yang dilakukan oleh Musa? Kemungkinan orang Ibrani tersebut karena dia yang paling mengetahui. Alkitab mengatakan bahwa Yesus Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Matius 9:36). Di sini Yesus melihat dengan mata rohani dan bukan dengan kemarahan yang tidak suci. Ia tidak mencari kesalahan orang-orang tetapi Ia memikirkan solusi yang paling dalam dari permasalahan manusia. Ia melihat manusia lelah jiwanya dan hatinya karena belum mengenal siapa Penebus mereka. Kita harus berhati-hati terhadap dosa mata. Dari melihat bisa timbul keinginan. Musa melihat orang Mesir memukul orang Ibrani. Dari sana Musa memiliki keinginan untuk membela saudaranya. Maka dari itu mata kita harus disucikan agar tidak membuat kita berdosa. Setelah ia melihat orang Mesir yang memukul saudaranya itu, ia tidak memikirkan solusi dengan pendekatan negosiasi atau komunikasi. Musa mengandalkan kuasanya dan tidak mengandalkan Tuhan sehingga akhirnya ia membunuh orang Mesir itu secara diam-diam. Setelah membunuhnya, jenazahnya disembunyikan di dalam pasir. Ia berpikir bahwa semua telah selesai namun ternyata belum selesai dan masalah lain muncul.

Mengapa Musa tidak melibatkan Tuhan? mengapa ia hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri? Ibrani 11:24 menyatakan bahwa sebenarnya saat itu ia sudah tidak rela disebut sebagai putra dari putri Firaun. Ia tidak mau menikmati harta dan fasilitas kerajaan Mesir sementara semua saudaranya mengalami penderitaan. Ia memilih untuk menderita bersama dengan mereka. Musa membuang kesenangan dari dosa itu demi Allah. Upah yang dilihatnya dinilai jauh lebih berharga daripada semua kesenangan di Mesir. Musa memilih cara pembunuhan dan itu bukanlah cara yang diperkenan Tuhan. Di sini ada satu kesenjangan. Kita terkadang tahu dan mengerti siapa Tuhan yang kita sembah dan tahu bagaimana harus menanggapi masalah namun kita gagal ketika menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut. Ini karena kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Dari kesenjangan itu kita mengerti bahwa kita tidak boleh hanya melihat kepada diri sendiri sebagai seorang pemberani dan seorang yang jujur. Jika kedua hal ini tidak dikaitkan dengan Tuhan dan kesucian-Nya, maka keberanian kita akan berpusat pada diri kita sendiri dan kita akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Banyak orang melakukan korupsi dan memberontak karena memiliki keberanian tetapi keberanian tersebut bukanlah keberanian yang suci. Keberanian yang tidak suci bisa muncul dari emosi yang meledak-ledak dan yang masih bersifat kanak-kanak. Menurut teori psikologi perkembangan anak, anak berumur 1-5 tahun membuat pilihan berdasarkan suka atau tidak suka. Di dalam umur ini orang tua harus menunjukkan otoritas sampai anak mengerti bahwa ia harus mengikuti kata orang tua. Jika orang tua gagal dalam masa ini, maka anak akan terus memakai pola pikir suka atau tidak suka. Pada umur 9-10 tahun, anak akan mulai membuat pilihan berdasarkan kebutuhan. Jika ia dididik dengan baik, maka ia akan memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang baik. Ia akan memiliki kecerdasan dalam memilih dan itu bergantung pada relasi anak dan orang tua. Pada umur 10-14 anak bisa menganalisa mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan. Jika ia dididik dengan benar, maka ia bisa mengadopsi standar Firman Tuhan dan hidup berdasarkan itu. Jadi anak akan mengalami perkembangan seiring dengan pertumbuhan fisiknya.

Mengapa Musa pada umur 40 tahun mengambil keputusan dengan cepat dan dalam kemarahan? Musa dibesarkan dalam kerajaan Firaun dan di sana ia tidak dilatih dari segi emosi untuk menyelesaikan masalah. Ia adalah orang penting dan dari sejak muda kemauannya selalu dituruti. Semua orang di sekitarnya berusaha mengalah di hadapannya. Bahkan mungkin orang yang benar bisa menganggap dirinya salah di hadapan Musa untuk membenarkan Musa. Inilah mengapa Musa tidak memiliki kepekaan dalam menanggapi masalah. Ia memang seorang jujur dan pemberani namun ia tidak bisa membuat keputusan yang tepat. Bukannya mengurangi masalah, ia justru menambah masalah. Bagaimana sikap Musa setelah membunuh dan menyembunyikan mayat orang Mesir itu (ayat 13)? Ia bersikap biasa-biasa saja. Biasanya orang yang baru saja membunuh akan terus mengingat apa yang sudah terjadi bahkan sampai tidak bisa tidur, namun di sini Musa merasa biasa-biasa saja. Mengapa ia merasa biasa-biasa saja? Apakah ini adalah pelarian karena Musa sebenarnya mengalami ketakutan? Apakah ia merasa bahwa dirinya berada di atas hukum sehingga ia tidak takut? Apakah ia sedang berlari atau sedang bersembunyi? Sebenarnya Musa tetap merasakan ketakutan. Ketika ia bertemu dengan 2 orang Ibrani yang sedang berkelahi, ia bertanya kepada orang yang bersalah. Di sini posisi Musa sangat tinggi karena ia adalah putra dari putri Firaun dan orang yang bersalah itu adalah budak. Seharusnya orang Ibrani itu meminta maaf ketika ia menyadari perbedaan posisi itu, namun ia malah menantang Musa: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu? (Keluaran 2:14). Orang Ibrani yang dianggapnya sebagai saudaranya ternyata menantang Musa. Di saat itu Musa langsung mengalami ketakutan.

Mengapa Musa mengalami ketakutan ketika ia diketahui sebagai seorang pembunuh dari orang Ibrani yang berkata padanya (ay 13-14)? Ini berarti sikapnya yang biasa-biasa saja merupakan penyembunyian dari ketakutannya. Ia menyembunyikan itu di balik jubah kepemimpinannya. Ia berpikir bahwa pembunuhan itu sudah ketahuan maka ia takut. Di sini Musa sadar bahwa ia belum menyelesaikan masalah tetapi malah menambah masalah. Tuhan membiarkan Musa mengambil tindakan yang salah agar ia dapat belajar mengelola emosi dengan benar dalam menyelesaikan masalah. Tuhan memakai orang Ibrani yang bersalah tersebut untuk membongkar dosa Musa yang disembunyikan. Kita harus waspada ketika kita menganggap diri kita paling benar padahal kita memiliki dosa yang disembunyikan. Saat kita mau menegur orang lain, Tuhan bisa memakai orang yang kita tegur untuk membongkar semua kemunafikan kita. Ini bukan berarti kita tidak boleh menegur dosa. Kita harus menegur dosa, namun pertama-tama kita harus hidup benar. Setan bisa mengetahui dosa-dosa kita serta masa lalu kita dan menuduh kita berdasarkan semua itu, namun kita harus berani menyatakan bahwa kita adalah milik Kristus dan bahwa kita sudah diubah oleh-Nya. Ketika Yesus pergi ke Gerasa, Setan tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah (Markus 5:7). Yakobus berkata bahwa Setan tahu bahwa Allah itu esa (Yakobus 2:19) namun ia tidak bertobat. Musa mau menjadi pemimpin dan hakim atas mereka namun di saat itu dosanya terbongkar dan ia ketakutan. Allah maha tahu sehingga tidak mungkin kita bisa menyembunyikan dosa dengan kecerdikan kita. Kita harus berhati-hati hidup sebagai anak Tuhan karena kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus. Tuhan akan terus menyucikan dan mempersiapkan kita untuk menjadi pemimpin yang baik. Tuhan mau menguduskan keberanian, kejujuran, dan emosi Musa sebelum ia diangkat menjadi pemimpin. Sebelum ia disucikan, semuanya bersifat antroposentris dan fokusnya adalah kepuasan manusia.

Apa tindakan Musa setelah perkaranya diketahui Firaun (ayat 15)? Firaun dikatakan ingin membunuh Musa. Hal itu bisa diketahui oleh Musa melalui orang-orang yang dekat dengannya. Ia melarikan diri dan tidak memilih untuk langsung menghadapi Firaun. Musa bukan lari ke tempat keluarganya tetapi lari ke tempat orang Midian. Di sana ia bertemu dengan Yitro dan menikah dengan Zipora (Keluaran 2:21). Ketika Yesus akan dibunuh, ia pergi dari tempat itu karena waktu-Nya belum tiba (Yohanes 7:1). Musa pernah jatuh dalam dosa karena terlalu percaya diri dan emosinya belum disucikan. Sekarang ketika Firaun mau membunuhnya, ia pergi keluar dari masalah itu. Ibrani 11:24-26 menyatakan bahwa Musa lebih memilih untuk menderita bersama saudara-saudaranya daripada menikmati kesenangan dalam dosa di istana Firaun. Ia melihat upah yang dijanjikan Allah lebih besar daripada semua kenikmatan Mesir. Mengapa Musa harus lari ke Midian dan tidak berani menghadapi perkaranya di hadapan raja Firaun? Musa bisa saja melaporkan perkara itu kepada putri Firaun dan meminta perlindungan darinya namun ia tidak melakukan itu. Ibrani 11:24-26 menyatakan bahwa Musa tidak mau disebut sebagai putra dari putri Firaun. Ia tidak mau lagi mengandalkan kekuatan manusia. Ketika ia pergi dari Mesir, ia tidak membawa hartanya. Ketika ia duduk di tepi sumur itu, ia tidak memiliki apa-apa selain niat baik untuk menolong anak-anak perempuan Yitro. Setelah ia menolong mereka, hal itu dilaporkan kepada Yitro dan Yitro memanggil Musa.

 

Di sini Musa memulai dengan titik yang baru setelah pertobatannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai orang yang berkuasa. Ia telah menanggalkan semua hal yang menyatakan kebesarannya sebagai putra dari putri Firaun. Hidupnya dimulai lagi dari titik nol. Itulah yang harus kita lakukan ketika kita mengaku dosa kita dan mau bertobat di hadapan Tuhan. Setelah Daud berzinah dengan Batsyeba, ia menerima teguran dari nabi Natan dan ia bertobat. Di sana Daud memulai kembali dari titik nol. Musa melakukan ini karena ia melihat Kristus. Ia memiliki cara pandang yang baru. Semua kemuliaan Mesir dianggap sebagai sampah. Filipi 3:8 segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. Pertobatan sejati selalu diikuti dengan perubahan paradigma, sikap, dan mental. Ia melihat kebergantungan kepada kuasa manusia sebagai dosa dan ia meninggalkan semua itu. Musa menjadi orang yang biasa-biasa saja ketika sampai di Midian. Selama 40 tahun Musa tinggal di Mesir. Setelah ia mengalami masalah itu, ia mengalami perubahan dalam dirinya dan pergi ke Midian. Di sana Tuhan memberikan Musa sekolah kepemimpinan dan sekolah ketaatan.

 

Penutup

Allah mengizinkan Musa selama 40 tahun berada di kerajaan Firaun untuk belajar sebagai seorang pemimpin yang berani dan jujur. Ketika ia mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan masalah, ia gagal dan justru menambah masalah. Setelah 40 tahun tinggal di Mesir, ia pergi ke Midian dan memulai hidup yang baru di sana dengan pertobatan dan paradigma yang baru. Musa berani menolak disebut sebagai putra dari putri Firaun karena memilih untuk hidup menderita sama dengan orang Ibrani daripada hidup bersenang-senang di Firaun karena dosa. Lembaran hidup Musa yang baru dimulai dengan anugerah. Selama 40 tahun ia akan menggembalakan kambing domba dan di 40 tahun berikutnya ia akan memimpin bangsa Israel ke tanah Kanaan. Ia hidup selama 120 tahun dan memiliki 3 fase hidup yang masing-masing dijalani selama 40 tahun. Kita belajar untuk tidak menyembunyikan dosa seperti Musa. Tuhan bisa membongkar dosa kita melalui orang-orang di sekitar kita. Allah itu maha tahu dan Ia tahu seluruh kehidupan kita. Di zaman ini dosa bisa menyelinap masuk melalui internet. Kita harus menjaga keluarga kita dengan penuh kewaspadaan. Ibadah dan persekutuan keluarga harus selalu ada untuk menjaga kualitas kerohanian dan kesucian keluarga.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami