Pemimpin Yang Berkorban (Musa)

Pemimpin Yang Berkorban (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 32:32, Yohanes 15:13, dan 1 Korintus 10:10

 

Pendahuluan

Apa itu pengorbanan? Jikalau di dalam pengorbanan kita masih melihat kepada diri sendiri dan bukan melihat itu sebagai panggilan, maka kita belum sungguh-sungguh berkorban. Orang yang berkorban tidak boleh berpikir take and give. Berkorban adalah panggilan kemurahan hati yang tidak mengharapkan pujian, imbalan, dan lainnya. Pengorbanan adalah apa yang kita berikan agar orang lain bisa lebih baik. Di dalam kacamata Alkitab, orang yang sedang berkorban tidak boleh merasa bahwa dirinya telah berkorban. Ini karena pengorbanan adalah panggilan dan bukan pengondisian. Yesus pernah mengajarkan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Orang Samaria itu berkorban secara penuh untuk orang yang sudah dirampok dan dipukuli itu. Ia membawanya ke penginapan dan memberikan uang kepada pemilik penginapan untuk perawatannya. Orang Samaria itu telah memberikan yang terbaik sampai orang itu sembuh. Ia bahkan berjanji akan kembali ke penginapan itu seandainya biaya pengobatannya melebihi uang yang telah diberikannya. Orang-orang agama bersikap sebaliknya. Mereka hanya melihat dan mungkin berkata ‘kasihan’ namun tidak memberikan bantuan apapun. Jadi menurut Tuhan Yesus orang yang benar adalah orang yang bertindak benar, tidak hanya melihat benar. Pengorbanan adalah panggilan dan harus dikaitkan dengan Kerajaan Tuhan, bukan diri kita sendiri. Di dalam proses berkorban itu mungkin orang lain tidak menghargai pengorbanan kita dan mungkin malah menghina kita. Dalam hal ini kita harus bersabar dan mendoakan mereka. Hati kita harus memancarkan kasih Tuhan juga bagi mereka yang tidak mau menerima kebaikan Tuhan.

Mengapa seseorang mau berkorban? Ada orang yang mau berkorban supaya dilihat baik. Ada yang melakukan itu agar dinilai berhasil. Ada yang berkorban demi mendapatkan cinta seseorang. Banyak orang mau berkorban demi mendapatkan keuntungan. Motivasi kita dalam berkorban haruslah seperti Musa yaitu untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Jadi pengorbanan kita bukanlah antroposentris (man-centered) melainkan teosentris (God-centered). Kita harus berkorban terutama demi Tuhan dan bukan demi manusia.

Apakah semua pengorbanan dapat disebut sebagai pengorbanan yang mulia (1 Korintus 13:3)? Ada orang yang membagikan seluruh hartanya untuk orang lain, bahkan merelakan nyawanya, namun semua ini sia-sia jika semua pengorbanan tersebut bersifat antroposentris. Pengorbanan yang benar harus berdasarkan kasih kepada Allah (teosentris) supaya orang-orang melihat Tuhan. Pengorbanan yang antroposentris bersifat sementara tanpa nilai kemuliaan. Banyak orang sudah berkorban habis-habisan namun tidak mencapai nilai kemuliaan karena pengorbanan mereka bersifat humanis. Setiap kita harus memahami bahwa pengorbanan adalah panggilan dan Tuhan Yesus memuji janda miskin yang dinilai Tuhan telah memberikan lebih banyak daripada semua orang (Markus 12:43-44). Janda miskin itu memberi dari kekurangan namun orang lain memberikan dari kelimpahan. Matematika Tuhan yang rohani terkadang tidak sesuai dengan matematika lahiriah. Jadi kita tidak perlu menunggu menjadi orang kaya dulu baru kemudian berkorban. Setiap kita yang sudah lahir baru telah diberikan potensi untuk berkorban.

Jika demikian apa dasar dari pengorbanan (Yohanes 15:13)? Kasih yang membuat kita mau mengorbankan nyawa kita, yang dikaitkan dengan kasih Tuhan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berkorban atau mengorbankan? Jika atasan kita mengorbankan kita, maka apakah ia bisa disebut sebagai atasan yang baik? Ia mungkin lebih pantas disebut sebagai orang jahat. Setiap kita harus bisa menjadi pemimpin yang berkarakter Kristen. Ada sebuah lukisan yang menggambarkan ular tembaga yang harus dilihat oleh bangsa Israel jika mereka mau selamat dari ular tedung yang dikirimkan Tuhan (Bilangan 21:4-9). Kita bisa melihat Kristus di balik ular tembaga itu (Yohanes 3:14). Di sana ada nilai kuasa yang menyelamatkan. Yesus adalah raja di atas segala raja dan Dia adalah singa Yehuda. Orang-orang yang melihat ular itu harus meminta pengampunan karena dosa sungut-sungut mereka. Mereka harus membarui hati mereka yang mempertanyakan kebaikan Tuhan. Salah satu dosa yang dibenci Tuhan adalah penyembahan berhala. Sekarang ini kita tidak menyembah patung berhala namun bisa menyembah gadget kita, games, fasilitas, hobi, dan semua benda yang memberikan kita kenikmatan. Kedua, Tuhan membenci perzinahan, percabulan, dan kecemaran. Ketiga, Tuhan juga membenci kemunafikan. Mulut kita dan tindakan kita tidak boleh berbeda. Kita tidak boleh menganut identitas ganda yang mengkompromikan identitas Kristen kita. Keempat, Tuhan membenci dosa bersungut-sungut. Seorang pemimpin Kristen harus memiliki sifat mau berkorban.

 

Pembahasan

Bagaimana Musa dapat disebut sebagai pemimpin yang berkorban? Sebelum Musa menjadi pemimpin eksodus, ia menjadi pemimpin di Mesir. Pada saat itu ia mau menjadi pemimpin bangsa Ibrani yang tidak sesuai dengan waktu Tuhan. Setelah ia membunuh orang Mesir yang menyakiti orang Ibrani itu, ia berpikir bahwa orang Israel akan membelanya, namun orang Israel justru mempertanyakan kuasa dan otoritasnya (Keluaran 2:14). Musa begitu percaya diri karena ia yakin pada dirinya yang adalah putra dari putri Firaun. Ia begitu yakin pada dirinya yang adalah satu-satunya orang Ibrani yang mendapatkan pendidikan yang tertinggi di Mesir pada saat itu. Ia memiliki kehebatan, kedudukan, dan uang. Semua itu memberikan keberanian dan membuat dirinya merasa layak menjadi pemimpin. Ia membunuh orang Mesir itu lalu berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, namun ternyata perkara itu ketahuan. Ketika Firaun mengetahuinya, Musa seperti mendapatkan satu pukulan serta satu tantangan untuk memilih. Ia bisa memilih untuk membela dirinya dalam statusnya sebagai putra dari putri Firaun. Ia bisa meminta ibu angkatnya di dalam kuasanya untuk membela dirinya. Namun ia memilih untuk tidak disebut sebagai putra dari putri Firaun. Ia memilih untuk menderita bersama-sama dengan saudara-saudarinya. Semua kenikmatan dan fasilitas di istana Firaun ditinggalkannya dan ia lebih memilih untuk dihina demi nama Kristus daripada mendapatkan upah karena dosa. Di sini Musa meninggalkan kenikmatan hidup karena dosa (Ibrani 11:24-26) di Mesir dan pergi ke Midian. Dengan iman ia melangkah ke sana. Inilah pengorbanan yang dilakukan Musa. Ia memulai sesuatu yang baru berdasarkan iman. Iman menjadi kunci yang mengajarkan kita tentang nilai pengorbanan. Tanpa iman, seluruh pengorbanan kita akan bersifat horizontal saja dan akan musnah seiring waktu.

 

Iman dan kasih mendorong kita untuk berkorban dan meninggalkan semua kenikmatan dan jabatan karena dosa, di sana ada perubahan paradigma. Jadi perubahan dimulai bukan dari sikap tetapi konsep dan paradigma. Ketika konsep dan paradigma sudah berubah, sikap juga akan ikut berubah. Jika hanya sikapnya yang diubah, maka orang itu akan kembali kepada sikapnya yang lama setelah waktu tertentu. Situasi dan kondisi bisa dengan mudah mengubah sikap seseorang kembali seperti dulu jika konsep dan paradigmanya tidak diubah. Iman mengubah kita dan kasih membuat kita berani berkorban karena sudah terjadi perubahan paradigma. Ciri pertobatan yang utama adalah perubahan cara pandang tentang uang, waktu, kenikmatan, pekerjaan, dan lainnya. Perubahan sikap di dalam emosi itu mudah, namun setelah emosi itu hilang, sikap itu akan kembali seperti semula. Seseorang tidak mungkin berubah hanya karena pengetahuan yang tidak dikaitkan dengan iman. Pendidikan harus mengaitkan pengetahuan dengan tanggung jawab iman. Oleh karena itu guru harus mementingkan perubahan paradigma sehingga siswa bisa menjadi agen perubahan. Agen perubahan tidak hanya merubah pengetahuan tetapi juga moralitas dan tanggung jawab kepada Tuhan. Inilah panggilan yang berat bagi guru-guru Kristen. Guru Kristen tidak boleh mementingkan uang tetapi harus mengutamakan pendidikan yang membawa perubahan bagi kemuliaan Tuhan. Ini tidak mudah karena seorang guru Kristen harus memiliki iman, kasih, dan harus membawa perubahan. Inilah filsafat pendidikan yang sangat penting karena berdasarkan Alkitab. Setiap pendidik Kristen harus mengerti filsafat pendidikan alkitabiah. Mereka harus berani berkorban namun tidak melihat dirinya telah berkorban. Ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa adalah sebutan yang tepat. Namun pada zaman ini banyak guru lebih melihat kepada bayaran daripada tanggung jawabnya. Mereka harus bertobat dari cara pandang yang salah ini.

 

Kita mau berkorban karena hal itu adalah panggilan kita. Orang yang tidak mau berkorban mungkin saja karena terlalu banyak perhitungan dan hanya mau keuntungan diri. Jika kita tidak ragu untuk kenikmatan diri namun ragu berkorban untuk Tuhan, maka sebenarnya kita harus bertobat. Pengorbanan kita tidak boleh mengorbankan studi demi pelayanan, mengorbankan keluarga demi pelayanan, dan lainnya. Semua hal yang dipercayakan Tuhan bagi kita adalah pelayanan. Semuanya mengandung tanggung jawab di hadapan Tuhan. Semuanya harus dikerjakan untuk kemuliaan Kristus. Di dalam panggilan pelayanan kita, kita harus berani berkorban. Seorang pelayan dipanggil bukan untuk mencari pujian atau melayani diri sendiri. Ada orang-orang yang mengaku sedang melayani Tuhan padahal di dalam hatinya mereka sedang melayani kepuasan diri sendiri. Simon sang penyihir itu terlihat sudah bertobat namun sebenarnya cara pandangnya belum berubah (Kisah Para Rasul 8:13-24). Ia berpikir bahwa kuasa Allah boleh dibeli dengan uang. Seorang pelayan harus memiliki hati yang murni dan tidak mengincar jabatan atau kehormatan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita memiliki hati seorang anak (Matius 18:3). Panggilan untuk berkorban itu tidak mungkin dilepaskan dari peran kita sebagai seorang pelayan. Mengorbankan waktu, tenaga, dan uang kita dalam pelayanan itu wajar. Di dalamnya ada keindahan karena kita berkorban untuk Tuhan tanpa merasa sudah berkorban. Jika kita tidak mengaitkan pengorbanan kita dengan iman dan kasih, maka pengorbanan kita bersifat antroposentris dan pada akhirnya kita akan menyombongkan diri. Banyak orang mau menjadi pahlawan karena imbalan yang bisa diraih. Di sini kita harus berbeda. Kita tidak perlu mengharapkan imbalan atau sikap yang baik dari orang yang mendapatkan berkat dari pengorbanan kita. Mungkin ada orang-orang egois yang mau memanfaatkan pengorbanan kita, namun kita tidak boleh membenci atau membalas mereka. Kita tidak boleh sampai melakukan pengorbanan yang tidak tepat. Jika pengorbanan kita membuat kita tidak punya waktu untuk hal-hal yang jauh lebih penting maka itu bisa menjadi pengorbanan yang tidak tepat. Musa meninggalkan semua kenyamanan dunia untuk Kristus namun ia tidak merasa berkorban.

 

Musa pergi ke Midian dengan iman (Keluaran 3:15-22). Ia tidak tahu apa yang ia bisa dapatkan di sana. Di sana ia bertemu dengan anak-anak Yitro. Kemudian ia menikah dengan Zipora dan menjadi gembala kambing dan domba. Di sana ia belajar kerendahan hati ketika menjadi gembala. Di istana ia diajarkan untuk meninggikan hati di dalam situasi dimana semua orang menghormatinya. Ketika menjadi gembala, ia harus menggiring hewan-hewan dan memerhatikan mereka dari pagi sampai sore, lalu menggiring mereka kembali satu per satu ke kandang. Setiap hewan harus diperhatikan. Ini adalah situasi yang sangat berbeda dengan situasi di istana. Sebagai gembala ia tidak lagi bisa menikmati statusnya sebagai orang istana dan tidak bisa lagi memakai pakaian yang indah. Ia melakukan pengorbanan secara status atau martabat, kenyamanan fisik, dan pengetahuan. Semua kenyamanan di istana tidak bisa lagi ia rasakan karena ia lebih banyak berada di sabana. Ia hanya bisa melihat rumput dan mungkin sesekali bunga yang tumbuh pada musimnya. Musa bisa menikmati pemandangan alam ini namun ia juga harus merasakan siksaan karena cuaca. Jika orang tua tidak langsung memercayakan jabatan dalam perusahaan yang besar kepada anaknya tetapi menguji anaknya terlebih dahulu, maka mereka adalah orang tua yang baik. Ada pula orang tua yang langsung memberikan jabatan kepada anaknya namun anaknya selalu dipantau dan diuji dalam kurun waktu tertentu, ini juga adalah hal yang baik. Setiap kita yang mengalami kesulitan tidak boleh bersedih dan menerima nasib tetapi harus berjuang dan melakukan terobosan dengan bergantung kepada Tuhan. Ketika Musa menggembalakan kambing dan domba, ia tidak mendapat pujian atau imbalan khusus apapun. Di sana hatinya diperas sehingga ia menjadi rendah hati. Musa dibentuk oleh Tuhan menjadi orang yang lembut hatinya (Bilangan 12:3). Ia belajar untuk berkorban tanpa harus merasa berkorban.

 

Jika Tuhan memercayakan kita menjadi pemimpin, maka kita harus memiliki karakter rela berkorban. Pemimpin yang sempurna adalah pemimpin yang memiliki keteladanan dan ketaatan. Musa lupa menyunat anaknya. Ini karena istrinya adalah orang Midian yang tidak mengerti budaya Israel. Ketika suaminya akan menjadi pemimpin rohani yang besar dan Tuhan akan membunuh Musa karena perkara sunat itu, ia mengambil pisau batu dan menyunat anaknya. Kulit khatan anaknya kemudian diletakkan pada kaki Musa dan menyebut Musa sebagai pengantin darah. Dari peristiwa itu Musa sadar bahwa misi yang dijalankannya adalah misi yang besar. Setelah itu istri dan anak-anak Musa pulang ke Midian dan tidak ikut misi eksodus karena risikonya terlalu besar. Musa bukanlah pemimpin yang bersifat kanak-kanak. Ia berani membedakan emosi untuk Tuhan dan emosi untuk keluarga. Ia harus rela terpisah dari keluarga setelah peristiwa “pengantin darah” (Keluaran 4:25-26). Setelah bangsa Israel sudah keluar dari Mesir dan Yitro mendengar hal itu, ia membawa istri dan anak-anak Musa. Jadi Musa berfokus untuk misi exodus lalu setelah itu bertemu kembali dengan keluarganya (Keluaran 18:1-4). Di sini Musa sebagai pemimpin harus berkorban. Terkadang pengorbanan itu terjadi bukan pada diri kita sendiri saja tetapi juga keluarga kita. Namun pengorbanan keluarga biasanya bersifat jangka pendek atau sementara. Musa memutuskan untuk sementara berpisah dengan keluarganya agar ia bisa berfokus pada misi Tuhan yang besar. Ini misi yang berat bagi Musa karena bangsa Israel begitu tegar tengkuk. Pengorbanan terkadang menuntut kita untuk meninggalkan apa atau orang yang kita kasihi termasuk keluarga kita untuk sementara waktu.

 

Dalam waktu 40 tahun kepemimpinannya, Musa sering dipersalahkan oleh bangsa Israel (sungut-sungut). Paulus mengatakan bahwa Tuhan menghukum bangsa Israel yang suka bersungut-sungut. Saat mereka terus bersungut-sungut, Tuhan mengirimkan api yang membunuh sebagian dari mereka. Tuhan sudah memberikan mereka makanan dan minuman naun mereka tetap bersungut-sungut. Ketika Tuhan mengirim ular tedung untuk menghukum mereka, Tuhan juga memberikan ular tembaga agar mereka selamat. Setelah itu mereka masih bersungut-sungut. Dari 12 pengintai, hanya 2 pengintai yaitu Yosua dan Kaleb yang melihat janji Tuhan dan mendukung agar Israel masuk ke tanah Kanaan. 10 pengintai yang lain menghasut agar Israel mengambil jalan yang lain. Di sana bangsa Israel bersungut-sungut kembali. Pada akhirnya Tuhan hanya memperbolehkan orang-orang yang berumur 20 tahun ke bawah dan 2 pengintai itu untuk masuk ke tanah Kanaan. Pada Bilangan 16 Korah, Datan, dan Abiram datang untuk memberontak. Korah mewakili suku Lewi mempertanyakan keimamatan Musa dan Harun. Otoritas mereka dipertanyakan oleh Korah, Datan, dan Abiram (Bilangan 16, bandingkan 1 Korintus 10:10 dan Filipi 2:14-15). Mereka yang memberontak kemudian membuat suatu kelompok tandingan. Jadi Musa sering dipersalahkan oleh orang Israel namun Musa sering membela mereka di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan bagi mereka. Inilah pengorbanan batin Musa. Hatinya sering diperas selama 40 tahun itu. Sebagai gembala, hatinya sudah diperas, dan ketika menjadi pemimpin Israel hatinya juga diperas. Banyak orang yang akan menikah tidak memiliki hati yang siap untuk menerima perbedaan sehingga mudah marah dan konflik setelah menikah. Orang yang akan menikah harus memiliki kematangan iman dan karakter sehingga siap menghadapi setiap konflik dalam pernikahan. Ketika bangsa Israel mempertanyakan otoritas Musa, mereka sebenarnya juga sedang mempertanyakan otoritas Tuhan. Musa pasti sangat dibebani hatinya namun ia tetap berdoa kepada Tuhan. Mereka tidak mengerti keputusan Tuhan yang mengangkat Musa. Musa mau berkorban namun tidak mau mengorbankan. Paulus menyatakan bahwa ada keadilan Tuhan sehingga kita tidak boleh dan tidak perlu bersungut-sungut. Kita dipanggil bukan untuk bersungut-sungut tetapi mengerjakan segala hal dengan rela. Yesus sendiri telah menjadi teladan dan memberikan nyawa-Nya. Pengorbanan yang terbesar adalah ketika kita mau menyerahkan nyawa kita. Semua pengorbanan harus berdasarkan kasih. Ketika Musa tidak diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan, ia menerima keputusan Tuhan dan tetap menjalankan perannya. Di sana Musa belajar melihat Tuhan lebih besar daripada tanah Kanaan. Jika Musa tidak melihat secara jangka panjang, maka ia bisa memberontak terhadap Tuhan juga. Tuhan melihat kekudusan secara serius sehingga ia tidak mengizinkan Musa masuk ke tanah Kanaan. Musa diminta untuk mempersiapkan Yosua menjadi pemimpin yang membawa Israel masuk ke tanah Kanaan.

 

Penutup

Kasih adalah dasar untuk sikap pengorbanan yang mulia (1 Korintus 13:3). Pengorbanan tanpa kasih kepada Tuhan adalah pengorbanan yang sia-sia. Pengorbanan yang mulia adalah berani memberikan nyawanya untuk Kerajaan Allah (Yohanes 15:13). Setiap kita dan semua hamba Tuhan harus memiliki cita-cita untuk mati sebagai martir. Setiap orang yang meninggal sebagai martir harus kita ingat dan kita jadikan teladan sebagai orang yang mau mengorbankan nyawanya demi kemuliaan Tuhan. Pempinan yang berkarakter Kristus adalah pemimpin yang rela untuk berkorban. Jadi sebagai pemimpin kita tidak boleh mengutamakan keuntungan dunia. Banyak pemimpin besar di dunia telah bermental kapitalis dan melupakan nilai Kerajaan Allah. Mereka menilai segala hal berdasarkan uang dan pada akhirnya akan jatuh karena uang juga. Kita harus memikirkan keuntungan untuk banyak orang lain dan memikirkan pelayanan bagi Tuhan. Banyak pengusaha di GRII akhirnya memikirkan hal ini dan mereka memutuskan untuk berani berkorban. Mereka merasa telah diberikan banyak hal oleh Tuhan dan mereka memutuskan untuk tidak berfokus pada keuntungan diri. Ada orang-orang yang bersedia meninggalkan jabatannya demi fokus untuk melayani Tuhan. Mereka telah menjadi saksi dalam kehidupan mereka. Kita harus belajar berkorban seperti Kristus sehingga orang-orang bukan melihat kita tetapi melihat Tuhan. Seperti Musa, kita harus rela melepaskan segala kenikmatan dan kemewahan karena dosa. Kita harus rela untuk dibentuk dan memberikan hati kita untuk diperas sehingga kita bisa diubahkan menjadi pemimpin yang diperkenan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami