Pemberontakan Israel: Perubahan Zaman dari Hakim ke Raja (1 Samuel 8:4-9)

Pemberontakan Israel: Perubahan Zaman dari Hakim ke Raja (1 Samuel 8:4-9)

Categories:

Khotbah Minggu 1 Maret 2020 Sore

Pemberontakan Israel: Perubahan Zaman dari Hakim ke Raja

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang pemberontakan Israel. Dalam bagian yang kita bahas ada perubahan zaman dari hakim ke raja. Pembahasan kita diambil dari 1 Samuel 8:4-9.

 

 

1) Pendahuluan

 

Peralihan dari zaman hakim ke zaman raja. Para tua-tua berkumpul di Rama dan berbicara kepada Samuel. Di sanalah mereka meminta seorang raja. Jadi zaman para hakim beralih menjadi zaman para raja. Apakah pemberontakan bangsa Israel karena Samuel ada kesalahan? Di mata Tuhan ini adalah suatu bentuk pemberontakan. Mengapa demikian? Karena Allah berkata “bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (ayat 7). Di sini ada ketidakpuasan dari bangsa Israel. Mungkin saja itu timbul karena mereka tidak puas akan kepemimpinan Samuel saat itu. Namun jika kita menyelidiki Alkitab, Samuel tidak bersalah sebagai pemimpin. Kesalahan Samuel adalah mengangkat anak-anaknya menjadi hakim. Mereka tidak memiliki kompetensi dan tidak memenuhi syarat-syarat rohani untuk menjadi hakim pada saat itu. Mengapa bangsa Israel tidak meminta seorang hakim dan sebaliknya meminta raja? Bukankah wajar jika bangsa Israel meminta hakim yang baru? Mereka bisa saja meminta seorang hakim diangkat, bukan dari anak-anak Samuel, untuk menggantikan Samuel. Mengapa mereka meminta raja? Mereka telah terpengaruh karena pergaulan dengan bangsa-bangsa lain yang dipimpin oleh raja. Salahkah bangsa Israel meminta seorang raja? Tidak salah. Di dalam kitab-kitab Taurat sudah dicatat bahwa bangsa Israel akan dipimpin oleh raja setelah masuk ke dalam tanah Kanaan. Permintaan bangsa Israel bersalah karena mereka meminta raja tidak pada waktu Tuhan. Mereka meminta pemimpin bukan sesuai dengan kehendak Tuhan. Mengapa Allah mengizinkan Israel meminta raja melalui Samuel? Hal yang paling mengerikan adalah ketika Allah membiarkan kita mendapatkan sesuatu yang melampaui waktu Tuhan. Ketika Allah membiarkan kita melawan ketetapan-Nya, kita akan celaka atau binasa. Inilah yang terjadi.

 

 

2) Dari Ketidakpuasan kepada Pemberontakan terhadap Allah

 

Setelah semua manusia jatuh ke dalam dosa, standar manusia menjadi kepuasan diri dan kenikmatan pribadi. Namun di dalam dosa semua standar itu menjadi relatif. Bangsa Israel tidak puas dari segi organisasi karena Yoel dan Abia tidak hidup menjadi teladan sebagai hakim seperti Samuel. Mereka hanya mengejar keuntungan sehingga bangsa Israel menjadi tidak puas. Namun ketika mereka tidak puas, seharusnya mereka meminta solusi dari Samuel. Mereka seharusnya meminta solusi dari Tuhan. Dalam hal itu Samuel sangat kesal terhadap Israel yang menuntut seorang raja. Ia sangat kesal melihat Israel yang merasa paling mengerti waktu Tuhan dan meminta seorang raja sebelum waktunya. Ketika Samuel kesal, ia berdoa kepada Tuhan. Samuel tidak melampiaskan emosinya kepada orang Israel. Samuel bisa saja mengusir para tua-tua saat itu, namun itu bukanlah sifat Samuel. Samuel bukan orang yang langsung marah semena-mena. Samuel bisa saja bersungut-sungut namun ia tidak melakukan itu. Di sini kita belajar bahwa Samuel punya kematangan emosi. Samuel berhak melakukan hal itu karena Samuel tidak bersalah sedikitpun terhadap bangsa Israel. Apakah Samuel ada kesalahan terhadap Israel? Tidak ada (1 Samuel 12:3-5). Saat Samuel menjadi pemimpin, ia tidak pernah merugikan satu orang Israel pun. Jadi Samuel adalah pemimpin yang sungguh bersih di hadapan Tuhan. Namun ketika ia harus menghadapi bangsa Israel yang menuntut sesuatu sebelum waktunya, ia menjadi kesal. Ketika para tua-tua menyatakan bahwa Yoel dan Abia hidup tidak benar, Samuel tidak kesal. Ia tahu bahwa anak-anaknya hidup tidak benar. Samuel tidak membela anak-anaknya lebih daripada melihat waktu Tuhan. Samuel tidak melindungi anak-anaknya yang bersalah. Ia berdiam saat para tua-tua mengkritik dan memberikan usulan. Namun di dalam hatinya ia kesal. Setelah itu Tuhan menyatakan bahwa bukan Samuel yang ditolak tetapi Tuhan. Tuhan berkata “Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu” (ayat 8). Ini adalah penghiburan yang besar untuk Samuel.

 

Mengapa bangsa Israel meminta raja? Mengapa tidak meminta hakim? Seharusnya mereka meminta hakim. Bangsa Israel meminta raja, salahkah ini? Apakah karena mengikuti bangsa lain? Mereka mau menjadi seperti bangsa-bangsa lain. Mengapa mereka tidak meminta pimpinan Samuel atau Tuhan untuk mendapatkan solusi atas masalah kepemimpinan ini? Bangsa Israel bersalah ketika meminta raja. Di mana letak kesalahannya? Kesalahan yang pertama adalah tidak meminta petunjuk Tuhan. Beberapa kali Daud melakukan kesalahan karena tidak meminta petunjuk Tuhan. Kita bisa meminta Tuhan untuk memimpin rasio, emosi, dan kehendak kita ketika kita melakukan aktivitas sehari-hari sehingga kita tidak perlu berdoa sebelum setiap aktivitas (mandi, minum, memilih baju, dan lainnya). Ketika kita sedang memilih baju untuk dipakai, kita tidak berdoa. Kita percaya iman memimpin rasio kita sehingga kita mengerti apa yang sebaiknya kita pakai. Ketika bangsa Israel mengganti sistem kepemimpinannya, ini adalah suatu momentum yang besar. Seharusnya mereka berdoa bersama terlebih dahulu. Seharusnya mereka meminta petunjuk Tuhan lewat Samuel. Kisah yang kita baca menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak mau dipimpin oleh Tuhan. Sebaliknya, merekalah yang mau memimpin Tuhan. Inilah kejahatan Israel. Mereka hanya memerhatikan bangsa-bangsa yang lain, tidak bertanya kepada Tuhan, dan langsung meminta raja. Mereka hanya mengikuti arus zaman dan tidak melihat Firman Tuhan. Dalam zaman postmodern ini kebenaran sudah direlatifkan sehingga yang terpenting adalah kenikmatan dan kepuasan diri. Segala produk, terutama gadget, diciptakan untuk kepuasan dan kenikmatan manusia. Dunia selalu berubah dan selalu mau menggeser kebenaran Tuhan. Bangsa Israel pun menggeser kebenaran Tuhan. Mereka harusnya sadar bahwa Tuhan pasti akan memberikan raja dalam waktu Tuhan. Samuel kesal bukan karena emosi sesaat tetapi karena ia mengerti bahwa itu bukan waktu Tuhan.

 

Jadi kesalahan Israel lainnya dalam meminta raja adalah karena waktunya belum tiba (bandingkan Kejadian 49:10 dan Ulangan 17:14-29). Dalam Kejadian 49:10 Yakub menyatakan berkat untuk suku Yehuda. Dari mana ia tahu bahwa pemimpin akan datang dari suku Yehuda? Sebelum meninggal, tokoh-tokoh Perjanjian Lama memberikan warisan iman dan pimpinan Tuhan. Mereka tidak mengutamakan warisan fisik. Samuel tahu Kejadian 49:10. Ia tahu bahwa raja datang dari suku Yehuda, bukan suku yang lain. Dalam Ulangan 17:14-29 Samuel juga mengetahui bahwa raja dipilih oleh Tuhan, bukan rakyat. Orang yang menjadi raja harus selalu meminta pimpinan Tuhan dan berorientasi pada Tuhan, bukan harta, manusia, kuasa, dan lainnya. Ketika raja Daud memiliki banyak istri, hal itu tidak dikehendaki oleh Tuhan. Mengapa Daud tetap memiliki banyak istri? Karena Tuhan membiarkannya. Ketetapan Tuhan bagi seorang raja dalam Ulangan 17 adalah ia tidak boleh memiliki banyak istri. Jadi poligami bukan kehendak Tuhan. Seorang raja juga tidak boleh memperkaya diri. Jadi ada dua kesalahan Israel ketika meminta raja yaitu Israel tidak meminta petunjuk Tuhan dan Israel meminta sebelum waktu Tuhan. Mereke menentukan apa yang mereka sendiri kehendaki.

 

Jika kita mempelajari lebih dalam, maka kita akan menemukan kesalahan yang ketiga yaitu adanya motivasi terselubung. Tuhan menyatakan bahwa bangsa Israel telah menolak Tuhan. Mereka menggeser kepemimpinan Tuhan dan menolak otoritas Tuhan. Mereka menolak untuk taat kepada Tuhan dan mengangkat seorang raja yang secara fenomena mereka bisa lihat, mengerti, dan taati. Pada intinya mereka menolak otoritas Tuhan. Alkitab memiliki otoritas sebagai Firman Tuhan yang diinspirasikan. Seluruh kebenaran Alkitab adalah kebenaran Tuhan. Alkitab tidak mengandung kesalahan dan memimpin kita kepada kekekalan. Jadi Alkitab memiliki otoritas. Saat para tua-tua merasa memiliki otoritas, mereka meminta seorang raja di dalam keberdosaan. Otoritas manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa akan terus melawan otoritas Tuhan. Tuhan seolah-olah berdiam, namun sebenarnya Ia bekerja. Mahkamah agama merasa memiliki otoritas untuk menyalibkan Yesus. Mereka merasa menyandang kuasa agama dan berhak memutuskan kematian Yesus. Otoritas orang berdosa bisa menjadi liar dan di balik segala keputusannya bisa tersimpan tujuan yang tidak beres. Allah seperti berdiam dan Yesus seperti berdiam. Di balik kependiaman Yesus tersimpan mental yang kuat. Ia mengerti kedaulatan Allah selalu di atas kedaulatan manusia. Motivasi terselubung bangsa Israel adalah karena dosa. Orang-orang karena dosa menjadi pemain sandiwara bahkan untuk jiwa mereka sendiri. Manusia berdosa bisa terlihat baik di hadapan manusia lainnya padahal ada motivasi terselubung. Manusia berdosa terkadang berpikir bahwa motivasi terselubungnya itu tidak diketahui oleh Allah padahal sebenarnya Allah maha tahu. Daud bisa berzinah dan merasa tidak ada yang mengetahui, namun Tuhan mengetahuinya. Samuel tidak tahu motivasi terselubung Israel namun Tuhan menyatakannya kepada Samuel.

 

Galatia 4 mengajarkan kita untuk senantiasa menuhankan Kristus dalam kehidupan kita. Dalam Galatia 4 Paulus mengajarkan agar kita tidak beralih kepada ilah-ilah yang mati. Di sana kita juga diajarkan untuk tidak mempermainkan Tuhan. Manusia bisa mempermainkan manusia lainnya, politik, bisnis, dan organisasi. Manusia bahkan bisa mempermainkan hatinya sendiri. Tuhan sudah memperingatkan Kain sebelum ia membunuh adiknya, namun Kain mengabaikan peringatan itu dan membunuh adiknya. Inilah keberdosaan manusia. Bangsa Israel beralih kepada ilah-ilah lain sehingga mereka mempermainkan Allah yang sejati. Mereka melawan apa yang diperintahkan Paulus dalam Galatia 4. Apakah Allah bisa dipermainkan oleh manusia? Tidak bisa. Manusia bisa menyembunyikan isi hatinya, namun Tuhan paling mengetahui kebusukan hati manusia. Manusia bisa mencoba untuk mempermainkan Tuhan dan Tuhan seolah berdiam. Namun sebenarnya Tuhan tidak pernah berdiam. Ketika manusia merasa memiliki otoritas dan kuasa untuk melawan Tuhan, ia merasa dirinya lebih kuat daripada Tuhan. Namun Tuhan itu maha kuasa, maha tahu, dan maha hadir. Tidak ada yang bisa memanipulasi Tuhan. Tuhan berdaulat mengatur segala hal. Ia menyatakan motivasi terselubung bangsa Israel kepada Samuel dan meminta Samuel untuk mendengarkan permintaan mereka. Allah mengizinkan itu dan kemudian membiarkan.

 

 

3) Penutup

 

Mengapa Allah meminta kepada Samuel untuk mendengarkan permintaan mereka? Tuhan bisa saja langsung menghukum mereka saat itu. Ketika Tuhan mau Samuel mendengarkan mereka, Tuhan terlihat kalah atau lemah. Seolah-olah Tuhan kalah oleh suara dari bawah ke atas. Tuhan sebenarnya tidak kalah. Ketetapan Allah tidak bisa digeser ketetapan manusia. Otoritas-Nya tidak mungkin bisa digeser. Kedaulatan Allah tidak mungkin dikalahkan kedaulatan manusia. Tuhan membiarkan Israel mendapatkan apa yang mereka minta yaitu raja. Tuhan menyatakan kewajiban dan hak seorang raja melalui Samuel. Di sini kita mengerti bahwa Tuhan tidak kalah oleh suara manusia yang berdosa. Melalui pengertian ini kita bisa mengerti tentang kematian para rasul. Para rasul seolah tidak berkuasa menghadapi para pemimpin yang memiliki kekuatan militer. Tuhan Yesus pun terlihat tidak berkuasa saat Ia ditangkap. Ia tidak melawan dan terlihat mengalah untuk menggenapkan rencana penebusan. Tuhan tidak selalu langsung memusnahkan orang-orang yang melawan para rasul-Nya. Jika setiap orang yang melawan para rasul langsung dimusnahkan, mungkin orang-orang akan memandang kepada para rasul lebih daripada memandang Tuhan. Ketika Tuhan membiarkan suatu hal buruk terjadi, apakah itu berarti doa kita sia-sia? Tidak sia-sia. Apakah Firman Tuhan yang kita baca menjadi sia-sia? Tidak. Setelah para tua-tua meminta seorang raja, Tuhan mendengarkan permintaan mereka dan memilih Saul sebagai raja Israel. Pada akhirnya Saul hidup lebih bejat daripada Yoel dan Abia. Saul lebih berorientasi pada kuasa sehingga bangsa Israel menjadi lebih kacau. Di sini kita belajar untuk tidak bermain-main dengan Allah. ketika Allah menetapkan sesuatu, itu pasti adalah hal yang baik. Ketika Tuhan mengizinkan penderitaan dalam hidup kita, itu adalah untuk pertumbuhan iman kita. Namun ketika Tuhan membiarkan kita seperti Ia membiarkan Yudas dan bangsa Israel, itu menjadi hal yang sangat mengerikan. Israel memberontak karena mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Allah dalam ketetapan-Nya, otoritas-Nya, dan dalam kedaulatan-Nya. Israel memberontak karena dipengaruhi oleh bangsa-bangsa lain sehingga mereka tidak melihat kepada Allah yang suci dan berkuasa.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami