Orang Percaya Sebagai Pusat

Efesus 3:11-13
Pentingkah kita mengenal diri dalam Yesus Kristus? Penting. Karena di dalam-Nya kita melihat hidup ini adalah anugerah. Kita akan melilhat diri bahwa tanpa Kristus, kita adalah orang yang tidak berguna dan sia-sia. Kita akan memiliki kebanggaan yang sesuai dengan rencana kekal Bapa dan dapat dipakai menjadi pemberita-pemberita Injil.

Orang Percaya Sebagai Pusat

Categories:

Kita sudah membahas bagaimana di dalam kita hidup kita harus memusatkan Kristus sebagai pusat hidup kita. Artinya seluruh hidup kita diarahkan kepada Dia. Nilai pengarahan hidup kita diarahkan oleh kebenaran Firman Tuhan. Yang dibangun atas dasar nabi dan rasul serta Yesus Kristus sendiri yang adalah batu penjuru pengikat kekuatan perjanjian lama dan perjanjian baru. Sehingga hidup kita mempunyai pusat, dasar, dan susunan doktrinal yang mempengaruhi cara berpikir dan kepribadian kita. Kristus adalah pengikat yang paling indah untuk menggabungkan seluruh nilai kehidupan kita sehingga semua terarah kepada kemuliaan Tuhan. Semua ini penting karena bagi kita yang di dalam Kristus memiliki status sebagai bait Allah (individu), keluarga Allah (komunitas) dan warga Kerajaan Sorga. Sebagai bait Roh Kudus maka kita harus membangun nilai kekudusan yang mencakup seluruh kehidupan kita menjadi satu bangunan yang rapi tersusun berdasarkan Firman Tuhan. Dengan kata lain kita harus mematikan sifat-sifat yang tidak produktif dalam hidup kita. Kita harus membuang segala kemalasan, keegoisan dan memanjakan diri tanpa nilai punya nilai perjuangan diri untuk maju bagi Tuhan. Di dalam aspek community, kita punya tanggung jawab sebagai keluarga kerajaan Allah sehingga harus mempunyai satu kesatuan dalam iman dan kebenaran. Kesatuan yang paling esensi dalam keluarga Allah adalah kesatuan merindukan pertumbuhan iman dalam kebenaran dan dalam memuliakan Tuhan bersama. Tidak ada lagi perbedaan-perbedaan lahiriah karena kita semuanya warga kerajaan sorga. Kita juga pernah membahas mengenai kerendahan hati Paulus. (1) Ia menjadi pelayan hanya karena kasih karunia Allah. Di sini mengingatkan kita untuk tidak boleh merasa sombong dan tidak boleh merasa mempunyai modal yang menunjuukkan bahwa kita memang layak menjadi pengurus dan pelayan Tuhan. Kita harus selalu melihat hidup berkaitan dengan nilai anugerah. Orang yang rendah hati selalu melihat anugerah Tuhan lebih besar dan lebih tinggi daripada potensi diri. Orang yang seperti ini tidak akan berani mencuri kemuliaan Tuhan. Dalam bagian ini Paulus menyatakan ia menjadi pelayan hanya karena kasih karunia. Di situlah kita belajar konsep melihat anugerah Tuhan lebih besar daripada potensi diri. (2) Paulus menyatakan keberadaannya yang paling hina diantara yang lain. Paulus membaca diri dan mengenal diri sebagai orang yang paling berdosa karena dia menyadari seluruh keberadaannya yang sekarang adalah hanya karena pengampunan dari Tuhan. Apakah benar Paulus adalah pendosa besar? Kalau tidak, mengapa ia menyebut dirinya sebagai pendosa besar? Dia menganggap dirinya pendosa besar karena dia salah di dalam memahami dan menjalankan kebenaran Tuhan. Dia pikir Kristus dan para pengikutnya membawa suatu ajaran sesat. Kita yang sudah banyak salah mengerti kebenaran tapi masih menganggap diri benar, itu lebih celaka lagi. Orang yang semakin rohani memiliki kepekaan rohani terhadap dosa begitu luar biasa. Di luar Kristen juga ada orang yang bisa memiliki rasa bersalah tinggi. Tetapi ini rasa bersalah ini bersifat umum. Rasa bersalah yang dimaksud adalah bersifat esensi dimana kita salah menangkap kebenaran, tidak memuliakan kebenaran, tidak hidup dalam satu nilai kebenaran. Di situlah kita melihat diri sebagai pendosa besar. (3) Kebanggaannya adalah memberitakan kekayaan Yesus Kristus (ayat 8), menyatakan isi rahasia Allah (ayat 9) dan menyatakan hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa (ayat 10). Memberitakan kekayaan Yesus Kristus berarti menyampaikan injil (kabar baik) mengenai Yesus Kristus. Karena baik adalah kabar yang menyegarkan dan memperbaharui. Tetapi bukan itu saja. Paulus mengajar setiap orang untuk bertumbuh di dalam Injil. Di sinilah kita harus belajar menjadi guru kebenaran untuk orang-orang di sekitar kita. Kebanggaan kita adalah bisa menyatakan misi rahasia Allah yaitu tentang rahasia penebusan bagi orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Ini bukan sesuatu yang mudah karena setiap kita belum tentu mengerti kehendak Tuhan secara pribadi. Kita mungkin diberikan hikmat untuk memuliakan Tuhan secara general tetapi kita harus terus belajar untuk mengerti isi hati Allah dengan hubungannya dalam setiap aspek hidup kita. Paulus rindu sekali menyatakan isi rahasia Allah di dalam setiap pergumulan pribadi lepas pribadi sehingga akhirnya orang-orang itu boleh hidup dalam suatu penebusan/redemption yang nyata. Alkitab yang kita terima itu lebih tinggi otoritasnya daripada buku-buku apapun juga. Pada waktu kita belajar wahyu umum seperti tentang pertanian dan teknologi maka semuanya tidak melampaui kebenaran yang Alkitab nyatakan. Jadi jikalau kita sudah belajar Aklitab dengan benar maka semua kita pasti menjadi orang Kristen yang cerdas. Contohnya seperti Daud, Musa dan Yusuf yang menjalani sekolah iman. Jangan kita minder kalau kita tidak punya status secara akademis tetapi kita harus minder kalau kita tidak punya iman. Pentingkah kita mengenal diri dalam Yesus Kristus? Penting. Karena di dalam-Nya kita melihat hidup ini adalah anugerah. Kita akan melilhat diri bahwa tanpa Kristus, kita adalah orang yang tidak berguna dan sia-sia. Kita akan memiliki kebanggaan yang sesuai dengan rencana kekal Bapa dan dapat dipakai menjadi pemberita-pemberita Injil. Dalam ayat 11-13, jikalau kita perhatikan akan menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki suatu program kekal penuh kasih karunia untuk manusia, dunia dan segala isinya. Kalau hidup kita yang lemah bisa dipakai memuliakan Tuhan, Ini adalah suatu rencana dari Tuhan Allah. Hal ini bukanlah hal yang mengejutkan bagi Tuhan. Di sini kita melihat bagaimana hidup kita harus mengerti program Allah yang memiliki pusat yang bersifat abadi dan kekal. Dan pusat dari rencana kekal Allah atas segala ciptaan tertuju pada gereja. Pusat daripada gereja adalah Firman Tuhan. Pusat daripada Firman Tuhan adalah Yesus Kristus. Dan pusat daripada Firman Yesus Kristus adalah penebusan. Jadi kalau gereja tidak lagi menjadikan Firman sebagai pusat maka gereja itu tersesat karena Iman dibangun atas Firman yang benar. Dan pusat daripada Firman adalah Firman Yesus Kristus jadi gereja kita lebih banyak memberitakan Firman Yesus Kristus. Dan pusat daripada Firman Yesus Kristus adalah penebusan melalui Yesus Kristus. Dengan demikian maka kita harus memiliki satu cara pandang yang tepat atas segala sesuatu yang terjadi. (1) Segala sesuatu yang terjadi berkatian dengan program kekal Allah yaitu Penebusan adalah Abadi. Ini artinya setiap orang yang sudah ditebus didalam Yesus Kristus pasti adanya dan alam maut tidak berkuasa lagi (ayat 11). Apa artinya abadi? Sesuatu yang kekal dan tidak bisa berubah di dalam proses waktu. Di dalam konsep Yunani, kairos adalah waktu yang tidak diikat oleh waktu yang bersifat sementara, atau kronos. Jadi kalau hidup kita kekal itu artinya kita mencapai kesempurnaan di dalam waktu yang bersifat sempurna. Berarti kekekalan adalah sesuatu yang tidak akan lagi diproses oleh waktu. Kekekalan adalah sesuatu yang tidak akan bisa dipengaruhi oleh sesuatu di luar daripada kekekalan itu sendiri. Di sini berarti pada waktu kita hidup kita bersyukur keselamatan kita sudah pasti. Tetapi apakah kita bangga diselamatkan? Tidak, karena kita harus menghidupi dan membangun keselamatan itu berkaitan dengan nilai kekal Tuhan. Mungkinkah orang Kristen hidup tidak punya tanggung jawab? Tidak mungkin, karena secara individu punya tanggung jawab, secara community punya tanggung jawab dan di sorga pun punya tanggung jawab untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Maka di dalam bagian ini jikalau kita sadar, kita selalu harus mengkaitkan hidup kita dengan nilai kekal Tuhan berarti kita disebut orang yang terus punya perjuangan iman. Maka kita sebagai gereja yang benar kita harus selalu bertumbuh dan berani menabur kebaikan, keteladanan dan perjuangan dimana pun kita berada. (2) Kita harus memiliki keberanian yang suci (ayat 12). Keberanian dalam beribadah dan melangkahkan kaki iman kepada perkara-perkara yang besar untuk kemuliaan Tuhan. Semua sudah dikerjakan berkaitan dengan satu nilai yang abadi dan kita akan memiliki satu keberanian menghadap Allah. Dan kita punya keberanian dalam iman. Ini mengajarkan kepada kita bagaimana orang Kristen bukan saja menuntut diri hidup suci tetapi harus punya keberanian yang suci. Ibadah jangan dilihat dari ibadah secara fenomena saja. Tetapi lihatlah nilai kerja dalam ibadah. Kita harus memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki iman untuk perkara-perkara yang besar untuk kemuliaan Tuhan. Gereja yang bertenaga daripada Firman Tuhan selalu melakukan perkara yang besar bagi Tuhan. Jadi kalau kita membangun gereja di belakang itu perkara kecil di hadapan Tuhan. Perkara yang besar adalah berapa jiwa yang harus kita menangkan bagi Tuhan. (3) Memiliki keteguhan hati dan tidak boleh tawar hati di saat sulit karena Allah adalah setia (ayat 13). Paulus mengalami kesengsaraan dan bahkan mati bagi Kristus tetapi tidak boleh orang lain sedih karena bagi Paulus sengsara di dalam Kristus itu adalah kebanggaan. Penderitaan dalam Kristus itu adalah satu kemuliaan. Kita belajar bagaimana kita menjadi orang Kristen tidak boleh cepat bersungut-sungut dan tidak boleh cepat mengatakan Tuhan itu tidak setia. Karena Tuhan tidak pernah ingkar janji. Dia selalu menyatakan kekuatan dan pemeliharan-Nya kepada kita dalam situasi dan kondisi apapun juga. Mengapa Paulus menulis surat 2 Timotius kepada Timotius? Karena pada konteks itu Timotius tawar hati. Timotius mendengar bahwa Paulus akan menjalankan hukuman mati di Roma. Hidup kita semakin hari ikut Tuhan harusnya memiliki mental semakin kuat dan tidak boleh cepat mundur. Bangunkan dan tanamkan mental sepeti itu. Paulus mengatakan kepada jemaat di Efesus untuk jangan tawar hati dalam segala hal kesulitan sekali pun. Kita belajar membangun satu cara pandang berkaitan dengan Efesus 3:11-13. Dimana kita sudah mengkaitkan kerendahan hati Paulus, melihat dirinya berkaitan dengan nilai yang bersifat kekal dan membangun satu nilai kebanggaan di dalam memberitakan Injil. Dan Paulus itu sebagai program kekal Allah. Setiap kita diprogram menjadi orang Kristen yang efektif dan memiliki satu kecerdasan iman. Kaitkanlah segala sesuatu dengan nilai kekal Tuhan karena kita orang-orang yang ditebus. Dan bangunlah satu keberanian yang suci berkaitan dengan nilai tanggung jawab di hadapan Tuhan dalam sikap ibadah. Milikilah keberanian langkah kaki iman melakukan perkara-perkara yang besar bagi Tuhan dengan mental yang teguh. Jangan mellihat diri dalam kelemahan yang lebih besar daripada pertolongan Tuhan. Jangan melihat keterbatasan diri lebih besar daripada pemeliharaan Tuhan.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami