Kecerdasan Iman (Nuh)

Kecerdasan Iman (Nuh)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 6:13-15, 8:20; Ibrani 11:7

Pendahuluan

Apa itu kecerdasan (quotient)? Ada banyak teori kecerdasan di dunia, namun kita akan melihat mana yang merupakan kecerdasan yang terpenting. Seseorang bisa cerdas dalam satu bagian namun kurang cerdas dalam bagian lain. Setiap manusia memiliki modal untuk hidup cerdas. Kita diciptakan dalam gambar rupa Allah maka kita memiliki modal itu. Mengapa ada manusia yang tidak cerdas, tidak berhikmat, dan sering gagal? Mengapa ada orang-orang yang sering frustrasi? Dosa mengakibatkan kita cepat puas diri, tidak rendah hati, tidak mau belajar, tidak mau berjuang, dan pasrah dengan keberadaan diri. Dosa membuat manusia cepat mengeluh dan mengritik namun tidak mau berusaha belajar serta membuat manusia malas dan tidak mau membuat penerobosan yang berkaitan dengan kemuliaan Tuhan. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi orang yang berhikmat dan bisa mewakili Tuhan dalam mengelola bumi dan semua isinya. Dosa membuat kita gagal dalam bagian ini. Apa beda kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan rohani, kecerdasan iman, dan lainnya?

Pembahasan

1) Karakteristik kecerdasan

Ada beberapa macam kecerdasan: pertama, kecerdasan intelektual. Orang yang cerdas dalam bagian ini kuat dalam berlogika dan menganalisa. Ia bisa menguraikan segala hal yang bersifat rasional. Kedua, kecerdasan emosi. Orang yang memiliki ini tidak cepat terbawa emosi dan tidak cepat reaktif ketika dikritik. Di dalam kesulitan ia tidak cepat bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Ia memiliki kematangan emosi, ketenangan, dan pintar mengelola emosi di dalam situasi yang menegangkan. Ada orang yang sungguh pintar dalam menganalisa namun ia cepat meledak emosinya. Ada juga yang kurang pintar dalam berlogika namun ia pandai mengelola emosinya. Ketiga, kecerdasan spiritual. Teori ini dikembangkan oleh Zohar dan Marshall. Mereka adalah suami istri yang menganalisa orang-orang yang memaknai hidup untuk menjadi berkat dan teladan bagi orang lain. Orang-orang ini mungkin tidak menyembah Tuhan dan memegang doktrin tertentu namun mereka memiliki nilai spiritual. Keempat, kecerdasan moralitas. Orang yang memiliki ini tahu kebenaran dan mana yang tidak benar. Ia tahu mana yang bermoral dan mana yang tidak serta ia menjalankan hidup bermoral. Kelima, kecerdasan mental (adversity intelligence). Orang yang memiliki ini mempunyai mental yang luar biasa dalam menghadapi kesulitan. Orang ini jarang mengeluh dalam kesulitan dan tidak langsung memohon pertolongan di dalam tantangan. Kecerdasan ini perlu dimiliki oleh orang militer. Rasa sakit tidak membuatnya bersungut-sungut tetapi ia bisa tetap tenang menghadapinya. Keenam, kecerdasan ganda (multiple intelligence). Orang yang memiliki ini bisa mengembangkan bakatnya dengan baik dan memiliki jiwa artis yang besar. Beberapa pelawak terkenal memiliki kecerdasan ini misalnya Tukul Arwana, Charlie Chaplin, dan Rowan Atkinson (Mr. Bean). Setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing dalam kecerdasan-kecerdasan ini. Setiap jenis kecerdasan itu diperlukan dalam jenis pekerjaan tertentu. Orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual biasanya memilih untuk bekerja dalam organisasi non-profit, hidup sederhana namun menjadi berkat, dan memilih untuk melayani daerah-daerah pedalaman. Ada seorang dokter yang saya kenal yang sesudah lulus memilih untuk melayani di daerah pedalaman Papua yang belum mendapatkan listrik dan belum bisa diakses melalui jalan raya. Ia bertekad untuk mengabdikan hidupnya bagi orang-orang pedalaman. Sesudah sekolah lanjut pun ia mau kembali untuk melayani orang-orang pedalaman. Selain melayani dalam bidang medis, ia juga mau melayani dengan firman Tuhan. ini adalah anugerah dari Tuhan. Di dunia ini ada banyak orang cerdas namun sedikit dari mereka yang mau melayani dan memuliakan Tuhan.

Dunia mengerti kecerdasan sebagai berikut: pertama, arif dalam menyelesaikan masalah di dalam dan luar dirinya. Ini berarti orang tersebut bisa disebut sebagai problem solver. Ia tidak gentar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan dalam studi, pekerjaan, dan pergumulannya serta terus mencari solusi sampai mendapatkannya. Kedua, memiliki kesadaran dalam menerapkan nilai dan makna hidup. Orang ini hidup bukan hanya untuk uang, kuasa, dan diri sendiri. Ia mau hidupnya bermakna bagi orang lain dan mau meninggalkan nilai-nilai yang berharga bagi orang lain ketika ia mati. Ketiga, pandai bergaul (fleksibel). Orang ini mudah beradaptasi dengan orang-orang yang baru dikenal bahkan yang memiliki budaya yang berbeda. Kecerdasan ini diperlukan dalam bidang pemasaran. Keempat, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Biasanya laki-laki lebih ada kecenderungan untuk berpindah tempat tinggal daripada perempuan. Kelima, kuat dalam penderitaan dan rasa sakit. Orang seperti ini tidak mudah mengeluh. Keenam, selalu belajar dari kegagalan. Orang yang seperti ini selalu berkembang dan pada akhirnya cenderung berhasil dalam bidang yang ditekuninya. Ketujuh, berhasil mewujudkan visi dan misi hidupnya. Hidup tanpa visi adalah hidup yang tidak berisi. Hidup tanpa misi adalah hidup yang tidak bisa diukur kemajuannya. Misi membuat target hidup menjadi jelas. Orang yang memiliki visi dan misi pasti juga memiliki makna dalam hidupnya.

2) Kecerdasan iman Nuh

Ibrani 11:7, Karena iman, maka Nuh dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. Nuh dikatakan mendapat petunjuk dari Tuhan. Allah adalah pembimbingnya dan Nuh menangkap hati Tuhan dan mengerti visi Tuhan. Ia cerdas iman. Di dalam proses pendidikan, guru harus bisa menyampaikan materi dengan sebaik mungkin agar murid dapat mengerti. Jika murid tidak mengerti juga setelah sekian kali mengulang pengajaran, maka kesalahan bisa terletak pada guru, murid, atau keduanya. Jika guru sudah berusaha dengan berbagai cara yang kreatif mengajar namun murid itu masih tidak mengerti, maka ini berarti kesalahan terletak pada murid. Mungkin saja murid itu tidak siap atau belum memiliki kapasitas yang cukup. Namun jika guru itu memang tidak pandai mengajar sedangkan murid itu cepat belajar, maka yang dirugikan adalah murid dan orang tuanya. Maka dari itu ketika kita memilih sekolah untuk anak kita, jangan hanya melihat fasilitas atau nama sekolah tetapi lihatlah kualitas gurunya. Jika guru tidak bisa membimbing muridnya dengan baik maka kita dan anak akan merugi. Kita harus memilih sekolah yang memerhatikan kecerdasan secara holistik. Guru dari Nuh adalah Allah. Nuh berhasil menangkap maksud dan visi Tuhan.

Nuh juga dikatakan memiliki ketaatan dan ketekunan. Ia mau mengerjakan bahtera keselamatan itu selama 120 tahun lebih. Ia membangunnya, menjaganya, dan mengembangkannya. Semuanya dikerjakan dengan baik sehingga tidak bocor dan ukurannya seimbang. Orang yang pintar namun tidak tekun pada akhirnya akan gagal juga. Seringkali ketaatan dan ketekunan menjadi kunci keberhasilan. Nuh juga memiliki keberanian yang suci. Ia berani menghakimi dunia dan seluruh keturunan Kain yang sudah sesat serta menyatakan keadilan Tuhan. Nuh sudah memberitakan Injil kepada mereka namun tidak dipedulikan sama sekali. Nuh mengerti visi Tuhan. kita bisa memiliki visi bagi diri sendiri dan bukan bagi Tuhan tetapi ini bukanlah hal yang baik. kecerdasan iman selalu berkaitan dengan iman yang menuju iman (from faith to faith). Iman kita terus dipimpin sampai menuju kesempurnaan dalam waktu dan anugerah Tuhan. Iman yang diberikan Roh Kudus adalah iman yang memungkinkan kita melewati setiap kesulitan sampai pada kesempurnaan melalui firman Tuhan. Di sini Nuh menangkap satu visi yaitu membangun generasi yang baru di tengah zaman yang bengkok. Generasi yang lama yaitu keturunan Kain sudah bebal dan tidak mau menghormati Tuhan. Mereka sudah memberontak dan akan dimusnahkan Tuhan. Tuhan menyiapkan generasi yang baru melalui Nuh dan ketiga anaknya yaitu Sem, Ham, dan Yafet. Hal itu ditanamkan pada Nuh. Maka dari itu anak-anaknya harus dididik dengan baik. Nuh mengajarkan anak-anaknya tentang penciptaan seperti Henokh mengajarkan anak dan cucunya. Anak-anak kita harus menerima warisan iman sehingga mereka bisa menjadi generasi yang membawa terang. Mazmur 127:4 menyatakan bahwa anak-anak itu seperti anak-anak panah di tangan pahlawan. Kita harus mempersiapkan anak-anak kita dengan baik demi kemuliaan Tuhan. Jangan sampai kita hanya memerhatikan fisik dari anak namun mengabaikan kerohaniannya, padahal kerohaniannya itu harus menjadi prioritas. Kualitas anak lebih penting daripada kuantitas.

Allah murka karena manusia terus menerus berbuat jahat dan bahkan generasi-generasi selanjutnya pun juga berbuat kejahatan. Akhirnya Allah membuat perjanjian dengan Nuh serta menyuruhnya membuat bahtera keselamatan bagi Nuh, keluarganya, dan hewan-hewan. Pasti tidak mudah untuk mendidik anak di zaman yang bengkok. Anak sangat mudah mendapatkan pengaruh buruk dan memberontak. Pada masa kini ada banyak anak-anak sudah menonton video porno lewat gadgets yang diberikan orang tuanya. Kita sebagai orang tua harus melakukan peperangan rohani dan menegakkan disiplin. Anak kecil bisa melakukan kejahatan dengan bantuan teknologi masa kini. Di sini orang tua harus bisa menangkap visi Tuhan dan melihat Tuhan sebagai arsitek jiwa bagi anak-anak kita dan kita sebagai alat-Nya. Kita harus memiliki hati yang takut akan Tuhan, ketelitian dalam mendidik, dan mata rohani yang tajam. Nuh memiliki semua ini. Inilah kecerdasan Nuh. Ia juga cerdas dalam membangun bahtera keselamatan. Ia membangun bahtera itu selama 120 tahun. Ia mempersiapkan semua bahan dan mengukurnya sehingga semua perhitungannya tepat. Nuh tidak pernah mendapatkan pendidikan formal tetapi bisa melaksanakan semua perintah Tuhan. selain bahtera, Nuh juga harus mempersiapkan konsumsi bagi keluarganya dan semua hewan pada saat mereka tinggal di bahtera itu. Pada zaman Nuh belum ada kertas dan alat tulis yang modern maka saat itu ia tidak bisa menggambar semuanya dan meminta validasi dari Tuhan, tetapi Nuh memiliki kecerdasan iman. Ibrani 11:1 iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan i dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Nuh bekerja dengan iman dan pertolongan Tuhan sampai semuanya jadi. Kita tidak menganut konsep visualisasi iman seperti yang diajarkan dalam teologi sukses karena itu sesat. Kita beriman dahulu baru kemudian melihat, bukan sebaliknya. Kita menikah juga karena dorongan iman. Mendidik anak juga dengan iman. Nuh juga memiliki kecerdasan iman dalam mengatur semua hewan di bahtera.

Nuh berani melawan arus zaman karena ia memiliki keberanian yang suci. Ia mengikuti arus Tuhan tanpa kompromi dan menolak semua arus budaya yang jahat. Nuh menyatakan keadilan Tuhan bagi dunia saat itu sehingga dunia tenggelam karena air bah. Nuh berani tampil berbeda dan mendidik keluarganya dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Ia memiliki budaya beribadah kepada Tuhan dan ia tidak mau budaya tersebut dinodai oleh budaya-budaya fasik di sekitarnya. Setiap kita juga harus memiliki keberanian yang suci seperti ini. Kita memilih sekolah untuk anak juga dengan keberanian yang suci. Nuh juga memiliki kecerdasan dalam manajemen hidup. Siapa yang menguji keseimbangan bahter yang dibuat Nuh? Tidak ada, karena dikerjakan dengan iman. Ia percaya bahwa kapal tersebut akan dapat bertahan dalam air bah. Bahtera itu tidak hancur dan bocor karena Nuh bisa menggunakan getah pohon sebagai lem. Nuh mengatur hidup di bahtera itu termasuk makanan dan minuman untuk 300 hari lebih. Pada saat air bah sudah surut, semua hewan masih hidup karena Nuh mengatur dengan baik. Nuh juga berhasil mengatur sirkulasi udara dalam bahtera. Tuhan membuat Nuh bisa mengatur semua ini dengan baik. Setelah air surut, Nuh keluar dari bahteranya dan langsung beribadah kepada Tuhan. Ia tidak memikirkan untuk membangun rumah bagi dirinya terlebih dulu tetapi membangun mezbah Tuhan terlebih dulu. Ia memberikan korban bakaran dan Tuhan berkenan. Setelah itu Tuhan memberikan janji-Nya kepada Nuh. Pertama Tuhan tidak akan memusnahkan keluarga Nuh tetapi menyelamatkannya, kedua Tuhan tidak akan memusnahkan bumi lagi dengan air bah, dan ketiga Tuhan memberikan pelangi. Itu adalah lambang penyertaan Tuhan, namun sekarang dipakai kaum LGBT. Nuh memiliki 5 kecerdasan: menangkap visi Tuhan, melakukan visi itu dengan ketaatan dan ketekunan, berani tampil berbeda dengan keberanian yang suci, mengatur hidup dengan baik, dan mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya. Nuh mengerti prioritas. 5 kecerdasan ini melebihi semua kecerdasan dunia. Dengan iman, kita berjalan bersama Tuhan dan menghadapi seluruh pergumulan dengan penyertaan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami